
Nenek Kowi
"Sialan banget nih Kiki gue diremehin! Boro-boro diperingatin eh malah begitu!" Gerutu Kowi dalam hati sepulang sekolah
"Assalamualaikum!" Kowi mengucapkan salam saat masuk ke rumahnya.
"Wa'alaikummussalam!, Sudah pulang Nak?"
"Sudah Nek, Nenek koq tumben di luar? susternya mana?"
"Nenek bosan di kamar terus, pengen lihat pemandangan, biarkan suster istirahat di dalam"
"Ohh..Kowi ganti baju dulu ya Nek, nanti Aku temani."
"Iya, kamu makan dulu, si Mbak sudah masak makanan kesukaan kamu!"
"Iya nek? Asyiikk!!"
Kowi berlari masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa menit kemudian ia kembali menemui neneknya.
"Nek, makasih ya enak banget masakannya!" Kowi memeluk neneknya yang duduk di kursi roda sari belakang. Tidak ada tanggapan dari sang Nenek.
"Oh,mungkin nenek tertidur." Pikirnya, Kowi menyelimuti tubuh neneknya, tak sengaja tangannya menyentuh kulit neneknya, ia merasakan dingin yang tidak biasanya.
"Nenek?..Nek?? " Kowi berusaha membangunkan Neneknya, tidak ada respon sama sekali. Ia berlari masuk ke dalam dan memanggil suster.
"Suster..suster, coba cek Nenek, aku bangunin gak bangun-bangun!" Suara Kowi tercekat menahan tangis.
Suster berlari kedalam mengambil stetoskop, dengan sigap ia keluar kembali,dan menghampiri Nenek.Ditempelkan stetoskop di dadanya, kemudian dengan segera ia mendorong nenek kembali ke dalam rumah, dengan bantuan Mbak dan Kowi, mereka memindahkan nenek ke tempat tidurnya. Suster menempelkan AED, alat untuk memonitor detak jantung dan memberi kejutan listrik ke jantung Nenek. Di tunggunya beberapa saat, kemudian ia menghubungi dokter. Kowi terus memperhatikan Neneknya, ia terus berdoa dalam hati "Semoga Nenek selamat".
Satu jam kemudian, dokter tiba, dengan segera ia mengecek keadaan Nenek, setelah yakin ia menghampiri Kowi.
"Nak Kowi, Nenek sudah gak Ada!"
"Innalilahi Wa'innaillaihi rojiu'n! Nenekkk!!!!" Kowi berlari sambil menangis menghampiri jasad Neneknya yang telah terbujur kaku.
Suster melaporkan kronologi kejadiannya.
"Waktu kematian 16.45" Suster mencatatnya di atas kertas putih.
Sekitar beberapa jam, para tetangga dan saudara berdatangan untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada Nenek. Nenek memiliki Tiga anak, anak pertama laki-laki, anak kedua perempuan, sedangkan yang bungsu perempuan, mamanya Kowi. Anak pertama bekerja di Dubai sebagai tenaga ahli, sedangkan anak perempuannya bekerja di Singapura sebagai eksekutif di sebuah Bank ternama. Anak ketiga, mamanya Kowi bekerja di kedutaan besar Indonesia untuk Jepang dan meninggal di sana. Beliau salah satu korban yang terkubur di reruntuhan gedung ketika terjadi gempa bumi dahsyat di Jepang tahun 2011. Papanya Kowi telah menikah lagi dan menetap di Rusia. Kowi diasuh oleh Neneknya.
Anak perempuan nenek, tante Eka tiba lebih dulu, malam harinya anak laki-lakinya PakDe Eko tiba. Nenek dimakamkan keesokan harinya. Kowi ditemani teman-temannya selama prosesi pemakaman.
"Wi,sudah makan?" Tanya Kiki sepulang dari pemakaman. Kowi menggeleng
"Minum ini saja Wi, supaya ada tenaga!" Rita memberikan jus Alpukat.
"Jus Alpukat itu gizinya tinggi, walaupun gak diisi nasi, tapi kalori jus ini insyaaAllah mencukupi untuk menambah tenaga!" ujar Rita menjelaskan
"Beli berapa banyak?" Tanya Andien
"Itu, di meja ruang tengah, Tante Eka beli banyak!"
Andien dengan segera menghampiri meja yang dimaksud dan membawa beberapa jus untuk teman-temannya.
"Ayo, kita juga harus isi tenaga!" Ujarnya
Kowi terbaring lemas, dari semalam ia menangis, hatinya sedih, nenek yang selama ini menemaninya telah tiada.
"Wi, jusnya diminum dulu, nanti dilanjutkan nangisnya!" Ujar Andien bercanda. Teman-temannya memeloti Andien
"Kenapa?" Tanyanya heran.
"Lagi pada berduka kenapa bercanda?" Lisa memperingatkan
"Iyaa maaf!!" Andien merasa menyesal.
"Kowi, Kita mau pulang dulu, nanti sore kami kemari lagi nemani kamu!" Ujar Rita yang disetujui teman-temannya. Kowi hanya terdiam, ia tetap berbaring menghadap ke tembok membelakangi teman-temannya. Rita dan teman-temannya pamit kepada Tante Eka.
"Tante, Kita pamit dulu,nanti sore insyaaAllah balik lagi untuk Kowi."
"Ohh..iya, terimakasih ya sudah menemani Kowi. Tapi sebaiknya tidak usah saja, kalian pasti capek. Kowi sudah ada sepupu-sepupunya yang menemani!" Ujar Tante Eka ramah.
"Ooo begitu, baiklah Tante, Kami pamit dulu!" Rita dan teman-temannya pergi meninggalkan rumah Kowi.
Hampir satu minggu sejak meninggalnya nenek, Kowi tidak kunjung masuk sekolah.
__ADS_1
"Eh, pada dapat kabar dari Kowi?" Tanya Lisa di saat jam istirahat
"Gak ada, gue telpon juga ga diangkat" jawab Rita
"Gue tadi ke rumahnya, kata tante Eka, Kowi sakit" ujar Kiki
"Hah?? Kog gue gak tau? Kan gue piket hari ini" ujar Andien bingung
"Lahh..Lo gimana sih? Coba cek ke ruang piket guru, siapa tahu tantenya nelpon ke sekolah tapi lupa disampaikan" ujar Lisa yang paham seluk-beluk sekolah
"Hmmm...nanti deh gue cek, sekarang makan dulu" Andien menyeruput kuah baksonya.
"Tantenya Kowi ramah ya?" Ujar Rita membuka percakapan
"He eh.. anaknya masih kecil-kecil, kemarin karena mendadak kemari, jadi anak-anaknya gak diajak." Ujar Kiki
"Lha, kemarin katanya banyak sepupunya Kowi?" Ujar Andien bingung.
"Iya,sepupu, anak dari PakDe nya."jawab Lisa
"Ooo..PakDenya Kowi bukannya TKI di LN?"tanya Kiki
"Iya, tapi keluarganya di sini" jawab Lisa lagi
"Ooo, terus Kowi gimana dong?"tanya Kiki
"Apanya gimana?"tanya Rita
"Selama ini yang jadi walinya Kowi kan Neneknya, kalau sudah gak ada gimana?"
"Karena Kowi masih di bawah umur, kalau gak diasuh Tantenya atau PakDenya" jawab Lisa
"Memangnya papanyanya Kowi di mana?" Tanya Rita
"Papanya Kowi di LN, sudah menikah lagi." Jawab Lisa
"LNnya di mana?" Tanya Kiki
"Rusia"
"Hah!! Jauh amat??" Rita dan Kiki kaget
"Enggak??" Jawab Rita dan Kiki kompak.
"Gue pikir Kowi orang Jawa, kadang ngomongnya Jawa medok banget kan?" Ujar Kiki
"Nyokapnya Jawa,bokap Rusia. Mereka ketemu di kedutaan besar Jepang di Jakarta. Perhatiin dong, perawakan,tinggi badan dan wajah Kowi kan Rusia banget!" Ujar Andien
"Haa..gue kira dia bongsor saja" ujar Kiki
"Pantesan Kowi cantik banget ya, pesona cewek Rusia itu beda." puji Rita
"Tapi Kowi kan tinggal di sini, minum air di tanah ini, jadi dia orang Indonesia dong??" Ujar Kiki
"Lah Iyalah, Kowi pernah cerita ke gue, sebenarnya kalau menurut peraturan lama, kalau bokap WNA nyokap WNI, gue ikut jadi WNA tapi, menurut peraturan baru Kowi bisa milih kewarganegaraan pas nanti usia 18 tahun." Ujar Lisa
"Jadi sekarang Kowi WNA?" Tanya Rita lagi
"Sudah WNI, neneknya sudah memutuskan, lagi pula Kowi gak dekat sama bokapnya, ngerti bahasa Rusia juga engga. Sekalinya dia Vcall , pakai google translate!" Cerita Lisa
"Ooo begitu, btw neneknya Kowi orang penting ya, kemarin yang datang tokoh-tokoh semuanya!" Tanya Rita
"Neneknya Kowi dulu jadi duta besar, negara mananya gue lupa. Nah, begitu nyokapnya Kowi wafat, ia langsung mengajukan hak asuh Kowi, karena bokapnya orang Rusia, neneknya takut Kowi dibawa kesana dan gak kenal sama keluarganya di Indonesia." Cerita Andien
"Wahh..Andien dan Lisa bisa tahu tentang Kowi, kog Lo engga Ki?" Tanya Rita heran
"Kan gue baru masuk sekolah ini kelas 10 semester 2, kalau kedua orang ini dari SMP sudah bareng." Jawab Kiki
"Oooo...pantesann.."ujar Rita
"Panjang banget Ooonya" ujar Kiki, diiringi tertawa teman-temannya.
"Jadi gimana? Nanti pulang sekolah kita ke rumah Kowi?"tanya Rita
"Ayo deh, gue juga sudah kangen nih!" sambut Kiki bersemangat.
"Ciyeee yang baru baikan, ceritanya mau PDKT lagi nih!" Goda Andien
"Ah elo Dien, yang namanya sahabat itu begitu, kadang bete, kadang sebel,kadang kangen, pokoknya love-hate deh!" Jawab Kiki
__ADS_1
"Beda ya yang udah pacaran, ngomongnya loveee terus!" Goda Lisa
"Apaan sih Lisa, norak banget deh!"
"Hahahaha!!"teman-temannya tertawa geli melihat Kiki yang tersipu malu.
Sepulang sekolah mereka mampir ke rumah Kowi.
"Maaf ya anak-anak Kowi belum mau bertemu teman-temannya, ia mengunci diri di kamarnya." Ujar Tante Eka menyesal.
"Oo, begitu,kami titip ini saja deh untuk Kowi , Tolong sampaikan kedatangan kami ya Tante," Lisa memberikan sebungkus buah-buahan yang dibelinya di perjalanan.
"Oh iya, terimakasih nanti Tante sampaikan" Jawab Tante Eka tersenyum manis.
Rita cs, meninggalkan rumah Kowi dengan perasaan kecewa.
"Kowi sedih banget kali ya, sampai gak mau kita temenin!"
"Gak papa Ki, kita kasih dia waktu untuk berduka, nanti kita balik lagi" hibur Andien
"Ehh...hmm...Yang tinggal di rumah itu selain Kowi siapa?" Tanya Rita
"Tadinya Neneknya, Mbak pembantu dan suster yang merawat neneknya."jawab Lisa
"Ada yang lain?" Tanya Rita lagi
"Kalau sekarang ada PakDe sama Tante Eka kan?"
"Iya, cuma tadi gue lihat ada nenek-nenek" ujar Rita
"Ah..Nenek yang mana? Tadi gak ada siapa-siapa?" Ujar Kiki
"Tadi di ruang tamu lagi duduk!"
"Ah Elo Rit, jangan bikin kita takut, gue merinding nih!" Ujar Andien, merapatkan tubuhnya ke Kiki
"Jangan bilang Lo punya six sense kayak tante lo ya?" Tanya Lisa
"Hmmm... kadang-kadang sih!"
"Serius??" Ujar teman-temannya bersamaan.
"Tapi menurut kepercayaan, kalau belum 40 hari arwahnya belum pergi, makanya ada pengajian, supaya arwahnya bisa pergi dengan tenang!" Ujar Lisa
"Mungkin gue salah lihat!" Ujar Rita menenangkan Kiki yang makin merapatkan tubuhnya ke Rita.
"Iya, lo pasti salah lihat!" Ujar Andien
Malam harinya Rita bermimpi tentang neneknya Kowi, sepertinya beliau mengatakan sesuatu. Rita terbangun dari tidurnya. Tante Saye tertidur nyenyak di sampingnya. Sejak Tomi meninggal,Tante Saye ikut tinggal di rumah untuk menemani Rita. Perlahan, Rita bangkit dari tempat tidur, ia merasa haus. Dengan langkah perlahan, ia meraih gelas dan mengisinya dengan air. Rita selalu menyediakan air minum di kamarnya.
"Nak!" Seseorang menyapanya
Rita berpaling kaget
"Astaghfirullah!!" Ia terjatuh
"Maaf, Nenek ganggu, bisa tolong cucu nenek?"
"Cucu Nenek? Siapa?" Tanya Rita
"Itu!" Nenek menunjuk foto Rita dan teman-temannya.
"Ehh!!" Rita terbangun dari tidurnya.
"Hah, tadi mimpi, kog gue haus beneran?" Rita beranjak dari tempat tidurnya.
"Mau kemana Rit?"
"Minum Tante"
"Oooh"Tantenya kembali tertidur.
Setelah minum, Rita duduk di kursi belajarnya.
"Ada apa ya??" Pikirnya.
"
-bersambung-
__ADS_1
,?