Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 127: Amnesia


__ADS_3

Rita memasuki rumah dengan wajah cemberut, seperti biasa Lee menyambutnya di depan pintu


“Apa semua baik-baik saja mba Rita?” tanya Lee dengan suara cemas


Rita tidak menjawab, ia hanya mengangguk lemas, berjalan gontai menuju ruang tengah. Ia merebahkan dirinya di sofa besar di ruang tengah, Lee mengikutinya dari belakang.


“Lee, bisa tolong siapkan ruang sauna? Aku mau mandi uap!”


“tentu Mba, apa perlu terapisnya?”


“Hmm...bisa minta mereka 1 eh 2 jam lagi? Aku mau olahraga di gym!” Rita mengambil scooter mini, dan menaikinya menuju gym. Ia menghabiskan waktunya di sana, ia mengenakan sarung tangan tinjunya, kemudian menumpahkan kekesalannya dengan memukul punching bag. Tak lama ia menelpon seseorang untuk datang. Setengah jam kemudian pelatih kick boxingnya datang menemaninya latihan.


“Apa ada masalah?” tanya Mary sang pelatih, Rita diam saja, ia mulai memukuli mulai memukuli punching bag, kemudian menendang. Tendangannya membuat Mary terpental


“Ups maaf!” Rita membantunya berdiri, Mary mengangkat tangannya untuk berdiri.


“Mungkin kamu harus latihan mengendalikan emosi, saya tahu kekuatanmu besar, tetapi kalau tidak dikendalikan akan merugikan diri sendiri” ujar Mary menasehati


“Hmmm...baiklah, bagaimana melakukannya?”


“Aku akan mengajarimu gerakan baru, itu bisa membantumu mengurangi kekuatan pukulan”


Rita mengangguk, ia mulai berlatih gerakan baru. Ia begitu tekun, hingga 1 jam berlalu.


“Latihan kita selesai hari ini!, Minggu depan mulai berlatih di sini?” tanya Mary


“Nanti aku hubungi, untuk pertemuan hari ini, aku transfer ya Mary?”


“Baiklah, terima kasih!”


“Aku yang berterima kasih karena sudah ditemani latihan”


Mary tersenyum, ia berniat berganti pakaian, kemudian ia kembali


“Rita, siapapun yang membuatmu kesal, dia pasti akan menyesal! Kamu orang baik!” ujar Mary sambil berlalu


Rita tertegun mendengar kata-kata Mary, kemudian ia pergi ke ruang sauna. Ia diam di sana selama 15 menit, lalu Ida datang menjemputnya untuk perawatan tubuh. Setelah semua ia lakukan, Rita kembali ke kamarnya.


“Ida, aku bisa sendiri ke kamarku, aku pinjam scooter yaa?” Rita membawa scooter Ida dan menuju kamarnya, pikirannya masih memikirkan tentang Daniel. Baru kali ini dalam hidupnya seorang pria membuatnya gila. Ia melewati kamar Andi.


“Eh Kak Andi sudah pulang?”, ia pun mengetuk pintu kamar Andi


“Kak Andi?” ia membuka pintu kamar, ternyata ia memergoki seorang lelaki se


dang mengacak-ngacak kamar Andi


“Hei kamu siapa?” tanya Rita, Lelaki itu panik, ia berlari menuju jendela kamar Andi, dengan cepat Rita menarik baju orang itu, tetapi orang itu meronta dan mendorong Rita dengan sekuat tenaga, hingga Rita terdorong dan kepalanya terantuk tiang tembok di teras kamar Andi. Rita terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Beberapa jam kemudian Andi tiba di kamarnya, ia heran melihat scooter di depan kamarnya, ketika masuk ia makin heran dengan kamarnya yang acak-acakan, di tambah lagi kondisi Rita yang tidak sadarkan diri di teras kamarnya. Ia langsung berlari menghampiri lalu berusaha membangunkan dengan menguncang tubuh Rita


“Rita bangun!!!” panggilnya, tetapi Rita tidak memberi respon, Andi segera memanggil Lee dan ambulan. Rita segera di bawa ke rumah sakit.


Andi menghubungi mama dan kakeknya. Tak berapa lama mama dan kakeknya telah berada di rumah sakit


“Bagaimana kejadiannya Andi?” tanya mama Ratna bingung


“Andi juga gak tahu Ma, ketika tiba Rita sudah pingsan di kamar Andi”


“Bagaimana dengan CCTV keamanan? Apa mereka menemukan sesuatu?” tanya Kakek Darmawan


“Andi belum tahu Kek, fokus Andi hanya Rita” Suara Andi masih bergetar


“Kamu shock ya?” tanya kakeknya, ia memberikan minum kepada Andi.


Tak lama dokter datang menghampiri mereka


“Pasien mengalami gegar otak karena benturan, kami belum tahu dampak lanjutannya, karena pasien belum merespon”


“Dokter, apa kondisi anak saya baik-baik saja?” tanya Ratna cemas


“tanda vital lainnya seperti jantung, paru-paru tampak baik, hanya otaknya belum merespon rangsangan yang kami berikan. Kita tunggu pasien sadar”


“Apa ini yang disebut koma dokter?” tanya Ratna mulai menangis


“Terlalu dini untuk itu bu, kami masih mengevaluasi hasil scanning kepala dan syaraf otak”


“Rita anakku!” Ratna mulai menangis, Andi memeluknya, ia turut menangis.


Sudah seminggu Rita tidak sadarkan diri, rumor menyebar di sekolah tentang Rita yang koma. Keluarga memutuskan membawa Rita pulang untuk dirawat di rumah. Setiap hari Daniel datang menjenguknya, timbul rasa sesal di hatinya, terakhir ia berkomunikasi dengan Rita, ia sangat marah padanya, padahal bukan Rita yang membuatnya kesal.

__ADS_1


Rekaman CCTV tentang orang yang masuk ke kamar Andi sedang diselidiki polisi, Daniel membuat salinan rekaman CCTV terakhir Rita masuk ke kamar Andi. Berulang-ulang ia melihat rekaman itu, mencari tahu yang terlewat dari penyelidikannya.


“Andi, apakah ada yang hilang dari kamar mu?” tanya Daniel


“Aku rasa tidak ada, semua alat elektronik seperti laptop, tablet atau bahkan barang koleksiku semua masih aman, aku juga bingung apa yang dicari orang itu?”


“Apa kamu mengerjakan sesuatu yang hebat? Atau bersifat rahasia?”


“ hmm...akhir-akhir ini aku sibuk dengan ujian tengah semester kuliahku, jadi semua pekerjaan selain kuliah aku sisihkan!”


“Hmm..apa mungkin orang itu salah kamar?” gumam Daniel


“Salah kamar maksudmu?” tanya Andi heran


“Yeah, mungkin orang itu mengira kamarmu itu kamarnya Rita atau kamar kakekmu!”


“Hmm..mungkin kamu harus tanya kakek langsung”


“Baiklah aku akan menemui kakekmu!” Daniel hendak pergi menemui Darmawan, Andi mengatakan sesuatu padanya


“Daniel, aku bukannya mau turut campur dengan hubungan kalian, tetapi asal kamu tahu, perasaan Rita ke kamu itu tulus. Aku belum pernah melihatnya seperti itu, bahkan ketika ia bersama Tommy. Aku tahu, berhubungan dengannya merupakan beban bagimu, tetapi jika kamu hendak memutuskannya sekarang karena ketidaksiapan hatimu dengan kondisi Rita saat ini dan selanjutnya, sebaiknya kamu putuskan sekarang. Kamu gak usah lagi mengurusinya, biar kami saja yang merawatnya!” Andi mengatakan dengan suara bergetar, ia tahu rumor cinderlela Man di kantor, untuk itu ia menegaskan hal tersebut.


Daniel mengangguk, keinginannya untuk bertemu dengan Darmawan ia urungkan. Ia memikirkan kata-kata Andi yang tegas dan berkesan ultimatum. Ia pun pergi meninggalkan rumah itu dengan langkah gontai. Ia kembali ke apartmentnya.


“Hubunganku dengan Rita???” gumamnya . Ia merebahkan dirinya di ranjang dengan pakaian kerja lengkap.


“Aku lelah sekali!” gumamnya, ia pun terlelap. Dalam mimpinya ia bertemu dengan Rita. Di dalam mimpi ia melihat Rita sedang mengobrol akrab dengan seorang lelaki tampan, Daniel seperti mengenal lelaki itu. Ia menghampiri Rita dan lelaki itu.


“Rita?” tegurnya, ingin ia memeluk Rita, tetapi ia ingat kata-kata Andi, jadi ia hanya mendekatinya saja


“Daniel? Kenalkan ini Kak Tommy!” ujar Rita tersenyum manis


“Tommy?” Daniel mengenalnya,ia menjabat tangan Tommy


Tommy menyambutnya dengan senyum sumringah


“Sudah lama aku gak ngobrol seperti ini dengan kak Tommy” ujar Rita tersenyum. Tommy juga membalas senyumannya. Obrolan mereka semakin intens, seolah keberadaan Daniel tidak dihiraukan


“Rita!..Rita!” panggil Daniel dalam mimpinya, tetapi Rita tetap terpaku bersama Tommy. Daniel pun terbangun dari mimpinya. Ia menghapus keringat dari dahinya, ia membuka pesan dari ponselnya yang bergetar


“Rita sudah sadar!” rupanya Andi mengabarkan, dengan segera Daniel mengambil kunci mobil, malam itu juga ia kembali ke rumah besar. Ia tidak sabar bertemu dengan Rita, dadanya berdebar kencang. Ini kali kedua ia merasakan hal tersebut, sebelumnya ketika ia pertama kali bertengkar dengan Rita. Sesampainya di sana, ia melihat Rita sedang diperiksa dokter. Andi, Ratna dan Darmawan juga ada di situ.


“Bagaimana dokter?” tanya Daniel memotong ucapan Darmawan. Nada khawatir terpancar dari ucapannya


“Kamu ingat ada di mana?” tanya dokter


“hmm??? Rumah?” Rita melihat sekeliling kamarnya.


“Lo ingat siapa yang mendorong sampai jatuh?” tanya Andi tiba-tiba, ia tidak sabar


“Mendorong? Apa aku jatuh? “


“Lo ditemukan pingsan di kamar gue!” jawab Andi, Rita masih bingung


“Memangnya kamu siapa? Dari tadi ngomong Lo gue? Itu gak sopan kan?” ujar Rita lagi


Semua kaget, jangan-jangan Amnesia, pikir mereka


“Rita kamu ingat aku siapa?” tanya Ratna panik


“Hmm...siapa?”


“Kalau beliau?” tanya Andi menunjuk kakeknya


“Hmm...kakek?”


“Kamu ingat kakek Rita!” Darmawan tampak senang


“Ya pastilah karena Anda yang paling tua di sini kan, jadi pasti kakek!” jawab Rita


Senyum di wajah kakek Darmawan tiba-tiba lenyap


“Kalau ini kamu ingat?” tanya Andi, ia memegang pundak Daniel


“an-nyeong-ha-se-yo! Ujar Rita , ia menganggukan kepalanya dengan hormat, Daniel reflek membalasnya


“Apa akan ada konser K-Pop di sini?” tanya Rita heran, ia pikir Daniel adalah artis Korea yang akan konser.


Semua yang berada di kamar juga merasa heran, akhirnya mereka meninggalkan Rita di kamarnya

__ADS_1


“Bagaimana ini dokter? Apa dia amnesia?” tanya Ratna sedih


“Mungkin benturan di otaknya membuat ia amnesia” jawab dokter


“Jadi bagaimana dokter, apa ingatannya akan kembali pulih?” tanya Darmawan


“Itu butuh evaluasi dan perawatan lebih lanjut. Mungkin kita bisa membantunya dengan memberinya rangsangan agar ingatannya muncul?” usul dokter, semua mengangguk setuju. Setelah memastikan fisik Rita baik-baik saja, dokter pun pergi


“Daniel, bisa kita bicara sebentar?” tanya Darmawan, Daniel mengangguk, ia mengikuti Darmawan menuju kantornya


“Duduk Niel!” Daniel menuruti perintah Darmawan


“Niel, bagaimana kabarmu sebagai CEO baru?”


“Saya sedang menyesuaikan diri Pak!” jawab Daniel


“Aku mendengar kamu datang pagi sekali untuk mempelajari semuanya, itu bagus sekali Niel. Seperti yang aku harapkan. Anaknya Euigon tidak akan mengecewakan aku”


“Maaf Pak, boleh saya tanya?”


“Silakan?”


“Kenapa Bapak memberikan posisi CEO pada saya, posisi itu terlalu tinggi untuk seorang seperti saya. Apa ada maksud lain?” tanya Daniel berterus terang


“Kamu mau jawaban jujur Niel?” tanya Darmawan. Daniel mengangguk


“Aku mendengar Kamu akrab dengan cucuku Rita. Aku juga tahu kamu telah menjadi seorang mualaf. Jadi aku pikir kamu serius berhubungan dengan Rita. Andi juga bilang, kamu ingin menikahi Rita, apa itu benar Niel?” tanya Darmawan


Daniel ingat perkataannya pada Andi di London dulu


“Saya serius dengan Rita Pak!”


“Bagus, karena itulah aku memberikan jabatan ini, aku tidak akan malu memiliki cucu menantu seorang CEO”


“Tapi pak, Kami tidak berniat menikah sekarang, Rita masih sangat muda” ujar Daniel lagi


“itu juga aku tahu!, tetapi aku ingin mempersiapkan semuanya. Aku tahu isue yang bertebaran di kantor tentang Cinderlela Man”


“Iya pak?”


“Tentu aku tahu, semua percakapan di kantor aku bisa mengetahuinya”


“Iya Pak?”


“Apa kamu tersinggung Niel?” tanya Darmawan dengan suara menyelidik


“Iya Pak!” jawab Daniel jujur


“Omongan seperti itu akan terus menghantui selama kamu terus berhubungan dengan Rita, Niel. Aku menyerahkan semuanya padamu. Aku akan memberimu waktu setahun untuk memikirkan hal ini. Selama setahun ini, aku juga minta kamu tidak menemuinya semaumu.”


“Setahun?” tanya Daniel bingung


“Iya Setahun! Waktu setahun ini bisa kalian gunakan untuk saling mendalami perasaan kalian masing-masing. Terutama kamu Niel, kamu yang akan menjadi imam bagi Rita kelak. Jika aku membiarkan kalian menempel seperti sekarang ini aku akan menyesal, kelak mendapatkan cucuku hamil lebih dulu.”


“Bagaimana jika saya ingin menemui Rita pak?”


“Boleh, tapi di sini, ada Andi atau Lee, diantara kalian!”


“Apa keputusan kelanjutan hubungan saya dan Rita akan mempengaruhi posisi saya di kantor Pak?”


“Maksud mu?”


“Jika saya memutuskan tidak melanjutkan hubungan dengan Rita, apa saya tetap jadi CEO pak?”


“Kelanjutan menjadi CEO atau tidak, itu bergantung pada kinerjamu Niel. Jika kamu bisa membuktikan kinerja yang baik sebagai CEO, menjadi cucu menantuku atau tidak, kamu akan tetap memegang posisi itu”


“Apa saya bisa mendapatkan jaminan tentang ucapan bapak?” tanya Daniel memberanikan diri


“Tentu, aku telah membuat surat perjanjian, kamu bisa mempelajarinya. Jika kamu setuju silakan tanda tangani.” Darmawan memberikan sebuah amplop besar, dalamnya berisi perjanjian mengenai jabatan CEO yang dipegang Daniel.


Daniel membacanya dengan seksama, kemudian ia mengambil bolpoin di atas meja dan langsung menandatangi perjanjian tersebut.


“Sebenarnya aku sedang mencari orang kepercayaan selain Radian. Melihat Kamu yang masih muda dan bersemangat, tentu saja aku sangat senang. Apalagi jika kamu benar-benar bisa membahagiakan cucu perempuanku satu-satunya” ujar Darmawan, ia menutup amplop itu lalu meletakkannya di brangkas.


Daniel mengangguk, kemudian ia pamit pulang. Sebelumnya ia mampir ke kamar Rita. Di sana Ratna menungguinya


“Malam Bu!”


“Malam Niel! Rita baru saja tertidur. Besok kami akan membawanya ke RS untuk Cek kepalanya, kamu bisa ikut Niel?” tanya Ratna

__ADS_1


Daniel mengangguk setuju.


-Bersambung_


__ADS_2