Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 289: Badai Salju


__ADS_3

“Hhhh..hhhh...hhhh.........”suara nafas memburu, orang berlari seperti dikejar sesuatu. Daniel terbangun dari mimpinya. Ia melihat jam di di dinding


“Jam 2.30..” Ia hendak tidur kembali tetapi matanya sulit terpejam. Ia bergeser melihat istrinya yang terlelap tidur. Daniel punya kebiasaan memfoto orang yang sedang tidur, ia mengambil ponsel dan memfoto wajah istrinya yang sedang tidur nyenyak. Ia tersenyum sendiri melihat hasil fotonya, kemudian rasa gemasnya kumat, ia menarik Rita ke pelukannya dan mencium pipinya seolah mencium anak bayi. Rita tetap lelap tertidur, sesi bercinta membuatnya lelah.


Daniel melihat jam yang sudah bergeser 10 menit sejak ia bangun lalu ia ke kamar mandi untuk menyalakan pemanas air. Beberapa menit kemudian air telah panas, ia pun mulai mandi dan keramas. Setelah mandinya selesai ia pun berpakaian lalu berwudhu. Ia melakukan sholat malam, sambil menunggu waktu subuh Daniel belajar membaca al-Qur’an melalui VCD yang sengaja ia beli. Waktu tinggal 30 menit menjelang waktu sholat subuh, ia segera mengambil handuk basah dan mendekati istrinya


“Rita sayang bangun yuk! Sudah waktunya subuh!”


“Ahhhh...aku capek!!!”keluh Rita


“Capeknya hilang kalau mandi air hangat, yuk!” bujuk Daniel, ia mengelapkan handuk basah ke wajah istrinya


“Hhh..gendong!” pinta Rita manja ia terduduk tetapi matanya masih tertutup


“yuuukkk!!! Hhhh!!” Daniel mengangkat tubuh istrinya


“Beraaaatttt!!!” keluhnya.


“Enak saja!” tiba-tiba Rita tersadar setelah mendengar kata berat dari suaminya kemudian dia mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi. Daniel tersenyum melihat tingkah istrinya, ia sendiri heran adegan tadi terus berulang setiap hari tetapi tetap saja membuatnya tersenyum.


Ia kembali ke tempatnya untuk menunggu Rita, mereka hendak sholat subuh berjama’ah.


Waktu subuh tiba, suara adzan terdengar dari ponsel Daniel, Rita pun telah selesai mandi dan keramas. Ia mengeringkan rambutnya sejenak lalu segera berpakaian dan memakai mukena. Setelah sholat, Rita keluar kamar dan mengecek kamar anak-anaknya.


“Mereka lucu banget ya?” tiba-tiba Daniel berdiri di sampingnya


“Iya! Rayya sudah 8 bulan, merangkaknya sudah jauh. Mungkin sebentar lagi dia akan berdiri” ujar Rita


“Bagaimana Ranna dan Raffa?” tanya Daniel


“Kemarin mereka aku ikut kan ke sekolah sekali bayar untuk anak batita.”


“Oh ya? kamu tahu dari mana?”


“Di sini banyak juga WNI, kami berkenalan di supermarket”


“Lalu bagaimana mereka?”


“Kalau Ranna, awalnya terus menempel padaku tapi setelah memperhatikan Raffa baru deh dia bergerak. Kalau Raffa seperti biasa, social butterfly. Hanya butuh waktu singkat dia sudah punya pengikut”


“Mungkin karena Raffa sering aku ajak bertemu orang jadi tidak canggung”


“Mungkin juga, sebenarnya Ranna juga gak kalah dengan Raffa hanya saja dia butuh waktu untuk mempelajari lingkungan sekitar!”


“Bagaimana dengan Rayya? Apa ada sifat khususnya?”


“hmm...belum terlihat sifat spesifik ya? dia senang eksplorasi, aku juga menyertakannya di kelas bayi. Dia bukan termasuk anak yang cengeng, dia banyak terpaku melihat anak seusianya menangis setiap mendengar sesuatu yang baru. Dia sendiri jarang menghampiri ku!”


“oh begitu, kapan-kapan aku mau ikut mereka sekolah ah!” ujar Daniel sambil memeluk Rita dari belakang


“Memangnya kamu sempat?”


“Aku sempat-sempatin lah, kalau ngikutin kerjaan terus tidak akan selesai-selesai” ujar Daniel sambil mengganti popok Rayya


“Hari minggu ini kita kembali ke Jakarta ya?”


“hhhmm...sebenarnya aku ingin kita agak lebih lama di sini, oke sudah!” Rayya kembali tidur tenang di boxnya


“Berapa lama?”


“Sebulan lagi? Jadi maksudku, aku akan lebih lama di sini sehingga aku bisa lebih lama di Jakarta! Kamu gak keberatan kan?”


“Aku ikut kamu saja, toh kuliah masih bisa secara online, dan D’Ritz juga aman”


“Kalau yang di mall?”


“Aku tutup saja! Biar deh rugi satu bulan sewa.”


“Ruginya besar?”


“Lumayan, karena kalau di mall ada biaya service charge. Itu yang harus tetap dibayar”


“Begitu?” Wajah Daniel berubah


“Kenapa wajah mu seperti itu? Biasa saja dong!”


“Tapi kan duitnya sayang!”


“Sebenarnya sih gak sepenuhnya rugi, aku bilang ke mantan orang ku untuk tetap membuka toko sampai sewanya habis, terserah dia mau jualan apa”


“Ohh begitu gak apa-apa hitung-hitung sedekah ya?”


“Benar sekali! Eh, kamu gak ngantuk? Masih jam 4?”


“Hoaaahhh...iya ...tidur lagi yuk!” ajak Daniel, ia merangkul istrinya. Mereka pun melanjutkan tidurnya.


Pukul 7 pagi suasana rumah sudah ramai, anak-anak sudah bangun dan bermain di kamarnya. Para baby sitter memandikan anak-anak dan mereka pun siap untuk sarapan pagi.


“Morning mami!” sapa Raffa ramah, ia menghampiri Rita yang sedang membuat nasi goreng


“Morning sayang!” Rita mencium pipinya. Sedangkan Ranna langsung duduk di kursinya.


“Mr.Tony duduk di samping Anna!” pintanya, Tony dan Ryan duduk di samping masing-masing anak yang mereka jaga.


“Pagi!” Daniel telah rapi berpakaian kerja, ia menciumi kepala anak-anaknya satu persatu lalu duduk.


“Eh Beatrice kemana?” tanyanya heran


“Dia ijin datang terlambat hari ini, katanya ada urusan keluarga. Nah...mami membuat nasi goreng!”


Rita meletakan nasi goreng di dalam wadah besar dengan beraneka lauk dipinggirnya. Daging suwir, nugget, telur dadar, tempe dan tahu tak lupa lalapan. Minumannya teh hangat


Daniel mengambil lebih dahulu, lalu Tony dan Ryan, Rita menyediakan untuk Ranna dan Raffa


“Kakak pakai Nugget dan telur ya?”


“yaaa!!!


“Abang tooo!!” teriak Raffa


“Yess!!” Rita memberikan sesuai pesanan


“Jangan lupa berdoa ya?” ujarnya pada Ranna dan Raffa


“Sudah!!! Done!” jawab keduanya lalu melahap nasi goreng


“Ini sambal, aku sengaja bikin nasinya gak pedas karena juga untuk anak-anak!”


Para lelaki dewasa mencoba dengan sambal sedikit, lalu mereka menambahkan ke nasi masing-masing.

__ADS_1


“Tony, Ryan tugas saya di sini diperpanjang satu bulan, kalian tidak keberatan kan?”


“Tidak apa-apa pak, kami betah kok di sini” jawab Ryan


“Mereka memiliki teman di sini, orang Indonesia juga. Dari teman mereka aku bisa menemukan pasar khusus barang-barang Indonesia” ujar Rita


“Oh ya? apa mahal? Seperti tempe dan tahu ini?”


“Menurut teman saya tempe dan tahu mahal kalau dibuat di Indonesia, tetapi sekarang mereka bisa membuatnya di sini dan raginya juga sudah dikembangkan di sini jadi harganya lebih murah” jawab Tony


“Kalau tahu? Di sini non GMO kan?” tanya Rita sambil menyuapi Rayya, sesekali ia makan untuk dirinya sendiri


“Setahu saya sih non GMO bu” jawab Ryan


“Berapa usia mu Ryan?” tanya Daniel, ia telah selesai makan


“Saya 22 tahun pak”


“Kalau Tony?”


“Sama pak!”


“Oh 22 tahun ya? kalian lulus SMA?”


“SMK pak.” Jawab mereka bersamaan


“SMK? Ambil jurusan apa?”


“Mesin!”


“Mesin? Tapi kok mau jadi baby sitter?” tanya Rita heran


“Sebenarnya waktu kami diterima di rumah besar, pak Ridwan bilang tugas kami sebagai teknisi di rumah walaupun sebenarnya jarang ada alat yang rusak di rumah besar. Jadi beliau menawarkan kami menjadi pengasuh bayi selama di Swiss” ujar Tony


“Karena kami belum pernah ke luar negeri dan hanya mendengar dari teman-teman maka kami menerimanya”


“Tapi kalian seperti pengasuh profesional?” ujar Rita


“Kami sering mengasuh adik kami di rumah jadi sudah terbiasa” jawab Ryan


“baguslah, oh iya gaji kalian bulan ini mau dalam bentuk dolar atau rupiah? Cash atau transfer?” tanya Daniel


“Memangnya sudah waktunya gajian pak?” tanya Tony


“Belum sih, tetapi aku harus menyiapkannya. Dan aku minta bantuan kalian sebulan lagi di sini”


“Baik pak!, bisa separuh-separuh?”


“Separuh? Ohhh aku mengerti, ada yang ditransfer dan yang cash juga ya?”


“Betul pak!”


“Baiklah! Aku akan mentransfer gaji kalian, sedangkan tips kalian sebagai cashnya”


“Tips? Terimakasih banyak pakk!!!” jawab mereka bersamaan


“Sama-sama, tolong temani anak-anak saya ya? kadang mereka bandel”


“Oh mereka anak-anak yang manis pak! Bahkan lebih manis dari pada adek saya” ujar Ryan


“iya ya?” Daniel tersenyum senang


“Eksekutor? Ranna?”


“Iya, dia tidak suka didebat, saya perhatikan dia lebih senang bertindak dibandingkan banyak bicara.” Sambung Tony tidak mau kalah


“Bisa cerita ketika Ranna memukul anak di taman?” tanya Daniel, ia mengambil potongan apel


Tony menjelaskan kejadian sebenarnya, dibantu oleh Ryan.


“Kak Ranna mata sipit!” tiba-tiba Daniel memanggilnya, Ranna melihat papinya lalu diam saja.


“Kak Ranna tahu arti mata sipit?” tanya Daniel penasaran


“Tidak!” jawab Ranna, ia menyantap telur goreng yang sengaja ia sisakan


“Jadi kenapa kak Ranna memukul anak itu?” tanya Rita heran


“kalna...dia belteliak sama kakak! Itu tidak sopan, iya kan dek?” jawab Ranna


“Yess!!” jawab Raffa yang masih sibuk dengan nasi serta nuggetnya


“ooo begitu” ujar Daniel dan Rita bersamaan, mereka tidak tahan, akhirnya tertawa geli


“Napa?” tanya Ranna heran melihat papi dan maminya tertawa, begitu juga dengan para pengasuh.


“Kamu masih mau main di tempat itu?” tanya Daniel


“Sebenarnya kami sudah menemukan tempat bermain yang baru pak, permainannya lebih lengkap dan lebih bersih untuk anak-anak. Kemarin saya dan Ryan sudah survey ke sana”


“Apa letaknya jauh?” tanya Rita


“Lumayan bu, tetapi worth it kok!”


“Baiklah, tapi jangan terlalu pagi ya?” ujar Daniel


“Kenapa?” tanya Rita heran


“Aku akan menyewa mobil keluarga supaya Dicken tidak diganggu” ujar Daniel


“Mahal gak?”


“Enggak! aku sudah minta Dicken mencari mobil beserta supirnya, mungkin siang ini akan bertemu dengan ku”


Menjelang pukul setengah sembilan, cuaca kurang baik, terjadi badai salju, keadaan sangat dingin. Daniel mengurungkan niatnya pergi ke kantor. Ia dan Rita memperhatikan badai salju dari lantai dua rumahnya.


“Wuiihhh....serem ya?” ujar Rita sambil memakai selimut tebal menatap keluar jendela


“Iya!!,..wah peristiwa langka ya bisa melihat badai seperti ini” ujar Daniel, ia menarik 2 bangku dan menyuruh istrinya duduk, kini mereka berselimut keluar jendela.


“Pak ini susu coklat hangat!” Beatrice meletakan dua cangkir susu coklat hangat di meja samping


“Hai Beatrice! Sejak kapan datang?” tegur Rita


“Tadi bu, sebelum badai” jawabnya singkat. Mata Beatrice terlihat sembab, ia berusaha menyembunyikannya lalu kembali ke dapur


Daniel dan Rita menyeruput susu coklat hangat


“hmm...nikmat sekali!” Daniel melihat istrinya yang juga meminum dari cangkir, ia tertawa melihat bekas susu di bibir istrinya dan mengelapnya dengan tissue.

__ADS_1


“Kamu juga tuh!” Rita mengelap bekas susu di tepi bibir suaminya. Keduanya tertawa


“mami, papi!” Ranna dan Raffa menghampiri kedua orang tuanya


“Kenapa?”


“Takuutt”ujar Ranna , ia mendengar suara angin kencang di luar.


“Kita ke kamar saja yuk!” ajak Daniel


Ranna dan Raffa mengikuti Daniel ke kamar


“Kamu mau kemana?” tanya Daniel melihat Rita menuju tangga bawah


“Mengambil Rayya”


“Biar aku saja, Kamu di sini sama anak-anak!” ujar Daniel, Rita menuruti suaminya, ia segera masuk ke kamarnya, sedangkan Daniel mengambil Rayya yang masih dibawah bermain. Tony dan Ryan sedang merapikan mainan .


“Kalau kalian gak nyaman di sini, bisa ke lantai dua di kamar kalian, suaranya tidak begitu menakutkan!” ujar Daniel sambil menggendong Rayya.


Kedua baby sitter menurut, mereka segera ke kamar mereka di lantai 2. Beatrice juga sudah berada di lantai dua, dia sudah memiliki tempat sendiri.


Daniel dan Rita bersama anak-anak, kini berada di kamar, suasananya lebih hangat dan nyaman.


“ini pengalaman tak terlupakan” ujar Rita


“Benar!, selama aku kemari belum pernah melihat badai salju sedahsyat ini”


“Kamu sudah menghubungi kantor?” tanya Rita


“Kantor di tutup, beberapa karyawan yang sudah datang malah terjebak di sana”


“Kira-kira kapan badai ini berakhir?”


“Biasanya satu jam, tetapi aku membaca berita sepertinya badai kecilnya akan tetap berlangsung hingga tengah malam nanti.”


Tiba-tiba lampu mati


“eh gelap ya?” Daniel kaget


“tenangg!!!” Rita mengambil ponselnya kemudian beranjak mengambil koper, ia mengeluarkan beberapa lampu darurat


“taraa!!!” ia menyalakan lampu tersebut, tak berapa lama ruangan itu kembali terang.


“Ada berapa lampunya?” tanya Daniel


“6!”. Daniel mengambil 2 lalu memberikan kepada Beatrice dan tony untuk di kamar mereka.


“Kamu orang baik!” ujar Rita tersenyum


“Lampu ini bertahan berapa lama?”


“6 jam! Aku beli sebelum berangkat”


“Kenapa membeli sebanyak ini?”


“Lampu ini menarik!, gak ada kabel tapi bisa menyala terang”


Daniel menggantungkan lampu tersebut di tengah kamar.


“Hehehe...” ia tertawa senang


“Aku juga punya barang yang lain” Rita membuka kopernya


“ini kompor baterai, beberapa botol besar air mineral serta beberapa bungkus indomie”


“Kok ini bisa lolos?”


“Aku menaruhnya di bagasi, kamu mau mie?”


“Aku mau!” ujar Ranna


Rita menyalakan kompor bertenaga baterai, ia menuangkan air mineral yang ia bawa lalu ia pakai untuk merebus mie. Beberapa menit kemudian mie rebus telah matang.


Rita membagi mienya dengan Beatrice dan para pengasuh.


“Kalian seperti kemping ya?” ujar Beatrice tersenyum


“Iya, istri ku membawa barang-barang darurat dari Indonesia” ujar Daniel ketika ia memberikan semangkuk mie hangat pada Beatrice


Daniel dan anak-anak menyantap mie dengan lahap.


“Pas banget ya?” ujar Rita sambil menghirup kuah Indomie


“Iya, kamu bawa berapa bungkus?”


“10 bungkus! Sekarang tinggal 4!”


“Mudah-mudahan badai segera berlalu, btw kenapa kamu kepikiran membawa semua ini?” tanya Daniel


“Ketika kamu bilang tentang salju, aku pikir biasanya akan ada badai, dan biasanya listrik, air akan mati. Ternyata betul! Sebenarnya ketika belanja kemarin, Raffa juga menyuruh ku membeli beberapa botol besar air mineral”


“oh begitu, pantas”


“Papi!, panggil Raffa”


“Ya bang?”


“Adian!”


“Hah? Siapa?”


“Adian!”


“Siapa Adian?”


“hhmmm....mami..” Raffa meminta ponsel maminya


“kenapa bang?” tanya Rita heran, ia memberikan ponselnya ke Raffa. Raffa segera membuka galeri foto maminya dan memilih sebuah foto


“Adian!” dia menunjuk foto Radian kepada Rita


“Eh Om Radian?” Rita menunjukkan foto yang dimaksud Raffa


“Kenapa Bang?” tanya Daniel heran


“He asked for help!” jawab Raffa


“Hah?” Daniel dan Rita kaget mendengar ucapan Raffa

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2