Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 294: Cireng di Singapura


__ADS_3

“Apaan nih?” Rita menerima sebuah kardus berukuran besar yang diterimanya siang ini.


“Paket bu, baru sampai tadi pagi” jawab karyawan piket pagi


“Kok baru saya terima sekarang?” tanya Rita heran


“Tadi masih di ruang sortir bu, bersamaan dengan kiriman bahan baku” jawab karyawan tersebut


“Baiklah, terima kasih!” karyawan tersebut mengangguk dan segera meninggalkan ruangan Rita.


“kira-kira apaan ya?” Rita membaca label yang tertera di bagian depan paket


“Oh dari tante Saye” ia mengambil cutter dan membuka paket tersebut, di dalamnya terdapat beberapa bungkus cireng dan coklat serta sebuah surat. Ia pun membacanya


“Sample coklat dan titipan cireng dari Andien, kini dia bekerja sebagai manager di toko tante”


“wahhh....” Rita berteriak senang. Daniel yang sedang bermain bersama Rayya di dalam ruangan Rita penasaran dengan teriakan istrinya ia menghampiri


“ada apa sih ?”


“Ini aku dapat paket dari tante Saye beserta cireng dari Andien”


“Andien? Si imut?”


“Iya betul, sekarang dia jadi manager di toko tante Saye”


Daniel membuka bungkusan yang terbungkus rapi dengan buble wrap


“Coklatnya sample apa mau di jual nih? soalnya banyak banget” Daniel menghitung jumlah coklat yang dikirimkan Saye


“apa setiap varian ada?”


“Setiap varian ada 5 pcs, totalnya 50 pcs ini bukan sample” jawab Daniel


“Sayang, kamu akan lama berada di sini atau mau ke apartemen?” tanya Rita


“Kamu masih lama di sini ya?” tanya Daniel, ia melihat Rayya yang mulai bosan. Ia melemparkan semua mainannya.


“Karena lusa sudah gak di sini, aku berniat di sini sampai toko tutup"


Sampai jam 8 malam ya?"


“Iya, kamu keberatan?”


“hmm...tapi kamu juga harus bilang ke Erina, bagaimana pun juga ia harus tetap pulang saat jam kerjanya selesai, kamu jangan seperti bos ku!” ujar Daniel memperingatkan


“Baiklah!, jadi kamu mau ke apartment?”


“Iya deh, Rayya sudah bosan di sini”


Mereka pun turun ke lantai bawah dan menemui batita mereka beserta baby sitternya


“Suster Rini jam kerjanya berakhir pukul 6 sore kan? Sekarang masih pukul 4. Ikut suami saya ke apartemen bawa anak-anak pastikan mereka mandi ya sebelum suster pergi. Nanti fee suster dan teman-teman saya transfer”


“Baik bu Rita!”


“Pak Daniel pulang duluan bu?” tanya Erina, ia melihat Daniel dan rombongannya keluar dari D’Ritz


“Iya, capek katanya. Oh iya Er, hari ini saya akan sampai jam 8 malam. Kamu gak perlu mengikuti saya, kalian boleh pulang sesuai jam kerja biasanya saja”


“hmm..”Erina berpikir sejenak, ia merasa tidak enak meninggalkan Rita


“Kamu gak usah khawatir, saya di sini hanya sampai besok, lusa saya sudah kembali ke Jakarta. Jam kerja saya tidak seperti kalian. Jadi gak usah khawatir.”


“Baik bu Rita”


“Eh iya Er, ada yang mau saya bicarakan” Rita mengajak Erina ke ruangannya


“Jadi begini, saya ingin menjual produk berupa coklat di toko ini, untuk samplenya akan saya berikan ke kamu. Jadi tolong di data barangnya supaya bisa masuk ke barang yang termasuk dijual”


“Coklat produk sendiri bu?” Erina memperhatikan cokelat-cokelat itu sambil memegangnya.


“Iya, eh maksud ku tante ku pengusaha coklat di tempat tinggalnya. Sebenarnya coklatnya sudah melanglang buana hanya saja mereknya menggunakan merk perusahaan lain. Nah, Aku berniat memasarkannya di sini. Ini copy sertifikat keaslian, keamanan serta kehalalan produk” Rita memberikan dokumennya kepada Erina


“Nih cobain deh coklatnya” Rita memberikan piring berisikan beberapa potong coklat yang baru saja ia buka. Erina mencobanya 1 potong


“Semua sample ini berbeda rasa Er, kamu bisa mencobanya satu per satu” ujar Rita


“Eh, rasanya unik ya?”


“Iya kan? Ada rasa pahit coklat, rasa buah asli dan manisnya meledak belakangan”


“Kira-kira mau di jual berapa bu?”


“Untuk sample ini apa perlu ijin tertentu dari pemerintah setempat?”


“Menurut saya tidak bu, karena ini dijual internal di toko ini. Kecuali ibu hendak mendistribusikan ke toko-toko swalayan”


“Begitu ya? baiklah bisa kamu atur Er?” Rita memberikan 45 pcs coklat dalam kardus kepada Erina.


“Oh iya Er, apa aku perlu asisten ya? masa aku langsung menyuruh general manager” , Erina tersenyum


“Kalau ibu perlu asisten akan saya carikan”


“Tapi asisten nya hanya pada saat aku di sini saja Er”


“Oh begitu” Erina mengangguk paham, ia pun keluar dari ruangan Rita bersama bungkusan coklat. Rita kembali turun ke dapur cafe dengan membawa cireng.


“Selamat sore!” sapanya kepada staf dapur


“Selamat sore bu!” para staf dapur berdiri menyambut Rita


“Gak usah sungkan, oh iya ada kompor yang sekarang tidak digunakan?” tanya Rita


“kalau kompor besar semuanya sedang digunakan bu, tapi kami punya kompor darurat” jawab Ilham staf dapur


“Ya boleh deh!”, Ilham segera ke bagian penyimpanan


“Untuk apa itu ham?” tanya temannya


“Bu Rita minta , sepertinya dia ingin menggoreng sesuatu”


“Apa pemakaian minyak itu akan catatkan?” tanya temannya


“Entahlah!” Ilham membawakan kompor portable,peralatan masak serta minyak yang diminta Rita


“Terima kasih, oh iya tolong catatkan pemakaian minyak ini ya? supaya bagian persediaan gak bingung”


“Baik bu” Ilham meninggalkan Rita sendiri di bagian dapur tempat ia dulu selalu bereksperimen


Ia menuangkan minyak dan mengukur suhu sesuai arahan label, alu mulai menggoreng cireng beberapa menit kemudian cireng itu pun jadi. Setelah menunggu beberapa saat, ia memotongnya menjadi bagian sedang lalu membawanya dalam piring yang cukup besar.


“Cobain deh” iya memberikan sample kepada para staf dapur, masing-masing mengambil 1 potong. Hampir semua staf dapur, bagian pelayanan serta kasir ikut mencoba cireng. Erina pun mendapat 1 potongan besar cireng berisi sosis. Rita sengaja membawanya ke ruangan Erina. Ia pun turut memakannya bersama Erina


“Ini apa bu?”


“Ini cireng, makanan khas Sukabumi.” Jawab Rita


“Ini terbuat dari apa?” Erina tampak tertarik dengan tampilan cireng yang kenyal dan rasanya yang gurih


“Ini terbuat dari campuran tepung tapioka dan sedikit terigu, isiannya suka-suka yang membuat”


“Makanan Indonesia unik-unik ya?”


“Iya Er, mungkin kalau kamu senggang bisa liburan ke Indonesia” ujar Rita


“Toko dan cafe ini selalu ramai bu, sulit untuk liburan tanpa sedikit pun memikirkan toko ini” jawab Erina. Rita terdiam, ia sedikit merasa bersalah kepada Erina dan para pekerjanya.


“Enak ya?”


“Iya bu!” Erina mengambil potongan yang lain


“Menurut mu kalau Cireng ini dimasukkan menjadi appetizer di cafe bagaimana?”


“Apa kita harus membuatnya dulu?”


“Tidak perlu!, aku akan menghubungi produsen cireng ini dan membeli beberapa kardus. Untuk perkenalan cireng ini bisa diberikan secara gratis sambil menunggu makanan sesungguhnya datang, bagaimana menurut mu?”


Erina mengangguk, ia tertarik dengan makanan baru yang Rita bawa. Tanpa terasa hari telah malam, toko dan cafe sudah ditutup. Rita keluar bersama yang piket malam itu.

__ADS_1


“Aku duluan ya?” pamit Rita


“Iya bu!” jawab karyawan piket malam. Hari itu Rita sangat puas, ia senang bisa kembali ke dapur dan bereksperimen.


“Assalammu’alaikum...”


“Wa’alaikummussalam!!” jawab Daniel dan anak-anaknya menjawab salam


“Mamiii!!!” kedua anaknya menyambut dan hendak menomplok maminya


“Heiii!!..mami keringetan ini! Nanti kalian bau lagi” Rita menghindar


“Kamu bawa makanan gak? Kami lapar nih?” tanya Daniel


“Kenapa kamu gak pesan saja?” tanya Rita sambil meletakkan tasnya, ia mengambil bungkusan cireng dari tasnya, lalu menggorengnya di air frier


“Tadi sudah pesan, tapi setelah nonton film ini, kenapa jadi lapar lagi?” jawab Daniel


“Kalian sudah makan belum?” tanya Rita kepada kedua batita


“Sudah mami, done!” jawab Ranna dan Raffa bersamaan


“Pinterr!!..mami mandi dulu ya?” Rita segera ke kamar mandi, setelah selesai dan berpakaian. Ia kembali ke dapur untuk mengambil cireng yang baru saja ia goreng.


“Nih Yang, cobain deh” ia menaruhnya di piring dan membawanya ke meja depan TV. Daniel dan kedua batitanya mengambil cireng tersebut


“it’s hot!” keluh Raffa


“Pelan-pelan Bang!, nih mami potongin” Rita mengambil gunting dan memotong cireng menjadi bagian kecil hingga kedua batitanya lebih mudah menyantapnya.


“Ini apaan Yang?” tanya Daniel, ia sangat menyukai makanan pedas, dan isi cireng yang digoreng Rita cukup pedas dan merangsang lidahnya


“Ini cireng, asal kata Aci digoreng” jawab Rita


“Aci? Apa itu?”


“Aci itu, tepung kanji atau tapioka yang diberi air lalu dimasak menjadi seperti lem, kemudian dicampur sedikit terigu dan tepung kanji lagi . Diberi bumbu-bumbu, dikasih isian, digoreng deh”


“Enak! Tapi kalau digoreng pakai minyak biasa malah menyerap minyak ya?”


“Betul! Makanya aku menggorengnya di airfrier walaupun rasanya jadi kurang nendang dibandingkan masak pakai minyak tapi lumayan lah. Ini sudah malam kalau makan yang berminyak nanti kamu sulit tidur”


“Aku ? sulit tidur? Gak mungkin. Sore ini aku sendiri yang memandikan anak-anak” jawab Daniel


“Lho! Aku kan menyuruh suster Rini dan yang lainnya?”


“Aku menyuruh mereka pulang, aku risih dikelilingi para perempuan tanpa ada istri ku” jawab Daniel sambil mengambil potongan cireng lainnya


“Yah, aku rugi dong!, aku membayarnya hingga jam 6, seharusnya tugasnya termasuk itu” keluh Rita


“Tidak apalah! Anggap saja sedekah, toh besok pagi kamu tidak perlu dia lagi kan?”


“Memangnya kamu mampu mengasuh anak-anak ini?”


“Apa itu tantangan?”


“Aku cuma kasih tahu saja, anak-anak ini seperti kelinci di iklan baterai energizer, gak bisa akan bisa diam tenang”


“Aku anggap itu tantangan ya? aku besok di sini saja, aku yang menjaga anak-anak”


“Beneran? Aku pulangnya jam 8 malam lho!”


“Iya! Tapi kamu berangkat jam berapa?”


“Jam 10, aku kan menyiapkan makanan untuk kalian dulu”


“oh begitu, kalau begitu, biar cucian aku saja yang mengerjakan”


“Apa ada cucian?”


“Banyak! masa kamu gak tahu?”


“Aku lupa! Ah iya apa persediaan ASI Rayya masih ada?”


“Masih ada 5 bungkus, kamu memompanya lagi kan?”


“Iya, tadi aku dapat 6 kantong, tapi aku agak takut nih”


“Soalnya sejak tadi aku makan cireng pedas, takutnya Rayya malah diare”


“Memangnya pengaruh ya?”


“Lho iya dong, apa yang disantap mamanya akan disantap juga sama anaknya melalui ASI”


“Kalau begitu, ASInya buat papinya saja.”


“Kamu ada-ada saja!” Rita mencubit pipi suaminya gemas


“Dari pada dibuang kan? Lagi pula pasti kamu gak mencatat kapan kamu mulai makan, jadi gak tahu ASI yang mana yang mengandung ACI pedas” tanya Daniel


“Terserah kamu deh, jadi tadi bagaimana di kantor polisi?”


“Aku gak ke kantor polisi”


“Lho? Kenapa?”


“Aku pikir, polisi alatnya terbatas, mereka akan mengirimkannya ke laboratorium kriminal, dan itu butuh waktu berhari-hari, jadi Aku ke kantor cabang interpol di sini dan menemui teman ku yang bertugas di situ”


“Kapan hasilnya keluar? Kamu juga memberikan potongan CCTVnya?”


“tentu dong, besok siang dia akan menghubungi ku”


“Untuk itu kamu bayar gak?”


“Hmm...bayar dong, teman-teman ku orang yang berterus terang. Mereka akan bilang biaya yang dibutuhkan untuk ini semua tanpa sungkan, aku juga jadi gak sungkan”


“Memang lebih enak begitu ya? hoaahhh..aku ngantuk sekali”


“Duluan deh, masih tanggung nih”


“Kakak, Abang, mau bobo gak?” tanya Rita


“Mauuu!!!!” keduanya berhambur mendekati Rita


“Hey!! Sebelum bobo, rapikan dulu mainannya, lalu sikat gigi, cuci muka, cuci tangan ganti baju tidur!” ujar Rita


“Ya mi!!” jawab keduanya menurut, Rita menemani mereka di toilet dan berganti pakaian. Kemudian membacakan cerita dari buku cerita hingga mereka tertidur setelah itu ia sholat Isya. Selesai sholat ia menghampiri suaminya yang konsentrasi dengan film di depannya, sementara Rayya telah nyenyak tidur.


“Sayang, aku pindahkan Rayya ya?”


“Jangan! Biar nanti aku saja, kamu istirahat saja!” ujar Daniel


Rita menurut, ia pun langsung ke kamarnya tanpa tunggu lama ia langsung pulas tertidur.


Pagi harinya Rita sudah bangun pukul 4 pagi, ia menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya, setelah selesai ia pun sholat subuh.


“Assalammu’alaikum..” Daniel baru saja kembali dari mesjid di sekitar apartemennya


“Wa’alaikummussalam” jawab Rita yang baru selesai sholat subuh.


“Tumben sudah rapi, biasanya harus dilap handuk basah dulu” ledek Daniel


“Aku harus menyiapkan makanan untuk suami dan anakku supaya mereka gak terlantar” jawab Rita, ia kembali ke dapur. Daniel memperhatikannya dari belakang, lalu menghampiri dan memeluknya.


“Temani aku dulu pagi ini” ujarnya manja, ia mencumbu leher Rita


“Sekarang?” tanya Rita, ia kegelian karena tangan Daniel yang mulai aktif menjelajah tubuhnya


“Iya, mumpung anak-anak masih tidur” Rita berbalik dan mencium suaminya, mereka pun ke kamar dan bercinta pagi itu. Beberapa jam kemudian ia mendengar ketukan pintu kamarnya.


“Mamiii...papi...wake up!!!” panggil Raffa


“Duk..duk...duk...” ketiga anaknya memukul pintu kamar. Rita segera bangkit dan hendak mengambil pakaiannya


“Kamu mau ngapain?” Daniel mencegahnya berpakaian, ia terus memeluk dada istrinya


“Sayang! Kamu gak dengar? Itu pasukan pada nunggu di depan pintu” ujar Rita, ia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Dengan susah payah akhirnya ia berhasil berpakaian kemudian membuka pintu.


“Haii!! Kalian sudah bangun pagi ini?” ujar Rita, ia menggendong Rayya yang merangkak,

__ADS_1


“Papi lagi bobo jangan diganggu dulu ya?” Rita menutup pintu kamar lalu mengajak anak-anaknya sarapan pagi. Selesai sarapan ia memandikan ketiga anaknya sambil bermain air.


“Kakak, abang hari ini kalian gak usah ikut mami ke toko ya?, mami akan sibuk, suster juga gak ada. Jadi kalian temani papi di sini oke!”


“Yaa mami, papi bobo teus ya?” tanya Ranna


“Papi sedang menyimpan tenaga untuk jagain kalian. Nanti kalian jangan nakal, abang awasi kakak ya?” pesan Rita


“Yes mam!” jawab Raffa


Selesai mandi Rita membantu mereka berpakaian, kemudian ia sendiri mandi dan keramas. Pukul setengah sembilan, ia beristirahat sejenak sambil bermain dengan anak-anaknya. Daniel baru saja bangun dan langsung mandi.


“Selamat pagi semuanya!” ia tampak segar


“Pagi papi!!!” jawab Ranna,


“Morning papi” jawab Raffa


“Kamu sarapan dulu” Rita hendak menyediakan untuk Daniel


“Gak usah, biar aku saja!” Daniel mengambil makanan agak banyak


“Wah, tumben banyak sekali makannya?” Rita sampai takjub melihatnya


“Tadi aku baru mengeluarkan tenaga yang besar sekarang recharge!” jawab Daniel , Rita tersenyum kemudian bersiap untuk ke toko


“Mami pergi ya? kalian jangan nakal!” pesan Rita


“Yaa mami!!” jawab Ranna dan Raffa bersamaan


“Iiiii!!” Rayya memanggil Rita, ia merangkak mendekatinya


“Adek sama papi dulu ya?” Rita menggendong anak bungsunya sejenak, ketika Rayya sudah tenang ia kembali bermain bersama kakak-kakaknya


“Aku pergi dulu ya?” Rita mencium pipi suaminya


“Hati-hati!” teriak Daniel


“Yaa!!!” Rita mengenakan setelan jeans dan membawa bekal untuk makan siang


Beberapa menit kemudian ia tiba di tokonya, tampak antrian sudah memenuhi toko


“Selamat pagi semuanya!!!”


“Selamat pagi bu!” jawab para pegawai


“Kenapa dengan mesin kasir yang satunya?” tanya Rita


“Rusak bu, teknisinya akan datang siang hari ini” jawab kasir yang bertugas


“Apa kasir bagian cafe sudah datang?” tanya Rita


“Sudah bu!”


“Kalau begitu, suruh dia buka cash register, supaya antrian tidak panjang seperti ini” perintah Rita


“Baik bu!” Ismael memanggil kasir cafe, lalu segera membuka pembayaran.


“Silakan bayar di kasir cafe supaya lebih cepat!” ujar Rita kepada para pengunjung, dengan cepat terbentuk lagi antrian di cafe untuk pembelian roti.


Pengunjung cafe melihat seorang perempuan muda dengan suara tegas mengatur sehingga pelayanan dapat berjalan lancar.


“Itu siapa?” tanya salah satu pengunjung kepada pelayan


“Itu bu Rita, pemilik D’Ritz” jawab pelayan sambil memberikan pesanan


“Oh itu pemiliknya, masih muda banget ya?” ujar lelaki itu


“Ngapain kamu memperhatikan dia terus?” tanya teman wanitanya


“Cantik ya? padahal Cuma pakai lipstik saja” puji lelaki itu


“Ah biasa saja!” jawab teman wanitanya cemburu


“waiter!” panggil lelaki itu


“Ya?” waiter menghampiri


“Saya bisa mengenal wanita itu?” tanya lelaki tadi sambil menunjuk ke arah Rita yang membantu membungkus roti


“Maaf pak, beliau selain pemilik toko ini juga sudah bersuami dan ibu anak 3” jawab waiter itu sambil meninggalkan lelaki genit itu kesal


“Hah? Uhuk..uhuk...uhuk” lelaki itu kaget dan terbatuk, teman wanitanya tertawa senang


Tak lama setelah itu Erina tiba di toko, ia melihat Rita membantu di bagian kasir. Ia menegur Ismael


“Is, kenapa ibu Rita ikut kerja?” tanya Erina galak


“Itu bu, tadi antrian panjang, karena kasir 2 rusak, bu Rita menyuruh membuka cash register cafe supaya antrian tidak panjang”


“Kapan teknisinya datang? Sudah berapa hari kasirnya rusak?” tanya Erina


“Sudah dua hari bu, Cuma kemarin-kemarin pengunjungnya tidak sebanyak pagi ini”


Erina tampak kesal, ia mengambil telepon dan menelpon service center kasir


“Pokoknya saya gak mau tahu, kalian harus datang siang ini SECEPATNYA, atau saya akan mengganti semua cash register di toko saya dan menguploadnya di sosmed karena pelayanan after service kalian yang lambat!” ancam Erina menutup percakapan. Karena ruangan itu tidak dilapisi peredam suara sehingga suara Erina terdengar hingga ruangan Rita.


“Silakan bu!” Ob menyediakan teh hangat untuk Rita


“Bu Erina kenapa?” tanya Rita


“Beliau kesal dengan service center cash register bu, karena sudah dua hari sejak complain mereka tidak datang-datang memperbaiki” jawab OB


“Oh begitu, terimakasih!” Rita menyeruput tehnya sambil membaca pesan dari suaminya


“Aku ada janji dengan teman ku di resto keluarga dekat mall”


“Aku perlu bawakan orang untuk menemani?” tanya Rita


“Gak usah!, Raffa sudah cukup mengawasi Ranna” jawab Daniel dengan emoticon tersenyum, ia pun wefie dengan ketiga anaknya di dalam taksi. Rita geli melihat wajah Ranna yang terlihat kesal karena tangannya digenggam erat Raffa.


Daniel beserta ketiga anaknya tiba di resto tersebut. ia memesan paket untuk dirinya dan anak-anak lalu memilih tempat untuk duduk.


“Papi playground!” Ranna menunjuk tempat bermain di resto itu


“Boleh!, tapi jangan bicara, menerima permen atau kue-kue , bahkan mengikuti orang yang tak dikenal oke!” pesan Daniel tegas


“Oke pi!!” jawab Ranna dan Raffa bersamaan, Daniel tersenyum sambil mengawasi kedua anaknya dari jauh. Ia sengaja memesan puding untuk Rayya. Ketika ia sibuk menyuapi anaknya, seseorang mendekatinya


“Halo Niel!” sapanya


“Hai Alex!” Daniel tersenyum dan menyalami temannya


“silakan duduk Lex!” ajak Daniel ramah


“Wah kamu sibuk sekali ya?” Alex duduk di hadapannya


“Istri ku sedang sibuk di tokonya, jadi aku yang menjaga anak-anak”


“Istri mu Rita itu kan?”


“Iya benar!” jawab Daniel, ia memberi isyarat kepada pelayan untuk datang. Alex memesan makanan, sambil menunggu pesanannya datang mereka pun mengobrol santai


“Ini siapa?” tanya Alex pada Rayya


“Ini Rayya anak ketiga ku, yang dua lagi sedang bermain” jawab Daniel sambil menyuapi Rayya


Alex memperhatikan wajah Rayya


“Mirip mamanya ya?”


“Benar kan??? Aku juga bilang begitu tapi mamanya gak percaya” ujar Daniel tertawa


“Jadi anak kalian sudah tiga ya?”


“Begitulah! jadi apa yang kamu dapatkan dari gulungan dan CCTV itu”


Alex mengambil amplop coklat dari balik jaketnya

__ADS_1


“Kamu pasti gak menyangka setelah membuka isi amplop ini” ujar Alex sambil memberikan amplop coklat pada Daniel


_bersambung_


__ADS_2