Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 214: Ngumpul Genk tuyul


__ADS_3

“Yang, Singapura lockdown!“


“Berapa lama?”


“Dua minggu paling cepat, sebulan paling lama”


“hmm” Rita diam saja sambil mengangguk-anggukan kepalanya


“kok kamu gak sedih sih? Ini artinya taman bermain mu D’Ritz diperpanjang liburnya”


“Yeah..”


“Kenapa?”


“Enggak aku lagi bosan saja sama D’Ritz jadi lockdown ini kesempatan buat aku istirahatkan pikiran”


“kalau kuliah kamu masih kan?”


“Masih, ini lagi kuliah”


“kok ditinggal?”


“Aku rekam, terus aku munculin gambar aku sebagai emoticon jadi dosennya pikir aku ada, hehehe”


“Kamu kok jadi bandel begitu? Apa aslinya memang pemalas?” tanya Daniel heran


“Bukan begitu kadang orang itu bosan melakukan yang seharusnya dilakukan jadi pengen berontak sekali-kali”


“hmm...fase berontak ini gak akan lama kan?” tanya Daniel khawatir


“Ya tergantung apa yang ada di pikiran ku, kalau dia muncul lemot mode on, udah deh susah bergerak”


“Jangan kelamaan magernya ya, ingat ada 2 anak yang masih bayi dan papinya juga, mereka perlu diurus”


“Kan ada 2 suster, tenang saja!”


“Memangnya kamu mau kedua anakmu nurut sama suster? “


“enggak lah, yang mengandung mereka aku, yang melahirkan aku, yang menyusui juga aku, kenapa mereka nurutnya sama suster?”


“Namanya anak-anak, mereka lebih nurut sama yang ngurusin mereka”


“toh malam masih aku yang menjaga mereka, oh iya Yang keputusan kantor mu gimana?”


“menurut rapat pimpinan dan pemegang saham, akhirnya diputuskan untuk membuka perwakilan Dar.Co Singapura di sini, aku yang memegang perwakilan di sini”


Plok..plok..plok..Rita bertepuk tangan, lalu mencium pipi suaminya


“Selamat ya, kamu dipromosikan!” ujar Rita senang


“Hush, bukan begitu maksudnya, perwakilan Dar.Co di sini untuk sementara karena di Singapura lockdown”


“Oh begitu, Darmawan & partner di sini gimana dong?”


“Ya tetap berjalan, kami perwakilan di sini gak boleh terima klien dari Indonesia karena wilayahnya D&P”


“Oh begitu, terserah lah yang penting suami ku di sini, kita di rumah megah ini” Rita kelihatan senang sekali


“Eh Yang, kamu sudah bersih kan?”


“Sudah, kenapa?”


“Kok kenapa? Papinya disusui dong sekarang?”


“Eh sekarang?”


“Iya, kamu lagi males ya?”


“Hmm...aku sholat isya dulu ya?”


“Memangnya belum?”


“Belum, kan tadi aku lagi mager” Rita segera bangkit dari ranjang mereka dan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu berwudhu setelah sholat Isya ia mengenakan lingerie barunya.


“Yang, gimana? Eh dia tidur” Rita hendak mengganti pakaiannya, tiba-tiba Daniel menarik tangannya


“Kamu mau kemana?”


“ganti piyama, kamu sudah tidur tadi” ujar Rita, Daniel melihat pakaian istrinya yang menggoda, lalu menariknya perlahan, mereka melakukan foreplay cukup lama, kemudian bercinta. Satu jam kemudian


“hah..hah..hah..capek juga ya?” keduanya ngos-ngosan selesai bercinta


“kamu besok kerja kan? Gak apa-apa kecapekan kayak gini?” tanya Rita yang mulai mengantuk


“Enggak, kerjanya kan online, aku bisa bebas ngapain saja” Daniel memeluk istrinya lagi


“Kamu senang begini ya?” tanya Rita membalas pelukan suaminya


“he eh, tapi cuma sama kamu!” akhirnya mereka melakukannya lagi.


Keesokkan harinya menjelang subuh anak-anak menangis sementara kedua orang tuanya masih tertidur karena kecapekan setelah bercinta semalaman.


“Aduh aku capek sekali” keluh Rita


“Aku saja!” Daniel bangun dan memakai piyamanya, lalu ke kamar anak-anak


“Kalian kenapa?”


“Haaaa......aaahhh” Ranna berteriak minta digendong, sementara Rafa juga menangis


“Sebentar! Yang mana dulu nih?” Daniel bingung, ia mengambil Rafa lebih dulu setelah mengganti popoknya ia memberikan ASI dalam botol, Rafa kembali tenang dan tertidur. Sekarang tinggal Ranna ia melakukan hal yang sama.


“Maaf ya kak, papi ganti popok dedek dulu, kakak gak apa-apa kan menunggu?” setelah mengganti baju dan popok Ranna, Daniel duduk di kursi goyang sambil memberikan ASI melalui botol. Ranna menatap dan memegang wajah papinya


“Kenapa Nak? Papi ganteng ya? Nanti kamu cari suami yang seganteng dan sebaik papi ya?” bisik Daniel


“hhahhh” Ranna merespon ucapan papinya, tak berapa lama ia kembali terlelap, Daniel menaruhnya di tempat tidurnya. Kemudian ia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu sholat subuh. Ia membangunkan istrinya.


“Yang sudah subuh, mandi dulu lalu sholat!” Daniel mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya ke kamar mandi, muncul keisengannya, ia menyiram air dingin ke wajah istrinya


“Dingggiiiinn!!” protes Rita yang masih ngantuk


“Makanya bangun!” tawa Daniel, ia meninggalkan istrinya yang gerundel di kamar mandi, setelah mandi dan keramas, Rita sholat subuh lalu tilawah pagi sebentar.


“kamu mau tidur lagi?” tanya Daniel


“Enggak, aku mau lari pagi, sudah lama aku gak olah raga”


“Tadi malam kita olah raga lumayan kan?”


“Iya, nafasku agak berat karena sudah jarang lari, aku lari dulu ya?”


“Hmm....aku perlu temani gak?”


“Nanti anak-anak sama siapa?”


“Ah iya, baby sitter mulai bertugas jam berapa?”


“Aku suruh jam 8, supaya anak-anak sama kita dulu”


“Oh begitu!” Daniel mengangguk dan melanjutkan tilawah al qur’an. Rita keluar dari pintu kamarnya langsung ke halaman depan. Setelah pemanasan ia mulai berlari di sekitar, lalu agak jauh, kemudian lebih jauh.


“Hah..hah..hah...”ia terlihat senang , wajahnya kembali bersemangat. Tiba-tiba terlintas ide di kepalanya. Ia masuk ke kamarnya lalu mengambil tablet dari bawah TV.


Daniel yang tertidur di sofa depan TV heran melihat istrinya kembali


“Sudah selesai olah raganya? Sebentar banget?” ia melihat jam dinding


“Belum, aku lagi minta staf untuk memindahkan peralatan fitnes, dan sand sack ke depan kamar ini, kan lebih enak olah raganya outdoor dibanding indoor”


“Ooo...memangnya mereka sudah bangun?”


“sudah dong, yang tugas malam selesai shift jam 7, sekarang masih jam setengah 6”


“ting nong!” suara bel kamar mereka berbunyi


“Tuh mereka” Rita membuka pintu kamarnya dengan riang


“Selamat pagi bu Rita, tadi minta alat fitnes pindah kemari?”


“Betul pak, ayo ikut saya!” Rita mengajak beberapa staf rumah yang membawa alat fitnes untuk meletakan alatnya di halaman depan kamarnya


“Di sini bu?”


“Iya, hmm...kita sudah punya boneka pukulan?”


“Boneka pukulan?”


“Itu lho untuk latihan tendangan dan pukulan”


“Oh ada bu! “


“Bisa bawa juga kemari? Oh iya ini sand sack sarung tangannya mana?”


“Nanti kami bawa kemari bu. Selain ini ada lagi bu?”


“Hmm...itu yang buat jalan apa namanya?”


“Oh itu, nanti kami bawa kemari.”


“Iya, terima kasih ya?”


“Sama-sama bu!”


Tak berapa lama seorang staf membawa boneka sasaran dan sarung tinju.

__ADS_1


“Terima kasih, oh iya staf dapur sudah ada belum ya?”


“Sudah bu, mau saya minta bawa sarapan kemari?”


“Iya boleh, sama jus ya? terima kasih!”


“Baik bu, sama-sama!” staf itu pun pergi. Rita mengganti pakaiannya dengan celana tiga perempat dan baju yang tampak lengan.


Ia mulai berjalan di treadmill, makin lama ia menambah ketinggian, lalu menambah kecepatan. Setelah itu ia mengenakan sarung tinjunya dan memukul-mukul sand sack dengan semangat.


Daniel membawa kedua anaknya di stroller kembar untuk melihat mamanya latihan


“Kamu latihan kayak mau perang saja!”


“Habis sudah lama gak latihan, nanti lupa gimana” ia memukul-mukul sand sack. Ranna terlihat senang melihat maminya memukul, Rafa juga sama.


“Wah anak-anak kelihatan senang sekali melihat maminya latihan”


“Mereka sering aku ajak yoga dan latihan “


“Latihan taekwondo?”


“Iya, sesekali, kadang aku kangen jadi datang ke salah satu sasana. Perang deh di situ”


“Kok kamu gak bilang?”


“Sesekali saja kok, kadang aku begitu stres dengan pekerjaan dan urusan rumah, jadi aku lampiaskan ke sasana”


“Hmm..mereka gimana?”


“Hahahaha...gak usah ditanya, tapi aku bayar kok! aku bilang ini Cuma sekali-kali saja. Eh mereka malah bilang, datang jadi anggota juga gak apa-apa”


“Terus kamu daftar?”


“Enggak dong!, kalau mau gabung aku bilang dulu sama kamu!” jawab Rita sambil kembali memukul sand sacknya


“Nanti kalau sudah 6 tahun anak-anak ku aku wajibkan bela diri” ujar Rita


“Huh? Gak salah? Kalau mereka gak mau gimana?”


“Harus mau!, dulu aku juga dipaksa, tapi akhirnya aku malah jadi atlet”


“Kamu jadi atlet? Kapan tuh?”


“Aku jadi perwakilan usia 12-15 tahun, Cuma tingkat Asia Tenggara sih”


“Terus menang?”


“Enggak, itu secara tim. Kalau individu aku menang, tapi itu kejuaraan tim. Tim kami kalah 3-2, nyebelin ya?”


“Ketat sekali ya, persaingannya”


“Iya betul!” kali ini Rita mulai melakukan gerakan Yoga. Ranna bertepuk tangan


“Eh kenapa dia?” tanya Daniel heran


“Dia tahu gerakan ini.” Rita mengatur nafasnya lalu perlahan melakukan gerak-gerakan yoga.


Pukul 7 pagi sarapan datang ke kamar mereka.


“Hore !! sarapan!!” teriak Daniel,


“Kamu sudah lapar ya sejak tadi?” tanya Rita melakukan pendinginan


“Iya, aku minum terus saja dari tadi”


“Seharusnya kamu bilang dong, jadi aku minta sarapan dipercepat”


“Lapar ku sempat hilang melihat kamu berolahraga. Kamu berpakaian begini, di sini saja kan? Waktu di sasana enggak?”


“Kenapa?”


“Sexy sekali!”


“Ah kamu itu! Kenapa jadi mesum begitu pikirannya?”


“Karena memang kamu sexy, apalagi berkeringat. Aku ngebayangin macam-macam jadinya!”


“Sudahlah, kamu makan saja!” Rita tersenyum melanjutkan pendinginan, setelah selesai ia memakai jaket olah raganya dan menghampiri kereta makan. Ia meminum jusnya


“alhamdulillah segar!!!”


“Yang, jaket mu basah tuh!” Daniel melihat jaket olah raga istrinya basah di bagian dadanya


“Ya ampun, ASInya melimpah!” ia langsung bangun dan ke kamar mandi lalu memakai kaos longgar yang dibelikan suaminya,


“Kok dadanya aneh bentuknya?” Daniel melihat dada Rita berbentuk aneh


“Oh ini, aku lagi memompa ASI, dua-duanya. Ini wireless, jadi aku bisa memompa sambil melakukan aktivitas lain”


“Ah sudah penuh” Rita melepaskan pompa ASI dari balik bajunya lalu menaruhnya di botol kaca. Lalu memompa lagi


“Itu akan terus ada?” tanya Daniel memperhatikan istrinya


“Iya, apalagi yang menyusu sekarang 2, jadi sepertinya tubuhku bereaksi dengan menghasilkan banyak ASI”


“Kamu jadi lapar terus dong?”


“Benar!, aku gak bisa berhenti makan. Apalagi Rafa nih, ternyata benar kalau anak lelaki menyusunya lebih banyak dari pada anak perempuan”


“Tentu dong!” jawab Daniel dengan wajah jahil


“Bukan itu maksud ku!” ujar Rita tersenyum


Pukul 8 pagi para baby sitter datang ke kamar, mereka memandikan kedua anak dan mengajaknya bermain.


“Suster, mainnya di depan sini saja, jangan di kamar terus. Bawa saja mainannya keluar” ujar Rita


“Kenapa Yang?” tanya Daniel heran, ia telah rapi dengan pakaian kerjanya dan siap untuk kerja online


“Kamu tahu kan, penyakit pernafasan itu bisa kita hindari kalau kita di udara terbuka dan segar. Jadi untuk sementara anak-anak mainnya outdoor saja”


“Baik bu!” para baby sitter meminta beberapa staf untuk membawa mainan Ranna keluar. Rita terlihat mulai mengantuk.


“Suster, aku tinggal tidur dulu ya, oh iya ASInya sudah penuh lagi di lemari pendingin di kamar anak-anak!”


“Iya bu!” jawab kedua suster berbarengan.


Pukul 8.30 Daniel sudah mulai online, ia menggunakan ruang kerja di kamar itu yang sengaja dibuat oleh Mario untuk tempatnya bekerja dengan tenang tanpa diganggu lingkungan sekitar. Sementara Rita tertidur di sofa depan TV.


“Ting!” bunyi notifikasi dari ponselnya


“Hai Rit, kita ada di Jakarta nih tempatnya di MOI, lo mau kesini gak?” Lisa


“Hah? MOI? Hmm”


“Sama siapa lo Lis?”


“Bertiga sama Qowi dan Andien”


“hmm...kalian mau ke rumah gue gak?”


“Gak bisa Rit, kita Cuma sebentar di sini, habis ini kita balik ke Sukabumi”


“Kenapa dadakan sekali, sebentar ya?” Rita bangun dari sofa, pompa ASInya sudah penuh lagi. Ia segera berganti pakaian lalu ke ruang kerja Daniel


“Tok-tok!”


“Ya?”


“Sayang, aku mau me time dulu”


“Hah? Me time ? kog mendadak?”


“Teman-teman ku lagi di MOI mereka sedang di Jakarta, aku mau bertemu mereka”


“Kenapa gak ajak mereka kemari?”


“Gak bisa katanya, mereka Cuma sebentar”


“ASI untuk anak-anak gimana?”


“Sudah penuh kog, aku Cuma sebentaaaarrrr saja!”


“Hmm...baiklah...hati-hati di jalan ya?”


“Oke!” Rita menghampiri Daniel lalu mencium bibir suaminya,


“muacchhh!! Dah!!!” lalu dia pergi, ia tidak sadar Daniel sedang online dengan para bawahan dan rekan kerjanya


“maaf! Itu istriku!” Daniel tersipu malu


“Bener-bener deh pak Daniel sama istrinya” para bawahannya bergosip menggunakan aplikasi obrolan


“Cemburu nih kita, pak Daniel kan suami kita bersama!”


“Hey!! Fokus lagi ke rapat!” tegur Eddy melalui online


Rita minta diantar Amin untuk ke MOI, ia tidak tahu jalan ke sana.


“Suster, saya pergi dulu sebentar ya? anak-anak mana?”


“Mereka sedang di kamarnya bu, kelihatannya capek habis main”


“Oh begitu, nanti jam 12 waktu makannya Ranna ya? Rafa ASI saja”

__ADS_1


“Baik bu!”


“Yuk Min!” Rita memasuki mobil SUV putih


“Min, ke minimarket sebentar, aku lupa bawa masker”


“Iya bu!” Amin menepikan mobil ke minimarket, Rita membeli beberapa bungkus masker untuk persediaan di rumah, selain itu ia juga membeli air mineral untuk bekal.


Beberapa menit kemudian ia tiba di food court MOI


“Halo teman-teman!!!”teriaknya ramah


“Ritaaa!!!” ketiga temannya berhamburan dan memeluknya satu per satu


“Wah...geng tuyul ngumpul lagi nih” ujar Rita riang


“Tambah berisi saja Rit?” Qowi melihat bagian dada Rita yang membesar


“Oh ini, gue pakai penampung ASI”


“Ah gila nih orang! Urat malunya gak ada!” ujar Andien tertawa


“Kan ketutupan jaket, lo aja yang ngeliatin dada gue!”


“ Jadi gimana? Anak sudah dua nih? bakal menetap di Jakarta?” tanya Lisa


“Maunya sih begitu, tapi toko roti gue di sana, laki gue juga kantornya di sana”


“Tapi bahasa Indonesia lo masih bagus, gue kira gue bakal pakai bahasa inggris sama lo”


“Iya dong, kan bahasa ibu, mana bisa lupa. Jadi kabar kalian gimana?”


“Kita kuliahnya sama jurusan pariwisata” jawab Andien


“Sekarang lagi libur?”


“Iya, Cuma sehari, ini Qowi yang ngajakin. Dia bilang Lo lagi di Jakarta”


“Hahaha...iya, kok lo tahu Wi?”


“Gue mantau sosmed lo. eh Lo lihat statusnya Kiki?”


“Iya, gimana itu? Dia cerita sama lo Lis?”


“Dia minta pertimbangan gue sih, nanya-nanya pengacara” jawab Rita


“Ngajuin cerai saja pakai pengacara, kayak orang kaya saja” ujar qowi kesal


“Soalnya Andre KDRT katanya, dia sampai berdarah hidungnya” ujar Lisa


“Terus? Kok bisa Andre kasar sama Kiki?” tanya Rita


“Sebenarnya sih gak sengaja, kata Kiki mereka lagi bertengkar, terus Kiki bilang gue bawa pergi anak-anak. Eh Andre narik bajunya, Kiki berkeras, akhirnya dilepas bajunya sama Andre, Kiki kepentok tembok, berdarah deh”


“Itu bukan KDRT, tapi apes!” ujar Andien,


“hahahaha...ada-ada aja lo!” ujar Rita geli, ia memindahkan penampung ASInya ke botol kaca yang ia bawa, ia memakai penutup dada


“Lo bener-bener emak-emak sejati ya?” ujar Qowi kagum


“Sayang, kalau ASInya terbuang, apalagi Rafa anak kedua gue, nyusunya kuat banget”


“Iya sama kayak bapaknya ya?” goda Qowi, Rita tersipu malu


“Bisa aja lo!, terus Lis, gimana si Kiki?”


“Makanya dia bingung, mau lanjut apa enggak rumah tangganya”


“Sekarang dia ada di mana?” tanya Andien


“Dia balik ke rumah orang tuanya”


“Memangnya bener si Andre selingkuh?”


“Katanya sih begitu, gue juga ga ngerti deh, soalnya si Kiki ceritanya sambil nangis kejer, kan gak jelas”


“Kasihan ya si Kiki” ujar Rita, ia menaruh lagi penampung ASI di dadanya


“Resiko nikah muda itu begini!” ujar Qowi


“Ah enggak juga! Mau muda, mau nikah saat dewasa sama saja! Semua tergantung kita nya!” elak Rita


“Ciyee Rita yang nikah muda tapi bahagia” ujar Andien


“Bukan begitu, maksud gue, mau nikah umur berapa saja, kalau cara berpikir kita masih kayak anak-anak gak bakal berhasil deh. Misalnya nih gue, sebelum nikah laki gue bilang gak bakal menghalangi gue untuk berkarier dan sekolah. Eh dalam perjalanannya, dia kepengen gue hamil. Kan bikin gue bingung.”


“Tapi lo hamil juga kan?” ujar Qowi sambil memakan spagetinya


“Iya sih, tapi gue kan sempat mikir,kok jadi begini?”


“Terus?”


“Gue keguguran!”


“oh ya? itu kakaknya Ranna?”


“Iya, usia kandungan gue sebulanan deh, mungkin tuh anak dengar batin ibunya jadi dia gak berkembang”


“Terus kalian gimana?”


“Daniel sempat tuh dingin sama gue 3 bulan, dia bilang sih merasa bersalah karena mengajak gue berhubungan terus selama gue hamil. Makanya dia ngejauhin gue”


“Emangnya bisa?”


“Dia fitnes terus, badannya jadi bagus banget!”


“Wah malah godaan buat lo dong?” tanya Andien


“Iya, gue tetap di diamin, ya udah gue habisin waktu di toko roti saja. Eh dia malah tambah cuek. Lama-lama gue tegur kan. Kita ribut tuh, sampai gue rusakin pintu apartemen”


“Waduuhhh,...gila lo Rit!” ujar ketiga temannya


“Habis sih dia bilang, kamu menyesal ya nikah sama aku, gue sebel dong. Kok begitu responnya, maksud gue, kehidupan pernikahan ini baru buat gue, jadi wajar dong kalau gue rada bingung”


“Terus Daniel nya gimana?”


“Gue pergi tuh ke toko, kayaknya dia mau nyusul eh gue sudah balik”


“Memangnya lo kemana?”


“Gue bikin adonan roti di toko, memangnya kemana?”


“Gue kira lo ke sasana tinju” jawab Endah


“Enggak, gue lagi senang bikin roti”


“Terus kalian baikan?”


“yaa,..gue sih sudah biasa saja, tapi dianya masih jaga jarak. Kayaknya gak enak gitu sama gue”


“Kalian baikannya gimana?”


“Di Korea, dia ngajak gue keliling-keliling Korea, ke taman hiburan, pulau Jeju, aquarium, banyak deh”


“Terus lo maafin dia?”


“Iya, jadi deh Ranna di sana” jawab Rita sambil memakan bakmi goreng yang ia pesan


“Oh begitu, apa lo gak sakit hati digituin sama laki lo?” tanya Qowi


“sakit hati sih, tapi gue sadar karena gue juga berat sama kehamilan pertama itu, badan gue seperti belum rela melepas semua keinginan, nah begitu janin diambil. Gue sedih banget. Gue sadar menikah ini bukan hanya Daniel yang mau, gue juga dan kehamilan adalah konsekuensinya, begitu”


“Begitu?? Berat dong ya?” ujar Lisa


“Ya, saran gue kalau belum ada calon puas-puasin saja ngejomblo gak usah maksain nyari laki kalau dia gak baik. Mending lo sendirian daripada terjebak sama orang yang salah!” ujar Rita


“Begitu ya Rit?” ujar Andien


“Kenapa dia? Tumben tertarik banget sama hubungan cewek-cowok? Biasanya cuek?” tanya Rita


“Oh dia, lagi dekat sama kak Indra!” ujar Qowi


“Hah? Indrajit?”


“Ah Qowi nih ember!” protes Andien


“Memangnya kenapa? Kan Rita juga sudah nikah!” ujar Qowi


“Kenapa? Dia gak enak ya Indra pernah akrab sama gue?” ujar Rita tersenyum


“Yaa, gak enak hati saja”


“Gak usah gak enak ndah, gue gak pernah jadian sama Indra.”


“Serius Rit?” tanya ketiganya bersamaan


“Serius,..jujur ya, ndah ini bukan sama lo ya, gue ceritain nih gue sama Indra dulu. Jalan bareng dia itu seperti teman biasa deh. Memang sih dari sikapnya kelihatan dia suka sama kita, tapi kalau waktu itu gue merasa seperti nasi goreng yang dipesan tapi gak dimakan, kira-kira begitu deh”


“Maksud lo?”


“Ya, gue gak tahu apa dia beneran suka sama gue apa enggak. Dia sering jemput, kita sering jalan tapi dia gak pernah bilang, Rit jadi cewek gue ya? gitu”


“gara-gara itu lo jadi jatuh ke pelukan Tommy?” tanya Andien


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2