
Pasca melahirkan Rita berkonsultasi dengan dokter untuk mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula, ia juga mengambil kelas privat yoga khusus untuk ibu pasca melahirkan. Ia membawa Ranna bersamanya.
“Aduuhh...lucu sekali!” puji instruktur yoga bernama Darcy
“Terima kasih!” Rita tersenyum, Ranna juga sangat senang dibawa ke sasana Yoga
“Berapa bulan?”
“Satu bulan 10 hari!” Rita tersenyum melihat Ranna bermain dengan balon-balon kecil yang diikat di tangan dan kakinya
“Baiklah, ayo kita mulai!”
Rita melakukan Yoga selama 1 jam. Ia juga menggunakan penampung ASI di pakaian dalamnya, dan berkali-kali ia memindahkan ke botol kaca yang sengaja ia bawa
“ASI anda sangat lancar?”
“Iya, itu sebabnya aku memakai penampung ASI. Aku tidak akan membiarkan ASI ku terbuang percuma”
“Anda sangat telaten sekali ya?” ujar Darcy mereka telah selesai berlatih
“Terimakasih, aku sangat diberkati dengan adanya anak ini. Aku baru tahu ternyata menjadi seorang ibu itu menyenangkan!” Rita mengangkat Ranna dari stroller dan memberikan ASI dari botol yang sejak tadi ia tampung
“Begitu ya? aku sudah 40 tahun, dan belum menikah!”
“Oo..”Rita hanya diam saja
“Kenapa reaksimu seperti itu, biasanya anak seumurmu akan menilai aku sebagai perempuan tua yang tidak laku”
“Janganlah merasa seperti itu!, kamu hanya belum menemukan orang yang tepat saja, yang bisa kamu percayai untuk mendampingi mu” ujar Rita, Darcy terkejut dengan jawaban Rita
“Kamu jauh lebih muda dariku, kenapa ucapanmu seperti orang berpengalaman?”
“Aku melihat orang-orang yang lebih tua dariku menikah, dan merasakan pengalamanku sendiri, jadi aku pikir memutuskan menikah itu bukan hal yang mudah”
“Lalu mengapa kamu menikah muda?”
“Aku..sangat menyukai ayah anak ini, sejak bertemu dengannya aku sudah berpikir untuk selalu bersamanya, mungkin ini yang namanya jodoh. Suatu saat kamu juga akan bertemu orang yang bisa membuatmu istimewa!”
“Begitu ya? apa kehidupan pernikahan itu menyenangkan?”
“yeah..begitulah..ibuku menasehati ku kalau kehidupan pernikahan itu seperti rollercoaster, naik turun, aku hanya harus bertahan saja, dan menikmati setiap tantangannya”
“Sudah berapa lama kalian menikah?”
“Baru setahun sih, tapi aku merasa sudah lama sekali ya?”
“Baiklah Rita, senang bertemu denganmu, sampai bertemu di hari jum’at!” Darcy menyalami Rita lalu meninggalkan sasana olah raga. Rita membawa Ranna ke ruang ganti pakaian, setelah itu mereka pergi menemui Reza, ayahnya di RS.
“Halo Yah!” sapa Rita sambil mencium punggung tangannya, Reza mencium kepala Rita
“Haii..Ranna!!!” Reza mengambil Ranna dari strollernya dan menggendongnya
“Berapa lama ayah di sini?” tanya Rita
“Mungkin sampai kontrak kerja ayah berakhir!”
“Hah? Jadi ayah tidak bekerja lagi di RSUD?” tanya Rita kaget
“Enggak!, ayah sudah mengundurkan diri. Ayah lelah tinggal di tempat terpencil, sendirian menghadapi masa tua. Jadi ayah minta sama kakek Dar untuk membantu Ayah bekerja di RS ini”
“oh ya? Ayah jadi dokter di sini? Asyikk!!! Aku bisa konsultasi di sini saja”
“Tapi ayah di sini baru percobaan, nanti setelah setahun baru diangkat jadi pegawai!”
“Ayah dokter umum? Bukankah ayah spesialis bedah jantung?”
“Waktu itu ayah tidak meneruskan study, jadi ayah belum menjadi spesialis!”
“Ayah! Ajukan saja bea siswa ke yayasan kakek Dar, pasti dibantu deh!”
“Enggak ah, usia ayah hampir 50 tahun, ayah sudah puas kok diberi kesempatan bekerja di RS ini”
“Ayah tinggal di mana?”
“Ayah menyewa apartemen di belakang Bugis Street, lumayan lho Rit. Kalau kamu mau main ke tempat Ayah!”
“Mau Yah!, eh iya. Kak Andi tahu gak Ayah kerja di RS ini?”
“Justru Andi yang membujuk kakek Darmawan agar membantu ayah bekerja di sini”
“Kak Andi hebat!..sekarang dia sudah kembali ke Auckland?”
“Sudah, kemarin ia baru selesai wawancara tugas akhir. Dia sudah menyelesaikan S1 di bidang elektronika. Tahun depan tinggal ujian yang bisnis management”
“Wah..hebat ya kak Andi!”
“Kamu bagaimana Rit? Masih berminat kuliah?”
“Aku sudah kuliah Yah, secara online”
“Oh ya? mengambil jurusan apa?”
“Ekonomi bisnis!”
“Lho? Bukannya kamu mau jadi chef?”
“Setelah aku membuka toko roti, aku jadi berpikir untuk mengembangkan bisnis. Kalau menjadi chef, aku tetap mengambil kursus memasak yang aku sukai”
“Kamu cukup sibuk juga ya? Apa Daniel tidak keberatan dengan kesibukanmu?”
“Sebelum memutuskan kuliah online dan melakukan banyak kegiatan, Rita bilang ke Daniel dulu Yah. Kalau dia setuju, Rita jalankan”
“Kalau dia gak setuju?”
“Biasanya dia akan bilang keberatannya, apalagi sekarang ada Ranna.”
“Kamu pintar sekali! Anak ayah!” Reza mengusap kepala anaknya.
“Yah, Ranna sudah bisa divaksinasi?”
“Tentu!. Kamu daftarkan saja, ayah kenal dengan dokter anak di sini, ia sangat berpengalaman!”
Rita mendaftarkan Ranna untuk vaksinasi, Reza mengantarkannya menemui dokter.
“dr.Reza, Anda sampai turun untuk mengantar cucu anda divaksin!”
“iya, dr. Micah. Ini cucu perempuanku yang pertama dan ini anak perempuanku!”?
“Ooh...besok-besok ayahnya tidak usah diajak ya?” canda dr.Micah pada Rita
“Baik dokter!” tak berapa lama Ranna disuntik, ia sempat menangis lalu terdiam.
“Wah anak ini pemberani!” dr.Micah
“Iya, seperti ibunya!” puji Reza
Selesai dari dokter, Reza mengajak Rita ke ruang prakteknya
“Ayah senang bekerja di sini?” tanya Rita
“Ayah tidak begitu sibuk Rit kalau di sini, dibandingkan di RSUD dulu. Setelah ayah bercerai dan kehilangan hak asuh anak-anak, Ayah jadi berpikir untuk mengikutimu kesini” ujar Reza sambil menggendong Ranna
“Yah, apa benar anak-anak itu bukan anak ayah?” tanya Rita penasaran
“Iya betul!, ayah menikahi ibunya yang masih muda karena ayah juga punya anak perempuan. Ayah membayangkan anak ayah disia-siakan lelaki yang tidak bertanggung jawab. Itu sebabnya Ayah menikahinya”
“Tapi akhirnya ayah dikhianati!” ujar Rita kesal
__ADS_1
“Pernikahan kami hanya di atas kertas, ayah hanya ingin melindunginya. Setelah lelaki yang menghamilinya mau bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup anak-anaknya, ayah melepaskan dia!”
“Kog mudah sekali bercerai Yah?”
“Itu perceraian ketiga Ayah, jadi sudah terbiasa! Eh Rit, kalau kamu sibuk dan tidak ada yang bisa dititipi Ranna. Ayah mau kog dititipi Ranna!”
“Beneran Yah?”
“Tentu dong! Ranna kan cucu Ayah.”
“Asyiikkk...Rita sempat bingung tapi kalau ada ayah, Rita gak bingung lagi deh!”
Setelah jam makan siang Rita dan Ranna meninggalkan rumah sakit, mereka pergi ke toko.
“Selamat Siang!!!” sapa Rita sambil mendorong Ranna di strollernya
“Selamat Siang bu!!” jawab para pegawai. Toko roti D’Ritz sudah menjadi cafe. Perluasan toko dan desain interior dikerjakan oleh Mario. Ruang kantor Rita juga dibuat menjadi lebih nyaman, ia juga memberikan ruangan untuk para manajer. Ranna tidur nyenyak di ruangan kerja Rita, sementara ia pergi ke dapur untuk menakar adonan roti untuk persediaan. Sesekali ia memperhatikan CCTV untuk mengawasi anaknya. Setelah selesai menakar adonan, tim akunting membuat pembukuan persediaan. Rita kembali ke ruangannya untuk mengganti popok Ranna.
“Ranna..kamu pipis melulu!...popokmu tinggal sedikit nih!” keluh Rita.
“tok..tok..tok..”
“Iya??”
Ismael manajer toko masuk ke ruangan Rita
“Ms.Rita, tadi ada pesanan roti sebanyak 300 buah!”
“Oh ya? untuk kapan?”
“Besok , jam makan siang. Mereka juga minta dikirimkan satu jam sebelumnya”
“Ismael, apa truk pengantaran yang biasa kita sewa bisa mengantarkan ke sana tepat waktu?”
“Nanti saya cek bu!”
“Coba minta Adele, untuk mengecek persediaan apakah adonannya cukup untuk memenuhi pesanan besok? Tadi aku sudah menambah persediaan”
“Oh iya bu, bubuk kopi dan creamer juga hampir habis.”
“Coba panggil Adele!”, pinta Rita
Adele staf akunting di toko
“tok..tok..tok!”
“Masuk Dele!”
“Iya bu!”
“Kok kamu gak laporan kalau kopi dan creamer sudah habis?” tanya Rita
“Eh?? Maaf bu! Ku hendak melaporkannya, tapi aku lupa”
“Hmm...Adele, kamu kewalahan dengan pekerjaan di sini?”
Adele menunduk, ia takut kehilangan pekerjaannya.
“Tolong panggil Ismael!” pintanya. Adele memanggil Ismael menghadap Rita
“Ya bu?”
“Hmm...menurut kalian, apa perlu kita menambah pegawai lagi?” tanya Rita
Ismael dan Adele saling berpandangan.
“Sebenarnya, belum perlu bu. Semua masih terkendali” ujar Ismael
“Terkendali apanya? Aku sangat takut kalau persediaan bahan habis, nanti pelanggan yang sudah antri kecewa bagaimana? Aku juga memeriksa persediaan butter sudah menipis, tetapi di aplikasi jumlah persediaan tidak berubah. Adele, apa kamu memperbarui data persediaan?” tegur Rita
“Maaf bu, hal ini tidak akan terjadi lagi” ujarnya menunduk
“Baik bu!, jadi bagaimana dengan bubuk kopi dan creamernya?” tanya Ismael
“Aku akan memesannya, kalian boleh kembali ke tugas kalian!” ujar Rita
Rita menggendong Ranna yang rewel setelah vaksin. Ranna juga banyak minum. Rita menjadi sangat kelaparan karena ASInya terus dipompa untuk Ranna. Setelah Ranna tidur, Rita menelpon supplier langganannya untuk memesan bubuk kopi, creamer dan butter. Setelah pesanannya datang, ia pun meninggalkan tokonya dan kembali ke apartemennya bersama Ranna. Sesampainya di apartemen, ia menelpon Daniel.
“Sayang, kamu di mana?” tanya Rita
“Masih di jalan, kenapa?” tanya Daniel
“Kalau bisa mampir ke swalayan, popok Ranna habis. Hari ini dia divaksin, jadi dia banyak menyusu. Berkali-kali dia pipis”
“Oh begitu, baiklah. Beli berapa?”
“ Dua pack, ingat yang ukuran new born ya?”
“Ranna hampir 2 bulan bukan?”
“Belum! Masih 1 bulan 10 hari.Kalau ukuran biasa takut kebesaran”
“hmm...baiklah, ada lagi nyonya? “ canda Daniel
“Itu saja dulu, di sini masih ada 2 lagi. Untuk nanti malam aku takut kehabisan”
“Baiklah,..aku agak telat pulang ya?” ujar Daniel
“Oke!”
Sementara Daniel mampir ke swalayan, Rita sibuk mempersiapkan makan malam.
Di Swalayan, Daniel kebingungan dengan berbagai merk pampers
“Ada yang bisa saya bantu Pak?” tanya SPG
“Oh, ada!. Anak saya berusia 1 bulan 10 hari. Saya mencari pampers ukuran new born. Di mana ya?”
SPG membantu Daniel
“Ini Pak?”
“Apa benar yang ini?” Daniel mencari tulisan newborn, setelah yakin ia membeli 3 pack. Kemudian ia berjalan ke bagian mainan bayi, ia melihat-lihat berbagai mainan di sana. Lalu ia membeli beberapa mainan dan sebuah boneka kelinci. Dari tempat mainan, ia pergi ke bagian snack lalu membeli beberapa cemilan. Keluar dari toko swalayan ia membawa banyak barang.
“Assalammu’alaikum...” sapanya sambil masuk ke rumah dengan membawa tas dorong yang sengaja ia beli untuk membawa barang-barang
“Wa’alaikummussalam!” Rita menjawab salam dari suaminya, ia terkejut dengan belanjaan suaminya
“Banyak amat?” ujarnya
“Tadi aku kebingungan dengan berbagai jenis pamper, jadi aku menanyakan pada SPG. Ia memberiku ini, benar gak?” Daniel memberikan ke Rita
“hmm..iya betul, kamu beli 3?”
“Iya, katanya lebih murah kalau beli banyak!”
“Lalu yang lain apa?”
“Ini? Mainan untuk Ranna!” Daniel membuka kemasan mainan
“Hmm...kok yang begini lagi?” tanya Rita
“Hah? Memangnya Ranna sudah punya?”
Rita mengajak Daniel melihat kamar Ranna. Beberapa mainan yang ia beli hari itu, sudah dimiliki Ranna.
“Yahh,...kog jadi banyak ya?” ujar Daniel bingung
__ADS_1
“Gak apa-apalah, simpan saja. Nanti bisa untuk kado”
“Kado?”
“Siapa tahu anak tetangga ada yang baru lahir, kita kasih kado itu!”, Daniel kelihatan kesal
“Eh tapi Aku membelikan Ranna boneka kelinci.”
Rita membuka lemari, di situ ada 3 boneka kelinci yang warna, bentuk dan besarnya sama
“Kenapa ditaruh di situ?” tanya Daniel
“Karena bulu kelinci ini masih belum aman untuk bayi. Ini untuk anak di atas 1 tahun”
“Oh Ya?” Daniel terduduk lemas di lantai kamar Ranna
“Sudahlah Yang!, kan permintaanku Cuma popok saja!, kamu terlalu kreatif membeli yang tidak perlu!”
“Sepertinya, aku tidak sabar bermain dengan Ranna. Aku melihat video bayi-bayi lucu dengan ayahnya. Aku ingin seperti itu” ujarnya, Rita mendekati Daniel dan duduk di sampingnya
“Kamu harus sabar!, Ranna insya Allah akan tumbuh. Aku rasa pekerjaan membuatmu suntuk, jadi kamu ingin melampiaskan ke Ranna”
“Mungkin juga, biasanya aku lampiaskan stres ku ke maminya Ranna, tapi karena belum boleh. Jadi aku membeli banyak mainan ini” ujar Daniel , Rita melihat suaminya yang mengatakan itu dengan nada datar, ia menyender di lengan suaminya
“Itu juga kamu harus sabar!...Kamu mandi dulu gih, lalu kita makan!” ajak Rita, ia menarik lengan suaminya untuk bangun. Karena Daniel terlalu berat, akhirnya ia terjatuh dan Daniel menimpanya. Mereka saling bertatapan, akhirnya mereka berciuman dengan panas, hingga tangisan Ranna menyadarkan keduanya.
“Ah...hampir saja!” ujar Daniel, ia segera bangun dan meninggalkan Rita yang masih terbaring karena shock
“Perasaan apa ini?” pikirnya, ia pun bangkit dari keterkejutannya. Ia menghampiri Ranna dan mengganti popoknya yang basah lagi, sementara Daniel mandi dengan air dingin.
“Hahhh...benar-benar cobaan!” keluhnya, setelah mandi dan berpakaian, ia menghampiri Ranna
“Gantian Yang!, aku belum mandi!” ujar Rita. Ia langsung pergi ke kamar mandi. Daniel memperhatikan tubuh istrinya dari belakang yang kembali seperti semula.
“Ah...benar-benar godaan!” gumamnya. Ia menggendong Ranna dan memberikan ASI melalui botol
“Ranna! Cepat besar ya?? Papi mau main sama Ranna!” ujar Daniel, Ranna meresponnya dengan wajah lucu, tangan dan kakinya bergerak-gerak, ia seperti minta diturunkan dari gendongan.
“Eh..eh..kamu mau ngapain?” Daniel ketakutan, karena Ranna bergerak sangat aktif
“Ritaaa....ini Ranna kenapa??” panggil Daniel. Rita mendengar suara Daniel yang kepanikan, ia keluar dari kamar mandi dengan dibalut handuk
“Kenapa?” Ia mengambil Ranna dari tangan Daniel.
Daniel melihat istrinya yang setengah telanjang, menjadi makin tersiksa. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar apartemen dan meninggalkan Rita bersama Ranna. Rita bingung dengan reaksi suaminya
“Papi yang aneh!, Kamu kan mau main sama papi ya Nak? Kenapa dia jadi panik?” Rita mengambil kursi goyang untuk Ranna, ia meletakkannya di depan kamar mandi. Ia mandi dengan pintu terbuka.
Tak berapa lama Daniel kembali dari lapangan basket, ia melakukan lari beberapa putaran untuk mengendalikan hasratnya. Ketika ia kembali ke apartemen, ia melihat pintu kamar mandi terbuka, akhirnya ia memutuskan keluar lagi dan mampir ke mini market, ia membeli beberapa es krim lalu memakannya di luar pintu apartemennya.
Setelah mandi dan berpakaian, Rita menelpon suaminya, bunyi ponsel suaminya terdengar dari balik pintu apartemen. Ia membukanya
“Kamu ngapain di situ?” tanyanya heran melihat Daniel yang jatuh tiduran karena menyender pada pintu apartemen yang dibuka Rita
“Ini, aku beli es krim!” Ujarnya, lalu bangun. Ia menaruh sisa es krim di lemari es, setelah itu mereka makan malam. Daniel tampak lesu dan tidak bersemangat.
“Apa ada masalah di kantor?” tanya Rita melihat wajah suaminya
“Enggak, biasa saja!”
“Terus kenapa wajahnya lesu begitu?” tanya Rita
“Enggak kenapa-napa!” Daniel memainkan makanannya
“Kamu gak mau bilang kenapa?” tanya Rita lagi, suaranya mulai ia tekan
“Aku hanya...hm..masih lama ya?” tanya Daniel
“Masih lama apanya?”
“Masa nifasmu selesainya?” tanya Daniel,
“Ooo...itu!” Rita kelihatan lebih lega
“Kok responnya begitu saja? Ooo itu?”
“Kukira ada masalah serius!”
“Buatku itu serius!”
“Iya aku tahu!, habis kalau belum bersih gimana dong?”
“Setidaknya kamu harus berhenti menggodaku!”
“Aku? Kapan?”
“Tadi!, beberapa kali!”
“Itu sebabnya kamu keluar apartemen?”
“Iya!, aku takut kalau tetap di sini, aku malah ‘menyerang’ mu”
“Aku heran deh, dulu sebelum menikah kamu tidak mudah horn* seperti ini” tanya Rita
“Siapa bilang? Sama kok, bedanya dulu aku takut dosa, kalau sekarang kan sudah beda.”
“Dulu juga?”
“tentu!, kamu kan pacarku “
“Lalu yang menahanmu apa?”
“Wajah kakekmu!, setiap aku ingin menciummu aku menutup mata dan membayangkan wajah kakekmu marah-marah!”
“Kakek Darmawan?”
“Bukan, Kakek Sugiyono! Beliau kan mantan mafia ya?”
“Hahahaha...kamu lucu sekali. Jadi wajah mafia yang mengendalikan horn*mu?”
“Berhasil kan? Hehehe”
“Aku baru tahu lho!, aku pikir kamu biasa saja!”
“Biasa saja? Mana mungkin? Pacarku sangat cantik, seksi. Setiap aku bertemu dengannya hatiku berdebar kencang, apalagi waktu kita di London, kalau tidak ada Andi dan mamamu, aku rasa aku akan lepas kontrol”
“Pantas mamaku bilang begitu”
“Kelihatan ya?”
“Apa kamu begini juga, waktu menyukai Saveetri?”
“Hmm,..aku memang tertarik padanya..tapi..tidak sebesar ketertarikanku padamu!”
“Masa? Apa ini rayuan maut? Aku belum bersih lho!”
“Iya aku tahu, ini bukan rayuan tapi fakta yang aku rasakan”
“Sejak kapan kamu merasakan itu padaku
“Hmm...kamu ingat gak waktu festival olah raga di Dar,co pusat?”
“Kapan ya?”
“Itu beberapa hari setelah kita kondangan”
“hmm...” Rita mengingat-ingat
__ADS_1
_Bersambung_