
Sudah 6 bulan Rita berada di NZ. Ia telah
terbiasa dengan keadaan di sana kendala bahasa pun dapat ia atasi. Kegiatannya setelah sesi home schooling selesai, Rita pergi menemui kakeknya. Mereka menghabiskan waktu dengan berkuda, bermain golf, mengunjungi pabrik milik keluarga, melakukan sidak ke perusahaan milik kakek, Rita seperti asisten. Ia mengatur jadwal minum obat kakeknya, menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan dan ia melakukannya dengan hati senang, sepertinya kakek Darmawan juga makin sayang dengannya.
"Rit, kakek sudah mengatur jadwal, akhir bulan ini kita adakan perkenalan keluarga, sudah saatnya kamu mengenal keluarga besar Darmawan." Ujar kakek di sela-sela berkuda
"Atur saja Kek, toh Rita tidak ada kesibukan lain, ujian semester ini sudah selesai."
"Hasil ujiannya kira-kira bagus ga?"
"Rita sih optimis bagus kek, jumlah pelajaran di sini jauh lebih sedikit di bandingkan di sekolah Rita dulu, jadi kita bisa lebih fokus."
"Hmm.. semester depan kamu sudah lulus ya?"
"insyaaAllah kek, kalau gak ada halangan."
"Seharusnya bisa lancar Rit. Oiya kamu ada tugas bikin essay kan?"
"Iya, kog kakek tahu? Kakek ingat waktu Andi dulu dapat tugas essay, drama banget. Dia lebih banyak ngeluh dibandingkan mulai menulis, sebal jadinya!" Gerutu kakek
"Hahaha, kakek bisa sebal juga sama kak Andi?"
"Iya dong, apalagi kalau dia lebih senang lama di tempat mamanya, kakek kan sedih gak ada teman😢"
"Tenang kek, ada Rita di sini."
"Iya, kakek juga senang punya cucu perempuan, lebih telaten. Kalau sama Andi kakek yang melayani dia, huh such a spoil boy!"
"Kenapa dituruti kek?"
"Habisnya Kakek ingin dia betah di sini, bersama Kakek."
"Kakek gak ada niat ke Jakarta lagi?"
"Ke Jakarta dong, biasanya selama bulan Ramadhan dan Syawal kakek di Jakarta.Di sana hawa perayaannya lebih terasa dibandingkan disini."
"Padahal waktu puasa di sini cepat lho kek antara 11-12 jam saja, kalau di Indonesia antara 13-14 jam!"
"Tapi Rit di sana banyak yang melaksanakan puasa jadi hawa Ramadhan nya lebih terasa, lagi pula dengan puasa badan juga lebih sehat! Bener gak?"
"Setuju Kek!, Eh, ada miscall dari kakAndi kog ga kedengaran ya?" Rita melihat ponselnya, dan menelpon balik
"Assalamualaikum,kak, tadi nelpon?
"Rita kamu di mana?"
"Lagi di stadion pacuan kuda, kemari saja kak, kakek juga di sini."
"Ooh oke, kakak ke sana!" Andi menutup percakapan
"Siapa Rit?"
"Kak Andi Kek!"
"Tumben datang, biasanya Kakek suruh dulu baru datang"
"Sudah dong kek kog complain terus?" Protes Rita
"Iya Rit, yuk kita balapan sampai kandang!" Kakek memacu kudanya.
"Ih kakek curang!"
Rita yang telah mahir berkuda berusaha mengejar kakeknya.
Beberapa saat kemudian kakek berhenti di suatu tempat, pandangannya terpaku pada sesuatu. Rita melihat kakeknya, kemudian ikut menghentikan laju kudanya.
"Ada apa kek?"
"Hmm... seingat kakek pagar pembatas ini sudah kakek suruh perbaiki, kenapa sekarang rusak lagi? Makin parah malah?" Kakek turun dari kuda. Diikatkannya kuda di pohon terdekat, Rita juga melakukan hal yang sama.
"Rit, tolong fotoin keadaan di sini, kakek gak bawa hp."
__ADS_1
Dengan sigap Rita melakukan yang diperintahkan kakeknya.
"Apa di sini sering terjadi pencurian kuda kek?"
"Setahu kakek gak pernah, tapi nanti kakek cek lagi. Paman mu yang bertanggung jawab atas arena dan seluruh pacuan kuda ini."
"Paman yang mana kek?"
"Oh iya, kamu belum kenal ya?”
Rita mengangguk.
"Nanti kirim ke kakek Rit, fotonya, yuk kita kembali saja!"
Mereka kembali berkuda, sesampainya di kandang, dua asisten membawa kedua kuda kakek dan Rita untuk dikembalikan ke kandangnya. Tak jauh dari situ, para asisten telah menyiapkan tempat untuk Rita dan kakek beristirahat. Seperangkat bangku dan meja yang di atasnya dinaungi payung besar. Di atas meja terdapat biskuit dan kue-kue, serta teh dan kopi. Mereka duduk di sana beristirahat, sambil menunggu Andi. Tak berapa lama, sebuah mobil sport terbaru melintasi lapangan, dan berhenti tepat di depan Rita dan kakeknya.
"Wuiidiiihh..mobil baru kak?" Tanya Rita, bangkit dari kursinya dan mengagumi mobil sport baru Andi.
"Iya dong, ini mobil listrik Rit, keren lho! Bisa jalan sendiri, kakak gak usah nyetir, cukup kasih tahu tujuan,biar dia sendiri yang bekerja, kita tinggal duduk manis."
"Ah itu mah biasa kak, kira naik go-car atau grab car juga tinggal duduk manis tahu2 sampai tujuan. Lebih murah lagi."
"Ah bisa aja kamu!, Kakek apa kabarnya?" Tanya Andi menghampiri kakeknya dan memeluknya.
"Ngapain kesini? Kan gak disuruh?" Ujar kakeknya kesal.
"Ih kakek kog jutek gitu, kan sudah ada Rita. Andi dengar kalian sering menghabiskan waktu bersama."
"Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya kakeknya ketus
"Sedikit kek!, Hehehe, btw Andi kemarin di telepon tante Meta, katanya minggu ini ada acara perkenalan Rita?"
"Ah iya, kakek sudah suruh Meta mengerjakan semuanya, anak itu sangat rajin." Suara kakek berubah senang.
"Kek, apa kakek masih tidak menyetujui hubungan tante Meta dengan pacarnya? Kasihan lho kek, mereka sudah 3 tahun pacaran!"
"Ah kamu Andi, gak usah ikut campur! Kakek lagi menguji pacarnya Meta, apakah dia tulus mencintainya, atau ada motif lain"
"Zaman now itu bebas,Ndi, women now bisa milih mau menikah kapan saja, kakek berharap dia menemukan lelaki yang baik."
"Pacarnya sekarang gak baik kek?" Tanya Rita
Kakeknya menggeleng
"Kakek ragu dengan pacarnya yang sekarang, setahu kakek kalau lelaki itu serius sama perempuan, seharusnya dia melakukan sesuatu untuk mengambil hati keluarga pacarnya. Ini sama sekali tidak!"
"Mungkin beda budaya kek, kalau di Indonesia begitu tapi di sini lain." Ujar Rita lagi
"Enggak Rit, di manapun sama. Apalagi yang namanya ikatan pernikahan seharusnya dia lebih intens." Ujar kakeknya lagi
"Mungkin tante Meta nya juga gak serius sama dia kali kek, buktinya tante juga gak mengenalkan secara langsung ke kakek " ujar Andi
"Mungkin juga!" Jawab kakek
"Kog kakek bisa kenal pacarnya?" Tanya Rita heran
"Gak sengaja bertemu di kantor,ketika pacarnya datang menjemput ke kantor!"
"Jadi kek,bagaimana acaranya?"tanya Andi
"Hanya makan-makan biasa, oiya Andi, kamu antar Rita mencari baju yang bagus untuk acara itu ya, nanti kakek transfer uangnya."
"Waah Rita dibeliin baju!" Ujar Rita senang
"Beli yang banyak Rit! Gak usah malu!"
"Asyiikk!!, Terimakasih kek!" Rita memeluk kakeknya.
Esok harinya Rita dan Andi pergi ke butik, mereka melihat-lihat pakaian pesta.
(Terjemahan bahasa Inggris)
__ADS_1
"Saya butuh baju pesta yang sederhana tapi elegan" tanya Rita pada pramuniaga butik
Pramuniaga itu mengangguk dan menunjukkan beberapa koleksi pakaian ke Rita.
"Coba satu-satu Rit!" Ujar Andi.
Sementara Rita berganti pakaian, Andi duduk di ruang tunggu, ia membaca beberapa katalog pakaian yang tergeletak di atas meja. Pandangannya terusik, ia melihat seseorang di butik itu.
"Eh kayaknya itu Eric?" Gumamnya dalam hati. Ia melihat Eric bersama seorang wanita paruh baya, mereka tampak akrab. Eric merangkul wanita itu dengan mesra.
"Ah mungkin gue salah mengenali"gumam Andi lagi, ia kembali memusatkan perhatiannya ke katalog pakaian.
"Bagaimana menurut kakak?" Tanya Rita ia memilih pakaian lebih tepatnya gaun berwarna marun berlengan panjang, dengan ornamen renda pada bagian dada, terlihat mewah.
Andi menggeleng
"Mirip tante-tante" jawabnya
Rita kembali ke kamar ganti, beberapa saat kemudian ia keluar kembali dengan dress berwarna hijau selutut, berlengan pendek. Hiasan hanya terdapat pada pundak dan bagian bawah dress.
"Kalau yang ini kak?"
"Kakak suka warnanya Rit, tapi modelnya kog kuno banget ya?"
"
Rita kembali ke kamar pas, ia mencoba baju yang lain.
"Kalau yang ini?"
Gaun berwarna biru navy dengan sentuhan renda pada bagian lengan dan hiasan kancing pada bagian leher.
"Bagus Rit, cocok, tapi terserah kamu!"
"Rita suka yang ini sama yang hijau tadi kak, yang mana ya?"
"Ambil dua-duanya saja!"
"Beneran?"
"Iya, itu hadiah dari kakek!"
"Asyikk Alhamdulillah..!!" Rita kembali ke ruang ganti
Andi bangkit dari tempat duduknya, ia mendengar ada keributan di bagian lain dari butik. Karena penasaran, ia menghampiri. Ternyata lelaki yang mirip Eric dan wanita bersamanya sedang ribut dengan pramuniaga, mereka dituduh mengutil. Eric tidak terima wanita yang bersamanya dituduh mencuri, ia mengayunkan tangannya untuk menampar pramuniaga itu. Tak disangka Rita menangkap tangan Eric dan mencegahnya memukul pramuniaga itu.
"You shouldn't hit a woman sir, she's not your match!" ujar Rita tegas, Ia menepis tangan Eric.
Eric yang dicegah malah marah, menarik kerah baju Rita dan memakinya dengan kata-kata kasar. Rita kesal, ia balas menarik kerah baju Eric dan membantingnya ke lantai. Eric mengerang kesakitan. Semua mata menatap aksi Rita, tak lama beberapa orang security mengamankan Eric dan wanita itu. Setelah di cek cctv dan tas wanita itu, serta pakaian yang dikenakannya, ternyata memang benar mereka telah mengutil. Andi membantu security untuk mengumpulkan bukti-bukti. Eric dan temannya tidak bisa berkutik melihat bukti yang disodorkan, selain itu ia juga takut dengan Rita yang terus memperhatikan dirinya. Setelah insiden itu, Rita dan Andi mampir ke restoran turki, mereka makan kebab di sana.
"Kamu gak apa-apa Rit?" Tanya Andi
"Gak apa-apa kog Kak, kalau dipikir-pikir, aku gampang emosi ya, seharusnya Aku gak banting dia!" Ujar Rita menyesal
"Hmm..gak usah nyesal Rit, cowok yang kasar sama cewek memang harus diperlakukan kayak gitu. Kamu kuat juga ya?"
"Yahh..lumayan lah kak untuk orang yang jarang latihan. Tapi kak, apa benar orang itu Eric, pacarnya tante Meta?"
"Tadi sih kakak lihat ID nya, betul kog namanya Eric."
"Aneh ya dia gak mengenali kak Andi?"
"Mungkin dia lupa atau pura-pura gak kenal, entahlah."
"Kita perlu ga kasih tahu tante?" Tanya Rita
"Sekarang ini jangan dulu, tante Meta juga lagi sibuk."
"Hmm...benar juga ya"
Setelah makan siang, mereka pergi ke taman hiburan dan menghabiskan waktu di sana
__ADS_1
~bersambung~