Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 200: kebobolan, kondangan dan wisata


__ADS_3

“Yang, apartemen kita dibobol maling!” teriak Rita, ia kaget dengan pintu apartemen yang rusak. Daniel segera menarik Rita dan Ranna keluar dari apartemen,


“Kamu di luar saja, hubungi satpam!, aku akan cek ke dalam” ujarnya dengan suara penuh kewaspadaan, Rita menurut, ia membawa Ranna menemui satpam dan melaporkan tentang apartemennya. Beberapa menit kemudian dua orang satpam datang dan menemui Daniel di apartemennya.


“Bagaimana pak? Ada yang hilang?” tanya salah satu satpam


“sejauh ini barang-barang berharga masih ada” jawab Daniel bingung


“Apa mungkin Anda lupa mengunci pintu?” tanya satpam lagi


“Tidak, saya tidak pernah melupakan itu, bahkan cuma ke apartemen bawah saya selalu mengunci pintu” jawab Daniel


“Istri Anda, sedang mengecek CCTV, mungkin ia akan datang kemari sebentar lagi” ujar satpam sambil mohon diri


Beberapa menit kemudian Rita datang bersama Ranna yang telah lelap tertidur


“Kamu dapat sesuatu yang?” tanya Daniel, ia merangkul istrinya untuk menenangkannya


Rita menggeleng,


“Hanya seseorang berjaket dan bertopi hitam”


“Selain itu?”


“Mungkin harus kamu sendiri yang mengeceknya!”


“Baiklah, nanti setelah sholat Isya aku akan ke bagian security”


“Ada yang hilang Yang?” tanya Rita, ia menaruh Ranna di tempat tidurnya


“Setahu ku gak ada!, tapi coba kamu cek barang-barang kamu, mungkin perhiasan?”


Rita mengecek simpanan perhiasannya


“Lengkap Yang, gak ada yang hilang!”


“Apa ya? yang dia cari?” Daniel kelihatan bingung kemudian ia menghubungi tukang pintu untuk memperbaiki pintu sekaligus mengganti kunci pintu.


Rita membersihkan dirinya dan berganti pakaian, alangkah terkejutnya dia.


“Yang!!!” panggilnya dengan suara takut, Daniel berlari menghampiri istrinya


“Ada apa?” tanyanya


“Orang itu mengambil koleksi lingerie ku!” jawab Rita , ia melihat sisi pakaian tempat ia menaruh lingerienya hilang semua.


“Hah? Kamu yakin?” tanya Daniel, ia mencari di sisi lain lemari


“Yakin!, under wear ku juga gak ada!” ujar Rita, mencari under wear yang ia taruh di laci khusus


“Semuanya?” tanya Daniel heran


“Gak semuanya sih, dia ambil yang jelek-jelek saja, yang bagus aku taruh di lemari lain, karena sayang masih baru, aku akan memakainya kalau yang jelek sudah parah” Rita mengambil under wear dari lemari lain


“Itu yang diambil orang itu di ranselnya?” Daniel semakin bertambah bingung


“orang mes*m masuk ke apartemen kita ?” tanya Rita sambil memakai daster batiknya


“Mungkin dia sudah memperhatikan mu sejak lama” Daniel melihat ke jendela kamar mereka


“Ah gila!!!” Rita bergidik ketakutan


“Aku akan melaporkan kehilangan ini” ujar Daniel


“Apa enggak malu? Maksud ku yang hilang hanya lingerie dan under wear jelek?” tanya Rita sambil menggendong Ranna yang bangun dari tidurnya


“Masalahnya bukan hanya lingerie tetapi ini penerobosan property dan perbuatan mesum.”


“Iya juga, tapi aku gak ingat berapa banyak lingerie yang dia ambil”


“Sekitar 10-an!” jawab Daniel


“Kok kamu tahu?”


“Yaa, selain yang dibelikan mama, aku juga beberapakali membelikan untuk mu !”


“Kalau seperti ini, jangan-jangan kamu yang mengambil lingerieku” ujar Rita


“untuk apa aku mengambil lingerie istriku sendiri? aneh-aneh saja!” jawab Daniel masih dengan suara serius


“Ah iya, laporkan yang lingerie saja karena itu mahal-mahal, sedangkan yang panties gak usah, sudah pada bolong!”


“Kan satpamnya gak tau, yang penting orang itu sudah menerobos masuk dan mengambil sesuatu dari sini”


“aku jadi takut yang, apa malam ini kita tidur di apartemen bawah saja? Toh Mario sedang tidak ada di tempat!” ujar Rita


“mungkin malam ini saja! Aku akan mengganti kunci pintu dengan otomatis, pakai sidik jari dan aktivasi melalui ponsel”


Malam itu Rita dan Daniel pindah ke apartemen Mario.


“Kamar ini seharusnya untuk ayah ya?”


“Iya, masih rapi, Mario selalu merapikannya!”


“Dia pasti sangat kehilangan ayah ya?”


“Tentu!, kita juga kan?” Daniel memeluk istrinya


“Kita tidur di sini sampai pintu kita jadi “ ujar Daniel sambil merebahkan tubuhnya di ranjang, ia terlihat lelah, Rita meletakan Ranna di tengah-tengah mereka, kemudian ia merebahkan tubuhnya


“Dulu, ayah pernah bilang, kalau rumah sudah tidak dihendaki oleh pemiliknya biasanya ada saja yang terjadi, ya rubuh, rusak atau kebobolan” ujar Rita bercerita


“Memangnya kita gak menyukai apartemen kita?” tanya Daniel pelan, ia tidak mau membangunkan Ranna yang terlelap


“Kita sempat ingin tinggal di Jakarta, dan meninggalkan apartemen kita”


“mungkin juga, tapi sepertinya orang yang membobol apartemen kita itu stalking kamu sudah lama”


“Kamu jangan menakuti gitu dong!”


“Gak menakuti, Cuma aku heran saja, laptop mu gak hilang, TV juga enggak, yang diambil hanya lingerie. Apalagi kalau bukan orang mesum?”


“Mungkin kamu juga perlu mengecek orang yang mengganti pintu kita, siapa tahu kan?” ujar Rita sambil menguap. Tak berapa lama mereka lelap tertidur.


Pagi harinya, mereka kembali ke apartemen mereka, seperti biasa Rita menyiapkan sarapan untuk mereka, sedangkan Daniel memandikan Ranna.


“Ranna!, mandinya kembali manual!!”


“ha..ha...ha..” Ranna tertawa melihat ekspresi ayahnya


“Ranna ini periang ya?” Daniel membungkus Ranna dengan handuk dan meletakkannya di meja ganti, lalu dengan sigap ia memakaikan minyak, bedak popok serta pakaian.


“Mami!!! Ranna sudah cantik!!!” Daniel menggendong Ranna di depan


“Ranna!..mau maam yaa???” Rita mengambil Ranna dan meletakannya di kursi bayi. Daniel duduk berhadapan dengan Rita, mereka pun sarapan dengan lahap, Rita sambil menyuapi Ranna


“Yang, kamu jadi melapor?”


“Tentu saja!, aku juga akan memasang pelindung jendela, agar tidak bisa dilihat dari luar!”


“hmm...kamu betul-betul mengira ada yang stalking kita ya?”


“Iya!”


“Kamu ke kantor hari ini?”


“Belum, masih besok. Hari ini aku akan ke tukang kunci dan pintu. Aku akan mengganti pintu kita agar lebih kokoh!”


“Apa gak rugi Yang?”


“Rugi?”

__ADS_1


“Maksudku apartemen ini hanya sewaan, kita mengganti pintu dengan yang kokoh dan kunci yang kokoh. Nanti kalau kita pindah, semua kita tinggalkan. Yang enak penyewa setelahnya!”


“hmm...aku belum cerita ke kamu ya?”


“Cerita apa?”


“Sebenarnya apartemen ini sudah milik kita!”


“Hah? Sejak kapan?”


“Sejak kamu pindah kemari, aku menjual apartemenku di Auckland dan membeli apartemen ini”


“Ooo, sedangkan apartemen sebelah?”


“aku juga sudah membelinya, makanya kita leluasa membangunnya”


“Kalau apartemen bawah?”


“itu aku sewa, karena kan kita gak tahu sampai kapan ayah mu tinggal di sini”


“Tapi sekarang Mario yang menempati, bagaimana, kamu gak keberatan?”


“Apa boleh buat? Sewanya sudah aku bayar setahun di depan. Kan gak mungkin aku usir dia, apalagi sebelumnya dia berniat menjaga ayahmu kan?”


Rita menghampiri suaminya, lalu memeluknya dengan sayang


“Kamu baik banget! Gak heran rejekinya juga banyak! Muach!!” Rita mencium bibir suaminya


“Hehehe...aku heran kamu gak marah aku membeli apartemen ini, aku pikir kamu akan marah”


“Aku kaget sih, tapi aku pikir kamu pasti memikirkan nilai investasinya kan? Aku baca, beberapa orang Indonesia membeli apartemen di sini dan menyewakannya kembali. Mereka banyak mencapat penghasilan dari situ!”


Daniel mengangguk-angguk


“Syukurlah istriku otaknya otak bisnis!” ujarnya sambil melahap sarapannya.


“Oh iya, hari Sabtu besok kita kondangan!”


“Kondangan? Kemana?”


“Erina, kamu kenal kan?”


“Erina supervisor?”


“betul!”


“wahh!!!...” Rita bertepuk tangan


“Kok kamu girang sekali!”


“Erina baik! Aku suka padanya!”


“Hmm...setelah menikah ia resign dari kantor!”


“oh ya? kenapa?”


“Suaminya tidak mengijinkannya lembur!”


“Memangnya kamu selalu memintanya lembur?”


“Kadang-kadang! Tapi bukan dia saja, semua staf di lantai 20!"


“Lalu dia akan menjadi ibu rumah tangga biasa?”


“aku menawarkannya bekerja dengan mu. Kamu butuh manajer kan?”


“Iya! Betul! Ide yang bagus!!!” Rita bertepuk tangan lagi kegirangan


“Aku sarankan ya, aku tahu kamu menyukainya, tetapi sebagai bos, merangkap owner kamu harus punya wibawa. Kamu harus tegas menjelaskan keinginan mu, visi mu, supaya bawahan mu tahu harus di bawa kemana D’Ritz ini”


“Siap Pak! Laksanakan!” jawab Rita tersenyum


“Dasar!” Daniel mencubit pipi istrinya gemas


“Pak Daniel dan istri datang!” bisik-bisik para staf


“Tampannnn dan cantikkk!!! Lucuuuu!!” mereka melihat Ranna yang mengenakan kebaya batik kecil dalam gendongan Daniel


“Bu Rita, pak Daniel! apa kabar!” sapa para staf yang menjadi panitia pernikahan


“hei kalian!” Daniel tersenyum, Rita menyalami mereka


“Ranna!!lucu sekali!!!” para staf cewek menghampiri mereka , Daniel melepas Ranna dari gendongannya ke salah satu staf


“Kami pinjam Ranna dulu ya Pak!” ujar staf tersebut, ia dan teman-temannya membawa Ranna untuk berfoto-foto bersama, sementara Daniel dan Rita bisa menyantap hidangan dengan tenang.


“Daniel!!” Davies menghampiri


“Oh pak Davies!, Rita ini pak Davies!” Daniel memperkenalkan


“Rita!” ia menyalami Davies


“Oh ini, istrinya pak Daniel yang terkenal cantik itu!” puji Davies, Rita terkejut mendengar pujian Daniel


“Terima kasih, Anda terlalu berlebihan!” jawabnya tersipu


“Kenalkan ini Eliza, istriku!” Davies memperkenalkan Eliza kepada Daniel dan Rita


“Ahh...ini Daniel yang terkenal tampan itu!” ujar Eliza, seperti membalas Davies


Daniel dan Rita kembali duduk, mereka melanjutkan menyantap hidangannya


“Berapa lama kalian menikah?” tanya Eliza setengah berbisik, karena suasana sangat ramai ketika itu


“Kami menikah setahun” jawab Rita


“Oh masih baru!, tunggu 5 tahun!, suami mu akan dingin pada mu!” ujar Eliza sambil menyantap hidangannya, ia terlihat sangat kesal, Rita hanya diam saja. Ia tahu orang disampingnya sedang tidak mood. Tak berapa lama kemudian staf yang tadi membawa Ranna datang dan mengembalikannya


“Ini Pak, silakan dicek, Ranna kembali dengan utuh!” candanya


“aahhhhh!!!” Ranna berteriak senang


“Kamu habis main sama kakak-kakak ya?” canda Rita sambil mengangkat Ranna tinggi dan menggelitik perutnya


“hahahahaha!” Ranna tertawa girang, Davies dan Eliza memperhatikan Rita yang bercanda dengan Ranna. Wajah mereka terlihat iri


“Kami sudah menikah selama 5 tahun, hingga kini istriku belum hamil!” ujar Davies


“Bagaimana bisa hamil, suamiku selalu bekerja!” jawab Eliza


“Apa kalian sudah mengecek ke dokter?” tanya Daniel


Eliza menggeleng


“Suamiku tidak mau direpotkan seperti itu. Dia selalu menyalahkan aku!” Eliza pergi dari meja mereka.


“Eliza!! Maaf saya harus mengejar istriku!” Davies pergi meninggalkan meja mereka


Daniel dan Rita merasa canggung


“Yang kita pulang saja yuk!” ajak Rita, ia merasa tidak enak


“Baiklah!” Daniel menggendong Ranna lalu pamit kepada pengantin dan staf


“Kami permisi dulu!!” ujar Rita


“Baik!! Terima kasih Pak Daniel, bu Rita...Ranna!!!” ujar para staf cewek tersenyum dan melambaikan tangan.


Daniel dan Rita kembali ke mobil, mereka melihat Davies dan istrinya sedang bertengkar di tempat parkir.


“Perlu gak aku tegur yang?” tanya Daniel

__ADS_1


“kayaknya mereka gak lihat!, pura-pura gak lihat saja! Mereka lagi seru bertengkar” ujar Rita, ia menengok ke kursi bayi Ranna.


“Aku baru tahu istrinya Davies, aku pikir dia belum menikah”


“Oh ya?, sedekat apa kamu dengannya?”


“Tidak begitu dekat, dia kan bos ku. Kami beberapa kali berdiskusi tentang proyek tidak pernah membicarakan hal pribadi”


“Apa menurutmu Davies bos yang baik?”


“yaaa...lumayan! setidaknya dia bersikap adil ketika aku dan James bersiteru”


“James? Jameson?”


“Iya!, kamu ingat dengannya?” tanya Daniel cemburu


“Kamu cemburu? Dulu salah seorang guruku pernah bilang begini, murid yang paling diingat guru : yang paling pandai, bodoh dan nakal. Nah si James itu tergolong yang nakal eh brengsek jadi gak mungkin aku lupa”


“Aku pikir kamu mempertimbangkan tentang open relationship!”


“Na’udzubillahi mindzalik! Itu sama saja dengan selingkuh, walaupun kamu tahu. Aku jijik membayangkannya. Jadi please ya Yang. Kalau kamu bosan sama aku, bilang saja, kita putus baik-baik. Gak usah selingkuh atau main belakang. Ngebayanginnya saja aku jijik!”


“Na’udzubillahi mindzalik! Jangan sampai aku bosan sama istriku yang cantik dan gahar ini.” Canda Daniel


“Hahaha...aku sungguh-sungguh lho!”


“Hahahaha..aku juga lho!”


“Masih siang, kita jalan ke mall dulu yuk!” ajak Rita


“kamu mau belanja?”


“Enggak, cari hiburan saja. “


“Kalau cari hiburan, kita ke bird park zoo saja!”


“Bird Park zoo? Burung semua ya?”


“Mungkin, aku gak mau ke universal studio. Kamu pasti mau naik roller coaster. Kamu lagi hamil tahu!” ujar Daniel memperingatkan


“Iya..iya..hahaha...takut banget! Ok kita ke Uni eh bird zoo!!”


“Kita ke sini dulu!” Daniel membelokkan mobil ke sebuah toko baju. Mereka membeli pakaian dan berganti pakaian di sana, setelah itu berangkat menuju BPZ.


“Kamu benar-benar gak bisa ditebak ya?” ujar Rita melihat suaminya yang sedang asyik menyetir


“Aku malas harus balik lagi ke apartemen, jadi lebih baik beli baju saja.”


“Kamu tahu toko itu?”


“Aku sering melewatinya, aku pikir kasihan selalu sepi. Eh ternyata ramai juga!”


“Kamu melewatinya jam setengah 9?”


“Iya!”


“Ya jelas sepi, kan belum buka!”


“Oh iya ya! aku pikir bisnisnya sepi. Kalau melihat toko-toko kecil seperti itu, aku jadi ingat D’Ritz.”


“Jadi menurutmu D’Ritz kecil?” tanya Rita agak tersinggung


“Jangan marah, tapi memang iya kan? Walaupun kecil tapi menggigit.Kamu gak pernah kehilangan pelanggan kan?”


“Iya!, terima kasih karena pengaturan dari mu, aku bisa agak santai berjalan-jalan”


“Sama-sama! Hehehe...mungkin suatu hari nanti aku juga akan membuka restauran!”


“Kamu mau buka restauran?”


“Iya, dulu aku pernah menjadi penjaga parkir valet di restaurant Jepang. Aku melihat kokinya memasak tepanyaki, sushi. Kadang aku suka diberikan makanan gratis”


“Makanan gratis? Mereka ada makanan gratis?”


“Maksudku ada beberapa orang kaya yang membeli dan hanya memakan sedikit, nah karyawan restauran yang juga temanku menyisihkan untuk kami para tukang parkir. Lumayan banyak lho sisanya kalau dikumpulkan. Padahal harga makanannya tidak murah!” Daniel bercerita tentang masa remajanya. Rita mengusap pundak suaminya


“Kenapa? Apa menurut mu makanan sisa itu buruk? Makanan sisa ini bukan dari tempat sampah. Tapi sengaja disisihkan agar tidak terbuang! Kamu tahu kan berapa banyak restauran yang membuang-buang makanan, padahal kalau disumbangkan ke yang kelaparan itu akan sangat membantu”


“Itu sebabnya D’Ritz selalu memberikan roti sisa untuk para tunawisma di jalan, atau pegawaiku bisa membawanya pulang”


“Kamu bos yang baik!” puji Daniel


“Kamu juga suami dan papi yang baik. Mudah-mudahan kamu akan terus baik seperti ini ya walaupun pernikahan kita sudah lama!”


“Ah iya, sebentar lagi anniversary kita ya? kamu mau kemana?”


“Kalau aku bilang, memangnya kamu bisa pergi?”


“Akan aku usahakan! Aku bisa menggeser-geser jadwal supaya kita bisa pergi!”


“Nah itu!, aku kasihan sama staf perempuan yang harus lembur karena bosnya dikejar liburan!”


“Kan lemburnya Cuma sekali-kali saja, gak setiap hari”


“Iya sih, tapi kamu bayangin saja kalau kamu jadi suami mereka”


“Rata-rata staf perempuan ku masih single kok!”


“Oh ya? bahaya dong!”


“Hah? Bahaya? maksudnya?”


“Bahaya buat aku!” ujar Rita


“Kalau aku mau main gila dengan staf ku, aku gak akan sering membawa mu ke kantor!” ujar Daniel menenangkan


“Jadi maksud mu menyuruh ku ke kantor mu terus?”


“Iya!, supaya mereka berhenti menggoda ku!”


“Jadi sebenarnya kamu tahu ya? kalau banyak yang suka sama kamu!”


“Tahu dong! Aku kan gak buta! Aku berusaha tidak memperhatikan mereka. Aku tahu secara visual aku menarik, tapi sudah ada Kamu dan Ranna yang lain-lain tidak penting bagiku!” ujar Daniel tersenyum


“hmm...aku jadi makin takut nih!”


“Yak sudah sampai!!” Daniel mengalihkan percakapan mereka. Daniel menggendong Ranna, sedangkan Rita mendorong kursi bayi yang bisa diubah menjadi stroller untuk membawa perlengkapan Ranna.


Ranna terlihat sangat gembira melihat beraneka jenis burung, ia tidak takut ketika salah seorang pawang burung mendekatkan seekor kakak tua, ia malah tertawa kegirangan


“Hahahahaha..aaahhhhhh!!!” teriak Ranna gembira


“Ranna ini seperti maminya gak ada takut-takutnya” ujar Daniel, ia menoleh, Rita sudah tidak ada di sampingnya


“Rita?..sebentar, saya cari ibu anak ini!” Daniel segera membawa Ranna menjauh dari kerumunan, kemudian ia menelpon istrinya.


“Hei!!” Rita mengagetkannya


“Ah kamu! Dari mana?” tanyanya sedikit panik


“Aku membeli es krim dan snack Nih!” ia membawa plastik berisi es krim dan snack, mereka duduk di salah satu tempat istirahat dan memakan es krim dan snack yang Rita beli.


“Kamu seharusnya bilang dulu kalau mau pergi” ujar Daniel


“maaf tadi aku melihat beberapa anak makan es krim, tiba-tiba aku kepengen. Aku langsung pergi tanpa berpikir apapun..kamu takut aku hilang ya?” canda Rita


“Iya!” jawab Daniel dengan wajah serius, Rita menghentikan senyumnya, ia tidak tahu kenapa suaminya begitu serius tentang hal tersebut.


Hari mulai gelap, mereka menyudahi kunjungannya di bird zoo. Mereka tiba di apartemen sudah sangat malam.


“Ah syukurlah besok hari Minggu!, aku bisa santai!” Daniel merebahkan tubuhnya di ranjang. Rita mengganti pakaian Ranna dan menidurkannya kemudian ia membersihkan dirinya lalu sholat Isya. Daniel melakukan hal yang sama, kemudian mereka terlelap.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2