
“Sayang, hp mu berbunyi” panggil Rita,
“Dari siapa?” teriak Daniel dari dalam kamar mandi
“Rumah Sakit!” Rita membaca tulisan RS di ponsel suaminya
“Bisa tolong terima?”
“Oke!...”
“Selamat Pagi!” sapa lawan bicara Rita di telepon
“Selamat pagi”
“Maaf saya bisa bicara dengan pak Daniel? kami dari RS. Int.Medica ingin konfirmasi tentang jadwal beliau”
“Jadwal? Jadwal apa ya? Saya istrinya Rita”
“Oh bu Rita, jadwal penyuntikan KB bu, minggu ini sudah waktunya penyuntikan, jadi kami hendak membuatkan perjanjian dengan dokter untuk pak Daniel” jawab petugas tersebut
“Oh sebentar ya?”, Rita berlari menghampiri suaminya yang masih berkutat di depan cermin
“Sayang, mereka nanya, perlu gak bikin jadwal perjanjian buat kamu suntik KB?” tanya Rita
“hmm....” Daniel terdiam sejenak, ia tampak berpikir kemudian
“Tolong bilang ke dia, buat perjanjian untuk hari Rabu jam 10 pagi!” ujarnya tegas dan melanjutkan mencukur.
“Baiklah!” Rita menyampaikan yang Daniel katakan padanya.
“Sudah?” tanya Daniel, ia telah selesai bercukur, wajahnya tampak bersih berkilau. Ia mengenakan boxer hitam dan handuk melingkar di lehernya
“Sudah!,...kamu mau meneruskan KB nya?” tanya Rita heran,ia memperhatikan tubuh suaminya yang berisi tetapi perutnya rata seperti roti sobek.
“Hmm...iya!”
“Kenapa? Bukannya kita berencana membuat adik untuk Rayya?” tanya Rita
Daniel menghampiri istrinya di ranjang, lalu mengambil tabletnya.
“Kemarin, ketika pulang dari kantor polisi Ranna bertanya padaku”
“Nanya apa dia?”
“papi, kalau adek Rayya yang diculik, apa papi juga akan marah?”
“Dia nanya begitu?”
“Iya!”
“Terus kamu jawab apa?”
“Iya dong, pasti papi marah”
“terus Ranna bilang apa?”
“yaaahhh...”
“kok yah???”
“iya, aku juga nanya begitu, kenapa yahh kak?”
“Dia bilang, berarti sama saja dong! Aku mikir sepanjang jalan, maksudnya dia apa?”
“Dia pikir, papinya marah kalau dia saja yang diculik! Dari kemarin dia iri sama Rayya.Dia lihat kamu kemana-mana selalu bawa adeknya. Kemarin pagi dia juga nanya sama aku. Papi sayang adek ya? aku jawab papi sayang sama kalian semua!”
“Rayya kan masih kecil, jalan saja belum bisa” elak Daniel
“Aku juga bilang begitu, namanya juga anak-anak”
“itulah, aku pikir mungkin kita harus menunda adek untuk Rayya. Kita persiapkan kakak-kakaknya dulu baru deh kita buat” ujar Daniel
“Aku setuju!” Jawab Rita tersenyum, ia kembali fokus dengan tabletnya. Di dalam kamar mereka, Rita hanya mengenakan tank top berwarna biru serta celana jeans pendek. Ia berjalan menuju pantry kecil di kamarnya perhatiannya tertuju pada berita di tablet hendak mengambil air minum. Tanpa sengaja Ia melewati Daniel yang asyik memainkan game di layar TV lebarnya. Perhatian Daniel kini menuju ke arah istrinya, apalagi tanpa sengaja Rita menumpahkan air minum ke tank topnya hingga basah.
“hhhh....”keluh Daniel, ia mengambil ponsel dan menghubungi supirnya.
“Min, kita pulangnya nanti sore saja habis Ashar!” ujarnya
“Lho kenapa?” tanya Rita heran, ia sibuk mengeringkan tank topnya yang basah.
Daniel membuka tabletnya dan memonitor anak-anaknya di ruangan bawah, lalu ia mengunci pintu pagar depan secara otomatis melalui ponselnya. Itu ia lakukan agar anak-anaknya tidak mudah keluar rumah tanpa pengawasan. Setelah di rasa aman, ia mengunci pintu kamarnya, lalu mendekati istrinya yang masih berusaha mengeringkan tank topnya
“Kemari!” ia menarik tangan istrinya
“Tunggu, baju ku masih basah” ujar Rita
“gak apa-apa !” Daniel memeluk dan menarik nya ke ranjang
“Eh, bukannya kita mau kembali ke Jakarta siang ini?” tanya Rita,
“Nanti sore saja!, aku ingin sama kamu dulu!” Daniel sibuk melucuti pakaian istrinya.
“Kamu bukannya lagi main game online?” tanya Rita
“Bosan!, kamu lebih menggairahkan” ia kembali sibuk dengan tubuh istrinya. Pagi itu mereka habiskan dengan bercinta.
“hah...hah...hah...” Daniel terengah-engah setelah melakukan beberapa kali, ia mengambil ponselnya dan memasang alarm untuk membangunkannya saat adzan dzuhur nanti. Sementara Rita juga tidak kalah lelah dengan suaminya, ia hendak memeluk suaminya.
“Sayang, kamu berpakaian deh!” pinta Daniel
“Kenapa?”
“Kalau kamu memeluk ku terus dengan kondisi seperti itu, kita akan terus menerus melakukannya!” ujar Daniel yang kelelahan.
“Oh begitu” Rita segera menjauh dari suaminya dan mengambil jubah mandi
“Mau kemana?” tanya Daniel
“Mandi, keramas!” jawab Rita
“Oh!” Daniel yang kelelahan mengantuk dan tertidur.
Sehabis mandi, Rita berpakaian lebih rapi dan tertutup, ia keluar dari kamarnya dan menemui anak-anaknya.
“mamiiii!!!” Raffa menghampirinya, seolah tidak bertemu cukup lama
“Abang!” Rita menggendong anak keduanya itu dan menghampiri Ranna yang sedang tidur-tiduran di sofa besar. Sementara Rayya sedang bermain menyusun balok
“Pagi bu!” sapa para baby sitter
“Pagi!, anak-anak sudah makan kan?” tanya Rita
“Sudah bu, kak Ranna sampai dua kali nambah” lapor suster Erni. Rita menghampiri anak pertamanya, lalu memegang keningnya
“sudah gak demam kan kak? Lukanya masih sakit?” tanya Rita, perlahan ia membuka perban di kaki Ranna
“haaaa...mamiii” rengek Ranna
“sakit kak?” tanya Rita, Ranna mengangguk
Perlahan Rita melepas perban di tangan Ranna, lalu menyemprotkan obat antiseptik
“obat ini dingin kak, enak deh..nanti kakak gak sakit lagi tapi awal-awal agak perih sedikit” bujuk Rita
Setelah obat disemprotkan ke atas luka, Rita meniupnya
“dingiiinnn” ujar Ranna tersenyum
“Iya dingin, nanti cepat sembuh” ujar Rita tersenyum, ia menarik Ranna ke pelukannya, lalu menggendongnya , ia ke halaman depan rumahnya.
“Kakak pemberani ya? mami dan papi sayang kak Ranna” Rita mencium kepala anaknya berkali-kali, ia berharap Ranna bisa melupakan pengalaman buruknya kemarin.
“Mami..”
“Ya kak?”
“Ulalnya mana?” tanya Ranna
“Ular?”
“Iya? Ulal Anna”
“Kemarin maminya Ular datang ke mama, dia minta anaknya dikembalikan”
“eh?? “mata Ranna berkaca-kaca sedih, wajahnya terlihat ingin menangis
“Kakak, anak ular itu kan juga punya mami dan papi. Kalau kakak ambil nanti ular itu sedih pisah dari mami dan papinya”
“iya mi?” Ranna menyeka air matanya
__ADS_1
“iya, kalau Ranna diambil orang, gak ketemu mami dan papi, kakak sedih gak?” tanya Rita
“haaaa...mamiiii” Ranna menangis sedih, ia sadar sudah bersalah pada ular kecil itu
“cup...cup..cup...gak apa-apa kak...mami sudah kembaliin kok. lain kali kalau mau ambil sesuatu bilang dulu sama yang punya ya? kalau gak bilang namanya mencuri!” ujar Rita lembut
“iya mi!..cup!” Ranna mencium pipi maminya
“Cup!” Rita membalas..mereka saling mencium pipi lalu tertawa geli. Setelah beberapa saat Ranna kembali ceria dan bermain kembali bersama adik-adiknya.
“Hari ini kita jadi pulang bu?” tanya suster
“Jadi dong!, nanti setelah sholat Ashar, kalian rapi-rapi deh”
ART mendatangi Rita
“Bu, kemarin pak Mario bilang, karena rumah ini akan ditinggal lama, jadi sebaiknya barang-barang elektronik yang mahal-mahal di taruh di gudang “
“Di Gudang? Memangnya kita punya gudang?” tanya Rita heran
“Ada bu” ART menunjukkan suatu ruangan tersembunyi diantara dapur kotor dan dapur bersih, disitu dibuat seperti pintu tersembunyi.
“oh..wah hebat juga!..iya deh, panggil Amin, minta bantuan untuk menaruh barang-barang elektronik ke ruangan ini!” perintah Rita.
Alat-alat elektronik termasuk set TV di kamar Rita dan ruang depan dipindahkan ke gudang tersembunyi dan dikunci dengan kunci elektronik, hanya Rita dan Daniel yang tahu nomor nya.
Beberapa furniture seperti sofa dan tempat tidur di tutup oleh plastik khusus, agar tidak rusak dan tidak masuk debu.
Untuk makan siang, Rita membeli makanan melalui pesan antar di resto langganannya.
“Siang!!!”Daniel terlihat lebih segar
“Siang!, ayo kita makan dulu Yang!” ajak Rita
“Asyikk!!!” Daniel menarik kursi di hadapan Rita dan mengambil kotak makan yang sudah disiapkan Rita
“Tadi aku sudah memindahkan TV set yang di kamar kita ke gudang” ujar Rita sambil menyuapi Ranna
“Kita punya gudang?” tanya Daniel heran,
“Punya, gudang rahasia. Nanti deh aku tunjukin” jawab Rita
“Kak Ranna sudah gak sakit?” tegur Daniel sambil memegang keningnya
Ia menggeleng sambil tersenyum,ia terlihat sangat menikmati perhatian mami dan papinya sedangkan Raffa dan Rayya di suapi oleh kedua baby sitternya.
“Habis ini kita langsung pulang saja yuk!” ujar Daniel
“Gak nunggu Ashar dulu?” tanya Rita
“Masih lama, ini baru jam 12, jam 1 deh kita berangkat” ujar Daniel sambil melihat jam dinding
“Ya sudah, mba!” Rita memanggil ARTnya
“ya bu?”
“Bilang ke Amin, jam 1 kita kembali ke Jakarta”
“oh jam 1 ini bu?”
“iya, masa jam 1 malam. “jawab Rita tersenyum
Setelah merapikan rumah dan mengecek keamanan rumah, rombongan Rita meninggalkan rumah, tak lupa ia menitipkan rumah ke keamanan komplek . ia sempat mengunjungi rumah Mario tetapi sepertinya Mario sedang tidak berada di rumah, akhirnya ia dan rombongan kembali ke Jakarta.
Di perjalanan pulang kali ini, Daniel terus berada di dekat Ranna, sementara Rita membagi perhatiannya antara Raffa dan Rayya. Rayya, masih kecil jadi tidak begitu peduli jika mami atau papinya memperhatikan kakak-kakak, asalkan ada mainan di dekatnya itu sudah cukup baginya.
Mereka tiba di rumah besar pukul 5 sore, karena sempat menepi sejenak untuk sholat Ashar dan makan sore.
“Selamat Sore pak Ridwan!” sapa Rita
“Selamat Sore mba Rita, Pak Daniel!” sapa Ridwan kepala ART rumah besar
“Sore pak!” Daniel menggendong Ranna
“lho kok kak Ranna digendong?” tanya Ridwan heran
“Kakinya lagi sakit pak” Daniel mewakili menjawab, Ranna tersenyum malu lalu ia meminta turun dari gendongan.
“apa ada kabar baru pak?” tanya Rita
“Gak ada mba, semua lancar di sini”
“Silakan mba!”
Rita bersama anak dan suaminya kini telah kembali ke kamar mewah mereka.
Para baby sitter,ART serta supir telah kembali ke rumahnya masing-masing , jam kerja mereka telah selesai.
“Kakak, Abang, malam ini tidur di kamar papi saja ya?” ujar Daniel
“iya papi”
“Yes papi!” jawab kedua anaknya senang, seperti biasa Rayya sibuk menekuri pinggir ranjang.
Hujan turun cukup deras, mereka berdiam di dalam kamar. Rita membuat cemilan di dapur kecil lalu membawanya ke depan TV, dimana suami serta anak-anak sedang asyik menonton film bertema keluarga. Beberapa lampu sengaja dimatikan agar nuansa bioskop terasa. Mereka berkumpul di sofa besar depan TV.
“Enak!..” Daniel memakan cemilan
“iya ya,...hehehe..”
“yummy!!!” puji Raffa
“ini pop corn, nah ini chicken pop corn”
“Chickeennn!!!” teriak Ranna senang
“Kakak! Sudah sembuh ya?” tanya Daniel
“Eh” tiba-tiba Ranna mengecilkan suaranya, ia takut kalau sembuh mami dan papinya tidak memperhatikan dia lagi. Rita tersenyum melihat tingkahnya, ia mengambil tablet, lalu memantau keluar melalui CCTV.
“Hujannya berpengawet ya, sudah satu jam masih hujan”
“Sudah beberapa hari kering, wajar sekarang hujan”
Raffa mendekati papinya lalu duduk di pangkuannya
“Papi, wind...strong wind!” ujarnya
“kapan bang?” tanya Daniel, Raffa menggeleng
“Besok kamu ke kantor Yang?” tanya Rita
“Iya, sebenarnya aku malas lho! Aku lebih senang kita ngumpul kayak begini” keluhnya
“Tapi kalau ngumpul begini terus lama-lama bosen juga lho! Coba saja, nih 3 jam yang akan datang, kira-kira kamu masih tahan gak posisi begini?” tanya Rita.
Rayya yang bosan lebih dulu, ia menangis kesal. Rita membawanya ke kamar mereka dan mengganti pakaiannya lalu menidurkannya. Raffa dan Ranna tertidur di samping Daniel. Rita mengambil Raffa lebih dulu dan memindahkannya ke kamar, ia hendak mengambil Ranna, tetapi Daniel sudah bangun dan menggendong Ranna.
“Aku sudah matikan TV, dan piring-piring sudah kupindahkan” ujarnya mengantuk, ia meletakkan Ranna di sampingnya, lalu tertidur.
Rita memeriksa jendela kamar, TV, dan mematikan lampu yang tidak dipakai lalu kembali ke kamarnya. Ia berganti pakaian lalu sholat Isya.
“Sayang, kamu sudah sholat?” tanya Rita
“Belum, sebentar lagi”
Rita merapikan mukenanya, lalu duduk di ranjang lebar yang kini berisi anak-anak mereka. Ia penasaran dengan cuaca di luar , ia kembali membuka tabletnya dan melihat keluar. Seperti yang Raffa katakan, malam itu hujan turun tanpa henti diiringi angin kencang. Rita membaca berita melalui tabletnya, beberapa rumah di Jakarta timur terbakar karena tertimpa tiang listrik.
“Kasihan..”gumamnya
“Kenapa?” tanya Daniel
“Orang-orang di Jakarta timur, rumahnya terbakar tertimpa tiang listrik”
“Ada berapa rumah?”
“hmm...belum tahu sih..ini aku lagi memantau” ujarnya.
Keesokkan paginya Daniel mendapatkan kabar kalau kantor Lexi mengalami kerusakan di beberapa tempat akibat angin kencang sehingga kantor kembali di tutup.
“Kantor Lexi ini rentan banget ya? sebentar-sebentar di tutup” ujar Rita
“Iya, mungkin karena mereka menganggap kantor di sini hanya persinggahan saja, katanya sih bukan kantor mereka tapi masih menyewa” jawab Daniel, ia baru saja menutup percakapan dengan asistennya
“Jadi hari ini kamu gak bekerja?” tanya Rita, ia kelihatan senang
“Kerja dong!”
“Online?”
__ADS_1
“Enggak!, karena aku sangat butuh meeting ini, jadi meetingnya ku pindahkan ke rumah ini”
“Eh rumah ini?”
“Iya, ruang yang dulu jadi studio kamu itu kan kosong, dan akses keluar masuk nya gampang, jadi aku minta di sulap jadi ruang kerja tim ku untuk beberapa hari” ujar Daniel
“Kamu sudah bilang ke pak Ridwan?”
“Sudah, ia sedang menyiapkannya, dan mengambil beberapa kursi dan meja dari gudang” jawab Daniel
“Oh,..baiklah..selamat bekerja sayang! Anak-anak...kita berenang yuk!!”
“Swimminngggg!!!!” Raffa yang sangat menyukai berenang, berlari menyusul maminya
Rita telah menyiapkan baju renang untuk ketiga anak dan dirinya, serta ban untuk Rayya. Ranna dan Raffa telah mahir berenang. Mereka menaiki scooter menuju kolam renang yang letaknya di ujung rumah besar itu. Ranna dan Raffa menaiki scooter bersama baby sitternya, sementara Rita menggendong Rayya menaiki scooter.
“Yeeaaahhh!!!” teriak mereka kegirangan, rumah besar itu kini ramai dengan suara tawa anak-anak.
Tim Daniel datang ke rumah besar, mereka langsung memasuki ruangan yang telah disiapkan Ridwan.
Ruangan meeting diadakan di lantai 2 yang telah diperuntukan untuk acara-acara khusus.
“Ini rumahnya pak Daniel? wahh....mewah sekali...” ujar salah satu staf
“ckckck...ini istana bukannya rumah” ujar staf yang lain
“Semua sudah datang?” tanya Ridwan
“Sudah pak!” jawab staf yang berjumlah 15 orang kompak
“Baiklah, mari ikuti saya!” Ridwan mengajak mereka ke lantai 2, yang telah disiapkan untuk ruang pertemuan. Mereka beramai-ramai mengikuti Ridwan ke lantai 2. Layaknya ruang pertemuan di hotel bintang 5, para staf di sambut hangat, di sana telah tersedia meja pertemuan, dan alat-alat presentasi lengkap. Di bagian pojok ruangan tersedia snack , kopi, teh, jus, serta air bening.
“wow! Seperti di hotel” ujar mereka terkagum-kagum
“Kalian sudah datang?” sambut Daniel yang telah menunggu di tempat itu sejak tadi.
“Selamat pagi pak Daniel” sapa mereka ramah
“Pagi, kalian gak kesulitan menemukan rumah ini kan?” tanya Daniel
“Tidak pak!” jawab mereka kompak. Mereka tampak senang karena sambutan yang hangat dan snack yang terlihat sangat menggiurkan.
“Silakan ambil snacknya sebelum kita mulai” ujar Daniel mempersilakan, sementara Rita dan anak-anak terkagum-kagum dengan seluncur yang baru terpasang.
“Seluncurnya dari siapa?” tanya Rita kepada salah satu staf
“itu dari nenek Sinta, baru dipasang Minggu lalu, katanya untuk anak-anak bermain” jawabnya
“Oh..”Rita tersenyum, ia memanggil kedua anaknya
“Ranna, Raffa kemari..”panggilnya. ia melakukan Vcall kepada neneknya
“Halo Nenek Uyut!!” panggil Rita sambil memangku Rayya
“Hai!! Kalian sudah di rumah?” tanya nenek
“Sudah nek!, kakak bilang apa sama nek Uyut?” tanya Rita ke Ranna
“Terima kasih ya Nek uyut...kakak...senaaaanggggg sekali sama selunculannya” ujar Ranna lucu
“Sama-sama Kakak”
“Abang!” Rita memanggil Raffa
“hi Great grand ma! Thanks fol the slide!! We love itu..i hope you’ll be hele too” ujar Raffa
“Your welcome abang!!” Sinta tampak terharu atas ucapan cicit-cicitnya. Mereka kembali berenang
“eh..Rita..tentang itu...” Sinta terbata-bata
“Sudahlah Nek..lupakan saja...Rita sudah lupa kok...oh iya Nenek sekarang di mana?”
“Nenek sekarang di Perancis Rit, menemani Metha dan anak-anak”
“Oh ya? berapa lama Nek?”
“Entahlah, katanya Metha akan pindah ke cabang Dar.co Perancis”
“oh ada ya?”
“Ada!, memangnya kamu gak tahu?”
“Enggak, aku tahunya yang di Zurich, Auckland dan London”
“Ada lagi Rit, memang tidak besar tapi ada, Perancis untuk perwakilan Eropa dan Jepang”
“hah? Jepang juga?”
“iya!”
“Ooo pantas Om Radian sering ke Jepang”
“Memang!”
“Jadi tante gak di Zurich lagi?”
“Kayaknya dia minta pindah, terlalu banyak kenangan buruk di Zurich”
“Begitu ya? “ Rita terlihat begitu prihatin
“neeeeeeuuuuut” tiba-tiba Rayya bergumam
“Yaaa...Rayyaa???” Sinta tampak senang dipanggil oleh cicit tirinya
“daaaaaa!!!” ujarnya lucu
“Kamu benar-benar beruntung Rit, jaga anak-anak dengan baik ya? oh iya kapan kalian kembali di Zurich?”
“Insya Allah bulan depan Nek, kalau tidak ada perubahan.”
“Oh begitu, iya deh Rit”
“Terima kasih ya Nek seluncurannya,..nanti mampir ke rumah kami di Zurich ya?”
“Insya Allah!!!”
“Dahhh!!!” Rita menggerakkan tangan Rayya , percakapan pun berakhir. Mereka kembali bermain seluncuran.
Rita memesan makanan dari dapur untuk di bawa ke kolam renang
“sekalian makan siang, biasanya habis berenang anak-anak makannya lahap. Oh iya, untuk tamunya bapak sudah disiapkan makan siang?” tanya Rita
“Sudah bu!”
“Alhamdulillah...”
Setelah makan siang, anak-anak mandi dan berganti pakaian, mereka mengantuk
“Kita kembali ke kamar saja” Rita yang menggendong Rayya yang sudah rewel karena mengantuk. Dengan menaiki scooter mereka kembali ke kamar di perjalanan mereka bertemu dengan tim Daniel yang baru menyelesaikan meeting nya.
“Mr.Samuel!” panggil Raffa ramah
“Hai Raffa!...teman-teman ini istrinya pak Daniel, bu Rita, dan ini Raffa, Ranna dan Rayya” Samuel memperkenalkan Rita kepada teman-temannya
“Selamat siang bu Rita!” sapa mereka
“Siang! Sudah selesai meeting nya?”
“Baru saja bu, oh iya terima kasih snack dan makan siangnya, enak sekali!” ujar salah satu staf
“Syukurlah kalian suka, baiklah saya tinggal ya, anak-anak sudah mengantuk karena habis berenang”
“Baik bu!, selamat Siang!” ujar mereka kompak
Rita dan para baby sitter berscooter menuju kamar megah Rita
“Itu istrinya pak Daniel?” bisik salah satu staf cowok kepada Samuel, yang menjawabnya dengan mengangguk
“Cantik banget,..masih muda lagi..gue mau tuh..jandanya” bisiknya sambil tertawa
“Hush!!hati-hati di sini banyak cctv!” bisik Samuel,
Mereka meninggalkan rumah itu menaiki bis mini menuju ke tempat perhentian bis menuju rumah masing-masing, mereka tampak puas dan kenyang.
“Istrinya pak Daniel masih muda sekali ya?” ujar salah satu staf cewek di bis
“Iya, cantik banget..pak Daniel juga ganteng..kok bisa klop gitu ya?” ujar temannya
“Yaa...itulah...hidupppp” gumam Samuel mengingat patah hatinya pada Rita..
__ADS_1
_Bersambung_