Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 81: Hanyut


__ADS_3

Rita dan Lucas tersapu air sungai yang pasang, Daniel dan dua orang lainnya di tepi jembatan tidak dapat berbuat apa-apa


“Rita!!!” Hampir saja Daniel ikut terjun ke sungai tapi ditahan oleh Rick dan Simon


“Jangan! Arus terlalu deras tak akan ada gunanya, kita menyusuri sungai ini, siapa tahu bisa menemukan mereka di sana!” ajak Simon


Ketiganya berlari di samping sungai menyusuri sungai, Lucas dan Rita sudah tidak terlihat lagi.


“Percuma!” ujar Rick kelelahan berlari


Daniel terduduk lemas, ia sangat menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa


“Ayo kita kembali ke penginapan, kita bisa minta bantuan di sana!” ajak Simon, ia menepuk pundak Daniel. Rick membantunya berdiri


Sementara Rita yang terbawa arus sungai, ia berdoa dalam hati,


“Ya Allah, jika sekarang ini bukan saatku untuk menghadap-MU, maka berikan keselamatan padaku dari arus sungai ini” Rita terus berdoa, hingga ia teringat tali kecil di kantung jaketnya, kemudian ia tarik tali itu, seketika jaketnya menggelembung seperti terisi udara dan menjadi seperti pelampung, hingga Rita bisa mengambang di tengah arus kencang.


“Alhamdulillah!!!! “ ia terus berteriak , lalu ia mengambil ranting besar yang melewatinya, ia pasrah ke mana sungai ini akan membawanya. Di tengah perjalanan, ia melihat Lucas yang hampir tenggelam , kelihatannya ia kelelahan melawan derasnya arus. Rita menarik jaketnya dan memeganginya, ia memposisikan dirinya telentang, kemudian ia memegangi kepala lucas di badannya agar dapat terus bernafas. Di sepanjang sungai Rita terus berdzikir, ia sungguh ketakutan dan tidak tahu akan terus di bawa kemana oleh sungai itu. Beberapa menit kemudian aliran sungai mulai melambat dan terhenti, sepertinya bermuara di suatu danau.


Rita menggerak-gerakan kakinya dan menggunakan ranting di tangan kirinya untuk sampai ke tepian sungai, sementara tangan kanannya memegang erat Lucas yang masih pingsan. Dengan susah payah akhirnya mereka sampai di tepian. Rita menarik kembali tali jaketnya dan kembali kempes seperti sediakala, ia sujud syukur dan menangis sekerasnya, ia sungguh lega bisa selamat dari arus sungai yang mematikan itu. Setelah menenangkan diri, ia membantu lucas, ia menekan perut lucas dan membalikkan tubuhnya, dan terus melakukan hal itu, hingga lucas tersadar


“Uhuk..uhuk..uhuk!!!” ia terbatuk dan memuntahkan banyak air dari perutnya


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Rita


“Hah??” Lucas kebingungan ia mencari Simon dan yang lainnya


“Yang lainnya ke mana?” tanyanya


“Entahlah, mungkin kembali ke penginapan!” ujar Rita, ia melepaskan sepatunya yang berat karena air


“Seingatku aku hanyut!” tanya Lucas


“Seingatku juga begitu!” Rita memakai lagi sepatunya yang sudah agak ringan


“Apa kamu yang menyelamatkan ku?” tanya Lucas


“Apa ada orang lain di sini?” tanya Rita, ia duduk beristirahat, berurusan dengan air membuatnya lelah


“Apa kamu menginginkan hadiah karena sudah menyelamatkanku?” tanya Lucas


“Apa yang kamu punya? Kita sama-sama terjebak di sini! Sudahlah berhenti bersikap menyebalkan!” ujar Rita ia sudah tidak tahan lagi dengan sikap Lucas


Lucas terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa, cewek yang ia anggap tidak berguna justru menyelamatkannya dari maut. Ia membuka jaketnya dan memerasnya juga sepatunya. Lalu ia pakai kembali. Rita menjauhi sungai, ia mengumpulkan ranting-ranting, lalu kembali membuat api unggun


“Dari mana kamu mendapat korek itu? Itu korek api yang tahan air dan tidak bisa mati selama terkena oksigen!” ujar Lucas


“Yeah, ini pemberian kakakku, juga jaket pelampung ini dan alat-alat survival di dalam jaket ini, semua kakakku yang memberikannya!” ujar Rita. Ia mengeringkan jaket dan tubuhnya di dekat api unggun


“Di mana kakakmu membelinya?”


“ini hanya contoh, ia diberi oleh seseorang.”


“Hmmm...apa kamu kenal seseorang itu?” tanya Lucas lagi


“Tidak, aku membawa ini karena ketidaksengajaan, karena aku gak punya jaket hingga kakakku memberikannya kepadaku, ternyata sangat berguna. Anda tahu, jaket ini menjadi pelampung yang membawa kita berdua kesini” cerita Rita


“Namamu siapa?” tanya Lucas

__ADS_1


“Aku Rita!”


“Hmmm...Rita nama yang unik, siapa nama lengkap mu?”


“Darmawan, Rita Darmawan” jawab Rita, ia mengingat namanya yang sekarang


“Oh Darmawan, sepertinya aku pernah mendengarnya” ujar Lucas, nada suaranya terdengar biasa


“Oh ya? di mana?” tanya Rita


“Entahlah, nama itu cukup unik untuk orang Eropa, Amerika atau Afrika. Apa kamu lahir di sini?” tanya Lucas


“Bukan, aku lahir di Indonesia, nama Darmawan itu juga dari Indonesia.”


“Indonesia? Apa itu nama negara? Di mana letaknya?” tanya Lucas heran


“Anda orang UK kan?”


“Iya betul!”


“Anda tahu Malaysia? Negara itu masuk negara persemakmuran UK!”


“Tentu aku tahu!”


“Nah, Indonesia itu letaknya di bawahnya. Kami berbatasan dengan Malaysia!”


“Oh negara Bali!” ujar Lucas sok tahu


“Hmm...Bali itu salah satu provinsi di negara kami. Bali memang terkenal karena tempatnya yang indah. Tapi Indonesia tidak hanya Bali, banyak kota maju di sana!”


“Oh ya? contohnya apa?”


“Kami memiliki kota-kota besar yang sudah taraf megapolitan, seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Makasar”


“Yaa, kapan-kapan mainlah ke Indonesia!” ujar Rita ramah


“Bahasa inggrismu bagus! Sudah lama di sini?”


“Baru setahun, aku tinggal bersama kakekku di sini”


“Pria putih seperti Korea tadi apa mu?”


“Oh itu Daniel, dia memang orang Korea, ia bekerja untuk Om ku!”


“Om? Apa itu Om?” tanya Lucas bingung


“Oh sorry, itu sebutan untuk Paman dalam bahasa Indonesia” ujar Rita tersenyum


“Apa Rick itu paman mu?”


“Bukan, pamanku ada di penginapan, ia mengirimku pulang lebih dahulu, nanti ia akan menyusul . eh ternyata helikopter kami jatuh. Rick itu pilotnya”


“Gak heran, dengan kemampuan seperti itu, cepat atau lambat pasti mencelakakan orang lain!” ujar Lucas


“Apa anda tahu daerah ini?” tanya Rita, ia mulai khawatir karena hari mulai gelap


“entahlah, tapi kita bisa mendaki ke arah sana, kalau sudah berada di tempat tinggi kita bisa menentukan arah kita.” Ujar Lucas


“Apa kita gak memanjat pohon saja?” tanya Rita

__ADS_1


“Kamu bisa?” tanya Lucas sangsi


“Bisa dicoba kan?”


“Tapi jangan di pohon itu, percuma, karena ini dataran rendah!” ujar Lucas


Mereka berjalan mendaki ke tempat yang agak tinggi.


“Kita cari pohon yang besar dan tinggi, dari situ kita bisa melihat ke arah mana kita akan berjalan!” ujar Lucas, ia memilih pohon, kemudian melepas sepatunya ia mulai memanjat pohon. Rita memperhatikan dari bawah


“Bagaimana Pak? Sudah terlihat?” tanya Rita


Lucas menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian ia kembali menuruni pohon.


“Kita ke arah sana, aku melihat ada kepulan asap, dugaanku itu rumah penduduk atau sesuatu terbakar!” ujar Lucas, ia kembali memakai sepatunya


Mereka berjalan beriringan


“eh..hm..pak, Aku minta maaf karena sudah bersikap tidak sopan!, kedua orang tuaku juga sangat disiplin tentang hal tersebut, jadi maafkan aku!” ujar Rita


“Yeah..aku juga mungkin sudah keterlaluan. Aku memang tidak pandai menghadapi orang baru, Simon yang selalu menjadi penengahku, ia sudah lama bekerja padaku!, aku penasaran apa dia akan mencariku? ujar Lucas


“Seharusnya sih begitu!” ujar Rita, tak terasa mereka tiba di sebuah rumah kecil di pinggir hutan, ada cahaya dan asap keluar dari dalam rumah itu.


“Kelihatannya tidak ada penghuninya?” ujar Rita, ia celingukan melihat ke rumah itu


“Eh, sepertinya aku pernah ke sini?” ujar Lucas


Suara mobil terdengar, Lucas menarik Rita untuk bersembunyi di luar tembok rumah kecil itu.


Dua orang keluar dari mobil, mereka membicarakan sesuatu


“Aku sudah bilang, kedua orang itu mencuri jeep, aku temukan jeepnya rusak menabrak pohon!” ujar salah seorang yang tinggi, perutnya buncit dan brewokan berantakan berwarna merah


“Sudahlah, setidaknya kita mendapatkan ranselnya, kelihatannya mereka orang kaya!” ujar satunya lagi yang lebih kurus, namun wajahnya lebih bersih, hidung mancung, rambut tersisir rapi, ia mengenakan kemeja flanel kuning dengan celana jeans. Penampilannya memang mirip pendaki gunung biasa


Tiba-tiba Lucas memasuki rumah itu


“Kembalikan tasku!” teriaknya marah, Rita yang masih bersembunyi, kaget dengan tindakan lucas yang ceroboh


“Ambil kalau berani!” ujar si brewok, ia menyerang Lucas dengan memukul perutnya. Lucas berhasil mengelak dan mendorong si brewok ke tembok kayu, si klimis tertawa geli melihat si brewok kewalahan


“Jangan tertawa!” ujar si Brewok, ia menyeruduk Lucas dan mengunci pinggang Lucas hingga ia sulit bernafas, ia terus memukul-mukul punggung brewok. Di saat yang sama Rita muncul ia mengambil bangku kayu dihadapannya dan memukulkan ke punggung si brewok, hingga ia pingsan. Si Klimis yang kaget dengan kedatangan gadis lincah yang pandai memukul juga dibuat kaget, karena baru saja ia berdiri, wajahnya sudah terkena tendangan dari Rita, hingga ia jatuh pingsan. Susah payah Rita mengangkat si brewok gemuk yang menindih Lucas.


“Ah terima kasih, hati-hati ada satu lagi!” ujar Lucas, ia menoleh ke arah si klimis yang telah pingsan


“Bantu aku mengikat mereka!” ujar Rita, ia kelelahan setelah berjalan dan harus memukul kedua penjahat .


Lucas membantu Rita mengikat si Brewok dan Lucas.


“Kamu yang membuat orang ini pingsan?” tanya Lucas


“Apa ada orang lain di sini?” tanya Rita jahil


“ini kedua kalinya kau menyelamatkanku ya?” gumam Lucas


“Anda mengatakan sesuatu?” tanya Rita


“Tidak!, mudah-mudahan ikatannya kuat!” ujar Lucas, ia beralih ke ranselnya. Dibukanya isi tasnya, lalu ia mengambil HT, ia menghubungi pos polisi setempat. Kira-kira dua jam kemudian, polisi tiba dan membawa kedua orang itu. Lucas melaporkan teman-temannya yang terjebak di penginapan.

__ADS_1


Rita diantarkan pulang oleh polisi, setibanya di rumah, sudah sangat larut. Hanya staf yang bertugas malam hari yang menyambut kedatangannya. Rita berpesan tidak usah membangunkan yang lain karena ia hanya ingin beristirahat. Ia pergi ke kamarnya, setelah mandi, berganti pakaian, sholat Isya, kemudian ia tertidur nyenyak.. hari yang melelahkan


-Bersambung-


__ADS_2