
Pemakaman ayah Kiano berlangsung dengan lancar dan khidmat, dari pemakaman mereka kembali ke rumah. Ruang makan di rumah itu cukup luas, disitu telah tersedia hidangan untuk para tamu yang datang melayat. Sementara keluarga berkumpul di ruang keluarga untuk mendengarkan pembacaan warisan, Rita dan kawan-kawan diperbolehkan berada di tempat sebagai saksi. Setelah pembacaan, semua orang pergi ke ruang sebelah untuk menyantap hidangan , hanya satu orang yang kelihatan tidak berselera. Kiano meninggalkan ruangan tersebut, Rita mengikutinya dari belakang. Kiano duduk di sekitaran taman di depan rumah, ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya.
“Sejak kapan Lo merokok?” tanya Rita tiba-tiba
“Sejak gak ada Lo!” dengan cueknya Kiano menyalakan rokok dan meniupnya
“Nanti lo kena kanker kayak nyokap Lo!” ujar Rita memperingatkan tapi Kiano cuek, ia tetap menghisap rokoknya
“Rit!”
“Apaan? Tiba-tiba meluk lagi, gue tampol lo!” jawab Rita
“Kagak, galak banget!, tamparan Lo tadi pagi masih sakit tau!”
“Lo sih suka bertingkah, kan tau kalau gue refleks kayak apa!”
“Lo yakin gak mau sama gue? Lo dengar sendiri, hampir semua kekayaan ini sekarang milik gue!”
“Iyeee, Lo sudah jadi sultan , tapi nanti kan setelah Lo berumur 21 tahun?”
“Tapi kan tetap saja, 4 tahun lagi Rit!, makanya jadi bini gue saja ya!” Kiano memaksa
“Gak mau!, kalau soal sultan, gue juga sudah sultan!” jawab Rita, Kiano melihat kearahnya
“Oh iya bener juga, Lo cucu perempuan dari 2 konglomerat terkaya di dunia!”
“Nah Lo tau tuh!”
“Justru itu Rit, Lo harus nyari laki yang status sosialnya sama lah sama Lo, contohnya gue!”
“Dari dulu gue sudah menganggap lo saudara Ki. Ibaratnya lo itu sudah jadi tangan kiri gue”
“Tangan kanan lo siapa?”
“Ya kak Andi lah!”
“Kenapa perumpamaan lo serem banget sih?”
“Karena kalau saudara itu memang ibarat anggota tubuh, tapi kalau suami atau istri itu ibaratnya pakaian, bisa diganti-ganti”
“bisa diganti-ganti, gampang amat ngomongnya.” Kiano mematikan sisa rokok di tangannya
“Btw Ki, Lo baik-baik saja kan sama ibu sambung Lo?”
“Gak masalah, selama dia gak campuri urusan gue”
“Gue heran Ki, kog ibu sambung Lo bisa tenang ya di sisi bokap Lo waktu beliau bikin pesan video? Suaminya cerita tentang mantannya Lho, kalau gue cemburu berat itu!”
“Budaya di sini beda Rit, lelaki biasa punya lebih dari 1 istri, nah para perempuannya juga sudah biasa tuh, beda sama di negara kita, yang rata-rata cewek menolak poligami”
“Tentu dong, daripada di-dua-in mending cerai saja!”
“Nah, makanya gue bilang budayanya beda. Rit, Lo yakin, gak mau mempertimbangkan gue? Sebentar lagi kalau gue sudah banyak duit gue bakal cakep lho! Mungkin selera gue bukan Lo lagi!”
Rita tertawa jijik..
“Ki..Ki...emang lo mau didandani secakep apa? sudahlah, jadi saudara gue saja. Daripada nanti kalau jadi pacar lo bakal jadi mantan gue? Lo tau kan bagaimana sikap gue ke mantan?”
“Bagaimana?”
“Gue punya prinsip, buanglah mantan di tempat sampah!”
“hahaha..sadis banget!, emang mantan lo sudah berapa? Seingat gue cuma Tommy doang kan?”
“Masa gue harus cerita semuanya sama Lo Ki? Itu rahasia dong!” ujar Rita tersenyum
Kiano melihat ke arahnya, wajah teman kecilnya yang kalau semakin dilihat semakin membuat hatinya berdebar.
“Udeh, Lo jangan ngeliatin gue melulu, nanti susah melupakan!” canda Rita
“GR Lo! Rit, gue sudah memutuskan untuk tinggal di sini”
“Hah? Serius Lo? Yakin?”
“Serius dong, Lo dengar wasiat bokap gue kan? Gue harus banyak belajar mengenai bisnis, lagi pula sekarang tanggung jawab gue sama 3 adik gue.”
“Empat !”
“Hah, 3 kali!”
“Empat! Lo gak dengar tadi bokap lo bilang , to my unborn child! Jadi ibu sambung lo lagi hamil !”
“Eh buset deh bokap gue, lagi sakit parah tapi tetap bereproduksi!”
“Hahaha..bisa aje Lo Ki, bereproduksi, jadi inget pelajaran biologi!”
“Rit!”
“Apaan? Dari tadi Rat-Rit-Rat Rit, ngomong langsung aje kenapa!”
“Kira-kira Lo bakal balik lagi ke Indonesia?”
“Insya Allah suatu hari nanti, kenapa memangnya?”
“Gak nemuin bokap lo?”
“Maksud lo ayah?” tanya Rita, Kiano mengangguk
“Beliau bilang Lo masih marah sama beliau? Telepon, surat, email, gak Lo balas! Jangan begitu lah, nanti Lo nyesel Lho!”
“Hati gue belum siap!”
__ADS_1
“Memang harus se siap apa? telepon saja, say hello kek, apa kek, kakek kek. Jangan menghilang begitu saja! Lo kan dibesarkan sama beliau! Tunjukan dong kalau Lo itu anak yang tahu membalas budi!”
“Gue menjaga perasaan kakek Darmawan, beliau takut gue akan minta pulang kalau ngomong lagi sama ayah”
“Masa kakek lo kejam begitu? Kan Elo bisa segede gini karena dr.Reza yang ngasuh dan ngasih makan”
“ Seharusnya ayah Reza terbuka sejak dulu ke kakek Darmawan, jadi urusannya gak ribet kayak gini”
“Emang ribet?”
“Ya ribet lah , gue juga takut kalau gue sering menghubungi ayah, malah pengen pulang ke tanah air”
“suatu saat lo pasti pulang Rit, lagi pula, status kewarganegaraan lo kan WNI”
“Soal itu kakek yang ngurus semuanya”
“Enak ya sudah jadi sultan, semua serba gampang!”
“Gak juga Ki, seperti lo bilang, semua ada konsekuensinya”
“Iya betul. Oh iya kira-kira Lo bakal nikah sama Daniel?”
“Kenapa sih pada nanya begitu? Gue masih 17 tahun! Masih banyak cita-cita yang masih mau gue kejar! heran, gak elo, gak Rendy nanyanya itu juga!”
“Rendy? Siapa lagi tu?”
“Itu cucu konglomerat yang dijodohkan sama gue!”
Kiano melotot, ia menelan ludah
“Serius Lo Rit?”
“Serius dong, tapi gue tolak!”
“Lo tolak karena ...Lo sudah sama Daniel?”
“Sama Daniel cuma salah satu alasan, alasan yang sebenarnya zaman gini masa masih dijodoh-jodohin, gak mau gue, kayak orang jadul!”
“Tapi Rit, Lo yakin kakek lo bakal menerima penolakan lo begitu saja? Gue sih gak percaya, apalagi biasanya mereka usahakan tuh, contohnya bokap gue. Lo tau ternyata ibu sambung gue juga anak konglomerat! Mereka join kongsi supaya usahanya lancar!”
“usaha lancar, kalau pernikahan gak lancar gimana?”
“Gak tau deh tentang itu, bokap-nyokap gue saja yang katanya menikah karena sama-sama cinta saja bisa cerai. Jadi belum tentu kan yang dijodohin gak bakal bertahan? Orangnya ganteng gak Rit?”
Rita melihat Kiano dengan pandangan aneh
“Aneh banget cowok nanya kayak gitu? Lo normal kan?”
“Maksud gue, cakepan mana sama gue?”
“Cakepan Daniel lah!” Rita terkekeh
“Tuhh..makanya kita bilang, apa lo bakal menikah sama Daniel, karena kalian kelihatan sudah lengket dan mesra banget, hati-hati Lho Rit, gue cowok nih, kalau ceweknya sudah lengket sama gue, biasanya mau gue apain saja!”
“namanya laki-laki dan perempuan kalau sudah sama-sama suka biasanya kejadian tuh, istilah sainsnya bereproduksi!”
“Jangan dong! Gue mau aman-aman saja sampai hari pernikahan gue kelak!”
“Makanya jangan terlalu nempel!, gue sih ngasih tahu saja karena gue juga cowok!”
“Iyaa tauu!..heran, gue jadi berasa ada ayah di depan gue!”
“Telepon gih!, kasih kabar apa gitu, kasihan beliau merasa bersalah sama Elo!”
“Aaaa??” sebelum Rita menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Andi datang setengah berlari menghampiri mereka, wajahnya terlihat kesal, pakaiannya kotor.
“Eh Di lo kenapa?” tanya Kiano heran
“ini nih, gara-gara kaos ini, gue disangka Elo!” Andi membuka kaosnya dan hanya mengenakan singlet.T-shirt bertuliskan Kiano,pada bagian belakang .
“Kenapa kak?” tanya Rita heran , ia memungut t-shirt itu dari tanah
“gue tadi hampir diculik tau gak!”
“Hah?? Terus?”
“Syukurlah ada banyak pengawal yang bantuin gue, jadi penculikannya gagal!”
“Ooooh” Kiano hanya mengatakan itu dengan wajah datar
“Kog Ohh doang? Ini gara-gara Elo nih! Kalau Lo gak bikin baju gue kotor penuh ingus lo, gue gak bakal pakai kaos ini!” Andi mengatakannya dengan suara tinggi
“maaf deh!, gak apa-apa kog, besok juga ada yang datang lagi!” Kiano mengatakannya lagi dengan wajah datar
“kog lo santai banget Ki?”
“gue sudah beberapa kali tuh kena sekap, tapi mereka negotiable kog, asal harganya pas, Lo bakal dilepas! Orientasi mereka Cuma duit bukan menghilangkan nyawa!”
“gile Lo No!” Andi mengatakan dengan wajah heran
“Habis mau gimana lagi? Asal kita gak kasar sama mereka, mereka juga baik kog! Gue pernah dibalikin dari rumah sekapan, dikasih makanannya yang enak-enak jadi males gue balik kesini!”
“Rit, jangan temenan sama ni orang! Beneran absurd!” ujar Andi ke Rita
“Mungkin itu alasannya kenapa lo tambah absurd ya Ki?” ujar Rita heran
“Gak juga Rit, waktu gue disekap, gue diperlakukan dengan sangat baik, gak diiket, apalagi dipukulin. Bahkan gue main sama anak yang menyekap gue!”
“Jadi sebenarnya motif mereka itu apa? kog mereka menyekap Lo tapi memperlakukan lo dengan baik?” tanya Andi
“Itu namanya Stockholm Syndrome Kak, orang yang disekap bersimpati dengan yang menyekap. Bahkan mungkin bisa jadi kaki tangannya!” ujar Rita menerangkan
__ADS_1
“Bukan itu Rit, gue paham kog tuntutan mereka, jadi mereka itu sebenarnya para mantan pegawai bokap yang di PHK secara tidak adil. Mereka gak dikasih apa tuh istilahnya kalau dipecat? Gue lupa. Padahal mereka sudah mengabdi selama bertahun-tahun, jadi gue pikir yah supaya mereka dapatkan hal mereka gue akting dikit lah buat bantuin!”
“Tapi kalau berkali-kali itu namanya memeras kan?”
“Itu karena ada pegawai bokap gue yang gak memberikan sesuai amanah, uang yang janji diberikan kurang jumlahnya dikorupsi sama dia!, makanya gue kembali ditahan”
“Ah..gak wajar ! itu kebetulan penyekapnya punya hati nurani, kalau ternyata yang tadi bukan orang yang sama gimana?” protes Andi
“Sebentar orangnya kayak begini bukan?” Kiano membuka ponselnya dan menunjukkan foto orang yang telah menyekapnya
“hah? Lo punya foto mereka?”
“Punya dong, kan gue bilang, kita sudah akrab!”
Rita dan Andi saling pandang dengan tatapan tidak percaya, sekaligus aneh
“Nih Di, coba lihat satu persatu orangnya!”
Andi melihat foto di ponsel Kiano
“Enggak, gak ada satu pun!” ujarnya yakin ia meneliti foto itu satu per satu
“yakin Lo?” tanya Kiano
“Yakin lah, gue itu paling mudah mengingat wajah daripada mengingat nama!” ujar Andi
“Kalau begitu gawat!” Kiano mematikan rokoknya, dan menghubungi seseorang, gayanya layaknya seorang bos. Andi duduk di samping Rita, ikut melihat tingkah Kiano. Tak berapa lama , Kiano selesai menelpon
“Gue sudah minta teman gue untuk mengecek CCTV di sekitar rumah ini, mudah-mudahan bisa terlacak!”
“Itu sudah dikerjain sama Daniel, sekarang ia sedang memberikan keterangan ke polisi percobaan penculikan gue!”
“Ohh..sudah? ya bagus deh! Maaf ya Di, gara-gara nemenin gue di sini, Lo malah hampir jadi korban” Kiano meminta maaf dengan wajah menyesal. Andi diam saja, ia masih tampak kesal
“Kak, bawa baju lain gak? Masa pakai singlet doang?”
Kiano membuka jas putihnya dan memberikannya kepada Andi
“Pakai ini saja, gak usah dibalikin. Gue punya banyak!”
“Bau gak nih?” Andi mengendus jas putih milik Kiano
“Wangi dong, gue kan sudah jadi sultan!”
“Belum!!” ujar Rita dan Andi bersamaan
“Setidaknya sudah bisa menikmati lah!, ayo kita ke dalam. Gue tiba-tiba lapar nih!” ajak Kiano
Sesampainya di ruang makan, Rita melihat Daniel duduk di sebelah seorang perempuan, mereka tampak asyik bercakap-cakap, Rita menghampiri mereka
“Daniel kamu sudah makan?” tanyanya memotong pembicaraan mereka
“Ah, belum. Karena terlalu asyik, oh iya, Saveetri, kenalkan ini Rita!”, perempuan bernama Saveetri itu tingginya hampir setinggi Daniel. Wajahnya cukup manis, dengan rambut panjang sebahu. Saveetri mengulurkan tangannya menyalami Rita.
“Saveetri!”
“Rita!”
“Saveetri ini teman lama ku sewaktu kami belajar menjadi bodyguard” ujar Daniel
“Bodyguard ada sekolahnya?’ tanya Rita heran
“Bukan sekolah, lebih tepatnya seperti lembaga pelatihan, tapi kami dilatih secara khusus, seperti militer.” Sambung Saveetri
“Sekarang Saveetri dan suaminya yang mengelola kamp pelatihan itu!” sambung Daniel
“Suami?” tanya Rita
“Iya, Saveetri sudah menikah 3 tahun yang lalu, sekarang anaknya lelaki berusia 2 tahun!” ujar Daniel
“Ooo” Rita mengangguk, hatinya sedikit lega
“Jadi ini Rita?” Saveetri tersenyum, Daniel mengangguk
“Rita, Daniel ini orang yang setia lho!, Padahal dia banyak yang naksir!” goda Saveetri
“Ah kamu bisa saja!” reaksi Daniel tersipu malu tidak seperti biasanya, cukup mengagetkan Rita. Daniel yang biasanya begitu cool, kenapa hari ini lebih terlihat lebih ramah dan ceria. Tapi perasaan itu disimpannya dalam hati
“Ibunya Kiano menjadi kliennya Saveetri, ia memastikan keamanan ibu sambung Kiano dan anak-anaknya!” sambung Daniel lagi.
“Aku ingin mengundang kalian ke rumah ku!” ujar Saveetri
“Aku ingin sih, tapi kami harus kembali malam ini, karena aku harus sekolah di hari Senin” jawab Rita
“Kamu masih sekolah? Berapa usia mu?” tanya Saveetri
“17 tahun!”
“Danieeel!!! Kamu sekarang suka sama anak kecil ya???” goda Saveetri lagi, Daniel hanya tertawa saja, sementara Rita agak sedikit kesal, kebetulan ia melihat Andi lalu ia mengangkat tangannya ke arah Andi, itu sinyal mereka ketika ingin meninggalkan percakapan yang membosankan, Andi mengangguk paham.
“Maaf, kakakku membutuhkanku, aku tinggal ya?” Rita segera meninggalkan Daniel dan Saveetri lalu menghampiri Andi dan duduk di sebelahnya
“Siapa Rit?” bisik Andi
“Temannya Daniel!” jawab Rita
“Cantik!” bisik Andi lagi, Rita melihat Daniel dan Saveetri yang masih ngobrol dengan asyiknya, Rita agak kesal karena ia merasa Daniel tidak memperhatikannya.
Malam telah larut, Rita dan kawan-kawan pamit kepada Kiano dan keluarganya.
“Terimakasih atas jamuannya, sekali lagi, turut berduka ya?” Rita dan Andi bergantian memeluk Kiano
__ADS_1
“Sama-sama terimakasih sudah diantar!, sering kontak gue yaa” ujar Kiano, ia menutup mobil SVU yang membawa Andi dkk kembali ke bandara. Malam itu mereka terbang kembali ke rumah.
-bersambung-