Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 287: Kisah Metha


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir satu minggu Metha menginap di rumah dinas Daniel


“Sayang, tante Metha akan tinggal berapa lama bersama kita?” tanya Daniel pada suatu siang, ia sengaja mengajak Rita dan anak-anaknya makan di luar untuk menghindari Metha.


“Entahlah, aku juga bingung. Kalau aku tegur nanti dianggapnya aku mengusir,..Aaaa” Rita menyuapi Rayya, sementara Ranna dan Raffa sedang bermain di playzone


“Rumah itu bukan rumah kita, dan setiap pengeluaran akan dicatat oleh Beatrice. Dia yang melaporkan ke perusahaan. Tante Metha tidak termasuk, aku takut nanti mendapat teguran dari perusahaan” ujar Daniel sambil menyantap makanannya


“Tumben, biasanya kamu gak hitung-hitungan? Apa ada sebab lain hingga kamu ingin tante Metha pergi?”


“Lho, memangnya kamu gak tahu? Batas bertamu itu 3 hari, setelah itu dia harus menanggung sendiri biaya hidupnya, bahkan sebenarnya tidak baik berlama-lama di rumah orang walau pun itu rumah keponakannya sendiri” elak Daniel


“hmm...menurut ku ada alasan kuat lain deh, aku merasakan tumpukan kekesalan mu” ujar Rita sambil melahap makanannya


“Bukan itu saja, tante Metha berpakaian kurang pantas. Dia memakai lingerienya ketika sarapan, aku gak tahu ia sengaja atau tidak. Dan sepertinya ia sedang menggoda Anthony”


“Memakai lingerienya di ruang makan? Tapi dia pakai jubah tidur kan?”


“Pakai! Tetapi tidak ia tutup. Aku risih! Walaupun aku gak berniat melihat tetapi tetap terlihat!”


“apa benar tante menggoda Anthony?”


“Kamu bisa tanya Ranna, walau masih kecil ia tahu kalau orang kesayangannya ada yang naksir” jawab Daniel


“hahaha....Ranna...Anthony ya? bukan kamu kan yang digoda?” tanya Rita menyelidik


“Tante Metha bukan selera ku, aku selalu menghindarinya saat sarapan”


“oh itu sebabnya kamu selalu sarapan di teras?”


“Iya! Aku risih! Kadang aku ingin langsung mengusirnya tetapi itu tidak sopan kan? Lagi pula ia tante mu!” suara kekesalan tampak dalam nada bicara Daniel


“Baiklah, nanti aku akan bicara dengan tante, nah adek sudah selesai makan. Kak Ranna! Dek Raffa ayo makan dulu!” panggil Rita. Kedua batita berlarian menghampiri


“Kalian sudah cuci tangan belum?” tanya Daniel, Ranna dan Raffa berlarian ke tempat cuci tangan lalu kembali, para baby sitter mengikuti mereka


“Done!” jawab Raffa, mereka mulai menyantap makan siangnya, begitu pula Tony dan Ryan.


“Jam istirahat ku selesai, aku kembali ke kantor ya?” Daniel merapikan bekas makannya, setelah mencuci tangan dan mulutnya ia kembali ke tempat duduknya.


“Sampai nanti sore ya?” iya mengecup kening Rita, dan mengusap kepala semua anak-anaknya


“Dahhh...papiii!!!” teriak anak-anaknya, Daniel keluar dengan jaket lalu masuk ke mobil dinasnya.


“Tony, apa tante ku pernah berbuat aneh-aneh dengan mu?” tanya Rita


“Berbuat aneh seperti apa bu?”


“yaa...kamu tahulah!”


“Mungkin pakaiannya, ia sengaja menyingkapnya!” ujar Ryan terus terang


“Oma suka mr.Tony!” ujar Ranna sambil makan


“Oh ya? kak Ranna tahu dari mana?”


“Dia lihat mr.Tony teus!” jawab Ranna


“Saya tidak tahu bu kalau saya diperhatikan” jawab Tony


“She asked mr.tony age” ujar Raffa


“begitu?”


Selesai makan siang mereka kembali ke rumah, di sana Metha telah menunggunya


“hai!! Kalian dari mana?” tanyanya menyambut Rita di teras rumah


“Play Zone! Anak-anak ingin main di tempat bermain indoor, karena di taman biasa ada anak yang rasis” jawab Rita,


ia menggantungkan jaketnya. Kedua anak serta baby sitternya langsung ke lantai 2. Rita memperhatikan Metha yang terus memperhatikan Anthony.


“Dia masih 22 tahun, sangat muda. Mungkin kalau aku memeliharanya dia akan menjadi seperti Daniel” gumamnya


“eh...kenapa tante? Apa? memelihara? Maksud tante?” Rita terkejut dengan ucapan tantenya


“huh enggak! oh iya berapa lama kalian di Swiss?”


“Tiga minggu lagi, tapi tante apa tante gak kerja? Atau pulang ke rumah gitu? Kasihan anak-anak tante”


Metha menatap Rita


“Aku membebani kalian ya? oh iya rumah ini bukan rumah kalian. Tadi samar-samar aku mendengar Beatrice berbicara dengan seseorang di telepon”


“Siapa?”


“Entahlah, ia menggunakan bahasa Perancis, walau tidak lancar tetapi aku mengerti. Aku akan membuat Daniel kesulitan di kantornya. Aku akan pergi siang ini, tapi Rit kamu bisa menemani tante pergi ke sini?” Metha memberikan selembar kertas


“Apa ini tan?” Rita tidak mengerti karena tulisannya dalam bahasa Perancis


“eh iya, ini seminar satu hari untuk para calon single parent. Aku ingin datang tapi aku malu kalau sendirian. Kamu bisa menemaniku kan?”


Rita memperhatikan lembaran itu, lalu memfotonya dan mentranslatenya melalui ponselnya


“Tapi di sini tante seminar ini ada menginapnya juga? Sabtu –Minggu?”


“Eh iya ya? kamu gak masalah kan?”


“Kalau menginap kayaknya sulit tante. Rayya dan Raffa masih ASI, dan Ranna, aku keluar beberapa jam saja ia langsung tahu aku gak ada.”


“Anak-anak atau Daniel yang sulit?”


“Maksud tante?”


“Aku sudah seminggu lho di sini dan aku mendengar kalian!”


Wajah Rita memerah menahan malu


“Tapi sungguh tante, bukan hanya Daniel tapi juga anak-anak!”


“Iya-iya, temani aku dua sesi saja yang ini!” Metha menunjuk sesi jam 9-11 pagi


“Pagi sekali ya?”


“Kita bisa berangkat jam 8, aku jemput! Kamu ijin ke Daniel. Bilang saja kalau dia tidak mengijinkan aku akan tinggal lama di sini”


“eh?” Rita memandang wajah Metha


“Bercanda Rit! Btw apa Daniel minum obat kuat?”


“Obat kuat? Maksud tante?”


“Aku mendengar sesi kalian. Gak selesai-selesai ? apa dia gak sakit pinggang atau apa gitu?”


Wajah Rita memerah karena malu.


“Kami gak terus-terusan kok tante, ada jedanya.”


“Masa sih? Kayaknya enggak deh apa tante yang ketiduran ya?”


“Apa kedengaran jelas tante?” tanya Rita penasaran


“jelas sih enggak tapi sayup-sayup. Aku jadi iri sama kamu Rit. Jujur saja sudah seminggu ini aku mempelajari mu!”


“Mempelajari? Maksud tante?”


“Aku menyukai mu Rita. Andi bahkan tergila-gila sama kamu”


“Ah tante! Kak Andi kan kakak Rita!”


“Maksudku bukan tergila-gila yang erotis, tetapi sangat protektif sama kamu. Tante ingat ketika kamu baru tiba dari Auckland dalam keadaan tidak sadar, Andi tidur di kamar kamu.”


“Oh ya? kok Rita tidak tahu?”


“Itu karena kamu masih koma!, beberapa kali tante datang untuk bicara sama kamu tapi kamu gak kunjung sadar. Tante pernah datang malam sekali untuk melihat kamu, eh tante melihat Andi sedang sholat, sepertinya ia mendoakan kesembuhan mu.”


“Kak Andi?” mata Rita berkaca-kaca terharu mendengar cerita Metha

__ADS_1


“Papa juga begitu, kamu tahu, butuh waktu 2 tahun bagi ku untuk mengambil hati papa. Tapi kamu hanya butuh beberapa hari saja, papa sudah memberikan mu segalanya.”


“Aku kan cucu perempuannya tan, dimana-mana kakek akan cenderung ke cucu daripada ke anak kan?”


“Mungkin begitu, tapi aku memperhatikan perlakuan Daniel pada mu dan Francois pada ku. Berbeda sekali”


“Usia pernikahan kami baru 2 tahun tapi rasanya sudah lamaaa sekali. Francois sering beralasan untuk tidak memeluk, bahkan ia membiarkan aku ketika si kembar lahir”


“Membiarkan? Maksud tante?”


“Francois selalu bilang terlalu cepat bagi kami untuk punya anak, terlalu cepat? Aku sudah hampir 40 tahun!” Metha mulai mengambil rokoknya


“Sejak kapan tante merokok?”


“Eh maaf! Aku mulai merokok sejak si kembar berhenti ASI.”


“Itu tidak sehat kan tante?” tegur Rita


“Aku tahu. Aku gak berharap pernikahan yang sempurna. Aku hanya ingin suami ku mencintai ku” Metha mulai terisak


“Memangnya Francois tidak mencintai tante?” tanya Rita heran, Metha menggeleng


“Bagaimana kalian bisa menikah kalau tidak saling mencinta?”


“Cinta? Mama dan papa ku bercerai padahal dulu mereka saling cinta. Usia ku sudah lebih dari 35 tahun Rita, sudah bukan waktu ku lagi mencari cinta. Aku mencari seorang lelaki yang bersedia menjadi suamiku dan cinta akan tumbuh dengan sendirinya” Rita memberikan tissue pada Metha


“Dan Francois lelaki itu?”


“Kami dekat hanya 3 bulan sebelum menikah pada suatu pameran lukisan. Aku sangat menyukainya, aku bahkan membiayai pameran lukisannya di beberapa tempat, mungkin karena itu dia bersedia untuk menikah dengan ku”


Rita menatap Metha tajam


“kenapa Rit? Aneh ya? aku sudah tahu kedekatannya dengan para model lukisannya. Tapi mereka hanya cantik tidak punya modal seperti ku. Aku menggunakan apa yang aku punya untuk menarik hatinya. Dan berhasil! Aku pikir begitu ketika aku berhasil menikah dengan pria yang 5 tahun lebih muda dari ku”


“Oh Francois itu lebih muda?”


“Iya! Hehehe...teman-teman ku kagum karena aku berhasil menikahi seorang berondong”


“Lalu?”


“Bulan-bulan awal menikah semua biasa, dia masih baik. Ketika aku hamil tapi dia mulai menghindari ku. Dan mulai dekat lagi dengan model pacar lamanya”


“Lalu yang tante lakukan?”


“Aku mengancamnya tidak akan membiayai pamerannya lagi jika ia masih berhubungan dengan model itu. Awalnya ancaman ku berhasil tetapi ketika si kembar lahir Francois makin berani. Dia tahu perempuan tidak akan mudah menceraikan kalau sudah memiliki anak. Kini dia yang mengancam akan mengambil anak-anak dari ku”


“Sialan! Sebentar tante!” Rita pergi ke lantai 2 sebentar. Kira-kira setengah jam kemudian ia kembali menemui Metha


“Kamu ngapain? Lama banget?”


“Francois ini tidak bisa dibiarkan! Aku baru saja meminta pengacara dari kakek Sugiyono, dia akan mengatur agar anak-anak tante jatuh ke tangan tante!”


“eh? Kamu baru saja melakukan itu?” Metha heran


“Tentu saja! Aku sudah berbicara pada pengacara itu, dan dia akan segera melayangkan gugatan pada Francois atas anak-anak!”


“Tapi Rit!”


“Kenapa Tan? Dari awal dia gak mau anak-anak itu setelah lahir dia memonopoli anak-anak itu, kira-kira kenapa?”


“Kenapa?”


“Dia ingin memberikan kesan pada hakim kalau tante bukan mama yang baik dengan demikian hak asuh akan jatuh ke tangannya dan tante akan mengeluarkan banyak uang untuk pengasuhan anak-anak melaluinya.”


“Apa bisa begitu?”


“Bisa tante, coba perhatikan selama dia membawa anak-anak apa dia yang mengasuhnya? Atau dititipkan pada orang lain?”


“ah iya! Benar Rit!, aku pernah ditelepon oleh mamanya. Beliau protes kenapa anak-anak selalu dititipkan ke dia.”


“Nahh kan! Jadi tante harus tegas! Ambil anak-anak, jangan biarkan Francois memperalat tante!”


“Tapi aku masih sayang padanya Rit! Kadang aku pikir biarkan dia dengan model itu asalkan tiap malam dia kembali kepada ku”


“Apa dia kembali ke tante?”


“Tante!..”


“Ya?”


“Rita juga tahu rasanya mencintai dan menyakitkan jika tidak terbalaskan”


“Apa kamu pernah ditolak Daniel?” tanya Metha


“Pernah tante! Tapi saat itu kami belum menikah. Daniel mendengar omongan orang-orang tentang posisinya di Dar,co karena kedekatan kami. Dan beberapa kali dia tidak menjawab telepon Rita, bahkan ketika Rita kesulitan dia tidak bisa dihubungi”


“Lalu?”


“Walau berat, Rita memutuskan untuk menyelesaikan “


“Maksudnya?”


“Rita berhenti menghubunginya. Rita pergi jauh darinya, bahkan Rita sempat amnesia. Kakek membantu RIta bersembunyi dari Daniel”


“Apa berhasil?”


“Tidak! Entah sengaja atau tidak kakek seperti mengungkap keberadaan Rita pada Daniel”


“Lalu?”


“Daniel datang ke Jakarta, dia menyelamatkan Rita.”


“Menyelamatkan dari?”


“Rita kena radang usus buntu yang parah, dan Daniel datang pada saat yang tepat. Ia yang membawa Rita ke rumah sakit dan merawat Rita di sana”


“Jadi maksud Rita?”


“Cinta itu harus berbalas tante! Rita mencintai Daniel, dan dia juga sebaliknya. Kami saling menjaga. Tapi Francois tidak seperti itu pada tante. Jangan salahkan diri tante, karena perasaan tidak bisa dipaksakan. Tetapi dengan membiarkan tindakan Francois pada tante malah akan membuat dia semakin menjadi. Lama kelamaan dia akan membawa model itu tinggal bersama tante. Ayolah tante! Jangan bucin!”


“Apa itu bucin?”


“Budak cinta!, semakin lama hubungan tidak sehat antara Francois dan tante akan meracuni anak-anak! Mereka akan melihat ibunya bersedih terus menerus dan ayahnya menjadi agressor bagi ibunya. Apa tante mau anak-anak besar menjadi kepribadian yang jauh dari baik?”


Metha terdiam, dia melihat Ranna dan Raffa turun dari lantai 2, berlari memeluk Rita lalu kembali ke atas


“Mereka selalu seperti itu, mengecek keberadaan ku” ujar Rita


Metha tersenyum


“Ketika resepsi pernikahan mu, aku bertemu dengan adiknya Reza, siapa namanya?”


“tante Saye?”


“Iya! Saye, usianya lebih tua enam tahun dari ku. Dia bercerita tentang kehidupan pernikahannya dengan suami pertama, waktu itu aku belum menikah jadi aku tidak begitu paham maksud ceritanya. Setelah menjalani, akhirnya aku paham. Dan dia juga mengatakan semangat dari Rita yang memunculkan keberanian padanya untuk move on”


“Oh tante Saye” Rita tersenyum


“Baiklah Rita, tante akan pulang sekarang. Terima kasih ya sudah menampung tante di sini. Sebenarnya tante juga mengajak Beatrice untuk pindah bekerja pada tante, tapi dia juga sangat setia padamu.”


“Beatrice?”


“Aku tadi menawarkan gaji dua kali lipat dari yang disini, tapi dia gak mau! ya sudahlah!” Metha mengambil koper kecil yang sudah ia siapkan di ruang tengah kemudian ia memeluk Rita


“Terima kasih sayang! Keep in touch ya?” ia memakai jaket mahal serta kacamatanya lalu pergi meninggalkan rumah Rita.


“Semoga tante selalu bahagia!!” teriak Rita dari teras, Metha membalas dengan melambaikan tangan. Perlahan mobil Ferari meninggalkan halaman rumah dan menjauh.


“huuuaaaaa” Rayya baru saja terbangun dari tidurnya.


“Adek...” Rita mengangkatnya dari stroller dan menggendongnya


Metha telah tiba di kediamannya, tanpa di duga ia disambut oleh beberapa pelayan


“Selamat siang bu!”


“Siang! Kenapa kalian berkumpul di sini?”

__ADS_1


“Anu bu! Bapak?”


“Kenapa suami ku?”


“Sejak ibu tidak di sini dia membawa pacarnya menginap di sini”


Metha terdiam sejenak, ia ingat apa yang Rita katakan tadi.


“Orang ini benar-benar menguji ku!, Anak-anak di mana?”


“Ada di atas bu?”


“Ambil anak-anak sekarang! Bawa ke play ground dekat-dekat sini.” Kedua ART berlarian ke dalam lewat jalan belakang untuk mengambil si kembar sedangkan Metha pergi ke bagian security


“Kalian berenam, ikut aku! Kalian juga! “ dia mengajak kedua ARTnya


Ia memasuki rumah dan di situ Francois dengan wajah sinis memandangnya


“Well..well...pergi dari rumah berhari-hari...ckckck...benar-benar istri yang baik!”


Metha diam saja


“Kalian! Angkat barang-barang bapak ini dan buang keluar, termasuk sampah model di dalam studionya!” teriak Metha kesal. Emosinya sudah tidak tertahan


“Apa ini? Apa maksud mu? Berani-beraninya!!” Francois membentak ia berusaha mencegah para security mengeluarkan barangnya


“Beraninya? Ini rumah ku, aku membayarnya, aku membiayai semuanya! Semua isi studio mu milikku! Kamu berhutang banyak padaku! “ ujar Metha dengan nada dingin


“Tapi...tapi... baiklah!! aku akan membawa anak-anak!” ia hendak ke kamar anak-anak


“Tidak bisa! Aku yang melahirkan mereka! Sejak aku hamil kamu tidak mau mereka ada! Aku berjuang sendiri saat hamil, saat melahirkan dan kamu gak pernah sedikit pun membantu ku!” teriak Metha


“Tapi sekarang aku menyayangi mereka! Aku selalu mengasuh mereka!” ujar Francois


“Pembohong! Kamu menitipkan anak-anak pada ibu mu! Dia sendiri yang bilang, jadi jangan bodohi aku!”


Francois terdiam, lalu dengan angkuhnya


“Kita lihat apa kata pak hakim tentang ini!”


“Bagus! Kita selesaikan di pengadilan! Aku sudah memegang bukti perselingkuhan mu dengan model itu! Saksi juga banyak! Dengarkan aku Francois! Semua harta benda mu hasil pameran yang aku biayai akan aku ambil! Semua harta mu akan aku kuras habis seperti kamu menguras habis hati ku!” ujar Metha dengan nada tinggi


“Tapi...tapi...” Francois memucat ketakutan, dia menyadari kalau selama ini Metha yang membiayai hidupnya. Ia berlutut memegang kaki Metha dengan erat


“Metha...ampuni aku..maaf kan aku...jangan tendang aku dari sini.. maafkan kebodohan ku...maafkan!” ia berlutut dan menampar dirinya sendiri. Lalu ia bangkit dan memeluk Metha dari belakang


“Jangan sentuh aku! Bukannya kamu jijik dengan ku?”


“Itu tidak benar Metha? Kamu ingin kita melakukannya? Ayo !” Francois membuka pakaiannya, sementara para security dan staf rumah mengeluarkan semua barang –barang Francois


“Orang gila!” Metha mendorongnya hingga Francois terjatuh


“Keamanan, bawa orang ini keluar dan ingat jangan biarkan dia masuk lagi ke rumah ini, atau bersentuhan dengan anak-anak ku! Kalau itu sampai terjadi karir kalian tamat!” ancam Metha


Francois bangkit, lalu ia memuntahkan sumpah serapah


“Kamu perempuan ular! Ucapan mu mengandung racun! Aku hanya memperalat mu dari semula! Semoga kamu tidak akan pernah bahagia!”


“Doa yang sama untuk mu!” teriak Metha, ia masuk ke dalam rumah


“Keluarkan semuanya!!” teriak Metha kesal. Semua barang Francois beserta pacarnya kini berada di luar rumah Metha.


“Bagaimana ini?” tanya pacar Francois


“Tenang saja! Nanti juga dia akan berubah pikiran lagi, untuk sementara kita pindah ke tempat ibu ku ya?” Francois mengecup kening dan menggandeng model itu lalu menaiki taksi menuju rumah ibunya. Barang-barangnya ditinggalkan begitu saja di depan rumah.


“Bu, barang-barang bapak menghalangi!” ujar security


“Ah sialan orang itu!”Maki Metha


“Panggil truk, angkut semua barangnya, antarkan ke alamat ini !” perintah Metha


Tidak butuh waktu lama, semua barang Francois kini berada di rumah ibunya.


“Francois?? Kenapa semua barang ini di sini?” tanya ibunya galak


“Aku pindah ke sini lagi bu? Boleh kan?”


“Dasar anak tidak berguna! Mendapat istri kaya yang membiayai hidup malah mengejar perempuan murahan!” Ibunya Francois memukuli Francois dengan sapu lidi


“Ampun bu!!!” Francois lari menghindari pukulan ibunya.


Malam hari di rumah Rita


“Kamu bilang apa ke Tante sampai dia pergi?” tanya Daniel di sela sesi bercinta mereka


“Dia memang ingin pulang hari ini”


“Begitu? “


“Dia mengajak ku menghadiri seminar single parent, jam 9-11. Kamu keberatan kalau aku ikut?” Rita bangkit mengambil ponselnya dan memberikan foto brosur seminar


Daniel melihatnya


“Memangnya kamu mau datang?”


Rita menutupi tubuhnya dengan selimut


“Sebenarnya aku malas tapi kasihan tante”


“Kasihan tante? Kasihan aku dong?”


“kok kasihan kamu?”


“Sabtu itu waktu ku ingin rebahan bersama istriku” ujar Daniel keberatan


“Tapi kita hampir setiap malam rebahan!”


“Aku ingin main dengan kalian di luar, membuat boneka salju”


“hari minggu kan bisa! Ini hari Sabtu lho” bujuk Rita, ia mencium bibir suaminya


“hmm...baiklah, tapi sekarang sekali lagi ya?”


“Lagi? Kamu gak capek?”


“Kalau sama kamu gak bisa capek!” Daniel kembali memeluk istrinya


Setelah sholat subuh Rita membaca pesan dari Metha


“Aku sudah mengusirnya pergi dari rumah, ibunya memohon-mohon padaku agar menerimanya kembali” tulis Metha di pesannya


“Bagaimana keputusan tante?” balas Rita


“Aku tetap menceraikannya. Aku dan anak-anak sedang dalam penerbangan ke Auckland untuk menenangkan diri. Aku juga sudah memasukkan rumah ku ke bursa penjualan rumah”


“hah? Tante menjual rumah?”


“Iya, kalau dipikir-pikir itu bukan rumah idaman ku, itu rumah idamannya Francois. Aku akan menjualnya”


“Aku mendoakan yang terbaik untuk tante!”


“Terima kasih sayang, dan rencana week end kita batal ya?”


“Iya tante!”


“Salam sama Daniel! baik-baik ya kalian!”


“Terima kasih tante!” Rita mengakhiri pesannya


“Siapa?” tanya Daniel


“Tante, sekarang dia dan anak-anak ke Auckland untuk menenangkan diri”


“ooo, Semoga dia baik-baik saja”


“Aamiin!”

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2