Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 198: bagi waris dan Mak comblang


__ADS_3

“hahahaha...” semua tertawa melihat Ranna menempelkan keningnya ke kening Radian


“Sepertinya anak ini tahu aku mak comblang mama dan papanya” ujar Radian tersenyum


Daniel menghampiri dan mengambil Ranna dari Radian


“Yuk Ranna, kelihatannya kamu sudah capek, kita kembali ke kamar yuk!” ajak Daniel, Ranna mendadah-dadahkan tangannya. Mario mengikutinya dan meninggalkan ruangan tersebut


“Dadaahhh!!” ujar semua yang hadir di meja makan, kecuali Franky


“Baguslah dia tahu diri! Orang yang gak ada hubungannya dengan pembagian waris memang gak perlu di sini!” ujar Franky ketus menyindir Daniel. Rita agak kesal mendengar sindiran Franky tetapi ia menahan diri.


“Baiklah pak Herman tolong bacakan surat warisan saya” pinta Darmawan


Setelah dibacakan, Franky terlihat keberatan


“Aku heran Om, kenapa Om memberikan rumah ini ke Rita? Dia kan baru saja bergabung dengan keluarga Darmawan, aku ragu apa benar dia anaknya Eka? Apa lagi Reza terkenal sekali pandai berbohong!” ujar Franky


“Rita sudah di test DNA di dua rumah sakit yang berbeda negara, bahkan Reza tidak bisa mencampuri hasil testnya, dan terbukti Rita adalah anak dari Eka, adiknya Andi” jawab Pak Hermawan


“Bukan berarti dia saja yang berhak atas rumah ini? Aku sejak kecil dibesarkan di rumah ini, seharusnya aku juga berhak atas rumah ini” ujar Franky


“Betul! Aku memang membesarkan mu di rumah ini, seharusnya kamu berterima kasih karena kau sudah ku asuh dan rawat dengan baik. Seharusnya kamu tidak meributkan cucuku yang asli untuk memiliki rumah ini!” ujar Darmawan dengan nada datar


“Tapi Om sendiri kan dulu yang bilang, Aku dan saudara-saudara ku sudah Om anggap anak, jadi kenapa kami hanya diberi bagian sedikit?” protes Franky


“Apa pengelolaan peternakan kuda yang besar itu tidak cukup untuk mu Franky?” tanya Darmawan


“Aku ingin mengelola perusahaan seperti Radian adik ku!” ujar Franky


Darmawan menggeleng, ia membanting map yang ia pegang. Semua tertunduk ketakutan, Franky yang sejak tadi berdiri kini terpaksa duduk.


“Kamu berbeda dengan Radian! Aku sudah memberikan mu kesempatan untuk mengelola perusahaan, ingat Dar-Coureer? Kamu menjadikan perusahaan ku taruhan judi. Sehingga aku kehilangan aset di bagian pendistribusian? Kalau aku tidak memandang Radian yang sudah sangat baik pada ku, aku sudah membuang mu sejak dulu!” ujar Darmawan dengan suara tinggi


“Bagaimana dengan tante Sisca? Dia Cuma istri Om di atas kertas saja! tetapi dia mendapat bagian saham di Dar.Co sedangkan aku tidak!” protes Franky


“Franky! Kamu kurang ajar!” teriak Metha marah


“Kamu tuh kurang ajar! Aku lebih tua dari kamu!” balas Franky


“Ibu ku tidak meminta warisan dari papa! papa yang mau memberi! tanpa warisan papa pun, mama sudah cukup kaya! Tidak seperti kamu yang mengemis warisan. Aku takut peternakan kuda akan tutup selamanya jika dia yang mengelola pa!” ujar Metha


“Kamu!!!” Franky berniat melemparkan gelas ke arah Metha


“Franky!!!” teriak Darmawan


“Sekali lagi kamu membuat orang di sini marah dengan ucapan mu, aku akan membatalkan warisan ku untuk mu!” teriak Darmawan kesal


“Aku sangat sedih Om! Aku keponakan Om yang tertua, tetapi Om tidak memberikan aku kesempatan sedikit pun untuk menebus kesalahan ku. Aku ingin mengambil kembali perusahaan kurir yang pernah aku gadaikan, untuk itu aku membutuhkan bantuan Om!” ujar Franky


“uhukk..uhuk!” tiba-tiba Andi terbatuk


“Kenapa kamu? Mentang-mentang kamu ahli waris utama, jadi ngeledek orang yang lebih tua!” teriak Franky marah


“Aku cuma batuk!” jawab Andi


“Kamu itu serakah ndi! Kamu akan mendapatkan warisan dari kakek Sugiyono, sekarang kamu juga akan mendapatkan warisan dari kakek Darmawan..beruntung sekali terlahir menjadi diri mu!” ujar Franky


“Aku tidak serakah Om, semua itu diberikan kepada ku, dan itu merupakan tanggung jawab ku untuk mengelolanya!” jawab Andi


“Kak Andi memiliki perusahaan IT dan drone yang terpisah dari Dar,Co. Sedangkan aku mengelola toko roti yang cukup berhasil. Nenek memiliki rantai restauran terbanyak di Jakarta. Om Franky punya apa kalau tidak ada warisan kakek?” sindir Rita


“Lagi pula kalau ingin menebus kesalahan, gunakan uang sendiri. kreatif lah mengelola peternakan kuda sehingga bisa menghasilkan, uangnya bisa dikumpulkan untuk menebus perusahaan yang Om gadaikan!” ujar Rita lagi


“Cuihh!!! Aku diajari anak ingusan!” makinya, ia semakin kesal.


“Baiklah aku sudah selesai dengan pembagian, surat warisan ini berlaku saat aku telah meninggal dunia” Darmawan menutup pertemuan.


Pertemuan selesai, nenek menemani kakek kembali ke kamarnya.


“Tante, katanya bulan depan tante menikah?” tanya Rita


“Iya Rit!, calon ku orang Perancis, namanya Francois Mauir. Kami bertemu saat ia mengadakan pameran lukisan di Swiss” jawab Metha, ia terlihat sangat senang


“Selamat ya Tante! Tapi kenapa pernikahannya di Cirebon?”


“Mama yang mau, beliau bilang keluarga besarnya di Cirebon, tapi beliau juga akan mengadakan resepsi di Swiss”


“Asyiikkk!!! Kita ke Swiss kak!” sorak Rita kegirangan


“Eh nanti dulu! Kapan itu? Trimester akhir kamu gak boleh terbang karena hamil tua!”ujar Andi mengingatkan


“Oh iya!! Tapi resepsinya masih di bulan yang sama kan tante?” tanya Rita bersemangat


“Iya!” jawab Metha tersenyum


“Masih bisa Kak, saat itu kandungan ku masih 6 bulan, masih bisa!”


“Iya! Girang banget!” ujar Andi


“Sepertinya anak kedua ini akan suka bertualang ya Rit?” tanya Radian nimbrung dengan percakapan mereka


“Mungkin Om, rasanya senang kalau melihat pesawat terbang atau jalan-jalan.”


“Jangan-jangan nanti dia jadi pilot?” ujar Radian


“Mungkin juga Om, oh iya Om akan berapa lama di Jakarta?”


“Besok aku ke Singapura!” ujar Radian tiba-tiba


“Jam penerbangannya?”


“Aku mengambil penerbangan pagi jam 9, kalian kembali kapan?”


“Daniel besok masih cuti, kami berniat kembali sore Om”


“Oh begitu, jadi aku gak mungkin bertemu Daniel di sana ya?”


“Tapi Mario ada Om, dia ke Singapura malam ini, besok dia harus masuk kantor lagi” ujar Andi


“Kok Kakak tahu?”


“Tadi dia bilang, setelah makan langsung ke bandara, jadi dia gak menemui kita lagi.”


“Pantas tadi ia terlihat terburu-buru”


“Kalau begitu Ndi, tolong kirim pesan ke Mario untuk menemani aku besok Sidak di Dar,Co Singapura 1”


“Tapi Om, Mario tugasnya di Singapura 1” ujar Rita


“ya gak pa-pa, minta dia menemani ku ke Singapura 1, toh sebentar lagi dia digeser ke sana!” pinta Radian


“Baik Om!” jawab Andi


Di kamar Rita


“Assalammu’alaikum!!” sapa Rita memasuki kamarnya, ia melihat Daniel sedang menonton di ruang TV.


“Wa’alaikummussalam! Sudah selesai Yang?” tanya Daniel.


“Sudah!, aku ganti baju dulu!” ia segera ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan membersihkan diri kemudian sholat Isya. Daniel memeriksa pintu kamar dan jendela, kemudian mematikan semua lampu lalu masuk ke kamar mereka.


“Ranna tidur sangat nyenyak, sepertinya dia tahu besok dia harus sudah pergi dari kamar ini!” Daniel memeluk istrinya dari belakang yang baru saja selesai sholat

__ADS_1


“Hmm...apa kita memperpanjang tinggal di sini?” tanya Rita sambil mencium pipi suaminya


“Kakek memberikan rumah ini ke aku, sedangkan yang di Auckland untuk kak Andi” ujar Rita lagi


“Oh jadi rumah ini milik mu ya?” tangan Daniel mulai bergerilya ke bagian tubuh Rita yang sensitif, akhirnya malam itu mereka bercinta.


Satu jam kemudian,..


“Kenapa kakek terburu-buru mengumumkan warisan ya?”


“Mungkin ia takut terjadi sesuatu dengan dirinya!” Daniel menciumi leher istrinya lagi


“Hmm...Yang, besok Om Radian mau sidak ke Singapura 1!” ujar Rita tiba-tiba,


“Ya biarin saja! Aku kan Singapura 2” Daniel mencium bibir Rita, mereka bercinta untuk kedua kalinya.


“ha..ha..ha..ha..” keduanya terengah-engah setelah selesai bercinta


“Kasur ini nyaman sekali ya? punggung ku juga gak terasa sakit” ujar Daniel sambil merebahkan tubuhnya dalam posisi terlentang


“Iya kan? Aku memang pandai! Aku membaca panduan kesehatan untuk tulang belakang. Dan menemukan referensi untuk membeli kasur ini” ujar Rita


“Kenapa kamu gak beli untuk di Singapura?” tanya Daniel heran


“Kamu bilang aku gak boleh beli banyak barang dulu!”


“Iya juga ya? tapi waktu beli ranjang kamu gak bilang apa-apa!”


“Waktu aku datang, ranjang sudah ada di apartemen! Ingat gak?”


“Oh iya ya? Apartemen itu selesai dibenahi satu minggu sebelum kamu datang. Aku bersiap untuk kedatangan pengantin ku!”


“Tapi pilihan ranjang mu juga tidak jelek, aku juga nyaman di situ, hanya mungkin kurang lebar ya?”


“Ngapain ranjang lebar-lebar, aku ingin tidur berpelukan dengan istriku, untuk itu gak perlu ranjang lebar kan?”


“Kalau seperti ini terus, kita akan seperti kelinci, anaknya banyak!”


“Hehehe...gak apa-apa..toh kandang kelincinya besar!” canda Daniel


“Eh Yang, kata Om tadi, dia bilang ke Ranna katanya dia mak comblang kita? Apa iya? Kok aku gak tahu?”


Daniel mengenakan kaos dan boxernya, Rita juga kembali mengenakan piyamanya, lalu mereka kembali rebahan


“Mungkin ada benarnya!” jawab Daniel mengingat-ingat


“Tuh kan kamu sendiri gak yakin!”


“Maksud ku, kamu tahu kan betapa dinginnya Om mu itu?”


“Sama kamu juga dingin?” tanya Rita kaget


“Iya! Eh kadang-kadang sih. Tapi memang beberapa kali dia meminta ku untuk menelpon mu padahal dia bisa melakukannya sendiri. Dia juga yang menyuruh ku menggantikannya kondangan bersama mu, padahal dia ada di Auckland. Aku pikir dia ke luar negeri”


“Ooo begitu, jadi bisa dibilang, Om itu orang pertama yang menyetujui hubungan kita ya?”


“Iya, aku selalu berdoa untuknya, semoga beliau dipertemukan dengan seseorang yang cocok untuknya, tidak hanya cantik dan seksi tapi juga baik, seperti istri ku!” puji Daniel, Rita tersenyum melihatnya, lalu memeluknya hangat


“Mudah-mudahan kamu akan seperti ini terus ya, jangan sampai berubah!” bisik Rita


“Aamiin...Ayo kita tidur!, kamu sudah pasang alarmnya kan?” ujar Daniel


“Sudah!” Ia mematikan lampu tidur, kemudian mereka mulai tidur.


Satu setengah tahun yang lalu...


“Daniel! ini Rita keponakan ku yang akan magang beberapa bulan di sini!, Rita ini Daniel asisten ku!, kalian akan bekerja sama selama beberapa bulan jadi kalian akur-akur ya!” ujar Radian


“Daniel!”


“Rita!” panggil Daniel


“Ya Pak?” jawab Rita kaget karena Daniel tiba-tiba masuk ke ruangannya


“Ini nomor ponsel ku, nanti kamu mis call aku ya? kita harus koordinasi untuk jadwal pak Radian!”


“Siap eh baik pak!” Rita mengambil kartu nama Daniel


“Daniel Kang!” Dia memasukkannya ke kontal ponselnya


“Kang itu nama marga ku “ ujarnya, tak lama bunyi notifikasi dari ponselnya


“Hmm...Rita DS? S nya apa?” tanya Daniel


“Dulu S itu Soegiarto nama ayah ku, sekarang menjadi Sugiyono nama kakek ku dari pihak ibu”


“Oo begitu, kenapa tidak memakai nama ayah mu lagi?”


“panjang ceritanya!” ujar Rita agak segan bercerita tentang keluarganya


“Mungkin suatu saat bisa ditambahkan Kang di belakang nama mu” gumam Daniel pelan


“Kenapa pak?”


“Ah enggak! sudah aku add di kontak ku ya?”, Daniel meninggalkan ruangan Rita.


Sejak saat itu, jika ia akan ke ruangan Radian, dia selalu mencuri pandang ke ruangan Rita. Suatu hari ia tidak melihat Rita di ruangannya


“Rita kemana pak?” tanya nya ke Radian sambil memberikan map yang harus ia tanda tangani


“Hari ini dia tidak masuk karena harus menemani kakeknya berkuda!”


“Kakek yang mana pak?”


“Pak Darmawan!, Rita kini menjadi cucu perempuan keluarga Darmawan, sudah resmi. Bahkan minggu lalu ia sudah diperkenalkan di keluarga besar kami” jawab Radian sambil tanda tangan


“Kenapa? Kamu tertarik pada keponakan ku?” goda Radian. Daniel tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu


“Bukan begitu Pak, Rita walau pun cucu dari dua orang kaya tetapi tidak terlihat manja ya?”


“Tentu saja, ia dibesarkan oleh anak angkat Pak Darmawan yang bekerja sebagai dokter di pelosok desa di Indonesia. Aku mendengar cerita dari Om Darmawan sampai terkagum-kagum mendengarnya. Anak ini pernah diajak ayahnya bertugas di daerah konflik. Itu terjadi karena ayahnya tidak ingin Rita diambil keluarga dari pihak istrinya”


“kasihan ya, setiap kedua orang tua bersiteru anak pasti jadi korbannya” ujar Daniel prihatin


“Iya memang, itu sebabnya om Darmawan bilang , ia akan mencurahkan seluruh kasih sayangnya ke cucu perempuannya itu.”


“Tapi kenapa beliau membiarkannya kerja untuk membayar kerusakan motor ku? Padahal sudah diganti oleh asuransi?” tanya Daniel heran


“Om Darmawan bilang, Rita ini terkena syndrom hero apa gitu, dia selalu ingin menjadi pahlawan. Kejadian kemarin dengan Metha itu, sebenarnya ia tidak perlu melakukan, tetapi ia bergerak lebih cepat. Om Darmawan ingin memberikannya pelajaran padanya agar berpikir dulu sebelum bertindak!”


“Usianya berapa ya pak?”


“Rita? Jalan 17 tahun! Gak kelihatan ya? tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran perempuan biasanya, itu menurun dari sepupuku Eka yang juga bertubuh tinggi”


“Pantas, usia muda masih sangat menggebu-gebu” ujar Daniel


“Oh ya Niel, besok kalian menemani klien ya? ajak ke karaoke. Klien kita senang karaoke, aku pikir sekali-sekali menjamu klien agar dia betah bekerja sama dengan kita, tidak ada salahnya!”


“Baik pak! Jam berapa?”


“Malam sajam sekitar jam 7, kamu bisa menjemput Rita di rumah pak Darmawan, kamu sudah pernah ke sana?”


“Rumah pak Darmawan? Rumah besar?”

__ADS_1


“Iya, masih di situ!”


“Ooo, baik lah pak!” Daniel meninggalkan ruangan Radian, ia kelihatan senang sekali


Sementara di tempat pacuan kuda


“Rita, bagaimana hari mu sebagai pemagang?”


“Lumayan Kek!, Om Radian tidak sedingin yang kak Andi ceritakan!”


“Memang, Radian itu dasarnya seorang pemalu. Aku membiasakannya untuk bergaul dengan kolega ku agar ia terbiasa berurusan dengan orang banyak. Ia wakil ku di Dar,Co pusat.”


“Kenapa hanya Om Radian yang kakek angkat sebagai wakil? Bukannya ada Om Franky kakaknya?”


“Tidak semua berbakat dalam mengelola usaha Rita. Franky tidak bagus, aku tidak akan menyerahkan usaha ku yang penting pada nya. Dia cukup mengelola peternakan ini saja.”


“Ting” bunyi notifikasi dari ponsel Rita, ia membaca pesan dari Daniel, tanpa disadarinya, wajahnya terlihat sangat senang


“Siapa Rit?” tanya kakeknya


“Pak Daniel Kek, asisten Om Radian. Beliau mendapat tugas untuk menghibur klien besok, dia minta aku ikut”


“Oh ya? jam berapa?”


“Katanya klien ini menyukai karaoke, biasanya jam buka nya malam!”


“Apa kamu perlu ikut?”


“Gak boleh kek?” tanya Rita, wajahnya terlihat khawatir


“hmm...baiklah..aku pikir kamu juga perlu bergaul dengan klien kita, aku akan meminta Daniel menjaga mu dengan baik!”


“Terima kasih kek!” ujar Rita tersenyum senang


“Sudah yuk! Kita pulang!” ajak Kakek Darmawan menyudahi acara berkuda mereka


Keesokan malam di tempat karaoke


“Bu Sylvia, Henry!, Ini Rita asisten pak Radian!” Daniel memperkenalkan Rita kepada kedua kliennya


“Rita!” ia menyalami kedua kliennya


Kedua klien sangat menyukai bernyanyi, mereka berganti-gantian menyanyi. Tanpa Rita sadari, Daniel sejak tadi memperhatikannya.


“Rita kamu gak bernyanyi?” tanya Daniel


“Hmm...sebentar Pak, aku sedang memilih lagu, ah ini saja!”


“Lagu apa ini?” tanya Silvy


“Ini lagu dangdut, kalau di USA terkenal dengan musik country, kalau di Indonesia terkenal dengan musik dangdut.”


“Apa bedanya dengan musik pada umumnya?” tanya Henry


“Basic musik dangdut adalah dari melayu, ada pengaruh dari musik India. Ada alat musik tertentu yang dimainkan di musik dangdut, misalnya gendang dan seruling”


“Oh ya? menarik!” ujar keduanya, Daniel kagum dengan pengetahuan umum Rita


“Tetapi, sekarang musik dangdut sudah banyak unsur modernnya, suara seruling bukan sesuatu hal yang wajib”


“Oh ya? bisa kamu menyanyikan?” pinta Silvy


“Bisa bu!” jawab Rita penuh percaya diri


Lagu yang dipilih Rita, lagu melayu lama “Sekedar Bertanya”


“Hasrat hati hanya sekedar bertanya..mengapa wajah mu kini jauh berbedaaa...” Rita bernyanyi dengan penuh percaya diri. Daniel tersenyum mendengarnya bernyanyi, kedua tamu terheran-heran dengan cara menyanyi Rita yang fals. Tetapi mereka sangat sopan sehingga mereka tetap bertepuk tangan setelah lagu berakhir.


“Sekali lagi ya?” tanya Rita sambil mencari lagu lain


“Oke Rit, sudah cukup ya?” cegah Daniel sambil mengambil microphone dari tangan Rita. Ia melihat wajah memohon kedua kliennya agar Rita cukup sekali bernyanyi.


Tak terasa hari telah malam, Rita dijemput lebih dulu oleh supir keluarga Darmawan


“Pak Daniel, Pak Henry, Bu Silvy! Mohon maaf saya lebih dulu!”


“Baik Rita, terima kasih banyak!” jawab mereka bersamaan. Rita masuk ke mobil sedan kuning milik Andi. Daniel harus mengantar kedua kliennya ke hotel.


“Rita itu menarik ya?” ujar Silvy, ia melihat Daniel yang terus melihat mobil Rita menjauh


“Eh iya!” jawab Daniel, ia agak malu ketahuan memperhatikan Rita.


“Kamu sejak tadi memperhatikan dia terus! Kamu naksir dia ya?” goda Henry


“Hahaha...Anda bisa saja! Mana mungkin saya berani!” jawab Daniel


“Kenapa? Dia pegawai biasa kan?” tanya Silvy heran


“Dia keponakannya pak Radian dan cucunya pemilik perusahaan” jawab Daniel


“Wahh!!! Berat Niel!” Henry menepuk punggungnya prihatin


“Memangnya kenapa?” tanya Silvy heran


“Ya, ibu tahu kan? Status sosial mereka berbeda? Biasanya cucu orang kaya akan dijodohkan dengan orang kaya juga!” ujar Henry


“Kalau begitu gampang!” jawab Silvy


“Gampang gimana?” tanya Henry heran


“Kamu harus kaya Niel! Kamu harus buktikan kamu pantas untuknya!” ujar Silvy


Daniel mengangguk-angguk


“Aku pikir dia juga tertarik pada mu!” ujar Silvy lagi


“Benar kah?” tanya Daniel penasaran


“Aku melihatnya mencuri-curi pandang memperhatikan mu!” ujar Silvy


“Apa iya?” Daniel merasa senang sekali mendengarnya


Keesokkan paginya, di kantor


“Niel!, aku mendengar kedua klien kita sangat puas dengan hiburan dari kalian, kerja kalian bagus!” puji Radian


“Oh ya? syukurlah pak!” ujar Daniel senang


“tok..tok!”


“Masuk!” jawab Radian


“Pak!” Rita menyapa Radian dan Daniel bersamaan


“Ya Rit?”


“Jadwal hari ini ke Wellington, saya sudah menghubungi helikopter untuk kesana, sekarang sudah ada di atas gedung ini pak!” ujar Rita


“Baiklah!, yuk Niel!” Radian mengajak Daniel yang membawakan tas kerjanya, Rita mengantar sampai landasan helikopter


“Nanti siang kami kembali!” ujar Radian


“Baik pak hati-hati di jalan!” Rita menjauh dari landasan agar tidak terkena angin dari baling-baling helikopter. Daniel memperhatikannya dari kaca helikopter, Radian memperhatikan gerak-gerik Daniel yang terus melihat keluar jendela.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2