
Rita masih dalam kondisi koma, Ratna terus menemaninya di sisi tempat tidurnya. Wajahnya tampak, bersedih.
“Bu, ini!” Daniel memberikan secangkir kopi untuk Ratna
“Ah,Niel! Kamu baru datang?, terima kasih!” Ratna menyeruput kopi hangat yang di bawa Daniel
“Ibu, istirahat saja, biar saya yang jaga di sini. Bukankah sejak semalam ibu di sini?”
“Tak apa, kamu boleh panggil aku mama!” Ratna tersenyum, ia menyandarkan tubuhnya di sofa empuk yang sengaja di pindahkan ke kamar Rita.
“Aku selalu merasa bersalah pada Rita. Anak ini selalu menelan penderitaannya sendiri, tidak pernah mengeluh sedih atau susah.” Ratna menghela nafas dan kembali meminum kopinya, Daniel mengangguk-angguk menyimak perkataan Ratna
“Waktu dia berusia 5-6 tahun, Ia pernah melihat papaku memukuli Reza hingga babak belur. Rita baru saja bangun dari tidur tiba-tiba mencari ayahnya. Ia menemukan ayahnya di ruang kerja papaku sedang dihakimi. Tanpa ragu, ia berlari dan menjadi tameng bagi ayahnya, ia terus menangis, memohon supaya papa menyuruh pengawalnya berhenti memukuli. Tapi papa bergeming, ia tidak peduli dengan suara tangisan Rita. Kemudian ia menyuruh seorang pengawal membawa Rita pergi dari tempat itu. Entah dari mana ia mendapatkan ide, ia mengambil salah satu koleksi gucci termahal milik papa, ia mengancam akan memecahkannya bila papa tidak melepaskan ayah. Saat itu, papa menjadi sangat marah pada Rita, tapi ia tidak peduli, ia mulai memecahkan lemari kaca, bahkan ia mengancam akan melukai dirinya dengan pecahan kaca itu. Mereka berdua saling menatap tajam. Akhirnya papa mengalah, ia melepaskan dr.Reza, tetapi ia tidak boleh lagi menginjak rumah itu, kami pun terpaksa bercerai.”
“Bagaimana dengan dr.Reza?”
“Ia juga sangat kaget dengan tindakan Rita, tapi ia juga sangat bersyukur, karenanya ia bisa keluar dari rumah itu tidak dalam kondisi cacat atau mati.
Dulu sebelum usahanya legal, papaku pernah bergelut di dunia mafia. Dunia itu yang membuatnya menjadi sosok yang keras dan ditakuti, dan Reza tahu itu.”
“Bagaimana dengan Rita?”
“Sejak kami berpisah, Rita bertemu ayahnya seminggu sekali. Papa sering mengancamnya melarang bertemu ayahnya jika ia tidak rajin berlatih taekwondo”
“Oh, Rita sejak kecil sudah dilatih ?”
“Papa mewajibkan kami semua mendalami salah satu ilmu bela diri, terutama taekwondo”
“Untuk apa?” tanya Daniel heran
“Dunia bisnis papa keras, banyak yang sering mengancamnya dengan menculik salah satu dari kami. Untuk itu papa mewajibkan kami semua untuk mahir bela diri”
“Gak heran ya, Rita begitu tangkas” ujar Daniel kagum
“Kamu bagaimana Niel? Sejak kapan kamu menyukai Rita?” tanya Ratna penasaran
Daniel tersenyum manis, mengingat pertemuan pertamanya dengan Rita
“Waktu itu, Aku baru saja tiba di Auckland, pak Radian menyuruhku mampir ke butik langganannya untuk mengambil setelan jas yang akan dipakai malam harinya. Karena mobilku masih dibengkel, jadi Aku mengendarai motor ke butik itu. Sesampainya di sana, tiba-tiba seorang cewek menghampiriku dengan tergesa, ia bilang meminjam motorku untuk mengejar tantenya yang diculik! Aku sangat heran dengan tidak sadar aku langsung memberikan motorku, dengan lincah ia mengendarai motor itu seperti pembalap. Andi menghampiriku untuk menjamin motorku akan kembali. Sepertinya Andi tidak mengenaliku, padahal Aku pernah menjadi pengasuhnya saat ia berusia 11 tahun”
“Ooo, peristiwa Metha diculik pacarnya itu ya? oh motor kamu yang dirusaknya?”
Daniel mengangguk dan tersenyum
“Padahal Aku tidak meminta ganti, apalagi setelah tahu bahwa yang meminjam itu cucu majikanku”
“Sejak itu kamu langsung menyukainya?” tanya Ratna
“Belum, tapi Aku tertarik padanya. Anda tahu pak Radian terkenal dengan sikapnya yang rewel?, banyak asisten yang resign karena permintaannya yang aneh-aneh. Tetapi cuma Rita yang menanggapi kerewelan pak Radian dengan santai. Ia begitu tekun, bahkan ia tidak takut ketika salah satu klien memarahinya karena pak Radian mengubah jadwalnya seenak hatinya. Suatu ketika pak Radian menyuruhnya menyetir speedy boat, eh dia malah ketagihan, sementara pak Radian ketakutan karena cara menyetirnya yang ugal-ugalan” Daniel tersenyum mengingat hal tersebut
“Lalu sejak kapan?”
“Mungkin sejak kami terperangkap di gunung. Aku melihatnya sebagai sosok yang tegar, tetapi juga rapuh. Ia taat beribadah, peduli pada orang lain, menghormati yang lebih tua. Ditambah lagi ia sangat cantik, walau tanpa riasan” puji Daniel
“Hmm...Rita harus mendengar pendapatmu mengenainya” ujar Ratna
“Apa mungkin ia bisa kembali kepada kita?” tanya Daniel, matanya tersirat kesedihan
“Kita sama-sama berdoa dan berusaha Niel, oh iya Mama mau kembali ke rumah dulu ya, mungkin nanti malam mama kembali kemari!”
“Baik bu, eh ma!” Ratna menepuk punggung Daniel, ia mengambil tas jinjingnya lalu pergi meninggalkan kamar Rita.
Daniel mendekati Rita yang sedang tertidur dengan banyak alat terpasang di wajahnya. Ia memegang tangan Rita dan mendekatkan wajahnya ke telinga Rita, membisikkan sesuatu
“Aku sungguh mencintaimu Rita, kembalilah padaku! ” bisik Daniel
Sementara Rita yang sedang berada di alam bawah sadar, ingatannya kembali ke masa ketika ia masih menjadi siswa kelas 7 SMP.
“Rita, untuk sementara kamu tinggal di rumah kakek ya?” ujar Reza
“Tapi Yah, kenapa Rita gak boleh ikut Ayah? Waktu di Timor Leste Rita boleh ikut kan?”
“Beda Rit, waktu di Timor Leste kita tinggal di RS TNI, sudah pasti aman. Kalau sekarang selain RS juga puskesmas atau perumahan penduduk. Katanya KKB sering menyerang RS atau perumahan penduduk. Kamu akan terus membuat ayah khawatir jika kamu tinggal di salah satu rumah penduduk”
“Tapi Yah, apa kakek gak apa-apa? Mama ada yah?”
“Justru Kakek yang minta kamu tinggal di rumahnya untuk keamanan kamu. Mama sedang sekolah di Perancis, sedangkan Andi berada di kakeknya yang satu lagi”
“Yah, berarti Rita Cuma sendirian dong di sana?”
“Kan ada sepupu yang lain?”
“Sepupu yang lain takut main sama Aku yah, katanya dilarang Robby, kalau ketahuan mereka main sama Rita, mereka akan dihajar Robby”
“Hmm...ya sudah kamu main sama staf-staf di sana saja ya? lagi pula kamu sudah didaftarkan di sekolah baru”
“Oh ya? berarti Rita pindah lagi?”
“Iya, gak masalah kan? Rita kan anak pemberani!” bujuk ayahnya, Rita mengangguk terpaksa setuju.
Reza pergi pamit kepada Kakek Sugiyono, setelah itu ia mencari Rita untuk berpamitan kembali, tetapi ia tidak menemukannya, akhirnya ia terpaksa berangkat tanpa menemui Rita lagi. Taksi yang ditumpangi Reza menjauhi pekarangan rumah besar, sayup-sayup Reza mendengar namanya dipanggil
“Ayah!!!”, Reza memalingkan wajahnya mencari sumber suara
“Rita?” pikirnya, ia menoleh kebelakang tidak ada seorang pun, tetapi suara panggilan itu makin keras
“Dimana?” pikirnya lagi
“Lihat ke atas !!!” ujar suara itu lagi, Reza menoleh ke atas, ternyata Rita memanjat pohon yang tinggi, berdahan lebat dan besar.
__ADS_1
“Selamat jalan Ayah!, Kembali dengan Selamat!!!” teriaknya, Reza sangat khawatir, ia bingung bagaimana Rita bisa memanjat pohon begitu tinggi
“Rita turun!!!” teriaknya khawatir dari dalam taksi yang tetap melaju, sepertinya Rita tidak mendengar, ia terus melambaikan tangan, air mata mengalir di kedua pipinya
“Kembali dengan selamat ayah!” gumamnya bersedih. Taksi yang membawa Reza sudah tidak nampak lagi, Rita belum mau turun dari pohon yang tinggi itu, hingga seorang pekerja memanggilnya
“Neng Rita! Dipanggil tuan!!!”
“Iyaa!!!” dengan tangkas Rita menuruni pohon yang tinggi itu, setelah sampai di bawah ia segera menemui kakeknya
“Rita! Berapakali kakek bilang, jangan memanjat pohon, nanti kalau kamu jatuh bagaimana?” omel kakeknya
“Tapi Rita ingin mengucapkan selamat tinggal sama ayah, Kek!”
“Memang gak bisa dengan cara biasa gitu, di bawah sini, gak usah dari atas pohon?”
“Kalau di bawah sini, Rita takut gak bisa melepaskan ayah Kek, jadi lebih baik dari tempat tinggi saja!”
Sugiyono menggeleng-geleng
“Besok kamu sekolah di tempat sepupu-sepupumu ya?”
“Iya Kek!” Jawab Rita menurut
“Perlengkapan sekolah kamu sudah ada di kamarmu, segera rapikan untuk besok, kakek tidak mau dengar kalau besok ada yang tertinggal!”
“Baik Kek, Rita pamit dulu!” ia pergi meninggalkan ruang kerja kakeknya menuju kamarnya. Di dalam kamar yang besar bernuansa pink itu, telah disediakan tas sekolah, sepatu beserta seragam sekolah. Rita membaca lembar pemberitahuan seragam yang harus ia pakai besok.
“Oh, baju olah raga” gumamnya. Ia pun menyiapkan buku-buku yang harus ia bawa.
Keesokan harinya, ia bangun lebih pagi seperti biasa, setelah sholat subuh ia sedikit melakukan pemanasan. Setelah selesai ia sarapan pagi, tapi ada yang aneh pagi itu, ia tidak menemukan para sepupunya, ketika sarapan, ia bertanya kepada staf dapur
“Mba, para sepupu kemana ya?”
“Mungkin mereka sudah berangkat neng!”
“hah? Baru pukul 6? Yakin?”
“Entahlah, karena saya juga baru bertugas di sini” jawab staf dapur
Rita kembali menyantap omelet dan roti toastnya,
“Mba, kakek eh tuan kog gak sarapan?”
“tuan sarapan pukul 8 pagi Neng!”
“Ooo, jadi saya terlalu pagi ya sarapannya?”
Staf dapur tadi mengangguk, setelah selesai sarapan Rita masuk ke dapur yang sedang sibuk, ketika Rita memasuki dapur, suasana dapur yang semula ramai menjadi hening, bersama mereka mengucapkan salam
“Selamat Pagi Neng Rita!”
“Wah dapur ini belum banyak berubah ya?” ujarnya senang. Salah seorang staf dapur segera menutup ruang pendingin, mereka trauma dimarahi habis-habisan oleh kakek karena kejadian Rita terkunci di ruang pendingin
“Tenang! Saya gak akan masuk ke ruangan itu lagi!” ujarnya tersenyum, para staf dapur bernafas lega
“Phiewww!!!”
“Saya mau minta tolong untuk dibuatkan bekal makan siang. Sepertinya sekolah akan selesai sore hari”
“Baik, neng Rita minta dibekalkan apa? Apa perlu nanti jam makan siang salah satu staf mengantarnya ke sekolah?”
“Hmm...gak usah, saya bawa dari sekarang saja. Lagi pula terkadang saya sering ingin ngemil”
“Baiklah, mau dibawakan apa?”
“Saya mau : Bento udang, beef teriyaki, mayo risoles, chicken nugget, french fries dan jus semangka”
Staf mencatat permintaan Rita
“Ada lagi neng?”
“Boleh ditambah nasi merah sedikiiittt saja!”
“Baik Neng, akan segera kami siapkan!”
Rita keluar dapur dengan wajah riang, salah satu yang paling ia sukai di rumah kakek yaitu ia bisa meminta makanan apa saja, karena sumber makanan di rumah besar itu tidak ada habisnya. Sambil mengambil potato snack dari lemari persediaan, Rita kembali ke kamarnya. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah hari itu, ia pun turun dengan membawa tasnya.
“Wah baru jam setengah 7” gumamnya, ia duduk di sofa di ruang depan. Bekal makan siangnya telah tersedia
“Kereenn!!!”gumamnya, tak lama pak Umar supir datang menghampiri
“Neng Rita mau berangkat sekarang?”
“Iya ayo!” jawabnya bersemangat, ia membawa tas dan bekal makan siangnya.
Butuh 30 menit sampai di sekolah barunya. Sesampainya di sana ia sangat bingung mengapa sekolah masih sepi?. Ia pun turun dari mobil
“Pak umar, apa betul ini sekolahannya?”
“Betul Neng, saya selalu mengantar para sepupu Neng kemari”
Rita keluar dari mobil dan menemui satpam penjaga sekolah
“Pak, kog gerbangnya belum dibuka?” tanyanya bingung
“Oh sekolah ditutup selama seminggu dek, untuk di desinfektan. Semua murid belajar di rumah seminggu ini”
“Hah? Kok saya gak diberitahu?”
__ADS_1
“Sudah diberi edarannya kog!, coba cek lagi.” Ujar satpam
Rita membuka map berkas pendaftaran yang akan ia berikan kepada wali kelasnya
“tuh gak ada!” ujarnya heran
Satpam ikut mencari lembar pemberitahuan di map tersebut
“Iya ya tidak ada, tapi pemberitahuan seragam ini juga salah. Ini peraturan memakai seragam tahun lalu” ujar satpam itu, kemudian ia kembali ke posnya dan memberikan 2 lembar pemberitahuan
“Ini dek, yang pertama pemberitahuan sekolah libur seminggu, yang kedua peraturan pemakaian seragam. Di sekolah ini pemakaian seragam salah satu poin yang dinilai jadi tidak boleh salah!” ujar satpam itu
“Ohh begitu, baiklah pak. Terimakasih banyak!” Rita meninggalkan pos satpam dengan bersungut
“Siapa yang ngerjain gue nih!” gumamnya kesal.
“Kembali ke rumah pak!” pintanya
Pak Umar menuruti Rita, mereka kembali ke rumah. Sesampainya di rumah ia disambut Robby yang tertawa geli
“KENA DEH!!!Sekolah tutup tahu!” ledeknya sambil tertawa geli
Rita melihat ke arah Robby dengan wajah kesal, semula ia ingin memukul wajahnya yang menyebalkan tetapi ia bersyukur setidaknya ia bisa mendapatkan info yang jelas dari sekolah. Rita kembali ke kamarnya, dengan langkah terseok
“Awas deh, kapan-kapan gue balas!!!” gumamnya, sementara Robby terus tertawa melihat reaksi Rita
“Gak Lucu !!!” sungutnya lagi, ia membanting dirinya di ranjang besar . Kegalauannya membuat lapar lagi, akhirnya ia menghabiskan bekal makan siangnya setelah berganti pakaian ia turun mengenakan pakaian taekwondonya.
Ia menghampiri Robby yang sedang menjaili kucing peliharaan kakeknya
“Heh! Kalau ada masalah sama gue, ayo kita tanding saja! Jangan main culas seperti itu!” tantang Rita
Saat yang bersamaan kakeknya menuruni tangga
“Ada apa Rita?” tanya kakek dengan nada tegas
“Robby Kek, dia menyembunyikan informasi penting dari sekolah, padahal sekolah sedang ditutup!”
“Hah? Ditutup? Kenapa? Kakek juga baru tahu”
“Seminggu kek untuk Desinfektan karena ada siswa yang terkena cacar air beberapa hari lalu. Robby juga memalsukan info mengenai seragam sekolah. Padahal pemakaian seragam masuk ke poin nilai.”
“Hahaha” Robby tertawa geli
“Lucu kan kek? Dia datang ke sekolah pagiii banget eh sekolahnya tutup! Emang enak?” ledeknya
Rita menarik kaos Robby
“Ganti baju! Kita tanding di sini sekarang!” ujarnya kesal
Robby menepis tangan Rita, ia melihat ke arah kakeknya. Tiba-tiba kakeknya memiliki ide cemerlang
“Kakek setuju dengan Rita, Robby kamu ganti pakaian! Kalian bertanding di aula, kakek akan menyiapkan arena bertanding untuk kalian! Menurut kakek perselisihan kalian harus diakhiri dengan pertandingan yang adil”
Robby menuruti kakeknya, ia mengenakan seragam taekwondonya lalu masuk ke aula. Disana para sepupu dan staf juga kakek telah menunggunya. Kakek memberikan arahan
“Ingat, tidak ada peraturan khusus, kalian boleh menggunakan jurus apapun, tetapi tidak dibolehkan menggunakan sajam!. Siapapun yang kalah dalam pertandingan ini tidak boleh membalas dendam, jika aturan ini dilanggar, kakek akan menghukum dengan tegas!” ujar Kakek
Rita telah siap diposisinya, begitu pula dengan Robby. Pelatih taekwondo mereka datang dan menjadi wasit
Pertandingan di mulai!
Babak pertama Rita unggul, Robby membalasnya di babak kedua. Setelah babak ketiga keduanya berakhir seri. Baik Rita maupun Robby sama-sama mengalami luka dihidungnya.
“Kalian seri!” teriak wasit
“Saya keberatan!” teriak Rita
Kakek kaget melihat Rita yang meskipun berdarah ia bersikeras melanjutkan pertandingan
“Kakek! Robby membully saya berkali-kali, kalau pertandingan ini seri, maka ia akan terus membully Rita. Pertandingan ini tidak akan selesai sebelum Rita yang menang! “ teriak Rita marah
Kakek Sugi menatap Rita tajam,
“Anak ini! Berani sekali, ia tidak takut dengan hukumanku “ pikirnya, kemudian ia bertanya pada Robby
“Bagaimana Robby, kamu mau melanjutkan?”
Robby mengelap hidungnya, ia tertawa mengejek
“Huh siapa takut! Lo cuma cewek!”
“Berarti lo setuju kita tanding sampai siapa yang pingsan duluan ya?” tantang Rita
“Ayo! Gue gak takut!” tantang Robby lagi
Kakek memberikan tanda pada wasit untuk melanjutkan pertandingan. Pertandingan pun dilanjutkan, tetapi pertandingan lanjutan tidak menggunakan jurus-jurus taekwondo, tetapi lebih ke arah gigitan dan jambak. Rita yang sudah sangat kesal dan tidak bisa lagi menahan emosinya, ia berhasil membanting Robby, kemudian ia menarik kaki Robby dan memutarnya Robby mengerang kesakitan
“Argghhh!!” ,
“Mending lo pura-pura pingsan saja, dari pada gue bikin cacat!” teriak Rita kesal, ia menarik kaki Robby yang satu lagi dan akan melakukan hal yang sama, semua penonton terdiam ngeri, tetapi beberapa anak yang sering diisengi Robby menyukuri.
“Cukup Rita!!!” teriak Kakek menghentikan. Rita melepaskan kaki Robby
“Sekali lagi lo begitu sama gue, bukan hanya kaki lo yang rusak!” teriak Rita ,
ia pergi meninggalkan aula. Rasa sakit karena gigitan , jambakan dan pukulan Robby tidak ia indahkan, yang penting balas dendamnya terpenuhi.
_bersambung_
__ADS_1