
Di Sabtu pagi yang cerah, Rita dan Daniel berolahraga bersama di gym langganan mereka, mereka asyik mengobrol.
“Bagaimana sekolah Rit?” tanya Daniel membuka percakapan
“Biasa saja”
“Gak ada kejadian seru? Biasanya disekitarmu banyak kejadian yang seru?”
“Sejak perundungan Sisca terbongkar, banyak anak-anak geng membubarkan diri.”
“Oh ya? bisa begitu?”
“Bisa dong, buktinya yang tadinya selalu berkelompok-kelompok mainnya, sekarang mereka lebih memilih sendiri-sendiri, paling 1-2 orang”
“Kepala sekolahnya hebat dong bisa membubarkan geng kayak begitu?”
“Bukan kepala sekolah, tetapi pemilik sekolah. Setelah perundungan Sisca, ia sengaja datang ke sekolah, dan memanggil para ortu siswa yang anaknya ketua geng. Entah apa yang dikatakan pemilik , keesokan harinya banyak geng yang membubarkan diri.”
“Sebenarnya nge-geng itu gak masalah, kita kan berkumpul sama orang yang satu pemikiran. Geng jadi bermasalah kalau mulai menindas orang lain, iya gak Rit?”
“Betul sekali!”
“Oh iya, kamu ingat temanku Saveetri?”
“Hmm..Saveetri yang di UEA itu?”
“Kamu ingat rupanya, sekarang ia sedang di sini!”
“Di sini di mana?”
“Di Auckland! “
“Kekeuh banget ya orangnya?”
“Maksudnya?”
“Iya, Dia mengejar kamu sampai ke sini!”
“Kamu cemburu?” Daniel menyolek dagu Rita. Rita memalingkan wajahnya menghindar
“Aku lihat kamu akrab sekali sama dia, apa kalian pernah punya sejarah?”
“Maksudnya hubungan khusus gitu?” , pertanyaan Daniel dijawab dengan anggukan oleh Rita
“Dulu aku memang menyukainya, Saveetri itu cewek yang unik, pemberani, cantik lagi. Banyak cowok di pelatihan kami naksir dengannya”
“Termasuk kamu?” selidik Rita
“Hahaha...apa aku perlu jawab ya? itu kan masa lalu!” Daniel tersipu
“Tuhh kan!!!” Rita menunjuk perubahan wajah Daniel yang tersipu
“Eh kenapa?” tanya Daniel bingung
“Wajahmu selalu tersipu jika digoda oleh Saveetri atau membahas tentang dirinya” ujar Rita kesal
“Jangan kesal begitu, setiap orang punya masa lalu kan?”
“Oke, aku kan sudah cerita tentang masa lalu aku, sekarang kamu cerita tentang masa lalu kamu!”
“Aku kan pernah cerita tentang masa kecil aku?”
“Bukan tentang masa kecil, tapi cerita kisah cinta kamu! Aku gak mau nanti kamu terperangkap CLBK!”
“CLBK apaan tuh?”
“Cinta Lama Belum Kelar!”
“Hehehe...bisa saja,..tapi kalau dibilang cinta, kayaknya gak juga deh. Lebih pas itu cinta bertepuk sebelah tangan!”
“Hah? Siapa Dia?” tanya Rita kaget, Daniel menggeleng
“Kamu? Dia menolak kamu Niel?” tanya Rita kaget
“Kenapa kaget? Aku sering ditolak cewek tau!”
“Masa sih?” Rita tidak percaya
“Beneran! Tapi terimakasih pujiannya!”
“Saveetri ini orang ke berapa yang menolak kamu?”
“hmmm...ke berapa ya? aku gak ingat, soalnya aku tuh tipe gak mau mengingat kegagalan. Kalau gagal ya pasti tidak berhasil!”
“Ya iyalah!!, kamu konyol juga ya??” ujar Rita geli, baru kali ini ia melihat sisi konyol Daniel
“Saveetri itu lahir di India tapi besar di London. Keluarganya berimigrasi ke London, karena mereka menganggap India sangat tidak toleran terhadap orang yang berbeda agamanya.”
“Saveetri itu diambil dari nama Dewi di India kan?” tanya Rita
“Betul, tapi ia seorang muslim! Ayahnya menamakan Saveetri supaya ia tidak mendapat kesulitan di sekolahnya. Tetapi saat ia berusia 10 tahun, pecah kerusuhan antar umat Hindu dan Islam. Banyak korban berjatuhan, akhirnya ayah Saveetri membawa keluarganya pindah dari India”
“Sebenarnya yang salah bukan agamanya, tetapi orang-orang yang menggunakan agama untuk menindas orang lain!”
“itu betul, Saveetri juga bilang begitu, sering kerusuhan itu dipicu oleh pendapat salah satu politisi yang menyinggung umat beragama lain, akhirnya saling serang, korbannya rakyat yang tidak bersalah”
“Lalu, kenapa Saveetri bisa masuk ke kamp pelatihan?”
“Pengalamannya melihat kekerasan di masa kecilnya membuat ia trauma, untuk mengatasi itu ia mendalami bela diri. Ia juga sempat menjadi atlet olimpiade cabang taekwondo mewakili Inggris”
__ADS_1
“Wah hebat!”
“Kenapa ia tidak melanjutkan karir atletnya?”
“Keluarganya kesulitan ekonomi, menjadi atlet tidak memberikan penghasilan yang cukup baginya. Seseorang mantan atlet atau seniornya mengajaknya. Tugas awalnya hanya memberi pengamanan artis AS yang konser di Inggris. Penghasilan yang ia dapatkan sebagai bodyguard sangat baik, akhirnya ia memutuskan untuk menekuni bidang itu!”
“Lalu kenapa kamu ditolak olehnya?”
“Kamu penasaran banget ya? “
“Tentu dong, dari sisi penampilan, kayaknya sulit menolak kamu!” ujar Rita jujur
“ehhm...aku anggap itu pujian ya, tapi ini membuktikan kalau cantik atau tampan itu sifatnya relatif, tampan menurutmu belum tentu tampan menurut orang lain! dan belum tentu ketampanan atau kecantikan seseorang itu menarik buat orang lain”
“Yaa, aku setuju, lanjutkan ceritamu!”
“Nah, ternyata senior yang mengajaknya menjadi bodyguard itu cinta pertamanya Saveetri. Ia menyukainya sejak pertamakali bertemu di London”
“Seniornya itu juga orang India?”
“Iya betul!, sekarang senior itu menjadi suaminya!”
“Waaahhh..hebat, siapa bilang cinta pertama gak mungkin jadi?”
“Apa tuh? Quote baru?” tanya Daniel heran
“Enggak, dulu aku dan teman-teman pernah berdiskusi tentang cinta pertama, aku termasuk yang gak percaya kalau cinta pertama itu bisa jadi.”
“Yaa tergantung orangnya juga sih, mau aku lanjutin gak?”
“Lanjut dong!”
“Fredy, teman sekamarku juga naksir Saveetri. Ia mengatakannya padaku. Aku juga naksir Saveetri, tapi aku gak bilang sama Fredy. Selain malu, juga aku gak mau kami ribut gara-gara cewek. Jadi aku diam saja mendengar curhatan Fredy”
“Apa Fredy nembak Saveetri?”
“Iya, tapi ditolak. Fredy sempat shock, ia mogok berlatih. Dia bilang belum siap melihat wajah Saveetri”
“Lalu?”
“Dia sempat kesal dengan Saveetri, aku melihat perubahan sikapnya yang menjadi kasar padanya. Aku mengerti kemarahan Fredy, tapi gak seharusnya ia berprilaku begitu iya gak?”
“Memang apa yang ia lakukan?”
“Ia menyebarkan rumor kalau Saveetri mudah ditiduri oleh cowok mana saja”
“Waduh gawat itu, aku baru tahu kalau cowok sakit hati, sama saja ya sama cewek, lalu apa yang kamu lakukan untuk menghentikan rumor?”
“Awalnya aku gak tahu yang menyebar rumor itu Fredy”
“Bagaimana kamu mengetahuinya?”
“Saveetri, ia membuat Fredy mengakui perbuatannya. Aku ingat wajah Fredy yang setengah bonyok karena dipukuli Saveetri”
“Fredy tidak mudah kapok, justru ia malah tambah buas, ia mengajak teman-temannya untuk mengeroyok Saveetri, bahkan sebelumnya ia memberikan obat penenang padanya, sehingga Saveetri melemah”
“Lalu, apa yang kamu lakukan?”
“Fredy mengira aku salah satu temannya yang menuruti kehendaknya, aku mencegah hal buruk terjadi pada Saveetri. Ya bisa dibilang aku menyelamatkannya.”
“Kamu jadi musuhnya Fredy dong?”
“Ya, apa boleh buat. Dia memaksakku memilih. Bagaimana mungkin aku membantu kejahatan? Ia akan merusak seorang perempuan hanya karena ia menolak cintanya. Itukan konyol, menghasut teman lainnya untuk mengeroyok seorang perempuan, itu pengecut!”
“Tapi Niel, apa kamu gak dianggap pengkhianat oleh Fredy dan kawan-kawan?”
“Sejak Fredy dibuat babak belur oleh Saveetri, Fredy tidak lagi menganggapku teman, aku juga heran. Awalnya aku bingung dengan sikapnya yang selalu menghindar jika aku ajak bicara. Ternyata ia punya maksud lain. Aku bersyukur tidak dilibatkan dalam rencana jahatnya.”
“Aneh ya, kog bisa? Apa kamu pernah berbuat sesuatu dengan Fredy atau Saveetri?”
“Hmm..mungkin ya, aku juga gak yakin. Fredy pernah memergoki Saveetri menangis di pundak ku”
“Kenapa? Apa kalian sudah sedekat itu sampai Saveetri menangis dipundakmu?”
“ehem...sebenarnya, saat itu aku mengakui perasaanku padanya, eh tiba-tiba dia menangis. Cukup lama ia menangis. Aku membelikan es krim untuknya, lalu ia berhenti menangis. Kemudian dia bilang, menyesal tidak bisa membalas perasaanku karena ia sudah menyukai kakak seniornya. Ia juga minta maaf karena sudah membuat aku dan Fredy salah paham karena sikapnya yang terlalu ramah pada setiap orang.”
“Kamu? Apa kamu sedih?”
“Sedih? Tentu dong, aku kan beneran suka sama dia, aku paham perasaan Fredy. Tapi Aku juga gak mau memaksa orang untuk menyukai ku kan? Rasa suka itu gak bisa dipaksakan iya gak?”
“Betul tuh!!, Lalu bagaimana dengan Fredy?”
“Ia ditangkap polisi, aku dengar ia divonis 5 tahun penjara di London. Sejak itu aku gak pernah dengar lagi kabarnya!”
“Seru juga ya? Daniel, Saveetri bilang kamu orang yang setia, bagaimana dia tahu? Padahal kalian tidak pernah dekat?”
“Kamu tanyakan sama dia dong, yang ngomong kan dia, tuh orangnya datang!” Daniel menunjuk seseorang yang menghampiri mereka. Rita menoleh, ia melihat Saveetri datang menggendong seorang anak lelaki.
“Hai Rita, apa kabar? maaf aku menganggu olah raga kalian!” Saveetri menyalami Rita
“Tidak apa, kami sudah selesai kog, ini sedang mengeringkan keringat, oiya siapa pangeran kecil ini?” Rita menyapa anak Saveetri
“Ini anakku, namanya Dylan Shaakur!”
“Hai Dylan, Aku onty Rita!” Rita memegang tangan kecil Dylan. Tiba-tiba Dylan bergerak dari gendongan Saveetri, ia ingin digendong Rita
“Ia menyukaimu Rita!” Saveetri hendak memberikan Dylan kepada Rita, Rita mengangkatnya tapi tidak didekatkan ke tubuhnya
“Onty lagi banyak keringat Dylan, main di sana saja yuk!” Rita menurunkan Dylan lalu mengajaknya ke arena bermain anak.
__ADS_1
Saveetri dan Daniel melihat Rita , keduanya tersenyum
“Rita gadis yang baik Niel!, anakku saja suka padanya!, pertahankan ya?” ujar Saveetri tersenyum, Daniel membalas senyumannya, mereka duduk di cafe gym.
“Jadi ada urusan apa jauh-jauh kemari?” tanya Daniel ia melepaskan sarung tangannya
Saveetri membuka tas besar yang ia bawa, kemudian mengambil sebuah amplop besar
“Apa nih?”
“Buka dulu!”
Daniel membuka amplop besar, ketika dibuka isinya beberapa foto-foto rumah terbakar dan beberapa foto tentang lukisan anak-anak menangis.
“ini apa Vit?”
“Kamu percaya kutukan Niel?” tanya Saveetri
“Kutukan? Misalnya apa?”
“Aku sedang mengusut kasus kebakaran rumah. “
“Kamu jadi polisi atau penyelidik?”
“Bukan begitu Niel, salah satu klienku membeli lukisan anak menangis. Mereka bilang lukisan itu terkutuk, mereka yang membeli lukisan itu rumahnya akan terbakar”
“Kamu percaya hal itu?”
“Percaya gak percaya Niel, rumah besar ini milik klien ku yang membeli lukisan itu, sekarang terbakar habis, anehnya hanya lukisan itu yang tidak terbakar.”
“Jadi menurutmu anak dilukisan itu yang membakar rumah?”
“Kayaknya begitu Niel” tiba-tiba perubahan suara Saveetri seperti berbisik
“Konon katanya pelukis anak menangis ini mendapat inspirasi dari anak yang kedua orang tuanya terbakar di dalam rumah. Jadi ia melukis anak itu. Karena lukisannya begitu realistis, lukisan itu laku keras. Sehingga pelukis itu membuat lukisan itu lebih banyak lagi. Masalahnya, anak dilukisan itu akhirnya meninggal. Sejak saat itu, orang-orang yang membeli lukisan rumahnya terbakar. Rumahku hampir terbakar ketika dititipi lukisan ini oleh klienku.”
“Oh ya? kalau begitu buang saja lukisan itu!”
“Itu masalahnya Niel, setiap dibuang, lukisan itu selalu kembali. Kami sudah memasang CCTV di setiap tempat untuk mengetahui siapa yang memasang kembali lukisan itu. Tapi sebelum lukisan itu kembali ke dinding, cctv kami selalu rusak seperti terputus kemudian kembali ON dan voilaa..lukisannya kembali ke dinding.”
“Tapi rumah tempat lukisan itu tidak terbakar kan?”
“Sekarang kami meletakannya di luar, katanya setiap malam orang sering melihat anak kecil berlari-lari disekitar lukisan.”
“Kamu datang ke sini Cuma mau menakuti aku ya?” ujar Daniel kesal
“Bukan begitu Niel, aku mau minta tolong “
“Apa?”
“Kamu kenal dengan pemilik Charles Air kan? Kalian menggunakan jet Charles Air sewaktu di UEA”
“Lalu?”
“Pak Charles menawar lukisan itu!, klienku bilang lukisan itu tidak dijual, ia takut kutukan itu menyebar. Klienku gak mau keluarga pak Charles mengalami hal serupa dengannya. Jadi ia meminta Kami untuk mengembalikan uangnya.”
“Kembalikan saja sendiri, berikan fakta-fakta ini!”
“Masalahnya Pak Charles itu orang yang tidak percaya tahayul Niel, uang pengembalian dari kami selalu ditolak. Dan Ia bersikeras membawa lukisan itu”
“Kalau begitu berikan saja padanya!, apa yang terjadi setelahnya itu menjadi urusan dia, beres kan?”
“Tapi bukan itu keinginan klienku Niel. Tolong aku ya? please?”
“Jujur, ini permintaan teraneh yang pernah aku dapat!”
Tak berapa lama kemudian Rita dan Dylan datang, Dylan kelihatan begitu riang, ditangannya ia memegang 2 buah es krim
“mama!” panggil Dylan, ia menunjukkan kedua es di tangannya
“Dari mana es itu sayang?” tanya Saveetri
Dylan menunjuk Rita sambil tertawa, lalu ia menghampiri Rita dan mencium bibirnya, Saveetri dan Daniel tertawa geli melihat tingkah Dylan.
“Terimakasih!” ucap Dylan
Rita tersenyum mengangguk. Dari Gym mereka mampir di sebuah resto, cukup lama mereka bercakap-cakap, hingga waktu pulang tiba. Dylan tertidur dipangkuan Daniel, ia terlihat sangat nyaman dengannya
“Daniel memang mudah dekat dengan anak-anak karena ia seperti anak-anak!” ujar Saveetri tersenyum.
“Aku antar kalian ke mobil, Dylan cukup berat!” ujar Daniel sambil menggendong Dylan
Daniel dan Rita mengantar Saveetri ke mobilnya, Dylan berada di kursi bayi di bagian penumpang.
“Kabari aku ya Niel, Rita terimakasih sudah menemani Kami!” mobil Saveetri menjauh dari tempat parkir resto
“Ada apa Saveetri kemari Niel?” tanya Rita, Daniel menceritakan pertemuannya dengan Saveetri
“Permintaan yang aneh ya, biarkan saja kalau Pak Charles mau membeli lukisan itu justru beres kan?”
“Aku bilang juga begitu, tapi sepertinya ada yang belum diceritakan secara jujur olehnya”
“Oya? Kamu tahu dari mana?”
“Feeling saja, kita pulang yuk!” ajak Daniel, Rita mengangguk. Mobil mereka keluar dari parkiran resto dan kembali ke rumah besar. Sesampainya di rumah
“Niel, kamu akan membantu Saveetri?” tanya Rita penasaran
“Mungkin aku bisa mencobanya?”
__ADS_1
“Baiklah, sampai besok Niel!, WA ya kalau sudah sampai di rumah!”
_bersambung_