Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 132: Kamar Baru, Hari pertama di Sekolah Baru


__ADS_3

Rita menempati kamar barunya di rumah Darmawan di Jakarta, Rumah bertingkat 3 dengan luas hampir 5000 meter. Kamar Rita sendiri luasnya sebesar 30 m x 40 m seperti studio. Fasilitas dalam kamar lengkap, seperti kamar mandi kering dan basah, walking closet, kitchen set, ruang TV yang terpisah dengan kamar tidur, ruang kerja.


“Waahh..mewah sekali kek, lebih besar dari kamar Rita di Auckland!” Rita mengagumi kamarnya, tak disangka Darmawan pun turut terkesima dengan tampilan kamar baru Rita


“Besar sekali, lebih besar dari kamar kakek!” gumamnya


“Huh? Memangnya kakek tidak tahu tentang kamar ini?”


“Hmm..sebenarnya, setahun lalu ketika kamu resmi menjadi cucu, kakek minta arsitek untuk memodifikasi kamar di rumah ini untuk kamu. Kakek sendiri belum pernah lihat kemari”


“Hah? Jadi mereka dibiarkan berkarya sesuka hati mereka?”


Darmawan mengangguk


“Kakek bilang biaya tidak masalah, asalkan cucuku betah di sini”


“Pasti betah kek, waahhh!!!” Rita menjatuhkan dirinya di ranjang ukuran xxl


“Eh kog ranjangnya gak empuk ya? apa perlu diganti?” tanya Darmawan


“Gak usah kek, karena menurut penelitian terbaru, kalau ranjang terlalu empuk tidak baik untuk kesehatan tulang punggung. Menurut Rita ranjang ini teknologi terbaru. Tuh Rita lihat labelnya!”


“Waahh,..orang-orang ini bekerja sangat baik, kalau begitu kakek akan mengganti ranjang kakek seperti ini. Kakek kan lebih membutuhkan dari pada kamu!”


Rita menyalakan TV dengan layar lebar di kamarnya


“Waahh...ini seperti bioskop. Rita gak yakin akan keluar kamar Kek!, Di kamar ini sudah lengkap!” ujar Rita sambil memeluk bantal di ranjangnya


Darmawan hanya menggumam dan berkeliling kamar.


“Rita, perlu gak kakek pasang CCTV di sini?”


“Jangan dong kek, gak ada privasi”


“Kakek takut kejadian seperti di Auckland, orang gila yang masuk gak ada yang tahu!”


“Itu orang gila kek?”


“Orang stress kayaknya, gak sengaja masuk ke dalam mobil yang mengangkut laundry, dia berkeliaran tanpa ada satu orang pun yang memperhatikan”


“Rumah di sana terlalu besar dan sepi sih kek, sudah begitu orang-orangnya sangat tekun bekerja jadi gak merhatiin orang asing jalan-jalan dalam rumah”


“Terlalu tekun juga gak bagus ya? oh iya Rit, ini berkas kamu di sekolah baru mu!” Darmawan memberikan map biru


“Kamu langsung naik kelas 12, selamat yaa!!!”


“Waahhh, akhirnya naik kelas juga, terima kasih Kek!” Rita membuka map berisi berkas yang akan ia hadapi pada semester baru ini


“Pesan kakek Rit,please, tolong jangan berantem! Kakek tahu kamu jago bela diri, sudah terlatih kakek juga sudah membuktikannya sendiri. Tetapi menahan diri itu jauh lebih baik Rit!”


“Kalau terpaksa gimana kek? Seperti kemarin?”


“Kakek dan kak Sugi pernah berencana mendaftarkanmu ke kepolisian atau ketentaraan. Tapi katanya kamu gak mau jadi polisi atau tentara”


“Iya kek, kalau jadi polisi paling Rita hanya akan duduk di belakang meja, yang bekerja menjadi detektif kebanyakan cowok kan?”


“Dengan modal dari kami, kamu bisa di sekolahkan terus Rit, bahkan mungkin kamu akan menjadi jenderal pada usia 35 tahun, menjadi jenderal polisi wanita termuda pertama. Dan mungkin juga kamu bisa menjadi jenderal bintang empat di usia 40 tahun...wahh hebat banget tuh, cucu kami Kapolri wanita pertama di Indonesia!”


“Lalu kalau sudah jadi jenderal Rita harus bagaimana? Gak seru ah kalau naik pangkat karena fasilitas atau privilledge dari Kalian. Gak ada kebanggaan sama sekali, padahal hidup itu yang seru menjalani proses. Seperti Rita yang terus berlatih untuk menang dalam pertandingan. Walau tangan ini berkali-kali retak tetapi ketika menang, wahh rasanya itu lho kek, LUAR BIASA!!”


“Apa iya?”


“Iya Kek, waktu SMP kelas 7 kalau gak salah Rita pernah tinggal sebentar bersama Kakek Sugi, waktu itu Ayah bertugas di pedalaman papua. Ia sangat takut kalau harus menitipkan Rita pada orang asing”


“Oh jadi jadi kamu pernah tinggal dengan kak Sugi sebelum SMA, apa Ratna tahu?”


“Kayaknya enggak deh Kek, mama sedang sekolah di Perancis. Sepertinya kakek Sugi juga menyembunyikan Rita darinya”


“Hmm...sepertinya begitu, soalnya saat itu Andi juga tidak mau tinggal di rumah kakek Sugi kalau gak ada kamu, lalu? Lanjutkan ceritamu!”


“Rita sempat bersekolah di sekolah yang cukup ternama, mereka tahu Rita itu cucu pak Sugiyono. Mereka memudahkan Rita mendapatkan apapun kek. Kalau ada lomba, Rita pasti dimenangkan, pernah Rita sengaja mengalah eh tetap menjadi pemenang. Mereka sibuk menjilat kakek.”


“Terus kamu bagaimana?”


“Rita gak mau ikut lomba lagi, untuk apa kalau sudah tahu siapa yang menjadi juaranya!”


“Tapi kamu kan bisa membuktikan kalau kamu mampu!”


“Tetap saja kek, mereka tetap membicarakan kalau yang Rita raih bukan karena kemampuan Rita tetapi karena uang kakek Sugi. Jadi lebih baik Rita berhenti dari semua lomba”


“Berapa lama kamu tinggal dengan kakek Sugi?”


“Seingat Rita hanya 6 bulan, setelah itu Ayah Reza menjemput, kami pindah ke Sukabumi”


“Oh begitu, eh Rit. Karena kamu sudah di sini, kamu gak mau mengunjungi Reza?”


“Apa boleh Kek? Kalau Kakek menyuruh dan tidak berkeberatan, Rita akan datang mengunjungi Ayah Reza”


“Hmm..begitu ya? Kamu tahu kabarnya yang terbaru?”


“Kemarin Kiano bilang, ayah Reza sudah punya anak lagi, perempuan kalau gak salah”


“Kiano?”


“Itu Kek teman kecil Rita, yang anaknya pemilik Alamin’s oil di UEA”


“Ooo Abdullah itu?”


“Iya betul Abdullah! Namanya Kiano Abdullah”


“Ooo dia, pantas dia sok akrab sama kakek, ternyata teman kamu? Tapi Rita kalau diperhatikan dia ganteng juga lho! Apa kamu gak sama dia saja?”


“Naahh kakek dapat endorse dari Kiano ya? awas deh tu anak kalau ketemu!”


“Eh endorse apaan? Bukan begitu Rit. Setelah dengar hubungan kamu dan Daniel yang tidak berjalan lancar. Kakek jadi kepikiran, wah cucu perempuanku, yang ini ditolak, yang itu ditolak bisa-bisa kamu bakal sendirian di masa tua. Makin tambah usia makin susah cari jodoh Rit. Apalagi zaman sekarang?”


“Ih kakek kog nakut-nakutin?”


“Sekarang ini, lelaki ganteng juga harus dicurigai, jangan-jangan dia hompimpa alaium gambreng!” ujar kakeknya


“Wahh kakek tahu dari mana istilah hompimpa?”


“Ya tahu dong, kakek kan suka ngintipin chat-an para karyawan di kantor kakek. Wah serem-serem deh Rit. Ada yang selingkuh dari istrinya, selingkuhannya teman kantor juga. Eh selingkuhannya itu cowok, wah gawat deh!”

__ADS_1


“Kakek gak memecat orang seperti itu?”


“Atas dasar apa? memecat orang itu gak sembarangan Rit, apalagi kinerjanya baik. Tetapi kakek sudah membuat aturan baru di kantor supaya sesama karyawan ataupun karyawati tidak boleh ada hubungan asmara , kalau ketahuan akan dipecat!”


“Berhasil kek?”


“Kalau dari chat-an mereka sepertinya berhasil”


“Kakek rumpi juga ya?”


“Setelah kamu datang kemari, kakek jadi banyak memikirkan kalian. Dulu kakek khawatir dengan Andi dan kesehatannya, sekarang ada kamu, kakek lebih khawatir takut kamu dilukai oleh suami kamu, tapi kayaknya gak mungkin juga ya? ada juga suami kamu yang harus khawatir. Tapi setidaknya kakek harus melindungi kamu secara hukum, kalau kamu meng-KDRT suamimu, kamu harus lepas dari jerat hukum!”


“Kakek ini overthinking sekali, apa kantor berjalan sangat lancar? Sehingga harus overthinking atas kehidupan Rita?”


“Nanti kalau kamu jadi orang tua, kamu akan mengerti Rita. Sebisa kami membuat seperti kubah untuk melindungi kalian, anak dan cucu kami. Tapi ketika masuk usia senja, makin lama kubah itu terbuka, kalianlah yang harus belajar melindungi diri kalian sendiri!”


“Iya Kek, terima kasih!” Rita memeluk kakeknya erat, Kakek mencium rambut Rita dengan sayang


“Ayo kita makan, kakek sudah lapar dari tadi!” mereka keluar dari kamar Rita dan pergi ke ruang makan.


Keesokan paginya, Rita sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke sekolah baru


“Semua sudah disiapkan Rita?”


“Sudah Kek, kayaknya gak ada yang ketinggalan deh!”


“Untuk seminggu ini, biar Imam yang menjemput kamu di sekolah, nanti kalau kamu sudah tahu jalurnya kamu bisa membawa mobil sendiri”


“Apa boleh bawa mobil kek?”


“Eh gak tau deh, nanti kamu tanyakan sendiri, ayo. Kakek ada meeting di kantor jam 9!”


Darmawan mengantar Rita sampai sekolahnya


“Terima kasih Kek!” Rita mencium tangan kakeknya


“Ingat pesan kakek ya Rit? JANGAN BERANTEM!” ujar kakeknya dengan suara tegas


“Iya kek!” Rita tersenyum, dengan menggendong ranselnya ia berjalan menuju sekolah barunya.


“Wah SMUN Negeri! Kog bisa ya?” gumamnya. Ia pun datang ke ruang tata usaha dan memberikan berkas pendaftarannya


“Oh ini, keponakannya pak Ridwan?” ujar pak Tatang kepala Tata Usaha sekolah itu


“Eh ? “ Rita heran dengan perkataan pak kepala TU itu


“Ayo ikut saya!” ia mengajak Rita menemui guru kelas Rita


“Selamat Pagi Pak Hilman!” sapa pak Tatang


“Selamat Pagi pak Tatang!” mereka saling bersalaman


“Ini pak, anak baru. Namanya Rita D.S”


“Hah Rita D.S?” Rita semakin bingung,


“Oh kamu keponakan pak Ridwan dari istrinya itu ya? katanya sebelumnya kamu bersekolah di luar negeri?” tanya pak Hilman


“Betul pak, tapi cuma setahun”


“Auckland Pak, New Zealand!”


“Wah keren itu, kog pindah kemari?”


Tiba-tiba pak Tatang membisiki pak Hilman tentang sesuatu, ia mengangguk paham. Lalu ia menyuruh Rita ke kelas.


“Ya sudah kamu ke kelas deh, kelas 12 ada di lantai 3. Nah kelas kamu itu 12-9 paling pojok sebelah kiri. Gampang kok!”


“Baik pak terima kasih banyak!” Rita keluar dari ruang guru, kemudian ia naik ke lantai 3, beberapa siswa telah datang. Mereka mencari tempat duduk yang cocok yang akan mereka tempati selama setahun ke depan. Beberapa anak ada yang saling kenal karena satu kelas di kelas sebelumnya. Biasanya mereka ribut untuk duduk sebangku. Rita duduk di bangku nomor 4 dari depan, karena tubuhnya lumayan tinggi. Rata-rata kelas terdiri dari 40 siswa, di kelas Rita tepat 40 siswa dengan perbandingan 23 siswa lelaki dan 17 siswa perempuan.


Bel masuk berbunyi, seluruh siswa dan para guru berkumpul di lapangan, mereka melakukan upacara bendera. Dalam upacara tersebut Kepala Sekolah mengumumkan peraturan sekolah yang baru, setelah selesai, seluruh siswa berbaris untuk bersalaman dengan para guru.


Rita tidak merasa canggung, karena pernah bersekolah di sekolah negeri. Hari pertama masuk sekolah, mereka mengadakan perkenalan, masing-masing siswa maju ke depan untuk memperkenalkan diri, tiba giliran Rita.


“Assalammu’alaikum, kenalkan nama saya Rita, umur 17 tahun. Senang berkenalan dengan kalian semuanya!” ujar Rita ramah


Seluruh kelas tertawa dengan cara perkenalan diri Rita, ada yang menjawab


“Saya juga senang!”,


“Saya enggak!,


“terserah deh!”


Rita bersikap biasa saja, karena sudah tahu akan direspon seperti itu, tiba-tiba pak Hilman bertanya


“Rita D.S, D.Snya itu apa?”


“Oh itu nama kakek saya pak, yang D dari Darmawan dan S dari Sugiyono”


“Ooo, aneh ya, di mana-mana biasanya pakai nama ayah. Ayahmu masih ada Rit?”


“Sudah meninggal pak, waktu saya lahir.”


“Oo begitu, kamu pernah sekolah di mana saja Rit? Ceritakan, karena kamu satu-satunya murid baru di kelas ini”


“hmmm..kelas 10 dan 11 saya bersekolah di SMUN Sukabumi pak, pada semester kedua kelas 11 kami pindah ke Auckland pak. Lalu bersekolah di sana lalu kembali kesini”


“Wahh..pernah sekolah di luar negeri rupanya, bahasa inggris kamu bagus dong?”


“Biasa saja pak, karena di rumah kami pakai bahasa Indonesia”


“Wah sayang kalau begitu, tapi kamu bisa ya kalau saya suruh jadi asisten saya?”


“Insya Allah bisa pak!”


“Baguslah! “ kemudian Pak Hilman menyuruhnya duduk dengan menggunakan bahasa Inggris


Bel istirahat berbunyi, dalam waktu singkat beberapa anak meninggalkan kelas untuk pergi ke kantin. Kecuali Rita, ia sengaja membawa bekal dari rumah.


“Wuiihh,..apaan tuh?” tanya cowok yang duduk di bangku belakangnya


“Chicken karage, kamu mau?” tanya Rita menawarkan

__ADS_1


Cowok itu duduk di samping Rita, dan mengambil Chicken karage dan memakannya dengan lahap


“Nih, ini nasi kepal, cobain deh!” Rita memberikan nasi berbentuk segitiga yang dibungkus rumput laut kepada cowok itu. Dengan senang hati cowok itu memakan nasi kepal dari Rita


“Wah enak! Lo bikin sendiri?” tanyanya, Rita mengangguk


“Nih cobain punya gue!” ia memberikan lontong dan pastel


“Kamu bawa bekal juga?, Rita mencoba pastel dan lontong dari cowok itu


“Ini juga enak!, kamu bikin sendiri?” tanya Rita, cowok mengangguk dan mengambil nugget dari kotak makannya Rita tanpa di suruh


“Enak mana?” tanya Rita


“Sebenarnya kedua makanan ini sama-sama enak, Cuma saja kalau punya gue itu kearifan lokal, kalau bekal lo itu lebih internasional. Karena gue sering makan bekal gue, lama-lama bosen.”


“Eh, lo gak ke kantin?” tanya Rita


“Enggak ah, gak punya duit!. Makanya gue bawa bekal!” setelah makanan di kotak makanan Rita habis, ia kembali ke bangkunya


“Makasih ya?” ledek Rita


“Sama-sama! Hehehe!” iya tertawa. Rita membaca nama di kemeja putihnya


“Anwar Fuadi” gumamnya


“Ya?” ia menyahut


“Oh enggak Cuma mengingat nama saja!”


“Lo Rita DS kan? Singkatan DS itu seperti nama AKI ya? sebenarnya lucu juga sih”


“Lucunya di mana?” tanya Rita heran


“Lo bilang tadi DS itu nama kakek lo, nah dalam bahasa sunda, kakek itu disebut AKI, pas banget kan, hehehe!”


Rita ikut tertawa, “Lucu juga nih anak!” pikirnya.


Seminggu ini karena masih ajaran baru, disibukkan mengingat-ingat pelajaran di kelas 10 dan 11. Mereka disibukkan dengan pre-test terus-menerus, hingga bel pulang berbunyi


“Ahh akhirnya!!!” ujar seluruh anak bersamaan. Mereka bergiliran keluar dari kelas, Rita memilih untuk belakangan keluar agar tidak berdesakan


“Eh Rit, besok, kita tukeran bekal lagi ya?” ujar Anwar


“Lagi? Kamu mau makanan seperti tadi?” tanya Rita


“Iya! Nanti lo gue bawain risol sama arem-arem!” Lalu Anwar meninggalkan kelas.


Rita menelpon Imam untuk menjemputnya di agak jauh dari sekolah. Ia tidak mau terlihat mencolok, apalagi ia bersekolah di sekolah negeri. Setelah kelas agak sepi, Rita baru keluar dari kelas, jam menunjukkan pukul 15.00. Rita berjalan perlahan, hingga bunyi ponsel dari Imam supirnya yang telah menunggunya di depan Indomart di ujung sekolah. Rita segera berlari menuju ke depan Indomaret, mobil SUV hitam telah menunggunya.


“Ah, terima kasih. Jalan Mas!” pinta Rita, sengaja ia duduk di kursi belakang yang kaca filmnya lebih gelap, itu aga teman-temannya tidak ada yang mengenalnya. Jarak sekolah ke rumah kurang lebih 45 menit, Rita tertidur di sepanjang perjalanan


“Mba Rita,..Mba Rita sudah sampai!” Imam membangunkannya


“Ahhh..sudah sampai rupanya?” Rita memakai sepatunya lalu turun dari mobil. Ia memasuki rumah dengan langkah gontai, lalu duduk di ruang tengah


“Mba Rita mau minum apa?” tanya Asih, salah satu ART


“Hmm..aku minta juice sirsak ,juice pepaya dan cincau!, ada kan?”


“Juicenya sih ada, cincaunya saya gak tahu, nanti deh saya minta Imam untuk membelinya!”


“Yah gak usah deh, cincaunya untuk besok saja. Tapi makanannya ada apa sekarang?”


“Mba maunya apa? nanti chef bikinin!”


“Di sini ada chefnya?”


“Ada dong mba!, jadi mau makan apa?”


“Aku minta pastel tutup dan steak “


“Baik, mau makan di sini apa di bawa di kamar?”


“Oh boleh ya di bawa di kamar?”


“Ya terserah, mba mau makannya di mana?”


“Kakek sudah pulang belum?”


“Tuan kalau pulang malam mba, sekitar jam makan malam.”


“Hmm..kalau begitu bawa ke kamar saja deh, eh Mba Asih, aku boleh minta tolong?”


“Boleh! Apa mba?”


“Aku tadi memesan banyak frozen food, mungkin nanti akan ada yang datang. Tolong bawa ke kamarku ya?”


“Kenapa harus frozen food mba? Di sini lebih fresh makanannya? “ tanya Asih agak tersinggung


“Bukan begitu Mba Asih, aku kalau malam-malam sering iseng pengen ngemil. Jadi frozen food itu untuk Aku ngemil. Aku gak mau ngerepotin orang dapur!”


“Ooh begitu, baiklah mba nanti saya antar ke kamar mba!”


“terima kasih ya?” Rita membawa Ransel dan sepatunya ke atas , ia memandang tangga yang harus ia lalui


“Wah jauh juga ya? capek bener nih” keluhnya


“Lho, mba Rita naik lift saja!, mari saya antar ke lift” ternyata rumah mewah itu dilengkapi dengan lift, hanya beberapa menit Rita telah sampai di lantai kamarnya


“Wahh,..ternyata kamarku terletak di lantai 3” ujarnya, ia membuka pintu kamarnya yang hanya terbuka dengan menggunakan sidik jarinya. Ia meletakan barang-barangnya di karpet, lalu duduk di sofa depan. Ia menyalakan TV, tanpa sengaja ia kembali tertidur. Suara bel pintu membangunkannya


“Mba Rita ini makanan dan minumannya” Asih menyuruh staf lain meletakan makanan dan minuman di ruang makan, serta frozen food yang Rita pesan


“Ada lagi mba?”


“Mba Asih, tolong kabarin aku kalau kakek sudah datang ya?”


“Baik mba, selamat makan!”


Rita membuka pakaian sekolahnya, hingga menyisakan pakaian dalam. Ia pun mulai menyantap makanannya dengan lahap.


“Alhamdulillah enak sekali!!!” setelah makan ia mencuci piringnya sendiri. Kemudian ia meletakan beberapa frozen food si air frier untuk cemilannya. Lalu ia mulai menguap sendiri seragamnya untuk besok. Setelah itu, ia pun mandi kemudian sholat Ashar. Setelah itu ia rebahan di ranjang barunya, ia membuka ponsel lamanya. Sebelumnya ia membuat dirinya tidak terlihat di pesan WA, kemudian ia membaca pesan-pesan dari Daniel. Daniel bahkan membuat pesan suara untuknya. Rita hanya membaca dan mendengarkan pesan-pesan itu, lalu ia kembali mematikan ponselnya. Ia menggunakan ponsel yang baru, untuk sekolah dia menggunakan ponsel yang lebih sederhana.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2