Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 78: Edward


__ADS_3

“Kamu dengar itu ?” tanya Rita ke Daniel


“hmmm..” Daniel merasa gak yakin


Suara minta tolong makin terdengar jelas, tanpa ragu Rita berlari ke arah suara, Daniel yang terkejut dengan reaksi cepat Rita , mengikutinya dari belakang. Sesampainya di sumber suara, Rita berteriak


“ada orang di situ?”


“Yaa, aku di sini! Terperosok!” jawabnya


“Sebentar!” Rita menghampirinya, tapi dicegah Daniel


“Aku saja!”, Daniel memberikan dua lampu yang ia pegang, lalu melihat ke orang yang terperosok itu


“Kamu gak apa-apa?” tanya Daniel


“Yah, agak kaget tadi aku pikir mendengar suara erangan, jadi aku berlari, tiba-tiba aku terperosok di sini”


“Ini jebakan beruang!” ujar Daniel, ia mengarahkan senternya


“Eh ada beruang di sini?” tiba-tiba Rita merasa takut, ia memegang lengan Daniel dan melihat ke sekeliling


“Kamu gak takut hantu tapi takut beruang? Daniel menoleh dan tersenyum lucu


“Kalau hantu, aku bacain doa kabur, tapi kalau beruang, belum tentu!” pungkas Rita masih dengan nada khawatir


“Dalamnya kira-kira 2 meter, kita harus cari tali, kita ke penginapan dulu!”


“jangan tinggalkan aku sendirian di sini!” ujar orang itu ketakutan


“mungkin kita bisa melempar beberapa batu besar untuk ia berpijak? Seperti tangga, lalu kita tarik dia!” Rita memberi ide


“di mana batunya?” tanya Daniel bingung, ia juga melihat sekeliling


Tiba-tiba Rita teringat sesuatu


“Oh iya!” ia menaruh lampu, kemudian membuka jaketnya, senter ia taruh di mulutnya, dia membuka bagian belakang jaketnya.


“Ini tali, kira-kira 2 meter!” ia memberikan ke Daniel


“kurang panjang Rit, paling Cuma sampai pinggir saja, kita yang menarik dia juga harus diikat untuk pegangan”


“Begini saja, hei! Lemparkan jaket mu!” teriak Rita


“Untuk apa? Kalian mau ninggalin aku kedinginan tanpa jaket di sini?” teriaknya


“Kalau kami mau begitu dari awal gak akan datang!” teriak Rita agak kesal dicurigai


Setelah berpikir sejenak, orang itu melemparkan jaketnya, Rita menangkapnya, lalu mengikat tangan jaket orang itu ke jaketnya, juga jaket daniel, lalu diikat ke tali.


“Daniel jadi jangkar, aku yang akan menariknya, karena Daniel lebih kuat dari aku!” ujar Rita


“Baiklah kita coba!” Daniel menuruti


“Hei!, kamu , aku ada di pinggir sini, bisa lihat cahaya dari senter ini?” tanya Rita

__ADS_1


“Iya!” ujar orang itu tubuhnya mulai menggigil kedinginan


Rita menyalakan 3 lampu tempel untuk cahaya sehingga mereka bisa melihat lubang dan orang itu dengan jelas. Kemudian Rita dan Daniel melemparkan beberapa kayu dan batu sedang untuk pijakan orang itu.


“Kamu injak batu dan kayu itu, lalu sedikit melompat, tangkap tangan anak ini!” perintah Daniel


Tanpa ragu orang itu melakukan seperti yang diperintah Daniel, syukurlah orang itu tidak begitu berat, jadi Rita dan Daniel dapat menariknya ke atas.


“hah...hah..hah...terimakasih!” ujar orang itu lega.


Rita membuka ikatan jaket2 mereka, dan mereka kembali memakai jaketnya.Masing-masing kini memegang lampu tempel untuk mengusir rasa dingin


“Terimakasih, kalian tidak meninggalkan aku!” ujar orang itu berkali-kali mengucapkan


Rita mengenali orang itu, anak lelaki yang tadi menelpon dan tertinggal kartunya.


“Penginapan kamu di mana?” tanya Daniel


“Di sebelah barat rumah utama” jawabnya menggigil


“Kami juga ke arah situ, ayo sama-sama!” ajak Daniel ramah, orang itu mengangguk, mereka berjalan bersama. Sepanjang jalan mereka saling berkenalan.


“Aku Edward, dari UK!”


“Aku Daniel, dan ini Rita!” jawab Daniel


“Apa kalian pasangan?” tanya Edward


“Bukan!, Kami hanya teman!” ujar Daniel, yang disetujui oleh Rita


“Kami dalam perjalanan bisnis ke sini, tapi karena suasananya di sini bagus, jadi kami gunakan untuk rekreasi” masih Daniel yang menjawab, sementara Rita sibuk menggulung tali yang tadi ia keluarkan dari jaketnya


“Apa kamu selalu membawa perlengkapan seperti itu?” tanya Edward ke Rita


“Oh ini, kakak ku yang menyarankan, dia bilang, dimanapun kita berada harus selalu bersiap, kita gak tahu rintangan apa yang akan kita hadapi!”


“pendapat yang bijak! Apa dia seorang tentara?” tanya Edward


“Bukan, ia hanya maniak gamer!” jawab Rita tertawa, yang dibarengi oleh tawa Daniel. Ternyata penginapan Edward lebih jauh 5 rumah dari penginapan Rita


“Ini penginapan kami, apa kamu gak apa-apa sendirian?” tanya Rita


“Yah saya pikir gak apa-apa, saya Cuma harus mengikuti jalan setapak ini kan?” Edward memberikan lampu tempelnya ke Rita


“kalau mendengar suara lagi jangan panik, apalagi keluar dari jalur ini, justru berbahaya!” ujar Daniel


Edward mengangguk, setelah mengucapkan terimakasih, ia pun pergi.


“Kalian kemana saja?” tanya Radian bete, suaranya kesal


“Kami ke rumah utama untuk menelpon Andi” jawab Rita, ia membuka jaketnya dan memasukkan kembali tali tadi.


“Oh Andi, apa Om Darmawan sudah pulang?” Radian menurunkan suaranya


“Belum, kak Andi bilang cuaca agak berangin, ia khawatir akan terjadi badai, mungkin kita harus membatalkan paralayang om?” tanya Rita khawatir

__ADS_1


“Nooo!,...aku sudah pengalaman dengan paralayang. Aku tahu angin seperti ini tidak akan ada badai!” ujar Radian yakin. Ia tidak mau acaranya untuk terbang dikacaukan oleh kekhawatiran yang belum tentu terjadi.


“Kalian istirahatlah, besok subuh kita ke atas bukit, dan terbang ke sana!” ujar Radian lagi, ia masuk ke kamarnya


“Kerja bagus Rita!” Daniel menepuk punggung Rita


“Kamu juga Daniel!” keduanya masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat.


Rita mempersiapkan perlengkapan untuk terbang besok, terutama alat-alat di jaketnya, kejadian tadi membuatnya harus selalu bersiap, setelah sholat Isya, ia pun terlelap.


Pukul 5 pagi mereka bersiap naik naik ke gunung. Dari penginapan mereka naik mobil, sampai agak tinggi di mana tempat tersebut tidak bisa dilalui mobil, mereka jalan dari situ ke atas. Makin ke atas udara makin tipis dan dingin.


“hah...hah...hah...” ketiganya terengah-engah. Satu jam kemudian mereka tiba di lokasi paralayang, di sana telah banyak orang yang bersiap untuk terbang, mereka menunggu matahari terbit.


“Hei Daniel! Rita!” seseorang menyapa mereka dari belakang


“Edward!” Daniel menyalaminya


“Kalian terbang juga?” tanyanya tersenyum, ia senang bertemu dengan penolongnya


“Yap!, tak sabar rasanya” ujar Rita


“Ini yang pertama kali?” tanya Edward


“Iya untukku, Daniel?” tanya Rita


“Hmmm..yang ke berapa ya??? sering! Gak terhitung!”


Radian yang melihat Rita dan Daniel akrab dengan seseorang menghampiri mereka


“ini siapa?” tanyanya tanpa basa-basi


“Ini Edward pak!” jawab Rita ia memperkenalkan Edward


Edward mengulurkan tangannya untuk menyalami Radian, mereka pun bersalaman


“Kamu sendirian di sini Edward?” tanya Radian, ia tidak menemukan orang lain bersamanya


“Seharusnya Omku datang kemarin tetapi pesawatnya delay, seharusnya ia tiba hari ini. Ia membiarkan aku sendirian!” keluh Edward


“Tenang ada kami!” Rita menepuk punggung Edward menenangkan. Edward tersenyum, ia senang bertemu teman baik. Merekapun ngobrol akrab sambil menunggu matahari terbit.


Radian mendekati Daniel sambil memperhatikan Edward dan Rita yang akrab


“Apa ini kebetulan Niel?” tanya Radian


“Kebetulan? Saya rasa enggak pak, mungkin bisa disebut keberuntungan. Sejak enam bulan lalu kita coba mendekati CEO CITE hingga terus menerus travel ke sini, baru kali ini justru ketemu orang paling dekatnya” ujar Daniel


“Kalian yang membantunya?” tanya Radian lagi


“Iya, Rita yang mendengarnya minta tolong, ia terperosok di jebakan beruang!” jawab Daniel


“Mungkin Rita membawa keberuntungan untuk perusahaan kita Niel, tapi jangan sampai Edward tahu kita mengikutinya kemari.”


“Siap pak!” jawab Daniel

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2