
Pagi itu Tasya pergi bersama salah satu asisten papanya ke pasar, mereka bertemu Rita di halaman depan hotel.
“Selamat pagi kak!” sapa Tasya
“Pagi Tasya! Kamu mau kemana?”
“Mau ke pasar kak, ikut Gek Lina ini”
“Kakak boleh ikut?”
“Boleh Gek?” Tanya Tasya
“Boleh, yuk mumpung masih pagi!” mereka bertiga pergi berjalan kaki.
Suasana menuju pasar masih sepi, hanya beberapa orang yang sedang berolah raga terlihat lalu lalang. Udara masih segar.
“Segar ya udaranya!” ujar Rita menghirup nafas sedalam-dalamnya.
“Iya kak! alamnya indah sekali, Apa Tasya tinggal sama papa saja ya?” ujar Tasya
“Julukannya saja pulau dewata, pasti Indah!” ujar Rita
Rita, Tasya dan Lina tidak memperhatikan mobil hitam yang sejak dari gerbang hotel mengikuti mereka.
Kira-kira sejam kemudian, Lina minta Rita dan Tasya kembali lebih dulu, karena masih ada yang harus ia beli. Rita dan Tasya kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Di perjalanan, dua orang lelaki menghampiri mereka.
“Diantara kalian berdua, mana yang anaknya pak Dodi?” tanya si buncit
“Saya anaknya!” Jawab Rita segera sebelum Tasya yang berbicara.
“Ayo ikut kami! Ada yang kami ingin bicarakan!” ujar mereka memegang tangan Rita.
“Tunggu sebentar! biarkan adik ini pulang , dia anak tetangga!” ujar Rita
Tasya merasa ada yang tidak beres dari pengakuan Rita,tapi ia mulai takut. ,
“Tasya pulang duluan ya, bilang sama papa, Rita pergi bersama Om ini!” ujar Rita
Tasya bingung, kenapa Rita memanggil papanya dengan sebutan papa, tapi ia mengikuti perintah Rita. Ia berjalan dengan perlahan, kemudian ia berlari.
Setelah Tasya tidak terlihat lagi, Rita dipaksa masuk ke mobil Nyaris berwarna hitam. Di dalam mobil, tangannya diikat dan kepalanya ditutupi sarung bantal.
Tasya yang tadi berlari, sebenarnya ia bersembunyi dan diam-diam kembali ke tempat semula. Ia melihat Rita yang dipaksa masuk ke mobil. Tasya yang mulai menyadari apa yang terjadi, berlari kencang menuju hotel.
“Papa..papa..teriaknya!”
Satpam hotel kebingungan melihatnya menangis terisak.
“Tenang Dik ada apa? Tanya salah satu satpam
“Papa saya?” Tasya berkata sambil terisak.
Satpam hotel membawanya ke kantor pak Dodi, kebetulan di sana ada Aldi yang sedang bermain game di komputer papanya.
“tok-tok-tok” satpam itu mengetuk pintu kantor.
Tasya yang sudah tidak sabar langsung membuka pintu kantor dan mencari papanya
“Kak Aldy papa mana?” tanyanya sambil menangis
Aldy yang tidak mendengarkan karena headphone di kepalanya. Tasya menarik headphone dari kepala Aldy
“Kak!!! Papa mana?” tanyanya berteriak
“Apaan sih lo?” ujar Aldy kaget sekaligus marah.
“Papa mana kak?” tanyanya masih menahan isaknya
“Lagi inspeksi nanti juga kemari, ada apaan?” Aldy menatap adiknya
“Kak, Kak Rita di bawa orang,..hu...hu..hu...tangisnya pecah!”
“Maksudnya dibawa orang?” tanya Aldy bingung
Beberapa saat kemudian Dodi datang.
“Papa, hu..hu...hu...kak Rita dibawa orang..ia diculik!” ujar Tasya
Dodi tidak percaya perkataan tasya.
“Kamu kalau bercanda jangan keterlaluan Tasya! Tegur Dodi
“Bukannya kamu suka dengan kak Rita?” sambungnya
“Tasya ga bohong pa!” Ia mulai menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.
Mendengar cerita Tasya yang masih menangis sedih, setengah tak percaya , Dodi menghubungi penasehat hukumnya. Darinya ia tahu, bahwa orang bisa dikatakan hilang bila tidak ada kabar 1x24 jam.
Ratna yang mendengar kabar tentang Rita, pingsan. Andi menemaninya di kamar.
Dewa masih berada di kamar Rita. Ia mencari petunjuk, belum terpikir olehnya untuk membuka ponsel Rita.
Di tempat lain.
“Kalian membawa dia tanpa menutup kepalanya?”
“Kami tutup di mobil bos!”
“ketika membawanya, dia melawan?”
“Tidak bos! Dia sangat kooperatif!”
“Hmm ..Kalian yakin dia anak pertama Dodi?”
“Dia bilang begitu bos!”
“Kalian memperhatikan sekeliling? Apakah ramai?”
“Biasa saja bos, walaupun ada kemacetan sedikit ketika kemari!”
“Di jalan, sebelum masuk mobil, apa ada yang melihat kalian bersama-sama?”
“Ada beberapa orang bos, tapi saya ga yakin mereka memperhatikan kita!”
“Plak! Si Bos menampar si botak
“Bodoh kalian! Dari mana kalian tahu mereka tidak memperhatikan? Rambutnya sangat mencolok!”
Ketiga orang tersebut saling berpandangan. Tidak terpikir oleh mereka rambut Rita dapat menyulitkan mereka.
“Jadi bagaimana bos? Apa kita lepaskan?”
“Plak!”kali ini bos memukul si kurus.
“Sudah terlanjur!, kita sudah bertindak, tidak bisa mundur lagi!” ujar si Bos
“Bawa dia ke ruang basement! Jangan lakukan apapun sebelum ada perintah dari ku!”Perintah si Bos
Rita yang masih tertutup matanya di bawa turun. Selama itu ia mengitung langkahnya. Sepanjang perjalanan ia mempertajam pendengarannya. Ia juga berharap Andi atau Dewa bisa membaca pesan yang ia tinggalkan di ponselnya.
Beberapa saat kemudian, seseorang datang.
__ADS_1
“Bagaimana, sudah dapat anaknya si Dodi?” tanya lelaki itu
“Sudah, dia ada di basement!, Kita tunggu berita di TV!”
“Kenapa?”
“Itu artinya mereka telah siap memberikan apa saja untuknya!”
“Hmmm....”orang tersebut terdiam.
“Ngomong-ngomong Joey, ada masalah apa dengan bos lo?” Tanya Budi si Bos penculik
“Mantan bos!” jawab Joey
“Oh..mantan bos, masalah apa lo sama dia?”
“Dodi, dia bos yang pelit dan tidak ada belas kasihan. Gue Cuma tidak menyetorkan iuran BPJS karyawan. Gue langsung dipecat!”
“Sudah berapa lama lo ga setor?”
“ Cuma setahun!”
“Duitnya lo pakai?”
“Yahhh...gue pikir ga bakal ketahuan, ga tahunya ketahuan juga!”
“Itu namanya penggelapan!, Kalau gue jadi Dodi juga akan melakukan hal yang sama!”
“Heh Bud!, lo dan gue sama! , sesama penjahat jangan saling menghakimi!” ujar Joey Galak
“Gue bukan penjahat, gue debt colector!” tukas Budi
“Sama saja kan? Cuma bahasa lo beda, mana ada debt colector yang nahan anak orang! Narik motor atau mobil itu biasa masa nyandera?”
“Ini kan permintaan lo! Kalau gue ga punya hutang budi sama mendiang kakak lo, ga mau gue !”
“ Resiko besar kayak gini! Emang enak di penjara?” tambah Budi
“ Dodi memberikan referensi buruk tentang gue, akhirnya gue jadi pengangguran.”
“Apalagi yang gue ambil dari dia ga bikin dia miskin!”
“Setelah lo dapat uang lo dari si Dodi kita impas!, lo ga boleh lagi mengingat jasa kakak lo sama gue!”
“ Lo yakin ga mau uangnya?”tanya Joey
“Ga usah, asal Lo ga ungkit jasa kakak lo ke gue sudah cukup!”
“Beres Bos!” ujar Joey tersenyum licik. Jadi mana anaknya?
“ada di basement bawah!”
Orang bernama Joey itu berlari sambil bersenandung kecil menuruni tangga.
Dinyalakannya lampu basement. Ia mencari Tasya atau Aldy, yang dilihatnya ngadis berambut merah dengan mata yang masih ditutup. Kemudian ia kembali ke atas.
“Bud, di bawah Cuma ada gadis berambut merah?” tanya Joey
“Itu anak pertama Dodi!” jawab Budi bersikeras.
“Dodi memang punya dua anak, lelaki dan perempuan. Nah yang perempuan waktu terakhir ketemu usianya delapan tahun. Sedangkan yang lelaki sekarang sekitar 16 tahun.” Ujar joey menjelaskan.
“Sarip!!” Budi memanggil si Botak,
Sarip yang berada di ruang sebelah, datang menghampiri Budi
“Ya Bos?”
“Lo yakin ambil orang yang tepat?” tanya Budi
“Tadi lo bilang waktu ambil gadis itu ada anak kecil?” Tanya Budi
“Betul Bos, gadis itu bilang, anak itu harus pulang !”
“Plak..plak.” Budi memukul Sarip berkali-kali
“Tolol!!! Hardiknya.
“Salah saya apa Bos?” tanya Sarip bingung, ia memegang pipinya.
“Yang kecil itu anaknya si Dodi Tololll!”ujar Budi dengan marah
“Jadi yang kita bawa siapa bos?” tanya Sarip bingung.
“Ga tahu! Bawa dia kesini!” perintah Budi
Sarip pergi ke lantai basement, dan menarik Rita untuk ikut dengannya.
“Ayo ikut!” hardiknya kasar
Rita mengikuti perintah Sarip.Ia menurut ketika Sarip membawanya ke lantai atas.
Di lantai atas, ia didudukan di sebuah kursi kemudian tubuhnya diikat di kursi.
Joey membuka penutup mata Rita.
“Tolol!! Dia bisa melihat Kita!” ujar Budi marah ke Joey
Joey diam saja, ia memegang wajah Rita yang masih menyesuaikan matanya dengan cahaya.
“Kamu siapa?” tanya Joey
“Saya anak pak Dodi!” jawab Rita
Plak!!!” Rita ditampar keras oleh Joey
“Jangan bohong! Gue tahu anak-anaknya dan bukan lo!” Hardik Joey lagi
Rita terdiam, memikirkan jawaban yang tepat.
“Saya calon anaknya Dodi!” ujar Rita ngasal
“Hoo Baru calon katanya bos!” ujar Sarip
Plak!! Kali ini Joey memukul Sarip. Sarip melotot tidak terima dipukul Joey.
“Dia ini bukan siapa-siapanya Dodi!” teriak Joey kesal
Si kurus dan si buncit yang berada di luar rumah mendengar keributan . Mereka masuk ke dalam rumah untuk mencari tahu.
“Ada apa Bos?” tanya si Buncit
Budi menampar Buncit dan kurus.
“Plak!! Plak!!”
Keduanya terkejut memegang pipinya.
“Kalian membawa orang yang salah!” ujar Joey
“Anak kecil yang tadi itu anaknya Dodi!” ujar Sarip kesal
Si buncit kesal dan dia menampar Rita berkali-kali.
__ADS_1
“Plak!! Plak!!”
Bibir Rita berdarah dan pipinya bengkak. Rita menangis kesakitan.
“Jadi bagaimana bos?” tanya Sarip
“Bunuh saja!” ujar Joey
“Jangan! Kita bukan pembunuh!” ujar Budi.
“Bawa dia kembali ke basement. Panggil orang untuk mengecat lagi rambutnya!” perintah Budi
“Kenapa Bos?”
“Rambutnya yang terlalu mencolok bisa membuat orang mengingat Kepergian dia!”
“Kenapa ga lo bunuh saja daripada repot?” tanya Joey
“Gue berencana menjual dia, setidaknya kita dapat uang.” Ujar Budi
Hari itu terasa lebih lama bagi Rita, bibir dan pipinya sakit. Perutnya sudah terasa sangat lapar.
“Woyy!!! Ga bisa kasih gue makan apa??” teriak Rita, ia mulai menyesali keputusannya menyelamatkan Tasya.
Sarip datang dengan membawa air putih dan sebungkus roti. Ia memindahkan ikatan tangan Rita yang semula di belakang menjadi ke depan. Kemudian ia pergi.
“Terimakasih!” ujar Rita
Ia mulai minum dan membuka bungkusan Roti lalu memakan Rotinya dengan perlahan. Rahangnya sakit karena dipukul si buncit tadi.
Tak beberapa lama Buncit datang dengan seseorang.
“Aduh aku harus kerjakan pekerjaan salon di sini?” tanya lelaki itu
“Lo mau dibayarkan? Jangan banyak omong! Kerjakan saja!” perintah Buncit.
Ia membawa Rita dan didudukannya di tengah ruangan basement.
“ehhh!” orang itu mengenali Rita
Rita melihat orang itu, ternyata Ryan yang salah mewarnai rambutnya.
Buncit curiga melihat sikap Ryan dan Rita.
“Kamu mengenalnya?” tanya si buncit
“Seperti customer saya deh, tapi kayaknya saya salah!”jawabnya. Ia mulai membasahi rambut Rita dan mulai mewarnai rambut Rita. Kira-kira 1 jam proses mewarnai rambut Rita selesai, rambutnya kembali menjadi hitam.
“Yak sudah!” ujar Ryan
Rita ditarik paksa dari kursi dan kembali ditempatkan di ruangan kecil tadi.
“Saya menagih pembayaran sama siapa nih?” tanya Ryan
“Tanya bos saja!” jawab buncit. Setelah mengunci Rita,mereka kembali ke lantai atas.
Rita terus berdoa dalam hati semoga Andi atau Dewa membaca pesannya. Ia beranjak dari tempat duduknya, dan menempelkan telinganya ke pintu. Sudah tidak ada orang di luar ruangan itu.
Ia mulai bergerak, berusaha melepaskan ikatan tangannya. Karena sudah cukup lama terikat, tangannya terasa kesemutan. Setelah berhasil lepas, ia menenangkan diri dulu. Sudah jam 3 gumamnya. Ia memperhatikan ruangan ia berada. Sangat mirip dengan yang ada dalam mimpinya. Ruangan yang luasnya yang kira-kira berukuran 4x5 meter, tanpa jendela. Tapi kondisinya saat ini berbeda dengan mimpinya.
Ia membuka bajunya ia melepaskan kain yang melilit tubuhnya. Setelah kainnya lepas, Ia mengambil Iphone yang menempel rapi ditubuhnya. Ia sangat waspada, setelah yakin tidak ada orang di sekitarnya, ia menghidupkan iPhone nya tetapi ditutupi kain, agar suaranya tidak terdengar.
Kemudian ia mulai mengetik pesan untuk Dewa.
“Kak lacak sinyal hp saya!” tulis Rita dipesannya.
Ia mengirim 3x, pertama ke ponsel mamanya, Andi dan Dewa.
“saya baik-baik saja, jangan khawatir!” tulisnya lagi.
“Kak, tanya om Dodi ttg orang yang bernama Joey! “kali ini pesan hanya untuk Dewa.
“Saya ditahan oleh orang bernama Joey dan Budi” tulisnya lagi.
Ia mendengar keributan di lantai atas. Perlahan ia matikan iphone-nya, lalu kembali ia ikatkan ke tubuhnya.
Sementara itu keadaan di hotel
Ratna masih terbaring lemas. Andi terus berada di sampingnya, sementara Dewa ia masih berada di kamar Rita. Ia bingung harus bagaimana, ia membuka ponselnya.
“ting..ting..ting..” bunyi pesan masuk.
Ia membacanya setelah itu ia langsung lari keluar kamar menuju kantor Dodi.
Sesampainya di sana, ia menemui Dodi. Diperlihatkannya pesan dari Rita.
“Joey ya?”Dodi berpikir keras
“Papa mengenalnya? Tanya Aldy
“Dulu ia karyawan di sini bagian keuangan. Tetapi dia papa pecat karena menggelapkan uang asuransi karyawan. Karena ulahnya karyawan yang sakit tidak bisa mendapatkan pengobatan yang baik.”
“Dia juga yang menyuruh orang untuk mengambil berkas kontrak papa beberapa hari yang lalu, dan berhasil digagalkan oleh Rita.”
“Jadi bagaimana Om? Kita tidak bisa menunggu sampai 24 jam, saya takut mereka akan kehilangan jejak.”
“ hmmm.. baiklah om akan mencoba menghubungi teman om di kepolisian.
Tiba-tiba Ratna menghambur ke dalam kantor Dodi.
“Jadi selama ini kamu ga berbuat apa-apa?" Tanya Ratna ke Dodi dengan marah
“Karena bukan anakmu yang diculik, kamu tenang-tenang saja di sini!”ujar Ratna lagi
“Rita diculik karena menggantikan anakmu Dodi! Akhirnya aku tahu sifat mu yang sebenarnya!” Ratna membanting pintu kantor, diikuti oleh Dewa.
“Ratna!!! Bukan begitu!!” ujar Dodi mengejarnya.
“Aku sudah menghubungi teman2 ku di kepolisian untuk membantu mengusut kasus ini!”
“Kamu tenanglah!” ujar Dodi menenangkan.
“Kamu baru bergerak setelah dapat pesan dari Rita, sebelumnya kamu ngapain? “ tanya Ratna masih marah.
“Arya!!” panggil nya keras, bilang sama Rey, siapkan semua perlengkapan kalian, kita pergi dari sini!” Ratna yang mengamuk tidak mau mendengar lagi perkataan Dodi.
“Ratna jangan pergi, nanti kalau temanku menghubungi dari kepolisian bagaimana?” tanya Dodi memelas
“Suruh mereka menghubungi aku di hotel sebelah! , Selamat Tinggal Dodi!” Ratna pergi dengan marah
Dodi tidak bisa berbuat apa-apa.
Setengah jam kemudian, karyawan hotel sebelah datang dan membawa barang-barang Ratna serta anak-anaknya. Ia memesan 2 suit room.
Di hotel itu Ratna menelepon ayahnya.
“Papa, Rita diculik!” ujar Ratna menahan Tangis
“Kalian ada dimana?” Tanya Kakek Soegiyono
“Di Hotel.... Di Sangeh” jawab Ratna
Hanya dengan satu telepon dari kakek, semua unit kepolisian bergerak. Dimulai dari melacak posisi terakhir ponsel Rita, dan pantauan Cctv di jalan.
Rambut Rita yang mencolok membantu mereka dalam pencarian.
__ADS_1
Hanya kurang lebih 2 jam mereka berhasil menemukan tempat persembunyian para penculik.
bersambung..🤫🤫🤫