Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 54: Perkembangan Kasus


__ADS_3

"Ayah kan sudah pernah bilang, kamu jangan main hakim sendiri! "Rita dimarahi ayahnya


"Tapi Yah, orang itu pemeras, kurang ajar!"bantah Rita


"Tapi kamu gak berhak menghakimi! Sekarang kamu malah berurusan sama hukum karena menganiaya orang!" Ujar ayahnya lagi gusar


"Kami berantem kog yah, adil , satu lawan satu, kebetulan dia yang kalah!" Bantah Rita lagi


"Tapi kamu memprovokasinya! sekarang dia masuk RS. Keluarganya gak terima. Mereka mau kamu dihukum!"Ayah Rita pergi meninggalkan Rita sendirian di ruang interogasi polisi. Beberapa saat kemudian seorang polisi membawanya keluar dari ruangan itu.


"Adik dikenakan wajib lapor! Sekarang kamu boleh pulang!" Ujar petugas polisi


"Betul pak? Alhamdulillah!!" Ujar Rita lega


"Kamu berharap saja, semoga keluarga korban mau berdamai jadi kamu gak usah masuk bui!" Ujar petugas itu lagi


"Tapi pak orang itu memeras teman saya, kita ada kog buktinya. Masa saya yang berusaha menegakkan keadilan buat teman saya malah dihukum?" Ujar Rita membela diri


"Itu kasus yang berbeda, sekarang tengah dalam penyelidikan. Faktanya kamu menyerang korban lebih dulu dan menyebabkan korban terluka parah!"


"Separah apa pak? Seingat saya, saya cuma menendangnya di muka, lalu dia jatuh! Masa begitu saja parah?" Tanya Rita


"Iya dia jatuh terjelembab di ubin yang keras, beberapa tulang rusuknya retak, hidungnya juga!"


"Bapak yakin? Ayah saya dokter pak, mungkin saya akan percaya kalau yang memeriksa ayah saya. "


"Ya, itu hasil pemeriksaan dari dr.Reza, ayah kamu! Beliau langsung turun tangan begitu dengar kamu melukai orang!"


Rita terdiam, hatinya merasa gundah. Di sisi lain dia senang Novar mendapatkan pelajaran, di sisi lain ia tidak enak hati karena sudah menyusahkan ayahnya.


Sesampainya di rumah, teman-temannya sudah menunggunya.


"Ritaa kamu gak apa-apa?" Tanya Kiki


"Gak apa-apa kog Ki, cuma dimintai keterangan!"


"Gue sudah minta Om gue untuk menyelidiki si Novar, bukti-bukti juga sudah gue kasih ke beliau. Cuma menurut Om gue, kasus novar dan Lo beda. Lo bisa masuk bui kalau Novar gak mau damai!" Ujar Lisa


"Aduhh maaf ya Rita, gara-gara ngebelain gue, Lo malah berurusan sama polisi. Seharusnya gue diam saja seperti biasanya?" Sesal Erna yang kini jadi dekat dengan ganknya Lisa.


"Gak apa-apa Er, kita perempuan harus bersatu! "Ujar Rita menenangkan Erna


"Andien, waktu itu Lo bukannya bilang, semua CCTV di cafe itu sudah dimatikan sama teman Om Lo? Kog polisi bisa dapat bukti tentang kejadian itu?" Tanya Kowi heran


"CCTVnya pada mati kog, tapi bukti rekamannya kan di dapat dari pengunjung yang merekam perkelahian itu." Ujar Andien menerangkan.


"Terus gimana dong Rit? Aduuhh... Lo jadi punya catatan di kepolisian!" Ujar Kowi khawatir. Rita terduduk lemas, baru terpikir olehnya masalah ini akan menjadi besar.


Seminggu kemudian...


"Gank ada kabar buruk nih!"


"Kabar apaan Lis?" tanya Kowi


"Pihak Novar menggunakan medsos untuk memojokkan Rita. Videonya diberi narasi yang bikin orang malah membela Novar!"


"Kalau begitu kita gerilya saja, bikin perlawanan. Nih, 1,2,3,4,5, Lima orang1 Kalau masing-masing punya akun lebih dari 3, kita bisa membalikkan opini publik!" ujar Andien


"Betul itu, eh Dien, Lo punya video Novar masukin sesuatu ke minumannya Kowi kan?" tanya Kiki lagi


"Ah iya, kenapa gue bisa lupa! Nanti deh gue upload! Biar tau rasa tu orang!" ujar Andien kesal


"Perkembangan kasus Rita bagaimana Lis?" tanya Andien


"Kasihan Rita, ternyata keluarganya Novar itu punya orang berpengaruh. Rita akan segera diproses hukum!"


"Astaghfirullah, terus bokapnya Rita gimana?" tanya Kowi


"Kasihan, beliau juga terancam dimutasi. Ckckck..zaman sekarang ya, punya kekuasaan itu ngaruh banget!" ujar Kiki


"Btw Nyokapnya Rita bukannya orang hebat juga? Apa beliau gak turun tangan?" tanya Andien


"Rita gak berani cerita, bokapnya juga. Beliau takut hak perwalian atas Rita dicabut." Ujar Lisa


"Kog Lo tahu Lis?" tanya Kowi


"Diberitahu Om gue tentang kasusnya, gue bilang ke Rita. Nah Rita cerita tentang masalah itu ke gue."


"Aduuhh...gimana nih, kasihan Rita, mana tinggal seminggu lagi masuk sekolah, nanti kalau prosesnya panjang, bisa-bisa dia bakal dikeluarin dari sekolah karena tawuran!" ujar Kowi khawatir


"Apa Lo gak ada ide Lis? Lo kan biasanya penuh dengan ide-ide karena tahu banyak peraturan!" tanya Kowi


"Eh, ada yang punya no.WAnya kak Andi?" tanya Andien tiba-tiba


"Gak punya, tanya Rita saja?"

__ADS_1


"Jangan Wi, pasti dia gak mau ngerepotin!" ujar Lisa


"Eh, gue bisa nanya Kak Dewa, dia kan temannya Kak Andi!" ujar Kiki


"Ah bener itu!! Segera


deh Ki, Lo minta bantuan kak Andi. Jangan sampai Rita tahu!" ujar Kowi


"Insya Allah hari ini gue WA kak Dewa deh"


"Terus tentang kasus Erna gimana Lis?" Tanya Andien


"Kasusnya berakhir damai, keluarganya Erna tidak mengajukan tuntutan kepada Novar!"


"Hah?? Kog bisa?"


"Kata Erna, orang tuanya tidak mau keluarganya terekspos media, dan menjadi malu karenanya."


"Kog bisa begitu, anaknya kan korban?" Tanya Kiki kesal


"Karena kejadian pemaksaan ya sudah lama. Hubungan Novar dan Erna dianggap suka sama suka."


"Gak bisa begitu dong!!! Bukti chatting nya kan kuat!" Ujar Kowi kesal.


"Yang ngeselin lagi, bukti chattingnya hilang!" Ujar Lisa


"Hilang?? Kog bisa? Sengaja dihilangkan kali?" Tanya Andien gusar.


"Nahh karena buktinya kurang kuat.. agaknya keluarganya Erna memilih damai saja, tidak ada tuntutan hukum!"


"Wahhh..bener-bener kayak di sinetron. Menghilangkan barang bukti bukannya melanggar hukum ya?" tanya Kiki


"Seharusnya sih begitu, tapi semuanya tergantung keluarganya Erna sih, karena mereka gak mau maju, akhirnya berdamai!" ujar Lisa menerangkan


"Terus Ernanya gimana? apa dia kecewa? Kasihan kan dia?" tanya Kowi


"Gue terus dampingin dia kog, kasih semangat. Jangan sampai down!" ujar Lisa


"Iya betul, sekarang ini kita fokus ke korban, proses healing itu harus terus jangan berhenti.Kita tetap dukung Erna ya girls!" ujar Lisa


"Dukung Erna dan Rita dong!" ujar Andien


"Iya betul!!!" sahut teman-temannya


Dua hari kemudian,


"Maaf pak, Kami hanya menjalankan tugas, sebaiknya Bapak bekerjasama dengan kami agar urusannya bisa selesai!"


"Ayah, gak usah khawatir, Rita gak apa-apa!" Rita meyakinkan Ayahnya, padahal hatinya sangat takut


"Ayah akan menyusul kamu di kantor polisi!" ujar ayahnya


Rita dijemput oleh kedua orang petugas yang berpakaian preman. Mereka menggunakan mobil SUV warna hitam. Sepanjang jalan Rita terus berdzikir dan meneguhkan hatinya.


Di tengah jalan tiba-tiba kepalanya di tutup oleh kain hitam dan tangannya diikat ke belakang. Ia sungguh kebingungan, tentang apa yang sedang terjadi. Kasusnya hanya ringan tapi ia diperlakukan layaknya orang yang berbahaya. Ia berusaha melawan, tetapi karena mobil masih berjalan dan tempatnya sempit sehingga ia tidak leluasa bergerak. Rita terdiam, ia berusaha memusatkan seluruh panca inderanya, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mobil berhenti, kedua orang itu turun dari mobil. Rita mendengar suara pintu mobil dibanting. Beberapa saat kemudian, salah seorang diantaranya menariknya turun. Rita sangat ketakutan


"Tolong...kalian siapa? salah saya apa?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Buk!!" Tiba-tiba seseorang memukul punggungnya dari belakang dan menyebabkan ia jatuh tersungkur, kepalanya mencium aspal jalan. Dengan kepala yang masih tertutup kain hitam, ia merasakan seseorang meraba dirinya. Rita begitu ketakutan, rasa takut yang memuncak menyebabkan ia bisa melihat dari orang-orang yang menyerangnya. Rita melawan,ia menendang orang yang meraba tubuhnya. Salah seorang lainnya melancarkan pukulan dengan tongkat basebal, Rita mengelak dari pukulan orang itu. Orang lainnya membawa pisau dan mengarahkan ke tubuhnya. Rita mengelak dan membuat pisau itu mengenai tali yang mengikat tubuhnya. Tangannya kini bebas ia gunakan. Ia melepaskan kain hitam penutup wajahnya. Ia melihat satu per satu penyerangnya.


"Ah, Elo pengecut!, Beraninya keroyokan? lawan Lo cewek tahu!"


"Cewek? Elo cewek? Gue gak masalah mukulin cewek!" ujar Novar


"Huh, Kebetulan, kali ini yang salah elo ya, gue cuma bela diri!"


Rita menyerang, dengan tendangan beruntun dan mengambil tongkat pemukul orang-orang yang mengeroyoknya. Mereka kewalahan, tidak menyangka cewek berperawakan sedang memiliki kekuatan sebesar itu


Satu per satu penyerangnya tumbang, tinggal Novar sendirian, ia ketakutan


"Sono Lo! cewek monster!" teriaknya sambil mengayunkan tongkat basebal. Rita menangkis tongkat basebal dengan tongkat yang ia miliki sebelumnya.


"Plang!!!" tongkat Novar terpental jauh


Rita mengarahkan tongkatnya ke arah Novar dan akan memukul kepalanya.


"Nih!!!" tapi kemudian ia menghentikan serangannya, sebagai gantinya, ia menendang Novar tepat di dagu hingga ia terlempar dan pingsan.


"Aduuhh...ampunn..jangan pukul kami!..Kami cuma orang suruhan!" erang salah satu penyerangnya yang kakinya terluka karena terkena pukul tongkat basebal oleh Rita.


"Tadi yang meraba gue siapa ya?" tanya Rita


Salah satu orang itu menunjuk temannya yang lain. Orang yang ditunjuk itu berusaha melarikan diri dari Rita, tetapi Rita lebih cepat, ia melemparkan tongkat basebalnya dan mengenai kaki orang itu hingga ia terjatuh. Rita menghampirinya dan menjambak rambut orang itu dan membenturkan kepalanya ke tembok triplek, walau tidak keras tapi cukup membuat orang tersebut ketakutan, kemudian Rita menginjak tangan orang tersebut


"Dengerin nih, gue denger tadi Lo mau berbuat mesum sama gue? katanya banyak cewek udeh jadi korban LO?"

__ADS_1


"Enggak..itu boong!" jawab orang itu ketakutan


"Tapi tadi Lo meraba gue kan? Lo kira gue gak bisa lihat siapa yang kurang ajar sama gue!" teriak Rita marah. Jari tangan orang tersebut di pelintir sekuatnya hingga orang tersebut berteriak kesakitan. Teman-temannya hanya melihat ketakutan.


"Nih!! Hukuman buat orang mesum!!" teriak Rita marah


Temannya yang lain berlari dan memohon agar tidak disiksa


"Maaaaff...Kami cuma disuruh, Kami punya buktinya!" orang tersebut menunjuk ke kamera di pojok ruangan. Rita melihat ke arah kamera, ia terdiam dan berpikir sejenak.


"Diam di sini! berani kabur, akan gue patahin kakinya!" ancam Rita.


Ia melihat sekeliling, rupanya ia di bawa ke sebuah rumah kosong, ia keluar dari rumah itu, dan menguncinya dari luar. Ia menyenderkan tubuhnya di pintu, tangisannya pecah. Ia sungguh ketakutan dan lega karena berhasil keluar dari kesulitan. Setelah puas menangis, ia berlari menuju mobil yang tadi membawanya dan menelepon ayahnya.


Beberapa jam kemudian dr.Reza, Pak Gunawan dan beberapa orang petugas polisi datang. Mereka memeriksa TKP dan menonton rekaman kejadian. Novar yang masih pingsan serta kawanannya yang terluka di bawa oleh ambulan, setelah dari RS akan segera diproses dengan tuduhan percobaan penculikan.


"Rita, syukurlah kamu gak apa-apa!" dr. Reza memeluk Rita yang masih menangis terisak


"Maafkan ayah ya Rit, seharusnya Ayah tidak percaya begitu saja dengan mereka yang mengaku petugas polisi" ujar ayahnya sambil mengusap kepala Rita lembut.


"dr.Reza, saya harap setelah tenang, saya harap besok Rita dan Anda datang ke kantor untuk memberikan keterangan" ujar Pak Gunawan, kapten yang dulu pernah bertemu Rita dalam kasus Zombie di RS.


"Baik Pak! Besok saya dan Rita akan datang ke kantor" ujar dr.Reza


Rita dan ayahnya pulang, sedangkan Pak Gunawan dan petugas lainnya membawa rekaman barang bukti kembali ke kantor Polisi.


Beberapa hari kemudian,


"Ritaaa...kabar baik nih!" Lisa menelponnya


"Kabar apa?"tanya Rita


"Novar mencabut tuntutannya. Jadi Lo bebas Rit!!" teriak Lisa girang


"Beneran LO Lis?" tanya Rita gak percaya


"Beneran, Om gue bilang, Novar dan keluarganya mau berdamai sama Lo, mungkin rekaman percobaan penculikan buat dia takut!"


"Tapi kan dia gue buat bonyok lagi, itu gak apa-apa?"


"Gue juga gak tahu, tapi menurut Om gue di video itu terlihat jelas Lo yang diikat dan dikerjai sama kawanannya Novar"


"Terus, rekaman yang gue melawan?"


"Gak ada Rit, rekamannya cuma sampai situ doang!"


"ooo, syukurlah.. gue harus gimana nih Lis?"


"Tunggu kabar saja, nanti bokap Lo dihubungi pihak kepolisian untuk mediasi."


"Oo begitu, baiklaah Lis, terimakasih banyak yaa!"


"Gue lega lho Rit!"


"Iya gue juga Lis, gue gak bisa tidur akhir-akhir ini"


"Sekarang Lo bisa tenang ya Rit, istirahat deh, dua hari lagi masuk sekolah, kita bisa ngumpul-ngumpul lagi!"


"Ok Lis, see you there!"


Lisa menutup teleponnya.


Beberapa saat kemudian seperti yang dikatakan Lisa, dr.Reza dihubungi oleh kepolisian untuk mediasi. Rita dan Ayahnya kembali ke kantor dan menyelesaikan kasusnya.


"Ayah, kata Lisa rekaman video Rita vs Novar cs, terhapus sebagian, kog bisa?" tanya Rita dalam perjalanan pulang


"Ayah juga gak tahu, ini jadi pelajaran buat kamu ya Rit, membela itu baik, tapi jangan main hakim sendiri. Negara kita negara hukum, biar hukum kita yang menyelesaikan!"


"Iya Ayah, Rita ngerti kog.Tapi gak nyangka ya, langkah ceroboh Novar justru malah jadi bumerang buat dia!"


"Iya, orangnya pendendam dan pikirannya pendek. Padahal kalau dia gak coba nyulik kamu, kita sudah cukup kesulitan, eh dia malah sengaja nekat bayar orang!"


"Iya ya, orang yang aneh! Btw tadi pak Gunawan menawarkan Rita untuk masuk menjadi anggota kepolisian setelah lulus nanti, menurut ayah gimana?"


"hmmm...semua terserah Kamu, kalau sekiranya kamu minat dan mampu, silakan saja!"


"Nanti Rita pikir-pikir lagi deh.Sebenarnya Rita bercita-cita jadi chef Yah, belajar masak di Perancis."


"Wahh..itu saja Rit, jujur deh Ayah akan terus was-was kalau kamu jadi polisi!"


"Bahaya ya yah?"


"Bukan, kasihan penjahatnya, belum dihukum sudah cacat semua!" ayahnya tertawa


"Ah Ayah bisa saja!" mereka tertawa bersama dalam perjalanan pulang ke rumah

__ADS_1


-bersambung-


__ADS_2