
Rita datang ke IGD sambil menggendong Ranna
“O!” panggilnya, Mario menoleh wajahnya kelihatan panik
“Ritong! Ah syukur deh lo sudah di sini!”
“Kok bisa lo yang di sini?”
“dr.Reza memasukkan gue ke kontak daruratnya!”
“Kok bukan gue?”
“Katanya Rita sekarang sudah bersuami, beliau takut ganggu lo! Andi kejauhan, gue doang yang di sini orang dekatnya”
“Ah syukurlah O! Memang bisa diandalkan!” Rita agak lega dan menepuk-nepuk pundak O
“Jadi sekarang ayah di mana?”
“Sudah di bawa ke ICU, untuk dipantau!”
“Lo di sini nungguin gue?”
“Iya!, Cuma satu orang yang bisa masuk ke ICU.”
“Oh, gue titip Ranna deh! Nanti Daniel menyusul kemari!” Rita melepas gendongannya dan melekatkan ke Mario, ia juga memberikan tas perlengkapan Ranna
“Aihhh..Ranna!!! ketemu lagi sama uncle O!!!”
“aaaa..uuuu...aaaa” Ranna bergerak-gerak kegirangan, Rita melihat reaksi Ranna
“Dia suka sama lo tuh!, dia ngajak main!”
“Ooo..Ranna mau main sama uncle O? Hmm...kita mainin gergaji listrik yuk!”
“aaaaa...aaaa” tangan Ranna bergerak-gerak seolah-olah mengiyakan
“Jangan ngajarin yang enggak-enggak! Dimarahin bapaknya lho!” ujar Rita memperingatkan
“Ai mah gak takut sama bapaknya, ai lebih ngeri sama emaknya lebih sangar!” jawab Mario
“Nah Lo lebih tahu!, gue ke atas ya? titip Ranna!..ini semua perlengkapannya!”
“Siyap bu bos!!”
Rita segera ke ruang ICU yang terletak di lantai 4, sementara Mario membawa Ranna ke tempat nursery di lantai 2.
“Ranna!, uncle pegel nih! Kamu tidur di sini dulu ya?” O melepaskan gendongan Ranna dan menaruhnya di tempat tidur ganti popok
Sementara Rita di ruang ICU,
“Dokter bagaimana keadaan ayah saya?”
“Sepertinya ini bukan serangan jantung pertama kali ya?”
“Bukan dokter!, sekitar setahun yang lalu pernah terkena serangan jantung, lalu stroke juga tapi ringan.”
“Obat apa yang beliau konsumsi?”
“Begini dok, ayah saya tinggal sendirian di Indonesia, baru sebulan ini pindah ke Singapura. Saya tidak tahu obat yang dikonsumsi beliau”
“Akan lebih membantu jika ibu mencari tahu obatnya!”
“Sekarang kondisinya bagaimana dokter?”
“Sekarang sudah stabil tapi kami harus memantaunya 2x24 jam. Apakah kondisinya terus stabil atau kah menurun”
“Baiklah dokter!”
Setelah bertemu dokter, Rita diminta untuk mengurus pembayaran di kasir. Ia menggunakan tabungannya yang lama untuk membiayai berobat ayahnya.
“Suster!, saya keluarga pasien dokter Reza!”
“Oh iya!, ada apa bu?”
“Ini nomor kontak saya, tadi dokter jantungnya meminta saya untuk mencari tahu obat yang diminum ayah. Karena tidak ada yang bisa saya mintai tolong jadi saya titip ayah saya di sini ya?”
“Baik bu! Kalau ada apa-apa , kami akan menghubungi ibu segera!”
“Terimakasih suster!”
Rita menelpon Daniel
“Yang! Bagaimana pesanannya?”
“masih tinggal 100 pcs lagi, ini kami sedang membungkus dan mendatanya. Bagaimana keadaan ayah?”
“Sudah stabil!, aku diminta ke apartemennya untuk mencari obat jantungnya!”
“Kamu tahu apartemennya?”
“Gak tahu, tapi ada O di sini, aku akan memintanya mengantarku!”
“Baiklah, perlu gak aku ke RS?”
“Sekarang ini belum perlu!, nanti dari apartemen ayah aku ke RS lalu kembali pulang!”
“Baiklah!, hati-hati ya? telepon aku ya?”
“Iya!”
Rita menutup percakapan ponsel lalu menghubungi Mario
“O! Lo dimana?”
“di ruang nursury lantai 2!”
“Oke, gue ke situ!”
Di lantai 2
“O!”
“Sudah? Dr.Reza sudah sadar?”
“Belum!, masih ditidurkan. Tunggu stabil, dokter pantau dia terus.”
“Gue juga kaget, tadi tiba-tiba RS menghubungi gue, dia bilang dr.Reza pingsan sudah ada di IGD. Setelah memastikan itu beneran dr.Reza gue langsung nelpon lo!”
“Makasih O!, lo bener-bener saudara gue yang baik!” puji Rita, Mario tersenyum ia senang , Rita dan Andi sudah menganggapnya sebagai saudara
“Jadi kita ke apartemennya dr.Reza?”
“Lo tahu tempatnya?”
“Tahu dong! Kan gue yang nyariin!”
“Kok lo gak ngomong sama gue O?”
“dr.Reza bilang pengen ngasih kejutan buat lo!, jadi gue disuruh merahasiakan!”
“Ooo begitu, yuk kita ke apartemen Ayah!” Rita mengambil Ranna dari gendongan Mario
“Eh ni anak malah tidur!, lo gak kasih obat bius kan?” tanya Rita
“Sembarangan aje lo!, gue tadi gantiin dia popok, ngasih ASI, terus gantiin baju, Sebelum gantiin baju gue lap badannya dengan tissue basah kayaknya dia kegerahan. Sudah gitu, gue nyanyiin eh dia tidur!”
“Wah lo baby sitter yang hebat, bisa dong gue titipi lagi?”
“Enak aje lo! memangnya gue gak punya kehidupan lain, sampai harus ngurusin bayi orang lain?”
“Anggap saja latihan, nanti lo jadi bokap udeh biasa gitu!”
“Gue jadi bokapnya masih lamaa!, memangnya Yu mudah tergoda oppa Korea tampan dan kaya!”
“Iya dong! Kapan lagi?” jawab Rita, mereka segera menuju apartemen Reza dengan menaiki mobil Daniel. Rita yang menyetir, sementara Mario menggendong Ranna di kursi penumpang.
“Kalian gak beli kursi bayi untuk di mobil?” tanya Mario heran
“Belum!, karena ini mobil kantor. Nanti kalau sudah punya mobil sendiri baru beli!” jawab Rita sambil menyetir
“Ya beli dong!, kalian kan rich people! Masa mobil SUV saja gak kebeli?”
“Bukan begitu, Daniel bilang kalau terlalu banyak beli barang di sini, nanti pindah tugas lagi. Terlalu banyak barang yang harus dipindahin kan jadi ribet!”
“Apartemen yu berdua sudah luas dan banyak barang, belum lagi barang di toko, tanggung amat mikirnya?”
“Yaa..nanti lihat lah! Mungkin gue yang beli mobil. Tapi biasanya nih kakek Darmawan yang mau beliin!”
“Eh Rit! Lo dengar issue gak?”
“Issue apaan?”
__ADS_1
“Laki lo gak pernah cerita?”
“Cerita apaan?”
“tentang Dar,Co!”
“kenapa tentang perusahaan kakek?”
“Ada desas-desus, katanya kakek Dar bukan lagi pemilik saham mayoritas! Ada yang mau mengakuisisi!”
“Sudah terjadi atau belum?”
“Entahlah, tapi di tempatku mereka sudah pada ribut tuh, ada yang mau resign, ada yang mau pindah departemen pokoknya beritanya simpang siur deh!”
“Lo tahu siapa yang mau menggeser kedudukan kakek?”
“Nanti gue cari tahu!, ada yang bilang orangnya dulu memegang jabatan sebagai HRD di Dar,Co pusat, itu lho pamannya Jameson!”
“Jameson yang mantan kepala Dept. Manajemen?”
“Mungkin? Gue gak tau! Tapi kemarin gue lihat Daniel ribut sama dia. Gak tahu tentang apa, tapi gue baru lihat muka laki lo yang kecut banget!”
“Berantemnya lo gak denger?”
“Enggak!, gue lihat dari jauh saja, gue baru makan eh laki lo sudah selesai!”
“O belok sini?”
“Iya!” mereka mengambil jalan melewati Bugis Street
“Lo belanja di sini deh tong! Murah-murah lho!”
“Enggak ah! Orangnya jutek-jutek! Empet gue!”
“Oh lo pernah belanja di sini?”
“Pernah! Nganterin mertua gue beli baju. Masa nawar aja gak boleh langsung ditarik barangnya!, gue jadi kangen Indonesia. Tanah abang!, Pasar Cempaka putih itu pedagangnya pada bilang. Silakan lihat-lihat dulu kakak! Boleh nawar! Baik banget!”
“Tanah Abang? Tanah adeknya mana?”
“Tanah Adeknya itu kebon kacang!, udeh..terus kemana nih?”
“stop-stop..kita parkir di sini!”
Rita memarkirkan mobilnya di depan toko. Mario keluar lebih dulu, lalu meminta ijin pada pemilik toko. Setelah itu ia menghampiri Rita yang masih di mobil memegangi Ranna yang lelap tertidur.
“Tong! Ayo!” ajak Mario, Rita segera keluar sambil menaruh Ranna di gendongannya. Mario berjalan di depannya
“Boleh parkir di situ?”
“Boleh! Kan Cuma sebentar, pemilik toko itu yang punya apartemen yang disewa dr.Reza.”
Mereka berjalan cukup jauh melewati beberapa jalan sempit.
“Apa gak ada jalan yang lebih sempit lagi O?” sindir Rita
“Ada Tong! Tapi jauh! Mending lewat sini” tak berapa lama mereka muncul di jalan yang agak lebar, di situ ada gedung, kira-kira 6 lantai tingginya.
“Plaza Jasmine!” Rita membaca nama gedung itu
“Ayo! Apartemennya ada di lantai 3!” Mario mengambil kunci cadangan dari penjaga gedung yang sudah mengenalnya.
“314!” Mario mencari kamar sesuai nomor pada kunci
“Tuh 314!” teriak Rita
“Iya tahu! Jangan teriak-teriak! Berisik tahu!” larang O, ia membuka pintu apartemen. Ketika masuk, mereka dihadapkan dengan tempat tidur ukuran double, lemari pakaian, mini kitchen set, kamar mandi dan balkon untuk tempat menjemur.
“Sewa di sini berapa O?”
“600$ sebulan!”
“Lumayan ya? dengan fasilitas ini kenapa murah?”
“sebentar lagi lo tahu deh!”
Tak berapa lama, Rita mencium bau aneh
“Bau apaan tuh?” ia menutup hidungnya, ia panik dan mencari masker di tasnya
“di belakang apartemen ini ada pasar! Kadang mereka menumpukan sampah di situ sebelum diangkut!”
“oo itu sebabnya?”
“Kok gak ada?”
“Nyari apaan” tanya O bingung
“itu obat jantung ayah!”
“Setahu ku dr.Reza gak minum obat jantung lagi”
“Hah? Kata siapa?”
“Anding lho yang bilang!”
“Kenapa? Kan Ayah pasang ring?”
“Gak tahu, mungkin karena beliau gak mau tergantung sama obat kimia”
“Ayah...ayah...dokter kok gak mau pakai obat kimia!” Rita menggeleng-geleng
“Jadi gimana nih Tong?”
“Ya udah balik ke RS saja deh bilang ke dokternya”
“Ayo deh, sebelum gelap!”
“Memangnya lo ada rencana pergi hari ini?” Rita memperhatikan pakaian Mario dari atas sampai bawah yang terlihat rapi
“Ah enggak!” ujarnya, Rita merasa curiga tetapi dia pikir bukan saatnya mengetahui urusan orang. Prioritasnya hari ini adalah ayahnya.
“Kasihan ayah sendirian, apa ayah gue ajak tinggal sama gue saja ya?” ujar Rita dalam perjalanan ke RS
“Jangan deh, kasihan bokap lo. Andi saja gak kuat sehari di apartemen lo?”
“Memangnya kenapa?” tanya Rita, ia melupakan kejadian yang lalu
“Serem katanya!”
“Serem? Gak ada apa-apa kok?” ujar Rita lagi
“Gak usah lah! Kasihan bokap lo!”
“Kalau gitu tinggal sama lo aja!”
“Sama gue? Gak salah?”
“Enggak! Lo kan sudah dianggap anak sama bokap!, nanti uang sewa apartemennya gue yang bayarin deh!”
“Beneran tong?”
“Bener! Asal lo bujuk bokap gue supaya tinggal sama lo! gimana?”
“Lo yang bayarin? Lo gak bilang laki lo dulu?”
“Gampanglah itu. Asal ada yang mau dulu baru nanti gue bilang.”
“Sewa apartemennya saja? Service chargenya?”
“Itu tanggungan elo! Kan yang merasakan servicenya elo!”
“Gue pindah apartemen boleh gak?”
“Boleh saja! Yang kamarnya 2, supaya bokap gue ada privasi!”
“Hmm...kira-kira lo sanggup yang harga sewa apartemennya berapa?”
“Pokoknya yang dekat sama apartemen gue deh! Supaya gue ikut ngawasin!”
“Kalau gitu di bawah lantai apartemen lo aja!”
“Memangnya kosong?”
“Setahu gue kosong deh!”
“Kok banyak yang dikosongin ya?”
“Apanya?”
“Itu apartemen di sekitar gue!, sebelah gue kosong. Sekarang di lantai bawah kosong!”
__ADS_1
“Mungkin kalian berisik kali!” ujar Mario ketelepasan
“Berisik apaan?”
“Ya kalau lagi....” Mario terdiam, dia ingat janjinya ke Andi
“Kalau lagi apa?”
“Ya kalau kalian lagi berantem, atau ngelaundry atau bersih-bersih apa gitu?”
“Eh O, lo kan yang renov apartemen gue. Seharusnya lo tahu dong, apartemen gue kedap suara apa engga?”
“Kalau sekarang sih kamar yu sudah kedap suara!, kalian teriak-teriak sampai budeg sendiri juga gak bakal kedengaran keluar!” ujar Mario
“Ya udeh, kalian pindah ke lantai bawah ya?”
“Iya deh!, nanti Ai coba bujuk bokap yu!”
“Asyiikkk...gitu dong brother!”
“Dari tadi brother mulu! Yakin lo mau jadi saudara Ai?”
“Kak Andi bilang lo diadopsi sama kakek Darmawan kan? Jadi kita orang bersaudara!”
“Salah dong! Kalau Ai jadi anaknya kakek, kalian itu keponakan Ai! Ayo kalian pada sungkem!”
“Sini gue gigit lutut lo!” ujar Rita kesal,
“Eitt....jangan dong! Ai belum divaksin tetelo!”
“Bego!! Memangnya lo ayam!”
“Itu lho vaksin untuk dogie!”
“Rabies!”
“Nah itu!”
“Sudah deh jangan becanda terus, kita serius nih”
“Iya Ai juga dari tadi duarius!”
Akhirnya mereka sampai di RS, Rita menemui dokter jantung, sedangkan Mario bersama Ranna di lantai 2. Daniel menyusul ke RS, ia menemui Rita di bagian Jantung.
“Gimana Ayah?”
“Masih dipantau dalam 2x 24 jam!”
“Ayah kena serangan jantung, ada pemicunya?”
“Mungkin karena ayah tinggal sendirian di apartemen jadi gak ada yang urus!”
“Kalau begitu Ayah tinggal sama kita saja! Kamar di sebelah kamarnya Ranna kan kosong?”
“Tapi kata O, apartemen kita serem. Apa kamu pernah melihat yang aneh-aneh?”
“Serem gimana? Ada hantunya?”
“Gak tau, dia bilang serem. Andi saja sampai gak bisa tidur. Begitu katanya!”
“Ahh...serem yang itu rupanya!”
“Kamu tahu?”
“Sudahlah gak usah dibahas lagi! Kita pikirin Ayah tinggal jangan sendirian” ujar Daniel
“Nah tadi aku sudah bilang ke O, supaya dia tinggal sama ayah saja, di lantai bawah apartemen kita. Katanya sudah kosong!”
“Apa O mau?”
“Aku bilang, kami deh yang bayarin sewanya!”
“Maksudmu aku yang bayarin?” tanya Daniel
“Iya! Aku, Kamu kita kan suami istri...hehehe..” bujuk Rita
“Aku akan tanya pemiliknya, seharusnya gak begitu mahal, karena tidak seluas apartemen kita.”
“Kita lihat dulu Yang, mereka mau yang dua kamar, supaya ada privasi!”
“Tentu saja!, baiklah besok aku tanyakan ya?”
“Alhamdulillah!..kamu menantu teladan! Baik banget! Semoga rejeki kamu dilipatgandakan Allah SWT”
“Aamiin...” Daniel mengamini
“O! Kamu ada acara?” tanya Daniel ketika menjemput Ranna di lantai 2
“Ya gitu deh, tapi Ai bingung datang gak ya?”
“acara apaan?”
“Dept. Ai lagi ada family gathering malam ini, di restoran.”
“Datang dong! Supaya punya teman!”
“Iya sih, Cuma Ai malu.”
“Kenapa malu?”
“Karena Cuma Ai yang bukan pegawai tetap di situ”
“Sekarang itu pegawai sistemnya kontrak O!, per 2 tahun mereka di evaluasi , mau perpanjang apa enggak, jadi sebenarnya sama saja sama kamu! Cuma kamu hitungannya tenaga ahli”
“Ai tenaga ahli?”
“Iya!, kamu kan disewa sebagai desain interior”
“Iya juga ya? Ai sering lupa!”
“Datang gih!”
“Iya..iya...bawel ih! Sekarang Yu makin mirip bini Yu! Bawel!”, Daniel tersenyum mendengar kata-kata O
“Tapi kamu sudah banyak kemajuan lho bahasa inggrisnya! Dari tadi gak sadar kita ngomong bahasa inggris terus?”
“hehehe...iya ya?..saran yu itu membantu lho! Sekarang Ai gak bete lagi sama si Martin. Ternyata orangnya baik!”
“Bagus deh!”
“Eh, mr.Daniel!”
“Panggil Daniel saja!”
“Iya! Daniel, apa betul Dar,Co mau diakuisisi perusahaan lain?” bisik Mario
“Kamu dengar dari mana?”
“Di departemenku lagi beredar rumor itu! Katanya big bos bukan lagi pemilik mayoritas saham Dar,Co. Apa betul?”
“Aku belum pernah dengar! Tapi ini masalah serius! Tentang kepemilikan saham seharusnya hanya dibahas di rapat umum pemegang saham. Karyawan gak perlu tahu!”
“Ai juga gak tahu dari mana rumor itu berasal. Tapi Ai takut kakek Dar jatuh miskin.. kakek yang imut dan baik hati juga tidak sombong!” ujar Mario
Daniel terdiam, ia ingin membicarakan hal tersebut dengan Radian, mantan bosnya.
Dua hari kemudian, dr.Reza keluar dari ruang perawatan, ia langsung menempati apartemen di lantai bawah apartemen Rita dan Daniel
“Selamat datang Ayah!” Rita dan Mario menyambutnya, mereka sudah selesai beres-beres di apartemen baru, Reza dijemput oleh Daniel dari rumah sakit.
Reza tersenyum, ia merasa lega berada di tengah keluarganya, mereka makan siang pertama di apartemen baru.
“Ayah, kalau O belum pulang dari kantor, ayah ke lantai Rita saja ya? kita makan sama-sama!” Ujar Rita sambil memberikan Asi kepada Ranna melalui botol
“Iya!...apa gak menganggu kalian?”
“Enggak lah yah!, atau mungkin aku bisa memasak makanan lebih dan mengirimkannya untuk kalian!” ujar Rita lagi
“Nah! Lebih baik begitu saja!” ujar Mario tiba-tiba
“Kenapa? Memangnya Ayah gak mau makan bersama kita di sini?” tanya Rita curiga
“Bukan begitu!, kalau Ayah makan bersama kalian, nanti aku makan sendirian di kamar! Itu curang namanya!”
“oo begitu! Ya sudah, kalau gitu kamu ikut makan di sini juga boleh!” ajak Rita
“Bener ya? aku gak bakal diusir?”
“Enggak! Paling-paling suruh makan di luar!” canda Rita
“hahaha!” semua yang mendengar celotehan Rita tertawa
__ADS_1
_Bersambung_