Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 118: Reunion


__ADS_3

Pernikahan Charles Lucas yang sempat tertunda, akhirnya diselenggarakan. Para tamu undangan yang terdiri dari kerabat, sahabat dan teman bisnis kedua mempelai turut datang menghadiri pernikahan megah tersebut. Para tamu undangan diberikan tempat di sebuah kastil milik keluarga yang berkapasitas 1000 kamar. Kastil tua itu baru saja dibeli oleh Charles dari seseorang yang berhutang padanya. Renovasi dan restorasi dengan biaya cukup besar, sengaja dikeluarkan Charles Lucas untuk menjadikan kastil tua itu sebagai hotel wisata.


Rita dan Andi tiba 3 hari sebelum acara digelar. Mereka mendapat kamar di lantai yang sama.


“Wuiihhhh!!!” Rita mengagumi kamarnya, yang layaknya kamar putri bangsawan. Terdapat 2 tempat tidur yang saling berhadapan . Ada 2 meja rias, 2 lemari pakaian, kamar mandi yang bergaya klasik tapi sentuhan modern. Setelah merapikan pakaiannya, Rita pergi ke kamar Andi yang terletak 4 kamar dari kamarnya.


“Kak!” Rita langsung masuk ke kamar, ia melihat sekeliling kamar


“Sama seperti kamar aku kak! Ada 2 tempat tidur juga!”


“Payah!, padahal gue mau sendirian!”


“Apa akan ada orang lain di kamar kita kak?” tanya Rita, ia tiduran di ranjang Andi


“Jangan tiduran dulu, kita kan gak tahu siapa yang sebelumnya tidur di situ!” Andi mengeluarkan robot vacuum dari kopernya. Ia meletakkan robot itu di atas ranjang, lalu dengan segera robot bergerak membersihkan ranjang itu. Kira-kira 10 menit, robot vacuum kecil telah menyelesaikan pekerjaannya.


“Ihh lucuuu!” puji Rita


“Mau pakai?” tanya Andi, ia memberikan robot kecil itu ke Rita. Dengan segera ia mengambilnya dan kembali ke kamar untuk membersihkan ranjangnya. Setelah selesai ia kembalikan ke kamar Andi. Betapa terkejutnya ia melihat kamar Andi yang lengkap dengan peralatan elektronik. Ada filter sekaligus pelembab udara, robot vacuum lantai, rantang listrik dan teko listrik.


“Kakak bawa ini semua?”tanya Rita takjub


“iya dong! Kalau nunggu OB merapikan kamar, gue sering gak percaya mereka bakal bersih kerjanya. Filter udara itu penting Rit, kastil ini kan sudah tua, kita gak tau debu yang dihasilkan batu itu bisa merusak pernafasan. Makanya kakak bawa sendiri filter dan vacuum. Lagi pula kalau malam gue suka lapar tiba-tiba, jadi gue bawa rantang listrik ini untuk masak mie, filter air untuk mengubah air apa saja menjadi layak minum” Andi menjelaskan seperti pramuniaga menawarkan barangnya.


“Tapi kan ribet, harus ngecharge sudah begitu karena konsepnya kuno, setiap kamar hanya disediakan 2 colokan listrik"


Andi mengeluarkan colokan listrik paralel dari tasnya.


“Nih!..kakak sudah siapkan untuk charging semua alat ini. Bahkan fast charging, ada 2 baterai, listrik dari sini sama tenaga surya”


“Tenaga surya? Bagaimana mengumpulkannya?”


“Nah, tadi kakak sudah tarus 6 baterai di atas kastil ini, dengan drone. Nanti setelah penuh, dronenya balik lagi kesini, otomatis!”


“Bawa itu semua gak repot kak?”


“Tenang, ini semua masuk ke koper besar itu, dan hebatnya lagi tu koper bisa bergerak sendiri mengikuti pemilik koper!”


Rita takjub dengan semua alat-alat canggih yang di bawa Andi. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu


“Baju kak Andi mana? Kita 2 minggu lho di sini!”


“Gue mau pakai ini!” Andi mengeluarkan kartunya, Rita memegang kartu itu dan menggoncang-goncangkan


“Kartu ini bisa berubah jadi baju?” tanyanya polos, Andi tertawa melihat kelakuan aneh Rita


“Enggak, Oon, maksudnya, gue mau beli baju di sini saja. Gue sudah browsing, pasar murah di sini tadi gue sudah minta pak Simon meminjamkan mobil untuk kita ke sana!”


“Tapi kak, bajunya kan harus dicuci dulu!”


“Nahhh...ini dia!” Andi mengeluarkan alat berbentuk bulat pipih, ia melemparkan ke arah Rita yang menangkapnya dengan sigap


“Apaan nih Kak?”


“Ini pencuci pakaian dengan tenaga sonic, atau suara. Di sini kan ada bath tub, nah tinggal isi air, masukkan baju, masukin alat ini, nanti baju itu bersih dan bebas bau!”


“Yakin kak? Kog bisa?”


“Karena energi suara yang mengenai bahan baju akan mengguncang kuman dan noda yang nempel di baju, jadi deh baju kita bersih lagi!”


“Hmm...” Rita diam saja mendengar penjelasan terakhir Andi. Setelah beberes di kamarnya, Rita dan Andi pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian serta tas koper. Rita turut memilih pakaian cowok serta celana beberapa stel, pakaian dalam serta jubah mandi. Andi terheran dengan belanjaan Rita yang cukup banyak, dan semuanya pakaian cowok.


“Itu untuk Daniel? Wahh..Daniel itu beruntung banget!” Ujar Andi iri, Rita hanya tersenyum saja.


“Kak, aku ada keperluan, kira-kira 1 jam, nanti kita ketemu di sini ya?” Rita meninggalkan Andi yang sibuk mencoba pakaian.


Satu jam kemudian, Rita telah kembali bersama sebuah tas.


“Sudah Rit?”


“Sudah kak, yok kembali ke kastil!” keduanya kembali ke kastil, Andi sudah tidak sabar untuk mencoba alat cuci sonic miliknya. Mereka tiba di kastil pukul 4 sore, di restaurant hotel telah tersedia beberapa camilan minum teh. Rita yang sudah lapar sejak tadi langsung mencari tempat di salah satu restaurant dan memesan makanan, sedangkan Andi kembali ke kamarnya. Cukup lama Rita menunggu Andi kembali ke restaurant, akhirnya ia memutuskan untuk membawa makanan yang ia pesan sebelumnya. Sesampainya di kamar Andi


“Kak! Kak Andi kog gak turun-turun?” tegurnya dari balik pintu. Andi membuka pintu kamarnya, ia memakai jubah mandi milik hotel.

__ADS_1


“Gawat Rit!”


“Gawat kenapa kak?”


“ternyata mencuci dengan sonic tidak semudah yang dibayangkan!” Ia menunjukkan yang terjadi.


“Gara-gara semua baju baru sudah gue masukin ke bath tub dan diisi air, nah semua kan basah tuh. Alatnya sih jalan. Tuh kelihatankan kotorannya?” Andi menunjuk air


“Iya betul!”


“Nah masalahnya, bagaimana membuang air cucian ini, bathtub ini kan kuno, membuang air sisa mandi gimana?” tanya Andi bingung


Rita membungkuk dan membuka penutup lubang bathtub, seketika air kotor dari baju keluar dari lubang itu.


“terus ngeringin bajunya gimana? ini masih basah, gue pakai ini saja?” tanya Andi bingung dan memegang jubah mandinya


Rita keluar dari kamar mandi, Andi mengikutinya.


“Nih buat kakak!” ia menyerahkan tas yang sejak tadi ia bawa-bawa. Andi membuka tas itu


“Ini kan baju yang tadi lo beli, buat Daniel kan?”


“Enggak, buat kakak kog, tadi aku mampir ke laundry koin, lalu mencuci semua baju ini dan mengeringkannya, jadi bisa langsung pakai. Aku juga bawa makanan yang aku pesan di restaurant” Andi kaget dan merasa terharu, sekaligus sebal.


“Lo sudah tahu tentang alat cuci itu ya?” ujarnya kesal, Rita mengangguk senang


“Kog tadi diam saja?”


“Habis , kan gak seru kalau doraemon dikasih tahu kekurangan alatnya,hehehe!” Rita berlari keluar dari kamar Andi, tak sengaja ia menubruk seseorang


“Eh maaf!”


“Rita?”


“Huh?” Rita mendongak, ia terkejut dengan sosok di depannya


“Rendy?”


“Kamu diundang juga?” tanya Rendy, suaranya terdengar senang, Rita mengangguk


“hmm..601” Rendy menunjukkan kunci kamarnya


“Ooo, ayo aku antar!” ujar Rita, ia merasa geli karena Rendy akan menjadi teman sekamar Andi, dan ia tahu kalau Andi sangat tidak menyukai Rendy


“tok..tok..” Rita mengetuk pintu, Andi segera membuka pintu


“Rit!” tiba-tiba ia terdiam, ia melihat sosok seseorang yang sangat ia benci


“Kak, ini teman sekamar kak Andi!” ujar Rita dengan suara riang, kemudian ia pergi meninggalkan mereka berdua yang saling bertatapan layaknya Tom dan Jerry


Rendy langsung memasuki kamarnya


“Hmm...lumayan nyaman, kamu membawa semua alat itu?” tanyanya ia melemparkan tasnya di atas ranjang. Andi melihatnya, kemudian ia berusaha tidak menanggapi keberadaan Rendy


“Kamu tenang saja, aku sudah tidak tertarik dengan Rita!” ujar Rendy tiba-tiba


“Oh, bagus dehh!” Andi menjawabnya sambil terus memainkan ponselnya


“Yah..ternyata Rita tidak seistimewa itu, seleranya hanya sebatas pesuruh! Pengawal itu kan pesuruh!” ujar Rendy lagi


“Hhh!” Andi tersenyum penuh misteri


“Lo gak tahu kan Daniel sudah jadi CEO!” gumamnya dalam hati


Rendy melihat wajah Andi yang tersenyum, tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin tidur, perjalanan dari Dubai ke London, membuatnya jetlag. Tak berapa lama ia pulas tertidur. Ketika bangun, jam menunjukkan pukul 7.30.


“Belum telat untuk makan malam!” gumamnya, ia keluar kamar dan menguncinya, lalu ke ruang makan hotel, di sana ia melihat Rita dan Andi yang masih menyantap makan malamnya. Setelah mengambil jatah makan malamnya, ia duduk di hadapan Rita, karena hanya Rita dan Andi yang ia kenal di situ.


“Aku duduk di sini ya?” tanyanya, Rita mengangguk, karena mulutnya masih terisi omelet dan kentang tumbuk


“Omeletnya enak ya?” tanya Rendy lagi, Rita menjawabnya dengan memberikan jempol. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya, ia membawakan 3 omelet dan 3 jus jeruk, untuknya, Andi dan Rendy


“Ini untuk ku?” tanya Rendy heran, ia cukup terkejut dengan perlakukan Rita kepadanya

__ADS_1


“Cobain, enak deh! Jusnya juga segaaarr, aku sudah 3 kali bolak-balik Ini yang keempat!” ujarnya ia kembali menyantap omeletnya.


“Omeletnya buat kamu saja, aku alergi telur!” ujar Rendy


“Ooo, maaf aku gak tahu, aku kira kamu nanya tentang omelet, karena kamu suka omelet juga!”


“Enggak, sejak kecil aku alergi sama makanan yang ada unsur telurnya, telur ayam maksudku.Kalau aku makan makanan yang mengandung unsur telur, aku pasti langsung alergi!” cerita Rendy


“Ooo begitu!” Rita prihatin, baru kali ini ia mendengar ada orang yang alergi hidangan dari telur, pasti ia sangat sulit mencari makanan tanpa unsur telur, batinnya


“Gak usah khawatir, hanya telur saja yang harus aku hindari, yang lain-lain aman!” tambahnya


“Eh Rendy, aku turut prihatin tentang kakekmu, maaf aku tahunya terlambat!”


Rendy terkesima, sejak kakeknya meninggal, tidak ada orang yang mengingat atau bahkan mengucapkan belasungkawa padanya.


“Yah, itu memang mendadak, tapi kakek-kakek mu pada datang semuanya!”


“Iya, Aku tidak datang karena bersamaan dengan ujian masuk ke sekolah baru, aku sempat tinggal di asrama sekolah itu selama beberapa minggu!”


“yah, kakekmu juga sudah menjelaskan semuanya, eh ngomong-ngomong pangeran mana?” tanya Rendy


“Pangeran? Siapa Pak Charles? Aku pikir ia sedang dipingit, dari kemarin kami gak bertemu dengannya!”


“Maksudku Daniel!” ujar Rendy


“Oh dia akan datang besok, masih banyak yang harus ia kerjakan di kantor!” jawab Rita


“Kantor? Apa yang pengawal kerjakan di kantor?” ujarnya sinis,


“Daniel sekarang CEO perusahaan cabang Auckland, dia bukan lagi pengawal.”ujar Andi tiba-tiba , ia bermaksud membanggakan Daniel


“Huh! Sudah ketahuan belangnya kan?”


“Maksudmu?” tanya Rita


“Ia mendekatimu untuk mendapat posisi itu, wah hebat dia dapat jack pot! Dekat dengan cucu pemilik langsung diangkat jadi CEO!” ujar Rendy lagi sinis


“Daniel sudah lama tidak menjadi pengawal, ia sudah menjadi asisten pribadi pak Radian, pendidikannya juga tinggi. Selama ia menjadi asisten ia sekolah lagi di bidang bisnis manajemen. Pak Radian telah mempersiapkannya untuk menggantikan dirinya di perusahaan itu!” ujar Andi


“Ah, gak mungkin!, itu karangan kamu saja untuk melindungi dia, beruntung sekali Daniel mendapatkan kasih sayang dua orang cucu pemilik perusahaan.”


Tiba-tiba Rita menarik kerah baju Rendy


“Kamu menyebalkan sekali, kalau Aku pukul bagaimana? Aku pikir kita bisa berteman baik, tetapi kata-katamu melukai, syukurlah Daniel tidak di sini, kalau ia sampai tersinggung karena ucapanmu, aku gak akan berteman lagi dengan mu!” Rita pergi meninggalkan Rendy sendirian,


“Sebaiknya kamu minta maaf, atau dia tidak akan bicara padamu lagi selamanya!” ujar Andi, ia mengikuti Rita keluar dari ruang makan hotel.


Tiba-tiba Rendy berteriak seperti orang gila


“Aku kesal Rita, kamu lebih memilih pengawal itu dari pada aku!, Aku lebih kaya, lebih tampan dan lebih segalanya dari dia!, Kamu gak bakal bisa bersatu karena kalian berbeda!!!” teriak Rendy, orang-orang melihat dan saling berbisik. Setelah kejadian di ruang makan, Andi menemui Simon, ia meminta Simon memindahkan kamarnya, ia tidak mau sekamar dengan Rendy. Sayang sekali, semua kamar telah penuh terisi, tetapi ada beberapa kamar telah dipesan, tetapi orangnya belum tiba. Andi berinisiatif mengambil kamar itu. Akhirnya Andi pindah ke kamar 710, satu lantai lebih tinggi dari kamar sebelumnya. Ia meminta OB membantunya membereskan kamarnya untuk pindah. Rendy yang kembali ke kamarnya heran


“Kamu mau kemana?” tanyanya heran


“Aku mau pindah kamar, di sini panas!” ujarnya, lalu ia pergi meninggalkan Rendy yang sendirian di kamar itu.


“Terserah!” ujar Rendy kesal, ia tidak mau menyembunyikan kekesalannya pada Rita dan Andi.


Keesokan harinya, ia terkejut mendapatkan teman sekamar baru.


“Daniel? Ngapain kamu di sini?” tanyanya heran, ia masih setengah terbangun, tadi malam ia menghabiskan waktu di bar restaurant untuk minum, pagi harinya ia merasa pusing


“Ini kamar ku!” jawab Daniel, ia menjatuhkan diri ke ranjangnya


“Wah ranjang ini bersih sekali!” Daniel mengambil bantal dari kepalanya dan meletakan di wajahnya


“Bantalnya wangi lagi!” ujarnya senang. Kemudian ia melepaskan sepatunya lalu berbaring. Rendy kembali ke ranjangnya, ia kesal saingan cintanya justru sekamar dengannya. Kekesalannya semakin membuncah ketika ia mendengar Daniel menelpon Rita dengan suara manja. Ia menutupi telinganya dengan bantal. Karena tidak tahan lagi mendengar ocehan Daniel di telepon, Rendy segera menemui manajer hotel, ia minta pindah kamar.


“Kalau kamar di lantai ini sudah penuh pak, tapi ada kamar di lantai 9, tepatnya kamar nomor 900”


“Kamar itu kosong, tapi bersih kan?” tanya Rendy memburu


“Iya pak, baru saja penghuni kamar sebelumnya check out, ia tidak mau di kamar itu, lalu ia pindah ke hotel lain!”

__ADS_1


“Gak masalah, aku ambil kamar itu saja!” Rendy tidak mendengarkan penjelasan resepsionis, segera ia kembali ke kamarnya dan membereskan barang-barangnya, lalu pindah ke kamar 900.


_Bersambung_


__ADS_2