Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 151: Anger Management


__ADS_3

Sejak keundangan bersama, Rita semakin dekat dengan Daniel, walaupun dalam hatinya ia tidak berharap banyak dengan hubungannya dengan Daniel. Untuknya dekat dengan Daniel membawa keuntungan tersendiri, selain ia bisa terus memandangi wajah gantengnya, Daniel juga banyak membantunya menyelesaikan tugas-tugas dari bosnya Radian. Ketika bosnya rewel dan menyebalkan Daniel banyak menghiburnya, tanpa ia sadari perasaannya ke Daniel semakin dalam.


Suatu ketika Daniel mengikuti Radian pertemuan di Tokyo selama seminggu, selama seminggu itu pula Rita sangat kesepian. Saking gabutnya, ia membersihkan ruangan Radian dan Daniel. OB yang bertugas bingung, karena kantor Direktur asistennya selalu bersih dari debu. Ketika Rita sedang merapikan berkas-berkas di meja Daniel ia menemukan selembar flier yang berisikan promo pembukaan gymnasium.


“Hmm...lagi promo nih, sebulan Cuma 100 dolar, olah raga sepuasnya....alamatnya..eh dekat sini!” Rita mengantongi flier itu, ia menelpon scot supirnya untuk menjemput pukul 6 sore. Pukul 4 sore sepulang kantor, Rita mampir ke gym tersebut. Gymnya cukup ramai pengunjung apalagi ada program promosi selama 1 bulan dengan menunjukkan flier tersebut.


“Permisi! Saya tertarik dengan promo di flier ini, apa masih ada?” tanya Rita kepada resepsionis di gymnasium


Resepsionis menerima flier tersebut kemudian menjelaskan


“sebenarnya promo ini sudah lewat seminggu yang lalu”


“Eh? Ada tanggalnya?” Rita tidak melihat tanggal pada flier


“Ah iya, baru terlihat, jadi tidak ada program khusus?”


“Ada, sebenarnya ini program baru, anda tahu kung fu kan?”


“Iya, yang jackie chan?”


“Betul, nah kebetulan program bulan ini, relieve stress melalui kung fu”


“Seperti apa? ada open housenya?”


“Kebetulan sedang berlangsung, Anda bisa mengikuti saya!” Rita mengikuti Resepsionis ke ruang lain di gedung itu, di sana ia bertemu dengan sang guru.


“Guru Jacky, ini ada satu lagi yang tertarik dengan program ini”


Guru Jacky mirip sekali seperti jacky chan bintang film di TV, Rita dipersilakan duduk, karena tubuhnya cukup tinggi, sekitar 168 cm jadi ia duduk di belakang.


“sebelumnya ada yang memiliki dasar bela diri?” tanya guru Jacky


Beberapa orang menaikan tangannya, termasuk Rita


“Ada yang bisa maju dan mencoba melawan saya?” tanya guru Jacky


Seorang pria muda 20-an th, maju ke depan kemudian ia mencoba melawan Jacky. Ketrampilan yang ia miliki tergolong masih rendah sehingga dengan muda guru Jacky menaklukannya.


“Ada lagi?” tanya guru Jacky


Seorang pria tinggi besar, dengan tubuh besar dan bertato maju. Dengan teknik mengapit pinggang, ia berusaha menaklukan Jacky, tetapi ia justru terkunci dan tidak bisa bergerak.


“Yang terakhir, ada lagi?” tanya guru Jacky makin percaya diri


Rita mengacungkan tangannya, ia sangat tertarik dengan ketrampilan guru Jacky, sangat rapi dan tidak kasar.


Rita sedikit membungkuk memberikan hormat


“Anda bisa menyerang saya lebih dulu!” ujar guru Jacky


Tanpa ragu, Rita menyerang Jacky dengan tendangan andalannya, Jacky terkejut, karena ia merasakan tenaga yang cukup kuat dari tendangan Rita. Jacky menangkisnya, kemudian terjadi saling serang, orang-orang sangat kagum dengan kemampuan Rita. Jacky yang usianya sekitar 40 tahun-an semakin lama tentu saja semakin terdesak, apa lagi ia melihat wajah Rita yang semakin bersemangat.


Kemampuan Rita bertarung di dalam dan di luar arena membawanya sebagai petarung tangguh tanpa ia sadari. Guru Jacky merasakan itu, tetapi pengalaman seseorang tidak bisa dianggap remeh. Beberapa saat kemudian Rita dapat ditaklukan.


Tepuk gemuruh pada tamu yang menyaksikan pertandingan itu, bahkan pengunjung dari program lain juga memenuhi ruangan tersebut. Pertandingan berakhir, Rita tersenyum memberi hormat, Jacky membalasnya. Rita kembali ke tempat duduknya, beberapa lelaki menepuk punggungnya karena kagum. Rita tersenyum senang.


Guru Jacky melanjutkan presentasinya.Kira-kira 15 menit kemudian presentasi berakhir, ia mempersilakan untuk pengunjung yang tertarik untuk ikut programnya mendaftar. Kelas itu pun bubar. Ketika Rita hendak pergi, guru Jacky mendekatinya


“Anda memiliki tenaga yang besar!, sepertinya Anda terbiasa bertarung?” tanya Jacky membuka percakapan


“Begitulah guru, tetapi saya merasa jurus-jurus saya itu masih berantakan. Berbeda dengan jurus guru yang begitu rapi dan tenang”


“Itu karena di setiap jurus itu, kamu meletakan kemarahan dan frustrasi, itu menunjukkan ke tidak tenangan hatimu!”


“Apa iya?”


“Kapan pertama kali kamu belajar taekwondo?”


“Sejak masih kecil, kakek memaksaku!”


“Tetapi aku merasakan jurus yang lain?”


“Oh itu karena aku ambil karate, sabuk coklat dan Judo. Tetapi judo tidak aku lanjutkan. Aku juga pernah mencoba krav manga”


“Wow!, apa kamu akan masuk kelas ku?”


“Apa guru akan mengajariku mengendalikan stres dan kemarahan terpendam dalam jurusku?”

__ADS_1


Guru Jacky mengangguk


“Baiklah, kalau kamu mendaftar hari ini, kita bisa mulai besok!”


“Apa harus sekarang guru?”


“Besok harga naik!”


“ooo, mirip jual rumah!” gumam Rita.


Hari itu ia mendaftar untuk mengikuti kelas Kung fu Anger Management. Sejak ia mengikuti kelas itu, Rita sangat rajin berlatih, ia juga merasa semakin hari energinya semakin tersalurkan. Ia tidak lagi merasakan kemarahan pada dirinya. Guru Jacky memujinya sebagai murid dengan progres paling baik. Dua minggu telah berlalu, program guru Jacky telah selesai, ia harus kembali ke China karena visanya di NZ telah habis.


“Terima kasih guru, atas ajarannya selama ini!” ujar Rita sedih, baru kali ini ia menemukan guru yang betul-betul bisa memahami dirinya


“Sama-sama Rita, eh iya Rita. Guru cuma mau kasih tahu, kamu bahkan bisa mematahkan kayu dengan energi kamu yang besar itu!”


“Benar guru?”


“Tentu! “


“Bisa ajarkan?”


“Kalau kamu menambah beberapa dolar aku bisa mengajarkannya hari ini”


Rita membuka tasnya dan mengambil dompetnya ia mengeluarkan uang saku yang baru saja ia ambil dari ATM kiriman dari mamanya


“100 dolar cukup guru?” tanyanya, guru Jacky tersenyum kemudian mengangguk. Setelah kelas resmi selesai, Jacky mengajak Rita ke suatu tempat, seperti lapangan tenis, di situ ia meletakan banyak peti kayu. Lapangan itu sudah lama tidak digunakan, dijadikan tempat pembuangan barang-barang terbuat dari kayu. Seperti peti kayu kemas.


Di situ guru Jacky mengajarkan teknik mencengkram menyalurkan energi ke tangan, sehingga membuat peti kayu kemas patah ketika kita pukul. Rita penasaran, ia mencobanya berkali-kali, tetapi tetap tidak bisa. Hingga waktunya selesai.


“Yah..guru, aku tambah lagi gimana uangnya?”


“Kamu sunggu dermawan, tapi tidak perlu. Kalau sekarang tidak bisa, untuk selanjutnya pasti juga tidak bisa. Kamu tahu, energi terkumpul itu harus kamu pusatkan, kalau kamu konsentrasi, tidak ragu pasti kamu bisa”


“Saya coba yang terakhir ya guru?”, Jacky mengangguk


Rita memejamkan matanya dan mencoba memusatkan energi ke tangannya, tanpa ragu ia memukul peti kayu itu dan


“Brak!!!” peti kayu kemas itupun patah. Guru Jacky terkejut, ia tertawa puas dan bertepuk tangan


“Hebat Rita!!!,..kamu lulus!” mereka pun berjalan beriringan


“Memangnya kamu mau datang?”


“Apa boleh? Aku tertarik dengan kung fu!”


“Hahaha...kamu gadis muda yang bersemangat!, tapi zaman now itu kung fu bukan lagi untuk membela diri, tapi lebih ke olah tubuh supaya sehat!”


“iya sih, kalau Tai chi itu teknik kung fu juga guru?”


“Itu bagian dari Kung fu, teknik pernafasan biasanya lansia banyak melakukan itu, supaya berumur panjang!”


Merekapun berpisah, Rita kembali ke Gym karena Scott sudah menjemputnya di sana, karena terburu-buru untuk sesi terakhir kung fu management, Rita tidak membaca email dari Radian yang berisikan draft yang harus ia selesaikan dan harus ia serahkan esok pagi.


Pagi itu ia begitu bersemangat, ia datang pukul 9 pagi dengan wajah ceria. Pukul 9.30 Radian datang dan memanggilnya


“Selamat pagi pak?”


“Pagi ! Tugas dari saya sudah dikerjakan?”


“oh sudah pak!” Rita memberikan semua dokumen yang diminta Radian. Ketika ia memeriksanya


“Yang terakhir mana?”


“Yang terakhir yang mana ya pak?” tanya Rita bingung


“Coba kamu cek email kamu lagi, kemarin saya mengirimkannya pukul 3.55!”


“Eh?” Rita bingung, ia segera membuka emailnya. Ia menyesal karena terburu-buru pulang , padahal ia pulang tepat pukul 4, dia tidak memeriksa lagi emailnya. Kemudian ia menghadap Radian dan akan membuat tugasnya saat itu juga. Tiba-tiba Radian sangat marah, ia membanting semua berkas yang Rita bawa.


“Kamu itu! Sangat tidak bertanggung jawab!!! Baru jadi pemagang, sudah melalaikan tugas! Mau jadi apa kamu? Kamu itu tidak disiplin! Egois! Ceroboh! Aku heran bagaimana ayahmu mendidikmu? Hah! Kamu pikir, aku harus menunggu kamu bekerja gitu? Tugas simple begini saja, kamu kan Cuma mengetik! Itu saja! Kamu itu bikin repot saja, gara-gara kamu aku harus menunda meeting! Kamu tahu gak kerugian perusahaan akibat ulah ceroboh kamu?”


Suara Radian yang keras dan hardikannya cukup membuat para karyawan yang mendengarnya menciut nyalinya. Beberapa merasa kasihan dengan Rita, tapi ada juga yang menyalahkannya karena ia tidak mengecek email sebelum pulang. Rita hanya tertunduk mendengar hardikan Radian, dia sangat kesal pada dirinya sendiri, ia juga menerima kemarahan Radian, meskipun beberapa hal yang Radian katakan tidak semuanya benar.


Pembelaannya dari 10 tugas yang diberikan hanya 1 tugas yang tercecer, itupun karena sang bos memberikan tugas di jam-jam pulang.


Radian melemparkan semua kertas kerja yang sudah Rita kerjakan dengan sungguh-sungguh, Rita merapikan dan membawanya ke mejanya, dengan tenang ia mulai mengerjakan tugas dari Radian.

__ADS_1


Hardikan Radian kepada Rita menjadi buah bibir di kantor. Rita melewatkan makan siangnya untuk menyelesaikan tugas dari Radian. Ia terus mengetik , ia pikir tugas ini harus selesai sekarang dengan segera, sampai pada halaman terakhir ia baca, ternyata dokumen itu untuk seminggu yang akan datang, bukan untuk hari ini. Rita menarik nafas panjang teringat makian dan cacian Radian pada dirinya, menyebut ia ceroboh, tidak bertanggung jawab.


Setelah selesai, ia mencetaknya, ia membuat menjadi beberapa salinan. Kemudian ia mengetuk pintu kantor Radian, di situ sudah ada Daniel ia baru saja datang untuk melaporkan tugasnya di Singapura.


“Pak ini dokumen yang tadi bapak minta!” Rita tidak melihat ke arah Daniel, karena hatinya sedang kacau


“Taruh di situ!” ujar Radian dingin


“Hmm..pak, saya sudah mengecek halaman terakhir, dari dokumen, itu untuk meeting minggu depan, bukan minggu ini” ujar Rita


Radian mengecek halaman terakhir, kemudian ia mengecek dari dokumen aslinya, ia terdiam, jadi sebenarnya ia yang salah tidak membaca tanggal. Tapi ia tidak menyesal sudah memarahi Rita


“Sudah cukup, kamu boleh keluar!” ujarnya dingin


Rita keluar dengan kesal, energinya terkumpul di tangannya, tiba-tiba terdengar bunyi


“Brak-brak-brak!” dari ruangannya


Radian dan Daniel segera menghampiri ruangan Rita


“Rita ada apa sih?” tanya Radian, ia sangat kaget melihat meja kerja Rita retak


“Lalat pak saya sangat tidak suka lalat ujarnya!” ia kembali memukul meja itu hingga patah menjadi dua Radian agak ngeri dibuatnya, ia jadi teringat hardikannya tadi pagi pada Rita. Kemudian ia kembali ke kantornya.


“Niel, apa ada lalat di ruangan ini?” tanyanya pelan, ia mulai merasa takut dengan kemarahan Rita. Kalau ia tajam pada lidahnya, tapi Rita pada tangannya.


“Mungkin juga pak!, nanti saya minta OB untuk mengecek semua ruangan di sini!” ujar Daniel, ia menahan senyum, karena baru kali ini ia melihat bosnya yang dingin menjadi mengkerut melihat Rita marah.


Meja Rita yang terbelah dua, telah diganti yang baru, sengaja Radian menggantinya ketika Rita sudah pulang.


Pada saat meja baru sampai, ia memperhatikan meja yang terbelah dua itu


“Pak, apa kayu meja itu sudah rapuh? “


“Meja ini pak? Ini kayu mahoni pak, masih baru , gak ada rayap kok! Kantor ini selalu membeli dari saya, meja ini tidak mungkin dimakan rayap karena saya selalu melapisinya.”


“Oh..begitu, jadi kenapa bisa patah ya pak?” tanya Radian heran


“Kalau bukan pukulan dengan tenaga besar gak mungkin pak bisa begini, coba saja dipukul pakai balok kayu besar, pasti tidak akan patah seperti ini”


“ooo begitu ya pak, baiklah, terima kasih banyak!” Radian mulai merasa mengerti kekuatan terpendam pada keponakannya.


Tetapi ia sering lupa, ketika ia salah dan menyalahkan Rita atas kesalahannya, biasanya Rita kembali merusak sesuatu, seperti menonjok pintu lemari arsip hingga bolong


“Apa lagi Rita?” tanya Radian


“Nyamuk pak! Saya kesal digigit nyamuk!” ujar Rita lagi, Radian kembali ke kantornya dan meminta tukang mebel memperbaiki lemari di ruangan Rita.


Tak lama kemudian, Radian kembali melakukan kesalahan dan kembali ia menyalahkan Rita, kali ini Rita menendang lemari kecil di mejanya hingga jebol, akhirnya Radian tidak tahan lagi


“Baiklah Rita! Baiklah Aku salah! Om minta maaf!! Om yang salah jadi hentikan merusak barang-barang di kantor ini!” teriaknya mulai stres


“Siapa yang merusak pak?, ada nyamuk mengganggu saya terus dari tadi” Rita mengatakan dengan muka datar, dan tanpa sadar ia membengkokan pulpen besi yang ia pegang, Radian melihatnya, kemudian ia kembali ke ruangannya.


Sejak saat itu Radian lebih hati-hati terhadap Rita, ia juga mulai mengontrol emosinya, para pegawai melihat perubahan sikap Radian yang tidak semena-mena seperti dulu.


“Eh beberapa bulan ini pak Radian jadi agak jinak ya?” salah satu karyawan membicarakannya di kantin


“Iya betul, biasanya kalau marah, ih serem banget!, pernah dengar gak dia dituntut 3 mantan karyawannya karena sudah membuat mereka menderita batin?” ujar temannya lagi


“3 mantan karyawan? Maksud kamu sekretarisnya?”


“Iya betul! 3 sekretaris, menghadap HRD, mereka membawa perserikatan pekerja untuk menuntut pak Radian karena beliau sangat kasar jika marah”


“Lalu apa yang terjadi?”


“Pak Darmawan mendamaikan, ketiga mantan sekretaris tadi dialihkan ke kantor lain, pak Darmawan sangat bijaksana. Walaupun pak Radian keponakannya dia tidak membelanya, tapi ia juga tidak menjatuhkannya, jadi ia lebih memilih 3 mantan sekretarisnya dipindahkan ke cabang lain.”


“OO begitu, jadi sekretaris yang sekarang?”


“Nah tadinya pak Daniel, tetapi karena tugasnya makin banyak jadi pemagang baru itu, siapa namanya ? oh iya Rita! Dia yang jadi sekretarisnya!”


“ Berarti Rita kuat mental ya?”


“Ssssttt...FYI ya, Rita bukan hanya kuat mental tetapi juga kuat tenaganya!, perhatiin gak, kalau pak Radian habis marah-marah sama Rita, eh sorenya pasti tukang mebel datang, mengganti apa saja, mulai meja, kursi, pintu lemari. Saya tanya ke tukang mebel, dia bilang, omsetnya naik, setiap pak Radian stres”


Daniel mendengar desas-desus di kantin tentang Radian dan Rita, ia tersenyum geli. Ia tahu pasti, Rita yang membuat Radian berubah menjadi lebih lembut.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2