Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 291: Di Auckland dan Tawaran Kakek


__ADS_3

Daniel dan Rita telah kembali dari Swiss, sebelum pulang ke Jakarta mereka mampir ke Auckland untuk menemui kakek mereka.


“Ah...cucu dan cicit kakek pada datang!” Kakek Darmawan menyambut kedatangan mereka yang tiba pada malam hari


“Kakek! Sehat-sehat kek?” Rita memeluk kakeknya, Daniel yang menggendong Rayya juga memeluk kakek Darmawan


“Kak Andi mana Kek?” tanya Rita, kakek menggendong Raffa dan menidurkannya di sofa, sedangkan Ranna masih terlelap di strollernya


“Bawa mereka ke kamar saja!” ujar kakek memberi perintah kepada para baby sitter. Baby sitter membawa Ranna dan Raffa ke kamar anak di lantai 2, sedangkan Rayya masih dalam gendongan Daniel.


“Rayya gak dibawa ke kemar saja Niel?” tanya kakek


“Dia ini baru tidur kek, tadi kakaknya pada main dia tidur giliran kakaknya tidur dia baru bangun, tadi di bandara dia tidur lagi” jawab Daniel sambil mengusap rambut anaknya yang lelap tidur


“Jadi kalian mau berapa lama di Jakarta ? di sini kalian menginap beberapa hari kan?” tanya Kakek


“Kami di sini dua hari, lalu ke Jakarta beberapa bulan. Setelah itu kami akan menetap di Swiss kek” jawab Rita


“Akhirnya pindah juga ya ke Swiss” ujar kakeknya


“iya Kek, sudah tidak bisa ditunda lagi, kontrak Lexi dengan beberapa perusahaan di Jakarta juga akan berakhir” jawab Daniel


“Aku sudah menukar semua saham ku di Singapura dengan di Jakarta, Niel. Jadi sekarang resmi Darmawan Corp tidak ada lagi di Singapura” jelas kakek


Daniel mengangguk tanda mengerti


“Bagaimana dengan Mario kek?” tanyanya


“Mario aku tarik ke Jakarta, dia akan pindah dari Singapura ke Jakarta bulan ini”


“Bagaimana dengan Erina?” tanya Rita tiba-tiba


“Erina? Siapa?” tanya Darmawan heran


“Saya dengar Mario akrab dengan Erina beberapa tahun belakangan” jawab Rita


“Eh Mario tertarik dengan perempuan juga?” tanya kakek


“Iya kek! Dia normal kok, Cuma gayanya saja yang melambai begitu” jawab Daniel tertawa


“ooo,...itu terserah Mario kalau dia mau melanjutkan hubungan dengan Erina dan tinggal bersamanya di Singapura aku tidak akan memaksanya”


“Gawat kalau begitu!” ujar Rita


“Kenapa gawat?” tanya Daniel heran


“Kalau Erina menikah dengan Mario dan ia ikut pindah ke Jakarta, D’Ritz ku gimana dong?” ujar Rita


“Toko roti mu?”


“Iya kek, selama ini Rita percayakan semua pengurusannya ke Erina”


“hmm...apa Erina ini bisa dipercaya?”


“Rita selalu mengeceknya sih kek, dan selama ini tidak ada yang aneh”


“Kalau kamu pindah ke Swiss, makin jauh dari toko mu?”


“Di Lexi itu termasuk fleksible kok kek, seperti sekarang Daniel sudah berada di Swiss selama satu bulan, kembali ke Jakarta, ia diberi libur 1 minggu sebelum kembali bekerja. Nah 1 minggu itu kami gunakan untuk kemari dan Singapura.” Ujar Rita


“Oh begitu, tapi jam kerja mu pasti tak tentu ya?” tanya kakek


“Kalau di Swiss jam 9-18 kek, itu karena ada target jam kerja yang harus Niel penuhi, misalnya dalam 1 minggu 20 jam. Kalau sebelum 1 minggu sudah terpenuhi 20 jam, Niel bisa libur!” ujar Daniel menjelaskan


“Tapi tetap saja untuk memenuhi 20 jam itu harus ekstra kerja keras ya? apa kamu gak keberatan Rita?”


“Enggak kok kek, karena fasilitas yang disediakan Lexi benar-benar memanjakan keluarga para pekerjanya. Dari rumah yang nyaman, supir, macam-macam deh kek. Rita sampai betah di sana”


“Begitu ya?”


“Assalammu’alaikum!” Andi datang bersama Mario


“Wa’alaikummussalam! Eh O kok di sini?” tanya Rita, mereka saling bersalaman


“Halo bos Daniel!” Mario menyalami Daniel


“Hei O!”


“Itu Rayya kan?” tanya Andi


“Iya!”


“Aku gendong dong!” pinta Andi, Daniel menyerahkan Rayya yang tertidur pada Andi


“yaa ampun, sudah besar! Berapa bulan sekarang Rit?” tanya Andi


“Jalan 8 bulan”


“Ih mukanya Ritong banget!” Mario memperhatikan wajah Rayya


“Masa?” Rita melihat wajah anaknya


“Kamu gak pernah percaya kalau Rayya mirip mukanya sama kamu!” ujar Daniel


“Aku kan gak pernah memperhatikan wajahku sendiri” jawab Rita membela diri


“Lah, memangnya lo ga pernah dandan apa?” tanya Mario heran


“Dandan sih, tapi gak pernah sampai lama mematut diri di cermin”


“Jadi Mario, kamu sudah benahi semua urusan mu di Singapura?” tanya Kakek


“Sudah kek, kemarin kami perpisahan..ih sedih deh!”


“Karyawan eks Dar.Co pada kemana tuh?” tanya Rita


“Ada yang tetap di perusahaan lama, eh kek ternyata bukan Lexi ya yang beli saham Dar.co Singapura”


“Oh ya? siapa?”


“Saya dengar CITE”


“CITE? Itu punya sir Lucas” ujar Andi

__ADS_1


“Sir Lucas? Charles Lucas?” tanya Mario


“Iya! Kamu pernah dengar tentang ini Niel?” tanya Andi


“Tentang cabang, aku gak pernah tahu beritanya, karena bidang pekerjaan ku yang sekarang beda dengan dulu”


“Oh ya? sekarang apa?”


“Power plant alternatif energy”


“Wah, Lexi saingannya perusahaan kakek Sugi tuh!” ujar Andi


“Tapi Lexi kan pemain baru, sedangkan perusahaan kakek Sugi sudah lama berkecimpung di bidang itu” jawab Daniel


“Wilayah kerjanya niel?” tanya Andi lagi


“Kami sosialisasi di Jakarta, tapi agak sulit ya sebagai pemain baru. Apalagi berurusan dengan birokrasi, untuk perijinannya lumayan mahal, kami sedang menimbang kembali untuk project di beberapa daerah di Indonesia.” Jawab Daniel


“Kok urusan pekerjaan terus nih, Tiga hari lagi hari raya Qurban kan? Kakek berqurban apa? Daniel membeli sapi untuk qurban di Jakarta” ujar Rita


“Kakek sapi juga, 5 ekor, dua di Jakarta tiga di sini” jawab Andi


“Ai, qurban sapi di Sukabumi, besok pagi Ai berangkat ke Jakarta lalu ke Sukabumi” jawab Mario


“Sekalian cek rumah kami ya O!” ujar Rita


“Memangnya kalian punya rumah di Sukabumi?” tanya kakek


“Iya kek, Daniel membeli rumah ayah Reza, lalu di renovasi, niat kami kalau libur bisa ke Sukabumi” jawab Rita


“Makin banyak saja tempat yang kamu harus kunjungi Rit, ya Auckland, Singapura, Swiss eh sekarang Sukabumi”


“Iya Kek, biar gak bosan!”


“hhhh...uuhhhhhuuuuu” tiba-tiba Rayya terbangun, ia menangis


“Hei Adek! Coba tebak di mana?” tanya Andi. Rayya yang masih bingung dengan orang dihadapannya menangis dan minta digendong oleh maminya


“Sini Dek, eh jangan nangis, ini rumah aki eyang!” ujar Rita menenangkan Rayya


“hahaha...tuuuhhhkan....mirip!! ni anak fotokopi diperkecil!” ujar Mario yang disambut tawa


Malam telah larut, mereka kembali ke kamarnya masing-masing.


“Sudah lama kita gak ke kamar ini ya?” ujar Daniel, melihat ke sekeliling kamar Rita


“Iya, terakhir kita kesini kapan ya?” tanya Rita mengingat-ingat


“hmm...apa waktu resepsi? Eh enggak, aku tidur di kamar ini waktu aku datang mewakili draft waris kamu! Waktu itu kamu lagi hamil Ranna 8 bulan!”


“Wah sudah lama juga ya?” Rita telah berganti pakaian menjadi piyama, Rayya yang mulai belajar berdiri dibiarkan mengeksplor kamar.


“Kamu gak mandi Yang?” tanya Rita memperhatikan Daniel yang masih memegangi Rayya


“Ini mau, Rayya gak apa-apa ditinggal?”


“Kan ada aku!, lepas saja!”


Daniel tidak tega, ia menggendong Rayya dan memberikannya kepada Rita


“Adek ganti baju ya?”


“hhh...ahhh....hahaaaaaa” Rayya aktif, ia terus membalikkan tubuhnya untuk merangkak menjauhi Rita


“Adek!! Ganti baju dulu!” ujar Rita dengan nada tegas


“huaaaaa!!!!” Rayya menangis mendengar suara Rita yang terkesan galak


“Adek kenapa?” tanya Daniel, ia sengaja keluar dari kamar mandi dengan handuk di bagian bawah tubuhnya


“Gak apa-apa! kamu selesaikan mandi mu!” ujar Rita geli melihat tubuh suaminya penuh dengan busa sabun


“Adek, mami gak akan marah kalau adek nurut apa kata mami, oke?” akhirnya Rita berhasil mengganti pakaian Rayya, lalu menyusuinya


Daniel telah selesai mandi dan sholat Isya, ia menaruh Rayya di kamar anak bersama kakak-kakaknya yang masih lelap tertidur.


“Kamu lebay banget ya sama Rayya” ujar Rita, ia berbaring di samping Daniel


“Hmm....dia kan anak paling kecil, masih bayi lagi” jawab Daniel


“Rayya kan anak ku juga, memangnya aku mau ngapain dia?”


“Refleks! Aku pikir kenapa-napa sama kalian!”


“memangnya bakal kenapa?”


“Yaa jatuh misalnya?”


“Sayang, ruangan ini berkarpet tebal, coba saja kamu jatuh gak bakal luka deh!”


“Iya..iya....hoaahhh....aku capek sekali...zzzzzzz” Daniel tertidur pulas,


Rita mematikan lampu di kamarnya lalu tidur di samping suaminya.


Saat sarapan pagi


“Daniel mana Rit?” tanya Andi


“Masih tidur, dia itu kalau lagi libur benar-benar digunakan untuk rebahan, bahkan untuk sarapan pagi saja dia malas. Ia bergerak hanya untuk sholat, setelah itu balik lagi rebahan” Rita mengoleskan selai ke rotinya


“Anak-anak mau gue ajak jalan, boleh gak?” tanya Andi


“Mau kemana?”


“Antar Mario ke bandara terus jalan deh, ke taman hiburan”


“Bawa baby sitter ya? kak Andi pasti repot deh dengan 2 anak itu!”


“Eh Rayya gak bisa diajak?”


“Gak bisa! Daniel benar-benar nempel sama anak itu! Sekarang saja ia menaruh Rayya untuk rebahan bersamanya” ujar Rita


“Hahahaha....itu artinya laki yu, sayang banget sama yu, makanya dia gak mau lepasin kembaran yu!” ujar Mario tiba-tiba

__ADS_1


“Lo cabut sekarang O?” tanya Rita


“He eh! Ai mau lebaran di Sukabumi, sudah 3 tahun Ai gak pulang ke rumah!”


“Lo harus punya rumah sendiri O!, Lo sudah kerja keras di sini, di Singapura. Memang membantu panti bagus, tapi lo juga harus punya milik pribadi!” ujar Rita


“Iya Tong! Ai juga ngerti. Bos Daniel dari jauh-jauh hari juga bilang begitu.”


“Oh ya? memangnya dia bilang apa?”


“Uang itu seperti air, gampang dapat gampang hilang. Kalau Ai gak pinter-pinter ngatur duit bisa-bisa kejadian seperti bokap Ai dulu. Misskiiinnnn se miskin miskinnya” ujar Mario sambil menyantap sarapannya


“Dari Sukabumi kapan kembali ke Jakarta?” tanya Kakek yang tiba-tiba datang untuk sarapan


“Ai dua minggu kali kek di Sukabumi, mungkin kurang ya? tapi Ai usahakan kembali setelah 2 minggu”


“Btw O, gue bakal tinggal di Swiss”


“Oh ya? mulai kapan?”


“Sebulan lagi sih, ini pulang dulu untuk mempersiapkan kepindahan semuanya”


“Berapa lama di sana?”


“Dua tahun!, kontrak Daniel dengan Lexi 3 tahun, nah kan sudah berjalan setahun jadi 2 tahun lagi” jawab Rita


“Setelah 2 tahun lo balik ke Jakarta?”


“Gak tau juga! Gue ngikutin beliau saja! Kalau ternyata kontraknya diperpanjang” jawab Rita


Darmawan memperhatikan Rita, lalu melanjutkan makannya.


Selesai sarapan, Andi membawa Ranna dan Raffa mengantar Mario ke bandara, sementara Rita menemani kakeknya berkuda.


“Sudah lama kita gak berkuda ya Rit?”


“Iya kek!, Ellen baru melahirkan, ini anaknya Ellen yang waktu itu pernah Rita bantu kelahirannya”


“Kuda memang cepat besar” mereka berpacu mengelilingi stadion


“Rita, seandainya kontrak Daniel dengan Lexi selesai, kamu mau membujuknya untuk memegang Dar.Co cabang Jakarta?” tanya kakek


“hmm...Kek, bagaimana kalau Rita saja?”


“Kamu?”


“iya kek, Rita kan lebih berhak dari Daniel kalau dilihat dari keturunan kakek”


“Itu benar Rit, tapi apa kamu gak tambah repot? Menjadi Direktur utama itu berat lho, kamu gak bisa sesuka hati mu. Kalau gak mau kerja berhenti, gak bisa begitu. Pekerjaan Dirut itu 24/7, dua puluh empat jam selama 7 hari. Kamu bertanggung jawab penuh. Kakek sangat bangga dengan pencapaian mu atas D’Ritz. Tapi sekarang saja kamu kewalahan juga kan? Meskipun kamu gak bilang tapi kakek bisa melihat itu semua” ujar kakek panjang lebar


“Ditambah lagi anak-anak yang beranjak tumbuh, mereka akan membutuhkan perhatian maminya lebih. Kakek melihat perkembangan Ranna dan Rayya yang sangat cerdas daripada anak-anak seusianya, itu karena kamu Rita. Kakek mengakui kemampuan mu kok, beneran deh! Tapi kakek juga sayang sama kamu. Menjadi Dirut itu bisa mematikan hati nurani, kadang kamu harus memutuskan sesuatu yang berlawanan dengan hati mu!”


Rita terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan kakeknya.


“Tapi kalau Daniel kenapa kakek begitu ingin dia yang memegangnya?”


“Kamu pernah dengar perbedaan cara berpikir laki-laki dan perempuan?” tanya kakek


Rita menggeleng


“Kalau perempuan bisa multi tasking, seperti kamu bisa mengurus apa saja dalam satu waktu, sedangkan lelaki tidak bisa begitu. Daniel bisa fokus pada pekerjaannya dan dia punya kamu yang selalu mendukungnya. Kakek lebih tenang kalau perusahaan kakek dipegang oleh keluarga dari pada orang lain”


“Kek! Bagaimana kalau kakek memberikan Daniel keleluasaan selama beberapa tahun ini, mungkin 5 tahun, agar ia bisa belajar dari tempat lain dulu sebelum masuk kembali memimpin Dar.Co? lagi pula kakek masih sehat wal’afiat. Rita dengar kalau orang terbiasa bekerja tiba-tiba berhenti bisa sakit lho kek!” bujuk Rita


Kakek terdiam, ia memikirkan ucapan Rita, akhirnya mereka selesai berkuda. Rita kembali ke kamarnya. Daniel sedang bermain di depan TV dengan Rayya


“Hei, kamu sibuk apa?” tanya Daniel


“Aku berkuda bersama kakek!” Rita melepas jaket berkuda dan topinya. Rayya mendekati Rita. Ia mulai belajar berdiri. Rita menggendongnya


“Kenapa wajah mu Dek?” tanya Rita melihat wajah Rayya yang digambar kumis


“oh tadi kami main perang-perangan, Rayya jadi tentaranya” jawab Daniel, sambil memindahkan chanel TV. Rita membawa Rayya ke kamar mandi untuk diganti popok dan membersihkan wajahnya, lalu ia berikan lagi kepada Daniel


“Adek sama papi dulu, mami mau mandi dulu” Rayya duduk di samping Daniel, ia mulai berdiri lagi


Beberapa menit setelah mandi dan berpakaian, Rita melihat beberapa makanan di atas meja tamu


“Itu dari siapa?” tanyanya sambil memakan kentang goreng


“Tadi aku menelepon dapur meminta makan siang untuk diantar ke kamar! Juga cemilan-cemilan. Aku malas ke ruang makan”


“Tapi ada kakek di ruang makan, tadi sarapan kamu belum bertemu kakek kan?”


“Iya sih, tapi..”


“Kamu kenapa? Menghindar dari kakek?”


“Bukan begitu, masa kamu gak peka dari tadi malam kakek menyebut tentang Dar.Co, bikin aku merasa bersalah saja”


Rita diam saja, baru kali ini ia melihat suaminya menghindari seseorang.


“Kamu mandi dulu deh, bau nih!” ujar Rita, Daniel mencium tubuhnya,


“Enggak ah!!” ia bercanda memeluk Rita


“Heyy!!! Bau !!!” protes Rita berusaha melepaskan pelukan Daniel, Rayya menghampiri Daniel dan memukulnya


“Huaaa!!!!” ia menangis melihat Rita dipeluk Daniel


“Eh Adek kok nangis?” tanya Daniel heran


“Dia gak terima maminya dizalimi papinya!” ujar Rita sambil menggendong Rayya


“Adek benar-benar deh, papi selama ini yang bersama adek, tapi kamu tetap saja membela mami! Huuuuu” Daniel berpura-pura menangis


“haaaaaa!!!!!” Rayya marah dan mencubit pipi papinya


“aduuhhh!!!!” Daniel meringis


“Kamu disuruh mandi tuh!” ujar Rita tertawa, Daniel beranjak mengambil handuk, lalu ia membawa ponselnya dan memotret Rita dan Rayya


“Mau motret si kembar dulu!” ujarnya

__ADS_1


“Dasar!” Rita tersenyum sambil bergaya di depan ponsel.


_bersambung_


__ADS_2