
Minggu pertama bekerja dengan Om Radian sungguh melelahkan, setiap pulang dari kantor Rita selalu ketiduran dan terbangun 2 jam kemudian. Tapi bukan Rita namanya kalau tidak pandai beradaptasi. Hanya dalam waktu 2 minggu ia telah memahami pekerjaan yang harus ia lakukan, dan hal-hal yang tidak disukai bosnya. Bosnya juga menyukai kinerja Rita, yang tidak banyak bicara kecuali diajak bicara. Ia mengingat pesan Andi agar tidak kepo dengan urusan Bos. Dalam waktu singkat pula, Rita memperoleh kepercayaan Radian, ia sering diajak ke pertemuan-pertemuan bisnis, walaupun ia hanya menunggu di luar tapi selalu diajak.
"Rita, ini Daniel, Daniel ini Rita!" ujar Radian suatu hari, ia memperkenalkan seorang lelaki muda, usianya sekitar 26 tahun, tinggi 180cm, berkulit putih, wajahnya seperti orang korea. Daniel menganggukkan kepala kepada Rita seolah berkata" senang berkenalan!"
"Daniel! Kamu bisa tanya semua jadwal saya setiap hari pada Rita, dia yang mengatur semua jadwal saya" ujar Radian lagi, kemudian ia masuk ke ruangannya lagi. Rita kembali ke mejanya, dan mengambil tabletnya.
(Dalam bahasa Inggris)
"Daniel, ini jadwal bos hari ini" ia memberikan tabletnya.
"Hmm.. bisa tolong kirim ke ponsel saya?" Ia memberikan nomornya. Rita melakukan yang Daniel minta dan kembali ke mejanya. Sekitar pukul 10 pagi, Radian dan Rita bersiap di landasan helikopter, Daniel telah menunggunya di sana. Hari itu, mereka ada pertemuan dengan beberapa pemimpin perusahaan yang lokasinya cukup jauh. Untuk menghemat waktu, mereka menggunakan helikopter. "Nanti kamu harus belajar menerbangkan pesawat dan helikopter Rita!"ujar Radian di dalam helikopter setengah berteriak karena suara bising baling-baling. Mendengar hal tersebut bukannya menolak, Rita justru senang, ia mengangguk.
"Baik pak!"jawabnya tersenyum. Radian dan Daniel hanya memperhatikannya heran.
"Kamu sudah bisa menyetir mobil?" Tanya Radian
"Bulan depan Saya baru 17 tahun Pak, sekarang ini belum punya SIM" jawabnya tegas
"Tapi pernah bawa mobil kan?"
"Belum pernah pak!"
"Sama sekali?"
"Sama sekali!"
"Tapi kamu bisa mengendarai motor kan?" Tanya Radian heran
"Itu terpaksa pak, karena darurat"
"Darurat ya, hmm...Daniel, hari Sabtu ini kamu ada acara?" Tanya Radian kepada Daniel yang duduk di samping pilot
"Tidak ada pak!"
"Kalau begitu kamu ajarkan Rita mengendarai mobil!, Kamu bisa pakai mobil kantor. Kalian bisa atur jadwal untuk Rita belajar menyetir." Perintah Radian
"Siap pak!" Jawab Daniel.
Rita melihat keluar jendela, wajahnya tersenyum senang. Mereka kembali ke kantor sekitar pukul 2 siang, sesampainya di ruangan Radian melihat ke ponselnya, tanpa berkata apapun ia langsung berlari meninggalkan ruangannya. Rita hanya bingung melihatnya. Daniel yang tiba belakangan, bertanya kepada Rita
"Bos mana?"
"Tadi beliau terburu-buru meninggalkan ruangan, mungkin sekarang ada di tempat parkir." Jawab Rita
Daniel segera menyusul Radian
"Ada apa sih?" Pikir Rita bingung.
Karena bos tidak di tempat dan beberapa tugasnya sudah dikerjakan, ia membuka ponselnya, dan membaca pesan dari Kowi
"Hai Rita, apa kabar?" Sudah lama ya Kita gak ngobrol, gue kangen nih. Jahat ih, gak ngabarin!"
Pesan berikutnya dari Lisa
"Assalamualaikum, Rita! Kog gak ada kabar? Kita sampai berburu nomor Rita ke kak Dewa. Btw kak Dewa makin ganteng lho, ia kuliah jurusan teknik sipil, walaupun gondrong tapi gantengnya keterlaluan."
Rita menatap ponselnya, haruskah ia menjawabnya ? Kowi dan Lisa adalah orang dari masa lalunya, ketika ia memutuskan menjadi keluarga Darmawan,ia bertekad untuk melupakan semuanya dan memulai lembaran baru. Ia juga membaca pesan dari Kiki
"Hai Rita! Masih marah sama gue? Jangan marah kelamaan ya?, oiya, gue sudah gak sekolah lagi, gue memutuskan untuk homeschooling, memang tanggung sih, tapi keadaan gue gak memungkinkan gue untuk sekolah!"Kiki memperlihatkan perutnya yang membuncit.
"Kaget ya? Setelah kejadian waktu itu, gue dan Andre married. Anak-anak gak cerita ke Elo ya? Padahal meriah lho waktu kita resepsi, kak Indra cs pada datang. Rita, gue menyesali semua yang sudah gue lakuin ke Elo, seandainya gue bisa memutar waktu kembali, mungkin gue gak akan mengkhianati kepercayaan lo. Beribu maaf ya Rit, please jangan menyerah sama persahabatan, karena gak setiap orang bisa berkhianat seperti gue. Maaf ya Rit, main ke rumah ya kalau main ke Indonesia." Kiki mengakhiri pesannya.
Setetes air mata membasahi pipinya. Perasaan rindu bercengkrama dengan teman-teman membuncah. Lalu ia melakukan video call dengan Kowi
"Hai!" Sapa Rita
"Rita!!! "Kowi kegirangan, ia memanggil Lisa
" Lisa, Rita nih!!" panggil Kowi, wajah Lisa muncul di layar ponsel Rita. Ponsel Rita terbaru hadiah selamat datang dari kakeknya. Smartphone yang bisa dilipat dan melebar, sehingga wajah Kowi dan Lisa dapat dengan jelas muncul di layar. Mereka menangis melepas kerinduan.
"Rit, gpp nih? Ini sambungan internasional lho, mahal pulsanya" Tanya Lisa
"Gpp, tenang saja, banyak kog kuotanya "jawabnya berlinang air mata.
"Kebetulan Rit, Lisa lagi gue hibur!"
"Kenapa Lisa?"
"Hmm..dia putus dari Farhat"
__ADS_1
"Hah? Bukannya sudah ada pertemuan keluarga?" Tanya Rita bingung
"Panjang Rit ceritanya!" Jawab Lisa
"Ringkasin dong, kan lo jago bikin ringkasan"
"Intinya begini, keluarga Farhat ingin mereka segera menikah."
"Hah? Segera? Maksudnya walau Lisa masih kelas 11?" Tanya Rita kaget
"Iya, karena Farhat akan kuliah jauh, dia pengen Lisa ikut dengannya." Cerita Kowi
"Terus?"
"Ayah Lisa gak setuju,karena Lisa masih sekolah!" Jawab Kowi
"Iya betul!" Sahut Rita
"Sebenarnya gue yang bilang ke bokap kalau gue mau membatalkan pertunangan kami. Setelah mendengar Lo pergi ke NZ, gue jadi mikir, banyak yang masih mau gue raih, cita-cita ke luar negeri, sekolah, beasiswa. Dari pada jadi istri yang cuma nungguin suami pulang kerja. Setidaknya enggak sekarang."
"Farhat tahu yang Lo rasakan?"
"Iya, dia sangat kecewa, keluarganya juga."
"Lo gak nyesel Lis?" Tanya Rita
"Maksudnya nyesel?"
" Enggak sih, gue pernah dengar curhatan tante gue yang sudah 46 tahun belum menikah. Dulu ada yang mengajaknya menikah muda, ia tolak dengan alasan yang sama dengan Lo, nah sekarang ini beliau sering kepikiran, beliau bilang mungkin kualat kali ya nolak jodoh."
"Tante Saye yang kayak dukun itu?" tanya Kowi
"hush!!! gak kayak dukun dong!" protes Rita
"iyaa maksudnya yang punya sixth sense" terang Kowi
"Lho,bukannya beliau sudah menikah? tapi bercerai ya?"
"iya, katanya gak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu."
"siapa yang gak lepas?" tanya Lisa heran
"mantan suaminya."
"betul!"
"Kalau Lo gimana Rit?, misalnya kalau dulu Lo diajak nikah sama Kak Tomi, apa Lo akan terima?"
"Hmm... pertanyaan sulit, karena kalau kita ngobrol kak Tomi gak pernah bilang mau nikah muda, ia mau jadi petani dan pengusaha dulu."
"Kan misalnya." Desak Lisa
"Yahh mungkin gue juga akan menolaknya, sama kayak Lo Lis!"
"Naahh Kann?"
"Tapi Lo jangan sedih ya Lis?"
"insyaaAllah enggak Rit, ada Kowi yang selalu menghibur gue" Lisa mendekatkan pipinya ke pipi Kowi
"Alhamdulillah" ujar Rita lega
"Btw Rit, kak Dewa kenapa gak diseriusin?" Tanya Kowi tiba-tiba
"Eh?"
"Iya, jadi ingat waktu Lo ilang, dia yang paling sibuk nyariin. Tapi katanya Lo belum ngomong sama dia?"
"Lo sering ketemu kak Dewa?" Tanya Rita
"Enggak sering, cuma 2x sih, nah pertemuan kemarin itu, gue nanya nomer Lo"
Tiba-tiba Daniel datang menghampiri Rita, ia menyampaikan pesan Radian kepada Rita
(Dalam bahasa Inggris)
"Maaf ganggu sebentar, tadi Bos bilang ia ada urusan mendadak nanti mau langsung pulang. Kalau Rita sudah selesai bekerja, bisa langsung pulang."
"Oh iya, Terimakasih" jawab Rita tersenyum
__ADS_1
"Hari Sabtu jam 10 ya, di sini!" Ujar Daniel
"Iya, terimakasih sebelumnya!"
Daniel melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Rita.
"Siapa tuh Rit? Gantenggg banget!!!" Tanya Kowi kumat
"Oh, itu Daniel, pengawalnya bos gue."
"Kenapa harus ada pengawal? Apa Elo gak cukup buat jaga bos Lo?" Tanya Lisa
"Hush! Lo tau gak, gue kerja di sini karena sok jadi pahlawan!" Rita menceritakan kejadian yang telah menimpanya
"Wahh...kakek Lo aneh-aneh ya Rit, kakek yang satu suka meng-adu cucunya, yang satu lagi nyiksa cucunya yang padahal sudah menyelamatkan anak kesayangannya."
"Rit, kita boleh lihat ruangan kerja Lo gak?" Tanya Lisa tiba-tiba
"Boleh!" Rita bangkit dan menunjukkan ruang kerjanya.
"Waahh luas dan nyaman ya Rit, yang dibalik pintu itu ruangan bos?"
"Iya!"
Di saat bersamaan, tiba-tiba Radian keluar dari ruangannya
"Sejak kapan ada di dalam ruangan Pak?" Tanya Rita bingung
"Sejak tadi, Daniel sudah pergi?"
"Sudah pak, 5 menit yang lalu, tapi tadi pesan bapak?" Tanya Rita
"Iya, aku terpaksa balik lagi, ada dokumen yang tertinggal, kamu boleh pulang Rit!" Suruh Radian dengan nada misterius
"Oh baiklah pak!" Rita segera menutup ponselnya, lalu merapikan tasnya.
"Saya permisi dulu!"
"Iya, hati-hati ya?" Ujar Radian ramah
Rita meninggalkan ruangan dengan bingung, kapan datangnya? Pikirnya berkali-kali.
Sesampainya di rumah, ia kembali menghubungi Kowi dan Lisa, kali ini mereka melakukannya secara group, karena Lisa telah pulang ke rumahnya .
"Rit, tadi itu bos Lo?" Tanya Kowi
"Iya!"
"Yaaa Ampunnn Rita, Lo itu betul-betul magnet cowok ganteng. Sudahlah Daniel ganteng, bos Lo ganteng maksimal. Bikin iri saja!" Ujar Kowi
"Iya nih Rita, dulu di sekolah juga begitu, sampai ada pepatah, di mana ada Rita di situ ngumpul cowok tamvan." Ujar Lisa
"Bos itu Om gue say, beliau sepupunya bokap gue."
"Bokap Lo yang baru?"
"Bukan, bokap lama dong, yang dr.Reza itu bokap baru."
"Ahhh..begitu rupanya" ujar Kowi dan Lisa bersamaan
"Kalau begitu kejar Daniel saja Rit, ganteng tuh, kelihatannya baik!" Ujar Kowi
"Umurnya berapa Rit?"
"17!"
"Bukan umur Lo, umur Daniel!"
"Kalau gak salah 26 tahun."
"Masih muda ya, beda 9 tahun, boleh tu Rit!" Ujar Lisa
"Tadi yang nyuruh gue sama Dewa siapa?" Ledek Rita
"Kalau Dewa gak menyatakan, yang ada aja Rit!" Sambut Kowi
"Hahahahaha..."
mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Rita menghabiskan kuotanya untuk melepas kangen dengan sahabat-sahabatnya.
-bersambung-