
Sudah 3 bulan Dewa berada di London, ia mendapatkan bea siswa dari Dar.co untuk kuliah di salah satu universitas ternama di London Inggris. Ia mendapatkan fasilitas apartemen standar dan biaya hidup selama kuliah. Walaupun demikian ia mengambil kerja sambilan di cafe untuk mengisi waktu luang dan menambah tabungan.
Suatu siang sepulang kuliah, Dewa berjalan ke cafe untuk kerja sambilan sebagai pelayan cafe.
"Dewong!!" Seseorang memanggil namanya. Awalnya Dewa tidak begitu peduli, lama kelamaan suara panggilan itu semakin jelas terdengar
"Woyy Dewong!!"
Dewa mencari sumber suara, ia mencari ke kiri,kanan, dan menoleh ke belakang. Orang yang memanggil menghampirinya
"Ah Dewong, ketemu juga disini"
"Eh elo Cing!" Dewa memanggil Mario dengan sebutan cacing.
"Cang-cing-cang -cing, emangnya Ai Tante you!"
"Hehehe...apa kabar Lo? Ngapain di sini?"
"Baik Wong, Ai dikasih tahu Anding, katanya You kuliah disini jadi Ai cari deh, eh ketemu!"
"ngapain nyari gue?"
"sombong amat! Kita nih ya sesama orang pribumi di negeri orang harus bersatu , tahu!"
"iya deh! Jadi Lo sebenarnya ngapain di sini?"
" Ai gantiin Anding, dia ke kantor pusat Dar.co"
"oh ya? Disini bukan?"
"bukan! Kantor pusat Dar.Co itu di Auckland! Masa You belom tahu?"
"oh jadi di sini cabangnya "
"iyee!"
"Wah hebat Lo, dipercaya jadi kepala di sini"
"cuma sementara aja, sampai semua terkendali, nanti dia balik lagi kesini"
"tapi bener juga ya, Lo udah jadi orang hebat sekarang" puji Dewa
"kata siapa?"
"Rita yang bilang"
"you ketemu dia? Kapan?"
"tiga bulan yang lalu deh, waktu rumahnya selesai direnovasi "
"eh Ai kan juga beli rumah dekat-dekat situ kok kita gak ketemu ya?"
"Syukur deh!"
"Syukur kita gak ketemu!" canda Dewa
"Sialan You!"
"jadi ceritanya Lo sudah jadi kepala cabang di sini?"
"Enggak! Cuma perwakilan saja. Ai disuruh ngumpulin laporan hasil kerjaan orang -orang di sini, keputusan mah di tangan Anding. Eh Wong, ikut Ai yuk!"
"Ikut kemana?"
"Ikut aje, kita reunian!" Mario menarik lengan Dewa
"Reunian apaan? Sama siapa?" Protes Dewa
"you ikut aja, gak bakal nyesel pokoknya!"
Dewa mengikuti keinginan Mario, ia penasaran mau diajak kemana dirinya. Ternyata mereka sampai di sebuah cafe
"Lah, ini mah cafe tempat gue kerja!"
"oh ya? You kerja disini juga? Apa uang saku dari Dar.Co gak cukup?"
"cukup! Cuma iseng aja, mengisi waktu luang!"
"Anding tahu you sambilan disini?"
"tahu dong! Masa enggak" Dewa berbohong
"oh ya udah,....nah itu Hello Friends!!!" Sapa Mario, di sudut ruangan telah menunggu Kiano dan Edward.
"Sorry ya ,kalian sudah nunggu lama?" Mario duduk berhadapan dengan kedua temannya.
"Enggak, kita juga pada baru nyampe kok!" Jawab Kiano
"eh kenalin dulu nih, ini..." Mario hendak memperkenalkan
"Eh kayaknya gue kenal Lo deh?" Ujar Dewa
"Eh Lo Dewa kan? Temannya Tommy?" tanya Kiano
"Iya, Lo kenal Tommy? Eh ..hmmm....sebentar gue inget-inget dulu..Abu ya?"
"Bukan!"
"iya Abu!" ujar Dewa bersikeras
"cuma Rita yang manggil gue begitu"
"ah iya, gue kenal Lo dari Rita, tapi di mana ya kita ketemu nya?" Dewa berusaha mengingat
"Kita ketemu di RS itu lho yang kejar-kejaran sama Zombie " ujar Kiano mengingatkan
"oh iya, apa kabar Bu?"
"jangan Abu ah nanti disangka ibu lagi, panggil gue Kiano!"
"Kiano, ...kalau nama Lo Kiano kenapa Rita manggil Lo Abu?" tanya Dewa bingung
"Nama lengkap gue Kiano Abdullah"
"oh begitu!" Dewa mengangguk paham
"nah yang ini Edward "Mario kembali memperkenalkan.
"eh kita kan juga pernah ketemu dipertandingan kan?" tanya Dewa
"pertandingan apaan?" tanya Mario penasaran
"itu pertandingan yang diadakan kakek Sugiyono, apa sih namanya.. pertandingan antara cucu deh!"
"eh iya? Oh..benar! Kamu yang baru datang terus meluk Rita itu kan?" Edward mulai mengingat
"meluk??" Kiano dan Mario menatap Dewa
"itu... gak sengaja!" jawab Dewa malu
Dewa dan Edward bersalaman, kemudian mereka duduk bersama.
"Kalian kuliah di sini juga?" tanya Dewa
"Gue di Edinburg, kalau Edward sudah lulus"
"berarti usia Lo lebih tua dari kita ya?" tanya Dewa ke Edward
"kita seumuran, kecuali Kiano ini dia seumuran Ritong" jawab Mario
"Lo kuliah di sini?" tanya Kiano
"Iya, baru masuk semester ini"
__ADS_1
"jurusan apa?"
"hukum bisnis, kalau Lo?"
"manajemen bisnis " jawab Kiano
"bisnis semuanya ya?" ujar Mario nimbrung, Edward hanya mendengarkan
"Lo masuk semester tiga ya?" tanya Dewa
"enggak! Baru masuk juga kok!" jawab Kiano
"Dia kuliah pindah-pindah eh nyangkut di Edinburgh " ujar Mario
"Edinburg itu jauh ya?" tanya Dewa
"Lumayan , 7 jam perjalanan dari sini" jawab Kiano
"Kalau Edward, tinggal di mana?"
"dia tinggal dekat istana Birmingham, dia ini pangeran lho!" Ujar Mario
"Ah enggak, jangan dengerin, Mario senang bercanda." Ujar Edward malu.
Mereka semua menggunakan bahasa Inggris agar Edward tidak merasa disisihkan.
Dewa membawakan kopi dan teh pesanan mereka.
"Kalian sering ngumpul kayak gini?"
Tanyanya
"Sering tapi gak terjadwal, kalau kebetulan Mario ke London saja kita baru ngumpul, terus main ke rumahnya Edward "
"Main? Kok kayak anak kecil?"
"Mainan di situ beda bro! Main kan cuma istilah aj, padahal kita berkuda,.main drone, banyak deh . Nah kalau mereka ada waktu luang yang banyak gue ajak main ke Dubai" cerita Kiano yang mudah akrab dengan orang baru.
"Wah asyik dong, gue ikutan deh!"
"Tapi... sebentar wong, Lo bisa menjauh sebentar gak?"
Dewa kembali ke pantry, saat itu pelanggan cafe hanya mereka bertiga.
"Gimana nih, Dewa mau ikut klub kita?" Bisik Mario
"Syarat nya kan harus pernah ditolak Rita!" Bisik Edward
"Kalau itu, dia memenuhi syarat banget!" Jawab Mario
"Gimana?"
"Dia itu dari kecil suka sama Rita tapi gak pernah menyatakan jadi sebelas-dua belas deh sama kita" bisik Mario lagi
"Orangnya asyik gak? Jangan sampai kayak si Rendy dulu. Songong banget. Ditolak terang-terangan gak ngaku" ujar Edward kesal.
"Memang, Anding juga gak suka sama dia. Tapi Dewong ini lain, orangnya baik dan lucu. Coba aje dulu!" Bujuk Mario
"Buat anak kok coba-coba?" Ujar Kiano
"Memangnya dia minyak telon?" Jawab Mario
"Hihihi.." ketiganya tertawa ngikik
"Baiklah..Wong!"
"Saya?" Dewa menghampiri layaknya abdi dalam istana
"Tuh lucu kan dia?" Ujar Mario sambil menyeruput kopinya
"Kamu boleh gabung sama kita" ujar Kiano
"Alhamdulillah..btw keuntungan gabung sama kalian apa ya?"
"Yaa..kamu jadi punya koneksi, kamu tahu kan Kiano ini sudah jadi pangeran Arab? Dia suksesor Abdullah Oil, Sedangkan Edward ini suksesor CITE salah satu perusahaan terbesar di dunia" jawab Mario yang diamini kedua temannya
"Kalau elo?"
"Ai??? EO ternama lah!! dan founder perkumpulan ini!" Jawab Mario PD
"Begitu ya, baiklah..kapan lagi punya koneksi para pangeran "
Tiba-tiba ponsel Mario berbunyi,
"Ranna?"
"Uncle O?" Ranna melakukan VC melalui smartwatch
"Uncle, Anna sekalang ada di Kanada" ujarnya
"Kanada nya dimana?"
"Di mana Dek?" Tanya Ranna ke Raffa
"Ottawa uncle!" Raffa membantu menjawab
"Uncle main ke sini dong, ada kolam lenangnya" ajak Ranna
"Yaa nanti ya Kak, uncle lagi sibuk nih "
"sibuk apa?"
"sibuk kerja dong!"
"kelja kok di cafe!" Ranna melihat payung besar yang biasa berada di cafe
Mario menoleh ke belakang
"ya, kan uncle lagi istirahat"
"oh istilahat"
"Uncle sama WaNdi?" Tanya Raffa
"Enggak Dek, WaNdi pulang ke Auckland sama aki eyang"
"Oo ya udah deh..dadah Uncle!!" ujar Ranna dan Raffa bersamaan.
"Dahh!!"
"Siapa O?" Tanya Dewa penasaran
"Ranna dan Raffa"
"Anaknya Rita?" Tanya Kiano
"Iya, mereka sering nelpon Ai, ngabarin keberadaannya, lucu banget kan? Belum lima tahun tapi sudah pada pinter!" puji Mario sambil menaruh kembali ponselnya
"umur mereka berapa?" tanya Edward
"Ranna hampir 4 tahun,. Raffa 3 tahun"
"Lo kelihatan akrab sama mereka O?" Tanya Kiano heran
"Iya lah, mereka pelanggan setia Ai lho, rumah, apartemen, toko semua Ai yang desain "
"Professional sekali!" Edward dan Kiano mengagumi
"Prinsip Ai sih kalau gak dapat orangnya yang dapat uang nya, hihihi.."
"Lo ga sedih tuh?" Tanya Dewa tiba-tiba
"Sedih? Ngapain mengsedih Ai sudah senang bisa diaku sodara sama mereka" jawab Mario berusaha tegar
__ADS_1
"Sudah jangan dipaksain" ujar Edward yang melihat perubahan wajah Mario yang tiba-tiba menangis
"Habis gimana dong, Ai terluka dalam tapi Ai juga suka sama si Daniel, dia baikkk banget sama Ai....Ai rela deh Ritong diambil dia!"
Edward memberikan tissue pada Mario
Kiano dan Edward yang tidak begitu mengenal Daniel diam saja.
"Eh tadi Lo bilang mereka pindah ke Kanada?" Tanya Dewa
"Iya! tadi you dengar sendiri kan? Anding juga gak ngomong sama Ai!"
"Sebelumnya mereka tinggal dimana?" Tanya Dewa lagi
"Zurich, Swiss. Kan tergantung dapat tugas di mana Daniel itu" Mario menyeka air matanya
"Daniel memegang Dar.Co di Zurich?" tanya Dewa
"Enggak! Bos Daniel pindah kerja ke Lexington"
"Lexi? Punya paman tiri aku dong? Sir Alex kan?"tanya Edward
"iya kali, Ai gak begitu tahu"
"Kenapa dia gak kerja di Dar.Co?" tanya Kiano penasaran
"Bos Daniel dapat tawaran lebih bagus di Lexington. Lebih hebat dia sekarang!" puji Mario
"Memangnya posisinya apa di Lexington?"
"waktu di Zurich kemarin Ai dengar CEO, gak tahu deh kalau pindah."
"Setahu ku kalau sudah tongkat CEO dipindah tempat biasanya posisinya lebih tinggi" ujar Edward
"Belum tentu, bisa saja kan turun pangkat?" ujar Kiano cemburu
"Setahu ku, di Lexi gak ada yang namanya mutasi atau turun pangkat, kalau kerja gak bagus ya dikeluarkan."
Semua terdiam mendengar kehebatan Daniel
"sudah -sudah, kita gak usah cemburu sama bos Daniel. Yang penting kita ini harus buktiin ke Ritong kalau kita ini mantan yang ber qualified. Kita bisa hebat tanpa dia, iya gak?" ujar Mario
Semua kembali terdiam. Mario melanjutkan khotbah nya
"Kita-kita ini gak bisa 100% benci sama Ritong, karena dia, kita bisa berteman kayak gini kan? You bisa ketemu keluarga You" Mario menunjuk Kiano
"You bisa sekolah disini atas rekomendasi dia!" Mario menunjuk Dewa
"Kalau aku? Jasa Rita apa?" Tanya Edward
"Lho bukannya Ritong nolongin you dari jebakan beruang?"
"Oh iya!..kok bisa lupa ya?"
"Jadi kita jangan menamakan klub kita ini barisan sakit hati" ujar Mario
"Siapa yang mau namain begitu?" Ujar Kiano protes
"Nanti lah dipikirin namanya" ujar Dewa
"Lebih cocok Klub Patah Hati ya?" gumam Edward
"Jadi rencana kita weekend ini apa?" Tanya Kiano
"You bukannya kuliah?" Tanya Mario
"Gue libur Jum'at sampai Minggu, jadi lumayan kan bisa main"
"Ke rumah musim panas aku saja, perjalanannya cuma satu jam dari sini."
"Keluarga Lo gimana?"
"Mereka datang kesitu kalau musim panas saja, sekarang kan musim gugur, jadi mereka di sini"
"Boleh deh, lumayan dapat liburan gratis " jawab Dewa yang diamini ketiga temannya.
"Kita ngumpul di sini besok jam 8 pagi, aku bawa mobil" ujar Edward
"Okelah!!" mereka menyetujuinya
Mereka membubarkan diri setelah jam makan siang.
Sepulang mereka, Dewa membersihkan meja para tamu.
"Dewa!"
" Ya bos?"
"Bisa tolong saya setorkan hasil penjualan kemarin ke bank? "
Dewa melihat jam di dinding
"Sekarang Bos? Apa belum tutup?"
"Masih jam 2 , bank tutup jam 4" ujar pemilik cafe
Dewa membuka apronnya dan memakai jaket kulit coklat dengan tas selempang kecil berisi uang hasil penjualan .
Dewa memasuki Bank terbesar di wilayah itu.
Antrian nasabah cukup panjang, ia hendak menyetor melalui mesin, tetapi semua mesin sedang dalam perbaikan, ia mengirimkan pesan ke bos nya tentang keadaan di bank.
"Bank sedang ramai bos, gimana saya tetap antri atau kembali ke cafe?" tanya Dewa melalui VC
"Cafe sedang sepi, kamu antri saja! Kalau sudah selesai kamu boleh langsung pulang "
"Oke bos!" jawab Dewa senang, ia mendekati mesin untuk mengambil nomor antrian
Tiba-tiba pintu bank ditutup paksa, salah seorang security bank didorong masuk oleh dua orang bersenjata.
"Semua tiarap!" Teriak orang itu,
Semua nasabah termasuk pegawai bank melakukan seperti yang diminta. Seorang perampok menyerahkan tas besar kepada teller,
"Masukkan semua uang ke tas!" Perintahnya, dengan tangan gemetar.
"Jangan melawan kalau mau hidup!" Teriak teman perampok, ia melihat seorang wanita paruh baya yang hendak menyetor uang yang cukup banyak
"Serahkan tasnya Bu!" Ia menarik tas itu, si ibu bersikeras mempertahankan tasnya
"Jangan! Ini semua uang gaji karyawan!" Teriaknya setengah memohon
"Ambil yang di bank saja, itu diasuransikan! Jangan punya nasabah!" Teriak Dewa.
"Hei! Kamu tetap di lantai!" Teriak perampok yang satu lagi sambil menghampiri Dewa dan hendak memukul dengan senapannya, tapi Dewa melawan, ia menahan senapan hingga menghadap ke atas. ia tahu tidak bisa mundur lagi. Mereka saling dorong.
"Hei jangan bengong saja!, bantu saya!" Teriak Dewa pada satpam yang terpaku melihat perlawanan Dewa. Ia bangkit lalu membantu, perampok itu kewalahan, teman perampok yang berada di teller berlari mencoba membantu temannya yang kewalahan, ia hendak menembakkan senapannya ke arah Dewa dan satpam tetapi ia tersandung sandera yang sedang tiarap, hingga ia jatuh tersungkur. Dengan mudah satpam yang lain menaklukkan nya.
Dewa dan Satpam berhasil melumpuhkan perampok itu. Percobaan perampokan bank berhasil digagalkan. Polisi datang beberapa menit kemudian. Semua orang di bank dimintai keterangan, tak ketinggalan Dewa.
"Terimakasih atas bantuannya, andai kami bisa memberikan penghargaan untuk mu" ujar Manager Bank menyalami Dewa
"Gak perlu pak tapi bisa gak saya melakukan setoran tanpa harus mengantri?" Pinta Dewa ia tampak kelelahan
Manager bank tersenyum, ia menyuruh teller menerima setoran Dewa, setelah selesai ia memberikan kartu khusus.
"Kartu ini baru pertama kali dikeluarkan" ujar Manager Bank
"Kartu apa ini pak?" Tanya Dewa heran sambil menerima kartu itu
"Ini kartu istimewa, cukup berikan ini ke satpam, Anda bisa setor di teller tanpa melalui antrian "
"Ahh... terimakasih banyak pak!" Dewa sangat senang dengan hadiah itu, setelah memberikan keterangan ke polisi ia pun segera pulang ke apartemennya.
__ADS_1
_bersambung_