Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 224: Ke Singapura dan Curhatan Erina


__ADS_3

“Yang, kita perlu bawa baju?” tanya Rita sambil melihat lemari pakaiannya


“Kamu lupa ya? kebanyakan baju kita di sana, ada juga baju yang di sana dibawa kemari”


“Ah iya, aku kog bisa lupa”


“Bagaimana dengan suster Rini pengasuhnya Ranna?”


“Itulah, aku juga bingung. Dia sudah menetap di sana bersama kedua anaknya. Kalau aku bilang aku tidak lagi membutuhkan jasanya karena tinggal di Jakarta. Aku harus bagaimana?”


“Ya, bilang saja sama dia. Kalau dia mau kembali ke Jakarta dan tinggal bersama kita?”


“Anak-anaknya gimana?”


“Aku kan cuma sebentar di Singapura, belum tentu juga menetap di sana. Kamu jangan menghubungi dia dulu deh”


“Iya juga, baiklah kalau begitu” Rita hanya menyiapkan pakaian anak-anaknya untuk berjaga-jaga selama di perjalanan.


Pukul 8 pagi mereka berangkat dari bandara Halim Perdana Kusuma, Daniel, Rita kedua anak mereka serta baby sitternya.


“Kak, lihat ke bawah deh” Daniel memangku anak perempuannya, sementara Rita memangku Rafa.


“Dek, Itu yang biru namanya langit, yang putih namanya awan”, Rita menyebutkan nama benda-benda ke Raffa, Ranna yang melihat adeknya diajari maminya ingin duduk bersama maminya. Mereka pun bertukar. Rita menyebutkan nama benda-benda yang mereka lihat selama di perjalanan kepada Ranna, kali ini Rafa yang iri, ia menunjuk ke arah Rita sepertinya ia ingin dipangku juga oleh maminya


“haaa...miiii!!!” teriak Rafa


“No!!” Ranna melarang, keduanya bertengkar ingin duduk bersama maminya


“Hei..hei...kalian ini gak menganggap papi ya? Kakak sama papi ya?” Daniel hendak mengambil Ranna dari Rita


“No!!!” Ranna berteriak keras, Rafa mengikuti


“Sudahlah, sini deh, keduanya sama mami!” akhirnya Rita memangku kedua anaknya. Daniel melihat ke arah mereka dengan wajah cemberut.


“Awas ya, nanti minta gendong sama papi !” ujarnya kesal, Rita tersenyum melihat suaminya ngambek. Sepuluh menit kemudian anak-anak bosan, mereka turun dari pangkuan Rita. Ranna mulai berjalan-jalan di antara bangku, sementara kedua baby sitter mereka nampak tegang duduk di bangku penumpang. Rita mengikuti Ranna yang berjalan sambil membantu Rafa berjalan.


“Adek pengen jalan juga seperti kakak ya?”


“Heeee???” Rafa melihat kearah maminya dengan wajah mupeng


“Hahahaha...jangan begitu, nanti juga kamu bisa.” Beberapa menit kemudian Ranna kelihatan lelah, ia meminta dipangku papinya. Ia menghampiri bangku papinya, dan menepuk-nepuk paha papinya. Daniel yang teringat dengan penolakan anaknya tadi, berpura-pura tidak memperhatikannya. Ia seolah sibuk dengan tabletnya. Tetapi Ranna anak yang ulet, ia tidak menyerah begitu saja diacuhkan papinya dengan sekuat tenaga ia memanjat paha papinya, Daniel tetap tidak bergeming, ia penasaran dengan kejadian selanjutnya.


Dengan susah payah, Ranna memanjat tapi jatuh lagi, paha papinya terlalu tinggi untuknya. Lalu ia melakukan langkah seperti anak-anak pada umumnya. Ia berteriak kencang


“Aaaahhhhhh!!!!”, Teriakan Ranna yang cukup kencang mengganggu penumpang lain yang ikut bersama mereka.


“Eh maaf ya!” Rita meminta maaf dan menghampiri suaminya yang masih ngambek


“Papi, Ranna minta dipangku tuh! Tadi papi mau memangku Ranna kan?”


“Gak mau!, tadi papi ditolak!” ujar Daniel, tampaknya ia benar-benar tersinggung


“Sayang..tuh Ranna kelihatan menyesal, lihat deh wajahnya” Rita berusaha membujuk suaminya. Daniel melihat Ranna yang mulai terlihat tidak peduli, ia memilih untuk berjalan ke tempat lain


“Mana? Mana wajah menyesalnya?” tanya Daniel


“Tadi ada, Ranna memang begitu. Dia mudah bosan. Kalau dia pikir tidak akan ada gunanya ia akan pergi.”


“Hah? Masa? Anak sekecil itu sudah punya sifat seperti itu?”


“Iya!, gak percaya coba deh. Kapan-kapan kamu menghabiskan waktu berdua saja bersama Ranna. Main sama dia, nanti kelihatan deh sifat aslinya”


“Hmm...Ranna!..kak Ranna! Kemari!” suara Daniel terdengar tegas, Ranna mengenali nada perintah papinya, ia menghampiri papinya.


“Kamu mau kemana?” tanya Daniel masih dengan suara tegas, Ranna menunjuk keluar


“Waann!!” teriaknya, ia ingin keluar


“Oh dia mau melihat awan!” ujar Rita


“Oh begitu” Daniel menggendong anaknya dan mendekatkan ke jendela


“Tuh awan kak! Putih ya?” ujar Daniel


“Wan..Tih” Ranna mengulang kata-kata Daniel


“Awan putih!” ujar Rita menerjemahkan


“Kamu bisa bahasa bayi ya?? “ tanya Daniel


“Aku mengira-ngira saja, aku kan bermain sama mereka jadi mengertilah sedikit”


Pemberitahuan dari Pilot, untuk persiapan mendarat. Daniel memangku Ranna dan mengenakan seat belt, sedangkan Rita memangku Rafa juga mengenakan seat belt. Perjalanan sembilan puluh menit pun berakhir. Mereka turun dari pesawat bersama penumpang lain yang menyewa pesawat.


(Bahasa Inggris)


“Selamat Pagi pak Daniel! Saya Evan yang bertugas menjemput Bapak untuk langsung ke kantor”


“Pagi!, oh iya bagaimana dengan keluarga saya?” tanya Daniel


“Mereka juga bisa ikut bersama” jawab Evan


“Yang, bisa minta mereka antar kita sampai apartemen?” tanya Rita, sebelum Daniel menanyakan terlihat seseorang berlari menghampiri mereka.


“Woy Tong!” panggil Mario


“Eh O?” Rita dan Daniel menyapa bersamaan.


“Ai tadi ikut bareng Evan untuk jemput kalian, nanti Ritong turun di apartemen saja, sedang kita langsung ke kantor Bos!” ujar Mario.


Daniel dan Rita mengangguk menyetujuinya. Mereka dijemput dengan mobil minibus mewah.


“Wih, mobil baru nih?” tanya Rita duduk disamping suaminya mengagumi minibus yang membawa mereka


“Baru dipakai, tadi Evan mau bawa sedan, Ai bilang gak mungkin cukuplah pak Daniel pasti datang membawa perintilan, bener kan?”


“Sialan lo, gue dibilang perintilan”


“Apa itu perintilan?” tanya Daniel heran


“Itu sebangsa barang-barang kecil” Rita menerangkan


“Ohh,..iya kita bawa barang dan anak-anak kecil” ujar Daniel tersenyum


“Jadi kalian akan menginap di sini?” tanya Mario


“Tergantung keperluan bapak ini” jawab Rita


“Kalau lama di sini gak apa-apa?” tanya Mario


“Di sini masih lock down?” tanya Daniel


“Sudah boleh aktivitas tapi terbatas, Eh kalian bawa masker kan?”


“Bawa dong!” ke enam orang dari Jakarta kompak mengenakan maskernya, meskipun Ranna dan Rafa menolak mengenakan


“Ooww!” panggil Ranna


“Eh Ranna! Kamu sudah besar ya? masih ingat Om kan?” tanya Mario tersenyum


“Owhh!!” teriak Ranna


“Hehehe, dia ingat kamu” ujar Daniel tersenyum, sementara Rafa menatap Mario tanpa berkedip, Rita geli melihatnya

__ADS_1


“Dek, ini Om Mario, Om O!” Rita memperkenalkan


“Ahh,..ini Rafardhan ya? Rafa? bukannya Fardhan?” Mario memegang tangan Rafa


“Rafa saja, Fardhan kepanjangan” jawab Rita


“Oh..oh..” ujar Rafa dengan wajah serius


“Dia berapa bulan Tong?” tanya Mario


“Delapan bulanan deh”


“Cepet banget ya, perasaan baru kemarin dibrojolin”


“Brojol?” Daniel bingung dengan bahasa Mario


“Dilahirkan!” Rita menerjemahkan, Daniel mengangguk-angguk


“Kayaknya dia bakal ngomong duluan deh?”


“Mungkin juga”


“Seingat Ai, waktu seumur ini Ranna belum ngomong Ooh kan? Atau Mi?”


“Iya kali, gue lupa” jawab Rita


“Yee, gimane sih lo Tong, masih cuek aje, btw lagi isi lagi?” Mario melihat tubuh Rita yang agak berisi


“Isi nasi!, enggak lah, maklum lagi lock down jadi makan melulu, apalagi masih menyusui”


“Eh, jadi Yu nyusuin 2 balita ini dong!”


“Iya!, double ! jadi gue makan melulu!”


“Biasanya Yu rajin olah raga?”


“Olah raga sih rajin, tapi yang masuk juga rajin”


“Gak apa-apa sedikit gemuk, toh untuk anak-anak!” ujar Daniel nimbrung percakapan mereka


“Iya sih, apa lagi kalau ada adeknya Rafa, udeh deh susye langsing Tong!”


“Belum tentu!, mau taruhan?” tantang Rita


“Ayo!, taruhannya apaan?” tanya Mario


“Kalian tahu kan taruhan itu dosa?” Daniel mengingatkan


“Taruhannya bukan duit, dan ini bukan judi” ujar Rita


“Nanti deh kita pikirin taruhannya apaan” ujar Mario, tanpa terasa mobil mendekati D’Ritz


“Eh berenti di D’Ritz saja” pinta Rita, supir berhenti tepat di depan D’Ritz, Rita dan rombongan turun dari mobil


“Nanti aku telpon ya sayang!” ujar Daniel dari dalam bis


“Iya!, dahh ! Ranna, Raffa say bye sama papi!” Rita menyuruh kedua anaknya melambai kepada papinya.


Mobil pun berlalu, Rita memasuki tokonya


“Selamat Pagi!” sapanya, beberapa karyawan yang sedang bekerja terkejut melihat bosnya tiba-tiba datang


“Pagi bu!” mereka langsung berbaris di depan etalase, Erina yang sedang hamil besar menghampiri Rita dengan susah payah


“Selamat pagi bu Rita,apa kabar!” Ia menyalami bosnya


“Erina, kenapa gak di rumah saja, kelihatannya sudah berat jalannya?” Rita mengambil bangku dan menyuruhnya duduk


“Gak apa-apa bu, saya gak mau manja saja.”


“Ismael sedang mengantarkan pesanan”


“Kenapa Ismael? Yang bertugas mengantar mana?”


“Kemarin, ia terinfeksi bu jadi sekarang sedang dikarantina”


“Waduh, kalau kalian bagaimana?” Rita tampak khawatir


“Kami sudah swab dan PCR hasilnya negatif”


“Saya akan memasang penyaring udara di toko ini, serta desinfektan secara otomatis.”


“Desinfektan? Apa gak apa-apa kena makanan?” tanya Erina


“Nanti Desinfektannya diaktifkan kalau toko ini kosong, sedangkan filter udara akan terus dinyalakan selama ada orang di sini”


“Oh begitu, oh iya ibu mau melihat –lihat bahan baku?” tanya Erina


“Iya boleh”, Rita menyuruh kedua baby sitternya ke ruangannya bersama kedua anaknya, sementara ia mengecek persediaan bahan baku dan penjualan selama beberapa bulan.


“Jadi jam kerja karyawan dibagi 2 shift bu, karena kapasitas toko minimal 50% dari kapasitas toko” Erina menjelaskan


“Kalau kamu bagaimana?”


“Saya masuk seperti biasa bu, setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu”


“Apa suami mu gak keberatan kamu kerja dengan kehamilan mu yang besar ini?”


“hmm...sebenarnya saya memutuskan pisah dengan suami saya bu”


“Hah? Eh bagaimana? Kenapa? Kok? maaf??” Rita tampak kaget dengan cerita Erina yang tiba-tiba


“Saya sudah memikirkan masak-masak. Saya dan suami juga sudah berdiskusi panjang lebar, sepertinya kami bersepakat untuk berpisah”


“Tapi kamu kan sedang hamil Er, nanti bagaimana dengan anak mu?”


“Saya memikirkan kesehatan mental saya bu Rita, kalau saya lanjutkan rumah tangga bersamanya sepertinya lambat laun saya akan menjadi gila”


“Tapi Er, kamu kan sedang hamil biasanya orang hamil itu setiap keputusan dipengaruhi hormon, jadi sebaiknya kalian jangan terburu-buru berpisah”


“Kami juga memikirkan hal itu bu, jadi untuk sementara saya kembali ke rumah orang tua saya sampai anak ini lahir. Kalau setelah kelahiran ada perubahan dari kami kami berdua, mungkin kami akan kembali bersama”


“Syukurlah, eh maaf maksud ku semoga, eh aku mendoakan yang terbaik untuk kalian bertiga”


“Terima kasih bu, jujur saja Bu Rita setelah mengalami sulitnya berumah tangga, saya semakin mengagumi bu Rita yang menikah di usia muda. Saya menikah di usia 28 tahun orang bilang sudah cukup matang. Suami saya pernah menikah seharusnya ia lebih baik dari saya kan tapi kenyataannya ?” Erina meneteskan air mata, Rita memberikan tissue padanya, ia terlihat begitu prihatin


“Apa Bu Rita ada saran untuk saya?” tanya Erina memecah kesunyian


“eee...gimana ya Er? Setiap rumah tangga itu beda-beda sih ya? kalau Aku sharing pengalaman berumah tangga yang baru 2 tahun ini, sepertinya gak layak untuk dijadikan contoh. “


“Baru 2 tahun bu?” Erina kaget


“Iya baru 2 tahun, kenapa? Kok kamu kaget?”


“Kok kelihatannya bu Rita dan Pak Daniel sudah kompak sekali untuk pernikahan yang baru 2 tahun?” ujar Erina


“Iya ya? hahaha...Aku selalu bilang ke suamiku kalau kita itu satu tim. Tadinya hanya berdua, sekarang berempat, suami ku yang menjadi kaptennya dan aku wakil kapten. Kami sering berdebat karena tidak cocok, bahkan pak Daniel beberapa kali marah padaku”


“Hah pak Daniel bisa marah?”


“Tentu bisa! Beliau kan manusia!”


“Serem gak bu marahnya?” tanya Erina penasaran

__ADS_1


“Hmm...kalau dia marah, aku didiamkan selama beberapa hari, nanti setelah marahnya reda baru deh dia ngajak ngomong lagi”


“Kalau pak Daniel marah, reaksi bu Rita gimana?”


“Kalau aku diam saja, game over!, aku berusaha bersikap biasa saja. Kadang aku protes terhadap sikapnya, aku lebih senang dia maki-maki aku dari pada diam saja”


“Lalu pak Daniel bilang apa?”


“Dia takut kalau memaki akan muncul perkataan yang melukai perasaanku, jadi dia memilih diam”


“Aduhh,..bu Rita bikin saya iri. Saya dan suami berbeda 15 tahun, saya selalu dianggap anak kecil olehnya”


“Berapa lama kalian pacaran?”


“Sekitar 2-3 tahun”


“Lalu apa yang memutuskan kamu menikah dengannya?”


“Sejak kecil kedua orang tua saya bercerai. Saya tinggal bersama mama dan papa tiri, walaupun ia sangat baik tetap saja saya merasa ada batas diantara kami. Ketika bertemu dengan suami yang jauh lebih tua saya seperti menemukan figur seorang ayah padanya, hubungan kami berjalan tanpa ada rintangan”


“Tapi kamu tahu kan dia sudah pernah menikah sebelumnya?”


“Iya, dia menceritakan masa lalunya, saya pikir itu masa lalu dia, antara saya dan dia adalah masa depan. Jadi saya gak pernah mengungkit masa lalunya dengan mantan istrinya”


Rita mengangguk memahami


“Maaf bu, sepertinya bu Rita ingin mengatakan sesuatu? Gak usah sungkan bu, katakan saja. Saya lebih senang mendapatkan banyak saran”


“Apa suami mu mengatakan hal yang sama tentang kalian?”


“Maksud Bu Rita?”


“Maksudku , menikah itu bukan tentang aku dan kamu menjadi kita saja, tapi juga kesamaan visi, tujuan kalian berdua untuk bersatu. Sewaktu pak Daniel melamar, dia bilang ingin membentuk keluarga bersama ku dan ia berjanji tidak akan menghalangi pendidikan serta karier ku. Aku menyukai pak Daniel sejak pertama kali bertemu dan selalu ingin bersamanya dan membesarkan anak-anak kami, dari situ ada kesamaan visi antara aku dan suamiku”


“Oh begitu,” Erina berpikir sejenak, ia tampak bingung


“Kamu kenapa Er?” tanya Rita, ia meminta staf lain menyediakan teh hangat untuknya dan Erina


“Sejujurnya, saya yang memaksa suami untuk menikah karena usia saya yang menginjak 28 tahun. Mama saya menikah pada usia 22 tahun, lalu menikah lagi di usia 24 tahun, saya takut disebut perawan tua. Padahal waktu itu suami saya baru saja menerima akta dudanya, setelah dua tahun mengurus perceraiannya”


“Hmm..mungkin kalian harus ngobrol lagi, diskusi lagi, perceraian bukan satu-satunya jalan kan? Apalagi ada bayi yang membutuhkan kalian berdua”


“Tapi bu Rita, saya selalu merasa sayalah yang memaksa suami untuk menikahi saya”


“Setahu ku Er, tidak ada yang bisa memaksa lelaki untuk melakukan hal yang tidak ingin ia lakukan. Mama ku bilang berumah tangga itu butuh perjuangan, berjuang untuk cocok, berjuang untuk menerima kekurangan masing-masing, dengan adanya cinta itu akan menjadi alasan bagus untuk berjuang”


“Mama bu Rita pasti orang yang sangat bijak ya?”


“Ya, bisa dibilang begitu, beliau menikah 2x , pertama dengan papa ku, yang meninggal ketika aku masih dalam kandungan. Lalu beliau menikah lagi dan bercerai setelah 7 tahun menikah”


“Akhirnya bercerai juga?”


“Ya, itu karena campur tangan kakek ku, jadi mereka harus berpisah. Tapi mereka menjadi teman baik, sampai ayah ku meninggal”


“Oh ya? turut berduka cita bu Rita!”


“Terima kasih, intinya Er. Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Bahkan rumah tangga ku, kami terus berjuang bersama dan berdoa bdipersama semoga Tuhan selalu mempersatukan kami hingga dipisahkan oleh kematian” ujar Rita , Erina terdiam, ia memikirkan kata-kata Rita yang terasa sangat dalam.


“Miii!!” Ranna menghampiri Rita di ruangan Erina


“Kenapa Sayang?” Rita melihat baby sitternya


“Kelihatannya kak Ranna sudah capek bu”


“Eh iya ya?” Rita melihat jam tangannya


“Aduuh..sudah siang banget nih, baiklah Erina, kalau kamu gak kuat kamu pulang saja ya?, Saya sudah mengecek persediaan, alhamdulillah masih aman”


“Iya bu, supplier yang ibu telepon dari Jakarta juga bagus, ia bisa dipercaya bu”


“Tapi tetap dicek ya Er, oh iya saya akan kembali ke apartemen dulu. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya ya?”


“Baik bu! Terima kasih atas masukannya bu!” Erina menyalami Rita dengan ramah


”sama-sama Er, semangat ya! jangan menyerah!” Rita tersenyum menyemangati


“Teman-teman, saya kembali ke apartemen ya, kalau butuh apa-apa minta bu Erina menghubungi saya, oke? Terima kasih semuanya!”


“Baik bu, hati-hati di jalan!” ujar para staf toko yang hadir


Rita dan rombongan keluar dari toko dan menuju apartemennya.


“Selamat siang bu Daniel!” sapa security yang mengenal Rita


“Siang!, sudah lama gak bertemu ya?”


“Iya bu, maaf sesuai protokol kesehatan, silakan dicek suhu lalu mencuci tangan!”


Rita menuruti, mereka melakukan yang diminta security kemudian mereka naik ke apartemen mereka.


“Assalammu’alaikum.. ayo masuk sus, silakan duduk!” Rita masuk ke apartemennya dan masuk ke kamarnya yang sudah lama ditinggal. Para baby sitter duduk di sofa di ruang tamu


“Eh, katanya sudah lama ditinggal kok apartemennya tetap bersih?” tanya salah satu suster pada temannya, Rita mendengar perkataannya dari kamarnya


“Aku menyuruh OB membersihkan seluruh ruangan ini setiap dua hari sekali, dan aku mengeceknya secara online”


“Oh begitu bu!”


“Itu kamar anak-anak sus, ada ruang mandi dan ganti popok juga” Rita menunjukkan kamar Ranna dan Raffa.


Ranna terlihat sangat senang kembali ke kamar lamanya, ia mandi sambil bermain air, Rafa yang dimandikan bersebelahan juga melakukan hal yang sama. Setelah mandi dan berganti pakaian, Rita menyiapkan makan untuk mereka berdua.


“Suster, aku sudah memesan makanan dari luar nanti setelah menyuapi anak-anak, kita makan bersama ya?”


“Baik bu!” jawab keduanya kompak. Setelah makan siang, anak-anak tampak mengantuk, Rita memasang video anak-anak di TV ruang tengah, sementara para suster makan siang. Sambil menonton anak-anak terlelap, lalu dipindahkan ke tempat tidurnya masing-masing.


“Oh ini kasur darurat untuk kalian tidur siang, maaf di sini tidak ada kamar ekstra, jadi kalian tidur di kamar anak-anak ya?”


“Iya bu, di sini luas sekali kok!” ujar salah satu suster


“Memang, selamat istirahat!” Rita meninggalkan para suster dengan Ranna dan Rafa yang sedang terlelap, sementara ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Tiba-tiba ia kepikiran suaminya, lalu ia melakukan V-call


“Assalammu’alaikum Yang!” sapa Rita


“Wa’alaikummussalam! Hei kamu sudah makan siang?” tanya Daniel


“Sudah tadi, kamu sedang makan siang?”


“Iya, ini di ruangan, kantin di tutup. Semua disekat di sini juga rapat tadi”


“Rapatnya gawat gak?”


“Lumayan, tapi masih bisa ditangani kok, oh iya kayaknya kita bakal 2-3 hari di sini!”


“Oh ya? tapi nanti kamu pulang kan?”


“Iya dong!, eh sudah pada hadir semuanya?” tanya Daniel pada staf di situ


“Yang, nanti aku hubungi lagi ya?” ujar Daniel


“Gak usah kalau sibuk!, ketemu nanti sore saja ya?”


“Insya Allah!, selamat istirahat! Love you!”

__ADS_1


“Love you too!” Rita menutup percakapan, lalu ia pun tertidur.


_bersambung_


__ADS_2