
“Assalammu’alaikum”
“Wa’alaikummussalam, siapa nih?” Rita menerima telpon di ponselnya, ia sedang rebahan di ranjang favoritnya
“Gue Anwar Rit!”
“Eh Anwar, apa kabar?”
“Alhamdulillah baik Rit, lo gimana?”
“Alhamdulillah, lumayan gak fit. Kehamilan ketiga itu bikin gue sering capek”
“Oh begitu, gue ganggu gak?”
“Enggak, kenapa?”
“Hmm...tawaran Lo tentang investasi di resto gue masih berlaku gak?”
“Masih, kenapa? Lo tertarik?”
“Iya Rit, gimana nih, gue harus ngapain?” tanya Anwar , nada suaranya terdengar sangat senang
“btw sebelumnya lo pernah ngajuin kredit ke bank gak?”
“Enggak Rit, mana gue berani, takut gue gak bisa bayar bunganya”
“Jadi selama ini modal lo dari mana?”
“Gue pakai tabungan gue, hasil jual mobil jerih payah gue kerja di Jepang”
“Oh begitu, jadi lo gak punya hutang ya?”
“Insya Allah enggak Rit”
“Biasanya gini War, lo bikin proposal, isinya tentang visi lo mendirikan resto itu apa, terus menu andalan, terus lokasi yang akan lo tempati untuk usaha. Sudah tahu biaya sewa tempat, terus besar dana yang dibutuhkan. Nanti kalau sudah jadi kabarin gue. Nanti kita ketemuan”
“Oh begitu, ini sifatnya pinjaman apa gimana?”
“Nah itu, semua tergantung proposal lo, nanti disamakan dengan keinginan laki gue, kalau cocok visi kalian bisa jalan deh”
“Ketemuannya kira-kira kapan dan dimana?”
“Lo bikin saja dulu proposalnya, soal ketemuan nanti gue kabarin lagi”
“Laki lo sibuk ya Rit?”
“Lumayan, tapi biasanya kalau dia sudah bilang mau invest, dia akan bela-belain tuh War”
“Oh begitu ya? oke deh Rit, thanks ya. Nanti gue kabarin lagi. Eh proposalnya hardcopy apa soft copy?”
“Softcopy saja, nanti kalau sudah jadi, syukur-syukur kalau sudah lengkap sama foto-foto lokasi usaha War jadi laki gue bisa lihat dulu. Nanti softcopynya bisa kirim ke email gue”
“Oh gitu Rit, oke deh, thanks ya, sorry dah ganggu. Salam ya sama mr.Daniel”
“Wa’alaikummussalam!” Mereka mengakhiri percakapan mereka, Rita melihat jam dinding di kamarnya
“Jam 9 pagi, huaahhh...gue males banget” Ia menyalakan TV di kamarnya melihat beberapa acara yang ia rasa kurang menarik, lalu ia matikan. Dengan agak malas ia keluar dari kamar tidurnya dan menuju ke teras rumahnya. Ia mengusap-usap perutnya yang kini menginjak 5 bulan. Dari teras, ia melihat kedua anaknya sedang bermain sepeda ditemani oleh para suster mereka.
“Mami!!!” panggil Ranna girang melihat maminya
“Mami!!” Raffa mengikuti memanggil
“Hey!!, kalau capek istirahat ya!” teriak Rita dari jauh
“Iyaa!!!” ujar kedua anak batitanya kompak. Ranna dan Raffa seperti anak kembar, usianya tidak berbeda jauh. Keduanya bermain seperti layaknya teman. Rita mengambil laptopnya, ia bekerja dari teras rumah. Ia online dengan pegawainya di Singapura.
“Mba tolong dong kirim cemilan ke teras depan kamar saya, sama jus, teh dan kopi.” Pinta Rita kepada staf dapur melalui ponselnya
“Baik bu, akan kami antar” jawab staf dapur
Tak berapa lama aneka cemilan dan minuman tersaji di depan matanya. Rita tampak puas, ia memfoto aneka hidangan lalu mengirimnya ke suaminya dengan caption
“Cemilan ku pagi ini”
Tak berapa lama balasan dari suaminya
“Kamu sudah sadar? Dari pagi aku lihat kamu tidur terus?” tanya Daniel dalam pesannya
“Hehehe..sudah segar, sekarang aku mau online dengan D’Ritz”
“Ah iya tadi Erina mengirimiku pesan, dia bilang sulit untuk menghubungi mu”
“Oh ya? sebentar!” Rita membuka tablet khusus D’Ritz
“Iya say, ada beberapa miscall darinya”
“Coba kamu hubungi lagi, mungkin ada yang ingin ia tanyakan”
“Memangnya tadi kamu bilang apa ke dia?” nada Rita terlihat cemburu
“Aku tidak membalasnya” Daniel meng screen shot pesan dari Erina, disitu Rita juga melihat respon Daniel yang tidak menjawab pesan
“Kenapa kamu gak balas?” tanya Rita, ia tersenyum senang
“Aku kan gak tahu kamu lagi ngapain, aku juga lagi sibuk di sini”
“Oh kamu lagi sibuk, maaf ya??, lanjutkan, sampai nanti sore!”
“Dahh!!” Daniel menutup ponselnya sambil tersenyum, para stafnya dengan sabar menunggunya menjawab pesan dari Rita
“Maaf ya! ada yang penting , aku harus menjawab pesan ini” ujar Daniel kepada para stafnya
“Iya pak” jawab para staf kompak, mereka kembali rapat. Sementara Rita melakukan online dengan Erina
“Halo Erina!”
“Selamat pagi bu Rita!”
“Ah iya selamat pagi! Maaf aku baru saja membuka pesan dari mu”
“Iya bu, maaf saya sampai mengganggu pak Daniel”
“Oh ya? kamu menghubungi suamiku?” tanya Rita berpura-pura
“Iya bu, karena ada hal penting yang harus saya sampaikan, karena mengirim pesan ke ibu tak kunjung dibalas”
“Maaf Rin, kehamilan ketiga ini bikin aku kurang fit, jadi apa yang kamu butuhkan?”
Erina melaporkan perkembangan toko dan cafe yang semakin ramai. Ditengah kesibukannya mengasuh anak bayinya, ia sangat detail dan rapi melaporkan perkembangan D’Ritz
“Oh iya bu, ada beberapa proposal masuk, mereka ingin kita membuka franchise di tempat mereka. Sepertinya ini kesempatan kita untuk lebih berkembang bu” lapor Erina
“Rin, bisa kamu forward ke saya proposal mereka?”
“bisa bu, ada lima bu. Kebanyakan ingin membuka booth di Mall dan menjual produk kita”
“Saya akan membaca dulu proposalnya, oh iya bagaimana dengan cafe? Apa ada masalah?”
“masalah yang berat tidak ada bu, kemarin saya baru saja mengangkat beberapa pekerja tambahan, karena cafe sangat ramai”
“Pekerja tambahan?”
“iya bu, paruh waktu. Saya mempekerjakan para mahasiswa, mereka sedang membutuhkan tambahan uang saku”
__ADS_1
“Oh begitu, mereka front liner kan?”
“Iya bu, mereka hanya bertugas sebagai waiter sedangkan urusan dalam dapur dipegang oleh staf tetap”
“Hmm...baiklah, aku sudah memeriksa laporan minggu ini, kamu kewalahan gak Rin?”
“Enggak bu, saya sangat menikmati bekerja di sini, selain tempatnya nyaman, saya juga bisa sekalian mengasuh anak saya”
“Ah syukurlah, oh iya Rin, kamu sudah mendapatkan bagian pembukuan yang menggantikan Nurul?”
“Oh, Nurul tidak jadi resign bu, dia bilang lebih enak bekerja di sini” jawab Erina tersenyum
“Ah syukurlah, semoga dia bisa lebih menghargai pekerjaannya”
“Oh iya, bu Rita kapan ke D’Ritz? Mungkin bisa membuat menu baru untuk cafe? Atau roti rasa baru? Karena ada keluhan dari beberapa pelanggan katanya mereka mulai jenuh dengan varian roti yang begitu-begitu saja”
“Oh begitu ya? nanti saya pikirkan dulu. Oh iya bagaimana kabar Andrew?” Rita menanyakan anak Erina yang berusia beberapa bulan
“Baik bu, sangat aktif!” Erina menggendong Andrew dan mengajaknya melihat ke arah laptop
“Hai Andrew!! Aku aunty Rita!!” Rita tersenyum. Andrew memegang layar ingin memegang wajah Rita
“lagi lucu-lucunya ya Rin?”
“Iya bu, juga sangat aktif, saya sampai kewalahan. Saya membawa baby sitter untuk mengasuhnya di sini”
“Hahaha...mungkin Andrew juga akan meneruskan mamanya bekerja di D’Ritz”
“Hahaha!! Ranna dan Raffa bagaimana bu?”
“Mereka sedang senang bermain sepeda, kemarin kakakku mengirimkan dua sepeda untuk batita, sekarang mereka sedang memainkannya”
“Ah senang sekali memiliki Om yang sangat dermawan” ujar Erina
“Baiklah Rin, nanti kita sambung lagi ya?”
“Baik bu! Dan Selamat siang!”
“Siang!” Rita menutup percakapan mereka.
Rita membuka situs makanan untuk mencari inspirasi baru tentang rasa baru. Tanpa ia sadari waktu berjalan begitu cepat, staf dapur datang mengantarkan makan siang
“Makan siangnya bu!”
“Eh sudah siang ya?” Rita terkejut
“tolong panggilkan anak-anak, mereka harus makan” pinta Rita. Salah satu staf memanggil Ranna dan Raffa yang sayik bermain di taman Zein. Mereka telah mahir menggunakan sepeda balance dan menaiki itu untuk mendatangi maminya
“Hei, kalian cuci tangan lalu makan!” ujar Rita tegas. Baby sitter membawa mereka untuk mencuci tangan lalu menyiapkan mereka untuk makan. Makanan mereka dibuat khusus karena gangguan pencernaan dan Rita mengawasi mereka makan.
“Kak Ranna dan Bang Raffa, makannya sedikit dulu. Nanti kalau masih lapar baru nambah ya?” ujar Rita. Para baby sitter menyuapi mereka dengan sabar. Sementara Rita ikut makan bersama mereka.
“Enak!” Rita menikmati makan siangnya
“Iya bu, chefnya ganti” ujar suster Erna
“Oh ya? chefnya baru? Chef lamanya kemana?”
“Katanya mau pindah ke restoran bu, di sini bosan katanya” jawab suster Erna sambil menyuapi Ranna
“Bosannnn!!!” Ranna meniru ucapan suster
“Padahal di sini enak ya? kerjanya santai, gajinya lumayan, fasilitas juga, eh dia masih pindah juga” ujar suster Dewi menyuapi Raffa
“Namanya orang sus, ada aja gak puasnya” ujar Rita, ia sangat menikmati makan siang hari itu.
“Kira-kira nanti sore makan malamnya apa ya?” ujar suster Dewi
“Kamu penasaran ya?” tanya Erna
“Hmm..sudah berapa lama dia kerja di sini?” tanya Rita heran
“Baru tiga hari sih bu” jawab Dewi
“Oh iya ya?” Rita mengingat, sudah tiga hari ini makanan yang disajikan memang lebih enak dari biasanya, Daniel juga mengakuinya
Selesai makan siang, anak-anak berganti pakaian, Rita menyuruh mereka main di depan TV, sementara para suster mereka beristirahat makan siang. Rita menemani anaknya menonton TV.
Ranna dan Raffa asyik menonton acara TV anak-anak bersama maminya, tak berapa lama mereka pun pulas tertidur. Dengan hati-hati Rita memindahkan kedua anaknya ke sofa yang lebar. Ia pun kembali berkutat dengan laptopnya mencari inspirasi untuk rasa baru rotinya. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, Rita menyuruh para baby sitter untuk memandikan anak-anak , ia sendiri mandi sore dan bersiap menyambut kedatangan suami tercintanya.
Pukul 5 sore , mobil Daniel memasuki garasi, kedatangannya disambut kedua anaknya yang berlari ribut
“Papi-papi!!” panggil mereka, Daniel keluar dari mobil dan menggendong keduanya
“Muachh!!! kalian sudah mandi?”
“Heeh!! Papi bawa coklat?” tanya Ranna
“Enggak, tapi papi bawa yang lain!” jawabnya, ia membawa kedua anak batitanya masuk ke dalam rumah, Rita menyambutnya di depan pintu
“Hai sayang!” sambut Rita,
“Hai!” Daniel mencium bibir istrinya, sementara kedua tangannya masih ramai dengan kedua anaknya
“anak-anak turun deh, kasihan papi capek!” ujar Rita
Daniel menaruh kedua anaknya di sofa, ia sendiri langsung duduk di sofa itu.
“Alhamdulillah...sampai juga!” keluhnya, kedua anaknya masih bergelayutan di tubuhnya
“Anak-anak! Papi lagi capek!” ujar Rita sekali lagi, kedua anaknya tidak peduli, mereka menggerayangi papinya hingga pakaiannya terlepas
“Eh, ada roti dan biskuit di tas ku!” ujarnya. Amin membawa masuk tas kerja Daniel
“Ini pak tasnya, saya pamit dulu!” ujar Amin
“Iya, terima kasih ya?” ujar Rita mewakili. Amin dan para baby sitter meninggalkan ruangan, mereka sudah paham, ketika Daniel datang , mereka harus meninggalkan ruangan, karena Daniel hanya ingin bersama keluarga kecilnya
“Sayang, minum dulu!” Rita memberikan air putih hangat, Daniel meminumnya dengan nikmat
“Ahh...alhamdulillah, enak sekali” ujarnya, ia memeluk perut Rita. Itu kebiasaannya jika ia kelelahan
“Papi rotinya mana?” tanya Ranna
“Ambil di tas papi!” ujarnya
Raffa dan Ranna bekerja sama mengambil tas Daniel, dan memberikan ke maminya untuk minta dibukakan. Rita membuka tas suaminya dan mengambil beberapa roti dan biskuit coklat dari dalam tas.
“Banyak amat? Kamu dari mana?” tanya Rita heran, ia membaca kandungan kemasan biskuit sebelum ia buka dan memberikan kepada anaknya. Daniel yang masih rebahan di paha Rita, dengan malas, menjawab
“Tadi aku menghadiri presentasi beberapa produk baru Lexi, itu roti dan biskuit”
“Produk baru? Kamu disuruh mencicipi?”
“Heeh!” ujarnya setengah tidur, ia kelihatan sangat lelah. Rita mengusap rambutnya lembut, sementara kedua anaknya sibuk memakan biskuit coklat.
“Enak ya kak? Bang?” tanya Rita
“Yummy!!!” jawab Raffa, ia melihat kaki papinya yang masih pakai kaos kaki, lalu ia membukanya, dan Ranna mengikutinya
“Ah terima kasih Bang! Kak! Papi capek banget!” ujar Daniel
“Presentasinya banyak?”
__ADS_1
“Banget!!!, besok aku harus datang ke pemotretan para model” ujarnya ia masih tiduran dipangkuan istrinya.
“Model apa? biskuit?” tanya Rita
“Bukan!, Lexi membuat line clothing, kayaknya bakal launching di London”
“Jadi besok kamu ke London?”
“Enggak! aku di sini, para model shootingnya di sini.”
“Kenapa launchingnya di London? Kenapa gak di Paris?”
“Kamu gak dengar? Lagi ada demonstrasi besar-besaran di Paris. Agaknya para pengusaha ngeri demonstrasinya bakal merusak”
“Oh ya? katanya mereka juga krisis energi?”
“Heeh!,..sebenarnya ini peluang bagus untuk Dar,co untuk mensuplai kebutuhan energi mereka”
“Kamu masih memikirkan Dar,co saja!” Rita mencium pipi suaminya gemas
“Tadi sepanjang presentasi, aku jadi mikir. Semua yang aku pelajari di Dar,co, sangat bermanfaat sekarang.”
“Kamu kangen Dar,co?” tanya Rita lembut
“Hmm...enggak, kalau kangen, aku cukup begini saja sama kamu!” ujarnya makin memeluk perut Rita
“Aku?”
“Iya! Kamu mewakili Dar,Co!” Daniel bangkit, lalu mencium bibir istrinya. Kemudian ia meninggalkan istrinya yang sipu malu
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau mandi!” teriaknya menuju kamar mandi.
Rita mencoba roti yang dibawa suaminya
“Hmm...enak! isinya apaan nih?” Rita mencium wangi kopi , rasa manis dan gurih menghiasi mulutnya
“ini dijual di pasaran?” ia membaca kemasan yang tertera di bungkus roti.
“Ada coklat, keju, kopi..hmm..unik!” ia melahapnya lagi dengan nikmat. Tak berapa lama Daniel yang telah selesai mandi dan rapi berpakaian, ia membuka tudung saji di ruang makan. Rita menemani suaminya makan
“Menu apa nih?” tanya Daniel
“Cobain deh, enak lho, katanya chef baru!”
“Oh ya?” Daniel mengambil lauk lalu mencobanya
“Hmm...enak!” ia mengangkat alisnya, itu kebiasannnya jika ia menikmati makanan. Ia tidak mengambil banyak nasi, ia memperbanyak lauk dan sayur. Rita turut makan bersama suaminya. Daniel menambah makanannya, hingga habis.
“Wahh...kamu lapar sekali ya?” ujar Rita melihat suaminya menyantap habis makanan
“Aku tidak makan siang tadi”
“Kenapa?” tanya Rita heran
“Aku malas ke kantin”
“Kamu gak bisa menyuruh OB untuk mengambilkan makanan untuk mu?”
“Aku kan masih baru, gak enak nyuruh-nyuruh!”
“Yah jangan Say, justru supaya mereka terbiasa dengan perintah mu!”
“Begitu ya?”
“Iya! Kamu kan direkturnya! Sudah seharusnya kamu dilayani!, selama permintaanmu wajar, aku pikir gak apa-apa!”
“Ah iya ya? aku sering lupa kalau aku ini sudah jadi direktur” ujar Daniel, ia meminum jus nanas
“oh ya, mungkin besok aku akan ke Singapura”
“Besok? Ngapain?”
“Erina meminta menu baru untuk cafe dan roti rasa baru”
“Kamu sudah dapat ide untuk itu?”
“Belum!”
“Kenapa kamu gak mencobanya di sini, nanti setelah lulus tes dari aku, baru deh kamu ke sana! Nanti aku temani!”
“Kamu gak bolehin aku kesana sendiri?”
“Gak boleh!, kamu lagi hamil 5 bulan!. Aku melihat kamu sangat kelelahan sejak kemarin”
“iya sih tapi...”
“Buat saja resepnya di sini, kamu uji coba di sini. Kamu bisa minta pendapat para staf di sini tentang rasanya. Setelah semua fix, baru kesana!”
“hmm...iya deh!, tapi kamu janji nganterin aku ya?”
“Tentu dong! Aku gak akan membiarkan istriku jalan sendirian!” ujar Daniel
“Ah terimakasih!” ujarnya tersenyum
“Bagaimana dengan anak-anak hari ini?”
“Mereka memainkan sepeda balance dari kak Andi”
“Andi mengirimkan mereka mainan lagi?”
“Iya! Dan anak-anak sudah mahir menggunakan sepeda itu”
“Andi sekarang di Auckland atau London?”
“Auckland, katanya dia sudah menemukan seseorang yang bisa menggantikannya di London”
“Oh ya? bagus dong!”
“Iya, kak Andi mulai menjadi eksekutif muda, kemarin dia bilang baru saja membeli beberapa setelan baru”
“Oh ya? kalian vcall?”
“Tentu! Aku mengucapkan terimakasih atas kirimannya”
“Bagaimana dengan Mario? Kamu dengar kabarnya?”
“Enggak! aku lupa menanyakan pada kak Andi”
“Oh begitu”
“Kenapa? Kok tumben nanyain dia?”
“Bukannya kamu setelah vcall Andi, kamu vcall Mario juga?”
“Enggak!, aku jarang vcall Mario, kecuali aku bilang kamu dulu. Bagaimana pun juga Mario bukan saudara kandung, jadi aku gak mau ada salah paham dari kamu!”
“Begitu ya?”
“Iya dong!”
“Bagus deh!” Daniel tersenyum, ia senang istrinya memahami pikirannya.
__ADS_1
Setelah makan, ia pergi ke mesjid dengan membawa Raffa. Ia sengaja membawa Raffa untuk mendidiknya sholat berjamaah di mesjid. Sementara Rita dan Ranna menunggu mereka di rumah
_bersambung_