
Ujian semester selesai, Rita, Daniel serta rombongannya kembali ke Jakarta dan bersiap untuk pergi ke Swiss selama dua minggu.
“Selamat datang mba Rita!” Pak Ridwan memberi salam ketika Rita telah sampai di rumah besar
“Terima kasih pak Ridwan, wah sepi sekali dong di sini?”
“Iya mba, saya juga gak menyangka pak Daniel akan menyusul mba tinggal di Singapura”
Daniel sedang bermain dengan ketiga anak mereka sehingga tidak mendengarkan yang pak Ridwan katakan
“Iya, dia kesepian katanya. Oh iya pak, apa ada surat atau kabar apa gitu selama saya gak di rumah?”
“Oh iya mba, ada paket dari tante Saye. Saya sudah taruh di kamar mba”
“Paket? Paket apa?”
“Entahlah, tetapi ketika paketnya sampai, beliau minta agar kami mengonfirmasi kepada beliau”
“Sudah konfirmasi pak?”
“Belum mba, saya belum sempat. Karena ketika paket sampai, ada longsor di bagian belakang rumah ini, jadi kami sibuk ke sana”
“Hah? Longsor? Kok bisa?”
“Itu karena hujan tak berhenti selama beberapa hari, air masuk ke tanah dan mengikis bagian bawah rumah ini”
“Nah lho, lalu sekarang gimana pak?”
“Kemarin kami sudah menambah batu kali untuk menutupi longsoran. Lalu saran arsitek agar kami membuat kolam penampungan untuk menampung air hujan agar tidak masuk ke tanah semuanya.”
“Bukannya kita sudah ada danau pak? Kenapa airnya gak dialirkan ke sana”
“Terlalu jauh letaknya mba, kemarin kami sudah melakukan demonstrasi terhadap air hujan dan berhasil. Mudah-mudahan penampungan air ini bisa menjadi cadangan air saat musim kemarau nanti”
“Iya juga ya? oh iya, biaya perbaikan rumah ini dari mana pak? Kok saya gak diberi tahu?”
“Kan sudah ada rekening berjalan untuk rumah ini mba, jadi tidak perlu khawatir”
“Oh begitu, syukurlah. Oh iya kemarin saya sudah transfer 50 juta untuk keperluan bulan ini”
“Baik mba, terima kasih!”
“Sama-sama pak!” Rita kembali ke kamar megahnya.
“Sayang kamu dapat paket!” ujar Daniel menghampiri Rita sambil menggendong Ranna
“Kok tumben kak Ranna digendong?”
“Dia iri, dia bilang, papi aku juga masih bayi, kenapa cuma Rayya saja yang papi gendong” Daniel memeluk Ranna yang bermanja digendongannya
“Terus, adek mana?”
“sama sus Rini, sedang main dengan Raffa” jawab Daniel, salah satu tangannya penasaran dengan paket di hadapannya
“Kamu gak mau buka itu?” tanyanya
“Mau, tapi aku mau nelpon tante Saye dulu, beliau minta dikabari kalau paketnya sudah sampai”
Rita menghubungi Saye melalui Vcall dengan layar lebar
“Assalammu’alaikum Tante!”
“Wa’alaikummussalam! Rita! Hai!!!” Saye sedang mengasuh anak lelakinya
“Wah itu sepupu saya ya? hai !! Ali??” Rita melambaikan pada anak kecil dipangkuan Saye
“Hai juga!! Kak Rita!!” Saye mengajarkan kepada Ali
“Ali usianya berapa ya Tante?”
“Dua tahun kurang, dia lebih muda beberapa bulan dari Ranna. Oh iya itu Ranna ya?”
“Eh iya, Sayang, sapa dulu tante Saye!” Rita memanggil Daniel yang sedang menggendong Ranna
“Assalammu’alaikum Tante!” sapa Daniel, ia juga mengajarkan Ranna untuk menghadap ke layar TV
“Wa’alaikummussalam, kalian sehat Niel?”
“Alhamdulillah sehat tante, di sana gimana?”
“Alhamdulillah sehat, Cuma tante sering ditinggal dinas luar sama Om Budi. Sekarang beliau sedang di AS”
“Oh ya? AS di kota apa tante?”
“Massachuset, baru berangkat kemarin”
“Kok tante gak diajak?”
“Ali rewel kalau naik pesawat, mungkin gak nyaman dengan tekanan udara di pesawat. Jadi untuk sementara kami gak bisa kemana-mana naik pesawat. Itu Ranna kenapa? Apa sakit?” Saye melihat Ranna yang terlihat lemas dipelukan Daniel
“Enggak tante, dia lagi manja. Kami baru kembali dari Singapura tadi, dia bilang papi di sana gendong adeknya terus, jadi dia sekarang pengen digendong terus” ujar Daniel
“Oh adeknya Ranna? Raffa ya? mana dia sekarang?”
“Adeknya Ranna sudah dua tante Raffa dan Rayya”
“Hah? Oh ya? wah tante gak tahu yang Rayya, usia berapa bulan sekarang?”
“Enam bulan tante, lagi aktif-aktifnya belajar merangkak” jawab Daniel bangga
“Rayya itu lelaki atau perempuan?”
“Perempuan Tante, namanya Rayya Fitri Kang” jawab Rita
“Wah tante mau lihat dong!”
“Sebentar tan!” Rita meninggalkan ruangan dan memanggil Raffa serta Rayya
“Nah bang kenalin itu Oma Saye!” Rita mengenalkan Raffa pada Saye
“Hai!! Raffa!” Saye tersenyum
“Hai Oma!” Raffa bersembunyi di balik punggung Rita karena malu
“Ah dia malu lucu sekali, nah Rayya mana?”
“Ini Rayya!” Rita mengambil Rayya dari gendongan sus Rini
“Itu Rayya, ya Ampun...mirip kamu banget Rit!!” Saye tertawa geli
“Kok ketawanya geli banget tan?” tanya Rita
“Kok bisa mirip banget ya?” ujarnya heran
“Iya ya? tan?” ujar Daniel sambil memperhatikan Rayya
“Kalau Ranna mirip kamu Niel”
“Tuh bener kan!” ujar Rita menimpali
“Eh iya ya?” Daniel duduk lalu memindahkan posisi Ranna menghadapnya
“Ahh...papi!!!” Ranna kembali memeluk Daniel
“Manja banget nih kakak!” ledek Rita
“Oh iya Tan, paket dari Tante sudah sampai!”
“Oh ya? kapan sampainya?”
__ADS_1
“Mungkin beberapa hari yang lalu ketika kami gak di sini”
“Oh begitu syukurlah. Dalam paket itu, ada yang merupakan warisan dari ayah mu, dia juga menulis surat wasiat ke tante ada beberapa barang yang ditinggalkan untuk kamu. Juga ada beberapa coklat dari tante”
“Coklat! Alhamdulillahh!” Rita tampak tak sabar membongkar paket dari Saye
“Oh iya Tante, usaha coklatnya masih berjalan?”
“Masih Rit, tante masih distribusikan ke beberapa tempat di Indonesia”
“Aku mau dong tante,”
“Mau apa? coklat?”
“Iya, aku punya toko roti di Singapura. Aku bisa bantu menjualkan coklat tante di toko aku!”
“Oh begitu, boleh Rit, nanti kita kontak lagi ya? Ali ini agak anget badannya dari pagi agak rewel”
“Oh begitu, baiklah tante. Nanti kalau sudah ada waktu lengang kita obrolin lagi tentang coklat itu ya?”
“Iya Rit!, dadah Kak Rita, Pak Daniel! Ranna, Raffa Rayya!!” Saye melambaikan tangan Ali ke kamera
“Dadah Ali!! Take care!” ujar Daniel dan Rita bersamaan
Komunikasi terputus, Rita segera mengambil cutter dan membuka paket dari Saye
“Kak Ranna kamu ngantuk ya?” tanya Daniel memegang dahi Ranna
“Gak!”
“Papi mau bantuin mami, kamu main sama adek Raffa ya?” ujar Daniel hendak menurunkan Ranna
“No!” teriak Ranna , Rita dan Daniel sampai terkejut
“Kenapa kak? Ada yang sakit?” tanya Daniel
“No!, mami no love me! Papi juga?” tanya Ranna dengan nada lucu, Rita heran dengan perkataan Ranna
“Kenapa kak? Kok Ranna bilang begitu?” tanya Rita mendekati
“huuuuu....kakak gak boleh minum susu mami lagi..mami gak sayang!” Ranna menangis dipelukan Daniel
“yahhh...kok jadi begini sih?” Rita heran, ia hendak menggendong Ranna, tetapi Ranna menolak, dan ia meminta Daniel pergi dari ruangan itu
“Sudah Yang, jangan dipaksa dulu, biar dia tenang dulu!” ujar Daniel sambil pergi ke ruangan lain diikuti oleh kedua suster yang membawa dua anaknya yang lain.
Rita menghela nafas menahan dirinya yang sedikit bersedih mendengar perkataan anak sulungnya
“Tuutt!!” bunyi Vcall di layar TV
“Hai !”
“Hai kak Andi!”
“Wah kok sepi? Pada kemana?”
“Anak-anak diajak main sama papinya!”
“Yah, sayang banget, padahal aku mau melihat mereka!”
“Kak Andi sekarang di mana?”
“Gue? Masih di propinsi Guangzhou China”
“Bagaimana perkembangan kakek Kak?”
“Sudah membaik Rit, tapi kadang beliau suka lupa”
“Alzheimer dong kak?”
“Enggak kok! tesnya negatif. Kata dokter mungkin ada memori otaknya yang belum sinkron”
“Mama kemarin ke New York, ada acara peragaan busana di sana. Jadi beliau mengikut sertakan butiknya”
“Kak, kakek sekarang mana? Aku kangen”
“Baru tidur Rit, beliau baru selesai terapi. Mungkin nanti jadwalnya gue share deh supaya lo bisa lihat kakek!”
“Iya kak!, aku jadi gak enak gak bisa ngurus kakek!”
“Gak usah Rit, urusin saja anak-anak dan bapaknya. Eh iya, kemarin si O nelpon gue”
“O? Kenapa?”
“Katanya, Ranna nelpon dia beberapa hari yang lalu”
“Ranna?”
“Iya, lucu deh, nanti gue share omongannya ke O!”
“Kok O gak bilang apa-apa sama gue?”
“Katanya kalau bilang langsung ke mamanya, takut Ranna dimarahi. Mamanya Ranna galak!”
“Ah sialan nih si O!”
Andi menshare percakapan Mario dengan Ranna
“Om O? I Anna”
“Ranna?”
“Iya! aku boleh tinggal sama Om O?”
“Hah? Kenapa?”
“Anna gak mau sama mami lagi”
“Kenapa?”
“Mami jahat!”
“Jahat kenapa?”
“Anna gak boleh minum susu lagi”
“Oh ya? masa sih?”
“Anna tinggal sama Om O ya? dah!”
“Dasar anak itu! Ratu drama!” Nada suara Rita agak sedih
“Kenapa sih Rit?”
“Itu kak, Ranna kan sudah dua tahun, jadi susunya aku ganti jadi susu formula, sedangkan ASInya untuk adek-adeknya. Kok jadi ribet begini sih?” keluh Rita
“hahahaha...itu artinya lo resmi jadi ortu Rit!, memang begitu!”
“Kak Andi kayak yang sudah jadi ortu saja!”
“Gue diskusiin telponnya Ranna ke mama”
“Terus kata mama apa?”
“iya, katanya itu cobaan Rita jadi ortu. Kadang kita melarang malah dimusuhi, lo inget-inget deh waktu masih jadi anak!”
“Sekarang juga masih!”
“hahaha...iya sih..ya udah deh Rit, nanti gue Vcall lagi deh!”
__ADS_1
“EH iya kak, Selasa besok kita mau ke Swiss 2 minggu!”
“hah? Ngapain? Liburan?”
“Bukan! Aku kan lagi libur semester, terus Daniel tugas di sana 2 minggu jadi dia ngajak kita ke sana”
“oh begitu!, kabarin saja deh, nanti siapa tahu gue bisa mampir ke sana!”
“Lah, kakek gimana?”
“Kata dokter sih, minggu ini sudah bisa rawat jalan jadi sudah bisa meninggalkan RS”
“alhamdulillah...”
“Tapi belum pasti juga Rit, tunggu 2-3 hari ini deh. Kalau sudah bisa diajak komunikasi lancar baru bisa keluar”
“iya kak, mudah-mudahan ya?”
“Aamiin, sudah ya Rit, salam sama Daniel dan anak-anak!”
“Wa’alaikummussalam!”
Mereka mengakhiri Vcall nya
“Dasar kak Ranna!” gerutu Rita, ia memikirkan cara yang tepat untuk kembali berbaikan dengan anak pertamanya.
Ia mulai membuka paket dari Saye. Di dalam paket itu terdapat dua kotak ukuran sedang, kotak pertama bertuliskan “coklat” kotak kedua : “dari Reza”. Rita membuka kardus coklat dulu, lalu mengambil salah satu coklat batangan di dalamnya
“Wuiidiihhh...banyak banget!” ujarnya girang. Ia penggemar coklat, sambil mengunyah coklat, ia membuka kotak kedua. Di dalamnya terdapat album yang berisi foto-foto masa kecilnya dan juga medali penghargaan dan piagam selama ia menjadi atlet . Juga ada amplop putih bersegel, isinya lumayan berat. Di depan amplop itu bertuliskan
“Untuk Rita ku!” dengan hati-hati Rita membuka amplop putih berukuran sedang itu. Alangkah terkejutnya, ia menemukan 2 logam mulia, bernilai 100 gram. Lalu ada surat dari ayahnya
“Rita sayang, Ayah minta maaf tidak bisa memberikan apa-apa untuk kamu.
Selama ini kamu sudah sangat baik mengurus ayah.
Kamu betul-betul anak Ayah. Setiap hari ayah berdoa kebahagiaan untuk kamu.
Dulu ayah sangat berharap tes DNA kamu tidak cocok dengan Eka tetapi itu cuma harapan saja. Membesarkan mu adalah anugrah terindah dalam hidup ayah.
Rita, dua LM ini tabungan ayah selama ayah bertugas sebagai dokter. Jadikan ini tabungan mu ya? Kalau surat ini sudah sampai di tangan kamu, berarti ayah sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Kamu akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak mu, karena kamu sudah menjadi anak yang sangat baik bagi ayah, terima kasih sudah mengisi hidup ayah selama ini.” Rita menangis membaca surat dari ayahnya. Ia menatap 2 batang LM itu dan menyimpan di dalam tasnya.
Kemudian ia membuka album foto kecil, ia melihat foto-fotonya ketika kecil bersama ayah dan mamanya. Juga foto ketika ia mulai masuk SD, SMP serta SMA .
“Ya ampun, ayah menyimpan semuanya!”
Rita tertarik pada sebuah foto ketika ia SMP kelas 1. Ia baru saja pindah ke sekolah baru.
“Siapa orang ini ya? kok rasanya kenal?” ia melihat foto seorang anak lelaki yang di foto bersama dia dan teman-teman sekelasnya.
Ia membuka foto-foto yang lain, ada fotonya bersama Tommy ketika ia masih di SMP
“Ih kak Tommy cakep!” gumamnya sambil melihat foto yang mulai ngeblur. Ia membuka album sambil tiduran di sofa depan TV, tanpa terasa rasa kantuk menyerangnya, akhirnya ia pun terlelap.
“Kenapa sih gue harus satu kelompok sama lo?” ujar anak lelaki dalam foto itu
“Heh! Ini karena nama kita hampir sama!” ujar Rita
“Hampir sama gimana? nama gue Koko, sedangkan lo Rita, sama gimana?” ujar dia protes
“Tapi nama belakang lo kan R? Nah itu disambung-sambungin. Sudahlah kenapa sih, toh kita Cuma sekelompok saja gak pacaran!”
“Justru itu! Gue lebih senang sama Iin atau Liza, kenapa sama Lo?” Koko menyebutkan nama teman dekatnya Rita
“Lo cowok bawel banget ye? Kalau mau protes sama guru sana! Jangan marah-marah sama gue!” protes Rita tersinggung karena merasa ditolak Koko
“Sudah protes, katanya gak bisa diubah, sudah final!” ujar Koko kesal
“Ya udah!, gini saja deh. Kita urus diri kita masing-masing! Jujur gue juga gak suka sama Lo!” Rita meninggalkan Koko
Suatu siang, Rita mencak-mencak di tempat duduk dalam kelasnya
“Kenapa sih lo Rit? Dari tadi gue lihat lo uring-uringan saja!” tanya Iin
“Si Koko itu kurang ajar! Gara-gara dia terlambat datang ke praktek, kelompok gue kena hukuman ! sialan tuh orang!”
“Koko terlambat? Memangnya dia kemana?”
“Mana gue tahu! Gue udeh bilang, walaupun kita sekelompok urus, urusan masing-masing saja! Eh kayaknya dia sengaja tuh telat-telatin!”
“Lo yakin? Sama gue kok dia baik ya?” ujar Iin
“Sama gue juga Rit, malah kemarin dia minjamin bukunya ke gue”
“Buku apaan?”
“Buku Dasar Elektronika!”
“Sialan tuh orang!, gue nyari buku itu di perpus katanya sudah dipinjam. Gue bilang dia, gak bisa ngerjain kalau gak ada buku itu. Eh malah dikasih ke lo ya? apa gue hajar saja tuh orang?”
“Jangan Rit!, eh ini deh bukunya, kemarin sebenarnya gue agak maksa sama dia. Tadinya dia gak mau kasih, tapi karena muka gue memelas jadi dia kasih ke gue!” Liza memberikan buku itu ke Rita
“Gak usah! Gue gak butuh! Biar saja tu anak yang ngembaliin sendiri ke perpustakaan!” Rita segera mengambil tas ranselnya dan keluar dari kelas
“Rita! Nanti lo gak praktek?”
“Enggak! bilangin gue lagi sakit ! biarin saja di goblok sendirian!” ujar Rita, ia sangat kesal. Lalu ia pergi ke ruangan OSIS
“tok..tok..tok!” ia mengetuk pintu
“Ya? masuk?” suara dari dalam tampak akrab
“Kak? Lagi sibuk?” tanya Rita suaranya berubah lembut
“Enggak, lagi bikin pamflet. Memangnya kamu sudah selesai?” tanya Tommy
“Belum sih kak, sebenarnya ada praktek elektronika nanti siang.”
“Terus kamu mau bolos?”
“Masalahnya ada tugas kak, aku sudah mencari buku dasar elektronika di perpus, tapi kayaknya kehabisan” ujar Rita, suara agak manja
“Tugasnya kayak apa? coba sini siapa tahu kak Tommy masih ingat”
“Beneran kak? Asyiikk!!!” Rita bersemangat membuka buku tugasnya, lalu memberikan kepada Tommy
“Ah ini toh, ini mah gampang. Gini deh, kak Tommy diktein kamu yang nulis fungsi tiap-tiap alat ya?”
“Oke kak, siap!” dengan hati yang berbunga-bunga Rita menuliskan tiap kata yang disebutkan oleh Tommy. Hatinya berdebar kencang, ketika Tommy mendekatinya, ia terpukau dengan wajah tampan Tommy
“Kak Tommy, sudahlah tampan, pintar, ramah, jagoan baik lagi, gak kayak si kampret Koko, mukanya biasa saja sok banyak tingkah!” gumam Rita dalam hati
“Rit!...Rita...!” panggil Tommy
“Eh iya kak?”
“Sudah di tulis?”
“Apanya ya kak?”
“Yang tadi kakak sebutin”
“Ahh....hahahaha...belum kak..tadi lagi banyak pikiran!”
“Dasar! Cepat dikerjakan, kamu tahu gak guru elektronik ini kalau sekali kamu gak ngerjain tugas, kamu akan diincer terus sampai akhir tahun pembelajaran karena dianggap kamu membangkang!”
“Waduh!..gawat kalau begitu!” Rita segera menuliskan kata-kata dari Tommy
__ADS_1
_Bersambung_