
Rita memikirkan kata-kata Andi tentang perbedaan dirinya dan Daniel. Setelah sholat ashar ia main ke kamar Andi yang sedang sibuk mengutak-atik drone.
“Kak!”
“Apa?”
“Drone nya diapain lagi?”
“Lagi dimodifikasi supaya bisa lebih jauh jangkauannya”
“Memang yang sekarang berapa km paling jauh?”
“ sekarang ini maksimal 5 km”
“Di market place 10 km kak”
“Iye tau,..ini kan baru prototipe, nanti kalau beneran bisa lebih dari 10 km, mungkin bisa 1000 km”
“Tapi beresiko hilang dong ya? karena rata-rata drone itu ringan”
“Kalau yang jangkauan 1000 km, pasti lebih besar Rit karena baterainya juga besar”
“Mungkin kalau perusahaan kak Andi bisa mengembangkan drone lebih dari 100rb km, bisa dijual ke militer tuh kak. Lumayan jadi pesawat mata-mata”
“Enggak ah, itu berarti gue akan jadi pengusaha pendukung perang, gue mah drone untuk hobi saja. Misalnya nih, lo ada yang ketinggalan di rumah, jarak kantor ke rumah lebih dari 5 km, nah bisa gue kirim barang pakai drone”
“Keren tuh kak, boleh juga. Tapi harus dipikirin bisa nampung berapa kg barang”
“Pasti dong, btw ada yang mau lo diomongin?”
“Hmm...kak Andi kenapa gak magang di kantor kakek saja?”
“Gak mau, mereka sudah kenal gue dari gue umur 8 tahun, kakek sering ngajak ke kantor bahkan ada ruangan khusus tidur gue di ruangan kakek”
“Sekarang kakek gak ngantor lagi di Dar,Co?”
“Enggak, semua sudah diserahin ke Om Radian, beliau kadang-kadang saja ngontrol ke situ”
“Sehari-hari kakek di kantor mana kak?”
“Beliau tuh keliling, sekarang lagi di London”
“Huh? London? Kok gak bilang ke Rita?”
“Maklum deh, beliau biasa pergi tanpa ijin”
“Kak, kalau nenek? Katanya nenek masih ada?”
“Bukan nenek kandung Rit, tapi nenek sambung. Mamanya tante Metha, gak tahu deh sekarang di mana”
“Memangnya kak Andi gak pernah ketemu beliau?”
“Hmm..terakhir ketemu 1 eh 2 tahun yang lalu deh”
“Jadi kakek dan nenek hidupnya terpisah begitu ya?”
“Itu urusan orang tua Rit kita gak usah ikut campur”
“Iya sih, btw kak Andi kenal sama Daniel?”
“Daniel mana?”
“Daniel asistennya Om Radian”
“Kenal, dia kan dulu pernah jadi baby sitter gue, waktu gue umur 10 tahun kalau gak salah, Cuma beberapa bulan, setelah lulus SMA, dia pamit sama kakek”
“Kemana?”
“Mana gue tau”
“Orangnya kayak gimana kak?”
“Hmm...seingat gue, dia tuh banyak banget ditaksir cewek. Gue sebel banget, cewek-cewek pada jadiin gue umpan untuk dekat sama dia”
“Terus dianya gimana?”
“Dia kan baby sitter gue, ya ngejagain gue lah. Orangnya agak kaku, tapi jujur. Terlalu serius, bercandanya jarang”
“Kalau sama Om Radian, seriusan mana?”
“Om Radian kemana-mana lah!, kalau Daniel masih suka cerita tentang masa dia di Kanada”
“Oh dia orang Kanada?”
“Orang Korea yang pindah ke Kanada”
“Oh begitu”
“Nyari info tentang Daniel sampai muter-muter dulu Rit” goda Andi
“Hehehe, ketahuan ya?”
“Mencurigakan”
“Kak, bisa jelaskan yang kak Andi maksud Daniel banyak bedanya?” tanya Rita terus terang
“Hmm...pertama beda usia, kedua beda status sosial, Lo sudah jadi cucu kakek jadi gak sembarangan pacaran sama orang, yang ketiga ini pasti lo sudah paham sendiri deh”
“Apaan?”
“Ya beda agama”
“Kalau Daniel jadi mualaf gimana?”
“ya bagus!”
“Maksud Rita jadian sama aku gitu?”
“Ciyeee....adek gue naksir berat rupanya”
“Kak Andi nih! serius dong!”
“Gue serius Rit! Jujur nih, kalau yang naksir banget elo doang, Daniel nya enggak, gue jamin deh lo bakal patah hati sampai berkeping-keping!”
“Kenapa bisa begitu?”
“Dulu ada staf cewek di sini, waktu Daniel masih kerja di sini, dia juga naksir berat sama Daniel. Eh gak terbalas. Gue denger tuh curhatannya, Daniel itu baik banget walau kelihatan cuek. Kita jadi suka salah sangka sama sikapnya, teryata dia gak ada feeling apa-apa sama cewek itu. Seminggu kemudian tuh cewek resign dari sini, kata temannya gak kuat melihat Daniel wara-wiri di depannya”
“Ceweknya cantik gak?”
“Lumayan! Banyak juga kok cowok yang naksir dia”
“Kok kak Andi bisa tahu?”
“Gue ini dikelilingi banyak cewek-cewek yang siap jadi asisten gue Rit, waktu umur 8-11 tahun asisten cewek gue banyak, pokoknya kakek memastikan gue gak kesepian. Dan gue sering dengar mereka ngegosip”
“Kak Andi gak ikutan?”
“Gue kan masih kecil, pura-pura gak ngerti aja tapi informasinya gue simpan di otak”
“Kak Andi tau alasan Daniel menolak dia?”
“Mana gue tahu, yang jelas asisten gue itu setelah ditolak Daniel jadi bengong melulu, kayak orang ling-lung”
“Wah Daniel dahsyat juga ya?”
“Makanya gue bilang, kalau mengagumi ketampanannya boleh saja tapi jangan dibawa ke hati”
Rita kembali ke kamarnya, ia tidak bisa melupakan wajah Daniel dari ingatannya.
“Ah sialan!” Ia menyibukkan diri dengan membaca berita di tabletnya, tak terasa ia ketiduran. Ketika bangun ia melewatkan waktu maghrib karena ketiduran. Akhirnya ia menjamaknya di waktu Isya. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin yang sedang memakai mukena.
“Ya Allah kenapa wajahnya selalu nempel di kepala hamba?” keluh Rita, lalu ia melakukan sholat istikharoh.
Keesokan paginya ia tampak lesu.
“Kenapa lesu Rit?” tanya Andi ketika mereka sarapan pagi
“Enggak, aku jadi malas ke kantor saja”
“Baru hari kedua, sudah malas saja. Kepikiran cerita gue kemarin ya?” Andi menyantap roti sandwich isi telur. Rita mengangguk menjawab pertanyaan Andi
“Jangan pusing Rit, kan sudah gue bilangin jangan terlalu serius. Lo suka film Korea kan?”
“Iya?”
__ADS_1
“Nah anggap saja Daniel itu bintang filmnya, kalau suka sama artis itu namanya ngefans, kalau ngefans paling sampai permukaan saja sukanya gak sampai dalam” ujar Andi memberi nasehat
“Hmm..begitu ya Kak? Eh kak Andi makan apaan tuh?”
“Ini? Sandwich, enak lho. Chefnya pinter”
“Masih ada gak?”
“Banyak tuh!” Andi menunjuk setumpuk sandwich di atas meja makan, Rita memakannya satu
“Enak kak!” setelah makan satu , ia mengambil lagi. Andi berpindah makan yang lain.
“Kak Andi, sandwichnya masih mau gak?”
“Enggak!, kalau gue cukup makan 1 enak, sudah gitu makan yang lain”
“Kalau gitu Rita bawa ya?” Ia membuka tempat makan bertingkatnya, dan memasukan sandwich itu ke kotak makan pertama dan kedua. Sedangkan kotak ketiga ia isi dengan buah-buahan”
“Kok bawa bekal? Bukannya kantin di sana makanannya enak-enak?”
“Aku kan anak baru kak, masih belum punya teman”
“Tumben, biasanya lo paling cepat punya teman”
“Iya sih, tapi ini di kantor kak, rata-rata usianya di atas usia ku jadi mana ada yang mau temenan sama anak pemagang”
“Perlu gue bantuin gak?”
“Maksudnya?”
“Gue datang gitu nemenin lo, jadi pada tahu kalau lo itu adek gue”
“Jangan kak! Biarin saja, gak asik kalau dapat keistimewaan karena koneksi”
“Ya udah, eh kalau gak salah nanti kakek ke kantor deh”
“Iya kak? Eh kak bilang ke kakek deh jangan panggil Rita untuk makan bersamanya di sana, biarin saja Rita sendiri gak usah pada tahu koneksi kita”
“Iya nanti gue bilangin”
Pukul 11 seperti yang Andi bilang, kakek Darmawan datang berkunjung ke kantor, Rita menyapanya di ruangan Radian
“Kakek!”
“Rita, gimana sudah beradaptasi?”
“Baru dua hari kek, masih mempelajari”
“Oh begitu, Radian kalau Rita bandel kamu marahin saja gak usah sungkan”
“Iya Om, tapi seperti yang Rita bilang masih hari kedua bekerja jadi belum bandel” jawab Radian
“Kek, saya kembali ke ruangan saya ya?”
“Iya!”
Darmawan melanjutkan berbicara dengan Radian, sementara Daniel melewati ruangan Rita. Ia heran Rita tidak bersama kakeknya.
“Rita!” tegurnya
“Ya Pak?”
“Itu ada kakek mu di ruangan pak Radian”
“Iya Pak, tadi saya sudah menyapa, sekarang saya lagi belajar memasukkan data ke tablet”
“Ohh...yang kemarin kamu sudah bisa?”
“Sudah pak!” Rita menunjukkan kemampuannya
“Lumayan, kamu cepat juga!”
“Hehehe iya! Saya mempelajarinya di rumah”
“Hmm...baguslah!” Daniel pergi meninggalkan ruangannya.
Rita menghembuskan nafas lega
“Ah..benar juga kak Andi, jangan ke GR-an!” gumamnya.
Jam makan siang, Rita membuka bekal makanannya
“Ya?”
“Hari ini kamu bawa bekal apa?” tanya Daniel
Rita membuka tempat makanannya
“Coba deh sandwichnya enak!” Rita memakannya , Daniel juga ikut makan
“Enak! Kamu juga yang bikin?”
“Enggak!, chef di rumah” Rita mengecilkan suaranya
“Oh, ada chef di rumah” ujar Daniel sambil menyantap sandwich ke dua dengan lahap.
“Pak Daniel makanan kesukaannya apa?” tanya Rita, ia membuka tempat garpu dan meletakkannya di dalam tempat buah sehingga Daniel bisa ikut makan bersamanya.
“Aku suka sandwich, bahkan aku jago bikin sandwich. Kapan-kapan aku bawa sandwich buatan ku”
Daniel asyik mengobrol sambil makan siang dalam ruangan Rita, tanpa mereka ketahui Darmawan dan Radian melewati ruangannya Rita
“Itu siapa?”
“Daniel Om”
“Daniel? sejak kapan dia akrab sama Rita?” tanya Darmawan
“Aku menyuruhnya untuk mendidik Rita Om”
“Daniel itu juga kuliah kan?”
“Sudah selesai Om, saya yang menyuruhnya, ia baru selesai pasca sarjana”
“Kalau begitu sayang banget kalau hanya jadi pengawal kamu”
“Iya Om, makanya perlahan saya lepas dia. Kadang dia saya tugaskan ke proyek biar dia belajar dari situ”
Darmawan mengangguk setuju.
Keesokan harinya, Rita menunggu Daniel saat makan siang, ia membawa bekal yang lain. Jam makan siang hampir berakhir, Daniel tak kunjung datang. Akhirnya ia putuskan menghabiskan bekalnya sendirian. Saat jam pulang, Rita mencarinya tapi tidak ketemu.
“Hey Rita!” sapa Andrew
“Eh pak eh Andrew!”
“Kamu ngapain ke lantai ini?”
“Saya ada perlu dengan pak Daniel, ada yang ingin saya tanyakan”
“Hmm..Daniel sedang tugas luar, mungkin lusa baru kembali.”
“Oh begitu”
“Tentang apa Rit? Mungkin aku bisa bantu?”
“Gak usah deh pak eh Andrew, nanti saja kalau ketemu pak Daniel” Rita bergegas kembali ke ruangannya
“Kemarin cerita banyak-banyak gak ngomong mau tugas luar!” gerutu Rita kesal.
Keesokan harinya ia dipanggil Radian
“Rita, jadwal rapat ku dengan klien sudah kamu terima?”
“Sudah pak, hari ini jam 2 siang”
“Kalau yang pagi ada?”
“Oh ada pak, Online nanti pukul 11”
“Pukul 11? Dengan siapa?”
“Dengan..Pak Daniel?” Rita heran membaca jadwal dari tabletnya
“Daniel? ah iya, kemarin aku tugaskan dia ke Singapura untuk menjajaki proyek baru. Mulai sekarang kamu yang mengatur full jadwalku Rit, Daniel bukan lagi asisten ku”
__ADS_1
“Oh ya pak?”
“Kenapa? Ada yang aneh?”
“Saya jadi bingung sama strukturnya saja”
“Struktur apa?”
“Kalau secara hierarki, posisi teratas pak Radian, nah pak Daniel di posisi mana?”
“Kenapa memangnya? Apa pentingnya bagi mu posisi Daniel?”
“Enggak ada kok pak, cuma penasaran saja. Saya kan baru bekerja di kantor. Apa posisi Pak Daniel general manager atau apa gitu?”
“Nantilah kita pikirkan bersama posisi Daniel itu di mana” ujar Radian, ia sendiri tidak pernah kepikiran tentang itu.
“Oh..baik pak! Maaf ya!!” Rita merasa gak enak hati, ia takut Radian akan menyampaikan pertanyaannya ke Daniel.
Di ruangannya
“Aduhhh..gue goblok banget, ngapain nanyain posisi Daniel,..ah sudahlah...menyerah saja Rit!!” gumamnya.
Ia menyantap bekalnya tanpa rasa nafsu makan, ia menyesal pertanyaan yang ia ajukan ke Radian.
“Kalau begitu gue menghindar saja deh! Mulai besok gue makan di kantin” Rita bertekad.
Seminggu kemudian Rita sudah terbiasa makan siang di kantin, ada beberapa pemagang yang menjadi teman makannya.
“Hey Rit, di sini!” Ellie pemagang di bagian HRD memanggilnya
“Ya Kak, terima kasih!” Rita membawa nampan berisi makanan, lalu ia bergegas mengambil air mineral untuk mereka berdua
“Terima kasih Rita!” ujar Ellie
“Sama-sama kak!”
“Eh Rita, aku baru lihat kamu di sekitar sini, kamu sudah berapa lama magang di sini?”
“Hmm...masuk minggu kedua kak!”
“Oh..masih baru, rencananya berapa lama kamu magang?”
“Sampai tugas sekolah selesai” jawab Rita berbohong
“Kamu ditugaskan di bagian mana?”
“Di lantai paling atas kak”
“Paling atas? Itu lantainya direktur, kamu jadi apanya?”
“Ngatur-ngatur jadwal kak!”
“Ohh...asyik dong Rit sering ketemu pak Daniel”
“Hehehe..iya ya? asyik?” Rita tersenyum
“Di ruangan ku staf cewek sini membuat daftar peringkat cowok paling ganteng, tapi menurut staf di ruangan ku saja”
“Oh ya?” Rita gak habis pikir ternyata di kantor pun mereka melakukan hal yang sama seperti di sekolahnya dulu
“Aku lihat peringkat pertama itu pak Daniel, kedua pak Radian, ketiga sampai ke sepuluh aku gak tahu karena di bagian lain”
“Memangnya sampai berapa kak?”
“Sebelas”
“Tanggung amat” Rita tersenyum
“Iya memang, kata mereka ganjil itu baik”
“Kakak kenal urutan ke sebelas?”
“Andrew!” Ellie tampak senang
“Pak Andrew?”
“Yeah, dia minta dipanggil Andrew karena usianya masih 25 tahun katanya”
“Oh begitu, maaf kak Ellie berapa usianya?”
“Aku? 23 tahun! Baru saja lulus sarjana. Salah seorang kenalan ku bekerja di sini, katanya supaya aku bisa jadi pegawai tetap di sini, aku harus lulus jadi pemagang dulu.”
“Oh begitu, setelah berapa tahun kan pemagang akan diangkat menjadi pegawai?”
“Mungkin 2-3 tahun, kalau banyak yang masuk usia pensiun, biasanya pemagang yang diangkat jadi pegawai tetap”
“Lama juga ya Kak? Apa pemagang itu harus lulus tes tertentu agar jadi pegawai tetap atau langsung diangkat?”
“Kamu berniat kerja di sini juga Rit?”
“Mungkin kak, tapi aku mau kuliah dulu”
“Aku sudah selesai!” Ellie menghabiskan makan siangnya lebih dulu
“Cepat sekali kak?”
“Hehehe..aku memang terkenal dengan si pemakan cepat, nih aku pernah juara pertama lomba makan burger tercepat dan terbanyak!” Ellie menunjukkan fotonya memenangkan piala di ponselnya.
“Wah hebat kak!, aku juga mau ikut kalau ada lomba itu”
“Sekarang sudah jarang perusahaan mengadakan perlombaan kayak gitu Rit, kemarin kakak mengikuti lomba makan ayam goreng, eh ada peserta keselek sampai meninggal. Kakak kasihan sama panitianya ditangkap polisi.”
“Keselek tulang ayam kak?”
“Iya!”
“Seharusnya yang dilombakan makan nugget saja ya?” ujar Rita
“Hahahaha!!” Ellie tertawa geli
“lho kenapa ketawa kak?”
“iya kamu benar, supaya aman seharusnya nugget atau ayam fillet, jadi lebih aman!” Ellie bangkit dari tempat duduknya
“Eh mau kemana kak?”
“Aku harus kembali ke ruangan ku, kalau enggak para senior akan marah padaku! Aku duluan ya Rit!” Ellie meninggalkan Rita makan sendirian.
Tiba-tiba Daniel menghampirinya dan memberikan sesuatu
“Eh Pak Daniel, anda sudah pulang?” tanya Rita heran, Daniel langsung duduk di hadapannya
“Aku tadi mencari mu di ruangan tapi katanya kamu sekarang makan di kantin” Daniel mengambil kentang goreng dari nampan Rita
“Kamu gak makan ini kan?” tanyanya, Rita menggeleng
“Saya ambilkan ya Pak?”
“Gak usah, aku buru-buru sebentar lagi aku harus tugas luar lagi. “
“Ke Singapura lagi?”
“Bukan!, masih di Auckland kok, eh ini sandwich buatan ku”
“Nanti pak Daniel masih lapar bagaimana?” tanya Rita
“Tadi aku bikin lumayan banyak, beberapa sudah aku makan sendiri di ruangan, tinggal satu aku jadi ingat janji ku sama kamu”
“oh, ingat ya?” Rita tersenyum, sebenarnya hatinya berbunga-bunga, tapi dia teringat kata-kata Andi di kepalanya
“Hanya fans saja!”
“Kamu gak mau coba?” tanya Daniel, Rita membuka sandwich yang terbungkus plastik
“Hmm..” ia mencoba satu gigitan
“Enak Pak!” mata Rita berbinar, ia melahapnya lagi, lalu ia menyelidiki isinya.
“Isinya beef salami, tomat, telur rebus salada, pickel dan bumbu rahasia” ujar Daniel bangga
“Karena bumbu rahasia, saya gak mungkin dikasih tahu ya pak?” tanya Rita
“Iya rahasia” Daniel tersenyum melihat Rita lahap memakan sandwich nya, tiba-tiba ia memotongnya sedikit
“Minta sedikit ah, aku heran melihat kamu makan, apa sandwich ku benar-benar seenak itu?” ujarnya sambil memakan potongan sandwich
__ADS_1
Rita tertawa geli dengan kelakuan Daniel, mereka seolah berada dalam dunianya sendiri. Rita tak sadar beberapa mata memandangnya dengan pandangan tidak suka.
_bersambung_