
Selesai berenang, Rita dan anak-anaknya beristirahat di kamarnya, tak lama kemudian Daniel datang
“Assalammu’alaikum” sapa Daniel memasuki kamar Rita
“Wa’Alaikummussalam, masuk Pi! Raffa tuh papi!” ujar Rita, Raffa berlari menyambut papinya, sedangkan Ranna asyik tiduran di samping Rita sambil mengedot.
“Kak Ranna asyik banget nih!” tegur Daniel, ia menggendong Raffa dan mengembalikannya ke samping Rita, Raffa melanjutkan kegiatan ngedotnya.
“Kamu lama amat ngobrol sama kakek?” tanya Rita
“Iya tadi diajak keliling-keliling rumah ini, keren banget ya?”
“Bagus mana sama rumah kita?”
“Bagus ini, hehehe..jujur saja ya? Aku pikir kakek Sugi gak tanggung-tanggung membuat rumah ini serta semua fasilitasnya.
“Kamu mau ganti pakaian?” tanya Rita
“Sebentar, aku keliling kamar ini dulu. Aku kan bukan tamu di kamar ini”
“Hehehehe..iya ya, silakan lah keliling, oh iya kalau lapar, keluar teras lalu belok kiri, itu dapurnya”
“hah? Eh yang waktu itu kamu cerita ya?”
“Iya,..ahhh...aku ngantuk banget, berenang tadi benar-benar menguras energi” Rita melihat kedua anaknya yang juga sudah terlelap di samping kanan dan kirinya. Daniel berkeliling kamar itu.
Kamar itu cukup luas, ketika masuk , terdapat sofa yang menghadap TV besar, kemudian agak masuk ke dalam terdapat ruang belajar Rita, di situ selain terdapat lemari terpajang koleksi tasnya, juga buku-buku yang ia baca.
Di seberang ruang belajar, terdapat ruang tidur yang cukup luas, ada meja rias, lemari pakaian besar yang kalau di buka ternyata merupakan walking closet. Daniel memperhatikan walking closet yang masih kosong. Setelah itu ia akan menemukan kamar mandi kering dan kamar mandi basah yang terpisah.
Dari situ, Daniel penasaran dengan dapur yang disebut Rita. Ia keluar dari ruang tidur, lalu menuju teras. Kamar Rita terletak di lantai dua, tidak seperti rumah besar, tidak ada tangga langsung menuju ke luar rumah. Daniel memasuki dapur rumah itu, ternyata selain dapur kecil juga terdapat ruang makan di situ. Dapur kecil, dilengkapi dengan peralatan masak. Lemari makanan dan lemari es juga terisi makanan. Tiba-tiba Daniel merasa lapar. Ia mengambil frozen food dari lemari es, lalu memasaknya. Dapur itu juga dilengkapi dengan ventilator sehingga asapnya akan dihisap keluar oleh ventilator tersebut.
“Keren banget!” gumam Daniel mengagumi dapur mini Rita
“Kamu masak apa?” tanya Rita tiba-tiba memeluk Daniel dari belakang
“Astaghfirullah! Kamu ngagetin saja! Ini aku lihat frozen foodnya banyak, jadi aku goreng saja”
“Asyiikkk,..aku lapar!”
“Duduklah di situ, nanti aku kasih!”
“Kamu kan jarang kemari, kok lemari es dan makanan penuh? Apa itu sisa yang lama?” tanya Daniel heran, ia melihat beberapa mie dan telur yang berada dalam lemari.
“Oh itu akan diisi setelah mereka mendengar aku akan datang dan menginap di sini”
“Pantas, kamu mau makan mie goreng gak?”
“Mauuu!! Agak pedas ya?”
“Beres!!”
“Aku bantuin potong sayurannya ya?”
“Bantuin cuci sayuran saja, sayurannya wortel, daun bawang, bawang bombay, kol, caesim” Daniel menyebutkan
“siap!” dengan sigap Rita mengambil sayuran yang disebutkan Daniel lalu mencucinya.
“Sudah nih!”
“Taruh disitu” Daniel meniriskan mie telur , kemudian ia mengiris bawang putih, merah, bombay dan daun bawang. Lalu ia lanjutkan dengan mengiris wortel, caesim dan kol. Ia juga mengiris bakso ikan dan otak-otak. Setelah itu, ia mengambil penggorengan, dan menuangkan minyak goreng. Setelah agak panas, ia memasukkan daun bawang, lalu telur, setelah itu bawang putih, merah dan bombay. Setelah wangi ia memasukan wortel lalu memberi sedikit air lalu ditutup. Beberapa menit kemudian, ia memasukkan caesim, kol dan mie telor tadi dan memberikan kecap asin, garam, lada bubuk, saos tiram, kecap manis serta minyak wijen. Ia menggoreng mie hingga kecoklatan, lalu ia tuangkan di atas piring yang sudah Rita sediakan di meja makan.
“Masya Allah, kayaknya enak banget nih!” ujar Rita, ia mengambil piring dan garpu lalu mencoba mie itu sedikit
“Hmm...enak banget!” pujinya, matanya membesar karena takjub, ia mengambil lebih banyak, sementara Daniel juga mengambil dari piringnya bersama gorengan yang sebelumnya ia masak.
“Kamu pintar masak say!” puji Rita, ia sangat menyukai mie itu
“Terima kasih, hehehe..gak sia-sia ya, aku magang di restoran cina”
“Kamu pernah kerja di restoran cina juga?”
“Iya, waktu aku tiba di Kanada, kira-kira sebulan, aku dengar mama kesulitan mengirimkan uang untuk ku, dan aku gak mau merepotkan tante ku, jadi aku mencari pekerjaan”
“Tapi kamu kan masih 15 tahun?”
“Tapi badan ku tinggi, aku berbohong, aku bilang 17, dan mereka percaya. Awalnya aku Cuma disuruh membereskan meja dan cuci piring. Lama-lama aku disuruh membantu ke pasar, dari situ Koh Ahong mempercayakan aku untuk belanja keperluan. Aku diajarkan membuat mie, kwetiau juga meraciknya”
“Berapa lama kamu kerja di sana?”
“kira-kira 6 bulan-an”
“Kok sebentar?”
“Walau Koh Ahong sangat baik, tetapi anak lelakinya Boing sangat pelit juga kasar. Dia tidak suka koh Ahong akrab dengan ku, berkali-kali uang tip dari pelanggan untuk ku diambilnya. Koh Ahong tidak bisa berbuat apa-apa, aku juga tidak mau memposisikannya untuk memilih aku atau anaknya”
“Lalu?”
“Teman ku yang bekerja sebagai tukang parkir bernama Aming, dia menawari ku untuk menjadi tukang parkir Valey di restaurat Jepang. Aku memperhatikannya membawa mobil pelanggan, lama-lama aku bisa sendiri.”
“Jadi kamu belajar mobil sendiri?” Rita kembali mengambil mie
“Betul, dari situ secara gak sengaja aku bertemu kakek Darmawan”
“Oh ya?”
“Awalnya aku tidak mengenalnya, beliau juga tidak mengenal ku. Seseorang mencuri mobilnya, tanpa pikir panjang aku mengejar orang tersebut dan berhasil membawa mobil itu kembali. Walau agak lecet. Kakek Darmawan waktu itu sangat shock, ia bilang tidak peduli dengan mobilnya. Tapi kemudian ia mengenaliku. Lalu aku diajaknya tinggal bersamanya di Auckland.”
“Kamu mau?”
“Awalnya aku menolak, kakek Darmawan orang yang ulet, ia menemui tante ku dan meminta ijinnya. Lalu tante ku, membujukku”
“Bagaimana kamu bisa terbujuk?”
“Tante bilang, menjadi tukang parkir valey bukanlah masa depan untuk ku, karena aku masih sangat muda. Mama ku ingin aku meneruskan sekolah ku hingga jenjang tertinggi, dan kakek Darmawan akan membiayai sekolah ku”
“Kamu mau?”
“Aku bilang ke kakek Darmawan, aku akan bersekolah lagi seperti keinginan mama ku, tetapi aku ingin melakukannya bukan karena gratis. Aku ingin bekerja padanya”
“Lalu?”
“Kakek tersenyum kemudian ia menjadikan aku baby sitter untuk Andi hingga aku tamat SMA”
“Say, apa kamu kesulitan menjaga kak Andi?”
“Kesulitan? Sebenarnya tidak, justru menyenangkan. Aku heran cucu dari seorang yang kaya raya justru senang bergaul dengan para staf rumah. Aku sering mendengarnya membicarakan masalah asmara para staf perempuan. Lucu sekali kan?. Aku pikir dia sangat kesepian, jadi dia melakukan itu”
“Kalau kak Andi ke Jakarta, kamu kenapa gak ikut? Aku gak pernah lihat kamu?”
“Karena aku bersekolah dan tidak bisa aku tinggalkan. Andi itu sangat ceria kalau mau ke Jakarta, aku ingat dia bilang ke orang-orang akan bertemu adiknya!”
“Oh ya? bertemu aku?”
“Iya!, sepulang dari Jakarta, ia makin cerewet. Ia bercerita tentang kegiatan kalian selama di Jakarta. Dan wajahnya tidak bisa disembunyikan ketika ia harus kembali ke Auckland.”
“Sungguh, aku baru dengar cerita yang ini”
“Kamu doyan sekali ya?” Daniel melihat istrinya menjilati piring mie yang tinggal bumbunya saja
“Iya, enak sekali!!, nanti kalau di Swiss kamu sering-sering masak untuk kita ya?”
“Insya Allah!, oh ya sebelum kita ke sana, aku akan ke sana lebih dulu untuk menyiapkan tempat tinggal untuk kita”
__ADS_1
“Kamu bilang semua sudah disiapkan kantor?”
“Iya betul, tetapi aku pengennya, ketika kamu dan anak-anak datang semua sudah rapi, bersih dan nyaman untuk ditinggali”
“Kapan kamu ke sana?”
“Nanti setelah aku mengabari kalau aku menerima tawaran mereka”
“Kenapa kamu gak segera mengabari?”
“Karena aku mau menikmati sisa-sisa hari sebelum mulai bekerja lagi”
“Oh begitu! Eh kamu masih makan itu?” Rita menunjuk otak-otak goreng
“Enggak! kamu mau?”
“He eh! Hehehehe!” Rita mengambil otak-otak goreng dan mencelupkannya ke saus
“hmm..enak!”
“Hati-hati nanti anak kita gembul di perut mu!” ujar Daniel mengingatkan
“Iya juga ya? tapi gak apa-apa deh, nanti aku konsultasi ke dokter”
“Kapan?”
“Sepulang dari sini”
“Nanti aku antar!”
“Oke! Hehehe...lanjutin dong cerita mu tadi!”
“hmm...Setelah tamat SMA, umur ku 18 tahun. Aku berkenalan dengan pengawal yang disewa kakek, dari dia aku diajak untuk bekerja di perusahaannya.”
“Apa kakek membolehkan kamu pergi?”
“Awalnya beliau keberatan, lalu aku bilang padanya aku ingin menjadi pengawal, lagi pula jam kerjanya fleksibel aku bisa bekerja sambil kuliah.”
“Bagaimana kakek melepas mu?”
“Setelah aku bilang, kalau perusahaan itu membolehkan aku tetap kuliah.”
“Berapa lama kamu jadi pengawal?”
“Sekitar 2-3 tahun kalau gak salah”
“Kok Cuma sebentar?”
“Umur 21 tahun aku ikut perekrutan Interpol dan diterima, dari situ aku bertemu dengan Om Radian. Lalu ia menawarkan menjadi asisten pribadinya”
“Yah balik lagi dong jadi asisten?”
“Beliau membolehkan ku tetap melanjutkan kuliah dan kegiatan ku di interpol”
“Tapi Om kan juga banyak kegiatan?”
“Itu bisa disesuaikan, pokoknya aku bisa saja menjalaninya”
“Kamu kaget gak begitu tahu kalau Om Radian ternyata keponakannya kakek Darmawan?”
“Tentu saja! Beliau bilang mungkin ini yang disebut garis takdir. Sejauh apapun aku melangkah, selalu kembali ke kakek Darmawan”
“Hmm...tadi kamu dan Kakek Sugi membicarakan apa?”
“Oh, dia menunjukkan surat perjanjian”
“Surat perjanjian? Tentang apa?”
“Tentang pernikahan kita!”
“Sebenarnya sebelum kita ijab kabul dulu, kakek memintaku untuk menandatangani kertas kosong sebagai salah satu syarat menikahi mu”
“Lalu?”
“Sekarang kertas kosong itu diisi kakek, jika aku selingkuh dari mu atau meninggal kan mu, hak asuh anak akan jatuh ke tangan mu. Dan aku harus segera menceraikan mu”
Rita terdiam mendengar isi surat itu
“Apa kamu menyesal menandatangani kertas kosong itu?” tanyanya perlahan
“Enggak! Aku tahu kok konsekuensi menandatangi kertas kosong”
“Maksudku kamu gak keberatan dengan isi perjanjian itu kan?”
“Jujur ya? mungkin cara kakek agak curang, tetapi menurut ku cerdik. Beliau hanya ingin melindungi kehidupan pernikahan cucunya. Mungkin bisa aku terapkan jika ada lelaki yang akan melamar Ranna kelak!”
Rita tersenyum,
“Masih lama, dia bahkan belum pas 2 tahun”
“Tapi aku juga membayangkan kalau ada lelaki yang menyukai Ranna lalu menghadap ku untuk memintanya, wah saat itu aku sudah tua kayak apa ya?”
“Gak tua banget dong! Ranna lahir waktu kamu umur 27 tahun, anggaplah ia dilamar umur 20, kamu masih 47 tahun, seperti mama ku! Jadi belum tua banget!”
“Kalau aku sudah 47 tahun, kira-kira kamu masih sayang aku gak ya? jangan-jangan kamu bosan lagi”
Rita kaget dengan ucapan Daniel
“Oh cowok bisa insecure juga ya?”
“Tentu dong, apalagi kamu yang 9 tahun lebih muda dari aku. Kamu cantik dan kaya. Kalau ada bankir yang lebih kaya dan ganteng dari aku pasti aku ditinggal deh!”
“Belum tentu!”ujar Rita sambil memakan nugget
“Eh, kamu mau puding gak?” tanya nya
“Memangnya ada?” tanya Daniel
“Ada, aku minta staf dapur membeli puding, sebentar!”
“Kamu duduk saja, biar aku yang mencari!” suruh Daniel, Rita kembali duduk
Daniel membuka lemari es dan menemukan beberapa puding yang siap makan.
“Ah ini dia, lumayan nih habis makan gorengan. Ada cincau hitam juga, kamu mau?”
“Mauuu!!” jawab Rita segera.
Daniel memberika puding, lalu membuat minuman segar dari cincau hitam
“Nih Liang tea!” ia memberikan ke istrinya, Rita segera meminumnya
“ahh....segarnya!! aku benar-benar dimanja hari ini” ujarnya tersenyum
“Yang, aku penasaran dengan kata-kata mu tadi” tanya Daniel
“Hah? Yang mana?”
“Belum tentu!”
“Oh itu!”
“Jadi? Kamu mau ceritain?”
__ADS_1
“Sebelumnya aku ingin kamu tidak berpikir macam-macam ya?”
“Iya kenapa?”
“sebenarnya, aku sempat dipertemukan dengan beberapa lelaki kenalan kakek dan mama”
“Hah? Kapan itu? Selagi kita pacaran?”
“Selagi kita break!”
“Memangnya kita pernah break pacaran?”
“Pernah! Masa kamu gak ingat?”
“Enggak, kapan ya?”
“Kamu ingat peristiwa pembajakan rumah Auckland?”
“Ya?”
“Nah itu!”
“Maksud mu?”
“Kakek Darmawan gemas melihat hubungan kita, lalu beliau bilang kepada ku, ada baiknya kalau aku bertemu dengan lelaki lain selain kamu”
“Hah?” Daniel ternganga mendengar cerita istrinya
“Karena waktu itu, kamu mengabaikan aku, dan sama sekali tidak menghubungi ku, jadi aku menerima saran kakek”
“Oh ya? siapa saja yang kamu temui?”
“Franco, dia chef dari Perancis. Mama mengenalkan aku padanya. Kami sempat makan malam”
“Mama mu ikut?”
“Enggak, hanya aku dan Franco”
“Kok bisa mama yang mengenalkan tapi beliau gak ikut makan?”
“Kami berkenalan di pestanya mama, waktu itu Franco yang menjadi kepala cateringnya. Waktu itu aku ingin belajar kuliner di Perancis, jadi ketika Franco mengajak ku kencan, aku terima dengan senang hati”
“Kamu gak merasa bersalah sama aku?”
“Aku kan gak tahu kabar kamu. Dimana kamu, sama siapa, sedang apa. Lagi pula aku gak berpikir berhubungan serius dengan Franco”
“Sebentar, Franco...Franco Monteur?” tanya Daniel
“Iya! Kamu kenal dia?”
“Dia pemilik restauran Perancis yang sukses di beberapa negara, dulu aku sempat mendampingi Om Radian makan di restaurannya”
“Oh ya? wah dunia sempit ya?”
“Apa kalian hanya makan malam sekali?”
“Berapa kali ya? 5? Bahkan ia mengirimkan ku brosur sekolah masak di Perancis”
“5x? Itu kan banyak!”
“hehehe iya ya? “
“Apa dia bilang menyukai mu?” tanya Daniel menyelidik
“Dia bilang menyukai ku pada kencan ketiga”
“oh ya? lalu?”
“Aku bilang, aku juga menyukainya, tetapi bukan rasa suka romantis tetapi lebih kepada kekaguman pada seorang Franco”
“Apa dia menerimanya?”
“Dia bilang, kalau begitu beri aku 2x lagi kesempatan agar aku berubah pikiran tentang perasaan ku”
“Oh itu makanya sampai 5x? Setelah kencan ke-5 kamu bilang apa padanya?”
“Perasaan ku tetap sama, lagi pula aku tidak bisa jadi pacarnya karena kami berbeda agama, untuk ku itu sangat penting”
“Apa dia bilang mau mengganti agamanya?”
“Tidak, ia bilang sudah lama ia menjadi agnostik, jadi ya selesai, kami berteman saja”
“Kalau dia menjadi mualaf seperti ku apa kamu akan menikahinya?”
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Karena dia pindah karena aku, itu bahaya! karena menurut ku agama yang dianut itu suatu hal yang mendasar bagi manusia.”
Daniel mengangguk memahami, ia mengemil semangka yang baru saja ia ambil dari lemari es.
“Kalau bankir? Kamu bilang sempat juga kan jalan bersama bankir?” tanya Daniel lagi
“Oh itu, kami berkenalan saat aku menemani kakek Darmawan kondangan ke Italia, namanya Daniel juga. Kalau gak salah Marco Daniel Belucci, panggilan akrabnya Daniel. Kami sempat liburan ke Alpen. Dia yang traktir”
“Kalian satu kamar?” tanya Daniel, agak cemburu
“Enggak lah! Enak saja! Usia kami terpaut 12 tahun, aku selalu dianggapnya anak kecil.”
“Lalu kenapa kalian tidak melanjutkan hubungan kalian?”
“Dia beragama katolik, lagi pula ia ingin aku dekat dengan keluarganya, padahal baru kencan pertama.”
“Kalian kencan setelah liburan?”
“Iya!, lalu aku menolak untuk bertemu dengan keluarganya. Aku bilang masih terlalu awal untuk dekat dengan keluarga”
“Kalau dia ingin kamu bertemu dengan keluarganya berarti dia serius sama kamu!”
“Nah itu!, tapi aku bilang sama dia, alasan aku mau jalan bersamanya mungkin karena namanya sama seperti nama mu!”
Daniel tersenyum, hatinya mulai berbunga-bunga
“Kamu menggoda ku kan?”
“Enggak! ini serius! Sudah ah, aku mau mandi belum sholat ashar!”
“Biar aku saja yang membereskan!”
“Sampahnya taruh luar saja, supaya gak ada semut” ujar Rita kembali ke kamarnya
“Siap!” jawab Daniel tersenyum.
Rita menyimpan rahasia dalam hatinya.
Beberapa tahun yang lalu
“Rita kalau kita berjodoh maka proyek ini tembus!” kata-kata Daniel pada earphone milik Rita yang tanpa sengaja terekam oleh Rita
Rita membuka ponselnya.
“Apaan nih, banyak amat rekamannya?” Rita melihat daftar rekaman suara di ponselnya. Ia mendengarkan satu persatu rekaman itu, yang merupakan suara Daniel. Ia sering tersenyum mendengarkan rekaman itu. Suara Daniel yang sering memanggil namanya, atau gumam-annya, atau curhatannya. Itu semua membuatnya terenyuh. Ia menyimpan file rekaman suara itu ditempat tersembunyi bahkan Daniel tidak mengetahui tentangnya.
__ADS_1
_Bersambung_