
Hari yang ditunggu Daniel telah tiba, dari Singapura ia akan mampir ke Jakarta untuk menemui Rita. Ia telah berlatih untuk meminta maaf pada Rita. Selama dalam meeting, agak sulit fokus karena ia ingin segera ke Jakarta, rasa rindu dan rasa bersalah tercampur menjadi satu.
“Jadi bagaimana pak, apa Bapak menyetujui dengan usul kami?” tanya salah satu anggota
“hmm...maaf, bisa kita reses sebentar? Perutku sejak pagi mual” ujar Daniel beralasan, ia membawa berkas yang ditanyakan ke toilet kemudian ia membaca semua proposal
“Ah sial, kenapa dada ini berdebar-debar terus? Aku sulit fokus” gumamnya, kemudian ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
“Ya?”
“Pak Radian, saya Daniel”
Di belakang terdengar suara teriakan Jissoo... Lisaaa!!! Jeniee!!!Rosee!!! Saranghae!!!
“Ya Niel?” Radian menutup salah satu telinganya kemudian berpindah tempat yang lebih sepi
“Maaf pak lagi di tengah konser kah?” tanya Daniel
“Lagi fan meeting Niel,..kebetulan sekali aku sedang meeting di Jepang, eh ada fan meeting Blackpink di Korea, sekalian saja hehehe”
“Oh iya pak, saya mau menanyakan proyek kerjasama kita dengan OC Bank Singapura, itu bagaimana ya Pak?”
“Ah itu, saya dan Pak Darmawan sudah sepakat untuk bekerja sama dengan mereka Niel, tetapi kalau bisa kamu nego untuk minta kenaikan plafon kredit, kalau mereka bisa naikkan akan lebih baik”
“Apa kita gak masalah dengan pelunasannya pak? Dunia sedang dilanda resesi, saya kira menaikan jumlah pinjaman akan memperbesar bunga yang harus kita bayar?”
“Nah, itu tugas kamu untuk nego Niel, pikirkan caranya. Kami mempercayaimu Niel!, Jeniee!! Saranghae!!!” tiba-tiba Radian berteriak
“Oo begitu, jadi perusahaan akan mengikuti semua keputusan saya pak?”
“Tentu saja, kami mempercayai insting mu Niel! Oh iya setelah dari meeting cobalah bersenang-senang! Jangan kerja melulu!”
“Baik pak!”
“Saya tahu Rita sedang dalam kondisi memprihatinkan tetapi kamu jangan patah semangat, lama-lama dia akan ingat kamu lagi kok!”
“Iya Pak!”
“Oh iya Niel saya lupa mau nanya, k-Pop group yang kamu suka apa?”
“Hmm...Twice pak!”
“Oh Twice!! Favorite idolnya?”
“Jihyo pak!” jawab Daniel tersenyum
“Baiklah Niel, hubungi aku lagi jika kamu ada kesulitan!” Radian mengantongi ponselnya ia lupa menekan tombol off
“Jisooo Saranghae!!!” teriaknya
Daniel menjauhkan telepon dari telinganya
“Santai sekali pak Radian ini “ gumamnya. Ia bangkit dan mulai mempelajari proposal tersebut. Setengah jam kemudian ia kembali ke ruangan
“ Bagaimana pak?” tanya salah seorang peserta meeting
Daniel melakukan negoisasi seperti yang diminta oleh Radian, setelah perundingan yang cukup alot, akhirnya tercapai kesepakatan, mereka pun bersalaman.
“Kontraknya akan selesai beberapa hari pak dengan legal kami, Kami akan menghubungi Pak Daniel untuk menandatangani kontrak
“hmm...sekarang hari apa ya?”
“Sekarang hari Jum’at pak, weekend.”
“Oh iya, hubungi asisten saya saja untuk schedule, sudah waktunya sholat jum’at, kalian sholat jum’at juga?”
“Tidak Pak!”
“Mesjid terdekat di sini mana ya?”
“Oh Untuk sholat Jum’at di gedung ini ada Mesjid pak, tepatnya di lantai 13”
“Hmm...baiklah, terima kasih banyak” Daniel pun berangkat ke mesjid di lantai 13
Para staf dan peserta meeting berbisik-bisik
“Oh Pak Daniel muslim, baru tahu saya”
“Iya..keren banget ya?” ujar salah satu staf legal perempuan
“Iya, dari tadi saya gak lepas memperhatikannya, makin dilihat makin menagih pengen lihat terus!”
“pak Radian juga ganteng, tapi dingin. Brrrrr”
“Ah bisa saja kamu! Hahaha!”
“Kalau pak Daniel datang ke rapat, aku datang terus deh!”
“Kamu kayak mau nonton konser saja!! Hihhihi!”
“Iya benar, aku saja yang lelaki senang melihatnya, pak Daniel itu menarik, enak dilihat!”
“Iya asal jangan dijilat!”
“Memangnya pak Daniel permen! Hahahaha!” mereka tertawa lepas
Setelah sholat jum’at Daniel kembali ke hotel, ia merapikan barang-barang bawaannya
Beberapa jam kemudian ia telah tiba di Jakarta, setelah check in hotel terdekat dengan kediaman keluarga Darmawan, ia beristirahat sejenak. Malam telah tiba, ia segera berangkat menuju ke kediaman Darmawan. Sesampainya di sana, melalui interkom
“Mau bertemu dengan siapa?” tanya security
“Ms. Rita please?”
“Mba Rita sedang persami di sekolahnya, baru pulang hari minggu pak!”
__ADS_1
“Excuse me?” Daniel tidak mengerti bahasa Indonesia
Tiba-tiba pintu gerbang terbuka, Taxi Daniel masuk ke dalam halaman rumah Darmawan yang megah.
Ridwan datang tergopoh-gopoh menghampiri
“Mr.Daniel?”
“Iya?”
“Mr. Darmawan already waiting for you, please come with me!” ajak Ridwan
Daniel mengikuti Ridwan, ia masuk ke dalam rumah megah yang layaknya hotel bintang lima, Ridwan membawa Daniel ke lantai 2 rumah tersebut yang merupakan ruang kerja Darmawan.
“Have a sit down please, he’ll be here soon!” ujar Ridwan mempersilakan
Daniel mengagumi ruang kantor Darmawan, di sana terpajang foto-foto Darmawan bersama beberapa tokoh penting dunia, bahkan beberapa presiden negara Indonesia pernah berfoto bersamanya
Pintu kantor terbuka, Darmawan dengan menggunakan scooter memasuki ruangan, Daniel berdiri dan menghampiri Darmawan
(Dalam bahasa Inggris)
“Selamat Malam Pak!”
“Malam Niel! , wah kamu dari Singapura langsung kemari, gak capek niel?”
“Tadi saya sempat istirahat pak!”
“Hmm...ada keperluan apa Niel malam-malam kemari?” tanya Darmawan basa-basi
“Saya ingin bertemu Rita Pak, saya melihat permintaan take down video dari Jakarta. Setelah saya selidiki ternyata di video itu Rita. Kalau dilihat dari gerakannya saya pikir ingatan Rita sudah kembali Pak” ujar Daniel memberanikan diri
“Lalu kalau ingatannya kembali kamu mau apa?”
“yaaa??!” Daniel bingung harus berkata apa
“Bukankah terakhir kali kalian komunikasi kamu mengabaikan teleponnya sehingga ia harus menelpon Radian untuk meminta bantuan?”
“Eh??” Daniel mengingat kembali kejadian itu
“Ponsel saya matikan pak, karena sedang sibuk di kantor”
“Benarkah? Karena ia menelpon di waktu berbeda”
“mmmm...”
“Niel, aku tidak mau ikut campur urusan percintaan kalian, aku itu sudah terlalu tua. Tapi ada baiknya kalau ada masalah kalian bicarakan jangan menghilang. Jika tujuan kamu menghilang untuk cool down itu baik tapi jangan terlalu lama, nanti banyak prasangka yang muncul pada pasanganmu!”
“Apa iya Pak?”
“Menurutmu kenapa video itu di take down?”
“Supaya ia tidak dikenali pak?”
“Iya, supaya ia tidak dikenali oleh mu!, tapi ternyata sia-sia, Aku lupa kalau untuk men-take-down harus ijin perusahaan pusat.”
“Aku mengerti darah muda kalian yang masih menggebu-gebu, makanya aku ingin membatasi pertemuan kalian”
“Iya pak?”
“Lagi pula Daniel, terlalu sayang itu tidak baik juga lho, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! Nanti jika kalian bertengkar juga akan tidak baik, mungkin akan berujung pada kekerasan!”
“Tapi pak, saya tidak pernah melakukan kekerasan pada Rita, begitu juga Rita pada saya!”
“Iya saya tahu!, saya Cuma memperingatkan sebagai orang tua, saya juga pernah muda Niel. Saya sangat sayang pada neneknya Rita, bukan ibunya Metha ya, istri pertama ku. Ketika ia meninggal menyusul Eka , papanya Rita. Hatiku hancur berkeping-keping. Jika bunuh diri tidak dilarang agama, aku akan bunuh diri menyusulnya. Tapi kemudian aku melihat Andi, cucuku satu-satunya, sekarang ditambah Rita cucu perempuanku, Aku bersyukur memilih untuk tetap hidup melihat cucu-cucuku dewasa.”
Daniel mendengarkan curhatan Darmawan
“Aku mengerti perasaan Rita, sejak pulang dari Auckland, setiap pagi aku melihat matanya sembab. Mungkin ia merindukanmu Niel. Tapi hatinya bersedih karena kamu lebih memedulikan omongan orang dibandingkan dirinya.”
“Itu tidak benar pak! Kalau saya seperti itu, saya tidak akan capek-capek kemari menyusulnya!” ujar Daniel
“Itu karena kamu juga kangen sama dia, tapi kalau kamu mendengar rumor itu lagi? Apa kamu tidak akan mengabaikannya lagi?”
Kali ini Daniel diam seribu bahasa, cukup lama mereka terdiam, Darmawan kembali melanjutkan ucapannya
“Sekarang Rita sedang ada acara di sekolahnya, ia menginap di sana, baru pulang hari Minggu sore.”
“Oh begitu” Daniel bingung harus berbuat apa
“Semua aku serahkan pada kalian berdua, Aku sudah bilang ke Rita, ia harus tegas terhadap hubungan, mau lanjut atau tidak, jangan sembunyi seperti ini. Aku saja capek melihatnya, apalagi kalian!”
“Iya Pak?”
“Malam ini kamu menginap di sini, aku sudah menyuruh Ridwan untuk menyiapkan kamar untuk mu, besok pagi aku akan minta Ridwan mengantarmu bertemu Rita!”
“Tapi Pak, saya sudah menyewa kamar di hotel!”
“hmm...begitu? ya sudah terserah kamu. Kalau kamu mau kembali ke hotel, kamu bisa menghubungi Ridwan untuk bertemu dengan Rita!”
“Baik Pak, terima kasih. Saya juga minta maaf sudah membuat Anda khawatir!”
“Niel, Aku berhutang banyak pada Ayahmu, beliau banyak membantu usahaku pada saat Aku sedang merintis. Itulah sebabnya sekarang kamu menjadi CEO , jadi bukan karena kedekatanmu dengan Rita. Aku bahkan tahu kalian dekat baru-baru ini”
“Sungguh Pak?”
“Ya sebenarnya ketika pertandingan aku dan kak Sugiyono sudah curiga, tetapi kami berpura-pura tidak tahu.”
“Begitu? Apa Pak Sugiyono keberatan dengan hubungan Kami Pak?”
“Itu tergantung kamu Niel, kalau kamu mantap dengan Rita, ia tidak akan bisa apa-apa. Beliau bilang, Rita itu pribadi yang tegas, ia akan menolak sebisa dia jika ia dipaksa. Itu membuatnya sedikit takut. Makanya ketika ia mendekatkan Rita dengan Rendy, ia sangat berhati-hati, ia tidak ingin Rita melawannya”
“Begitu ya?”
“EH Niel, ini antara kita saja ya, tapi aku penasaran. Kamu gak takut pada Rita? “
__ADS_1
Daniel memperhatikan mata Darmawan, apakah itu pertanyaan jebakan atau pertanyaan sungguhan
“Mmm, maksud Bapak apa?”
“Aku melihatnya langsung ketika ia melumpuhkan orang itu, matanya garang dan tajam. Aku sampai tidak bisa berkata-kata. Aku bersyukur, untuk itu Aku tidak usah khawatir ia dibully orang lain, tapi aku juga khawatir ia akan melukai orang lain”
“Jujur ya Pak, salah satu kenapa saya sangat tertarik dengan Rita karena ia seperti itu, pemberani dan tangkas. Sewaktu kecil, saya sering melihat ibu saya dipukuli ayah ketika beliau mabuk, Ibu sangat tidak berdaya. Jadi ketika saya melihat Rita dengan kemampuan dan keberaniannya saya menjadi sangat tertarik padanya.”
“Kalau ia melakukan kekerasan padamu bagaimana?”
“Setahu saya Rita tidak akan melakukan kekerasan tanpa alasan Pak, ia pernah bilang salah satu acaranya menghilangkan stress itu melalui bela diri”
“Begitu ya? apa dia gak lebih cowok dari cowok?”
“Dia cowok yang manis kalau begitu pak!” canda Daniel, tapi Darmawan tidak tertawa ia hanya menatap Daniel dengan wajah serius, sehingga Daniel salah tingkah
“Hmm..kalau kamu bisa tahu, apa Andi juga tahu ya?” gumam Darmawan
“Saya sudah mengijinkan video itu di take down Pak!”
“Yah, sebenarnya itu untuk menghindari Kamu, bukan Andi. Kalau dia tahu, pasti sudah ribut kemari”
“Kenapa Pak?”
“Sejak kepribadian Rita berubah, ia sangat stress. Dia selalu ribut bilang Rita yang sekarang gak asyik dan merepotkan. Dia sampai membuat wajah Rita di print lalu jadi sasaran panah. Itu karena ia kesal Rita merusak dronenya”
“Apa Andi sehat mental pak?” tanya Daniel khawatir
“Insya Allah sehat Niel, aku juga sudah konsultasi dengan psikolog. Aku punya psikolog pribadi untuk cucu-cucuku, aku ingin mendeteksi mental health mereka sedini mungkin. Sejauh ini mereka sehat-sehat”
“Alhamdulillah!”
“Oh iya Niel, Aku dengar kamu telah resmi mualaf?”
“Iya Pak!”
“Sejak kapan?”
“Sejak sebulan lalu Pak!”
“Apa kamu mantap?”
“Insya Allah Pak, saya juga sudah sholat lima waktu dan sholat jum’at”
“Bagus kalau begitu!, tapi kalau kamu putus dari Rita, gak akan kembali ke agama lamamu kan?”
“Insya Allah tidak Pak!, Saya sudah memikirkan sejak lama. Sebenarnya saya sudah mualaf sejak di tugas di Dubai dulu, tetapi tidak serius Pak. Setelah saya melihat Rita dan Andi beribadah, saya jadi tertarik dan ingin mendalami Islam lebih dalam. Sekarang saya sedang belajar mengaji pak”
“Ooo..Alhamdulillah, semoga kamu menjadi imam yang baik untuk Rita ya Niel, Mudah-mudahan kalian berjodoh!”
“Aamiin Pak, terima kasih. Saya permisi dulu pak, saya mau check out dari hotel dan menginap di sini”
“Oh iya, baiklah” Darmawan memencet bel, Ridwan datang menghampiri
(bahasa Indonesia)
“Ridwan, tolong minta Imam untuk antar pak Daniel ini ke hotelnya lalu kembali kemari. Kamu ikut saja Imam tidak bisa berbahasa Inggris”
“Baik Pak!” Daniel mengikuti Ridwan meninggalkan ruangan Darmawan
(Dalam bahasa Inggris)
“Kenalkan saya Ridwan, ketua pengurus rumah ini!”
“Saya Daniel!”
“Daniel? Ohh,..Pak Daniel yang itu?”
“Yang itu?” Daniel bingung
“Iya, pacarnya mba Rita, waahh, akhirnya saya ketemu dengan tokoh keduanya”
“Maksudnya Pak?” Daniel meminta klarifikasi
“Saya mendengar tentang Anda dari mba Rita, tapi dia gak pernah cerita kalau pacarnya sekeren ini!”
“Terima kasih Pak, Rita memang jarang memuji ya?” ujar Daniel tersenyum
“Gak heran ya, mba Rita sering sedih. Kalau pagi mau berangkat sekolah, saya selalu melihat matanya sembab seperti habis menangis. Saya pikir karena efek lensa kotak, tapi kayaknya habis menangis.”
“Oh ya? kira-kira apa sebabnya? Apa sekolahnya membuat dia stres?”
“Kayaknya enggak deh, malah ia sangat bersemangat kalau berangkat sekolah, mba Rita bilang ia senang kalau sibuk bisa melupakan beban di hati”
“Ooo begitu, oh iya Pak, besok bisa antarkan menemui dia?”
“Tapi mba Rita menginap di sekolah pak Daniel”
“Ya, Bapak bisa membuat alasan supaya saya bisa ketemu dia? Saya ingin meluruskan semuanya Pak!”
“Besok saya usahakan pak, tapi ada baiknya saya gak bilang Anda datang ya?, soalnya terakhir dia bilang tentang ghosting, itu apa ya?” tanya Ridwan polos
“Ghosting? Oh itu artinya menghilang tanpa jejak Pak !”
“Oh begitu, jadi mba Rita mau menghilang tanpa jejak” gumam Ridwan
“Hmm...begitu rupanya” Daniel menggumam
“Kalau begitu, saya tidak jadi menginap malam ini Pak, tolong antarkan saya ke hotel saja. Saya akan kembali ke NZ besok pagi”
“Eh tapi Pak Daniel, kata pak Darmawan?”
“Iya gak apa-apa nanti saya yang menjelaskan padanya!”
“Baiklah Pak!”
__ADS_1
Mobil yang ditumpangi Ridwan dan Daniel menuju hotel, merekapun berpisah. Keesokan harinya Daniel kembali ke Auckland, ia menunda untuk bertemu dengan Rita
_ Bersambung_