
“Rita!!!” panggil Qowi, Lisa dan Andien, mereka kumpul di rumahnya Lisa
“Hey girls! Kalian lagi ngapain?” tanya Rita melalui video call
“Lagi nge gibah!, eh Rit ini gak apa-apa VC? Mahal lho! Apalagi lo sampai menanggung biaya roamingnya!”
“Kalau di Singapura gak gitu mahal say! Apalagi gue dapat voucher free pulsa dari credit card laki gue, jadi kita bisa VC lamaan dikit!” Rita terpaksa berbohong, padahal ia sengaja menyisakan uang dari kakeknya untuk membeli paket data internasional untuk chat dengan teman-temannya di Sukabumi
“Beda ya, yang sudah nyebut ‘laki gue’ bikin baper lo Rit!” ujar Qowi iri
“Jadi gimana nih sudah isi belum?” tanya Andien
“Belum! Ini baru keluar lagi tamunya!”
“Mungkin tamunya pengen eksis kali ya?”celoteh Lisa
“hahaha!” mereka tertawa bersama,
“Nah Rit, karena Elo yang dekat sama kita, tadinya mau nanya ke Kiki tentang pengalamannya malam pertama, tapi karena orangnya kabur mending yang masih baru saja deh kita tanyain!” ujar Qowi
“Bukan malam pertama dong! Karena malam pertama ada tamu, kita itu ngumpul di malam ke 50-an lah!” jawab Rita
“Buset deh dia ngitungin!” ujar Andien geli
“Lah kan, setelah nikah, laki gue balik ke Singapura, gue umroh, pulang umroh gue sekolah persiapan ujian, sebulan kemudian baru ngumpul!”
“Kasian banget dong laki lo nunggu lama”
“yaa, kan sudah gue bayar tu!”
“Bayar? Maksud lo?” tanya mereka bertiga heran
“Iya maksud lo nebus itu apa?” tanya Andien penasaran
“Yaaa...berhubungan suami-istri lah! Malam sebelum tidur dan pagi sebelum dia berangkat kerja!”
“hah?? Apa laki lo gak gempor? Kata sepupu gue kalau terlalu sering juga bikin pinggang sakit dan pegel tuh!”
“gue gak tau tuh laki gue, kan gue cuma ngikutin dia saja!”
“Lo happy gak Rit? Status lo sudah jadi istri lho!” goda Lisa
“jelas gue happy! Tapi beneran deh girls, gue sharing saja nih, lebih baik kalian berhubungan intim itu setelah sah dalam ikatan pernikahan, jangan ngikutin orang bule, *** bebas dll. Karena namanya berhubungan itu bertukar cairan. Lo bayangin kan kalau pasangan lo bertukar cairan dengan banyak orang? Sudah pasti gak higienis, makanya banyak penyakit!”
“Kog jadi kayak menghadiri pendidikan *** ya?” ujar Andien
“Jujur nih, konsep cewek 'dipakai ' itu bener banget! Gue ngerasain kok!, gue menikmati sih, malah kadang kalau terlalu menikmati gue jadi mikir. Karena begini nikmat makanya orang cenderung gak sabaran, akhirnya paket sudah dibuka, padahal belum dibayar!. Apalagi COD, biasanya barang sudah dibuka, orangnya gak jadi beli!”
“Lo tuh sebenarnya ngomong pengalaman lo apa belanja online sih Rit?” tanya Qowi heran
“Gue menggunakan perumpamaan begitu. Gue kan baca berita tentang anak-anak SMP yang sudah berhubungan badan dengan pacarnya, prihatin banget gue. Kalau mereka tahu, menunggu agak lama, dan sah dengan orang yang tepat, wah rasanya lebih lega dan aman!”
“ Tapi Rit, anak-anak itu terpengaruh tontonan biasanya karena baper, eh jadi bablas!” timpal Lisa
“Nah itu, kalau mau nonton, di tempat ramai saja. Jangan terlalu lengket, nanti kebablasan!” timpal Rita lagi
“Memangnya waktu kalian pacaran gak lengket Rit?” tanya Andien penasaran
“waktu kita pacaran itu, misalnya waktu nonton bioskop, dia gak mau tuh terlalu nempel, paling dia merangkul”
“Mungkin dia takut sama Lo kali Rit! Kalau dia cium, karena belum sah , Lo bakal ninju dia!” timpal Andien, yang diiringi tawa teman-temannya
“yeee..gue tuh jinak lagi sama Daniel, gue memang jarang megang tangan dia duluan, biasanya dia duluan yang megang tangan gue. Paling jauh dia nyium tangan gue, atau jidat, sudah gitu gak nyium yang lain!”
“Oke fix, Daniel takut sama Rita!” ledek Qowi, mereka tertawa lagi
“ah kalian ini! Bikin gue minder saja!” ujar Rita
“Hah minder? Maksud lo gimana?” tanya Lisa heran
“waktu itu ada yang bilang, kalau cowok itu takut sama gue. Padahal gue kan baik hati dan tidak sombong!. Gue tahu deh kalau gue gak secantik Qowi atau sepintar Lisa, atau seimut Andien . Tapi setidaknya gue punya skill bela diri! Itu saja yang bisa gue banggain!” ujar Rita
Qowi, Lisa dan Andien kaget dengan pernyataan Rita, mereka saling berpandangan tidak percaya
“Jadi selama ini lo merasa begitu Rit?” tanya Qowi heran, Rita mengangguk
“Lo gak tahu kenapa cowok-cowok ganteng berseliweran di sekitar lo?” tanya Andien heran, Rita mengangguk lagi
“Menurut lo kenapa cowok cakep seperti Dewa, Tomy, Indra dll ngerubungin Lo?”
“Mungkin karena mereka pengen deketin Qowi?”
“Weeleeee!!! Manusia ini bolot apa sok bolot?” ledek Qowi
__ADS_1
“Rit, gue penasaran nih, sebelumnya kan lo ngotot pengen ngejar karier dulu, lo masih 17 tahun, banyak yang masih lo ingin capai, nah sekarang tiba-tiba lo memutuskan menikah. Itu tergolong muda lho! Walaupun di kampung umur 14 tahun sudah ada yang nikah. Tapi apa yang mendorong lo yakin, oke deh gue nikah sekarang!” tanya Lisa detail
“Hmm..apa ya? karena Daniel kali ya? Kalian lihat kan betapa menawannya dia? Eh ternyata dia juga punya perasaan yang sama dengan gue. Kalau gue lewatkan, mungkin gue akan menyesal!”
“Jadi karena Daniel menawan?” tanya Lisa meyakinkan, Rita mengangguk lalu melanjutkan
“Yaa, selain dia sudah mualaf, terus dia membuktikan kesungguhannya ke gue dan berjanji tidak akan menghalangi pendidikan dan karir gue ke depan. Jadi gue pikir ya sekarang saja lah, dari pada ketika kita jalan malah bablas!”
“Pernah gak Daniel bilang kenapa dia tertarik sama lo?” tanya Qowi penasaran
“Hmm..gue gak pernah berani nanya itu, takut dia sadar ternyata ceweknya ini wajahnya biasa-biasa saja! Jadi biarkan saja dia sadar sendiri!” ujar Rita lagi
“Heh Rit, ini obrolan serius nih! Masa lo gak merasa sih kalau Lo itu cantik?” tanya Andien
“Gue? Cantik? Itu karena nyokap gue jago make up! Pas nikah kemarin baru kelihatan cantik!” ujar Rita
“Wah..ni orang harus dicek nih matanya!” ujar Lisa agak kesal
“Lo tuh sangat cantik pas di dandanin Rit, tapi gak didandanin juga lo sudah cantik, gak bosenin deh ngeliatnya. Gue saja yang cewek seneng ngeliat muka lo!” ujar Qowi
“Apalagi kalau lo lagi bertanding, pasang muka pendekar! Wah keren banget Rit!” puji Lisa
“Oh iya ya! gue inget tuh , waktu lo bertanding . Setiap pukulan atau tendangan lo masuk, kak Tomi teriak, that’s my girl!..that’s my girl! Semangat banget dia. Kita sih yang dengarnya senyam-senyum saja!” ujar Andien
“Masa sih? Kog gue gak merasa begitu ya?”
“Coba deh tanyain laki lo, kenapa dia tertarik sama lo!” ujar Qowi lagi
“Eh kemarin, setelah kondangan kita kan pulang bareng Indrajit dan teman-teman, wah Indrajit kayaknya nyesel banget tuh dulu gak nembak lo Rit!” ujar Qowi
“Iya Rit, dia bilang gini, kalau dulu gue ngotot ngejar Rita, pasti sekarang nikahnya sama gue!”
“Terus Rafi nanya, kenapa waktu itu lo gak ngejar Rita?”
“Ritanya lebih ke Tomi, gue dengar mereka sering vc, padahal ada Dewa juga di situ. Tomi itu diam-diam gak taunya ngincer. Mana langsung deketin bokapnya lagi. Ya udeh deh bokapnya jadi promosiin Tomi terus ,Rita kan anak ayah banget tuh. Kalian lihat kan tadi?”
“Terus kenapa dulu Indra gak deketin bokap gue saja, padahal gue sudah kenalin lho!”
“Nah ini lucu nih!, jadi ternyata Indra itu trauma sama dokter, mungkin pernah punya pengalaman buruk dengan dokter, jadi begitu dia tahu bokapnya Rita dokter, dia menjauh!”
“Hahahaha!” mereka tertawa
Malam harinya, Rita sibuk dengan laptop barunya sedangkan Daniel sibuk membaca berita di tabletnya.
"hmm..kayaknya aku mau berubah jurusan deh"
"maksudnya?"
"Kalau sekolah kuliner itu untuk dapat skill atau apa? kalau skill, aku kursus bikin pasta dan roti saja kayaknya sudah bisa aku kembangin sendiri" ujarnya lagi
"hmm.. .masakannya enak lagi!" puji Daniel yang selalu menjadi bahan percobaan
"apa aku daftar di ekonomi bisnis saja ya? siapa tahu aku bisa jadi pengusaha sukses seperti kakek? atau belajar hukum? supaya jadi pengacara?" Rita bergumam bingung, ia membaca ulasan tentang kuliah bisnis dan hukum
"wah jadi berat nih jurusan kuliahnya , cobaannya makin banyak dong?"
"Yang namanya cobaan pasti banyak say, kalau dikit itu namanya cobain!" celoteh Rita
"Hahaha" Daniel tertawa geli, ia melanjutkan membaca
Tiba-tiba Rita teringat percakapannya dengan teman-teman pagi tadi. Ia menutup laptopnya dan meletakan di atas meja kecil di samping ranjang
“Sayang! menurutmu Aku cantik?” tanya Rita, ia deg-deg an mendengar jawaban Daniel.
Daniel mengalihkan pandangan dari tabletnya, kemudian melihat ke Rita
“Hmm..enggak!” Daniel menjawabnya tanpa berpikir
“Ooo!!!” Rita mengangguk, sebenarnya dia sudah mengira jawabannya, tetapi ia tetap merasa kecewa.
Daniel meletakan tabletnya, kemudian menyambung kalimatnya
“Kamu tuh gak cantik, tapi sangat cantik!” ujarnya ia mencium bibir Rita,
“Ah,..kamu cuma pengen bikin aku senang saja!” ujar Rita tersipu
“Nooo! Sayang! Kamu sangat cantik!, kalau tidak, gak mungkin kan aku mengejar kamu sampai Sukabumi dan membiarkan kamu diambil lelaki lain?”
“Masa sih?” Rita tetap tidak percaya dengan ucapan Daniel
“Kalau menurut kamu aku bagaimana?” tanya Daniel, ia membuka kacamatanya
“Kamu? Tentu saja sangat tampan! Kamu tuh selalu bikin aku deg-degaan terus, aku terus salah tingkah kalau dekat kamu!” ujar Rita keceplosan, kemudian wajahnya memerah karena malu
__ADS_1
“Nah itu juga aku rasakan ketika ketemu kamu!” Daniel kembali mencium bibir Rita
“Kog gak kelihatan ya?” gumam Rita
“Apanya gak kelihatan?” tanya Daniel bingung
“Reaksi kamu! Waktu ketemu aku!, kayaknya datar banget deh!, sampai aku tuh, merasa..ya sudahlah...mungkin aku bukan seleranya!” ujar Rita lagi
Daniel tersenyum,
“Memangnya aku harus bereaksi seperti apa? begini?” Daniel menjulurkan lidahnya seolah-olang Anjing yang ngos-ngosan
“Hahaha..gak gitu juga, setidaknya ramah gitu! Gak diam saja! Awalnya aku pikir, kayaknya ni orang punya amarah terpendam!”
“Aku mantan pengawal lho! Harus pinter pasang wajah datar! Padahal hati kita berkata lain!”
“Begitu ya? hmm” Rita terdiam
“Kalau begitu kita bikin permainan saja gimana?” tanya Daniel
“Permainan apa?” tanya Rita tertarik
“namanya truth or dare, kalau pemenang suit memilih truth, yang kalah harus menjawab pertanyaan apapun dengan jujur! tapi kalau kamu gak mau jawab jujur kamu harus melepas satu kancing piyama mu!” ujar Daniel
“Huh Modus!, nanti kalau aku kalah, kamu yang senang kan? Padahal dokter bilang kita harus membatasi berhubungan dulu! Pinggangmu masih sakit kan?”
“Iya sih! Tapi dokternya gak mengerti sih godaan yang ada disampingku setiap malam!” ujar Daniel dengan suara menyesal
“Lagi pula aku masih belum bersih! jadi jangan bikin dare yang nanti malah bikin sakit!” omel Rita
“Iya nyonya, jadi apa dong?”
“Darenya ngasih duit saja! 5 dolar gitu!” ujar Rita dengan mata berbinar
“Kog kamu jadi mata duitan gitu ya? memangnya kalau terkumpul duitnya untuk apa?”
“Kita makan-makan di luar berdua!” ujar Rita tersenyum manis, Daniel membalasnya
“Okelah, ayo kita mulai, suit ya?”
“Truth or Dare!” keduanya berteriak, Rita kalah
“Truth!” ujar Daniel
"oke, apa pertanyaannya?" tanya Rita bersiap
“nah!, apa yang mau kamu lakukan pada saat kita bertemu pertama kali?
Rita menghampiri Daniel dan mencium bibirnya tentu saja aksi Rita membuatnya kaget
“Beneran?” tanyanya
“Hey that’s truth!” jawab Rita tersipu
“Wahh..kalau begitu aku kelamaan ya nembak kamu!” ujar Daniel menyesal
“Ayo lanjutkan!”
“Truth or Dare!” keduanya berteriak, Daniel kalah
“Truth!” ujar Rita
“Sekarang giliran aku, apa yang mau kamu lakukan pada saat pertemuan pertama kita?” tanya Rita
Daniel mendekati Rita lalu menjabat tangannya
“Halo saya Daniel!, senang bertemu dengan Anda!” ujar Daniel menyalami tangan Rita dengan kedua tangannya
“Sudah begitu saja?” tanya Rita heran, Daniel mengangguk. Rita menatap wajah Daniel tidak percaya.
Tiba-tiba wajah Rita berubah kesal. Ia menarik selimutnya dan tidur, ia tidak berminat melanjutkan permainan.
“Kenapa sayang? Kog kamu marah?” tanya Daniel heran
“Sudahlah, aku ngantuk!” ujar Rita ketus, ia sungguh sangat kesal
Daniel mendekatinya dan ingin mendekapnya dari belakang, Rita bangkit dan menolak
“Sayang, aku lagi PMS!, tolong ya tidurnya agak jauhan sedikit!” ujarnya kesal. ia kembali tiduran dan menutup tubuhnya rapat dengan selimut.
Daniel mengurungkan niatnya, kemudian ia kembali ke sisi tempat tidurnya. Ia bingung harus berkata apa untuk menyenangkan istrinya.
Ketika pagi tiba, Rita masih ngambek karena permainan semalam, ia masih teringat kekecewaan di hatinya. Daniel merasakan itu. Ia meminta Rita membantu merapikan dasinya. Rita melakukannya dengan segan, ia juga menolak, ketika Daniel ingin mencium bibirnya. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Daniel yang kebingungan.
__ADS_1
_Bersambung_