
Rita sedang sibuk di kamarnya mempersiapkan untuk pergi dinas luar pertamanya. Andi baru selesai dengan pekerjaannya masuk ke kamar Rita yang pintunya tidak terkunci
“Rit! Kog tumben pagi ini gak olga?”
“Rita lagi siap-siap kak!”
“Siap-siap kemana?”
“Om Radian ngajak Rita dinas luar”
“Dinas luar? Ke luar negeri? Emang bisa? Bukannya paspor lo sama kakek?”
“Bukan di luar negeri, masih di NZ kog, sekitar gunung gitu deh, namanya susah di sebut” ujar Rita sambil memilih pakaian yang akan dibawanya.”
“Sudah ijin kakek belum? Kalau gak salah beliau pulang minggu ini, gue ga ke Jakarta karena mau ketemu kakek dulu.”
“Oh ya? kakek pulangnya kapan? Seharusnya, Rita sudah di rumah pas kakek tiba di sini?”
“Kog tumben Om Radian ngajak lo Rit? Aneh! lo kan bukan staf beneran, cuma pemagang “ Andi duduk di sofa sambil mencoba syal rajut milik Rita
“Bukan Rita saja kog yang ikut, Daniel juga. Katanya beliau pengen mengajarkan hal basic tentang bisnis, salah satunya dinas luar ini. Meetingnya ngapain aja, tapi yang keren itu, Rita bisa paralayang dan paragliding, asyik kan?”
“oooo itu makanya lo semangat ?” kali ini Andi mencoba topi bucket putih dan mematut dirinya di depan cermin
“iya, habis Rita kesal, liburan ini dihukum kerja, kebetulan ada yang ngajak kerja sambil liburan, apa bukannya rejeki tuh?, kak Andi mau ikut?”
“Gak mau ah, kakak pikir Om Radian lebih suka sama lo dibandingkan gue.”
“oke semua sudah masuk ransel!” Rita membawa ransel untuk mendaki gunung, ia juga membawa 2 sepatu
“Jaket selalu dipakai Rit, bawa yang tebal sekalian, kita gak tahu cuaca sekarang mudah berubah.”
“Ah iya, Rita lupa beli tadi, karena kalau di Indonesia jaketnya gak setebal di sini, aku beli dulu dong. Waduh padahal sore ini kita berangkat.”
“sore ini? Kamis sore? Kalau begitu pakai jaket kak Andi saja, banyak kog!”
“Boleh kak?” Rita mengikuti Andi keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Andi
“Rita pikir kak Andi menempati kamar papa” baru kali ini Rita masuk ke kamar kakaknya.
Kamar Andi sama luasnya dengan kamar Rita, kamar bercat putih gading, dan jendela menghadap teras. Di atas meja kerja terdapat beberapa foto. Rita melihat foto-foto lama yang terpajang di atas meja kerja dan rak gantung. Andi memajang beberapa drone dan lego di lemari kaca.
“Kamar papa? Mana boleh? Itu kamar khusus untuk kakek. Beliau bilang, kamar papa gak boleh diganggu apalagi diganti. Lagi pula gue takut ah di situ. Pernah suatu kali kak Andi nyelinap masuk ke situ, penasaran kakek senang banget diam di kamar itu, terus gue ketiduran di atas ranjang. Walaupun setengah tidur gue merasa ada yang memperhatikan gue tidur, terus pas bangun badan gue udah diselimutin, padahal seingat gue gak ada selimut di situ”
“Kakek kali yang nyelimutin, atau staf rumah, masa hantu papa?”
“bisa jadi, tapi anginnya beda di situ, kalau di sini atau di kamar lo kan segar, kalau di situ anginnya aneh!”
“Itu karena menghadap ke arah yang beda kak, di situ gak banyak pohon, beda sama di sini.”
“Kalau ada pohon besar di situ tambah serem Rit, kalau malam ada yang gelantungan gimana?”
“Ah kak Andi nih, jangan nakutin dong!” protes Rita
“Nih Rit, pilih deh, bawa 2, kalau yang satu kotor ada gantinya!” Andi membuka lemari pakaiannya yang besar, di situ ada banyak jaket musim dingin dengan dominasi warna coklat tua, hitam, krem.
“Yang ini boleh kak?” Rita memilih jaket berwarna biru muda dan hijau army.
“Oh iya, lo suka warna itu ya, ambil Rit, buat lo saja. Sebenarnya dari awal beli belum pernah dipakai, karena warnanya bukan favorit.”
“Bukan favorit kog dibeli? Kan sayang?”
“Gue suka modelnya, pas, kantongnya banyak, padahal tebal tapi ringan. Ini Edisi pertama, yang warna army dan yang biru ini edisi kedua.”
“Ada edisi-edisinya?”
“Ada, berseri, nah edisi ketiga dan seterusnya baru deh keluar warna yang gue suka.”
“Survival” Rita membaca label jaket berwarna hijau Army
“Survival? Ahh itu gue gak beli, tapi dikasih! Itu mahal lho, belinya saja harus pre order!”
Rita memakai jaket itu, bagian hoodnya berbulu, jika hoodinya dipakai, ada tali kedagu dan menutup telinga
“Hangat!” Rita memasukan tangannya ke jaket
“Eh apaan ni?” Rita memegang tali kecil di dalam kantong jaket
“Jangan ditarik Rit, kalau menurut orang yang bikin, ketika kita kecebur danau, lo tarik tali itu, jaket ini akan mengembang seperti pelampung. Coba buka dulu deh jaketnya!”
Rita menuruti Andi.
__ADS_1
“Nih Rit, keren nih!” Andi meletakan jaket, lalu mencari resleting kecil, ia tarik pelan, ternyata ada ruang tempat barang-barang survival.
“Nih, ada korek api, pisau lipat, botol air lipat, senter laser, kompas dan ini , kalau lo tau kode morse, ini bisa lo ketuk-ketuk, ada kog panduannya.”
“semua masih berfungsi gak kak? Soalnya kak Andi gak pernah bawa ini kan?” Rita memperhatikan setiap barang dengan seksama
“Cek aja satu persatu!” ujar Andi melepas semua barang dari tempatnya
Rita mengecek senter, pisau lipat, korek api
“Kalau menurut orangnya, korek api ini istimewa, dia gak bisa mati walau terkena air”
“Wah gawat dong, jadi, matiinnya gimana?”
“Jangan kena oksigen, nanti nyala lagi, ntar terbakar lagi. Nih senternya masih berfungsi”
“Harusnya dia tambahin radio ht ya, kan kalau terperangkap kita butuh komunikasi keluar!”
“tambah mahal dong, ini sebenarnya prototype, orang presentasi bisnis ke kakek. Kakek suka idenya, dan berinvestasi tapi tiba-tiba beliau bete, karena orang tersebut menghadiahi ini ke kak Andi. Beliau bilang, Andi mau pergi kemana? Dengan jantung seperti itu!, galak banget deh!”
“Jadi disimpan begitu saja?”
“Iya, jadi kebetulan ada Rita yang suka nge-bolang, jadi gak mubazir ! Eh, botol airnya juga lucu, jadi ini botol air lipat, tapi kapasitasnya sampai dengan 2 liter, terus kalau airnya beku bisa dipanaskan langsung di atas api, seperti termos.”
“Wah keren, kalau gitu Rita ambil yang ini saja, yang biru gak usah!”
“Dua-duanya saja Rit, gue banyak kog, lagi pula kebanyakan jaket tapi gak dipakai , sayang. Rencananya gue mau sumbangin ke badan amal, biar ni lemari gak penuh kayak gini!” Andi menutup lemarinya yang padat dengan aneka jaket
Sore hari kira-kira pukul 4, Rita dijemput mobil jeep dengan ban agak besar, Radian dan Daniel telah ada di dalamnya
“Sore Pak!” sapa Rita sembari meletakannya ranselnya di Jeep, Daniel yang membawa mobil.
“Sore Rit, sudah bilang ke Andi kita nginap 3 hari 2 malam?”
“Sudah pak, tadi mau saya ajak, dia gak mau!”
“Andi itu orang rumahan, gak cocok outbond kayak kita, jalan Niel!” perintah Radian
Mobil jeep berwarna orange meluncur keluar dari pekarangan rumah, dan berjalan menuju gunung.
Di perjalanan mereka saling mengobrol
“Sebelumnya pernah naik gunung, Rit?” tanya Radian
“Oh kamu ikut bela diri juga? Sudah sabuk apa?”
“Ikut Om, kakek Sugiono mengharuskan semua cucunya setidaknya menguasai satu ilmu bela diri!”
“Oh ya? keras juga ya, semua harus bisa? Kalau Andi?”
“Kak Andi ikut, dia ambil pencak silat, itu baik untuk olga jantung, tapi hanya sampai sabuk kuning, setelah itu berhenti.”
“Kalau kamu Rit?”
“Kalau dari kakek Taekwondo, sudah sabuk hitam, karena di sekolah adanya karate, jadi Rita juga ikut karate, sabuk coklat. Seharusnya ujian kenaikan sabuk, tapi keburu pindah sekolah jadi tetap di sabuk coklat.”
“Wahh...gak heran ya kamu pemberani. Daniel ini sabuk hitam Judo .” ujar Radian menepuk punggung Daniel pelan
“Oh ya? setahu Rita Judo memang populer di Korea ya, Cuma itu pertarungan jarak dekat, banting membanting, berat itu!”
“Iya betul!” tiba-tiba Daniel ikut nimbrung percakapan
“Rit, kalau kamu mahir bela diri, banyak cowok yang takut dong sama kamu?” canda Radian
“Tergantung cowoknya sih Om, kalau mereka yang Cuma mau iseng-iseng saja biasanya pada menghindar, tapi kalau yang engga, biasa saja tuh.”
“Sudah punya pacar Rit?”
“Dulu punya Om, sekarang sudah gak ada!”
“Gak ada? Maksudnya putus?” goda Radian
“Bukan, yaa gak ada, sudah meninggal karena kecelakaan.” Ujar Rita dengan nada datar, sambil melihat ke arah jalan
Tiba-tiba suasana jadi hening, Radian tidak berkata apapun, begitu juga dengan Daniel.
“Kamu sudah konfirmasi malam ini kita datang kan?” tanya Radian ke Daniel membuka percakapan
“Sudah bos, satu rumah dengan tiga kamar.” Jawab Daniel
“Bagus, besok pagi kita paragliding dulu, siang baru meeting.” Ujar Radian tersenyum
__ADS_1
“Apa gak meeting dulu baru paragliding?” tanya Rita heran
“Orangnya datang siang, sayang kalau pagi gak kita gunakan, lagipula penginapannya gak jauh dari tempat meluncur, jadi kita bisa santai. Kalu musim salju kita bisa main ski di situ Rit.”
“tapi Om, apa engga apa-apa kita ke sana di musim peralihan seperti ini? Biasanya peralihan dari gugur ke dingin anginnya lebih kencang.” Ujar Rita lagi
“Justru itu Rit, Angin kencang cocok banget untuk paralayang!” Radian tersenyum senang, penampilan Radian lebih macho dari biasanya. Ia menggunakan kemeja kotak-kotak, celana jeans dan rompi tebal.
Tiga jam kemudian mereka tiba dipenginapan, jam menunjukkan pukul 7 malam, mereka di penginapan yang berbentuk rumah, telah tersedia berbagai hidangan makan malam.
Daniel membagikan kunci kamar, Rita langsung masuk ke kamarnya, perjalanan 3 jam cukup melelahkan, ia merebahkan tubuhnya sejenak di atas dipan yang nyaman. Kemudian ia teringat pesan Andi untuk mengabarinya begitu ia tiba. Ia mengambil ponsel dari saku jaketnya
“Tidak dapat sinyal!” keluhnya, kemudian ia keluar dari kamarnya, ia berpas-pasan dengan Daniel
“Daniel, aku gak dapat sinyal!” keluh Rita
“Itu karena di sekitar kita ada gunung, agak susah wifi, kita harus melakukannya secara manual!”
“Maksudnya?”
“Ada jaringan khusus telepon, tapi hanya ada di rumah utama”
“Jauh gak?”
“Cuma tiga rumah dari sini, kamu mau ke sana?”
“He eh!” Rita mengangguk
“Ayo sekalian aku antar, aku juga ada urusan di rumah utama.” Mereka berdua keluar dari rumah itu dan berjalan menyusuri jalan setapak, penerangannya remang-remang tapi cukup jelas untuk melihat jalan setapak.
“Di sini Indah tapi angker”, ujar Daniel tiba-tiba
“Oh ya? maklum ya gunung, pasti banyak penunggunya” balas Rita
“Aneh ya kamu gak takut, ah iya, Andi pernah cerita, kamu punya indera keenam, jadi tahu kalau dibohongi ya?”
“Daniel kenal kak Andi?”
“Dulu aku jadi baby sitternya, waktu pindah ke sini dari Korea, umurku 19 tahun. Andi masih 11 tahun waktu itu, Ia selalu di ajak kakek kemana-mana. Andi selalu bercerita tentang kehidupannya di Jakarta, dia bilang senang kalau ngumpul bersama Rita, selalu seru.” Cerita Daniel
“Daniel kerja sama kakek dari umur 19 tahun?”
“Iya, tapi selama itu, aku disekolahkan oleh kakek, bahkan hingga selesai kuliah, aku banyak berhutang budi pada beliau”ujar Daniel
“Apa kamu akan kembali ke Korea?”
“Mungkin aku akan mengajak ibuku pindah kemari!”
“Kenapa gak sekarang?”
“Ibuku masih ada kontrak kerja dengan salonnya, hingga tahun depan, jadi belum bisa pindah kemari.”
“Bagaimana dengan ayah Daniel?”
“Beliau meninggal karena sakit, kegagalan bisnisnya membuatnya menjadi peminum alkohol yang parah. Kalau pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, ia selalu memukul ibu, tapi esoknya beliau selalu minta maaf dengan tulus, pada suatu hari, aku mencegahnya memukuli ibuku, akhirnya aku yang terkena pukulannya hingga pipiku robek, ibuku tidak terima perlakuan ayahku, akhirnya mereka bercerai, aku ikut ibuku. Terakhir aku dengar tahun lalu, ayahku terkena kanker pankreas karena terlalu sering mabuk, mayat beliau ditemukan membeku di depan kedai tempat ia mabuk.”
“Maaf, Aku turut prihatin Daniel!” Rita mengusap punggung Daniel
“Ini pertamakalinya aku bercerita tentang keluargaku pada orang lain. Benar juga yang Andi bilang, dekat dengan Rita itu banyak energi positifnya, dan kita merasa nyaman” Daniel tersenyum manis
“Deg!” tiba-tiba jantung Rita berdebar kencang melihat senyuman manis Daniel
“Kenapa nih?” pikirnya, ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Daniel
Mereka sampai di rumah utama, karena jaringannya hanya terbatas, mereka terpaksa mengantri.
“Nih Rit, kartunya, untuk menelpon pakai jaringan ini pakai kartu ini, seperti pulsa pra bayar.” Daniel memberikan kartunya kepada Rita
“Terimakasih!” Rita mengambil kartu dan tersenyum girang
Di depan antrian, seorang anak lelaki, tinggi langsing, rambutnya pirang, wajahnya cukup tampan, kelihatannya ia agak kesal dengan orang yang ia ajak bicara di telepon. Ia menutup telepon dengan kasar dan langsung pergi. Giliran selanjutnya Rita, kartu orang itu tertinggal di telepon umum.
“Maaf kartumu tertinggal!” Rita memberikan kartu itu kepada anak lelaki itu
Dengan segan anak itu mengambil kartu dari Rita, tanpa mengucapkan apa-apa
“Heh!” lalu ia pergi, Rita tidak begitu peduli dengan reaksi orang itu, karena di pikirannya hanya untuk menghubungi Andi. Beberapa menit kemudian, ia selesai telepon dan ia menghampiri Daniel yang membawa tiga lampu minyak tempel
“Ini untuk apa? Bukankah ada generator di penginapan?” tanya Rita
“Ini untuk persiapan, tahun lalu cuaca malam memburuk, bensin di generator membeku, penginapan gelap gulita, akan lebih baik kalau kita bersiap!” Daniel memberikan satu lampu kepada Rita, lalu mereka kembali ke penginapan. Ketika keluar dari penginapan bersama Daniel, sayup-sayup ia mendengar suara minta tolong
__ADS_1
-bersambung-