Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 270: ke Singapura


__ADS_3

“hey, kamu lagi ngapain?” Rita melakukan Vcall dengan suaminya


“Aku baru pulang, capek banget” Daniel mengangkat ponselnya sambil tiduran di ranjang besar mereka


“Kok belum ganti baju? Sudah makan? Aku minta sama staf rumah untuk mengantar makanan ke kamar?”


“Iya, aku sudah lihat, aku malas, gak ada kamu”


“Maaf ya..kenapa ujian semester di sini seminggu penuh”


“anak-anak bagaimana?”


“sebentar!” Rita berlari keluar kamar di apartemennya, memanggil anak-anaknya


Raffa dan Ranna berlari lincah menaiki ranjang


“Hei Papi?” sapa mereka lucu


“kok cuma dua? Rayya mana?” tanya Daniel


“Adek bobo, papi kesini?” tanya Ranna


“Nanti ya kak, hari Jum’at malam papi datang”


“papi-papi!” panggil Raffa


“Ya?”


“Uncle O so funny!”


“oh kalian main sama uncle O?”


“yes, he took us to the zoo” Raffa bercerita


“mami ikut?”


“No, mami at college”


“Ohh” terdengar suara lega dari Daniel


“Papi, why u’re not here?” tanya Raffa , ia ikut berloncatan di ranjang


“Papi must work, i’ll join you on weekend ya?”


“But, we home already”


“hah? Mana mami?”


“Miiii...papi!!” Raffa menyerahkan ponsel kepada Rita


“Ya sayang?”


“Kamu sudah pulang jum’at ini?”


“Iya, Jum’at selesai, rencananya aku kembali ke Jakarta Jum’at sore”


“Oh begitu. Rayya mana?”


“Sedang tidur, dari semalam dia gelisah, mungkin karena kamu kangen sama dia, dia jadi merasa”


“hahaha, iya ya?”


“Papi gak kangen kita?” tanya Ranna tiba-tiba


“Kangen dong sayang”


“Kenapa gak kesini?” tanya Ranna lagi dengan nada memburu


“Papi must be working!” jawab Raffa


“You always working!” ujar Ranna, nada suaranya tampak kesal, Daniel merasa tidak enak hati mendengarnya


“Sudah, kalian main lagi sana, mami ada perlu sama papi” Kedua anaknya menurut dan kembali ke ruang TV


“O yang jaga anak-anak? Memangnya dia sempat?” tanya Daniel


“oh itu, aku juga gak tahu, aku lagi di kampus. Tiba-tiba dia nelpon sudah ada di apartemen. Dia bilang kangen anak-anak dan minta ijin aku untuk bawa mereka jalan”


“Oh begitu, semua dibawa?”


“Iya, sama baby sitternya, wah sudah jadi bos beneran dia di sini”


“Kamu sering makan malam dengannya dong?” Daniel memancing informasi dari istrinya


“Enggak, dia sudah gak di apartemen bawah, dia mendapat fasilitas apartemen CEO dari kantor”


“Wiihh...hebat...aku gak enak nih nyuruh-nyuruh dia lagi”


“Memangnya kamu sering nyuruh dia?”


“Akku kan minta tolong sama dia untuk ngurus rumah kita yang di Sukabumi”


“Oh itu, kamu lagi bangun rumah itu ya?”


“Iya!, maaf aku gak bilang kamu. Habis urusan mu sudah banyak!”


“Siapa yang mengerjakannya?”


“Yang jadi mandornya ibu panti, katanya yang mengerjakan anak-anak panti yang sudah dewasa, Mario juga selalu mengeceknya”


“Kamu sudah mengeceknya?”


“Bulan lalu sih dia ngirim laporan perkembangan pembangunan”


“Memangnya rumahnya mau dibangun kayak apa?”


“Itu kejutan! Nanti kamu akan terkesima deh”


“Wah benar-benar kejutan ya? kamu sambil makan deh, aku temani”


Daniel menuruti, ia makan di meja makan, dengan Rita masih online di PC nya


“Apa menunya hari ini?”


“Ini, enak juga!, aku minta besok pagi dibuatkan nasi goreng”


“sudah bilang?”


“Iya, mereka juga mengirimkan buah-buahan dan cemilan. “


“Syukurlah!, aku khawatir kamu gak terurus”


“Hati ku yang tak terurus!” nada suara Daniel manja


“Hari Jum’at aku kan sudah di rumah, kamu gak usah khawatir”


“Oh iya, kamu juga ke D’Ritz?”


“iya dong!”


“Lalu bagaimana?”


“Mungkin akan diperluas lagi, Erina bilang cafenya membutuhkan tempat lebih luas”


“kamu setuju?”


“Aku sih sudah membaca laporan keuangan, kayaknya gak masalah untuk memperluas, aku minta dia nego dengan pemilik ruko di sebelah”


“Apa mereka keberatan kalau dijadikan satu dengan tempat cafe yang sekarang?”


“Aku mau konsultasi dulu dengan Mario, karena dari awal dia yang mengurus interior desainnya”


“Jangan malam-malam ya konsultasinya”


“Memangnya kenapa?”


“Kamu kan sedang jauh dari suami, tidak baik rapat dengan lelaki lain malam-malam!” Daniel memperingatkan


“Kamu masih cemburu sama O?”


“Sama lelaki mana pun yang dekat sama kamu, aku pasti cemburu lah!”


“hehehe..tenang saja, aku rapatnya rame-rame kok. oh iya kamu tahu gak, Erina akhirnya bercerai dengan suaminya”


“hah? Sejak kapan?”


“Sudah setahun!, hak asuh anak dipegang Erina. Dia bilang dia sudah tidak sanggup bertahan dengan suaminya”


“Anaknya lelaki kan?”

__ADS_1


“Iya, usianya 1 tahun. Tadi main dengan anak-anak kita. Oh iya si O juga kayaknya lagi ngedeketin Erina”


“Apa benar?”


“Tadi staf D’Ritz pada cerita sih, O sering datang kemari dan ngobrol di ruangan bu Erina setiap weekend. Kadang dia juga di cafe, kadang main sama anaknya bu Erina”


“oh begitu, syukurlah, semoga pendekatannya lancar deh! Kamu gak jadi comblang mereka kan?”


“Enggak ah!, biarin saja. Lagi pula Erina sudah single mother. Dia pasti lebih hati-hati dalam bertindak”


“Apa dia pernah bertanya tentang Mario sama kamu?”


“Enggak!, dia hanya curhat ketika masih menikah, aku bahkan tahu dia bercerai dari anak-anak D’Ritz”


“Kasihan Erina”


“Kenapa kasihan? Dia single mother terkaya lho! Gajinya di D’Ritz besar. Aku membayarnya sesuai standar gaji CEO!”


“Wah berarti yang hebat itu kamu ya?”


“Nah begitu dong!, oh iya besok aku ada 2 mata kuliah yang diujikan aku mau mengulang materi, sudah dulu ya?”


“Hmm...iya deh! Dah sayang!”


“Dahh!!!” Rita mengakhiri Vcallnya, sementara Daniel merasa sendirian di rumah. Ia telah mandi dan berganti pakaian, setelah sholat maghrib dan Isya di mesjid ia kembali ke kamarnya yang lega.


“Ah sepi sekali!!” ia membuka tabletnya dan membaca berita hingga tertidur, keesokan paginya, ia melakukan aktivitas seperti biasa.


Pukul 11 pagi, bunyi alarm


“Ada apa Sam?” tanya Daniel heran


“Kebakaran pak!”


“Hah? Kebakaran? Di mana?”


“Kantin pak!”


“lah kok bisa?”


“Entahlah pak, setelah ini akan ada inspeksi seluruh gedung, kita akan pulang cepat pak!”


“Oh ya kapan?”


Pengumuman memberitahukan kepada seluruh penghuni gedung untuk segera mengosongkan gedung. Daniel merapikan kertas kerjanya ke dalam tas lalu segera meninggalkan ruangannya


“Samuel, besok bagaimana?”


“Nanti dikabari lagi pak, apa besok kantor ditutup atau tidak”


“oh begitu, btw Samuel, jadwal saya penuh minggu ini?”


Samuel melihat tabletnya


“Tidak pak, bahkan sebenarnya semuanya bisa dilakukan secara online”


“Oh ya? bisa begitu?” mata Daniel berbinar-binar


“Sampai akhir minggu ini?” tanya nya lagi


“Benar pak!”


“Kalau begitu, aku akan kerjakan secara online saja”


“Eh?”


“Aku mau ke Singapura, istri dan anak ku berada di sana sudah 2 hari ini”


“Oh begitu, baiklah pak. Akan saya sampaikan!”


“Terima kasih ya Sam!” Daniel segera keluar dari kantor dan memesan taksi, di dalam taksi ia juga memesan tiket ke Singapura.


“Halo, pak Ridwan?”


“Ya pak Daniel?”


“Saya tidak pulang hari ini, saya langsung ke Singapura!”


“Ke Singapura?”


“Iya, aku bisa ngantor secara online, jadi tidak perlu siapkan apa-apa di rumah ya?”


“Gak usah!, biar ini jadi kejutan!”


Penerbangan ke Singapura pukul 15.00, sementara menunggu penerbangannya, Daniel menyempatkan diri berbelanja di luar bandara. Ia membeli beberapa pakaian dan perlengkapan menginap juga beberapa snack untuk anak dan istrinya.


Pukul 1630 ia telah sampai di Singapura dan segera menuju apartemennya. Letak apartemen dekat dengan D’Ritz, jadi ia mampir ke D’Ritz. Sengaja ia memesan makanan dan minuman di cafe. Waiter D’Ritz tidak mengenalinya karena ia masih baru. Beberapa kali ia memesan beberapa minuman yang berbeda, ia berharap bisa bertemu istrinya di situ.  Dugaannya tepat, Raffa sedang berlarian di toko D’Ritz yang posisinya bersebelahan dengan cafe. Ia memperhatikan seseorang yang ia kenali. Ia mendatangi cafe dan menghampiri Daniel


“Papi!!!!” teriaknya sambil memeluknya dari belakang, Daniel terkejut


“Eh abang!” Daniel sangat senang melihat anak keduanya itu


“Papi you’re here!” dia menciumi wajah papinya . Ranna melihat Raffa digendong seseorang, ia menghampiri. Ia tampak terkejut melihat wajah papinya yang sudah beberapa hari tidak ditemuinya. Tiba-tiba ia menangis


“huaaa...papiiii...papi....” ia menghampiri Daniel minta digendong. Ketiganya seperti melakukan reuni kecil. para suster terlihat kaget dengan kedatangan Daniel. Salah seorang suster segera melapor ke ruangan Rita


“Bu, bapak datang!”


“hah? Bapak siapa?” tanya Rita heran, dia masih berkutat dengan laporan penjualan


“Pak Daniel!”


“ah? Masa?” dengan segera ia keluar ruangannya


“Di cafe bu!” ujar suster. Rita segera menggendong Rayya dan segera ke cafe.


“Hei!!” teriaknya senang


“Hei! Surprise!!!” Daniel tersenyum, ia menurunkan kedua anaknya dan menghampiri istri dan anak bayinya lalu memeluk mereka


“Kok gak bilang mau kemari?” tanya Rita, ia mencium pipi suaminya


“Kan kejutan, Rayya sini sama papi!” Daniel mengambil Rayya dari tangan Rita. Sementara kedua anaknya menempel di kedua kaki papinya


“Kalian sudah makan belum?” tanya Daniel


“Belum!”


“Ya udah pesan saja! Papi traktir!” mereka menempati tempat duduk yang agak besar. Dan memesan lagi beberapa makanan


“Abang mau apa? kak Ranna?”


“I’d like pasta!” jawab Raffa


“Aku nasi goreng!” jawab Ranna


“Kalian ini!” Rita melihat ke arah anak-anaknya yang bertingkah seolah tamu di cafe mereka sendiri


Waiter mencatat pesanan mereka, lalu memberikannya ke bagian dapur. Ia menghampiri bagian kasir


“Orang itu siapa? Kok akrab sekali dengan bu Rita?”


“Hush! Itu suaminya bu Rita!”


“oh ya? wah, sejak tadi dia memesan banyak makanan dan minuman di cafe”


“Nah lho, mungkin dia lagi inspeksi rahasia, ingin tahu kualitas makanan dan minuman di sini juga pelayanannya”


“Waduh...tadi aku melakukan kesalahan gak ya?” ujar waiter itu khawatir


“Tenang saja, di sini gak main pecat kok, mereka mengevaluasi dulu, setelah melakukan perbaikan kalau belum baik baru deh dipecat!” ujar kasir yang merupakan karyawan lama.


“Kamu kok kemari? Kerjaannya gimana?” tanya Rita


“Kantin kantor kebakaran, jadi kantor ditutup untuk inspeksi. Jadi aku pikir, kerjaan aku bisa aku lakukan secara online di sini”


“Kok bawaan mu banyak banget?”


“Oh ini? Aku beli baju untuk ganti”


“lho? Kan di sini baju mu masih banyak? kita gak bawa baju banyak ke Jakarta”


“oh iya ya? aku lupa. Gak apalah, lagi pula murah kok!. aku juga beli beberapa cemilan buat kamu dan anak-anak!”


“Kamu perhatian sekali!”


“Aku kangen kalian, di rumah terasa kosong banget. Aku berterima kasih sama orang yang menyebabkan kantin terbakar”


“hahaha..jangan begitu!”

__ADS_1


“Bagaimana pastanya bang? Enak kan? Tadi papi dua kali nambah”


“oh ya? kamu sudah lama di sini?”


“lumayan!...aku sempat memesan makanan dan minuman”


“jadi menurut mu bagaimana?”


“Rasa makanan dan minuman sempurna!”


“alhamdulillah!”


“Hanya saja...”


“hanya saja???”


“Pelayanannya terlalu lama ya? mungkin bis dipercepat dari 15 menit menjadi 10 menit”


“hmmm...begitu ya? baiklah nanti kita evaluasi lagi. Anak-anak kalian sudah selesai kan?”


“i’am finish!” jawab Raffa sambil menjilati piring pasta                                                   


“Abang! Jangan begitu pesan lagi saja! Kalau masih mau” ujar Daniel melihat tingkah anaknya


“No, i am full but this sauce is very good!” jawab Raffa , Rita tersenyum mendengar perkataan anaknya


“Yuk pulang! Sudah sore nih!” ajak Rita


“Sebentar aku bayar dulu!”


“Gak usah! Nanti masuk ke tagihan toko saja!” larang Rita


“Jangan ah!, aku sudah makan banyak. tenang saja Sayang! Ini kan traktiran aku!” Daniel menuju kasir dan membayar tagihannya.


“Sudah, yuk kita pulang!” ia menggendong Rayya.


“Adek sama, papi bawa barang-barang!” Rita mengambil Rayya dari Daniel.


“Eh sebentar, aku belum menyapa Erina!” Rita kembali ke ruangannya untuk mengambil tasnya, sementara Daniel menyapa Erina di ruangannya


“Halo Erina!”


“eh Pak Daniel! apa kabar?” Erina menyalaminya


“Baik,..kamu baik-baik saja kan?” tanya Daniel


“Baik pak!, wah pak Daniel sudah lama pak? Kok saya gak tahu?”


“Saya baru datang tadi, kangen sama Rita dan anak-anak”


“hahaha..kalau gak ada anak-anak sepi ya pak?”


“Iya betul!, baiklah Er, saya pamit dulu ya?”


“Baik pak!” Daniel meninggalkan ruangan Erina dan segera menghampiri Rita dan anak-anak yang sudah menunggunya di luar


“Pak Daniel makin glowing saja, aku makin patah hati nih” gumam Erina, menatap punggung Daniel yang makin menjauh


Beberapa menit kemudian mereka tiba di apartemen, Daniel langsung rebahan di ranjang mereka


“Aduh sudah lama ya gak kesini” ujarnya, kedua anaknya berloncatan di sampingnya


“Abang , kakak! Bobo saja jangan loncat-loncatan!” ujarnya memperingatkan. Kedua anaknya berhenti lalu rebahan sambil memeluk papinya.


“Nah begitu dong!” ujar Daniel sambil mengusap kepala kedua anaknya


“Papi sayang kalian kan?” ujarnya


“Yess!!!” jawab Raffa dan Ranna bersamaan, mereka mencium pipi kanan dan kiri Daniel.


“Padahal setiap hari Vcall, tetapi seperti gak ketemu bertahun-tahun!” ujar Rita tersenyum melihat tingkah kedua anaknya


“Rayya mana?” tanya Daniel


“Sedang mandi, hei kalian mandi dulu!”


“Later mami!” jawab Raffa, tetapi Ranna segera bangun dan menuju kamarnya. Melihat Ranna bangkit, Raffa ikutan bangkit dan mengikutinya, Daniel ditinggal sendirian.


“Mami kemari!” panggil Daniel, Rita menghampiri


“Apa?”


“Sini dong! Papi kangen mami!” Daniel menarik tangan dan tubuh istrinya mendekat, lalu memeluknya erat


“Aku kangen sekali dengan orang ini!!!” gumamnya di telinga Rita


“aku juga!” Rita membalas pelukan suaminya, cukup lama Daniel memeluk istrinya, ia hendak mencium leher istrinya dan mencumbunya


“Sayang jangan sekarang, masih sore! Nanti anak-anak tiba-tiba datang” Rita berusaha melepaskan pelukan Daniel


“Sebennntaaaarrrr saja, kamu tega aku jauh-jauh dari Jakarta” ujar Daniel sambil menempelkan hidungnya di leher Rita


“Iya-iya tapi ini masih sore, kalau anak-anak tiba-tiba datang gimana?”


Daniel keluar kamar, lalu berbicara dengan para suster lalu ia kembali ke kamar dan mengunci pintunya


“Sudah beres!” ujarnya , ia membuka pakaiannya


“Sudah beres apa?”


“Anak-anak tidak akan kesini dulu, aku meminta para suster untuk mengajak anak-anak main di ruang TV” Daniel menarik tubuh istrinya dan didekapnya erat, mereka pun bercinta.


Sementara para suster bergosip


“Tadi pak Daniel bilang apa?” tanya  Suster Erna


“Katanya anak-anak jangan main ke kamarnya dulu” jawab suster Rini


“Kenapa?”


“Masa kamu gak tahu?”


“Enggak? memangnya kenapa mereka gak boleh main ke kamar orang tuanya?”


“Pak Daniel lagi nge-charge ke bu Rita”


“ohhh...kayak ponsel ya?”


“hehehe iya, padahal belum seminggu pisah ya? tapi sudah disusul. Aku di sini saja, suami ku gak menghubungi kecuali nanya di mana aku meletakkan kopi”


“Tapi pak Daniel itu cemburuan!”


“sssttt....jangan sampai anak-anak mendengar” mereka membicarakan dengan berbisik-bisik


“Ya wajar lah, bu Rita masih muda dan cantik pasti dicemburuin”


“Tapi bu Rita juga sama”


“maksudnya?”


“Aku suka dengar, dia gak suka pak Daniel menyapa bu Erina”


“Siapa bu Erina?”


“Itu yang di D’Ritz”


“masa sih? Kayaknya bu Rita baik banget sama bu Erina”


“Kalau tentang kerjaan beliau sangat baik, tetapi kalau soal suami, wah bu Rita galak!. Aku pernah melihat wajah tidak senangnya ketika pak Daniel dilihatin sama para staf wanita di kolam renang. Bu Rita langsung meminta ke pak Ridwan supaya yang melayaninya diganti dengan staf lelaki”


“Masa? Tapi staf wanita masih banyak ah?”


“Maksud ku, yang melayani mereka di kolam renang atau di kamar mereka. Walaupun ada ART yang bekerja pasti yang sudah menikah. Yang masih muda gak boleh!”


“Repot juga ya?”


“Iya, bu Rita selalu bilang lebih baik pencegahan dari pada menyesal kemudian”


“oh maksud beliau tentang ini ya?”


“Iya, memangnya tentang apa?”


“enggak!”


Beberapa jam kemudian, Rita dan Daniel telah keluar dari kamar. Mereka sudah rapi dengan pakaian santai.


Selama di Singapura, anak-anak tidur bersama orang tuanya, karena kamar mereka dipakai oleh para baby sitter .


Pukul 9 malam, Daniel telah terlelap bersama ketiga anak batita mereka, sementara Rita masih berkutat dengan pelajaran yang akan diujikan besok. Ia merasa lega karena bisa berkumpul lagi dengan suaminya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2