
Daniel bingung dengan sikap Rita yang menjadi dingin padanya, walaupun ia tetap dilayani sepulang kantor seperti biasanya, tetapi wajah Rita tidak seceria biasanya.
“Mungkin karena PMS” gumam Daniel di bawah air pancuran, selesai mandi dan berpakaian ia sholat Isya, ia melihat Rita telah tidur nyenyak dengan laptop masih terbuka di pangkuannya. Daniel membaca laman yang Rita baca, kuliah terbuka tentang hukum, esok pukul 11.00 AM di salah satu universitas ternama di Singapura.
Daniel mematikan laptop, meletakannya di meja kecil samping ranjang mereka. Ia merapikan selimut Rita, kemudian mengecup pipinya kemudian ia pergi tidur.
Keesokan paginya, Rita bangun kesiangan, ia tidak menyiapkan sarapan untuk Daniel. Kursus kue yang ia ikuti beberapa hari ini membuatnya lelah. Daniel memahami kondisi istrinya, sehingga ia mengerjakan semua keperluannya sendiri. Rita melihat jam di dinding,
“Sudah jam 9 pagi!” keluhnya, ia bingung kenapa akhir-akhir ini ia mudah lelah. Ia pun pergi mandi dan berpakaian, ia melihat sandwich yang Daniel buat tadi pagi, disertai pesan. “Mudah-mudahan sesuai seleramu!” Rita tersenyum dan melahap dua tangkup sandwich berisi beef itu
“Enak!” ujarnya, kemudian ia merapikan diri dan mempelajari rute menuju universitas yang di maksud dalam flier. Ia melihat jam menunjukkan pukul 10 pagi, ia bergegas berangkat, ia begitu bersemangat akan kembali bersekolah, karena ia bosan diam di rumah hanya menunggu suaminya pulang. Ia tiba di tempat tepat waktu, setelah melakukan pendaftaran, ia masuk ke sebuah aula besar, berbentuk setengah lingkaran. Di depannya terdapat layar yang lebar. Di samping kanannya terdapat beberapa kursi dan meja untuk tempat pembicara. Sedikit-demi sedikit ruangan yang tadinya kosong menjadi penuh, beberapa orang bahkan terpaksa berdiri. Sepertinya pembicara hari ini seorang tokoh di bidang hukum yang di segani. Seorang perempuan muda, mendekati tempat duduk Rita
“Tempat ini masih kosong?” tanyanya ramah, sebelum nya tanpa sengaja Rita menaruh tasnya di situ, sehingga orang-orang berpikir kursi itu sudah di tempati orang.
“Oh iya, maaf!” Rita mengambil tasnya, perempuan itu duduk di samping Rita, Ia lega belum terlambat.
Gemuruh tepuk tangan membahana, ketika seorang lelaki berusia sekitar 50 tahunan memasuki ruangan, ia memperkenalkan dirinya sebagai pembicara dan profesor di universitas tersebut.Kuliah terbuka itu terdiri dari 2 sesi. Sesi pertama membahas tentang aspek hukum perdata, sedangkan sesi kedua tentang aspek hukum pidana. Ia memulai kuliahnya, ia menceritakan kasus yang pernah ia tangani tentang sewa menyewa apartemen, di Singapura beberapa apartemen dimiliki oleh orang asing, terutama orang Indonesia. Ia menceritakan kasus-kasus yang terkait dengan penyewaan dan sengketa hukum perdata penyewaan apartemen.
Sesi pertama dinilai kurang menarik dan membosankan beberapa orang terlihat keluar ruangan.
Profesor menjawab beberapa pertanyaan dari beberapa partisipan yang sepertinya punya pengalaman bersengketa secara perdata. Sesi pertama berakhir 1,5 jam kemudian.
Rita menghela nafas lega. Ia membuka bekal sandwich yang Daniel buat, kemudian ia mengirim pesan dan foto sandwich yang sudah ia gigit.
“hmm..yummy!! love them! Thanks Honey! Imoji hati”
Daniel membaca pesan dari Rita, ia tersenyum lega, Rita tidak marah lagi pikirnya. Sekarang ini ia sedang dihadapi masalah dengan proyeknya. Sepertinya ia melakukan kesalahan dalam membuat perkiraan anggaran proyek. Daniel mempelajarinya dengan baik, lalu membahasnya dengan para bawahannya. Mereka juga bingung di mana letak ketidak seimbangannya.
Waktu menunjukan pukul 12 siang, Daniel bergegas menuju mesjid terdekat. Setelah sholat, ia tidak langsung ke kantor, ia berdiam dulu di mesjid menenangkan diri. Seseorang mengedarkan bacaan tentang sholat malam. Daniel tertarik membacanya, dengan serius ia membaca manfaat sholat malam untuk mengatasi kegelisahan dan masalah yang menerpa hati. Ia mempelajari caranya dan berniat melakukannya malam nanti.
Sementara Rita mengikuti sesi kedua perkuliahan. Sesi kedua ini lebih menarik, sang profesor membahas tentang pelecehan seksual yang marak terjadi. Sekarang ini korban pelecehan bukan hanya dari kalangan perempuan saja, anak-anak dan lelaki juga ada yang mengalami. Baik secara fisik maupun secara verbal atau ucapan.
Pelecehan secara fisik bisa berupa sentuhan pada bagian tubuh di mana salah satunya tidak menyukainya.
Yang sekarang ini marak terjadi pelecehan yang sebelumnya di mulai dengan stalking, atau membuntuti korban. Mengambil gambar korban diam-diam, mencuri barang pribadi korban. Bahkan yang paling parah terjadi tindak perkosaan.
Seringkali korban pelecehan merasa takut melapor karena mereka merasa dilecehkan tetapi tidak sampai diperkosa sehingga mereka bingung apakah tindakan tersebut bisa dilaporkan atau tidak.
Ada kasus di mana sang pelaku pelecehan justru lebih galak, sampai mengancam membunuh korban. Kalau kasus seperti itu, korban harus memberikan bukti, minimal rekaman ucapan korban ketika mengancam, jika terjadi kekerasan fisik korban melakukan visum di RS kemudian melaporkannya ke polisi setempat.
Pelaku pelecehan seksual yang sulit dibuktikan biasanya dari orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan korban, misalnya ayah, ibu, kakak, paman, kakek, sepupu juga mantan pacar.
Bagaimana pengobatan terbaik para korban pelecehan seksual, biasanya menghadiri konseling dengan para ahli, atau membicarakan dengan seseorang perlu disadari bahwa korban pelecehan adalah korban yang harus diperhatikan hak asasinya. Mereka akan terus membawa luka akibat perbuatan pelaku seumur hidupnya, demikian keterangan pak profesor tersebut.
Rita mendengarkan kuliah tersebut dengan seksama, tanpa sengaja ia melihat perempuan di sebelahnya menunduk ketakutan, tangannya terlihat gemetaran.
Reaksi perempuan itu semakin terlihat ketakutan ketika sang profesor bercerita tentang teror yang dilakukan pelaku pelecehan, seperti mengirimkan pesan mesum ke ponsel korban, mengirimkan gambar-gambar tidak senonoh. Yang paling parah si pelaku berhasil masuk ke rumah atau apartemen korban dan melakukan selfie di sana.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Rita pada perempuan itu
“Ah tidak!” ia merapikan tasnya, kemudian meninggalkan ruangan itu. Awalnya Rita tidak peduli, mungkin orang itu sedang sakit, pikirnya. Tetapi tiba-tiba ia melihat sebuah barang orang itu yang tertinggal. Ia pun merapikan barang-barangnya dan keluar dari ruangan itu. Ia mencari perempuan tadi, karena waktu ia keluar dan perempuan itu cukup lama sehingga Rita kehilangan jejak. Ia menghampiri security dan meminta tolong untuk mencarikan temannya yang lebih dulu keluar karena ada barangnya yang tertinggal. Security membantu Rita, ia menunjukkan rekaman CCTV 5-10 menit yang lalu. Rita melihat perempuan itu keluar dari pintu timur, ia pun menuju ke sana setelah mengucapkan terima kasih kepada security.
Rita berlari kecil untuk mengejar perempuan tadi, ia sempat menyerah dan berniat kembali ke gedung, hingga sayup-sayup ia mendengar teriakan minta tolong. Dia bergegas berlari ke tempat tersebut, sebelumnya ia menyalakan perekam di ponselnya untuk merekam pembicaraan mereka, ia memasang dengan tingkat sensitifitas yang tinggi. Pintu keluar bagian timur lebih sempit dari pintu barat, jalanan di situ kumuh dan banyak gang . Rita bingung kenapa tidak ada orang di sekitar situ, padahal kalau di Indonesia tempat kumuh justru paling banyak orang. Ia berlari mencari perempuan tadi, kemudian ia mendengar suara teriakan kesakitan. Rita pun menuju ke tempat asal suara, ia mulai menyalakan perekam video dan suara dari ponselnya yang lain.
“Hei ada apa ini? Kenapa kamu menjambaknya?” tanya Rita , ia sengaja menyebutkan yang dilakukan lelaki itu
“pergi sana! Ini tidak ada hubungannya dengan mu!” teriak seorang lelaki itu. Lelaki itu sepertinya keturunan India, dari warna kulit dan postur tubuhnya
“Tidak bisa begitu, Anda sedang menyiksa seorang perempuan teriak Rita lagi
“Tidak ada urusannya dengan mu! Pergilah! “ teriaknya lagi, tangan kirinya masih menjambak rambut perempuan tadi, yang menangis kesakitan
“Tidak bisa! Aku akan melaporkan ini ke polisi!” ancam Rita, ia sengaja memprovokasi orang tersebut agar menyerangnya, sehingga ia bisa membalas perbuatannya.
Rita berbuat seolah-olah akan menelpon polisi, lelaki itu menghempaskan perempuan tadi dan berniat menarik ponsel Rita.
Rita mengelak, lelaki itu terpancing, ia menjambak rambut Rita dan berniat menendang wajah Rita dengan lututnya. Rita paham dengan gerakan itu, ia mengelak, kemudian ia berdiri lalu melakukan tendangan bertubi-tubi ke arah lelaki tadi. Lelaki itu kehilangan keseimbangan dan jatuh. Ia segera bangkit dan akan menyerang Rita lagi, Rita menarik rambutnya dan menghempaskannya seperti yang lelaki itu lakukan pada perempuan tadi.
__ADS_1
Perempuan itu berhenti menangis melihat tindakan Rita pada lelaki itu. Setelah terkena beberapa jurus dari Rita, lelaki itupun menyerah, ia lemas berbaring di tanah. Rita mengambil ponsel lelaki itu. Dugaannya tepat, lelaki tersebut telah melakukan tindakan pelecehan terhadap perempuan itu.
Rita memanggil security kemudian membantunya melaporkan ke polisi. Beberapa menit kemudian polisi datang menjemput si pelaku. Perempuan yang menjadi korban dan Rita ikut ke kantor polisi sebagai saksi. Rita memberikan bukti penyerangan orang itu terhadapnya. Ia juga membuat beberapa salinan di ponselnya. Selain itu ia juga melaporkan tindakan pelecehan lelaki itu kepada perempuan tadi.
Ia memberikan bukti-bukti di ponsel lelaki itu. Sebelumnya ia membuat salinan dan ia kirim ke drive googlenya untuk jaga-jaga jika lelaki itu menghapus bukti di ponselnya.
Setelah dibuatkan laporan, lelaki itu masuk tahanan untuk penyelidikan yang lebih intensif. Seorang pekerja sosial yang dipanggil polisi untuk menangani korban pelecehan datang, ia menghampiri perempuan itu dan mengajaknya ke suatu tempat untuk diobati luka luar yang ia alami dan konseling untuk menyembuhkan luka hatinya . Rita menepuk bahu perempuan itu untuk memberikan keberanian. Tiba-tiba perempuan itu memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Ia merasa sangat lega dan terbantu. Perempuan itu pun pergi bersama petugas sosial tadi, ia pergi sambil menoleh ke arah Rita yang melambaikan tangan sambil tersenyum padanya. Rita melihat jam di tangannya,
“Wah pukul 3 sore!” pikirnya masih sempat pikirnya. Ia bergegas ke toko kue terdekat, ia ingin berbaikan dengan suaminya. Ia membeli beberapa potong kue kesukaan Daniel. Kemudian kembali ke apartemen. Dengan bantuan alat-alat canggih, ia bisa membuat banyak masakan dalam waktu singkat. Hanya butuh waktu 1 jam semua hidangan telah tersedia, ia meletakan di atas meja makan yang ditutupi tudung saji penghangat agar ketika suaminya datang makanannya tetap hangat. Kemudian ia mandi dan merapikan diri. Ia duduk di ruang tamu menunggu suaminya pulang sambil membaca berita di tablet. Tanpa sadar ia tertidur di sofa sambil duduk.
Daniel pulang dari kantor, ia membangunkan Rita.
“Sayang! Kalau ngantuk pindah ke tempat tidur!” tegurnya, Rita kaget, ia tersadar dari tidurnya, ia melihat suaminya yang baru datang, wajah lelah terpancar dari raut wajahnya, sudah pukul 6 sore.
“hhh...kamu sudah makan sayang?” tanyanya, ia mengambil tas dan jas Daniel, tas ia letakan di ruang kerja, sedangkan jasnya ditaruh di ruang laundry
“Belum!, aku sudah membayangkan masakanmu!” ujarnya,
ia duduk sambil membuka dasi dan kemeja putihnya hingga menyisakan kaos singlet, Rita memberikan kaos untuk ia pakai, kemudian memberikan piring serta alat makan untuknya.
Daniel bingung dengan sikap Rita yang berlawanan dengan tadi malam.
“Mungkin PMS itu seperti ini! Kadang hangat kadang dingin!” pikirnya
Ia menyantap masakan Rita dengan lahap
“Wahh..gak sia-sia aku menahan lapar sejak tadi!” ujarnya. Rita menyediakan juice yang segar untuknya
“ini untukku?” tanyanya, Rita mengangguk tersenyum. Daniel meminumnya dengan sekali teguk, perlahan wajah lelahnya hilang.
“Bagaimana kuliah terbukamu sayang?” tanya Daniel
“Hmm...lumayan,
profesornya kelihatan sangat berpengalaman!” jawabnya
“Belum!, aku mau ikut kuliah terbuka tentang manajemen bisnis. Aku mau tahu dulu!” ujar Rita, ia tersenyum dan membersihkan bekas makan Daniel dan mencuci piringnya.
“Kamu gak apa-apa kan sayang?” tanya Daniel, biasanya ia sendiri yang mencuci dan merapikan bekas makannya
“Aku sehat kog, aku melihat wajahmu terlihat capek tadi. Aku pikir, sebaiknya aku membantumu sedikit”
“Mencuci piring makan ku sendiri tidak akan membuatku pingsan!” ujarnya tersenyum
“Sudahlah, lebih baik kamu segera mandi air hangat, aku sudah memanaskan airnya. Itu agar tubuhmu rileks!” Rita menarik suaminya ke kamar mandi dan memberikan handuk untuknya. Kemudian ia merapikan ranjang mereka dan menyalakan aromaterapi.
“Mungkin moodnya sedang baik!” batin ya Daniel. Selesai mandi dan berpakaian, ia pun sholat maghrib. Setelah itu ia tilawah sambil menunggu waktu Isya
Rita membuka laptopnya di ranjang, melihat suaminya sholat di ruangan lain.
Rita merasa bersalah pada suaminya, kemarin malam ia sempat tersinggung karena Daniel tidak memberikan reaksi yang sama terhadap dirinya ketika pertama kali bertemu. Profesor hukum tadi menjelaskan tentang perilaku mesum pelaku pelecehan, yaitu keinginan menyerang korban secara seksual pada pertemuan pertama.
Rita merasa lega, Daniel bukan orang seperti itu. Rita menutup laptopnya, kemudian ia pun tertidur.
Pukul 3 pagi ia terbangun,
“Sayang?” ia mencari suaminya tidak ia temukan, kemudian ia bangun dan keluar dari kamar tidur. Ia melihat Daniel sedang sholat malam. Rita sungguh terharu melihat suaminya. Ia pun pergi ke dapur dan membuat minuman hangat untuk suaminya.
“Kamu gak tidur sayang?” tanya Daniel, ia telah selesai sholat
“Aku kaget kamu gak ada di ranjang!” jawab Rita, ia memberikan secangkir jahe hangat. Daniel menyeruput jahe hangat itu dengan nikmat
“Hmm...nyaman sekali, aku benar-benar dimanja hari ini!” ujarnya tersenyum
“Kamu pandai membuat sandwich, enak sekali!” puji Rita
“Hehehe...aku pandai masak juga kan?, tapi air frier itu memang sangat membantu ya” ujar Daniel tersenyum, ia kembali menyeruput jahe hangatnya
__ADS_1
“Apa ada masalah di kantor?” tanya Rita, ia bisa melihat kekhawatiran dalam raut wajah Daniel
“Biasalah, ada kesalahan, masalahnya belum ditemukan!” ujarnya
“Aku belajar dari kak Andi ketika ia memperbaiki dronenya yang gak mau terbang!”
“Oya? Bagaimana?”
“Ia bongkar lagi semuanya, ia urutkan satu persatu, dia bilang, biasanya kesalahan itu muncul di awal. Dan tara!! Dronenya kembali terbang!”
“Hmm....apa bisa begitu?”
“Ya perlu dicoba kan?” Ujar Rita ia kembali menguap
“Aku kembali tidur ya sayang!” ujarnya meninggalkan Daniel sendirian di ruang makan
“Aku menyusul!” ujarnya, ia memikirkan saran Rita, kemudian ia mencuci cangkirnya, ia kembali ke kamar sebelumnya ia menyalakan alarm agar tidak tertinggal sholat subuh. Ia kembali tidur dengan memeluk istri tercintanya.
Keesokan paginya, Daniel menyuruh para bawahannya membongkar kembali semua rencana proyek dari awal. Ia pun turut membantu agar pekerjaan dapat segera selesai dan ia bisa presentasi pada klien tentang perbaikan yang akan dilakukan
“Ketemu pak! Ternyata kesalahannya pada akunnya pak!” ujar salah seorang staf nya
“coba kamu perbaiki, lalu masukan kembali ke program semula!” perintah Daniel
Beberapa menit kemudian..
“Benar pak kesalahannya di situ!, sekarang semuanya bisa normal kembali!” ujar staff yang lain
“Alhamdulillah!!!” Daniel menjatuhkan tubuhnya di kursinya ia merasa sangat lega, ia melihat kalender di mejanya
“Hmm...hari ini” gumamnya
Hari itu ia pulang ke rumah tepat waktu. Seperti biasa Rita sudah menyiapkan semua keperluannya. Daniel membawakan hadiah untuknya. Ia memberikannya setelah selesai makan.
“Ada dua!” ujar Daniel
“Apaan nih?” Rita menerima kantong kertas besar , di dalamnya ada 2 hadiah
“Yang satu untuk mu yang satu untuk ku!” ujarnya dengan wajah jahil. Ia pun pergi mandi dengan langkah ringan
Rita membuka hadiahnya, yang pertama berupa tas tangan bermerk Dior, yang kedua Victoria Secret versi terbaru. Rita paham yang Daniel maksud hadiah untuk dirinya. Ia melihat Daniel telah bersiap di ranjang. Rita bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya kemudian mengenakan lingerie baru dari Daniel
“Sayang! Bagaimana muat kah?” panggilnya ia sudah tidak sabar
Rita memakai sedikit make up dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Kemudian ia keluar dari walking closet dengan menutup tubuhnya dengan jubah mandi
“Kok gak dipakai? Kamu gak suka?” tanya Daniel
“Hmm...aku pikir kamu pasti suka sekali!” Rita membuka jubah mandinya, Daniel melihat Rita yang memakai lingerie pemberiannya, ia pun segera menariknya ke ranjang, mereka pun bercinta. Beberapa jam kemudian mereka menyelesaikan aktivitas mereka berdua, Rita kembali memakai piyamanya.
“Kamu gak pakai lingerie itu saja? “ tanya Daniel
“Itu masih baru kan? Seharusnya dicuci dulu, aku gak terbiasa pakai yang langsung dari toko, kan kita gak tahu itu higienis apa enggak?”
“Tapi sayang kamu memakainya cuma sebentar! setelah itu aku buka lagi kan?” ujar Daniel, Rita mengusap wajahnya sebal, Daniel tertawa jahil
“Apa urusannya sudah beres?” tanya Rita, Daniel mengangguk
“Andi benar!, mungkin cara ini akan terus aku terapkan jika terjadi lagi seperti ini!” ujarnya
Rita membuka email dari ponsel tabletnya
“Sayang kita dapat undangan resepsi!” ujar Rita
“Oya? Kapan? Siapa?”
“Minggu depan! yang menikah kita!” Rita dikirimi undangan resepsi oleh kakeknya di Auckland
__ADS_1
_Bersambung_