Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 216: Work From home


__ADS_3

Work From Home, bekerja dari rumah. Sejak pandemik berlangsung Daniel bekerja secara online dari rumah megah mereka. Ia sangat menyukai ruangan kerja yang di design oleh Mario. Selain ruang yang lega, di situ juga terdapat pojok tempat ia ngopi dan beristirahat, pemandangan keluar jendela juga hijau dan asri, terkadang ia tertidur menghadap jendela.


“Yang! Woy!” panggil Rita tersenyum dari luar jendela, ia sedang bermain dengan kedua anaknya yang masih batita


“Huh?” Daniel kaget dan terbangun


“Kerjanya sudah selesai?” tanya Rita, Daniel kembali ke laptopnya untuk memeriksa pekerjaan anak buahnya setelah selesai tinggal keluar dari ruangannya dan berkumpul dengan anak dan istrinya.


“Hehehe....papi bosan online terus!” ujarnya sambil menggendong Rafa yang sedang bersama baby sitternya, sementara Rita dan Ranna bermain gajah-gajahan.


“Ayo Pi, kita balapan!” ajak Rita, Daniel mengambil mobil-mobilan kecil yang bisa berjalan dengan aki, ia menaruh Rafa di depan


“Ayo Mi! Sampai pohon itu ya?” tunjuknya


“Boleh! Ayo Ranna girl power!” Rita mengikat Ranna kuat di pinggangnya agar tidak jatuh baby sitter yang menjadi wasitnya


“Siapp? 1,2,3!” mereka pun mulai menjalankan mainannya


“hiyaaaaaa!!!!” teriak Daniel dan Rita, keduanya gak mau kalah. Mainan gajah dan mobil-mobilan berjalan lambat Ranna dan Rafa berteriak kegirangan seperti papi dan maminya, akhirnya mereka tiba di tujuan bersamaan.


“Yahhh...seri!!!” ujar Rita dan Daniel kecewa, sementara kedua anaknya kegirangan


“Hey! Kalian senang sekali ya?” tanya Daniel sambil melihat ekspresi wajah Rafa


“Hahaha...papi, Rafa itu lagi poop!” ujar Rita tertawa


“Sus! Tolong ya?” ujar Daniel menjalankan mobil menghampiri suster lalu memberikan Rafa, ia agak segan ke dalam rumah. Suster segera mengambil Rafa untuk mengganti popoknya.


“Gantian deh, Ranna sama papi sekarang!” ujarnya. Rita menghampiri suaminya lalu melepaskan Ranna dari gendongannya


“Lho..lho..kok Ranna juga poop nih?” ujar Rita , ia mencium bau tak sedap dari celana anaknya


“Suster, tolong ganti popok Ranna juga ya?” ujar Rita, suster segera mengambil Ranna dan kembali ke dalam rumah.


“Kelihatannya anak kita terlalu excited ya? sampai poop begitu” ujar Daniel heran, ia melihat kedua anaknya dibawa masuk suster


“Kalau kita saja yang balapan gimana?” tanya Rita


“Boleh! kaki kamu gak boleh menyentuh tanah ya?” ujar Daniel


“Iya! Oke!” ujar Rita bersemangat


“Siapp! 1,2,3!” keduanya memberi aba-aba bersamaan..mobil dan gajah berjalan, awalnya cukup kencang tetapi lambat laun melambat kemudian berhenti di tengah-tengah.


“Yahhh....baterainya habis!!!” keluh Rita


“Yahh?? Kog bisa bersamaan?” tanya Daniel heran


“Tadi kita gantian main ini sama itu!” ujar Rita kecewa


“Kayaknya gajah dan mobil ini gak mau kita berantem gara-gara kalah kompetisi ya?” ujar Daniel


“Mungkin juga, memangnya kamu gak mau mengalah?” tanya Rita


“Mengalah? Itu penghinaan buat kamu kan?”jawab Daniel, Rita berpikir sejenak


“Iya juga ya?” keduanya berjalan sambil mendorong mainan mereka untuk dicharge baterainya.


“Kita ini aneh ya? seperti kembali ke masa anak-anak” ujar Daniel


“Iya, tapi waktu kecil justru gak main ginian!” jawab Rita


“Iya sih, tapi tingkah kita itu lho. Padahal sudah jadi papi dan mami!” ujar Daniel tersenyum


“Eh kamu gak apa-apa kerjaannya ditinggal?” tanya Rita


“Enggak apa-apa toh mereka lagi menyelesaikan. Nanti aku periksa”


“Sebenarnya lebih santai begini ya? kerjanya?”


“Iya sih, tapi sambungan internetnya kadang gak lancar ya?”


“Nanti aku tanya pak Ridwan apa selalu begitu atau saat ini saja?”


“Hampir setiap orang sekarang menggunakan sambungan internet, tentu banyak beban. Ibaratnya jalannya masih segitu lebarnya, eh yang bawa mobil lewat situ banyak malah macet” ujar Daniel memberikan analogi


“Eh Yang, aku sudah tanya sama pak Ridwan tentang harga mobil yang mau kamu beli, jadi bayarin mobil itu?”


“Gak jadi deh, aku pikir-pikir sayang uangnya. Lagi pula aku mau pamer sama siapa, teman-temanku di Auckland semua, lagi pula masa gaya-gayaan ku sudah lewat. Jadi uangnya untuk asuransi pendidikan anak-anak”


“Tapi kedua kakek sudah melakukan itu untuk kedua anak kita”


“Ya gak apa-apa itu kan dari kakek kamu, ini asuransi pendidikan dari papi mereka”


“Oh begitu!”


“Kenapa? Kok kamu kecewa? Kan kamu sudah punya mobil juga kan?”


“Enggak sih, aku cuma mikir apa aku saja yang egois ?”


“Ah enggak, kamu kan perempuan yang masih ada suami, jadi hidup mu ditanggung suami, sedangkan aku kepala rumah tangga, jadi sudah seharusnya aku memikirkan masa depan anak-anakku kan?” ujar Daniel


“Hmm...kamu memang papi yang bertanggung jawab!” puji Rita, ia mencium pipi suaminya


“Tapi Yang Kamu masih muda!, masih dibawah 30 tahun!” ujar Rita lagi


“Huh? Iya ya? habis gimana ya, anak sudah 2, aku jadi merasa sudah tua saja”


“Anak kita masih kecil, menurutku usia mu ideal untuk menikah dan punya anak”


“Memang, dulu aku menargetkan, menikah antara 26 atau 27 tahun, alhamdulillah target tercapai” ujarnya tersenyum sambil merangkul istrinya


“Oh, cowok ada target juga ya? kalau misalnya sampai usia 27 tahun ternyata kamu belum ketemu jodoh gimana?”


“hmm...tapi ketemu kan?”


“Misalnya enggak?”


“Mungkin aku akan memperpanjang pencarian, tapi tentang jodoh. Tiba-tiba aku ingat”


“Ingat apa?”


“Dulu, waktu aku masih SMP, aku sering membantu kakek Sugi dan kakek Dar “

__ADS_1


“Oya? Kamu ngapain?”


“Banyak, membantu mengangkat barang, mengantar mereka ke tempat-tempat bisnis di Korea mewakili ayahku kalau dia tidak bisa menemani”


“Apa kamu diberi upah?”


“Mereka sering memberi tip, tapi aku tolak, aku melakukannya karena senang. Mereka sangat baik dan murah hati. Salah satu dari mereka selalu bilang, nanti kamu aku jodohkan dengan salah satu cucu ku ya”


“Oh ya? pasti kakek Sugi ya?”


“Hmm...kayaknya iya deh”


“Terus? Kamu gak ingat itu waktu kita bertemu?”


“Enggak ingat!”


“Kok bisa gak ingat?”


“Ku pikir kakek senang bercanda, lagi pula aku gak pernah kepikiran akan keluar dari Korea dan bertemu kamu di Auckland”


“Sama dong ya? aku juga gak pernah kepikiran bakal sering ke luar negeri, bahkan tinggal di sana”


“Oh ya? padahal kakek Sugi kaya raya, seharusnya beliau mengambil cucunya lebih cepat kan?”


“Aku yang gak mau pisah sama ayah, akhirnya terpisah karena aku sakit. Lalu kakek Sugi langsung berinisiatif membawaku ke luar negeri untuk berobat”


“tapi bagaimana kakek Dar bisa tahu tentang kamu sebagai cucunya?”


“Kak Andi yang mencuri dengar, jadi waktu itu ayah terkena serangan jantung yang pertama, mama menjenguknya eh bukan hanya menjenguk ya, mama bingung, saat itu aku mengalami pendarahan yang membutuhkan donor darah, tapi darah ku tidak cocok dengan darah ayah. Lalu ayah mengatakan yang sebenarnya ke mama.”


“Mama langsung memindahkan mu ke Auckland?”


“Bukan mama, tapi kakek Sugi memindahkan ku ke rumah sakitnya di Singapura, dari situ aku di tes DNA, dan positif aku keturunan keluarga Darmawan”


“Kamu kaget gak tahu-tahu sudah di luar negeri?”


“Kaget dong, apalagi waktu itu tante Metha datang dan mengancam akan memperkarakan ayah kalau aku menolak menjadi keluarga Darmawan”


“Jadi kamu menerimanya agar ayah mu tidak dipenjara?”


“Bukan itu saja sih, sebenarnya aku marah sama ayah, karena beliau menikah diam-diam dan aku gak dikasih tahu. Saat itu aku pikir, ya sudah toh dia bukan ayah kandung ku. Apa pun yang beliau lakukan bukan lagi urusan ku”


“Wahh,..kamu kejam juga ya? beliau ayah yang membesarkan kamu lho!”


“Namanya lagi marah, tapi semuanya jadi masuk akal sih”


“Masuk akal? Maksudnya?”


“Kadang ayah suka menjaga jarak seolah aku ini bukan anak kandungnya, kadang aku merasa seperti orang asing.”


“Masa sih? Bukannya ikatan kalian sangat kuat?”


“Itu sewaktu masih kecil, begitu aku masuk masa puber ayah lebih sering bekerja dari pada di rumah.”


“Ya pastinya, ada anak perempuan cantik yang bukan darah dagingnya ia takut tergoda”


“Memangnya ayah ku itu kamu!” ujar Rita tersenyum


“Tapi ayah menjodoh-jodohkan ku dengan Tommy”


“Tentunya, kalau dia terlalu dekat dengan mu takut terjadi hal yang dilarang, kalau ada lelaki untuk anak perempuannya akan ia terima dengan lapang dada, karena pada dasarnya ayah mu itu orang baik!”


“Iya, aku pernah menanyakan padanya, boleh aku tetap memanggilnya ayah? Beliau sangat kaget, dan bilang kalau aku akan selalu menjadi anak perempuannya” mata Rita berkaca-kaca mengingat ayahnya


“Kamu kangen ayah ya?” tanya Daniel, ia memeluk istrinya dengan sayang


“Iya,tapi sekarang ada kamu di sini. Kamu jangan kemana –mana ya?”


“Memangnya aku kemana?”


“Aku pernah bermimpi kamu pergi jauh, aku panggil-panggil dan mengejar kamu gak lihat aku”


“Oh ya? apa waktu aku sakit?”


“Iya, aku takut sekali”


“Kamu takut jadi janda atau takut aku gak ada?”


“pertanyaan macam apa itu?” tanya Rita agak kesal


“Cuma pertanyaan saja!”


“Aku takut kamu gak ada!” jawab Rita


“Iya-iya jangan nangis gitu! Aku cuma menggoda mu!” Daniel merangkul istrinya dan mencium keningnya


“Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh kayak gitu, ingat! Ucapan itu doa!”


“Oh iya, kamu sudah tanya ke Erina tentang D’Ritz?” tanya Daniel mengalihkan topik pembicaraan


“Sudah, dia bilang minggu depan sudah boleh buka, tetapi hanya menerima pesanan secara online tidak boleh makan di tempat”


“Wah repot dong ya? padahal dari cafe D’Ritz cukup banyak juga kan?”


“Iya, untuk sementara cafenya di tutup dulu”


“Makan siang jam berapa nih?” tanya Daniel, Rita melihat jam tangannya


“Kayaknya sudah deh, nih ada pesan kereta makan sudah ada di kamar” Rita melihat pesan dari smart watch yang terhubung dengan aplikasi rumah.


“Kapan beli itu?” tanya Daniel


“Kemarin, sewaktu di MOI, hehehe...”


“Teman-teman mu ikut waktu kamu membeli?”


“Enggak dong!, aku gak mau dibilang pamer. Aku ke toko ponsel dulu untuk beli sebelum bertemu mereka”


“Apa sempat?”


“Aku sudah memikirkan model dan typenya dari rumah, jadi begitu sampai toko tinggal bilang, coba, bayar!”


“Sepertinya kamu sudah biasa dengan kemewahan ya?”

__ADS_1


“hehehe...memang! tapi uang untuk jam tangan ini dari D’Ritz lho! Bukan dari uang belanja dari kamu”


“Oh iya, tentang uang belanja makanan di sini gimana tuh?” tanya Daniel


“Aku sudah tanya sama pak Ridwan, beliau bilang untuk belanja makanan aku bisa transfer secara bulanan ke no.rekening rumah ini.”


“Jumlahnya?”


“Beliau bilang terserah, kita sama kan saja sama pengeluaran bulanan kita di Singapura?” tanya Rita


“Terserah! Kamu atur saja. Kalau biaya internet, listrik gimana?”


“Kamu bayar biaya internetnya saja atau enggak usah juga gak apa-apa”


“Yah jangan! gak enak ah, Internet kan untuk kerja aku”


“habis beliau bilang, semua sudah dibayari otomatis dari rumah ini, jadi kita gak perlu repot”


“Kalau begitu aku langganan internet bulanan saja deh dari wifi ponsel ku ya, gak apa-apa kan?” ujar Daniel


“Begitu juga gak apa-apa, mungkin sambungan internetnya lebih lancar!”


“Ah iya! Benar juga! Kenapa gak kepikiran tadi!” mereka masuk ke kamar mereka setelah cuci tangan mereka pun mulai melahap makan siang mereka.


“Kayaknya di sini berat badan ku akan naik!” ujar Daniel setelah menghabiskan makan siang mereka


“Kalau gitu, setelah sholat dzuhur kita keliling rumah ini saja jalan kaki. Lumayan lho!”


“Boleh deh, anak-anak gimana?”


“Mereka sedang tidur siang, susternya juga sedang istirahat”


“Oh begitu, ya sudah nanti ya setelah aku cek kerjaan anak buah dulu!”


Rita membereskan bekas makan mereka berdua, beberapa makanan sisa ia taruh di lemari pemanas.


“Kenapa disimpan?” tanya Daniel melihat istrinya menyimpan sisa lauk yang baru mereka makan


“aku kan sedang menyusui, kadang-kadang aku lapar lagi. Menunggu waktu makan berikutnya lama, jadi aku simpan untuk nanti”


“Oh begitu, pantas aku lihat kereta makanan ini selalu sudah bersih”, Daniel kembali ke ruang kerjanya


“Ting!” notifikasi dari Mario di ponsel Daniel


“Halo bos!”


“Hey O! Kamu di mana sekarang?”


“Ai di kantor bos!”


“Hah? Semua pegawai sedang WFH sekarang”


“Iya bos, ada yang mau AI ambil”


“Bagaimana kondisi kantor sekarang?”


“Sepi bos, cuma ada beberapa security”


“Kamu akan kembali ke apartemen?”


“Iya bos!, oh iya WFH ini sampai kapan ya?”


“Mungkin 2 minggu atau sebulan, kenapa?”


“Ai terjebak di sini, mau kembali ke Indonesia belom bisa” keluh Mario


“Ya, kamu di situ saja dulu, melihat keadaan.”


“Iya deh bos, Ai pamit dulu ya!”


“oke!, eh Mario!”


“Ya bos?”


“Terimakasih! ruang kerja di rumah besar Jakarta nyaman sekali!” puji Daniel, Mario tersenyum puas


“sama-sama Bos! Salam untuk Ritong dan anak-anak yee!” ujar Mario


“Oke!”, setelah menyelesaikan pekerjaan, seperti rencana semula Daniel dan Rita berkeliling rumah besar Jakarta.


“Rumah ini ada berapa kamar?” tanya Daniel


“Sekitar 30-an, di sini 4 lantai lho!. Tapi menurut profil rumah ini, jumlah kamarnya berkurang sekitar 7 kamar untuk kamar kita”


“Oh ya? wow, berarti besar sekali ya, kamar kita”


“Tentunya, aku jadi kepikiran nanti kalau anak-anak sudah besar mereka akan menempati kamarnya masing-masing, akhirnya kita akan berdua saja di kamar kita yang luas itu”


“Asyik dong bisa berdua saja sama kamu!” ujar Daniel tersenyum, pertama mereka mengunjungi kamar bermain anak-anak


“Wow!..ini yang disebut taman bermain yang sebenarnya” ujar Daniel kagum


“Iya betul, aku juga baru lihat ke sini, lihat yang ada trampolin besar!” Rita naik ke trampolin itu dan mulai melompat-lompat


“Seru !!..ayo gabung Yang!” teriak Rita kegirangan, Daniel mengikuti istrinya, ia naik ke trampolin dan mulai berloncatan, beberapa menit kemudian


“Sudah ah, nanti energi kita habis di sini saja” ujar Daniel sambil melompat keluar dari trampolin dan Rita mengikuti


“keren banget nih!” Rita mengagumi ruang bermain anak-anak


“Ayo yang , ke kamar selanjutnya!” ajak Daniel, ia menarik tangan istrinya


“Di sebelah kamar bermain ini, kamar para baby sitter” mereka melewati saja


“Ini kamar apa ya?” mereka masuk ke kamar sebelah baby sitter


“Masih kosong !”


“Mungkin kamu bisa mempergunakan kamar ini untuk olah raga, atau senam. Kamu bisa memasang kaca di situ” ujar Daniel, mereka meninggalkan ruangan itu, lalu ke kamar berikutnya, dan selanjutnya


“Hmm...kita lihat saja nanti!”


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2