Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 35: Ada apa dengan Tomi?


__ADS_3

"Mana orang-orang yang membawa Senjata??" Tanya si Bos pembajak marah ,Ia menjambak rambut perempuan muda di depannya yang menangis kesakitan.


Penumpang lain ada yang berteriak ketakutan.


Anak kecil menangis mendengar kehebohan itu.


"Suruh anak itu Diam, kalau engga saya tembak dia!!" Ancamnya. Ibu si anak membujuk anak itu sambil menahan tangis. Ia berjalan ke depan, mendekati tempat duduk Tomi sambil menyandera perempuan muda tadi. Matanya melihat ke kanan-kiri mencari teman2 nya. Tomi CS menyembunyikan mereka di tempat duduk paling depan dengan diikat dan ditutup mulutnya. Mereka disamarkan, jika terlihat dari belakang seperti penumpang. Tomi menahan dirinya untuk tidak menyerang orang tersebut, melihat perbuatan kasarnya kepada perempuan dan lansia. Gigi gemeretak dan tangan mengepal menahan amarah. Tapi ternyata Dewa lebih tidak sabaran darinya. Ketika si Bos melewatinya, ia menyergap leher si bos , sehingga ia melepaskan sanderanya. Ternyata si bos juga jago bela diri, ditepisnya sergapan Dewa, mereka saling memukul dan menendang. Keadaan pesawat yang sempit membuat keduanya kesulitan bergerak. Tomi yang melihat pergulatan Dewa dan si Bos, mengamankan perempuan tadi , dan berusaha membantu Dewa dengan merebut senjatanya.


"Hati-hati Tom, Bisa meletus senjatanya!" Andi berteriak memperingatkan


"Kalian menjauh saja, jangan terlalu dekat nanti kena!" Teriak Tomi


Mereka terlalu sibuk dengan pertarungan 2 lawan 1sehingga tidak memperhatikan ada orang lain di belakang nya yang memukul kepala Tomi dari belakang


"Duakk!!!"


Tomi jatuh pingsan. Dewa ditodong pistol olehnya. Ternyata salah satu staf pesawat adalah kaki tangan si pembajak. Dewa melepaskan cengkramannya dari si Bos. Dewa dipukul dagunya oleh si Bos hingga terjatuh pingsan, kepalanya terbentur lengan kursi. Dewa dan Tomi diseret ke ruang belakang, keduanya masih pingsan.


"Sepertinya teman-teman kita yang lain disembunyikan mereka!"


"Mereka tidak hanya 2 orang, menurut daftar penumpang, mereka 1 rombongan, 2 perempuan, 4 laki-laki!" Si staf memberikan daftar penumpang kepada bosnya. Keduanya segera mendatangi Andi dan menarik bajunya dengan kasar


"Apa-apaan nih?" Andi berusaha melawan Reza yang melihat Andi ditarik kasar mencegah orang-orang itu memukulnya. Ratna tidak tinggal diam, ia turut melawan. Ratna menahan tangan Andi, tetapi orang itu menarik rambut Ratna sangat kencang hingga ia terjatuh Andi berteriak


"Mama!!"


Reza melepaskan Andi dan mencoba melindungi Ratna yang menjadi sasaran kemarahan kedua pembajak itu. Tidak ada satupun penumpang atau staf yang berani membantu mereka, karena ketakutan. Reza menjadikan dirinya perisai bagi Ratna agar tidak dilukai oleh si Bos. Sementara Andi masih ditarik paksa oleh staf tadi. Penumpang lain hanya menonton, sementara yang perempuan berteriak karena ngilu melihat Reza dipukuli. Ketika si bos akan memukul Reza lagi, tangan ditahan oleh Rita yang masih dengan mata tertutup. Ia menarik tangan si bos dan memelintirnya, si bos berteriak kesakitan. Sepertinya tarikan Rita membuat tangan kanannya lepas dari engselnya. Ia bangkit dan berusaha menendang Rita. Tendangannya tidak berhasil mengenai Rita, justru kali ini kaki nya yang menjadi sasaran, entah dari mana kekuatan Rita yang tertidur, kali ini kaki si Bos kembali ditarik hingga si bos berteriak kencang kesakitan. Tangan kanan dan kaki kanannya sudah tidak bisa dipergunakan. Gerakan terakhir, Rita memberikan tendangan memutar kearah kepala si bos terdengar bunyi "Krek!" Si bos pun rubuh. Orang-orang yang melihatnya terkesima. Rita menghampiri staf tadi yang menjadikan Andi sebagai sanderanya.


"Mundur !! Atau dia saya tembak!!" Ancamnya


"Buakk!!!" Si staf tiba-tiba pingsan. Ternyata Tomi yang sudah sadar memukul punggungnya dari belakang.


Rita masih berdiri, matanya masih tertutup.


"Rit, Rita!"Tomi berusaha membangunkan, tapi tangan Tomi ditepis dan ia ditendang.


Tomi kaget dengan serangan Rita.


"Tomi! Jangan bangunkan!" Teriak Reza


Dengan hati-hati, ia memegang pundak Rita dari belakang sambil berkata


"Rita ini ayah, duduk ya nak!" Ajak Reza dengan suara lembut.


Rita menurut, ia kembali duduk di tempatnya semula.


"Kamu ga apa-apa Ratna?"


"Ga pa-pa mas!"


"Andi, kamu ga apa-apa?"


"Aman yah!" Sahutnya tersenyum. Tomi membantu membangunkan Dewa, dan melepaskan ikatan para staf kapal. Penumpang laki-laki yang lain kali ini turut membantu. Mereka mengamankan kedua pembajak tadi dan mengikat mereka di kursi yang kosong. Salah satu staf lelaki yang telah berhasil dilepaskan, memberitahu pilot. Sepuluh menit lagi pilot akan menurunkan pesawat. Setelah mendengar bahwa keadaan telah terkendali, pesawat yang semula sudah mengeluarkan roda pendaratan, kembali memasukkan roda pesawat dan membatalkan pendaratan. Di bawah sana telah menunggu orang-orang bersenjata yang bingung, pesawat tidak jadi mendarat.


"Para penumpang sekalian, kami mohon maaf, sepertinya kita akan mendarat darurat di bandara terdekat, untuk mengisi bahan bakar." Demikian pengumuman pramugari.


"Mba, bandara mana? Masih jauhkah dari Jakarta?" Tanya salah satu penumpang.


"Untuk lebih jelasnya tunggu pemberitahuan dari pilot kami!" Pramugari segera menutup microphonenya.


"Wah masih lama lagi nih!" Gumam Dewa


"Kepala lo ga papa Ar?" Tanya Andi


"Agak pusing!"


Andi beranjak dari tempat duduknya


"Yah, Arya pusing karena pukulan tadi!"


Reza bangkit dari duduknya, ia menghampiri Dewa.


"Kamu pusing?"


"Iya Om!"


"Mual ga?"


"Sedikit om!"


Reza memeriksa mata Dewa


"Gegar otak ringan!"


Ia memeriksa bagian kepala Dewa, ada benjolan yang cukup besar akibat pukulan benda tumpul. Reza menghampiri pramugari dan meminta es yang dibungkus handuk untuk mengompres benjol di kepala Dewa Beberapa saat kemudian pramugari memberikan handuk yang membungkus es. Reza meletakkan di kepala Dewa dan memperbaiki posisi leher Dewa.


"Nanti sesampainya di Jakarta kita ke rumah sakit untuk di ronsen ya kepala kami, semoga tidak ada pendarahan di kepala!"


"Baik Om, terimakasih!"


Reza menepuk pelan pundaknya.


"Tomi ada masalah dengan kepala atau punggung?"


"Saya ga merasa ada yang luka Om!"


"Nanti tetap dicek ya, karena luka dalam itu tidak terlihat, efeknya muncul belakangan."


"Baik Om!"

__ADS_1


"Yah, Rita sudah bangun?"


"Belum, ayah pikir lebih baik ia tidur agak lama, supaya otaknya bisa beristirahat!"


"Rita sleep Walker Om?" Tanya Dewa tiba-tiba


"Om juga baru tahu sekarang!"


"Tapi kita sangat tertolong dengan tindakannya tadi!"


"Hmmm..iya, om pikir kekuatan Rita di luar kesadaran justru lebih kuat dibandingkan ketika ia sadar."


"Betul Om, kalau melihat cedera pembajak tadi!" Ujar Tomi bergidik ngeri


"Mungkin Rita juga ga sadar dengan tindakannya.Om harap kalian bisa merahasiakannya hal ini,Om kasihan sama Rita, takut ia merasa menjadi orang aneh!"


"Baik Om" ujar Tomi dan Dewa berbarengan.


Lima belas menit kemudian pesawat mendarat di bandara terdekat. Satu jam kemudian pengisian selesai, perjalanan pun dilanjutkan. Dari bandara itu membutuhkan waktu 90 menit untuk sampai di Bandara Soeta.


Setelah penumpang turun, polisi menangkap komplotan pembajak. Reza CS diminta memberikan keterangan kepada polisi.Rencananya mereka dibawa ke kantor polisi. Rita yang baru saja bangun dari tidurnya bingung melihat penumpang 1 pesawat yang melewatinya tersenyum dan sedikit mengangguk hormat padanya, ia mengangguk pelan membalas mereka.


"Kak, kenapa mereka ramah sekali sama Rita?"


"Kamu baik kali!" Jawab Andi ngasal


"Hmm..."Rita terdiam


Tomi yang sejak tadi diam, tiba-tiba terjatuh, syukurlah Rita berhasil menangkapnya sebelum ia jatuh ke tanah.


"Kak Tomi!" panggilnya


Tomi pingsan


"Ayah!! Kak Tomi pingsan!" Rita berteriak memanggil ayahnya. Reza berlari membantu Rita yang keberatan menahan tubuh Tomi.


"Rebahkan Rit!"


Dengan susah payah Rita dibantu Andi merebahkan Tomi.


Reza memeriksa matanya dan denyut nadinya.


"Sudah ayah kira, ada pendarahan di otaknya!" Ambulance dipanggil, Tomi dan Dewa dibawa ke RS Otak.


Keduanya segera mendapatkan perawatan intensif. Hasil rongent Dewa menunjukkan tidak ada luka dalam, gegar otaknya juga sudah mereda, tapi untuk memastikan, ia harus dirawat inap selama beberapa hari. Kondisi Tomi yang masih mengkhawatirkan, ia belum sadarkan diri. Tomi begitu sampai RS dan discan kepalanya,hasil keluar, ia langsung masuk ruang operasi. Semua biaya ditanggung Ratna. Ia merasa bertanggung-jawab dengan keadaan Tomi dan Dewa.Rita masih bingung, ia belum menyadari kejadian di pesawat. Sampai ia menonton beritanya di televisi di RS.


Ratna menelepon stasiun TV dan meminta video perlawanan Rita jangan ditayangkan.


Tetapi terlambat, Rita telah mengetahuinya.


Ratna menghampiri Rita untuk menenangkannya.


"Mama, Rita kog jadi aneh??" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Itu anugerah Rita, kalau kamu tidak seperti itu, Kami semua akan tewas dibantai para pembajak!"


"Tapi..tapi.."


"Sudahlah sayang, mama sudah pastikan video kamu tidak akan menyebar dimanapun. Staf mama sudah mama perintahkan untuk memblok semua berita dan gambar tentang kamu! Jangan khawatir ya?" Ratna memeluk Rita lembut.


Reza menghampiri Ratna dan Rita.


"Tomi baru keluar dari ruang operasi!"


"Sudah sadar mas?"


"Belum, mudah-mudahan bisa segera sadar!"


"Kak Tomi kenapa yah?"


"Ia dipukul terkena di bagian kepala. Ada sedikit pendarahan. Semoga tidak mempengaruhi ingatannya!"


"Amnesia?"


"Semoga tidak, mengingat ia sempat berjalan normal,hingga terjatuh di depan kamu!"


"Perlu ga kita kabari keluarganya?" tanya Ratna


"Sebaiknya begitu, Dewa yang kenal dekat mamanya!"


Rita pergi meninggalkan kedua orangtuanya, ia masuk ke kamar rawat Dewa, Andi di sana menungguinya.


"Kak Andi, bagaimana keadaan kak Dewa?"


"Baru saja tertidur, dokter memberikan obat tidur agar ia bisa beristirahat."


"Ohh, syukurlah" Rita mengambil tempat duduk dan duduk di samping ranjang Dewa berseberangan dengan Andi.


"Kak Andi kalau mau istirahat silakan saja, biar Rita yang menjaga kak Dewa di sini!"


"Iya Rit, kakak mau nyari makanan, kamu mau pesan apa?"


"Roti sandwich kalau ada kak!"


"Oke!!!"


Andi keluar dari kamar rawat Dewa menemui mama dan ayahnya yang sedang duduk di ruang tunggu.


"Ma,Andi mau beli makanan, Mama dan Ayah mau makan apa?"

__ADS_1


"Terserah kamu saja!"ujar keduanya bersamaan. Andi pergi meninggalkan mereka. Ratna menelepon asistennya, ia meminta mereka mencari apartemen di dekat rumah sakit, untuk Rita dan ayahnya.


"Mas, perlu tidak saya menyiapkan penginapan untuk keluarga Dewa dan Tomi?"


"Jangan dulu, kita tunggu 1 hari lagi, kalau Tomi bisa dipindahkan ke RS di tempat ku akan lebih baik!"


"Hmm... Baiklah!"


Beberapa saat kemudian Andi kembali membawa beberapa potong sandwich. Ia membagikannya kepada mama dan ayahnya.


"Andi, nanti kita pulang dulu ke apartemen, biarkan Rita dan ayah di sini, asisten mama sudah mencari tempat untuk tempat tinggal sementara mereka!"


"Kenapa ga nginap di apartemen kita saja ma?"


"Terlalu jauh dari sini ndi, keadaan Tomi harus terus dipantau ayahmu!"


"Hmm..baiklah!" Andi kembali meninggalkan mereka berdua dan masuk ke kamar rawat Dewa.


Rita dan Andi menyantap lahap sandwich.


"Enak kak!"


"Iya, untungnya kakak borong semuanya, hehehe!"


Reza masuk ke kamar Dewa.


"Bagaimana, sudah bangun?"


"Belum Yah, kata dokter obatnya membuatnya tidur."


"Yah, kapan kakTomi keluar dari ICU?"


"Kalau sudah sadar ia bisa segera dipindahkan kemari!, Rita kamu pulang dulu bersama Andi dan mamamu, biar ayah di sini menjaga mereka!"


"Asisten mama tidak dapat kamar di sekitar sini Yah?"


"Yang terdekat tidak ada yang kosong, daripada pemborosan, lebih baik ayah tinggal di RS ini, kamar ini cukup untuk kami berdua."


Ratna memilih kamar VIP untuk Dewa, agar yang menungguinya bisa tidur di kamar dengan tenang. Ia juga meminta asistennya membawa sleeping bag untuk Reza tidur.


"Padahal Ayah bisa tidur di sofa itu, tapi mamamu malah membawakan sleeping bag!"


"Mama well prepared yah, beliau ga mau ayah jatuh sakit di sini!"


"Yah, mungkin kamu benar, Andi,Rita kalian kembali dulu ke apartemen, mama kalian sudah menunggu!"


Rita dan Andi keluar dari kamar dan menemui Ratna.


"Ayo kita pulang dulu ke apartemen!"


"Ma, kita ga pulang ke tempat kakek saja, sekalian pamit, Rita mau ambil pakaian Rita yang masih tertinggal di sana!"


"Hmm... baiklah!" Ratna meminta supirnya untuk menuju rumah kakek. Sesampainya di sana Rita menemui kakeknya.


"Kamu sehat Rita?"


"Alhamdulillah, sehat kek, tapi teman Rita enggak!" Rita menangis menceritakan kejadian di pesawat saat pulang ke Jakarta.


"Kakek sudah dengar dari mamamu, kalau Tomi belum sadar juga, kakek akan kirim Tomi ke RS tempat kakek dulu dirawat supaya bisa segera pulih!"


"Iya kek? Terimakasih banyak!" Rita menghampiri dan memeluk kakeknya.


"Rita, setelah dari sini kamu akan kembali ke Sukabumi?"


"Iya Kek, insyaaAllah akan menyelesaikan SMU Rita di sana!"


"Hmm..baiklah, nanti kita bicarakan lagi setelah kamu lulus SMU. Kakek mengerti kerepotan kamu sekarang, kalau ingin kembali, silakan saja ga perlu pamit lagi ke kakek, karena kakek akan sibuk dengan beberapa rencana pembukaan usaha di Hongkong!"


"Baiklah kek, Rita pamit ya?" Rita mencium tangan kakeknya.Dan bergegas kembali ke kamarnya. Rita hanya menginap semalam di rumah kakeknya. Keesokan harinya ia bersiap packing, Ia hanya membawa pakaiannya yang ia bawa dari rumah sedangkan pakaian mahal dari mamanya ditinggalkan di lemarinya. Ia berkeliling kamarnya sejenak. Ia mengambil tas ekstra untuk membawa snack dan mie instan dari kamarnya.


"Sayang kalau ga dimakan!" Gumamnya. Setelah memeriksa kamarnya lalu ia keluar dan menuju


ke ruang tengah menunggu Andi dan Ratna.


"Pulang sekarang Rit?"


Tanya Maia sepupunya


"Iya!"


"Kemari lagi kapan?"


"Mungkin pas liburan lagi!"


"Gue boleh minta nomer WA lo?" Maia menyodorkan ponselnya.


"Boleh!" Rita mengetikkan nomernya ke ponsel Maia


"Contact Lo juga sudah gue add!" Ujar Rita.


"Oke, thanks ya Rit, salam ya sama bokap lo!"


"Oke Mai, insyaaAllah gue sampaikan!"Rita tersenyum.


Beberapa saat kemudian Ratna dan Andi bersamaan menghampiri Rita


"Yuk, berangkat!" Ajak Ratna


Mereka kembali masuk ke mobil, menuju apartemen Ratna.

__ADS_1


Di sana ia mendapat kabar Tomi telah sadar, tapi belum bisa keluar dari ICU, masih dalam pemantauan.


__ADS_2