Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 269: Kembali


__ADS_3

Rita telah tiba di rumahnya, begitu sampai di rumah, ia segera ke kamar tidur anak-anaknya, dilihatnya anak-anak telah lelap tertidur, kemudian ia segera berganti pakaian. Ia membuka ponsel yang ia tinggalkan sejak pagi, lalu menghubungi beberapa nomor yang telah melakukan miscall sebelumnya.


Ia menghubungi manajer D’Ritz di Singapura


“Hey! Maaf saya baru bisa dihubungi”


“Selamat Siang bu Rita!” sapa manajer


“Selamat Siang, bagaimana kabar D’Ritz?”


“Semuanya berjalan lancar bu, tetapi kami mendapat tawaran untuk menjadi sponsor dalam acara olah raga tahunan di salah satu perusahaan”


“Apa perusahaannya besar?”


“Lexington bu”


“oh..Lexi, kenapa ia meminta kita menjadi sponsor? Bukannya mereka sudah cukup kaya untuk membeli dari kita saja?”


“Mungkin mereka ingin kita memberikan diskon bu, bagaimana menurut ibu?”


“Hmm...kapan acaranya diadakan?”


“Masih dua minggu lagi”


“Masih lama kenapa sepertinya mendesak sekali?”


“Ketua panitia penyelenggaranya mendesak saya terus bu, saya katakan pada mereka semua tergantung keputusan owner”


“Bisa kirimkan proposal mereka? Aku ingin mempelajarinya. Menjadi sponsor mudah, tetapi perusahaan besar ingin kita mensponsori acara? Aku pikir aku harus tahu acaranya tentang apa dan siapa saja yang hadir”


“Baik bu, akan saya teruskan proposal ke email Anda.”


“Oh iya, apa ada keluhan lain? Dari supplier mungkin?”


“Tidak ada bu, saya juga mengirimkan laporan penjualan dan keuangan bulan lalu”


“Baiklah, oh iya, dari Lexington itu, kapan ia meminta jawaban dari kita?”


“Mereka bilang seminggu sebelum acara bu”


“baik, mudah-mudahan aku bisa ke sana weekend nanti”


“Eh ibu mau ke sini?”


“Iya, sudah lama aku tidak mengunjungi toko, aku ingin tahu perkembangan toko dan cafe”


“Baik bu, kami tunggu kedatangan ibu”


“Terima kasih!” Rita menutup percakapannya dengan manajer D’Ritz di Singapura, kemudian ia menghubungi pekerjanya di mall.


“Ada apa? bukannya aku bilang hari ini libur dulu?”


“Iya bu, tapi tadi kami kena tegur”


“Siapa yang menegur?”


“Pengelola food court bu, mereka bilang tidak bisa seenaknya tutup”


“Kok begitu? Apa kita merugikan mereka?”


“Mereka bilang kalau satu tenant tutup, maka food court akan terlihat sepi. Pengunjung akan menghindari datang ke food court bu”


“Aku baru dengar peraturan gak boleh tutup sehari” ujar Rita kesal


“Mereka bilang, kalau terjadi lagi kita akan didenda bu”


“Ah, mereka ini mengada-ada saja. Ya sudah, kalian sekarang ada di mana?”


“Kami sudah di luar mall bu, baru saja kami di briefing”


“Ya sudah, besok aku akan membuat lebih banyak, kalian gak usah khawatir. Oh iya besok kalian datang lebih pagi ke mall, jam 9, mungkin aku akan masak di situ”


“Tapi tempatnya sempit bu”


“Ah iya, kalau begitu lebih baik masakannya aku buat di rumah lalu di bawa ke mall ya seperti biasanya”


“Iya bu.”


“Baiklah, tapi tetap kalian datang lebih awal ya?”


“Baik bu”


“Oke, terima kasih!” Rita menutup percakapan dengan karyawannya di mall. Pak Ridwa datang ke teras tempatnya menelpon


“Mba Rita memanggil saya?”


“Suami saya kemana ya?”


“eh?” Ridwan terlihat bingung


“Tadi, dia bilang mau pulang duluan, tetapi saya tidak bertemu dia sejak tadi”


“Beliau belum kembali ke rumah mba. Tadi jam 11, saya menghubungi beliau karena mba Rita susah dihubungi. Beberapa orang menghubungi rumah ini karena ponsel mba Rita tidak diangkat. Saya pikir itu hal yang penting, makanya saya menghubungi pak Daniel”


“oh begitu, saya tadi sedang ada keperluan mendesak” Rita menghindari kontak mata dengan pak Ridwan


“oh iya pak, staf dapur hari ini sibuk semua?”


“Ada beberapa yang bebas mba, kenapa?”


“Aku ingin minta bantuan mereka untuk mengantar ku berbelanja”


“Eh belanja? Kemarin bagian rumah tangga sudah belanja mba”


“Bukan untuk rumah ini, tetapi untuk resto saya di mall, pak Ridwan gak tahu ya sama membuka resto di mall?”


“Belum tahu mba Rita, wah makin sibuk saja”


“Sebenarnya sih saya sedang mencoba-coba pak, untuk 4 bulan ini saja, eh ternyata sambutannya lumayan. Makanannya habis terus”


“Wah, selamat ya mba”


“Terima kasih, jadi bisa tolong kirim dua staf untuk menemani saya belanja ke pasar? Mumpung anak-anak masih tidur”


“Bisa mba, nanti saya suruh mereka menunggu di depan”


“Baik, terima kasih!”


Ridwan kembali ke ruangannya, Rita menelpon suaminya


“Halo?”


“Hei! Kamu di mana? Katanya tadi pulang? Aku sudah di rumah kamu gak ada?”


“Ah iya, tadi aku dalam perjalanan pulang, Samuel menghubungiku untuk kembali ke kantor ada urusan klien mendesak.”


“Jadi tadi kamu sengaja meninggalkan kantor untuk mencari ku?” tanya Rita heran


“Iya, sebelumnya Samuel bilang semua jadwal hari ini sudah aku selesaikan, jadi aku bilang ada janji dengan internis”


“Kamu sampai berbohong hanya untuk mencari ku?” Rita semakin tidak enak hati pada perhatian suaminya


“Aku bosan di kantor, lagi pula kapan lagi bisa jalan sama kamu tanpa anak-anak, iya kan?”


“Kamu akan pulang jam berapa?”


“Seperti biasa saja”


“Oh begitu”


“Kenapa? Apa suasana hati mu masih belum berubah?”


“Sudah biasa kok, aku mau ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk jualan besok”


“Pasar? Jam segini masih ada yang buka?”


“Masih, malah mungkin harganya bisa lebih murah karena sudah siang, baiklah aku tunggu di rumah ya?”

__ADS_1


“Iya, hati-hati ya?”


“Dahh!!”


Rita menyudahi teleponnya


“Ah..mungkin aku itu terlalu mendramatisir, suami ku sangat perhatian padaku, tapi aku malah melunjak!” gumamnya sambil menatap walpaper di ponselnya yang merupakan foto mereka berdua


Rita bersama kedua stafnya pergi ke pasar, ia membeli beberapa kg daging sapi, daging ayam juga sayur-sayuran. Ia juga membeli beberapa bahan makanan kesukaan suaminya.


Studio masaknya yang dulu ia ubah  menjadi dapur untuk memasak keperluan berdagang. Ia juga sudah menyiapkan wadah untuk menyimpan makanan serta packaging untuk di bawa ke mall besok.


Suara tangisan Rayya yang digendong baby sitter, membuatnya menghentikan kegiatan. Ia menghampiri anaknya


“Adek..kenapa menangis baru bangun ya?” ia mencium lalu menggendong anaknya dengan sayang


“Sudah diberi susu?” tanya Rita kepada baby sitter


“Persediaan ASInya sudah habis bu, tadi Ranna dan Rayya masing-masing mengambil dua kantong”


“Anak-anak itu, oh iya Ranna sudah bisa minum susu formula, kamu bisa mencegahnya mengambil ASI bagian Rayya” ujar Rita sambil menyusui Rayya


“iya bu, tetapi Ranna itu sangat lincah, gerakannya cepat, susternya sampai kewalahan untuk mencegahnya mengambil ASI”


Rita tersenyum mendengar tingkah lucu anak perempuan pertamanya


“Sekarang dia di mana?”


“Sedang mandi bu, bersama Raffa”


“Tapi mereka sudah makan?”


“Belum, mereka bilang mau mandi dulu”


“Ah, para suster ini, mau saja didikte sama bayi!” Rita segera keluar dari studio dapurnya, lalu datang ke kamar anak-anak


“Mami!!!” panggil Ranna dan Rayya, mereka sedang main air di kamar mandi


“Kenapa kalian gak makan dulu? Nanti kotor lagi badannya?” ujar Rita sambil menggendong Rayya


“I don’t want to eat!” ujar Raffa


“Mee too!” Ranna menambahkan


“Eh kenapa? Kalau lapar bagaimana? Gak bisa tidur kan?”


“Because, you’re gone!” jawab Raffa


“Ya, mami ilang!” ujar Ranna


“Mami gak ilang, nih ada lagi”


“But, you’re not here. Mami not love us!” ujar Raffa, ia masih bermain dengan mainannya di bak mandi.


Rita terdiam, lalu menyerahkan Rayya ke susternya.


“Maafin mami ya? mami gak akan menghilang lagi”


“really?” tatapan mata Raffa menusuk hati Rita


“Mami not love us!” ujar Ranna


“Of course mami love you all!” Rita menangis menyesal. Ia menangis di depan kedua batitanya dan para suster. Para suster merasa tidak enak hati mereka saling berpandangan, Ranna dan Raffa menghampiri Rita dan memeluknya


“Mami not cry!” ujar Raffa , tubuh kecil yang masih basah memeluk Rita. Ranna mengikuti adiknya


“Mami jangan nangis” ia mulai ikutan menangis


“huuuaaaaa....mami jangan nangis!!!” ujar Ranna, Rita mengusap air matanya dan memeluk kedua batitanya


“Iya...maaff..maaff...mami gak nangis lagi deh!”


“Beneran?” tanya Ranna mengusap air mata di pipi Rita


“Beneran! Sekarang selesaikan mandi kalian!, setelah itu temani mami makan ya?”


“yess!!!” keduanya berteriak kompak, Rita kembali menggendong Rayya dan menunggu mereka di ruang makan. Ia terkejut, Daniel sudah ada di ruang makan


“ Iya, tadi setelah klien konsultasi sebentar, aku langsung pulang” sebenarnya ia mendengar percakapan Rita dengan kedua batitanya. Ia merasa terharu, tapi juga berusaha mengerti perasaan istrinya.


“jadi kita makan apa hari ini?”


“Ah iya, tadi aku membuat sop daging kesukaan mu, juga martabak dan perkedel kesukaan anak-anak”


“Pasti enak nih!” Daniel mengambil nasi dan menuangkan lauk. Tak berapa lama kedua anak batitanya bergabung dengan ujar mereka.


“Papi kok pulang?” tanya Ranna dengan suara lucu


“Kenapa? Memangnya papi gak boleh pulang?” jawab Daniel bercanda


“Papi!” panggil Raffa


“Ya?”


“Welcome home!” ujar Raffa


“Terima kasih bang Raffa, tuh kak, abang Raffa baik banget sama papi!”


“Kalian makan bareng kami yuk!” ajak Rita kepada kedua baby sitter


“Kami makan di ruang makan kami saja bu, pak. Kami permisi dulu”


“Terima kasih!” ujar Rita tersenyum.


Mereka keluar dari kamar Rita yang megah, setelah agak jauh


“Tadi bu Rita kenapa ya?”


“Iya, gak biasanya menghilang begitu”


“Kalau hanya pergi 2 jam sebenarnya bukan hilang kan?”


“Iya sih, tapi dia gak ngomong sama siapa-siapa pergi kemana jadi dicariin”


“Oh begitu, tapi pak Daniel sabar juga ya? kalau suami ku pasti marah banget tuh, ninggalin anak! Gak sayang anak ya?” ujar salah satu suster


“Pak Daniel mah beda, katanya dia sengaja keluar dari kantor untuk mencari bu Rita”


“Ah masa?”


“Iya, tadi pak Ridwan yang bilang”


“Namanya orang ada saja gak puasnya ya?”


“Maksud mu?”


“Coba bayangin deh,pak Daniel, sudahlah tampan, kaya, sholeh, eh tetap saja hampir ditinggal istrinya”


“Hush! Engga begitu ceritanya, pasti bu Rita ada alasan kenapa ia pergi “


“Iya sih, tadi aku sempat terharu juga lho, tadi adegannya mirip di sinetron ya?”


“Lebih bagus dari sinetron “


Malam hari, setelah sholat Isya di mesjid, anak-anak telah terlelap di kamarnya. Rita masih berada di teras depan kamar.


“Kok belum masuk?” tanya Daniel, ia memeluk dari belakang


“Gerah di dalam!” jawab Rita


“Kamu sudah gak apa-apa?” tanya Daniel


“Sedikit, tadi anak-anak marah sama aku, mereka gak mau makan”


“Masa? Tadi lahap makannya?” Daniel duduk sambil menghadap istrinya yang menatap ke taman depan teras


“Itu  setelah aku bujuk dan minta maaf, baru deh mereka mau makan, apa kamu yang bilang aku menghilang?”

__ADS_1


“Enggak! aku bahkan belum pulang ke rumah”


“Kenapa mereka bisa tahu?”


“Mungkin mereka biasa melihat mu, atau kalau pun kamu pergi pasti akan bilang sama mereka”


“Begitu ya? anak-anak itu perasaannya tajam ya? aku merasa bersalah melihat tatapan kesal Raffa”


“Kamu gak merasa bersalah dengan tatapan memelas ku tadi di mall?” tanya Daniel


“Sedikit!, tapi aku masih kesal jadi gak ngaruh”


“Wah jahat juga ya? tapi akhirnya aku mengerti perasaan mu sih”


“Huh?”


“Aku tadi saat pertemuan dengan klien, tiba-tiba aku teringat alasan aku menerima pekerjaan di Lexi”


“Bukannya karena gajinya yang berlipat-lipat?”


“Selain itu juga untuk membuktikan kepada orang-orang yang menganggap rendah diri ku, walaupun akhirnya aku bingung sendiri siapa mereka yang memandang ku rendah?”


“Mungkin itu sebabnya kita berjodohnya, sifat kita kurang lebih sama” ujar Rita tersenyum


“Aku lebih suka melihat mu tersenyum, semilyar rasanya” goda Daniel


“Maaf kan aku ya? aku janji kalau me time atau kesal atau pergi ke mana pun akan bilang dulu ke kamu”


“Sebentar!” Daniel ke dalam kamar sebentar lalu mengambil ponselnya


“Apaan tuh?”


“Coba ulangi janji mu! Aku mau rekam!” ujar Daniel setengah bercanda


“Aku janji akan bilang dulu kalau mau pergi!”


“Noted!” Daniel menyimpan rekaman suara Rita


“Tapi kok tadi kamu bisa menemukan aku?”


“Sebenarnya aku sudah ke sasana olah raga kita, lalu ke tempat bermain anak-anak, juga ke mall.”


“Tapi bagaimana?”


“Supir taksi yang memberi ide, dia nanya, apa sebelumnya kamu pernah menghilang seperti ini. Aku ingat ketika kamu dimarahi pak Radian, kamu juga menghilang seperti ini”


“Oh begitu, ingatan mu tajam juga ya?”


“Tadi aku sempat takut kalau kamu akan menghilang selamanya, hati ku sakit sekali waktu kamu gak ikut naik taksi ku” Daniel berbisik ke telinga istrinya. Rita membalikan tubuhnya menghadap suaminya


“Jangan berlebihan begitu, aku tidak akan meninggal kan mu dan anak-anak!” ujarnya sambil mencium bibir Daniel,


“Sungguh?”


“Sungguh!”


“Syukurlah, yuk masuk ke dalam “ Daniel merangkul istrinya masuk ke dalam kamar mereka.


“Eh btw, tadi instruktur anak-anak namanya siapa?” tanya Daniel di sambil mengganti piyama


“Lukman?”


“Oh iya Lukman, dia yang akan menjadi instruktur anak-anak di sini?”


“Iya”


“Lumayan tampan ya?” ujar Daniel cemburu


“Bukan aku yang memilih, tetapi Ranna, dia menyukainya”


“Ranna apa maminya yang suka?”


“Ranna! Beneran deh, kamu bisa tanya Raffa besok. Anak itu sudah bisa membedakan cowok yang tampan dan yang enggak”


“Mirip seseorang ya?” ledek Daniel


“Tapi bukan Lukman saja yang akan part time di sini, rekannya Mawar dan Budi juga akan membantunya”


“Memangnya ada berapa anak yang akan ikut di taman bermain mu?”


“Aku sih baru dapat tiga anak”


“Jangan-jangan yang tiga itu anak kita?”


“Bukan!, mereka teman saat di dokter. Aku menawarkan taman bermain untuk anak batita, kelihatannya mamanya tertarik”


“Apa ibu itu sanggup bayar?”


“Tentu dong! Kamu tahu kan dokter anak langganan kita itu dokter mahal, pasti pasien-pasiennya juga orang kaya”


“Syukur lah, lalu apa kamu sudah memutuskan tentang kuliah mu?”


“Aku akan mengikuti saran mu. Sebaiknya aku mengambil cuti dulu semester depan di UT untuk menyelesaikan yang di Singapura”


“Nah begitu! Bukannya aku meragukan otak mu, aku saja sempat beberapa kali remedial ketika mengambil S2 dulu”


“Kamu? Beneran?”


“Bener! Aku kan sering bolos kuliah. Matrikulasi gak ikut, satu-satunya penyemangat menyelesaikan kuliah itu pak Radian”


“Dia menyemangati mu? Bagaimana?”


“Beliau bilang kalau aku bisa meraih gelar S2, aku akan mendapatkan posisi yang lebih baik daripada hanya sekedar menjadi asistennya”


“Oh begitu, tapi walau sudah S2, kamu tetap jadi asistennya?”


“Beliau bilang, Cuma aku yang memahaminya”


“Begitu doang kamu terbujuk?”


“Bukan begitu saja, aku pikir baiklah, toh dengan menjadi asistennya aku bisa bebas dekat sama kamu!”


“Kamu boong kan?”


“Beneran! Kenapa harus boong?”


“Soalnya waktu itu kamu dingin sekali!”


“Hei, usia mu terpaut jauh dari ku, tentu aku harus jaga wibawa”


“Tapi, kenapa kamu membiarkan aku salah tingkah jika di dekat mu?”


“Memangnya kamu pernah salah tingkah? Kayaknya normal-normal saja deh!”


“Ah sudahlah! Yang berlalu biarkan saja berlalu, toh sekarang yang penting kamu sudah menjadi suami ku!” Rita menutup tubuhnya dengan selimut


“Eh kalau diingat-ingat, benar juga sih”


“Benar? Tentang apa?”


“Ranna, sewaktu pernikahan Lisa, dia menempel terus sama si Dewa. Wah benar-benar deh tu anak, masih bayi padahal”


Rita tidak menanggapi ucapan suaminya


“Yang? Eh dia sudah tidur!” Daniel mengecup kening istrinya lalu mematikan lampu tidur. Mereka pun terlelap dalam dunia mimpi mereka


_Bersambung_


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2