
Waktu berjalan sangat cepat, tak terasa sudah sepekan sejak penguburan Greg, Ashley pun telah pergi ke Amerika untuk memulai hidup baru. Radian baru kembali dari perjalanan bisnis dari Tokyo.
“Jadi Rit,bagaimana reaksi Ashley ketika menerima amplop itu?” tanya Radian penasaran
“Kamu duduk deh, biar agak lama ceritanya!” perintah Radian lagi
Rita mengambil kursi geser, dan duduk dengan nyaman
“Ashley menangis tanpa henti, tapi dari tangisannya itu ia juga merasa lega.”
“Begitukah? Apa dia menyesali sesuatu?” tanya Radian makin penasaran
“soal menyesali saya gak tahu Om, tapi dari nada bicaranya Ashley bilang, dia tidak pantas untuk Om, neraka lebih pantas untuknya!” Rita menirukan ucapan Ashley
“Hmmm...” Radian terdiam, tapi ada sedikit senyuman muncul dari sudut bibirnya
“Sekarang Ashley sudah di AS, dia titip salam untuk Om dan sangat berterimakasih atas kebaikan Om. Dia juga berharap bisa bertemu Om lagi dalam keadaan yang lebih baik!” Rita menyampaikan pesan Ashley
“Rasa-rasanya aku gak mau bertemu dia lagi.” Ujar Radian tiba-tiba
“Kenapa? Om sudah sangat baik menjaganya?” tanya Rita bingung
“Aku Cuma orang biasa Rita, bukan malaikat. Rasa sakit hati ini nyata, jujur saja, melihat ia menderita dengan Greg, ada sedikit kepuasan dalam hati, setidaknya itu mengobati lukaku!”
“Kalau merasa begitu, kenapa Om membantunya? Hingga mengeluarkan uang begitu banyak ?”
“Moralitas, Rita. Walaupun kami tidak lagi bertunangan, tetapi dia pernah jadi orang terdekat dan sahabatku, gak mungkin aku membiarkan sahabatku kesulitan.” Jawab Radian
“Saya mengerti, kebaikan itu ada sisi gelapnya ya Om, setidaknya kebaikan Om juga seperti pesan tersembunyi bahwa Ia telah menyia-nyiakan orang sebaik Om Radian!” ujar Rita memahami jawaban Radian
“Tepat sekali!” Radian menggeser kursi duduknya
Rita akan beranjak dari kursinya
“Sebentar Rit!” tegur Radian
“Ya?” Rita tidak jadi berdiri, ia kembali duduk
“Ada yang ingin kamu katakan?” tanya Radian dengan nada menyelidik
“Apalagi ya? oh, jadwal perjalanan bisnis dimulai minggu depan, ke Korsel!” Rita membuka tablet kerjanya
“Hmm..bukan itu! Kamu gak mau mengakui sesuatu?” tanya Radian, ia memajukan tubuhnya
“Mengakui apa ya?” Rita semakin bingung
Radian membuka laptopnya, ia menunjukkan rekaman CCTV, di mana Rita menemukan rahasianya.
“Ahhh!!!! Itu rupanya!” tiba-tiba Rita tidak bisa menahan tawanya.
“Hahaha! maaf om ketelepasan!” ujar Rita tiba-tiba
Radian melotot, dia agak kesal karena rahasianya ketahuan Rita, ia takut tersebar dan menjadi bahan ejekan.
“Tenang Om, itu jadi rahasia kita berdua!” ujar Rita menenangkan
“Apa kamu bisa dipercaya?”
“Yaa, kepercayaan akan tumbuh seiring waktu Om, menurut Rita menjadi blink bukan suatu dosa, sama seperti teller bank yang menaruh boneka di depan komputernya sebagai tempat untuk rehat sejenak dari penatnya pekerjaan!” ujar Rita
“Umur kamu berapa sih? 16 kan? Kog ngomongnya kayak umur 45 tahun?” ejek Radian
“Awal bulan depan akan 17 tahun Om, sudah dewasa dong!” ujar Rita santai
“Belum!, dewasa awal itu umur 20 tahun, kamu di masa remaja akhir, biasanya diusia ini kamu akan mencoba banyak hal!” debat Radian, entah kenapa mereka jadi ngobrol akrab
“Yaa, mungkin juga sih Om, tapi insyaAllah, percobaan Rita gak akan aneh-aneh, apalagi yang bisa merugikan masa depan!” ujar Rita dengan nada sok dewasa
“Kadang Rit, cobaan hidup itu datang secara gak sengaja, misalnya kamu bertemu seseorang yang sangat kamu sukai, eh ternyata orang ini gak bener pergaulannya, karena kamu sudah suka padanya, kamu jadi bertingkah menyebalkan sepertinya!” ujar Radian memberi contoh
“InsyaAllah enggak Om!”
“Apakah kamu akan menceritakan rahasiaku ke Andi?” tanya Radian menyipitkan matanya
Rita menggeleng
__ADS_1
“Kak Andi kakak yang baik, hanya kadang ia bersikap seperti reporter, yang melaporkan semuanya tanpa disaring, jadi Rita tidak akan menceritakan kepada siapapun. Rita menghargai privasi lho!” ujar Rita meyakinkan
“Masa sih? Kamu kan adiknya Andi, gak mungkin gak gosipin orang di belakang kan?”
“ya terserah, kenapa susah percaya sama orang sih?” tanya Rita sedikit kesal
“Aku dikhianati pacar yang sudah 5 tahun bersamaku, bagaimana aku bisa mempercayai omongan keponakan yang baru aku kenal sebulan lalu?” ujar Radian lagi
“Yaa terserah Om mau percaya apa enggak, lagi pula untungnya buat Rita apa dengan menyebarkan rahasia Om?”
“ahh..” Radian menghentikan ucapannya, ia tidak mau memberikan ide kepada Rita .
Rita bangkit dari kursinya
“Sudah ya pak? Saya kembali ke tempat saya!” Rita pamit meninggalkan Radian yang masih berpikir keras
Rita menepati janjinya, ia tidak membicarakan apapun tentang Kpop, blink, apapun yang berhubungan dengan isi lemari Radian, bahkan melupakannya. Tetapi Radian orang yang sangat berhati-hati, dia tidak membiarkan orang mengetahui rahasianya bisa bebas begitu saja. Ia mulai mengajak Rita ke acara-acara yang sebelumnya hanya dia dan Daniel yang mengikutinya. Bahkan Rita diajak untuk mengikuti hobinya, paralayang, arung jeram, motocross, bahkan menonton final pertandingan sepakbola di luar negeri. Mereka menjadi seperti tiga serangkai. Radian-Daniel dan Rita. Radian dan Daniel memperlakukan Rita seperti seorang adik kecil yang harus dijaga, mereka akan berwajah galak kepada pria yang berniat mendekati Rita.
“Kamu siapa? Umurmu berapa? Pekerjaanmu apa?” tanya Radian pada salah satu peserta paralayang, yang berakrab-akrab ria dengan Rita.
“Eh, saya Edward pak, 19 tahun. Saya keponakannya Om Charles dari CITE” jawab Edward pria berkebangsaan Inggris yang berlibur di NZ.
“Jadi Edward, kamu tertarik dengan Rita, keponakan saya?” selidik Radian
“Ya bisa dibilang begitu, selain manis, dia juga pemberani!” Edward tersenyum melihat Rita yang berteriak kegirangan saat mulai terbang
Radian dan Daniel juga melihat reaksi Edward kepada Rita.
“Om mu itu, siapa tadi? Charles? Usahanya apa?” tanya Daniel
“Perusahaan konstruksi CITE di UK” jawab Edward lagi
“Ahhh!” Radian paham perusahaan konstruksi itu termasuk 5 besar di UK, hampir separuh UK menggunakan jasa konstruksi tersebut.
“Jadi Edward, apa rencanamu sehabis ini?” tanya Radian, yang tiba-tiba nada suaranya berubah
“Di mana kamu menginap?” tanya Daniel
“Penginapan Village di bawah gunung ini!”
“Apa Rita ikut?” tanya Edward tersenyum senang
“Tentu saja! Ia bersama kami!” ujar Radian ikut senang
Malam itu, mereka makan malam bersama di hotel, Edward terlihat gembira karena bisa bertemu dan ngobrol akrab dengan Rita. Selama perjamuan makan, tak hentinya ia menatap Rita, dan terus tersenyum sumringah. Radian terus memperhatikannya.
“Rita, apa kamu bisa skating?” tanya Edward
“Ice skating? “
“He eh!”
“Belum pernah, tapi aku mahir bersepatu roda!” ujar Rita
“Sebenarnya hampir sama, hanya lantainya saja yang berbeda, kamu mau coba?” tanya Edward
“Kapan? sekarang?” Rita begitu senang, ia bangkit dari kursinya
“Ups, Rita, hari ini sudah malam, kita lanjutkan besok! Edward, terimakasih sudah datang dan makan malam bersama kami!” tiba-tiba Radian menghentikan Rita yang begitu antusias, sebenarnya ia ingin Edward mengejar Rita, jika itu terjadi, akan mudah baginya untuk minta diperkenalkan dengan pamannya Edward.
Edward terlihat kecewa, ia menyalami Radian dan Rita
“Kamu di sini sampai kapan?” tanyanya ke Rita
“Lusa!” jawab Rita
“Kalau begitu besok kita ice skating!” ajak Edward
“No!” tiba-tiba Radian menengahi
“Besok Rita harus ikut aku ke pertemuan bisnis, dia di sini untuk bekerja bukan untuk bersenang-senang!” ujar Radian, sengaja nadanya dibuat tegas, Rita sampai bingung mendengarnya,
“Pertemuan bisnis apa? Bukankan ia dibawa kemari untuk liburan sebentar?” pikir Rita
“Baiklah, lain kali kita jadwalkan ya?’ ujar Edward
__ADS_1
“Iya, lain kali!” ujar Rita,
Edward kembali ke kamarnya. Penginapan Village terletak di bawah gunung, bentuknya tidak seperti hotel tapi seperti komplek perumahan yang luas, ada sekitar 30 rumah yang bentuknya seperti rumah tradisional. Radian menyewa sebuah rumah yang terdiri dari 3 kamar. Makan malam mereka adakan di dalam rumah itu, Radian sengaja menyewa layanan kamar untuk menjamu Edward.
Hari ini melelahkan, Radian merebahkan tubuhnya di tempat tidur
“Ah, seandainya bisa bekerja sama dengan CITE, perusahaanku akan berkembang lebih baik lagi!” gumamnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia mengangkatnya
“Ya?”
“Radian, kamu bawa kemana Rita?” nada bicara lawan bicara Radian begitu galak
“Eh?” Radian melihat nama kontak yang menelponnya
“Kami di penginapan Village Om!” jawab Radian panik, rupanya kakek Darmawan yang hampir 2 minggu tidak bertemu Rita, mencarinya.
“Apa kamu sengaja mengajaknya keluar, supaya dia jauh dariku?” tanya Kakek dengan suara kesal.
“Bukan, Om, ada pertemuan bisnis di sini!” elak Radian
“Rita itu Cuma mengurus jadwal, pentingnya apa dibawa-bawa?” ujar kakek lagi
“Ahh..itu” Radian memutar otak, memikirkan alasan lain
“Aku mau, besok Rita sudah di rumah! Aku akan membawanya liburan! Dia sudah lama stuck sama kamu!” nada suara kakek seperti perintah yang tidak bisa dilawan
“Baik Om!” Radian bergegas bangkit dari tidurnya, ia berlari menuju kamar Daniel
“tok-tok-tok!” suara ketukan pintu
“Cklek” Daniel membuka pintu kamarnya, ia tampak kesal karena dibangunkan dari istirahatnya
“Daniel, kamu harus membawa Rita pulang malam ini, Om Darmawan marah!” ujar Radian dengan nada panik, ia takut Omnya marah.
Sejak dulu ia sangat mengagumi Kakek Darmawan yang dipanggilnya Om itu. Sebenarnya Radian dan saudara-saudaranya adalah anak sepupu Darmawan. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan, keluarga dekat mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu, sehingga tidak ada yang bisa mengasuh Radian dan 2 saudaranya, tadinya mereka akan dititipkan di panti asuhan. Franky, kakak pertama Radian seumuran dengan Eka, mereka teman sepermainan.
Dari Eka, Darmawan mendengar tentang tiga bersaudara yatim piatu lalu ia mengadopsi ketiganya, menyekolahkan dan ketika mereka dewasa ia mempercayakan bisnisnya kepada mereka.
“Tapi besok masih ada satu lagi meeting bos?” tanya Daniel
“Gak usah dipikirkan, kamu bisa membawa Rita pulang lebih dulu, aku akan membereskan urusan di sini!” ujar Radian, ia menuju kamar Rita
“Tok-tok-tok! Rita sudah tidur?” belum ada jawaban
Ia mengetuk pintu lagi.
“Rita!” panggilnya
“Cklek! “ pintu terbuka , Rita muncul masih menggunakan mukena
“Sedang apa?” tanya Radian
“Sholat Isya Om!” jawab Rita
“Oh, kamu harus pulang malam ini, kakek mencarimu!” ujar Radian bergegas
“Gak besok saja? Rita lelah sekali!”
“Janggaan!!” ujar Radian setengah berteriak, membuat Rita kaget
“Kamu bisa istirahat di mobil, Daniel akan mengantar kamu!”Radian meninggalkan Rita yang bersiap untuk pulang
“Kenapa sih tiba-tiba, ada apa sih kakek? “ gerutu Rita, ia sangat lelah. ia segera berganti pakaian dan membereskan bawaannya.
Waktu menunjukkan pukul 10.30 malam, helikopter sewaan yang disewa Radian telah datang. Rita menaiki helikopter di tempat duduk penumpang, dengan tas ransel di sampingnya. Daniel duduk di samping pilot.
sebelum berangkat, Daniel menanyakan sesuatu,
“Apa saya perlu kembali kemari?” tanya Daniel
“Enggak usah, besok setelah meeting, saya akan segera ke kembali!” ujar Radian. Helikopter pun berangkat.
Cuaca hari itu memang tidak bisa ditebak, pukul 11 malam, terjadi badai salju disertai angin kencang, helikopter yang ditumpangi Daniel dan Rita terpaksa mendarat darurat, mereka tidak bisa melanjutkan penerbangan, bahkan kembali ke penginapan pun tidak bisa karena salju menutupi pandangan mereka dan salju menghalangi baling-baling helikopter. Petir yang menyertai badai menyambar tower telekomunikasi, sehingga hubungan telekomunikasi terputus. Rita dan Daniel terjebak di suatu tempat tanpa bisa meminta pertolongan.
_Bersambung_
__ADS_1