Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 329: Bakso


__ADS_3

Suatu pagi...


"Mami!" Raffa masuk ke dapur dan menemui Rita yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


"Ya Sayang? Kok belum ganti baju? Kamu gak sekolah hari ini?"


"Abang capek mi!" Raffa menyenderkan tubuhnya ke tubuh maminya.


"Capek?" Rita memegang kening anak lelakinya


"Ga anget" gumamnya, dipandangnya wajah anak lelaki mungil yang tampak kuyu


"ya udah Abang libur dulu deh sekolah dan les karate nya"


"Boleh mi?"


"Boleh! Asal jangan sering! kalau sekali-kali gak apa-apa"


Tak lama kemudian Ranna masuk ke ruang makan


"Pagi mi!!" Sapanya dengan semangat


"Pagi kak Ranna! Wah semangat sekali pagi ini?" Tanya Rita tersenyum


"Hehehehe..."Ranna tertawa riang, lalu ia heran melihat adiknya yang masih memakai piyama tidurnya.


"Adek gak sekolah?" Tanyanya sambil duduk di kursi


"Adek libur dulu hari ini, kakak saja yang sekolah ya?" Ujar Rita sambil memberikan roti panggang dan scramble egg kepada Ranna.


"Terimakasih mi!" Ranna langsung menyantap sarapannya ia terlihat sangat lapar.


"Abang kenapa?" Tanya Daniel yang tiba-tiba masuk ke ruang makan


"Dia capek, biar istirahat dulu!" Rita


Memberikan sarapan untuk Daniel dan Raffa.


"Lho, Emir kemana?" Daniel duduk di kursinya


"Dia akan datang agak siangan,Aku menyuruhnya ke supermarket untuk membeli daging topside dan tetelan. Tiba-tiba Aku ingin membuat bakso."


"Bakso? Meat ball? Pesan saja di restoran Itali"


"Bukan meatball itu, ini meatball Indonesia, pakai kuah..wah..segar deh.Kamu belum pernah coba ya?"Rita menerangkan dengan semangat, Daniel menggeleng.


"Nanti aku memasaknya, kamu cobain ya?"


"Boleh, kuahnya seperti sup daging ya?"


"Iya! Sekali coba, pasti ketagihan. Orang Indonesia senang makan bakso terutama saat udara dingin karena kuah bakso menghangatkan tubuh. Teman ku ketika umroh sampai antri untuk makan bakso di Mekah, padahal cuma sembilan hari di sana dia bilang kangen masakan Indonesia."


"Jadi penasaran, waktu di Indonesia kamu gak pernah kasih tahu makanan itu?"


"Iya ya? Di Jakarta ada orang yang jualan bakso sering lewat tapi aku takut gak bersih membuatnya."


"Memangnya gak ada restoran bakso di Jakarta?"


"Ada! Aku sampai lupa, kalau di Sukabumi aku punya warung bakso langganan. Nanti kalau ke Sukabumi aku ajak ke warung bakso itu" cerita Rita


"Mami, aku boleh makan bakso?" Tanya Ranna tertarik dengan cerita maminya.


"Boleh dong sayang, nanti mami potong kecil-kecil baksonya supaya kalian mudah makannya"


"Asyiikk!!" Ranna kegirangan


Beberapa saat kemudian, Rayya muncul dengan tas sekolah yang diselempangkan di tubuhnya, sus Eva mengikuti dari belakang.


"Lho, Adek mau sekolah?" Tanya Daniel tersenyum melihat anak bungsunya berpakaian lengkap siap ke sekolah.


"Heeh!" Jawabnya lucu


"Dia yang minta pakai itu semua" Jawab Eva tersenyum melihat tingkah anak majikannya.


Eva membantu Rayya duduk di kursinya.


"Dek, isi tasnya apa?" Tanya Daniel. Rayya membuka tas sekolah berwarna merah bergambar Penguin of Madagascar yang ia pilih sendiri ketika di toko buku kemarin. Ia mengeluarkan aneka mainan dari dalam tasnya.


"Mainan semua dek?"Rita tersenyum melihat bawaan anak bungsunya.


"Ya ampun .. menggemaskan sekali!" Daniel menggendong Rayya dan memeluknya gemas.


"Kamu jangan cepat gede ya, nanti papi gak bisa begini lagi" ujar Daniel menciuminya bertubi-tubi.


"Haa..papiii!!" Rayya mendorong wajah papinya agar menghentikan yang dilakukannya.


"Sudah Pi!" Rita mengingatkan,


"Habis lucunya gak ketolongan...aku mau bawa ke kantor tapi aku lagi banyak meeting"


"Kamu memperlakukannya seperti boneka!" Ujar Rita tersenyum


"Memang dia boneka ku!" Daniel mendekatkan keningnya ke kening Rayya gemas .


"Jadi hari ini yang sekolah kak Ranna dan dek Rayya ya? Tanya Rita.


Rayya melihat ke arah Raffa, ia meminta Daniel menurunkannya dari gendongan.


"Turun?"


"Ya!" Lepas dari papinya Rayya menghampiri Raffa, lalu mengusap tangannya


"Napa?" Tanyanya


"Capek!" Jawab Raffa sambil menyantap sarapan.


Tiba-tiba Rayya melepas tas sekolahnya.


"Lho kenapa dek?" Tanya Eva


"No ban no kul!" Jawabnya


"Hah?" Daniel bingung dengan ucapan anaknya, ia melihat ke arah Rita yang juga menggeleng gak mengerti yang dikatakan Rayya.


"Kata adek, gak ada Abang, gak mau ke sekolah!" Raffa menerjemahkan


"Begitu? ya sudah, adek di rumah saja ya, temani abang!" ujar Rita tersenyum


Eva kembali membantu Rayya duduk di kursinya.


"Kalian bisa makan di sini" ujar Rita kepada para baby sitter


"Di ruang pegawai sudah ada Bu, kami diminta kesana" jawab Ryan


"Aku heran, kalian kan kami yang bawa, kenapa harus makan terpisah seperti pegawai di sini?" Tanya Daniel


"Edna Ingin kami lebih dekat dengan karyawan disini pak supaya tidak ada eksklusivitas " ujar Ryan menerangkan


"Oh, baiklah!" Jawab Daniel

__ADS_1


Para nanny meninggalkan ruang makan dan pergi ke ruang makan khusus para pegawai.


"Rencana kamu apa pagi ini?" Tanya Daniel


"Aku mau bikin bakso saja dari kemarin aku kepengen banget!"


"Oh pantesan dari tadi malam tidur mu gelisah"


"Iya, aku kepikiran, gak sabar menunggu pagi"


"Anak keempat ini gak sabaran dan penyuka daging, waktu itu minta steak, sekarang bakso" ujar Daniel


"Kali ini dia kepengen aku yang membuatnya, semalaman aku terus terbayang cara membuatnya"


"Merepotkan juga ya?"


"Setidaknya aku sudah gak mabuk lagi"


"D'Ritz bagaimana?"


"Aku tetap online kok, komunikasi dengan para pegawai di sana InsyaAllah lancar"


"Baguslah! Kalau kuliah mu? Ujian skripsinya kapan?"


"Ah iya!, Aku belum melihat jadwalnya. Mungkin nanti sekalian"


"Kamu jangan terlalu capek, kalau bisa kegiatan bisa dikurangi " Daniel mengingatkan.


"Iya! Kalau ujian skripsi selesai dan dapat nilai, lega rasanya! Seperti pecah bisul!"


"Kamu kan ambil dua jurusan? Yang selesai skripsi baru satu kan?"


"Aku cuma ambil satu jurusan saja,


yang satu lagi aku lepas. Aku bukan kak Andi yang bisa kuliah dua jurusan, urusan ku sudah banyak!"


"Yang dilepas jurusan apa?"


"Hukum! Aku pilih ekonomi bisnis saja! Toh di sini ada juga mata kuliah hukum bisnis "


"OOO...aku baru tahu, kok gak cerita?"


"Mungkin aku lupa cerita, sebenarnya aku juga sedang ujicoba"


"Ujicoba?"


"Iya, aku lagi membuktikan apa benar ada pengaruhnya mengambil satu jurusan dan dua jurusan, ternyata berpengaruh sekali"


"Tentu saja berpengaruh!"


"Sejak nilai ku banyak yang jelek, aku terus memikirkan nasihat mu, lalu tanpa sengaja aku mendengar lagu berbahasa Minang dari YouTube, judul lagunya Ayam den Lapeh, disitu ada arti dari liriknya."


"Ayam den Lapeh? artinya apa?"


"Ayam ku lepas!"


"Hahaha...lucu ya judul lagunya, sebenarnya lagi itu bercerita tentang apa?"


"Tentang penyesalan penulis lagu yang ayamnya terlepas. Itu seperti perumpamaan dalam hidup. Salah satu liriknya yang mengena itu:


sikucapang sikucapeh, saikua tabang saikua lapeh "


"Artinya apa?"


"Yang dikejar tak dapat, yang sudah ada berlepasan jadi aku pikir daripada gak dapat semuanya lebih baik aku pilih jurusan yang paling aku minati dan ternyata memang berjalan sangat lancar!"


"Kamu unik juga ya?"


"Iya! Yang membuat mu memutuskan justru terinspirasi dari lagu, mungkin kapan-kapan kamu bisa memperdengarkan lagu Minang itu"


"Tentu saja!" Jawab Rita tersenyum.


Saat waktunya berangkat kerja, Ranna duduk di ruang tamu.


"Yuk Kak!"ajak Sus Erni yang sudah siap mendampingi Ranna ke sekolah.


"Kakak gak mau ke sekolah!" Jawab Ranna


"Lho kok gak mau? Tadi semangat?" Tanya sus Erni heran


"Adek pada gak sekolah"ujarnya kesal, ia melipat tangannya


Daniel ke ruang tamu menunggu jemputan mobilnya datang, ia mendengar ucapan anak sulungnya.


"Kakak itu jemputannya sudah datang?" Ujar Daniel,


"Kakak capek Pi" ujar Ranna beralasan


"Papi yang antar gimana?"


"Gak mau!" Ranna bersikeras, ia makin melipat tangan dan bersungut, wajahnya lucu sekali. Daniel mencubit pipinya gemas


"Ihh...anak papi menggemaskan semua!!" Daniel iseng menarik pipi Ranna gemas.


"Papii!! Sakit!!" Keluh Ranna, ia menghindari cubitan papinya.


"Mamii!!" Panggil Daniel


Rita datang dari dapur


"Ya Pi, ini bekalnya " ia membawakan bekal untuk makan siang suaminya


"Ini kakak gak mau sekolah!"


"Kenapa kak?" Tanya Rita


"Kakak capek mi sama kayak adek" jawab Ranna dengan mata memelas. Rita paham anak sulungnya tidak mau ke sekolah sendirian


"Ya sudahlah, hari ini kakak di rumah saja ya?"


"Boleh mi?" Tanya Ranna senang


"Boleh! Tapi besok sekolah ya?"


"Iya mi!" Ranna mencium pipi maminya lalu ke lantai 2 untuk berganti pakaian


"Bu, itu ada gurunya Ranna di mobil jemputan" ujar susErni


"Biar aku yang ijin, susErni temani Ranna saja di atas, dia suka jahil sama adeknya"


"Iya Bu" susErni segera ke lantai 2 menyusul Ranna.


Rita menemui guru piket yang ikut di mobil jemputan, ia menerangkan keadaan anaknya yang tidak sekolah hari ini, setelah menerima penjelasan Rita, guru dan mobil jemputan meninggalkan rumah.


Daniel memperhatikan Rita yang baru saja menemui guru anak-anak nya.


"Lho mereka gak sekolah ?" Tanya Daniel heran


"Enggak, biar mereka istirahat dulu di rumah"

__ADS_1


"Gak apa-apa?"


"Mereka belum 5 tahun gak perlu terlalu serius sekolahnya"


"Tapi kan sayang sudah bayar"


"Kalau sekali-kali ijin gak apa-apa. Aku menyekolahkan supaya mereka ada kegiatan di luar rumah daripada main tablet terus di rumah. Lagi pula mereka juga belajar di rumah"


"Kamu kan sibuk sama D'Ritz, apa sempat mengawasi mereka belajar?"


"Gak sibuk-sibuk banget, kalau anak-anak kan ada nanny mereka. Sedangkan untuk toko aku memantau secara online. Seru juga, aku seperti berada di sana. Bahkan bisa memberi instruksi langsung "


"Apa Erina gak marah?"


"Yaa, sepengetahuan Erina tentunya, aku juga menghargai dia lho"


"Bagus deh, Baiklah aku berangkat!" Daniel mencium pipi istrinya,


Allan dan mobil jemputan nya sudah tiba.


"Selamat Pagi Pak, Bu?" Sapa Allan


"Pagi!, Titip suami ku ya?" Canda Rita


"Siap Bu!" Allan jawab Allan tersenyum, ia membukakan pintu mobil untuk Daniel.


"Hati-hati di jalan!" Rita menunggu sampai mobil keluar rumah kemudian ia kembali ke dapur mempersiapkan bahan-bahan untuk baksonya.


Setengah jam kemudian, Daniel kembali ke rumah, ia ke dapur menemui Rita.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikummussalam!"


"Lho kok kamu balik lagi?" Tanya Rita heran


"Aku WFH saja hari ini, Aku memikirkan yang kamu lakukan, kenapa gak aku coba saja? Toh beberapa meeting sudah aku selesaikan kemarin."


"Yakin gak apa-apa? Kamu kan sudah lebih dari 5 tahun usianya " canda Rita.


"InsyaAllah gak apa-apa tadi aku sudah minta Allan untuk melaporkan hal yang terjadi di kantor. Lagi pula ada yang harus aku pelajari, kalau di kantor vibenya gak enak. Aku juga kepengen makan bakso buatan mu"


"Oalahh... ada-ada saja! "


Daniel ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Ia membuka tabletnya, dan menghubungi Allan


"Hei Allan!"


"Ya pak?"


"Aku stand by ya? Kamu bisa hubungi ku kapan saja!"


"Siap pak!"


Daniel menaruh tabletnya di meja samping ranjang lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menonton berita di TV.


"Papi!" Raffa menghampiri


"Sini bang bobo sama papi" Raffa naik ke ranjang dan tidur di samping papinya.


"Papoi!!" Ranna langsung naik ke ranjang dan duduk di samping Daniel, Rayya mengikutinya.


Ketiga anak itu berkumpul mengerubungi papinya. Para nanny turun ke bawah dan melapor ke Rita.


"Bu, anak-anak tidur bersama papinya!" Lapor Erni


"Oh begitu, ya sudah, kalian bisa istirahat dulu, kalau nanti dibutuhkan aku akan panggil"


"Baik Bu" ketiga nanny pergi ke ruang karyawan menunggu tugas.


Emir datang, ia membawa belanjaan pesanan Rita.


"Selamat siang!"


"Selamat Siang Emir! Pesanan ku?"


"Lengkap Bu!"


"Alhamdulillah"Rita tampak kegirangan


"Kamu bisa dapat bawang merah?"


"Bisa Bu, bumbunya saya beli di pasar China Town, disitu lengkap"


"Syukurlah, aku sempat khawatir gak dapat, soalnya tanpa bawang merah, rasanya akan lain"


"Ada yang bisa saya bantu Bu?"


"Kamu istirahat saja dulu, biar saya yang mengerjakan"


"Sous chef Nino bisa bantu cuci sayuran Bu"


"Ah iya, bisa buat mie? Ini resepnya "Rita memberikan resep mie kuning dan bihun.


"Siap Bu!" Nino menerima resep dan mulai membuatnya. Rita membuat kaldu dari tetelan dan membuat bakso dari daging topside.


Ia memasukkan semua bahan ke food processor, setelah bahan halus ia mencetak bentuk bulat dan memasukkan ke dalam panci berisi air hangat.Cukup banyak bakso yang ia buat. Ia juga membuat bakso ukuran kecil untuk anak-anak.


Kuah kaldu telah matang, Rita memasukkan bakso. Nino juga telah selesai membuat mie dan bihun.


"Taruh saja di situ, kamu duduk saja dulu " Rita sibuk memasukkan beberapa bumbu ke dalam kuah kaldunya.


Beberapa saat kemudian, bakso telah siap untuk disantap.


Rita meraciknya dan membuat 2 mangkok untuk Emir dan Nino


"Kalian coba deh!"


"Bagaimana?"


"Rasanya segar Bu!" Ujar Emir,


"Enak Bu!" Puji Nino


"Terimakasih!"


"Saya boleh dapat resepnya?" Tanya Emir


"Boleh dong!"


Rita meracik bakso untuk dirinya sendiri. Ia menyantapnya dengan lahap.


"Alhamdulillah..terpenuhi juga hajat si kecil!" Rita mengusap perutnya yang buncit.


"Nino, bisa tolong siapkan 4 mangkok, dan bawa ke kamar anak-anak? Aku pikir pak Daniel malas jalan kemari"


"Baik Bu!" Nino segera menyiapkan 4 mangkuk bakso, dia telah diberitahu kelengkapan bakso. Rita meninggalkan dapur dan naik ke lantai 2.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2