
"Tumben Rita nelpon?"
"Andi yang nelpon kek, kemarin Raffa nelpon Andi"
"Raffa? Dia sudah bisa nelpon?" Darmawan terkejut
"Bisa kek, dari smartwatch yg Andi kasih ke dia"
"Oh..terus?"
"Dia mengundang Andi untuk datang ke pernikahan nya"
"Pernikahan? Pernikahan siapa?"
"Raffa"
"Hah... Uhuk..uhuk..uhukk.." Darmawan terbatuk-batuk mendengar kabar itu
"Pasti cuma main-main kan?" Ujar Darmawan sangsi
"Iya dong Kek, Raffa kan baru 2 tahun masa sudah menikah, kakek terlalu serius menanggapi"
"Bukan begitu Ndi, buat kalian mungkin candaan tapi buat Raffa itu serius."
"Iya sih kek, tapi namanya anak-anak..tadi dia mau ikut kerja sama Daniel, karena Rita bilang kalau mau menikah harus kerja dulu. Jadi dia pikir setelah bekerja dia bisa menikah"
"Dari mana dia dapat ide itu ya? Apa karena dia sering mendengar orang tuanya bermesraan?"
Andi tampak kesal mengingat kenangan buruk nya di apartemen Rita
" Enggak Kek, gak mungkin mereka melakukannya di depan anak-anak"
"Ya memang gak mungkin, apa tanggapan Rita dan Daniel?"
"Rita bilang Raffa lagi suka sama seorang anak perempuan bernama Michele, usianya 2 tahun lebih tua darinya. Nanti dia kirim fotonya."
"oh seleranya perempuan lebih tua ya? lalu?"
"Iya beberapa kali Raffa murung jika tidak bertemu Michele, nafsu makannya hilang. Bahkan berenang saja segan. Jadi Rita terpaksa mengikuti keinginannya, dan Daniel setuju dengannya asal dalam pengawasan"
"Anak sekarang memang complicated, orang tua harus banyak mengalah dan mengerti padahal itu belum tentu baik juga"
"Tapi kek, kalau tidak diikuti nanti Raffa malah sedih dan sakit"
"Nah itu karena terlalu dimanja, orang tua sekarang gak berani tegas sama anaknya. Bahkan kakek pernah membaca ada larangan menyebut kata 'jangan' untuk melarang katanya bisa merusak otak anak. Padahal dalam kata jangan itu ada garis tegas apa yang boleh dan yang tidak boleh."
"Andi juga pernah baca tentang itu"
"Iya kan? Pernah suatu ketika ada seorang presiden kita bilang, pendidikan kita lebih banyak hapalan, eh.. kebanyakan orang tua malah takut memberikan hapalan pada anaknya. Padahal menghapal itu penting, mungkin di sekolah menghapal pelajaran sebagai latihan, di dunia nyata kamu akan menghapal nama jalan, tempat-tempat penting, orang-orang yang berjasa sama kita..itu menghapal"
"Iya Kek!" Andi setuju dengan pendapat kakeknya
"Kakek harap Rita dan Daniel bisa tegas sama anak-anak "
"Apa kakek bisa? Mereka sangat lucu dan menggemaskan, Andi lihat kakek juga mengabulkan hampir semua permintaan mereka"
"Kalau kakek ke mereka itu kan sifatnya memberi, kalau Rita dan Daniel itu kan mendidik, jadi harus dibedakan"
"Sama saja kek, takutnya kalau kita beda dengan orang tuanya yang lebih tegas, mereka malah ingin tinggal bersama kita yang lebih permisif. Misalnya Ranna, dia pernah nelpon ingin tinggal bersama Andi karena mamanya tidak membolehkan minum ASI , sebenarnya lucu sih karena ia masih batita coba kalau sudah remaja, pasti sudah kabur dari rumah"
"Sulit juga ya? Oh iya ada kabar apa lagi dari Rita?"
"Rita hamil 2 bulan, tapi belum ketahuan jenis kelaminnya"
"Kakek Sugi sudah tahu belum tentang adeknya Rayya?"
"Andi sih belum kasih tahu kek, mungkin Rita yang memberitahu langsung ke kakek Sugi"
"Kayaknya gak bakalan deh"
"Kenapa kek?"
"Walaupun mereka saling perhatian,tapi Rita masih sungkan sama kakek Sugi."
"Kakek tahu darimana?"
"Dari kakek Sugi lah, dia bingung bagaimana mendekati Rita, semakin kesini malah semakin kesitu"
"Hihihi..kakek bisa saja!!"
"Padahal Rita itu asyik diajak ngobrol lho, waktu pertama kesini saja,kakek langsung akrab sama dia, makanya heran sama kakek Sugi malah jauh, padahal waktu Rita kecil dia pernah tinggal di rumah kakek Sugi kan?"
"Mungkin karena ada kenangan masa kecil yang bikin Rita trauma, jadi dia agak segan dengan kakek Sugi" ujar Andi mengingat masa lalu
"Oh iya Ndi,teman mu si Arya sudah masuk kuliah?"
"Sudah kek, dia sudah mulai semester ini"
"Hmm..kasih tahu dia setelah setahun dia akan magang menjadi asisten kakek"
"Hah? Asisten?"
"Iya, kenapa? Kalau jadi asisten kamu dia gak akan belajar apapun. Kalau saja Radian masih hidup aku akan mengirim Arya jadi asistennya "
"Asisten om Radian?"
"Iya, kamu lihat sendiri kan bagaimana hebatnya Daniel? Itu karena didikan Radian. Aku sangat kehilangan" wajah kakek tampak muram
"Apa Daniel jadi sehebat itu hanya karena jadi asistennya?"gumam Andi tak percaya
"Oh iya Ndi, mulai sekarang kamu jangan mengingat atau memaksa Daniel untuk masuk Dar.Co lagi. Kemarin kamu bilang ngasih berapa tahun? 7 tahun?"
"Iya kek"
"Biarkan saja ia berkarir di Lexington, kakek pikir itu yang terbaik untuk Rita"
"Kenapa tiba-tiba kakek berubah pikiran? Apa karena sudah ada Arya?"
"Bukan! Aku dengar tentang prestasi Arya di sekolah tapi dalam dunia bisnis yang dibutuhkan bukan hanya kepintaran tapi juga kecerdikan. Contohnya adik mu Rita, dia itu cerdik. Entah sengaja atau tidak dia merekrut orang-orang Eks Dar.co untuk bekerja padanya, dia sendiri mengendalikan perusahaannya dari jauh karena sudah ada yang dia percaya. Itu hebat!" Puji Darmawan
"Kenapa Rita diperbolehkan mempunyai usaha sendiri, sedangkan Andi harus terkekang dengan perusahaan kakek?"
"Kamu dan Rita beda. Kamu itu cucu lelaki ku satu-satunya, kalau bukan kamu siapa lagi yang meneruskan usaha kakek ini? Sedangkan Rita jujur saja kakek sengaja tidak memberinya perusahaan atau posisi apapun padanya"
"Kenapa kek? Apa karena karakternya yang meledak-ledak?"
"Bukan itu, sebenarnya kakek lebih suka ia menjadi perempuan seutuhnya, punya anak, membesarkan anak, mengurus suami. Gak perlu repot dengan membantu mencari nafkah. Eh ternyata yang namanya jiwa bisnis itu menurun dari kami, justru usahanya berkembang baik."
"Ternyata pemikiran kakek jadul bin kolot juga ya?" ledek Andi
"Bukan begitu, biasanya cewek-cewek eksekutif yang sudah punya power itu sombongnya ampun-ampunan, no mercy deh.. makanya waktu kakek lihat dia naksir Daniel, ya kakek dukung untuk segera nikah, supaya dia cepat memiliki anak dan karirnya hanya sambilan saja"
__ADS_1
"Oh begitu...makanya kakek-kakek betul-betul ngotot menyuruh Rita menikah muda?"
"Tentu, lagi pula Daniel juga naksir Rita, bucin malah. Kata Radian bucinnya kadang diluar nurul"
"Jiaahhh..nurul? Bucin? Kok kakek bisa tahu?"
"Tahu dong, walaupun sudah kakek, istilah yang digunakan anak muda harus tahu"
"Iya deh kakek gaul!!" Ujar Andi tersenyum
"Oh iya kek tentang Daniel tadi, apa kakek ada rencana tertentu?"
"Enggak, kenapa? Kamu curiga kakek ada maksud tertentu?"
"Enggak sih, cuma aneh saja tadinya kakek sempat ngambek, eh sekarang seperti merelakan "
"Ya..kalau dipikir-pikir kontrak kerjanya dia kan habis 2 tahun lagi, apa dia akan perpanjang lagi, atau tidak..tapi kakek dengar sih dia jadi kesayangannya pemilik Lexi. Sayang kan kalau sudah jadi orang istimewa malah ditarik keluar " Darmawan pergi meninggalkan Andi yang kembali sibuk dengan tabletnya.
Sementara di kantor, Daniel berkonsultasi dengan Aldy konsultan pernikahan.
"Apa kabar pak Daniel?"
"Baik pak Aldy, Anda di mana sekarang?"
"Saya di Makassar sekarang, istri saya mendapat tawaran mengajar di universitas di sini"
"Oh begitu"
"Bagaimana dengan kamu?"
"Kami tinggal di Swiss sekarang, oh iya Rita istri ku sedang hamil anak keempat"
"Wah.. selamat ya,.."
"Terimakasih!"
Daniel menceritakan masalahnya tentang Raffa dan tentang deadline dari Andi, ia meminta masukan dari Aldy.
"Hmm .. tentang Raffa ini, mungkin dia merasa kalian mengabaikannya, dia harus bersaing dengan adeknya yang lahir ketika ia masih sangat butuh perhatian. Ditambah lagi akan ada adek baru, semakin tambah saingan nya"
"Tapi, saya dan Rita juga memperhatikan Ranna dan Raffa sama, kami tidak mengistimewakan salah satunya. Bahkan Rita beberapa kali menuruti kemauan Raffa, jadi aku pikir perhatian kami ke anak-anak sudah cukup"
"Begini saja, coba deh kamu berbicara dari hati ke hati dengan Raffa, tanyakan padanya kenapa dia mau menikah. Apa yang mendorongnya ingin 'segera' menikah, kamu bisa cari tahu. Ingat Niel, percakapan bapak dan anak itu sangat mempengaruhi masa depan anak."
"Hmm..baiklah aku akan mencobanya, kalau tentang ipar ku bagaimana?"
" Menurut ku seharusnya kamu merasa tersanjung karena tenaga mu sangat mereka butuhkan"
"Tapi..."
"Sebentar..jangan memotong dulu, maksud ku , apa kamu yakin akan berkarir lama di mana tadi? Lexi? Tidak ada yang tahu masa depan kan? Saran ku, jalani saja. Ikuti kata hati mu, kalau kamu merasa berat pindah, ya katakan sejujurnya pada mereka. Saya pikir mereka pebisnis tidak akan memaksa orang untuk yang tidak mau bekerja padanya kan?"
"Iya juga sih"
"Jangan over thinking Niel, jalani saja nikmati prosesnya"
"Baiklah, oh iya no rekening mu masih yang lama kan?"
"Tidak usah lah!"
"Lho kenapa?"
"Sebagai gantinya aku mau minta tolong, Carikan aku pekerjaan di Lexi, CITE atau Dar.co, terserah.. posisinya HRD."
"Payah Niel, imbas pandemik kemarin. Sedikit sekali pasien yang datang padahal anakku sudah 4, butuh banyak biaya" keluh Aldy
"Apa gak apa-apa dengan karir istri mu jika kamu harus pindah lagi ke Singapura?"
"Asalkan gaji yang ditawarkan dan fasilitas lebih baik dia akan melepasnya, menjadi dosen baru di sini gajinya kecil sekali"
" Begitu ya? Baiklah, kirim email saja CV dan resume mu, aku lihat apa ada yang bisa dilakukan "
"Terimakasih banyak Niel"
"Oh iya , aku akan tetap mentransfer biaya konsultasi ku hari ini"
"Eh, gak usah Niel!"
"Kamu kan sangat membutuhkan, 150 dolar per jam kan lumayan"
"Eh tadi kita hampir 2 jam!" Ujar Aldy tersenyum
"Iya , aku segera mentransfer 300 dolar ya"
"Terimakasih banyak Niel, salam untuk Rita dan anak-anak!"
" Alaihi salam!"
Mereka menyudahi pertemuan online mereka.
Di malam hari, Ranna masih di kamar Rita, ia ingin bermanja dengan mamanya, kesempatan itu digunakan Daniel untuk mendekati Raffa. Ia mendatangi Raffa yang asyik bermain dengan robot nya di kamar.
"Abang, main apa?"
"Optimus plime"
"Kamu suka sekali sama Optimus ya?"
Raffa mengangguk
"Tadi mami menunjukkan film tlansfolmel..Kelen lho Pi"
"Oh begitu.. kapan-kapan kita nonton filmnya ya?"
"Iya Pi?"
"Iya, kita aja yang nonton berdua"
"Kakak? Adek?"
"Mereka sama mami saja, Transformer kan untuk laki-laki" ujar Daniel tersenyum dan mengusap kepala anaknya
"Eh Bang, kenapa Abang mau menikah?"
"Gak boleh Pi?"
"Boleh..tapi jangan sekarang"
"Jadi bolehnya kapan?"
"Nanti, kalau Abang sudah besar, sudah tinggi, sudah selesai sekolah, lalu Abang kerja, baru deh menikah"
__ADS_1
"Dengan Michele?"
"Ya kalau Michele mau, katanya kemarin Michele punya teman baru?"
Mata Raffa berkaca-kaca
"Eh bang, gak apa-apa, Michele mungkin pengen punya teman selain Abang" ujar Daniel menenangkan
"Selain Abang?"
"Iya, Michele pengen punya teman banyak seperti Abang dan kak Ranna"
"Hmm...jadi Abang menikahnya masih lama?"
"Ehem...iya Bang, jangan buru-buru menikah."
"Tapi mami dan papi menikah"
"Memang, tapi papi dan mami kan sudah besar, kalau Raffa kan masih 2 tahun"
"Dua tahun itu kecil ya Pi?"
"Iya, memangnya kalau sudah menikah Raffa mau ngapain?"
"Mau ngapain ya? supaya Raffa bisa main telus sama Michele. Dia gak usah pulang ke lumahnya"
"Tapi kalau menikah harus punya rumah sendiri Bang "
"Kalau Abang menikah gak boleh tinggal sama mami dan papi lagi?"
"Ya gak bisa, Michele mana mau tinggal sama mami dan papi , kemarin saja nginep di sini minta pulang kan?"
Raffa terdiam, tampaknya ia sedang berpikir keras.
"Pi, kalau gitu Raffa menikahnya nanti saja deh kalau sudah tinggi dan besal kayak papi"
"Nah gitu dong!..anak papi yang paling ganteng!" Daniel memeluk Raffa dengan sayang.
Tiba-tiba Ranna datang menomplok papinya
"Papoiii!!! Kok disini?" Tanyanya lucu
"Abis kakak lagi sama mami, jadi papi di sini saja sama Abang Raffa"
"Papi!" Panggil Ranna, Daniel mengambil minum dari dispenser yang ada di ruangan anaknya
"apa?"
"Adek bayi itu dari mana?"
"Hah?? Uhuk..uhuk..uhuk.." Daniel keselek
"Adek bayi itu dari mana Pi? Tadi mami bilang di dalam pelutnya ada adek bayi lagi..nah itu dali mana?"
"Masa kakak gak tahu? Itu dali bulung bangau" ujar Raffa
"Hah? Bulung bangau? Adek tau dali mana?"
"Dali tipi, kemalin di tipi banyak
bulung bangau yang bawa bayi di mulutnya pakai kain" terang Raffa
"Iya Pi? Tapi kakak gak pelnah liat bangau telbang kemali? Waktu ada adek Affa dan adek Ayya gak ada bangau. Tau-tau dipelut mami sudah ada adek" ujar Ranna
"Hoaammm..aduh..kak, papi capek banget nih besok pagi ada meeting di kantor, kalian tidur ya? Eh sudah sikat gigi dan pipis?" Tanya Daniel mengalihkan percakapan
"Belum Pi!"
"Sikat gigi dan pipis dulu sana supaya gak ngompol"
"Iya Pi.." keduanya berlari ke kamar mandi, Daniel mengambil piyama anak-anak di lemari. Setelah mengantar mereka tidur, ia kembali ke kamarnya.
"Adek Rayya sudah tidur?" Bisiknya
"Baru saja! Dari tadi digangguin Ranna terus gak bisa tidur dia. Ini baru lelap" bisik Rita
"Ya sudah malam ini adek bobo di sini saja"
Daniel mengambil stroller dari ruang sebelah dan perlahan memindahkan Rayya ke stroller yang bisa menjadi box tempat tidur bayi.
Setelah itu ia mengunci pintu kamarnya.
"Ah... sekarang ngomong sama adek yang di sini" ia memeluk perut Rita dan menciumnya, Rita mengusap rambut suaminya
"Kamu kelihatan lebih capek dari biasanya"
"Aku baru saja bicara antar lelaki dengan Raffa"
"Oh ya? Tentang apa?"
"Aku penasaran kenapa dia ingin cepat menikah"
"Terus dia bilang apa?"
"Katanya sih biar bisa main terus sama Michele"
"Wah dia bucin banget"
"Memang, tapi jangan khawatir dia bilang sih menikahnya diundur sampai ia besar"
"Alhamdulillah... mudah-mudahan gak berubah pikiran ya?"
"Aamiin"
"Oh iya tadi Ranna menanyakan pertanyaan sulit"
"Oh ya? Pertanyaan apa?"
"Adek bayi dari mana?"
"Waduh...terus kamu jawab apa?"
"Raffa yang jawab"
"Raffa tahu?" Rita tampak kaget
"Dari burung bangau katanya..yah untuk sementara itu saja dulu, nanti juga kalau sudah besar akan tahu sendiri"
"Memang"
"Sudah ah tidur! Muachh!" Daniel mengecup bibir istrinya lalu ia berbaring di sampingnya.
__ADS_1
Rita mematikan lampu kamar dan ikut terlelap.
_bersambung_