Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 337: Razan M Ihsan


__ADS_3

Memasuki usia kandungan 9 bulan, Rita dan Daniel mempersiapkan kehadiran anak keempat.


Semakin mendekati hari kelahiran, Raffa semakin gelisah, hampir setiap hari ia tidur di kamar orangtuanya.


"Abang, tidur di sini lagi?" Tanya Daniel, Raffa tidur di samping Rita sambil memegang boneka lebah miliknya.


"Gak apa-apa Pi, nanti kalau adik sudah lahir Abang tidur di kamar Abang ya?" bujuk Rita


"Hhhhh...."Raffa makin erat memeluk Maminya.


"Bang! Gantian dong, dari kemarin Abang melulu yang meluk mami, papi juga mau nih!" Canda Daniel


"Papi nih bercanda melulu, sini deh, mami di tengah, papi sebelah kiri!" Rita menggeser tubuhnya ke tengah ranjang. Tak lama kemudian Ranna dan Rayya mengetuk pintu kamar


"Ya?" Daniel bangkit lalu membuka pintu kamarnya


"Papi!!"Rayya sudah dapat berbicara, begitu pintu terbuka ia langsung menempel di kaki papinya sedangkan Ranna langsung masuk dan tidur di sisi kiri Rita.


"Kakak bobo di sini ah!" Ujarnya sambil memeluk maminya.


"Kalian itu!" Daniel tampak kesal, tapi tarikan Rayya membuatnya kembali tersenyum.


"Ayya sama papi ya?" Ujarnya sambil mencium pipinya.


"Mami!!" Rayya menunjuk ke Rita


"Oh ke mami..iya..iya...!" Gerutu Daniel, ia menaruh Rayya di samping Ranna. Malam itu mereka tidur bersama.


Pukul 1 malam, tiba-tiba Rita merasakan perutnya mulai kontraksi. Perlahan ia membangunkan suaminya, pelan-pelan ia menyentuh lengan suaminya


"Yang! perut ku sakit!" bisiknya pelan


"Hah?"Daniel terduduk sejenak, ia mengumpulkan kesadarannya.


"Sudah berapa lama sakitnya?"


"Sekitar satu jam" Rita melihat ke arah jam dinding.


Daniel segera bangkit dari ranjang untuk berpakaian lalu ke kamar para baby sitter.


"Ryan! Ibu mau melahirkan, tolong awasi anak-anak!" Daniel ke kamar Ryan yang letaknya bersebelahan dengan kamar anak-anak.


"Baik pak!" Ia ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, lalu mengetuk kamar kedua rekannya.


Tak berapa lama para baby sitter telah siap. Mereka membawa anak-anak ke kamarnya untuk di tidurkan di ranjang mereka sendiri, sementara Rita bersama Daniel pergi ke rumah sakit.


Selama menunggu proses kelahiran, Daniel menghubungi Allan asistennya.


"Al! Aku sedang di rumah sakit, istri ku akan melahirkan, jadi aku tidak datang ke kantor. Tapi jika ada hal yang mendesak jangan ragu untuk menghubungi ku ya?"


"Baik Pak, tapi meeting hari ini dengan klien gimana pak?"


"Secara online saja, kamu siapkan tempatnya, aku online dari sini"


"Baiklah pak!"


Allan menutup ponselnya


"Siapa?"


"Bos ku, hari ini dia menemani istrinya melahirkan "


"Baik sekali, tapi bukan kah kepentingan kantor seharusnya lebih dulu?"


"Itu salah satu syaratnya ketika ia bersedia di tempatkan di Kanada, pak Daniel akan mendahulukan keluarganya jika terjadi seperti ini"


"Bisa seperti itu?"


"Kalau pak Daniel yang mengajukan syarat sepertinya perusahaan akan menurut"


"Pak Daniel benar-benar dianggap penting?"


"Tentu saja!"


"Kamu senang menjadi asistennya?"


"Hmm... lumayan! Aku belajar banyak darinya, papa tepat menempatkan aku sebagai asistennya" Allan memeluk pinggang tunangannya.


Sementara di rumah sakit, Rita masih menunggu pembukaan.


"Masih pembukaan 4 Bu!" Ujar suster


"Aduhh ... astaghfirullah sakit sekali.."


Dokter datang memeriksa


"Bu, pak, sebaiknya kelahirannya secara caesar"


"Eh kenapa dokter?" Tanya Rita dan Daniel bersamaan


"Posisi bayi tidak memungkinkan untuk lahir secara normal" dokter menunjukkan hasil USG.


"Bagaimana yang?" tanya Daniel, ia menggenggam tangan istrinya


"Lakukan saja, aku pikir anak ini sudah terlalu lama dibandingkan kakak-kakaknya dulu..duuhh!" Erang Rita. Daniel menyetujui operasi, setelah mengurus administrasi, ia kembali ke ruang operasi.


Kira-kira sembilan puluh menit kemudian operasi selesai, sang bayi pun lahir dengan selamat.


"MasyaAllah...tampan sekali!" Daniel menggendong anak keempat yang diberikan oleh suster. Setelah mengazani ia memberikan kepada Rita.


"Mi! Ini Razan Muhammad Ihsan Kang"


"Panjang amat namanya!" Rita menggendong anak keempatnya


"Hai Razan!" Sapa Rita, ia mengusap pipi dan wajah Razan dengan lembut, dalam hatinya bertanya


"Mirip siapa ya?" Ia mengingat-ingat wajah anak lelaki nya


Operasi Caesar yang dijalani Rita membuat ia lebih cepat pulih, ia bisa langsung kembali ke kamarnya. Daniel menyewa kamar VVIP untuk mereka tinggal.


"Apa gak berlebihan?" tanya Rita


"Tenang! Semua dibayar kantor, kamu tinggal di sini minimal 3 hari, aku juga akan menemani di sini"


"Iya ya seperti yang sudah-sudah"


"Aku sudah menghubungi Andi"


"Kakek?"


"Hehehe...cukup Andi saja, maka berita akan cepat menyebar!" Ujar Daniel, perkiraannya tepat. Tak berapa lama kemudian Ratna menghubungi Rita melalui Vcall.


"Assalamualaikum Ma!" Sapa Rita


"Wa'alaikummussalam..Rita!!..


mama belum bisa ke Kanada, mama masih di Perancis"


"Iya ma gak apa-apa "


"Lihat dong baby nya?"


Rita menunjukkan anaknya yang sedang tertidur di samping tempat tidurnya.


"MasyaAllah..tampan sekali, siapa namanya Rit?"


"Razan Muhammad Ihsan Kang"


"Tumben panjang, artinya apa?"


"Apa ya artinya, itu papinya!"


"Papinya anak ini mana?"


"Dia lagi beli makanan, lapar katanya"


Tak lama kemudian Daniel datang dengan membawa bungkusan dari restoran terdekat.


"Yang, mama!"


"Oh! Halo ma!"


"Hai Niel! Selamat ya jadi bapak lagi !"


"Terimakasih ma!"


"Mama tanya arti nama Razan apa?"


"Oh itu artinya : Laki-laki yang berwibawa sangat terpuji dan penuh kebaikan"


"Bagus artinya mudah-mudahan gak keberatan nama ya?"


"Aamiin!" Jawab Rita


Setelah ngobrol beberapa lama kemudian mereka mengakhiri vcallnya.


"Eh maksudnya keberatan nama apa?"


"Oh itu, orang dulu percaya kalau nama anak terlalu banyak biasanya anaknya sakit-sakitan karena terlalu terbebani dengan namanya"


"Masa bisa begitu?"

__ADS_1


"Kan orang dulu percaya begitu, tapi nama itu kan doa ya?"


"Iya! Kamu jangan percaya takhayul deh!" Ujar Daniel. Kemudian ia membuka pakaian anaknya dan mendokumentasikannya.


"Eh kenapa begitu?" Tanya Rita heran


"Ini untuk menghindari tertukar, aku harus punya bukti bahwa ini anak ku. Aku baca berita tentang anak yang tertukar jadi sejak keluar dari kamar operasi tadi aku sudah memvideokan ciri-ciri anakku.Nah ini aku lagi membandingkan dengan video ku yang tadi"


"Sejak keluar dari ruang operasi Razan ada di sini bersama ku,"


"Oh begitu, syukurlah!" Daniel menutup kembali pakaian Razan.


"Kok kamu makin paranoid ya?" Tanya Rita sambil menyantap salad yang baru dibeli Daniel


"Tentu, aku banyak menonton berita, terutama tentang bayi tertukar, mungkin karena wajah bayi itu ketika lahir sama jadi para suster keliru."


"Bisa jadi, eh Yang, kamu bukannya ada jadwal meeting?" Rita mengingatkan


"Oh iya!"


Daniel berpindah ruangan. Kamar VVIP sangat luas, kamar itu terdiri dari ruangan untuk kamar tidur dan ruangan seperti kamar untuk menerima tamu.


Daniel membawa Razan untuk ikut rapat bersama nya.


"Halo paman-paman!" Kenalkan ini Razan!" Daniel memperkenalkan anaknya dengan bangga


"Selamat pak Daniel!" Seluruh peserta rapat memberikan ucapan selamat


"Tampan sekali, anak ke berapa pak?" Tanya klien


"Keempat, ini putra kedua ku, Aku punya dua pasang, hehehe.." Daniel tampak bahagia, tak hentinya ia tersenyum sambil menggendong anaknya. Setelah berbasa-basi, Daniel meletakkan Razan di tempat tidurnya. Razan anak yang tenang, ia lelap tertidur ketika papinya sedang rapat. Dua jam kemudian rapat selesai.


"Baiklah Al, aku tetap memantau dari sini ya?"


"Baik pak!" Mereka mengakhiri meeting hari itu.


Sementara di tempat lain Rita juga sedang online dengan Erina.


"Oh iya Bu, kami mendapat surat dari kampus ibu"


"Hah? Mereka gak mengirim lewat email?" Rita sangat terkejut


"Bisa tolong buka isinya Er?"


Dengan hati-hati Erina membuka amplop berwarna putih itu lalu menunjukkan ke Rita.


"Ohh...jadwal sidang Bu" Erina membaca surat itu dan menunjukkan ke Rita


"Waktunya..oh seminggu lagi?" Rita terlihat panik


Erina melanjutkan membaca surat itu .


"Sidangnya offline Bu"


"Oh offline ya? Aduuhhh...gimana ya?" Rita tampak bingung


Daniel yang telah selesai meeting menghampiri sambil membawa Razan


"Ada apa?" Tanyanya mendengar suara panik Rita


"Jadwal sidang ku sudah keluar Yang!"


"Oh ya? Hai Erina!" Sapa Daniel


"Selamat ya Pak Daniel!" Salam Erina


"Terimakasih! " Daniel menggendong Razan dan menunjuk kan anaknya


"Wah...Ranna punya adek lagi"


"Iya, tapi yang cemburu itu Raffa" ujar Daniel bercerita


Rita tampak kesal melihat keakraban mereka.Erina membaca raut wajah Rita


"Baiklah Bu Rita, sepertinya ada klien yang datang" Erina beralasan, ia mengakhiri vcallnya.


"Terimakasih Er, nanti aku hubungi lagi!" Ujar Rita


"Baik Bu! Pak!" Pamit Erina


"Jadi gimana nih?" Tanya Rita gusar


"Kenapa?"


"Jadwal sidang ku minggu depan dan itu offline "


"Ya sudah datang saja, toh lahirannya sudah"


"Apa bayi umur seminggu boleh terbang?"


"Nah itu yang aku khawatirkan"


"Bukannya khawatir sidangnya?"


"Kalau Sidangnya, InsyaAllah aku sudah siap, aku benar-benar ingin segera lulus!"


"Razan! Mami jadi sarjana!" Berbicara dengan Razan yang baru bangun.


"Kamu santai sekali, oh iya anak-anak gimana?"


"Mereka sedang kemari, Rayya rewel sejak pagi, agaknya ia tahu saingannya sudah datang."


"Raffa gimana?"


"Dia yang menenangkan Rayya"


"Nanti aku akan minta Allan untuk mencari penerbangan yang memperbolehkan New born terbang"


"Terimakasih sayang, seperti biasa kamu selalu ada jalan keluarnya " ujar Rita tersenyum.


"Kamu jangan tersenyum manis begitu, aku jadi ingin mencium mu!" Ujar Daniel sambil menggendong Razan. Rita mengalihkan pembicaraan


"Sayang, anak-anak kapan datang?"


Rita sangat merindukan ketiga anaknya tak sabar untuk bertemu ketiga buah hatinya.


"Assalamualaikum!" Suara kecil riang terdengar dari luar kamar.


"Wa'alaikummussalam!" Jawab Daniel bergegas membuka pintu kamar.


Dilihatnya ketiga buah hatinya bersama para suster berada di luar ruangan.


"Hai!" Sapanya ramah


ia membuka pintu agak lebar.


Anak-anak berlarian masuk ke kamar


"Papiii!" Seperti biasanya Ranna nomplok di kaki Daniel, kedua adiknya mengikuti


"Aduhh...kak Ranna!" Tegur Daniel


"Maaf Pi, sakit ya?"


"Tapi boong!" Canda Daniel, ia mencium pipi anak sulungnya.


Kedua adiknya gak mau kalah mereka juga mendekati kaki papinya


"Waduh..kalian mau keroyok papi ya? Ayo deh!" Daniel mengangkat ketiga anak batitanya. Raffa digendong belakang, Ranna dan Rayya di tangan kiri dan kanannya.


"Yuk ketemu mami dan adek!" Ajak Daniel, mereka pergi ke ruang tidur.


"Mamiiii!" Teriak anak-anak kompak,


Rita sedang menggendong Razan.


Teriakan anak-anak mengagetkan Razan, ia menangis


"Hueeee!!!"


"Adek...ini kakak dan Abang!" Ujar Rita


Daniel menurunkan ketiga batita di atas ranjang , mereka berhamburan mendekati mami mereka. Rayya cemburu melihat adek barunya, ia menangis


"Huaawaaaaa!" Ia meminta Rit melepaskan Razan.


Raffa yang melihat saingannya ikut menangis.


"Huaaaa!"


Ranna heran dengan kedua adiknya tapi ia tak mau kalah, akhirnya ia ikut menangis


"Huaawaaaaa!"


Suasana kamar itu kini ramai dengan suara tangisan bayi .


"Heiii!!! Kenapa nangis semua?" Tanya Daniel menenangkan, Ranna yang pertama diam, kemudian Raffa lalu Ranna, Rayya terisak lalu menghampiri Daniel minta digendong.


"Ckckck...kalian ini!" Daniel mendudukkan ketiga anaknya berderet berhadapan dengannya dan Rita


"Kakak,Abang, Dek Rayya, dengar kan ya? Papi dan Mami tetap sayang kalian Walaupun sekarang ada adek baru! Jadi kalian gak usah takut oke?" Ujar Daniel meyakinkan,

__ADS_1


Ketiganya menatap wajah papinya yang tampak lelah.


Ranna dan Raffa mengangguk, Rayya menghampiri papinya dan minta digendong.


"Iya,mami sangat sayang kalian!" Ujar Rita tersenyum. Melihat maminya tersenyum Ranna dan Raffa mendekatinya


"Nama adek siapa mi?" Tanya Raffa


"Razan Ihsan" jawab Rita


"Ican?" Tanya Ranna


Daniel mengangguk setuju


"Iya benar kak, Ihsan!"


"Memangnya kamu mau memanggilnya siapa?" Tanya Rita heran


"Razan! Tapi Ihsan juga bagus!" Daniel mencium pipi Ranna


"Kemari Kak!" Ujar Rita, Ranna menghampiri. Rita mengajarkan menggendong Razan. Ranna mendekap Razan, ia memperhatikan wajahnya


"Adek..cakep ya mi" ujar Ranna


"Mana!" Tanya Raffa cemburu ia mendekati Ranna dan ikut memperhatikan adek bayinya.


"Abang juga cakep!" Ujar Rita mendekap Raffa.


Rayya menunjuk adeknya


"Rayya mau lihat Adek?" Daniel mendekatkan


"Papi!" Panggil Ranna


"Hah?"


"Kakak panggil Affa adek, Affa panggil Aya adek, Ayya gimana?" Tanya Ranna bingung


"Nanti Ican panggil dek Rayya kakak!" Jawab Daniel


"OOO" kedua anaknya mengangguk, hanya Rayya yang terus menyenderkan kepalanya ke Daniel.


"Kak Rayya!" Daniel menjunjung nya tinggi


"Hahahaha.." Rayya tertawa senang, wajahnya tampak lega, papinya tetap sayang padanya.


Rita kembali ke rumah tiga hari kemudian, begitu kembali ke rumah ia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi sidang skripsi.


Daniel menginstruksikan para baby sitter untuk lebih intens menjaga anak-anak agar tidak mengganggu Rita yang sedang belajar untuk sidang.


Suatu pagi Daniel membawa seseorang untuk menemui Rita.


"Sayang, keluar sebentar yuk!" Pinta Daniel, ia mendapatkan laporan dari para staf rumah Rita tidak keluar kamar sejak kemarin.


"Apa sih yang? Aku lagi belajar nih! Kamu gak tahu sih susahnya konsentrasi sambil ngasuh bayi!" Keluh Rita kesal. Ia menangis jika kesal.


Daniel paham istrinya habis melahirkan, emosinya sedang tidak stabil.


"Maaf sayang, tapi aku punya kejutan untuk kamu, yuk keluar sebentar" bujuk Daniel, ia mengambil Razan lalu merangkul istrinya keluar kamar dan turun ke lantai bawah.


"Tadaaa!! Kejutan!" Daniel menghadirkan suster Rini


"Sus Rini? Huaaaa!" Tiba-tiba Rita menangis, ia menghampiri sus Rini dan memeluknya erat


"Apa kabar Bu Rita?" Tanya Sus Rini


"Baik Sus! Sejak kapan?" Tanya Rita melihat ke Daniel


"Seminggu sebelum kamu lahiran ijin tinggal sus Rini di sini sudah beres, aku pikir kamu akan lebih tenang jika anak-anak dipegang orang yang sudah lama kamu kenal" ujar Daniel


Rita menghampiri suaminya dan memeluknya


"Terimakasih sayang" ujarnya terisak


Sus Rini mendapatkan kamar tersendiri bersama anak-anaknya, ia diperkenalkan dengan para suster lainnya.


"Sus Rini pegang Razan ya, Ranna sudah dipegang Ryan, kelihatan mereka cocok. Raffa dengan sus Erni dan Rayya dengan Eva!" Rita mengatur penugasan.


Hari itu Razan mulai diasuh sus Rini .


"Kamu mendatangkan sus Rini dan anaknya? Kok bisa?"


"Bisa dong! Aku minta tolong sama salah satu staf ku untuk mengurus kepindahannya ke sini aku kan presiden direktur!" Ujar Daniel


"Terimakasih sayang!"


"Aku ingin kamu tenang menghadapi ujian, oh iya aku juga sudah menyewa pesawat jet khusus untuk mengantar kita ke Singapura"


"Jet? Mahal dong?"


"Tenang! Aku dapat diskon dari Robby, jadi kamu bisa konsentrasi untuk ujian ya?"


"Terimakasih ya? Kamu mengurangi kepanikan ku!"


"Kamu panik juga?"


"Panik dong! Aku juga merasa emosi ku naik turun. Aku merasa sedih sekali, kesal, marah, lelah. Sepertinya anak-anak juga merasakannya. Rayya menjauhi ku karena beberapa kali aku menggunakan nada tinggi padanya" cerita Rita menyesal.


"Kamu ke kamar mereka saja minta maaf"


"Kalau aku marah lagi gimana?"


"Ya minta maaf lagi"


Rita mencubit tangannya sendiri


"Aduh!" Erangnya


"Kamu kenapa sih?" Tanya Daniel melihat istrinya menyakiti diri sendiri


"Berarti ini semua bukan mimpi"


"Mimpi?"


"Iya, punya suami yang ganteng, kaya, pengertian nikmat mana lagi yang ku dustakan?" Gumam Rita sambil pergi ke kamar anak-anak.


Di sana ia menemui anaknya dan meminta maaf pada mereka.


"Maafin mami ya kalau mami marah-marah sama kalian"


"Ya mami!" Jawab Ranna


"Ya mami!" Jawab Raffa, Rayya menjauhi Rita, ia masih takut.


"Sini kak Rayya!" Panggil Rita dengan suara lembut. Rayya menghampiri dan memeluknya


"Maaf ya kak! Mami gak akan bentak kakak lagi" bisiknya


Rayya mencium pipi Rita


"Main lagi deh!" Rita menurunkan Rayya dari gendongan. Raffa menghampiri


"Mami gak apa-apa?" Tanyanya


"Mami sedih bang!" Rita memeluk Raffa dan menangis


"Huaaa..mamiii..jangan nangis!" Ujar Raffa ikut menangis, melihat maminya menangis kedua anaknya yang lain ikutan menangis. Ketiga baby sitter menenangkan ketiganya.


Daniel yang sedang online dengan Allan mendengar kegaduhan dari kamar anaknya.


"Nanti aku hubungi lagi Al!" Ia segera ke kamar anaknya


"Hei kalian kenapa?" Tanyanya heran


"Mami menangis Pi" cerita Raffa


Daniel mendekati Rita dan memeluknya dengan sayang, ia tahu istrinya sedang mengalami baby blues, ia sudah mempersiapkan semua untuk menghadapi lonjakan emosi istrinya. Ia mengusap-usap punggung istrinya.


"Mami kenapa sih Pi?" Bisik Ranna


"Mami capek!" Jawab Daniel sambil berbisik juga.


Rita melepaskan pelukannya lalu kembali ke kamarnya.


"Sstttt ...kalian kemari!" Bisik Daniel memanggil ketiga anaknya. Ketiganya datang bergerombol


"Lucu sekali" batin Daniel


"Mami akan ujian"


"Ujian? Apa itu?" Tanya Ranna


"Itu tes seperti kita naik sabuk!" Jawab Raffa tiba-tiba


"Oh begitu" Ranna mengangguk mengerti


"Iya, jadi kalian harus sabar ya sama mami, jangan nakal!" Bisik Daniel mengingatkan


"Pi, mami mau tanding juga?" Tanya Raffa


"Oh iya!" Tiba-tiba Daniel teringat sesuatu

__ADS_1


"Kamu pandai Bang!" Daniel mencium pipi Raffa lalu keluar dari kamar anaknya.


_bersambung_


__ADS_2