Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 277: Berkunjung Ke rumah Tante Metha


__ADS_3

“Sayang, siang ini aku dan anak-anak akan berkunjung ke rumah tante Metha” ujar Rita pada suatu pagi


“Kamu sudah dapat alamatnya?” tanya Daniel, ia meminta Rita merapikan dasinya


“Beliau akan mengirimkan mobil untuk menjemput kami” ujar Rita sambil mengikat dasi suaminya


“Kamu bilang kan bawa rombongan?”


“Kenapa?”


“Ya supaya tante mengirimkan mobil yang agak besar”


“Ah iya! Kenapa gak kepikiran! Nanti aku hubungi lagi deh! Oh iya hari ini kamu pulang larut lagi?”


“Mudah-mudahan sih enggak”


“Aku bingung deh, perusahaan sekaliber Lexi kok jam kerjanya di luar perjanjian begitu? Padahal kalau 9 to 5 ya segitu saja kan?”


“Nine to five itu untuk karyawan biasa, untuk kelas CEO seperti ku semua tergantung tugas, kadang bisa lebih cepat kadang bisa lambat, terima kasih sayang!” Daniel mengecup pipi istrinya


“Hmm..begitu ya? kadang aku lelah melihat mu bekerja keras” Rita menjatuhkan dirinya di ranjang


“Kalau dipikir-pikir aku lebih senang mendesign perhiasan karena mengerjakannya bisa di rumah, bisa bertemu kamu terus, main sama anak-anak”


“Lalu kenapa gak kamu lakukan?”


“Karena dengan pengeluaran bulanan yang besar seperti sekarang ini, penghasilan dari mendesign perhiasan tidak mencukupi, apalagi mengandalkan penjualan. Kamu tahu kan semua tergantung customer, kalau mereka suka mereka akan membeli terus dan aku akan memperoleh royalty, tapi kalau customer gak beli royalty gak dapat”


“Tapi selama ini hasil design mu selalu digemari kan?”


“Yaa, tetap saja aku gak mau mengandalkan dari itu”


“Bagaimana dengan resto mu dengan Anwar? Bukankah menguntungkan?”


“Kamu tahu gak rata-rata bisnis kuliner itu bertahan hanya 3 tahun, selalu muncul trend makan baru. Aku bilang ke Anwar untuk terus mengembangkan resepnya selain lebih variatif juga membuat customer tidak bosan”


“Jadi untungnya gak seberapa?”


“Bukan begitu maksudku, berapa pun penghasilan yang didapat kita harus tetap bersyukur kan? Bekerja itu selain memberikan rasa percaya diri juga safety net. Anak-anak masih kecil pengeluaran masih belum banyak tetapi kalau sudah mulai sekolah aku harus memikirkan kebutuhan mereka”


“Mereka sudah dapat asuransi pendidikan dari kakek-kakek ku”


“Tetap saja, aku kan papi mereka, semua kebutuhan mereka aku yang tanggung. Belum lagi kebutuhan empat anak kita yang lainnya”


“Hah? Empat? Kamu salah hitung kayaknya!”


“Nanti setelah anak-anak mulai sekolah, aku ingin nambah anak lagi, 2 atau 3 lagi. Kamu mau kan?” Daniel memeluk pinggang istrinya


“Kamu yakin? Lima atau enam anak itu berat lho! Kamu latihan dulu deh dengan 3 anak ini, kalau kamu merasa sanggup dan gak kelelahan aku setuju dengan rencana mu”


“Kalau nambah 2 lagi saja gimana? aku masih punya 2 nama depan R, sayang kalau gak dipakai” tawar Daniel


“hahahaha..kamu betul-betul konyol, itu nanti saja kita bicarakan lagi, supir mu sudah datang!”


“Ah iya, aku berangkat ya?” Daniel mengecup bibir istrinya dan mengambil tas kerjanya


“Papi berangkat dulu ya nak!” Ia menciumi satu persatu anaknya lalu berangkat kerja


“Dadah papi!!!” ketiga anaknya mengantarnya sampai mobil meninggalkan halaman rumah


“kak Ranna, kak Raffa mandi dulu ya? hari ini kita pergi ke rumah Oma Metha”


“Oma?” tanya Raffa


“Iya, nanti kalian akan bertemu Om”


“Om O?” tanya Ranna girang


“Bukan Om O tetapi Uncles” Rita menyebut anak-anak Metha sebagai paman mereka


“Anak-anak dipakaikan baju apa bu?” tanya suster Erni


“Kaos nuansa biru saja, bawa cadangan pakaian juga pampers ya?”


“Rayya bu?” suster Rini hendak mengambil Rayya dari Rita


“Biar Rayya sama saya saja, suster bisa mengurus Ranna ia makin sulit diatur kan?”


“Baik bu!”


Mereka kembali ke dalam rumah, Rita mengambil ponselnya dan menghubungi Metha


“Tante?”


“Ya Rit?”


“Jam berapa supir akan datang kemari?”


“Aku hendak menyuruh dia untuk menjemput kalian sekarang”


“Oh iya Tante, mobilnya bisa yang agak besar? Kami ada 3 dewasa dan 3 anak-anak “


“3 dewasa?”


“Saya membawa para baby sitter untuk anak-anak”


“Hmm..baiklah aku akan menyuruh mereka membawa mobil yang agak besar”


“Terima kasih tante, sampai bertemu!”


“Ya!”


Rita segera membawa Rayya ke kamar mandi untuk memandikannya, beberapa menit kemudian ia selesai. Rita meletakkan tubuh Rayya beralaskan handuk di atas ranjang, lalu mulai memberinya minyak telon,bedak bayi. Memakaikannya pamper dan pakaian.


“Done! Kamu cantik sekali Rayya dan wangi!” Rita menyukai wangi bedak bayi, ia menciumi tubuh Rayya, tak lupa ia memfoto dan mengirimkan gambarnya ke hp suaminya dengan caption


“Lihat Rayya lucu sekali bukan?” Rita memakaikan pakaian berbentuk labu,Daniel menerima gambar itu , ia tersenyum


“Lucu sekali, apa kalian mau pergi ke karnaval haloween?” balasnya


“Hahaha, tidak! Aku menemukan pakaian ini kemarin di mall, sayangnya tidak ada ukuran untuk Ranna dan Raffa, tubuh mereka lebih besar dari pada anak-anak seusianya. Aku harus mencari pakaian usia 4 tahun”


“Itu karena ASI mu cocok dengan anak-anak!” balas Daniel lagi


“Baiklah, aku harus berganti pakaian!, dah sayang!”


“Dadah!” Daniel tersenyum menutup ponselnya, supirnya memperhatikan bosnya sejak tadi


“Anda terlihat bahagia sekali bos?”


“Ya begitulah Dickens, aku diberkati istri yang cantik dan baik, anak-anak yang sehat dan lucu-lucu” Daniel membuka galery di ponselnya melihat foto-foto keluarganya


“Anda juga masih sangat muda”


“Sangat? Tahun ini aku akan berusia 30 tahun!”

__ADS_1


“Benar kah? Wah hebat sekali!”


“Hebat?”


“Iya hebat, Anda mencapai posisi sebagai CEO sebelum usia 30 tahun bukan kah itu hebat?”


“Hmm...tapi aku mencapainya dengan kerja keras”


“Tentu saja! Anda mengingatkan saya pada bos saya sebelumnya”


“Oh ya? berapa lama Anda di Lexi?”


“Saya sudah dei Lexi sejak perusahaan ini berdiri, mungkin sekitar 18 tahun”


“Delapan belas tahun? Aku pikir usia Lexi lebih tua dari itu”


“Sir Alec memulai usahanya pada usia 25 tahun sebelumnya ia bekerja di sebuah perusahaan kecil. Aku ingat sekali saat itu aku mengantarnya ke sebuah perusahaan untuk menawarkan penemuannya, ia sangat senang sekali ketika perusahaan tersebut bersedia memberikan modal usaha untuknya”


“Modal usaha? Bukan kah ayah sir Alec orang kaya?”


“Betul, tapi kekayaan ayahnya dikuasai oleh ibu tiri sir Alec. Aku dengar ayahnya memberikan cincinnya kepada sir Alec untuk dijual sebagai modal usaha”


“Cincin? Apa cukup untuk modal?”


“Tentu tidak, setahu ku sir Alec tidak menjualnya tetapi digadaikan, setelah ia punya uang ia tebus kembali”


“Dickens, aku dengar Sir Alec dekat dengan tuan Lucas? Apa adik tirinya tidak membantu?”


“Tuan Lucas? Ia seperti ayahnya. Aku heran bagaimana dia bisa menyelamatkan sir Alec dengan semua kuasa ada pada ibunya” Dickens terdiam


“Jadi dulu Anda supir pribadi Sir Alec?” tanya Daniel


“Iya!, aku ingat sekali, bagaimana mesranya dia pada istri dan anaknya” Dickens tersenyum mengingat


“Berapa putra sir Alec?”


“Sebenarnya ia punya anak 3, tetapi anak ketiga jatuh sakit karena kanker tulang. Kasihan sekali padahal usianya masih 5 tahun, ia harus bolak-balik dirawat akhirnya meninggal. Sejak saat itu Sir Alec agak menjauh dari istrinya, ia berduka. Kedua suami-istri itu tidak lagi mesra seperti dulu, hingga sir Alec terlibat skandal dengan seorang model cantik asal Spanyol dan memiliki seorang anak perempuan yang bernama Isabela. Kabarnya Isabela menjadi model di Lexi”


“Isabela? Isabela Montenegro?”


“Iya betul! Anda mengenalnya?”


“Tentu saja!” Daniel mengingat model yang membuatnya dalam kesulitan beberapa waktu yang lalu


Mobil telah tiba di loby kantor Lexi yang megah


“Terima kasih Dickens, nanti aku hubungi jam pulang kantor!” ujar Daniel, ia keluar dari mobil


“Baik pak!” Dickens pergi dengan mobilnya, sementara Daniel hendak masuk ke dalam kantor, tiba-tiba seseorang memanggilnya


“Pak Daniel? Daniel Kang?” panggil suara itu, Daniel menoleh. Seorang wanita cantik setengah berlari menghampirinya


“Pak Daniel! ingat aku?” ujar wanita itu ramah


“Hmm...siapa ya?” tanya Daniel heran


“Aku Isabela! Isabela Montenegro!” ujarnya sambil menjabat tangan Daniel


“Isabela? Hah?” Daniel kaget dengan penampilan Isabela tanpa make up tebal, yang menurutnya lebih cantik


“Anda pasti tidak mengenal saya dengan penampilan seperti ini”


“Ah iya!, maaf saya tidak mengenali Anda” Jawab Daniel agak gugup, dengan santai Isabela jalan bersama Daniel memasuki kantor


“Aku tidak menyangka akan bertemu Anda di sini pak Daniel” ujar Isabela, ia banyak tersenyum


“Oh ya? sayang sekali, aku membawahi bagian fashion di sini”


“hmm..begitu” Daniel menjawabnya dengan dingin


“Anda belum memaafkan saya ya?” tanya Isabela dengan suara sedih


“Maaf? Eh? Bagaimana?” Daniel makin gugup, ia bingung harus berbuat apa sifat pemalunya muncul


“Aku pernah berbuat jahat pada Anda, tidak heran Anda merasa heran dengan sikap ku kan?”


“Ahh...sebenarnya aku sudah melupakan semuanya” jawab Daniel, mereka hendak memasuki lift


“Benarkah? Syukurlah!” mereka terdiam. Lift berhenti di lantai 15


“Yap, aku di sini, Isabela senang bertemu dengan Anda!” Daniel menyalami Isabela


“Saya di lantai 20 pak, sampai bertemu lagi!” jawab Isabela tersenyum. Daniel segera keluar dari lift dan masuk ke ruangannya, jantungnya berdebar kencang


“Kenapa sih aku ini?” ujarnya sambil memegang jantungnya


Sementara Rita telah tiba di kediaman Metha


“Haloo Tante Metha!! Aku kangen sekali!!” Rita memeluk tantenya


“Rita sayang!!!” balas tantenya tersenyum


“Tante ini anak-anak ku!”


“Ranna! Ya ampun kamu sudah besar ya?” Metha menggendong Ranna,


“Oma!” Ranna memeluknya, ia masih ingat Metha


“Ah kamu ingat ya sama Oma”, Metha tersenyum ramah


“Lalu yang dua ini siapa?” tanya Metha


“Ini Raffa dan yang kecil ini Rayya usianya baru 6 bulan” jawab Rita


“Ya Ampun Raffa kamu tampan sekali! Dan Rayya, ckckckck...kamu versi sachet mama mu ya?” Metha memeluk cucunya satu persatu


“Ah tante bisa saja”


“Ayo masuk !” ajak Metha, mereka memasuki rumah bergaya spanyol


“Tante, rumahnya bagus sekali” puji Rita mengagumi


“Yah, walaupun tidak sebesar rumah mu di Jakarta, tetapi rumah ini hasil kerja keras ku” jawab Metha bangga


“Apa tante membangunnya dari nol?”


“Tidak!, aku membelinya dari seorang bangsawan spanyol yang butuh uang, kamu pasti kaget zaman sekarang begitu banyak orang bergelar bangsawan tetapi mereka miskin. Aku merenovasinya sesuai keinginan ku”


“wow, luas dan megah! Seperti galery seni”


“Ini hanya lobby Rit, aku memang sengaja membuat seperti ini agar suami ku gak repot mencari tempat untuk pameran lukisannya. Ayo kita masuk ke ruang utama!” ajak Metha lagi. Mereka masuk ke ruangan yang lebih besar lagi


“Wah tante, ini ruangan utamanya? Seperti lobby hotel mewah” Rita memperhatikan ruangan yang luas dengan nuansa kuning emas bergambar lukisan pada dindingnya. Ada beberapa pintu di situ.


“Aku menerima para tamu suami ku di sini. Ruangan di sana itu kantor untuk kami transaksi. Ruangan di sana bengkel kerja suami ku. Ia juga membuka kursus melukis di bengkel itu. Ayo masuk lagi ke ruangan favorit ku!” ajak Metha, mereka berjalan lebih jauh lagi dan memasuki ruang yang lebih kecil tetapi tampak asri dengan tanaman dan kolam ikan kecil.

__ADS_1


“Nah Rita ini sanctuary ku, kamu pasti mengingat taman ini kan?”


“Hmm...oh ini seperti taman Zen di rumah !” ujar Rita, Metha tersenyum


“Betul sekali!, di atas itu kamar kami, juga kamar anak-anak dan para nanny”


“Oh iya tante anak-anak mana?” tanya Rita


“Mereka sedang dibawa ayahnya pergi mengunjungi nenek mereka” jawab Metha


“Wah sayang sekali padahal saya sudah bilang ke anak-anak agar bermain dengan para paman mereka” ujar Rita


“Paman? Oh iya ya?” Metha tersenyum, mereka duduk di sofa besar dan nyaman, pelayan membawakan makanan suguhan untuk mereka


“Ah iya tante, aku membuat pie labu ini, aku harap tante suka!” Rita menyerahkan pie labu yang ia bawa dalam sebuah kardus yang cukup besar


“Pie labu? Pasti enak! Keponakan ku terkenal sekali pandai memasak!” dengan semangat Metha memotong pie labu dan meletakkan di piring kecil suguhan lalu melahapnya


“bagaimana?” tanya Rita


“Wahhh...kamuuu..benar-benar jenius Rit, enak sekali...kulit pienya lumer di mulut dan isiannya tidak terlalu manis tapi gurih..aku pikir pie ini akan aku habiskan sendiri” Metha mengambil lagi kali ini dengan potongan yang lebih besar


“Rit, kamu ini berdosa besar!” ujarnya dengan mulut penuh


“hah dosa?”


“Ya kamu dosa, semakin aku makan pie ini aku makin ketagihan” Metha memakannya dengan mata berbinar, Rita tersenyum bangga. Sementara anak-anaknya bermain di sekitar kolam dengan pengawasan suster mereka


“Jadi Rit bagaimana kabar mu?” tanya Metha, ia menghentikan makannya lalu menuangkan teh hangat untuk Rita dan dirinya


“Baik tante Alhamdulillah!, selain sibuk dengan 3 bayi, kuliah juga dengan toko roti ku”


“Oh iya D’Ritz! Aku pernah memborongnya sewaktu pergi ke Singapura”


“oh ya? kapan itu tante? Kenapa gak bilang?”


“Hmm..3 bulan yang lalu! Aku mengantar suami ku pameran di sebuah hotel di sana. Aku memborong roti mu untuk suguhan para tamu dan mereka sangat puas!”


Rita tersenyum senang dengan pujian tantenya


“Oh iya tante masih kerja untuk kakek kan?”


“Tentu saja! Dar.Co cabang Zurich aku yang pegang, tetapi di sini aku sebagai komisaris, untuk operasional kami menyewa para professional”


“Tante, apa jabatan komisaris itu bisa digeser?”


“Tentu saja, tapi hanya dengan rapat pemegang saham. Posisi ku di sini agak kurang aman, apalagi desas-desus kesehatan papa, harga saham anjlok. Aku pernah sampai membuka simpanan darurat Dar.co untuk membeli saham Dar.co yang anjlok di pasaran kalau tidak begitu Dar.Co akan jatuh ke pihak lain”


“Oh begitu, ternyata berat ya jadi komisaris, kapan sahamnya anjlok tante?”


“Dua kali, ketika Radian meninggal dan sakitnya papa. Aku gak menyangka kepercayaan pasar pada Radian begitu besar, tapi syukurlah aku bisa mengatasinya”


“Syukurlah!” Rita menyeruput tehnya


“Jadi Rita, bagaimana kabar Daniel?”


“Daniel? dia baik, dia sangat bersemangat dengan pekerjaan barunya di Lexi”


“Oh ya? apa hubungan kalian baik-baik saja?” tanya Metha menyelidik


“Baik tante, tadi pagi dia ingin kami menambah jumlah anak lagi, 2 atau 3. Capek deh!!!” keluh Rita, Metha tersenyum


“hmm...aku mendengar desas-desus tentang Daniel di sini Rit” Metha dengan suara serius


“Desas-desus? Daniel? Daniel saya?” tanya Rita heran


“Iya, kamu tahu kan lingkungan para pekerja seni. Sejak menikah,Aku mendalami pekerjaan pekerja seni. Walaupun suamiku itu pelukis, tetapi desas-desus diantara para model, fashion orang kaya berseliweran. Mengingat biasanya para bos menghabiskan uang mereka untuk membeli lukisan untuk para mistress atau para simpanan mereka”


“Maksud tante apa?”


“Beberapa bulan lalu aku mendengar seorang model cantik, muda bernama Isabela Montenegro memiliki kekasih gelap keturunan Korea. Ia seorang CEO muda baru di Lexi. Aku mencari tahu tentang CEO muda keturunan korea itu, tapi katanya bernama Daniel Kang”


“hah? Hahaha..tante pasti bercanda kan?” ujar Rita tidak percaya, wajah Metha terlihat sangat serius, Rita jadi takut sendiri


“Gak mungkin ah tante, karena sikapnya pada ku dan anak-anak tidak berubah”


“Apa dia makin mesra?”


“Kadang-kadang kalau ada maunya, kadang ku pikir libido suami ku lumayan tinggi”


“oh ya? apa kamu pernah mendengar tentang desas-desus itu?” tanya Metha menyelidik


“Sebenarnya awal-awal ia memasuki Lexi, dia pernah terlibat masalah dengan seorang model”


“Oh ya? lalu?” Metha memotong ucapan Rita


“Daniel bercerita, ketika ia diundang pemotretan ia melihat pakaian seorang model, ia tertarik pada pakaian itu dan berniat untuk membelikannya untuk ku tetapi ternyata model itu salah paham, ia menganggap Daniel tertarik padanya” ujar Rita


“Kamu mempercayainya Rit?”


“Tentu saja, ia meletakkan sebuah kamera tersembunyi di dasinya, dan menunjukkan rekaman percakapan antara dia dan model itu”


“hmm..mencurigakan”


“Kok mencurigakan? Justru itu bukti kuat tante” ujar Rita


“Bisa saja kan dia sengaja membuat video itu agar kamu tidak curiga?”


“tapi tante, aku mempercayai suami ku, dia pasti bilang kalau sesuatu yang serius terjadi”


“Apa dia pernah cerita tentang desas-desus itu?” tanya Metha lagi


“Tidak, aku pikir karena dia pernah bilang urusannya dengan model itu sudah selesai, model itu sudah meminta maaf padanya”


“Benar kah? Kenapa aku gak percaya ya? Daniel manusia biasa Rita, walaupun istrinya cantik tetap saja ia melihat keluar banyak yang lebih cantik dan sexi” ujar Metha. Rita terdiam, sore harinya ia pulang ke rumah


“Assalammu’alaikum!”


“Wa’alaikummussalam!” Daniel telah tiba di rumah, ia menyambutnya


“Wah kalian bersenang-senang ya?” ujarnya


“Papi!! We have fun there!” ujar Raffa bercerita


“Mereka main apa?” tanya Daniel


“Oh itu, mereka bermain di ruang mainnya di kembar, mereka menyukainya” sikap Rita agak dingin, dia mulai terpengaruh dengan cerita Metha.


Malam harinya, menjelang tidur Daniel mencium lengannya


“Sayang, aku sedang tidak ingin” tolak Rita


“Hmm...baiklah, kamu lelah ya?” Daniel mencium pipi istrinya lalu ia menghadap ke tempat lain dan terlelap. Kata-kata Metha terngiang-ngiang di kepalanya, Rita tidak bisa tidur. Perlahan ia keluar kamarnya dan masuk ke kamar anak-anaknya. Ia tidur di samping Ranna yang tidurnya lebih tenang, sebelumnya ia tidur di samping Raffa, tetapi beberapa kali ia terkena tendangannya.


“Kak, mami tidur di sini ya?” Rita tidur sambil memeluk Ranna

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2