Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 232: Kisah Cinta..Rita ngambek


__ADS_3

Selesai rapat bu Sharon dikerubuti oleh beberapa orang yang simpati padanya, hanya Radian dan Daniel yang segera meninggalkan ruangan rapat.


“Orang itu terlalu berlebihan!” gumam Radian


“Ya Pak?” Daniel menghampiri Radian yang mengoceh sendiri.


“Kita makan di kantin Niel!”ajak Radian, sambil masuk ke dalam lift, Daniel mengikutinya dari belakang.


Makan siang telah tiba, kantin tampak ramai, Rita makan bersama teman barunya Ellie sementara Daniel makan dengan tenang bersama Radian, ia merasa aman karena tidak ada satu pun staf wanita yang berani mengerubunginya ketika ia bersama Radian.


Di tempat lain, Emily dan Maya mendekati bu Sharon yang sedang makan sendirian.


“Selamat siang bu Sharon!” sapa Emily dan Maya ramah


“Siang!”


“Kami boleh duduk di sini bu?” tanya Emily


“Silakan saja, kantin ini bukan punya ku” ujar Sharon agak tak acuh, ia merasa gengsi didekati staf yang pangkatnya lebih rendah darinya.


Emily mulai menjalankan rencananya.


“May!”


“Ya kak?”


“Hari ini pak Daniel masuk kantor?” tanyanya


“Kayaknya ada, kenapa kak?” tanya Maya


“Enggak, tadi Andrew nyariin di ruangannya, katanya Daniel sering diberi tugas luar oleh bos”


“Mungkin pak Daniel akan diangkat jadi wakilnya pak Radian?” ujar Maya


“Masa? Mana bisa? Dari asisten menjadi wakil direktur?” ujar Emily lagi


“Bisa saja, kalau bos besar yang mengangkatnya” ujar Maya lagi


“Iya sih, kalau bisa begitu tambah populer saja pak Daniel, sudahlah tampan, eh jadi wakil direktur. Cewek mana yang gak bakal naksir tuh?” ujar Emily, Sharon mendengarkan dengan seksama


“Btw tentang cewek yang naksir pak Daniel, memang banyak sih, tapi ada seorang yang agresif. Kemarin pak Daniel sampai makan kentang dari piringnya” ujar Maya dengan suara pelan, Sharon mendekatkan dirinya ke Emily yang ada di sampingnya.


“Oh, pemagang baru itu ya?” ujar Emily, ia merasa pancingannya berhasil, karena Sharon semakin dekat dengan dirinya


“Eh maaf!” ujar Sharon


“Gak apa-apa bu!” Emily sedikit bergeser menjauhi Sharon


“Kata Ellie, pemagang itu keponakannya pak Jake, makanya walau masih sekolah bisa jadi asistennya pak Radian” ujar Maya


Sharon tidak suka dengan pak Jake, mereka pernah bermasalah karena perekrutan anak buah, ia meremas gelas kertas hingga mengecil.


“Hey! Apa yang kamu tahu tentang pemagang keponakan Jake yang mendekati Daniel ku?” ujar Sharon tiba-tiba, ia sudah tidak sabar lagi mendengar informasi langsung.


“Eh bu Sharon” Maya tampak ketakutan, karena wajah Sharon kelihatan begitu besar.


“Itu bu, pemagang baru dia ditugaskan jadi asistennya pak Radian, kemarin eh sudah beberapa hari deh akrab dengan Daniel”


“Apa Daniel suka padanya?” tanya Sharon menyelidik sambil mendekatkan wajahnya ke Emily


“Enggak bu, anak itu yang agresif mendekatinya, bahkan ia mencari pak Daniel sampai ke lantai 35 padahal pak Daniel sedang tugas luar” ujar Emily lagi.


“Hmm....begitu ya? apa pemagang itu ada di sini?” tanyanya


“Kayaknya ada bu” Maya dengan semangat, ia mencari di tengah kerumunan.


“Itu bu, yang duduk di depan counter air” Maya menunjuk Rita yang tengah asyik ngobrol dengan Ellie, karena Sharon tidak memakai kacamatanya, ia tidak mengenali Rita.


“Itu orangnya!” Sharon langsung bangkit dan membawa nampannya yang telah kosong, ia berjalan menghampiri Rita dan hendak menumbuknya. Tapi rencananya gagal, karena Rita bangkit lebih dulu sambil membawa nampan kosong. Akhirnya mereka tabrakan.


“Pranggg!!” bunyi nampan yang saling beradu


“Aduuhh...maaf...saya gak lihat!” ujar Rita, ia mengambil nampan milik Sharon. Ia juga membereskan bungkus-bungkus yang jatuh dari nampan Sharon


“Biar saya saja yang bersihkan bu!” ujar Rita, tanpa sengaja mata mereka saling bertatapan


“Eh, kamu!” Sharon mengenali Rita, lalu ia menepuk-nepuk punggung Rita kegirangan


“kamu!...kamu!!” teriaknya senang, ia mencari seseorang. Ia melihat Radian yang sedang asyik ngobrol dengan Daniel. Sharon mengambil nampan dari Rita meletakannya di meja, lalu menariknya menghampiri Radian.


“Pak Radian! Ini pahlawan yang tadi saya ceritakan!” ujarnya senang


“EH?” Rita tampak ingin kabur dari situ tapi Sharon menahannya


“Pahlawan?” Radian bingung, ia sudah melupakan cerita Sharon tadi


“Iya, tadi dia yang menangkap copet, dia pinjam sepeda dari tukang majalah lalu ia mengejar copet itu. Wah kamu benar-benar pahlawan bagi perusahaan ini!” ujar Sharon tanpa henti memuji


“Eh enggak bu!” Rita merasa gak enak hati, karena wajah Radian kelihatan tidak suka.


“Kalau gak ada kamu, entah deh bagaimana saya mempertanggungjawabkan pekerjaan saya!..terima kasih ya? oh ya nama mu siapa?” Sharon melihat name tag yang menggantung di leher Rita


“Oh Rita ya? kamu anak buahnya pak Radian? Pantas terampil dan tak-tis!” puji Sharon


“Eh enggak bu, saya cuma kebetulan berada di situ” ujar Rita , ia berusaha melepaskan diri dari pegangan Sharon yang kuat


“Pak Radian, anak ini sudah berjasa bagi saya dan perusahaan ini, bagaimana kalau kita memberikan hadiah padanya?” ujar bu Sharon, suaranya yang besar membuat orang-orang sekelilingnya memperhatikan. Radian merasa seperti dipaksa, tetapi perhatian orang tertuju padanya.


“Hm..hadiah ya? saya serahkan sepenuhnya kepada bu Sharon. Saya akan menyetujui apa pun!” ujar Radian


“Apa pun pak?” Sharon tampak senang

__ADS_1


“Iya apa pun!”


“Kalau begitu saya ingin Rita menjadi pemagang di tempat saya!” ujar Sharon, ia merangkul Rita dengan semangat


“Eh?” Radian kebingungan, Daniel ikut berbicara


“Apa bu Sharon butuh asisten?” tanya Daniel tiba-tiba. Sharon sangat senang, baru kali ini ia diajak berbicara oleh Daniel


“Iya pak Daniel, saya sangat butuh asisten, kelihatannya Rita ini memenuhi syarat. Saya sangat terbantu olehnya, boleh ya pak Radian? Soal gaji? Nanti saya kasih bonus yang banyak untuk Rita!” ujar Sharon lagi


“Ehhmm...baiklah!” Radian tidak enak hati menolak permintaan Sharon.


“Mulai siang ini ya Pak? Kelihatannya Anda tidak membutuhkannya, karena sudah ada pak Daniel!” ujar Sharon tersenyum


“Baiklah bu, atur saja!” ujar Radian.


“Rita, aku di lantai 26 bagian pemasaran, kamu segera ya datang ya?” ujar Sharon di depan Radian, Rita melihat ke arah Radian yang diam saja, akhirnya ia menyetujui.


“Baik bu!” ujar Rita, ia segera meninggalkan kantin untuk mengambil barang-barangnya di ruangannya dulu.


“Eh Rita!” panggil Daniel, ia berusaha mencegahnya. Tapi ia dihalangi Sharon.


“Jangan egois begitu pak Daniel! biarkan Rita bersama saya, toh pak Radian tidak membutuhkannya, saya dengar tadi dia dibiarkan melamun di ruangannya tanpa melakukan apapun. Kan kasihan, padahal dia di sini untuk tugas sekolahnya” ujar Sharon lalu pergi meninggalkan Daniel yang kebingungan.


“Pak, itu Rita tidak apa-apa?” tanyanya panik


“Untuk sementara saja Niel, ini juga memberi pelajaran buat Rita supaya dia gak sok jadi pahlawan lagi!” ujar Radian, sebenarnya ia merasa cemas pak Darmawan marah karena cucunya dipekerjakan oleh pihak lain.


Rita mengambil barang-barang di ruangannya, ia mencari airpodsnya


“Di mana ya?” matanya melihat ke arah jam, wah sebentar lagi Omnya akan datang, ia bergegas keluar dari ruangannya, ia takut akan dimarahi lagi oleh Omnya.


Ternyata Daniel yang lebih dulu sampai di ruangan, ia mencari Rita tapi tidak bertemu. Rita sengaja melewati tangga darurat dan naik lift melalui lantai selanjutnya. Daniel menemukan Airpods Rita yang jatuh di lantai dekat meja agaknya Rita tidak melihatnya. Ia mengantonginya wajahnya kelihatan sangat kecewa.


Rita telah berada di lantai 26.


“Ah Rita, mari sini Nak!” Sharon dengan ramah mengajaknya masuk ke ruangan. Dengan gayanya yang ramah sehingga orang yang ia ajak bicara tidak sadar kalau ia sedang diinterogasi.


“Terima kasih banyak ya Rita, tadi saya benar-benar terbantu lho!”


“Sama-sama bu!” Rita tampak senang akhirnya usahanya dihargai seseorang.


“Kamu sudah berapa lama magang di sini?”


“Masuk minggu ketiga bu!”


“Rencananya berapa lama?”


“Sampai tugas laporan saya selesai bu”


“Oh begitu, tugasnya tentang apa ya?”


“Tentang kinerja perusahaan bu, struktur organisasi, cara kerja”


“hmm...saya mengurus jadwal beliau bu, dari situ bisa disimpulkan bahwa kinerja atasan berbanding lurus dengan kemajuan perusahaan” Rita mengarang bebas


“Begitu ya? kalau di tempat saya, mau saya ajarkan cara memasarkan?” ujar Sharon


“Cara memasarkan?”


“Iya, itu keahlian saya, bahkan saya mengalahkan orang tamat S3 di bidang pemasaran!”


“Begitu bu? Baik bu, terima kasih!” ujar Rita, sebenarnya ia tidak begitu tertarik tapi ia ingin memberikan pelajaran pada pamannya yang tadi memarahinya habis-habisan tanpa mendengarkan penjelasannya dulu.


“Baiklah Rita, tapi besok saya ada tugas luar. Kita baru bisa bertemu dua hari lagi dari sekarang, gak apa-apa ya?” tanya Sharon


“Iya bu, jadi besok saya bagaimana?”


“Untuk sementara kamu kembali ke pak Radian dulu, besoknya baru ke tempat saya”


“Eh?” Rita tampak keberatan


“Kenapa? Kelihatannya kamu ingin segera pergi dari situ ya?” ujar Sharon melihat wajah Rita


“Eh, enggak bu!”


“Pak Radian memang dingin, ganteng tapi dingin gak heran masih sendirian. Walaupun saya juga,..he..he..he..oh iya Rita, apa betul kamu mendekati pak Daniel?”


“Eh Saya? Mana berani bu? Saya kan pemagang baru, pak Daniel hanya ditugasi untuk mengajari saya”


“Oh ya? tapi ada yang bilang, pak Daniel sampai makan dari piring mu?” tanyanya menyelidik


“Ohh itu, waktu itu penyakit lambungnya kambuh, sementara ia harus ke tempat klien. Beliau bilang lambungnya harus segera diisi. Sebenarnya saya menawarkan untuk mengambilkan, tapi ia menolak karena tidak sempat!”


“oh begitu, jadi kamu tidak ada hubungan atau perasaan apa-apa sama dia?” tanyanya lagi


“Enggak ada bu! Sungguh!” ujar Rita, ia mengatakan walau hatinya sedih. Sebelumnya ia mendengar percakapan antara Radian dan Daniel melalui airpodnya yang dikantongi Daniel.


“Pak, Rita tidak apa-apa bersama bu Sharon?” tanya Daniel


“Biarin dulu saja Niel, kamu kan sudah aku suruh untuk mendidiknya, kenapa dia masih begitu?” ujar Radian


“Karena waktunya masih sempit pak, saya tidak menyangka kejadian yang menimpa bu Sharon”


“Memang! Oh iya, bisa kamu cari laporan tentang pencopet yang ditangkap Rita? Apa dia betul pencopet apa orang yang dibayar untuk mencuri berkas perusahaan?”


“Iya pak, ini dia!” Daniel segera memberikan catatan kepolisian tentang penangkapan pagi itu.


“Kok sudah ada? Cepat sekali?” Radian membuka salinan catatan kepolisian dari Daniel


“Sebenarnya ketika bu Sharon bercerita tentang penyelamatnya di rapat tadi, saya sudah curiga kalau penyelamat itu Rita pak!”

__ADS_1


“Oh ya? bagaimana kamu bisa menebak dengan tepat?”


“Karena dia bilang dia meminjam sepeda, tapi ia sendiri tidak bersepeda ke kantor. Jadi ia menggunakan untuk menangkap pencopet itu”


“Hmm...bisa jadi,.polisi belum mendalami ya? kamu kawal terus kasusnya Niel. Kalau bisa kamu dekati Rita supaya bisa kembali kesini.”


“Kenapa gak pak Radian saya yang memintanya langsung?”


“Masalahnya ada di bu Sharon, aku gak tahan mendengar suaranya yang melengking dan berkesan memaksa. Maksudku kalau Rita yang minta sendiri untuk kembali kesini pasti bu Sharon akan melepaskannya”


“Apa Rita mau mendengarkan saya pak?”


“Sebelumnya kalian akrab kan?”


“Iya sih?” Daniel agak sangsi mereka akan dekat lagi mengingat tadi ia sempat menjauhinya


“Kenapa, kok kamu ragu?”


“Tadi waktu pak Radian marah, sebenarnya saya juga ikut marah padanya. Yang dilakukannya itu beresiko melukai dirinya dan orang lain”


“Iya betul! Itu maksud ku! Tadi aku juga bilang begitu kan?”


“Iya pak!”


“Niel, jangan-jangan kamu punya perasaan khusus padanya ya?” tanya Radian


“Saya pak?”


“Gak apa-apa jujur saja, anak perempuan itu cepat besar Niel!”


“Jujur pak, saya tidak memiliki perasaan khusus padanya, setidaknya belum. Kalaupun selama ini kami dekat, itu karena saya kenal baik dengan kakek dan kakaknya”


“Begitu ya? baiklah Niel! Kamu boleh kembali ke ruangan mu, saya mau membaca laporan ini”


“Baik pak!” Daniel meninggalkan ruangan Radian. Percakapannya terekam di ponsel Rita.


Rita pulang ke rumah dengan perasaan sedih, ia merasakan hatinya hancur berkeping-keping seperti yang diceritakan Andi tentang seseorang yang menaksir Daniel. Ia masuk kamar dan mendengar pengakuan Daniel, Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menulis di diarynya.


“Begini rasanya patah hati. Aku gak pernah patah hati. Akhirnya aku rasakan juga. Aku harus bagaimana. Sakit sekali, ingin kurobek hatiku tapi ini hati bukan kertas.” Tulisnya


Ia menangis sampai terlelap, ia bangun pukul sebelas malam. Ia melihat makan malam disediakan di kamarnya. Dengan malas ia menyantap makan malam yang berupa salad buah serta roti isi daging cincang. Rita mengingat roti sandwich yang disantapnya bersama Daniel, kemudian ia menangis lagi.


“Gue benci sandwich!” ujarnya sambil menangis tapi terus memakan sandwichnya.


Keesokan paginya ia bertekad tidak pergi ke kantor, ia menunggu mall buka untuk bermain di arena permainan. Hatinya kacau, ia merasa kesal pada Daniel yang mempermainkan perasaannya dengan bersikap berpura-pura ramah padanya. Selama ia bermain, ia memikirkan cara untuk menghindar dari Daniel. Ia mencoba untuk membujuk kakeknya agar dilepaskan dari hukuman tapi sepertinya gagal. Akhirnya ia memutuskan untuk menggunakan Sharon agar bisa jauh dari Daniel. Itu sebabnya hari itu Rita tidak datang ke kantor, ia memutuskan datang esok harinya agar bisa bekerja langsung bersama Sharon.


Daniel menunggunya di kantor, sengaja ia datang ke lantai 26 untuk mencari Rita.


“Eh pak Daniel, ada apa nih tumben kemari?” tanya resepsionis genit yang juga pemuja Daniel


“Ehem, apa Rita sudah datang?” tanyanya, ia berusaha menahan rasa malunya


“Rita? Siapa itu?” resepsionis itu bertanya pada temannya


“Dia pemagang baru yang direkrut bu Sharon kemarin” ujar Daniel lagi


“Sebentar ya pak Daniel, silakan duduk dulu” kedua resepsionis tersipu-sipu, mereka senang akhirnya bisa melihat wajah Daniel dari dekat.


Mereka menelpon asisten Sharon, setelah menanyakan tentang Rita mereka pun memberitahu Daniel


“Pak Daniel!”


“Saya?”


“Bu Sharon hari ini tugas luar, dia sudah berpesan pada pemagang baru agar datang besok”


“Oh begitu, jadi hari ini dia tidak datang?”


“Kalau menurut bu Sharon seharusnya ia masih bertugas di tempat pak Radian”


“Oh begitu, baiklah terima kasih!” ujar Daniel, ia meninggalkan lantai 26 dengan kecewa.


“Bagaimana Rita, Niel?” tanya Radian


“Seharusnya hari ini dia masih bertugas di sini pak karena bu Sharon bilang baru besok ia ada di tempat” ujar Daniel dengan nada kecewa


“Begitu rupanya, tadi aku menelpon Om Darmawan dan Andi untuk mencarinya”


“Oh ya? dia ada di mana pak?”


“Sedang bermain di Playzone, Andi yang menjemputnya, ia bilang Rita sedang sakit. Anak itu benar-benar deh!” Radian menggeleng-geleng


“Andi atau Rita pak?” tanya Daniel


“Keduanya!, Andi membela Rita sampai berbohong ke dokter”


“Kok bisa tahu Andi bohong?”


“Supirnya yang bilang ke Om!”


“Oh begitu” Daniel tersenyum,


“Sudah biarkan saja. Kita turuti kemauan Rita, kita lihat berapa lama ia bertahan di bawah tekanan Sharon si ular berbisa” ujar Radian


“eh?”


“Kenapa? Aku tahu julukannya si Sharon, dulu lawannya itu dekat dengan ku, ia begitu licik dengan kata-kata manis akhirnya ia menjegal dirinya, sekarang ia jadi CEO penjualan, sedangkan lawannya terpaksa keluar karena tidak tahan dengan kelicikannya”


“Apa pak Radian gak keberatan Rita belajar dari orang licik?” tanya Daniel


“Kan untuk sementara saja Niel, nanti kalau kelihatan dia kewalahan baru deh kita tarik lagi” ujar Radian

__ADS_1


Daniel mengangguk, sebenarnya ia kurang setuju tapi semua tergantung Rita.


-bersambung_


__ADS_2