Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 206: Mimpi Daniel


__ADS_3

Daniel dibawa ke UGD dan menjalani beberapa tes


“Rita? Aku dimana nih?” Daniel terbangun setelah menjalani beberapa tes yang melelahkannya. Ia melihat istrinya sedang mengetik di sisi tempat tidurnya.


“Hai, sayang!! Kamu tadi menjalani tes kesehatan cukup banyak sampai kelelahan” Rita menghentikan kegiatannya dan menghampiri suaminya


“Kamu sudah makan?” tanya Daniel


“Sudah tadi, oh ya dokter ingin memeriksa lambung dan usus mu jadi kamu puasa dulu ya?”


“Kok seperti mau operasi?”


“Tidak..Cuma prosedur saja”


“Banyak tes ini mahal sekali ya?”


“Tenang, asuransi kesehatan masih mengcover, lagi pula ini rumah sakit kakek.”


“Aku sedikit lega, aneh memang sebelum menikah aku berjanji pada diriku tidak akan membiarkan aku dan keluargaku menikmati fasilitas kakek, eh ternyata sekarang”


“Jangan terlalu dipikirkan, kakekku hanya ingin cucu mantunya sehat dan terus menemani cucunya”


“Kamu juga istirahat lah, sedang hamil” ujar Daniel kembali merebahkan dirinya


“Aku sejak tadi istirahat, sampai bosan.”


“Kamu mengerjakan apa?”


“Aku sedang mengecek penjualan D’Ritz selama kita pergi”


“Oh ya? bagaimana?”


“Kami menerima pesanan 600 pcs roti akhir minggu ini. Sepertinya aku harus menyiapkan bahan lagi”


“Tunggulah, nanti aku akan membantu mu!”


“Aku lebih membutuhkan mu dalam keadaan sehat, ingat anak-anak mu masih kecil-kecil”


“Oh iya, Ranna mana?”


“Kakek mengirimkan seorang baby sitter, sekarang ia bersamanya. Mario juga ikut mengawasinya”


“Sebenarnya aku sakit apa Yang?”


“Mudah-mudahan hanya flu biasa. Tetapi Kakek ingin pemeriksaan menyeluruh, beliau takut kamu terpapar virus berbahaya yang sekarang sedang trend”


“Kenapa kamu tidak? Kamu kan lebih membutuhkan?”


“Aku sudah di tes, bayi dalam kandungan ku juga sudah. Kami sehat dan bebas dari virus”


“Kenapa hasil tes ku lama?”


“Entahlah, yang penting kamu istirahat saja”


“Kamu mau kemana?” tanya Daniel, ia melihat istrinya menjauhinya


“Aku di sini kok! Tenang saja. Oh ya aku sudah memberitahu Eddy tentang kondisi mu. Aku akan menghubungkan kalian melalui Vcall, bagaimana pun juga kamu kan penanggung jawab proyek”


“iya, aku tahu. Istriku ini ternyata gila kerja ya?”


“Aku hanya memikirkan tentang kamu saja kok” Rita tersenyum dan memeluk suaminya untuk menenangkan lalu kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan pekerjaannnya.


Tak berapa lama dokter datang,


“Pak Daniel!, Anda kelelahan. Tubuh Anda mengalami depresi. Semua tes bagus, termasuk jantung, pankreas, ginjal bahkan sistem imun Anda”


“tapi kenapa saya merasa lemas dok?”


“Itu karena tubuh Anda depresi, mungkin karena terlalu banyak beban pikiran sehingga mempengaruhi keadaan tubuh Anda”


“Apa sudah bisa pulang dokter?” tanya Rita


“Belum bu, kami belum mengecek sistem pencernaannya” jawab dokter. Beberapa suster datang mereka membawa Daniel ke ruangan lain, Rita mengikutinya. Untuk tes tersebut Daniel sengaja dibuat tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi.


“Ranna! Kamu sudah harus menjemput mama mu ke Jakarta kan?” tanya Andi pada Ranna yang kini berusia 21 tahun


“Iya Wa, aku sedang menunggu Rafardhan”


“Adik mu itu, lagi ngapain dia?”


“Tadi dia bilang masih di pacuan kuda sedang mengecek kuda-kuda yang baru datang”


“Kapan dia lulus kuliah?”


“Dia sedang mengerjakan tugas akhir Wa”


“Rafardhan Ahmad Kang, nama yang indah bukan? Aku sering kasihan padanya. Ayahnya meninggal ketika ia masih dalam kandungan sehingga ia tidak mengenal papanya” ujar Andi


“Aku juga sama-samar mengingat papi, Wa”


“Aku gak menyangka Daniel yang begitu perkasa, bisa roboh karena virus sejenis flu”


“Papi sakitnya lama Wa?”


“Cuma sebentar! Uwa saja kaget, sehari setelah kalian kembali dari London, papi mu langsung masuk UGD, sehari kemudian ICU lalu langsung meninggal”


“Waktu itu tidak terdeteksi jenis virusnya Wa?” tanya Ranna


“Dulu belum terdeteksi, padahal sekarang obat akibat infeksi virus itu sudah dijual bebas”


“Wa, bu De kapan datang ke Auckland?”


“Bude? Maksud mu istriku?”


“Iya?”


“Mungkin siang ini, dia selalu cemburu pada kalian.”


“Cemburu? Kenapa?”


“Dia bilang aku lebih memperhatikan keponakan-keponakanku dibandingkan anakku sendiri”


“Apa iya Wa? Setahu ku Uwa sama sayangnya dengan Radhika dan Rafie”


Tak berapa lama seorang lelaki muda datang menghampiri mereka


“Assalammu’alaikum!”


“Wa’alaikummussalam! Fardhan sudah selesai checking kudanya?” tanya Ranna. Rafardhan menghampiri Andi dan mencium punggung tangannya


“Sudah kak, aku sudah mencoba beberapa. Mereka kuda dari keturunan ningrat!”


“Kita akan ke Jakarta siang ini kan?” tanya Ranna


“Gak usah, tadi mami nelpon. Beliau akan datang kemari. Ia sangat penasaran dengan kuda-kuda baru yang aku ceritakan padanya”


“Oh ya? Rita akan datang?” Andi terlihat senang


“Wa, kenapa Uwa kelihatan begitu senang dengan kedatangan mami?” tanya Ranna melihat wajah Uwa kesayangannya


“Mami itu adik kesayangan Uwa, seperti Rafardhan bagimu”


“iya sih, tapi kelihatannya Uwa senang sekali”


“Kalau mami mu datang, suasana jadi berubah cerah. Mami mu membawa vibe positif”


“Memang!” Fardhan hendak memakan kue-kue yang ada di meja


“kamu cuci tangan dulu! Kotor!” Ranna mengambil kue dari tangan Fardhan


“Iya Kak! Kakak ini bawel sekali!” gerutu Fardhan, ia segera ke belakang untuk mencuci tangannya


“Pakai sabun ya??” teriak Ranna


“Iya bawell!!” jawab Fardhan, Andi tersenyum melihat keponakannya yang beranjak dewasa


Tak berapa lama Fardhan kembali lagi dan duduk bersama Ranna dan Andi


“Aku senang sekali melihat kalian kumpul di sini sudah dewasa, terutama kamu Fardhan bisa melewati masa puber dengan baik walau tanpa papi kalian!”


“Wa, papi Daniel itu seperti apa orangnya?” tanya Rafardhan


“Kamu kan sudah sering melihat videonya?” ujar Ranna


“aku gak suka!”

__ADS_1


“kenapa?”


“Karena cuma ada gambar kakak di situ, bikin iri saja” ujar fardhan


Ranna dan Andi terdiam


“Papi mu orangnya baik sekali, dia betul-betul ayah dan suami yang baik.”


“Oh ya? bisa ceritakan lebih detail lagi?”


“Papi mu sangat menyayangi keluarganya, kepergiannya sangat cepat. Mami mu juga sampai shock, kamu harus lahir prematur di usia kandungan 6 bulan ketika papi mu tiba-tiba meninggal”


“Aku tahu yang itu, aku Cuma ingin tahu kepribadian papi Daniel”


“Dia sangat mementingkan keluarganya. Ketika kamu di dalam kandungan, ia yang mengambil alih semua tugas rumah tangga supaya mami mu gak capek.”


“Tapi mereka kan orang kaya, bisa membayar orang untuk itu” ujar Fardhan


“Memang benar!, tetapi papi mu tidak mudah percaya sama orang. Bahkan karyawan di kantornya sendiri. Aku ingat, mami mu pernah cerita. Setelah Ranna dititipkan selama beberapa jam pada staf kantornya, ia langsung membawanya ke rumah sakit untuk dicek kesehatannya, ia khawatir Ranna menelan sesuatu atau diberi makan sesuatu yang tidak sehat”


“Kak Ranna lagi, sebal aku!” ujar Fardhan


“Habis gimana dong? Aku kan lahir lebih dulu dari kamu!” ujar Ranna


“Iya makanya aku sering iri sama kakak!, hampir semua dokumentasi papi, pasti tentang kalian bertiga” keluh Fardhan


“Sudahlah!, Fardhan jam berapa mami mu minta di jemput?”


“Nanti malam Wa, sekarang beliau masih di pesawat” jawab Fardhan


“Tuh wa, mami bahkan selalu menghubungi Fardhan dari pada aku” ujar Ranna


“Kalian jangan saling iri-irian begitu, mami dan papi sama sayangnya dengan kalian!”


“Wa, aku penasaran kenapa mami tidak menikah lagi?” tanya Ranna


“Memangnya Kakak mau kita punya papi tiri?” tanya Fardhan


“Aku penasaran saja, mami sendirian membesarkan kita, apa gak kesepian?”


“Sebenarnya gak sendirian juga kan? Ada Uwa Andi, Om Mario, Pak De Dewa, nenek Ratna” ujar Fardhan menyebutkan


“Iya sih, maksud ku, apa mami gak mau menikah lagi. Wa aku dengar dulu Pa De Dewa sempat naksir mami ya?”


“Kata siapa?”


“Om Mario!, beliau kalau datang selalu dalam bentuk past-tense” jawab Ranna


“Mario memang sering ngaco, pak De Dewa hanya menganggap mami mu sebagai adik saja tidak lebih, lagi pula sekarang beliau sudah punya keluarga sendiri”


“Iya sih Wa. Sekarang saja Pak De kelihatan ganteng banget, apa lagi dulu waktu masih muda ya?” ujar Ranna


“Ih kakak, merhatiin pak De! Jangan-jangan seleranya bapak-bapak tua nih!” ledek Fardhan


“Yee,..enak aja lo!” Ranna melempar bantal kursi ke Fardhan dan berhasil ditepisnya


Sementara di pesawat


“Siapa Rit?” tanya Ratna yang duduk di sampingnya


“Ini ma, Roger dia bertanya kapan aku kembali ke Jakarta”


“Roger?


“Itu ma, CEO Dar.Co”


“Yang bule orang Italy itu?”


“he eh! Wah ganteng tuh Rit, dia mualaf?”tanya Ratna, Rita mengangguk


“Boleh tuh Rit, kelihatannya dia baik!”


“Roger memang baik kok ma, tapi Rita menganggapnya teman saja”


“Kenapa? Kamu sudah lebih 20 tahun sendiri, kamu masih muda, masih cantik kalau ada yang mau lanjutkan saja!”


“Enggak ah ma!, Rita belum melupakan Daniel!” jawab Rita


“Kamu itu, walau sudah 20 tahun masih bucin saja sama Daniel!” keluh Ratna


“Pikiran dan hati Rita hanya untuk anak-anak dan D’Ritz ma, yang lain-lain tidak penting!”


“Mama juga sendiri kan? Kita sama ma?”


“Kalau mama beda Rit, gak ada lelaki yang bucin sama mama, seperti Roger sama kamu”


“Itu karena mama memang menutup diri kan?”


“Memang!, tapi mama asyik dengan usaha mama sendiri”


“Kita sama ma!” Rita tersenyum, Ratna kembali terdiam


“Eh Rit, kalau Roger melamar mu bagaimana?” tanya Ratna


“Sebenarnya Roger sudah melamar Rita ma”


“Oh ya? kapan?”


“Sewaktu pembukaan cabang D’Ritz di Auckland”


“Lalu?”


“Rita tolak, Rita bilang belum bisa melupakan Daniel,dan aku hanya menganggapnya sebagai sahabat”


“Mana ada laki-laki dan perempuan sahabatan”


“Itu juga yang Rita bilang padanya, kalau ia memaksakan lebih baik kita tidak pernah kenal atau berteman lagi”


“Lalu Roger bagaimana?”


“Dia sempat marah, kami putus kontak selama beberapa bulan. Belakangan ia kembali yang menghubungi, dia bilang akan menjadi teman saja dan tidak mengharap lebih!”


“Kamu percaya?”


“Tentu!, itu terserah dia. Rita tidak memaksakan pertemanan padanya!” Rita tersenyum dan kembali sibuk dengan laptopnya.


“Mama kasihan sama Ranna dan Fardhan, mereka pasti ingin punya papa “


“Enggak ma! Rita sudah tanya kok ke mereka ketika mereka kecil. Mereka bilang akan mendapatkan sosok ayah dari kak Andi, Mario serta kakek Darmawan”


“Sudah lama banget dong itu nanya nya sebelum papa Darmawan meninggal”


“Iya Ma, Rita ingat yang paling kehilangan kakek itu Fardhan, karena sejak kecil ia selalu bersamanya”


“Lalu bagaimana Fardhan bisa pulih?”


“Fardhan cerita, ia bermimpi bertemu kakek. Mereka ngobrol lama sekali, lalu kakek pergi. Sejak mimpi itu Fardhan tidak lagi bersedih”


“Hmm...Fardhan itu seperti kamu ya? sedangkan Ranna seperti Daniel”


“hahaha...iya ya? Rita juga berpikir Ranna itu mirip sekali dengan Daniel. Daniel versi cewek” Rita tersenyum mengingat anak perempuannya


“Mama pikir Daniel tidak akan keberatan kalau kamu punya teman hidup lagi Rita”


“Mungkin Ma, tapi hingga saat ini Rita belum bisa melupakan bayangan Daniel dari kepala Rita. Sepertinya baru kemarin dia sakit, lalu pergi. Rita bahkan tidak pernah memimpikan bertemu dengannya” Rita mengambil tissue dari tas jinjing Dior


“Rit, tasnya sudah lama banget itu, kamu gak mau ganti?”


“Rita banyak tas ma, Kak Andi dan Mario selalu membelikan Rita tas saat ulang tahun”


“Lalu kenapa kamu pakai yang itu terus?”


“Tas ini Daniel yang belikan. Bahkan usia tas ini lebih tua dari Ranna. Tas ini ia belikan setelah kami bertengkar” Rita tersenyum melihat tas itu


“Kamu merawatnya terus ya?”


“Iya, Rita harap ketika Rita meninggal nanti, bisa bertemu Daniel lagi” ujarnya tersenyum


“Daniel lagi..Daniel lagi...padahal orangnya sudah lebih dari 20 tahun meninggal!” keluh Ratna,


Malam harinya mereka tiba di Auckland


“Mami!” Fardhan berlari memeluk maminya, Rita yang baru saja sampai juga membalas pelukannya


“Fardhan! Sehat-sehat nak?” tanyanya sambil mencium kening anak lelakinya

__ADS_1


“Sehat mi!” Fardhan tersenyum lalu memeluk Ratna


“Nenek!” tegurnya


“Fardhan cucu ku! Wah kamu tampan sekali ya?” puji Ratna


“iya dong anak siapa dulu!” ujarnya


“Kamu sendirian?” Rita mencari anak perempuannya


“Mami!” panggil Ranna, ia berlari menghampiri maminya


“Ranna! Aduh..kamu ini mami selalu susah menghubungimu!” Rita memeluk anak perempuannya


“hah? Masa mi? Nanti Ranna cek ponsel Ranna ya?” ujarnya tersenyum. Ranna juga menyapa neneknya


“Alex sudah mengambil bagasi kalian, kita tinggal masuk mobil saja. Uwa Andi sudah menunggu di rumah”


“Eh Dhan, apa Wa Sabrina sudah tiba di Auckland?” tanya Rita


“Sudah ma, tadi siang kenapa?”


“Ah enggak!” Rita terdiam


Mereka tiba di rumah besar beberapa menit kemudian


“Assalammu’alaikum!” ujar Rita dan Ratna


“Wa’alaikummussalam!” jawab Andi, dia menyambut mama dan adiknya


“Andi! “ Ratna memeluk anak lelakinya, Rita juga melakukan hal yang sama


“Mana cucuku Radhika dan Rafie?” tanya Ratna


“Mereka pergi ke rumah kakeknya bersama Sabrina” ujar Andi cuek


“Kok mereka seperti menghindari kita ya?” tanya Ratna heran


“Kak, acara keluarga ini hanya beberapa hari kan?” tanya Rita


“Iya, kenapa? Kamu mau pergi lagi?”


“Tante Metha mengundangku ke Swiss, aku akan mengajak anak-anak mengunjunginya”


“Ke Swiss ma? Asyikk!!!” Fardhan berteriak kegirangan


“Sekarang musim apa di sana sekarang?”


“Musim panas, jadi kita bisa berkeliling!” jawab Rita


“Bagaimana D’Ritz Rit?” tanya Andi


“Lancar kak!, aku hendak mengunjungi D’Ritz cabang di sini besok pagi”


“Kalian sudah makan?” tanya Andi


“Belum, tadi Fardhan bilang kamu sudah menyiapkan banyak makanan di sini” ujar Ratna


“Iya betul!, biar Karen yang membawa barang-barang kalian ke kamar!” Andi merangkul mamanya ke ruang makan.


Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing. Rita tidur sekamar dengan Ranna


“Mami!”


“Ya?”


“Mami sering kangen sama papi?”


“Hmm...hampir setiap hari”


“Terus supaya kangennya terobati, mami ngapain?”


“mami berdoa untuk papi, semoga papi tenang di sana”


“kalau masih kangen juga?”


“Mami lihat foto kamu! Kamu itu mirip papi banget, sampai sifatnya juga!”


“Hehehe? Iya mi?”


“he eh!”


“Fardhan tadi bertanya papi seperti apa, dia iri sama Ranna”


“Nanti mami suruh dia lihatin kamu saja!” ujar Rita tersenyum, ia merebahkan diri di samping putrinya


“Pak Daniel!..pak Daniel!” seorang perawat membangunkannya


“Hah? Iya?” Daniel kaget ia masih terbaring di ranjang rumah sakit yang empuk


“Anda sudah bisa pulang, semua hasil tes anda tidak menunjukkan adanya penyakit parah”


“hmm...bisa saya bicara dengan dokter?” tanya Daniel


Dokter datang ke kamar Daniel.


“Dokter, saya dengar hasil tes saya normal semua?”


“Betul pak, Anda tidak perlu khawatir”


“Apa ada tes yang saya lewatkan?”


“Maksud Anda?”


“Saya hanya penasaran saja, dari semua tes saya sehat, tetapi kenapa tubuh saya masih merasakan sakit. Apa ada tes yang belum saya jalani?”


“Sebenarnya ada pak, tetapi tes ini tergolong baru, dan tidak dicover asuransi Anda”


“Soal itu tidak usah khawatir, saya akan membayarnya secara pribadi”


“Baiklah, saya perlu persetujuan istri anda, karena tes ini karena masih sangat baru bisa jadi berbahaya”


“Saya akan memberitahu istri saya, jadi tolong persiapkan saja tes itu dokter!”


“Baiklah!”


Keesokan harinya Daniel menjalani tes yang masih tergolong baru, dan seperti dugaannya ditemukan jenis virus baru di tubuhnya.


“Jadi bagaimana dokter hasil tes saya?”


“Ditemukan jenis virus di aliran darah Anda, syukurlah kami berhasil mengisolasi virus tersebut dan membuatnya lemah”


“virus ini tergolong baru dokter?” tanya Rita


“Sebenarnya virus lama, hanya saja ia pandai bersembunyi, dengan tes yang baru bakteri ini bisa segera terdeteksi”


“Bahaya virus ini apa dok kalau tidak terdeteksi?” tanya Rita


“Bisa menyebabkan gagal jantung mendadak.”


“Gagal jantung? Walau semua tesnya normal dok?” tanya Rita lagi


“Iya bu, karena virus ini langsung menyerang jantung”


“Sekarang bagaimana dokter?” tanya Daniel


“Kami akan memberikan beberapa obat antivirus untuk melemahkan virus tersebut. “


“Apa ada tindakan operasi dokter” tanya Daniel


“Kami hanya mengalirkan antivirus dosis tinggi melalui infus pak, mungkin anda harus tinggal di rumah sakit ini beberapa hari lagi”


“Gak apa-apa dokter, asal suami saya kembali sehat” ujar Rita, Daniel menatap istrinya dengan sayang. Ia mengingat mimpinya kemarin


“Rafardhan Ahmad Kang!” ujar Daniel


“Rafardhan? Siapa Yang?” tanya Rita heran


“ Itu nama anak kedua kita!” ujarnya tersenyum


“Kamu tahu dari mana tentang virus itu?” tanya Rita


“Aku hanya bermimpi, tentang keluarga kita 20 tahun lagi"


"oh ya. bagaimana aku?” tanya Rita

__ADS_1


“kamu masih sangat cantik!” Daniel memeluk istrinya dengan sayang


_Bersambung_


__ADS_2