
Rita terbangun dari tidurnya, hari sudah beranjak terang. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia turun dari pohon, dan berusaha mencari ranting pohon untuk membantunya berjalan.
Perlahan ia berjalan mencari sumber air. Tak berapa lama ia menemukan jalan raya. Ia mengikuti jalan tersebut dan berharap ada truk atau mobil yang lewat.
Sambil berjalan ia membuka ponselnya tetap mencari sinyal.
"Ah, masih ga ada sinyal. Kalau di on terus bisa habis baterai." Gumamnya.Ia putuskan untuk mematikan kembali ponselnya.
Cukup jauh ia berjalan, rasa dahaga sudah tidak tertahankan lagi, akhirnya ia pingsan tak sadarkan diri.
Ketika ia sadar, dirinya sudah berada di atas truk , dikelilingi oleh banyak lelaki paruh baya. Sepertinya mereka pekerja proyek.
"Sudah sadar?" Tanya salah seorang lelaki
"Hmm..ini di mana ya? Saya di mana?"
"Adik tadi pingsan di jalan, sepertinya kehausan,minum ini" bapak itu memberikan sebotol air mineral. Rita dengan segera meminumnya hingga terbatuk-batuk.
"Uhuk..uhuk..uhuk.."
"Pelan-pelan minumnya!" Bapak itu tersenyum.
"Terimakasih banyak pak!"Rita memberikan botol minum yang tinggal sedikit.
"Buat kamu saja, habiskan"
Rita memegang botol tersebut, dan berusaha duduk dengan baik.
"Maaf pak, saya mau ke Sangeh, arahnya ke mana ya?"
"Wah, ini berlawanan arah dari Sangeh, arah sebaliknya."
"Jadi sebaiknya saya bagaimana pak?"
"Hmm.. diujung pemberhentian truk ini, mungkin akan ada truk yg ke arah sebaliknya, kamu bisa numpang di sana."
"Kejauhan ga pak?"
"Iya juga sih, kalau begitu kamu minta berhenti di sini saja, lalu menunggu di pinggir jalan, siapa tahu ada bis atau truk yang lewat."
"Kalau di tempat pemberhentian truk ini, ada telepon ga ya pak? Atau bisa untuk nelepon?"
"Kayaknya kepala proyek punya telepon satelit."
"Kalau begitu saya ikut sampai truk ini berhenti saja pak"
"Iya, itu lebih baik."
Cukup jauh perjalanan yang ditempuh truk itu. Hari beranjak siang dan belum ada tanda-tanda truk akan berhenti.
Rita kembali tertidur, dalam mimpinya ia melihat ayah dan Tomi telah datang menyusulnya. Rita berteriak memanggil-manggil mereka tapi tidak ada yang mendengar.
"Dik..dik bangun sudah sampai!" Tegur bapak tadi
Rita terbangun dari mimpinya, ia ikut turun dari truk.
"Saya harus ke mana pak?"
"Sebentar ya?" Bapak itu pergi meninggalkan Rita, ia menghampiri seorang laki-laki yang sedang duduk di depan rumah kecil berjendela. Entah apa yang mereka bicarakan, Rita hanya memperhatikan dari kejauhan. Setelah itu si Bapak menghampiri Rita,
"Adik bisa datang ke bapak yang sedang duduk di depan itu, sepertinya bisa membantu adik!"
__ADS_1
"Baiklah pak, terimakasih banyak!"
Bapak itu melambaikan tangannya.
Rita berjalan menghampiri lelaki lawan bicara bapak tadi. Melihat Rita berjalan menujunya, ia malah masuk ke dalam rumah. Rumah itu lebih cocok disebut shelter, karena hanya terdiri dari 1 ruangan , dengan 1 pintu dan 1 jendela kaca menghadap ke jalan.
Lelaki itu duduk di balik meja .
"Tok..tok..tok.." Rita mengetuk pintu
"Masuk!" Jawaban dari balik pintu
"Selamat Siang pak!" Sapa Rita
"Selamat Siang, Dik, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya. Lelaki itu berusia sekitar 30 tahunan berperawakan tinggi dengan badan tidak terlalu gemuk.
"Saya boleh pinjam teleponnya?"
"Bisa sih dik, masalah nya teleponnya dibawa sama manajer proyek!"
"Manajernya kapan datangnya ya pak?"
"Mungkin satu atau dua jam lagi, kalau mau menunggu, duduk di sini atau di bangku luar saja!"
"Oo, baiklah!"
Rita menuruti perintah bapak tadi.Karena takut menganggu Ia keluar dari rumah itu dan duduk di bangku depan jendela rumah tadi.
Dengan sabar ia melihat kesibukan di sekelilingnya, mencari truk yang akan berangkat, tetapi tidak ada satupun mobil atau truk yang berangkat. Hanya ada truk baru datang dan parkir di sana. Rita semakin tidak nyaman, perasaannya campur aduk. Rita berdiri dan masuk ke dalam kantor, ia menghampiri Bapak tadi.
"Pak, masih lamakah manajernya?"
"Saya ga tahu dik, beliau akan datang hari ini apa tidak?"
Di saat yang bersamaan dua orang laki-laki mendorong dan memaksa Rita masuk ke ruangan lain di rumah tersebut.
"Eh..pak..apa-apaan nih?"..Rita berusaha membebaskan diri, tetapi karena ruangan terlalu sempit untuknya bergerak, akhirnya ia pasrah dibawa oleh kedua orang itu. Ternyata di rumah itu ada tangga menuju ke bawah. Rita semakin bingung, tetapi ia berusaha tabah, dalam hatinya ia terus berdoa, "Semoga ia tidak diapa-apakan".
Cukup panjang tangga ke bawah itu, hingga ia tiba di depan pintu. Salah seorang lelaki kekar tadi membuka gerendel pintu dan mendorong Rita masuk. Lalu mereka mengunci pintunya dari luar.
"Tolong!!!..tolong!!!"
Rita berteriak panik.
"Heii!!! Ga ada gunanya teriak-teriak di sini!, Ini ruang bawah tanah!"
Rita menoleh ke arah sumber suara, ternyata banyak perempuan yang terkurung di situ.
"Aaakhhh.."Rita terkejut punggungnya mengenai pintu.
"Aduh!"mengerang kesakitan.
Para perempuan muda itu melihat ke arah Rita dengan wajah sedih.
Rita memberanikan diri bertanya kepada mereka
"Maaf, ini dimana ya?"
"Ini penampungan sementara!" Ujar salah satu dari perempuan itu
"Penampungan?"
__ADS_1
"Iya, kami akan dipekerjakan ke luar negeri sebagai buruh!"
"Luar negerinya di mana ya? Tapi saya cuma mau pulang!"
"Wah, kamu salah tempat berarti!"
"Hah?"
"Beberapa dari kami dipaksa untuk ikut menjadi TKI ilegal,oya, nama kamu siapa?"
"Saya Rita, tadi saya pingsan di jalan karena kehausan, lalu di tolong oleh para pekerja, diangkut oleh truk, hingga sampai di sini"
"Saya Dewi, itu Eka, Ria, Siti. Kalian ini Rita!"
"Haii!!!" Sapa mereka bersamaan
"Jadi, sudah berapa hari kalian di sini?"
"Entahlah, di sini panas, kita hanya sesekali boleh keluar, itupun hanya 15 menit"
"Sebenarnya ini tempat apa?" Tanya Rita lagi
"Yaah bisa dibilang penampungan sementara, sebelum kami di bawa untuk bekerja"
"Kog, tempatnya ga nyaman begini? Lebih mirip penjara?"
"Mungkin untuk menyembunyikan kami dari aparat, kami bekerja tanpa ijin, makanya sebisa mungkin kami disembunyikan" ujar Dewi yang kelihatan lebih tua dari yang lainnya.
"Tapi mba, saya hanya kesasar di sini, saya berniat ke Sangeh, tapi sepertinya saya salah arah"
"Terus kamu dibawa kemari?"
"Saya didorong kemari oleh dua orang yang badannya besar-besar itu!"
"Daerah ini sangat terpencil, mencoba lari pun sulit, kecuali kamu bisa bawa kendaraan, diam-diam kita bisa kabur dari sini!" Ujar Siti
"Jangan! Kalian tahukan, pengawal di sini galak-galak, kalau dihitung kita ga lengkap, yang lain bisa terkena hukuman!" Ujar Ria ketakutan
"Kalau begitu kita larinya bersama-sama!" Ujar Rita
"Ga bisa!, Dari awal saya kesini memang berniat bekerja, kalau lewat jalur resmi, akan lebih banyak biaya!" Sanggah Eka.
"Jadi gimana dong? Aku kan dipaksa kesini" Rita bingung
"Kalau begitu, pas istirahat nanti, kan kita dihitung,kamu jangan muncul, kita umpetin"ujar Maya
"Betul, dengan demikian kalau Rita ga ada, kita ga bakal dihukum!"sambung Eka
"Kamu ke belakang Rit, sebisa mungkin kamu jangan muncul di depan mereka!", perintah Dewi
"Ingat ya teman-teman, jangan ada yang berkhianat diantara kita!"ujar Dewi lagi memperingati
Teman-temannya mengangguk tanda setuju.
"Terimakasih ya Kakak-kakak, padahal kita baru kenal, tapi kalian mau bersusah payah untuk saya!" Rita terharu
"Gak papa Rit, sebenarnya beberapa Minggu yang lalu, ada seorang anak perempuan seperti kamu, dia juga dipaksa ke sini, karena Kami terlalu cuek dan takut dihukum, akibatnya anak itu disiksa hingga menemui ajalnya" Cerita Dewi sedih.
"Kami di sini bukannya tidak peduli, kami terpaksa untuk tidak peduli.Kalau kami melawan kami tidak bisa bekerja di Luar Negeri"
"Tapi Kak, bagaimana kakak tahu, setelah bekerja uangnya akan kakak terima? Bukankah kalau ilegal tidak ada jaminan gaji kakak akan diberikan bos sini?" Tanya Rita
__ADS_1
"Iya sih, tapi buat kami, disini pun kami kelaparan, setidaknya mereka menanggung hidup kami." Ujar Maya memelas.
Rita hanya terdiam, tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.