
Perilaku Rita yang agresif membuat kakek Sugiyono membawanya ke seorang psikolog untuk mengobati kondisi mentalnya.
“Namamu Rita ya?” tanya psikolog bernama dr.Eman
“Iya dokter, lengkapnya Rita Soegiarto”
“Umur?”
“12 tahun dokter”
“Kamu tinggal sama siapa sekarang?”
“Biasanya bersama ayah, tetapi karena bertugas aku dititipi jadi aku tinggal sama kakek”
“oo, Rita senang tinggal sama Ayah?”
Rita mengangguk dan tersenyum
“Kalau sama mama?”
“Mama selalu bersama kak Andi”
“Siapa itu kak Andi?”
“Kakak Rita!”
“Sekarang kak Andi di mana?”
“Kak Andi tinggal sama kakek yang satu lagi”
“Rita senang tinggal di tempat kakek?”
Rita menggeleng
“Kenapa?”
“Kakek serem, kakek pernah memukuli ayah sampai babak belur!”
“Tapi kakek baik sama Rita kan?”
“Kadang-kadang Kakek sering membuat Rita takut. Pengawal kakek banyak, Rita takut dipukulin pengawal kakek”
“Pengawal kakek pernah mukul Rita?”
“Gak pernah!”
“Jadi kenapa takut?”
“Karena pengawal akan memukul kalau disuruh kakek!”
“Pernah gak Rita dimarahi kakek, sampai kakek menyuruh pengawal memukuli Rita?”
“Gak pernah!, Tapi Kakek sering mengancam Rita gak boleh ketemu Ayah kalau Rita malas berlatih”
“Berlatih apa?”
“Taekwondo!”
“Rita senang taekwondo?”
Rita menggeleng
“Kalau Rita dinakalin orang, Rita lawan?”
“Iya !”
“Bagaimana melawannya?”
“Rita tendang!”
“Itu pakai jurus taekwondo kan?”
Rita mengangguk, sepertinya ia mulai paham kenapa kakek memaksanya berlatih
“Rita, Robby itu siapa?”
“Dia musuh!”
“Musuh?”
“Dia sepupu Rita, ia sering membully Rita dan Kak Andi. Tetapi Kakek gak pernah menghukumnya!”
“Apa betul begitu?”
“Rita gak pernah melihat Robby dihukum kakek!”
“Rita maunya Robby dihukum seperti apa?”
“yaa, sesuai sama kejailannya, ia pernah ngunciin kak Andi di gudang, seharusnya ia dihukum yang sama, bukan malah dibiarkan”
“Kalau Robby dibiarkan, Rita marah?”
“Iya, kalau kakek gak mau menghukum, biar Rita saja yang menghukum!”
“Rita kalau di sekolah senang pelajaran apa?”
“Matematika dan Sains”
“Oh ya? kenapa?”
“Seru! Kalau matematika kita Cuma banyak menghitung saja, tau gak dokter ternyata angka itu sifatnya tidak terhingga!"
“Maksudnya?”
“Tidak ada angka yang paling besar!, misalnya kita bilang 10 itu besar, tapi kita tambahkan 1, jadi 11, nah angka 10 bukan lagi angka terbesar. Begitu pula dengan 11 dan seterusnya!”
“Karena itu Rita suka?”
Rita mengangguk
“Menurut Rita seru saja, sepertinya kita akan terus mengejar akan berhenti diangka berapa ya?” ujar Rita tersenyum
“Bagaimana dengan Sains? Kenapa Rita suka Sains?”
“Sains itu kan ada di sekeliling kita, udara, air, tanah, manusia semua itu bagian dari sains. Kalau kita belajar tentang Sains seperti belajar sesuatu yang tidak akan ada habisnya!”
“Oo begitu, Rita senang membaca?”
“Kadang-kadang, Ayah sering membawa majalah sains ke rumah, Rita suka baca”
“Kalau majalah anak-anak? Seperti komik?”
“Pernah sih, kak Andi membelikan komik untuk Rita”
“Komik apa? “
“Dragon ball”
“Rita suka?”
“Lumayan!”
“Kalau Rita tinggal sama mama, Rita mau?”
Rita menggeleng
“Kenapa?”
“Kasihan Kak Andi!”
“Kenapa sama kak Andi?”
“Dia bilang, mama punya kak Andi, Rita punya Ayah!, Rita gak boleh merebut mama dari kak Andi”
“Kalau sama-sama saja gimana?”
“Sama-sama gimana dokter?”
“Ya mama dimiliki sama-sama, Rita dan Andi”
“Gak bisa dokter!, karena Ayah sudah pisah sama mama. “
“Rita marah mereka pisah?”
Rita mengangguk
“Rita maunya mereka bersatu?”
Rita mengangguk lagi, tapi kemudian dia menggeleng
“Gak usah deh, kasihan ayah, kalau harus sama mama nanti digebuki kakek lagi”
“Rita sayang sama kakek?”
Rita mengangguk
“Tapi kakek memukuli ayah kenapa Rita masih sayang?”
“Rita kasihan sama kakek, sepertinya beliau kesepian. “
“Kalau kesepian, Rita bisa temani kakek dong?”
“Enggak ah, pengawal kakek banyak. Rita juga bingung padahal pengawal kakek banyak tetapi kenapa kalau dekat kakek Rita selalu merasa kakek sedang kesepian, seperti sedih gitu dokter.”
“Oya? Rita sering nemani kakek?”
__ADS_1
“Gak pernah dokter, kakek selalu kerja. Kita ketemu kalau sarapan dan makan malam. Rita Cuma dengar perintah saja dari kakek.”
Evaluasi kejiwaan Rita selesai, dokter memberikan rekaman wawancara dan rekomendasi perawatannya.
Kakek Sugiyono melihat rekaman tentang hal tersebut dan membaca rekomendasi dokter. Kakek menghela nafas panjang, ia menatap keluar jendela. Keesokan harinya, memberhentikan beberapa pengawalnya. Semula 20 orang dikecilkan menjadi tinggal 4 orang saja. Sisanya direkrut menjadi karyawan di perusahaannya menggantikan mereka yang telah pensiun. Kakek juga membangun sarana olah raga di sekitar rumahnya, seperti pacuan kuda, arena balap, kolam renang, lapangan indoor serbaguna, yang bisa menjadi lapangan basket dan futsal. Suatu siang ia memanggil Rita menemuinya
“Duduk Rit!” pinta kakeknya
Rita duduk dihadapan kakeknya
“Bagaimana sekolah?”
“Gak asyik kek!”
“Kenapa?”
Rita diam saja
“Rita, kalau ada yang menganggu kamu, bilang sama kakek!”
“Nah itulah kek!, orang di sekolah Rita pada takut sama kakek!”
“Huh?”
“Kemarin pelajaran olah raga, temanya lari cepat 200 meter. Eh teman-teman Rita sengaja mengalah, itu arahan guru olah raganya. Dia bilang biarkan Rita menang. Karena lapangan itu ada karena sumbangan dari kakek, kan gak asyik banget”
Kakek hanya manggut-manggut
“Lalu, lomba baca puisi, padahal mereka lebih bagus, tetapi Rita dimenangkan”
“Mungkin karena memang kamu bagus?”
“Enggak kek!, Rita sengaja menjelek-jelekan bacaan. Pura-pura lupa syair dan suara sengaja Rita kecilin. Eh tetap menang juga. Rita dengar, hadiah lomba kakek yang menyumbang!”
“Payaahh!!!” keluh Rita
“Tapi Robby dan sepupu kamu yang lain gak pernah ngeluh?? Kog kamu saja yang ngeluh?”
“Karena mereka gak pernah ikut lomba kek!, mereka bilang capek, gak guna, percuma, hadiahnya terlalu kecil, malesin!, sekarang Rita ngerti deh kenapa mereka begitu!”
“Rita masih marah sama kakek?” tanya kakek tiba-tiba
“Huh?”
“kayaknya Rita marah deh sama kakek.”
“Enggak kek!”
“Beneran?”
“Iya?”
“Kalau begitu mau gak ikut sama kakek?”
“Kemana?”
“Kemping!”
“Kemping?”
“Iya!”
“Kapan? Di mana? Sama siapa?”
“ Kamu, Kakek, Robby!”
“Yahh Robby”
“Kenapa? Kamu gak suka Robby?”
“hmm...ya gak apa-apa deh. Tapi Rita gak jamin ya, kalau kita berantem terus!”
Kakek mengangguk senang. Akhir minggu berikutnya, kakek, mengajak Rita dan Robby berkemah di bawah gunung salak. Kakek membawa seorang pengawalnya yang biasa kemping.
Kakek Sugiyono menyewa mobil trailer untuk mereka tinggal dan tidur selama beberapa hari.
“Kakek yakin ini Kemping?” tanya Rita heran, ia melihat mobil trailer mewah yang berisikan 4 tempat tidur, toilet, mini kitchen set.
“Ini namanya perkemahan modern Rit, kakek lagi mencoba mobil ini, kalau bagus yang sesuai kegunaannya. Kakek mau beli banyak untuk taman wisata yang sedang kakek kembangkan”
Rita bengong, baru kali ini kakeknya bicara panjang lebar dengan dirinya
“Ujung-ujungnya bisnis juga ya kek?” ledek Rita
“Harus Rit, hidup itu harus punya tujuan! Bentuk rasa syukur kakek pada Tuhan ketika kakek masih diberikan kesempatan bangun tidur. Kakek selalu memikirkan, akan berbuat apa hari ini, jadi hari ini tidak habis dengan sia-sia!” ujar kakek
Rita mengangguk-angguk, sementara Robby yang baru terbangun dari tidurnya. Ia turun dari mobil SUV yang membawanya ke kaki gunung Salak.
“whoaaa!!!” ia menguap dengan melebarkan mulutnya
Robby menutup mulutnya
“Kek, makan apa nih? Aku lapar!”
Pengawal kakek bernama Alvin, berusia sekitar 30 tahunan, ia mengeluarkan kontainer plastik besar, kemudian ia membukanya. Kontainer itu berisi makanan siap saji , seperti nugget, kentang, sosis, ikan berbumbu, mie instan dan beras instan.
“Wah ini mah bukan kemping, tapi lebih ke piknik!” ujar Rita, ia mengeluarkan beberapa makanan dari kontainer itu
“Kompornya mana Pak?” tanya Rita, Alvin mengeluarkan tas koper plastik, ketika dibuka berisi kompor gas portable
“Wah keren kek!”pujinya
Kakek tersenyum senang, sedangkan Robby sibuk bermain game di ponselnya
“Hmm..gasnya mana?” Rita mencari di trailer dan SUV
“Yaahh lupa bawa saya!” ujar Alvin menyesal
“Percuma dong ini semua!” Robby menghempaskan kompor gas itu hingga jatuh di bawah kaki Alvin
“Lo jangan gak sopan gitu Rob!” larang Rita
“Kenapa? Dia kerjanya gak bener!” hardik Robby
“Tetap saja, Lo gak berhak marah, yang berhak marahin kakek!” ujar Rita
Kakek Sugi diam saja, wajahnya terlihat tenang tapi juga kesal.
“Saya akan kembali ke kota pak untuk membeli gas!” ujar Alvin,
Kakek mengangguk, kemudian ia masuk ke mobil SUV,
“Aku ikut! Ada yang mau ku beli di kota!”
“Aku ikut! “ ujar Robby
“Kalian di sini saja, jaga trailer ini!” perintah kakek
Robby dan Rita di tinggal di trailer. Masing-masing mereka diam saja, tidak saling bicara
“Ah Gue bosan!” teriak Robby, ia membanting ponselnya
“Lo gampang banget ngerusak hp!” ujar Rita melihat ponsel Robby yang retak
“Gak pa-pa, nanti gue minta beliin lagi dengan RAM dan memory internal yang lebih besar.” Jawab Robby tersenyum
“Kan sayang!”
“Kakek kita kaya raya sis! Ngapain duit dikumpulin aja gak dihabisin!” ujar Robby lagi
“Mau kemana Lo?”
“Mau kencing!”
“Di trailer ada toilet!” ujar Rita
“Gak mau ah, gak seru. Enakan kencing di belakang pohon!” ujar Robby bersikeras
“Hati-hati , sebentar lagi gelap, lebih baik bawa senter” Rita masuk ke dalam trailer dan mencari senter, ketika ia keluar Robby sudah tidak ada
“Kemana tu orang?” Rita kebingungan.
“Ya udah, boro-boro diambilin senter” Rita kembali masuk ke trailer, ia tidur-tiduran di kasur trailer. Akhirnya ia ketiduran, beberapa saat kemudian ia tersadar, Robby tidak kunjung kembali. Ia keluar dari trailer, dan membawa 2 senter, tali rapiah kuning, serta ponselnya, tak lupa ia mengenakan jaketnya. Hari sudah mulai gelap
“Robby!!!” panggilnya . Rita membuat ikatan tali rapiah di setiap pohon yang ia lewati, tujuannya agar ia tidak tersesat, ia berjalan cukup jauh dari trailer, tiba-tiba seseorang mengagetkannya
“Dor!!!” Robby mengagetkannya
“Astaghfirullah!” ujar Rita
“Hahaha...”Robby tertawa senang, ia menyeret sesuatu di tangan kirinya
“Apaan tuh?” tanya Rita, ia mengarahkan senternya ke tangan kiri Robby yang memegang tali
“Anak babi hutan” ujar Robby tersenyum
“Heh! Gila lo! emak dan bapaknya marah lho!, cepet lepasin!” ujar Rita memperingatkan
“Kagak!, anak ini anak babi yatim piatu!” ujarnya ngaco
“Mana ada anak babi yatim piatu?” balas Rita
“Ada dong, buktinya dia dibiarin di situ, tadi gue lepasin dari perangkap. Jadi gue bawa, lucu kan?”
“Gak lucu Rob, suer deh babi hutan itu bahaya, dia punya taring yang tajam, lo bakal luka kalau diseruduk!”
__ADS_1
“cerewet ah!” ujar Robby bersikeras. Ia tetap menyeret anak babi itu
“Eh Rob itu tali lo ambil dari mana?” Rita menunjuk tali rapiah kuning yang Robby pakai untuk mengikat anak babi itu
“Itu gue ambil dari pohon, ada yang ngiket di pohon. Buat apaan ya? emangnya pohonnya bakal lari?”
“ToL****! Teriak Rita
“Itu gue yang ngiket, supaya kita gak tersesat!, ah elo bego banget sih jadi orang!” hardik Rita
“Gak mungkinlah kita nyasar, gue inget kok!” ujar Robby, ia berbalik dan kembali ke jalan yang ia lewati tadi. Rita mengikutinya dari belakang, lama kelamaan Robby bingung sendiri kemudian ia menghentikan langkahnya
“Banyak banget pohonnya ya?” ujarnya malu
“Karena ini hutan ploot!!” ujar Rita kesal, akhirnya ia yang memimpin berjalan di depan.
“Lo tahu jalan?” tanya Robby
“Enggak! Ini gue kira-kira aje!”
“Sama aje dong sama gue!” ujar Robby menyolot
“Heh! Kalau Lo gak lepas tuh tali kita sudah balik ke trailer dan makan enak, tau gak lo?” hardik Rita kesal
“Lo gak bilang kalau tali itu fungsinya itu!” ujar Robby membela diri
“Kalau lo gak konyol ngiket tu anak babi, pasti kita sudah nyampe!” ujar Rita lagi
“Udehh ah, bawel lo kayak emak-emak! Gue mau ikut kemping konyol ini, karena gue bosen denger emak gue nangis. Sekarang gue harus dengerin omelan cewek lagi!” keluh Robby
Tiba-tiba suara kresek-kresek terdengar
“Apaan tuh?” tanya Robby
“Hush!!” Rita memberi tanda diam pada Robby
Suara itu makin kencang, tiba-tiba sesosok hewan mendorong Rita dan Robby, kemudian ia berbalik arah melihat ke arah Rita dan Robby. Rita mengarahkan senternya
“Itu babi hutan!” teriaknya
“Babi!!!” teriak Robby, mereka pun lari karena panik, sementara babi hutan mengejar mereka
Rita melihat ke tangan Robby yang masih menyeret-nyeret anak babi hutan
“hei Beg* Lo lepasin tu anak babi, supaya kita gak dikejar!” ujar Rita
“Eh?” Robby tersadar tangannya masih memegang tali rapiah kuning, akhirnya ia lepaskan, tetapi induk babi tidak membiarkan keduanya, Ia tetap mengejar Rita dan Robby. Mereka berlari panik, hingga terperosok ke jalan menurun.
“Aduuh!!” erang Rita, kakinya terkilir
“sssttt!!!” ujar Robby memperingatkan, mereka bersembunyi diantara dedaunan sambil menahan nafas
Setelah cukup lama, babi itu pergi membawa anaknya. Rita dan Robby keluar dari persembunyiannya
“Kita di mana nih? Sudah gelap lagi?” Rita mengarahkan senternya ke sekeliling
“Kenapa Lo?” tanyanya ke Robby, ia melihat Robby meringis, ternyata tangannya terkilir ketika mereka terjatuh tadi
“Sakit gak?” tanya Rita
“Sakit! Tau!” ujar Robby
Rita mengambil kotak kecil dari jaketnya
“Apaan tu?” tanya Robby
“Ini P3K, tadi gue bawa, jaga-jaga kalau kita kayak gini, ternyata bener!” ia membantu membersihkan luka dari tangan Robby lalu membalutnya. Kemudian ia juga membalut kakinya yang terkilir
“Lo gak apa-apa?” tanya Robby yang melihat Rita membalut kakinya sendiri
“sakit juga!, tapi kalau diikat kayak gini mudah-mudahan sakitnya bisa berkurang!”
“Terus kita gimana nih?” tanya Robby, ia mulai takut karena keadaan makin gelap
“Terpaksa kita nginep di sini, percuma kalau kita pergi juga gak kelihatan!” ujar Rita, dengan terpincang, dan mencari patahan dahan pohon untuk membantunya berjalan. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon. Robby mengikutinya, ia duduk di samping Rita.
“Gak nyangka ya, kita bakal berakhir berdua kayak gini” ujar Rita
Robby diam saja, ia juga menyesal, tetapi juga bersyukur karena ia ditemani Rita
“Lo tadi di trailer? Kenapa tiba-tiba lo ada di dekat gue?” tanya Robby heran
“Lo gak balik-balik ke trailer, tentulah gue khawatir” jawab Rita
“Jadi Lo nyariin gue? Kenapa lo takut sendirian?” ledek Robby sinis
“kagak! Justru gue takut Lo nyasar! Makanya gue samperin!”
“Kenapa ? Lo nyari muka sama kakek? Biar dibilang anak baik?” tanya Robby
“Emang Lo liat ada kakek di sana?” jawab Rita
“Gue kesel sama Andi dan Elo!” ujar Robby tiba-tiba
“Kenapa? Apa salah kita ke elo?”
“Tante Ratna baik, Om Reza baik, kakek juga lebih seneng sama kalian!”
“Siapa bilang?”
“Emang bener!, kalau Cuma ada kita aja di rumah, kakek selalu saja menyebut kalian, Rita begini, Andi begitu. Kesel gue!, makanya Lo berdua gue sering isengin!” ujar Robby
“Memang Kakek bilang apa tentang kita sampai Lo kesel?”
“Kakek bilang, Robby kamu seharusnya seperti Andi, pinter di sekolah, selalu dapat penghargaan. Cuihh!!” ujarnya kesal
“Ah itu karena Lo sirik aja, buktinya sama gue juga lo sering iseng!”
“Itu karena Elo doang yang berani ngelawan gue! Udah gitu Lo cewek lagi!”
“Kenapa tersinggung karena kalah sama cewek?”
Robby diam saja
“Gue heran, mama juga punya kemampuan bela diri sama kayak elo, tapi kenapa gak melawan ketika dipukulin papa?” ujar Robby tiba-tiba
“Hah? Tante sering dipukulin?” tanya Rita, Robby mengangguk
“Kog Lo gak bilang Kakek?”
“Gue takut papa di apa-apain sama kakek”
“Lah, mamalo di apa-apain sama papa lo, gimana itu?”
“Sudah lah pusing gue! Adik gue bukannya bantuin malah bisanya nangis melulu!” keluh Robby lagi
Rita terdiam, ia hanya mendengarkan keluh kesah Robby, sampai keduanya lelap tertidur. Ketika mereka bangun hari telah terang. Rita berusaha bangkit, tetapi kaki kirinya yang terkilir membengkak, sehingga ia sulit berjalan. Ia memaksa dirinya bangun dengan bantuan dahan pohon, tetapi dahan itu patah, hingga ia terjatuh.
“Aduh!!!” keluhnya, tiba-tiba Robby mendekatinya dan membantunya berdiri lalu memapahnya. Rita kaget dengan bantuan Robby, tetapi ia diam saja. Suara ponsel dari jaket Rita berbunyi
“Eh, di sini sinyal telepon masuk!” ujar Rita setengah berteriak
“Horee!!!” Robby turut senang
“Halo?” Rita mengangkat ponsel
“Kalian di mana?” tanya kakek
“Kakek, kami tersesat!” ujar Rita
“Rita, lihat ke langit-langit, kakek akan terus menembakan suar! Nanti kamu berjalan menuju suar ya? Kakek juga menyuruh beberapa orang menjemput kalian!”
“Kakek, Rita memberi tanda tali kuning di beberapa pohon, kami lewat jalan itu, tetapi selanjutnya gak ada lagi”
“Iya, Alvin dan temannya sedang mencari kalian, kalau kalian bisa berjalan mendekati awal suar ini lebih baik!” ujar kakeknya
“Rob, tangan lo sudah gak pa-pa?”
“Enggak, kenapa?”
“Lo bisa naik ke pohon yang tinggi itu?”
“Ngapain memangnya gue monyet?”
“Bukan, kalau dari bawah sini pohon semua, lo gak bisa lihat langit lebih jelas, kalau dari atas lo bisa lihat kakek menembakan suar, kita bisa berjalan ke arah itu”
“Ah ribet amat, tungguin di sini saja ! kita bakal dijemput kan?”
“Bukan begitu, posisi kita itu gak jelas, kan kemarin kita lari sembarangan, Lo mau kita bermalam di hutan ini lagi? Apa lo gak lapar dan haus?” tanya Rita
Robby diam, kemudian ia mulai memanjat pohon. Dengan susah payah ia berhasil memanjat ke bagian paling tinggi
“Tuhh...itu tuh!!” tunjukanya, ia melihat suar yang ditembakan kakek. Kemudian ia turun lalu kembali memapah Rita menuju tempat suar itu berasal
“Rob!”
“Ha?” Robby memapah Rita, nafasnya terengah-engah
“terima kasih ya?”
“Untuk apa?” tanya Robby heran
“Sudah bantuin gue”
Robby diam saja, tapi ia senang, karena baru kali ini ia mendapatkan penghargaan atas bantuannya, tak lama kemudian mereka bertemu Alvin dan beberapa orang pendaki. Rita di bawa mereka pakai tandu untuk kembali ke perkemahan. Rita dan Robby dibawa ke rumah sakit di kota, akhirnya mereka kembali pulang ke rumah.
__ADS_1
_Bersambung_