Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 275: Kesibukan Daniel dan Firasat Raffa


__ADS_3

“Beatrice, apa suami ku selama di sini terus bekerja tanpa henti?” tanya Rita pada Beatrice di suatu siang


“Pak Daniel? dia sangat rajin, pergi pagi pulang larut malam. Benar-benar sosok lelaki bertanggung jawab pada keluarganya.”


“Pada saat weekend suami ku juga tetap bekerja?”


“Tentu, beliau bilang makin cepat ia menyelesaikan pekerjaan makin cepat ia bertemu keluarganya”


Rita mengambil potongan apel di hadapan dan melahapnya


“Beatrice Anda punya anak?”


“Ada 4, tiga lelaki dan paling bungsu perempuan”


“Wow! Banyak juga ya?”


“Itu dari 2 suami” sambung Beatrice lagi


“Anda 2x menikah?”


“yeap!,..Suami pertama ku teman SMP ku. Aku hamil ketika duduk di kelas 3 SMP. Aku sangat tergila-gila padanya. Ia atlet football di sekolah ku.”


“Apa dia sangat tampan?”


“Tentu saja! Aku tidak akan memberikan tubuh ku untuk lelaki yang wajahnya biasa saja kan? Hahahaha!” Beatrice tertawa renyah


“Bagaimana orang tua Anda ketika tahu Anda hamil?”


“orang tua ku dari keluarga besar dan miskin, mengetahui anak perempuannya hamil menurut mereka ini kesempatan untuk melepaskan tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Mereka menuntut kekasih ku menikahi ku”


“Memang itu yang seharusnya kan?” ujar Rita sambil melahap apel lagi


“iya, tetapi keluarga kekasih ku ingin aku menggugurkan kandungan, mengingat kekasih ku itu ada seleksi perekrutan atlet nasional mereka tidak ingin karirnya terhambat karena aku”


“Tetapi kalian masih SMP?” tanya Rita heran


“Anda tahu kan, di masa itu siswa SMP lebih dewasa dari pada anak SMP zaman sekarang?” ujar Beatrice


“Oh iya ya, silakan lanjutkan ceritanya!”


“Kekasih ku itu orang yang bertanggung jawab, thanks god! Dia menikahi ku walau dalam keadaan prihatin. Aku berhenti sekolah, sedangkan dia melanjutkan ke SMA sambil bekerja sambilan di bengkel milik ayahnya. Aku bekerja di restoran sebagai pelayan”


“Anda pasti sangat menyayangi suami mu ya?”


“Tentu saja, walau kami hidup kekurangan tetapi perhatiannya pada ku tidak berkurang, bahkan ketika aku hamil anak kedua dia sangat perhatian padaku. Kalau diingat-ingat dia seperti pak Daniel. Aku memperhatikannya sejak kalian tiba di sini. Ia membantu mu mengurus anak-anak”


“Hahaha...iyalah...sebelum kami memiliki anak, suami ku bilang ingin anak yang banyak, aku bilang boleh asal dia yang mengurusnya, dan dia menyetujuinya” ujar Rita


“Hahaha...” Beatrice tertawa mendengar ucapan Rita


“Oh ya Beatrice, berapa tahun jarak antara anak pertama dan kedua?”


“hmm...kami masih sangat muda dan menggebu-gebu, waktu itu belum ada alat kontrasepsi, jadi setahu kami kalau sedang menyusui anak pertama itu adalah KB alami jadi, sebulan kemudian setelah aku bersih dari masa bersalin, aku sudah hamil lagi anak kedua” Beatrice tersipu malu


“Ya ampun...hampir mirip dengan ku, hanya saja aku hamil 2 bulan kemudian setelah aku bersih”


“Mungkin itu kutukan bagi pasangan muda. Usia berapa Anda menikah?” tanya Beatrice


“17 tahun lebih, kami pacaran hanya 8 bulan” jawab Rita


“Berapa beda usia Anda dengan pak Daniel?”


“9 tahun, jarak yang lumayan ya? sebenarnya mama dan kakak ku agak keberatan dengan jarak usia yang lumayan itu”


“Lalu kenapa kalian akhirnya menikah?” tanya Beatrice


“Keluarga ku melihat pak Daniel sosok yang baik dan bertanggung jawab, di tambah lagi dia bisa mengendalikan ku.”


“Mengendalikan?” tanya Beatrice heran


“Kakek ku sangat cemas karena aku sangat tomboy, kakek ingin ada seseorang yang mengurusku dengan baik dan menyayangi ku dengan tulus. Dan ia melihatnya dari sosok Daniel” jawab Rita


“Anda juga sangat mencintainya kan?” tanya Beatrice


“Tentu saja! Aku gak akan menikah muda kalau aku gak cinta sekali sama orang itu!” jawab Rita


“Berarti pemikiran kita sama ya?” ujar Beatrice


“Lalu Beatrice, kenapa anda menikah lagi? Apa kalian bercerai?”


Beatrice menghentikan pekerjaannya, ia mengambil tissue dari atas meja mengusap air matanya.


“Suami ku meninggal karena kecelakaan mobil”


“Innalillahi wa’innaillaihi roji’iun” ujar Rita


“Apa itu?” tanya Beatrice bingung dengan ucapan Rita


“Itu, seperti ucapan, semoga ia beristirahat dengan tenang di sisi-Nya”


“oh begitu, terima kasih” ujar Beatrice


“Suami ku ikut balapan liar, katanya kalau ia menang ia bisa mendapatkan uang banyak yang cukup untuk membiayai persalinan anak kedua. Aku sudah mencegahnya aku takut terjadi apa-apa padanya, tetapi ia tidak peduli. Ia bilang feelingnya kuat ia akan menang”


Rita mendengarkan dengan serius, tiba-tiba Raffa datang


“Mamiii...” ia menaiki bangku di samping Rita


“Ya sayang?” tanya Rita


“Can you hug me?” tanyanya


“sure!” Rita menggendongnya, dan berjalan berkeliling dapur


“Ah manis sekali” puji Beatrice


“Anak-anak ku ini sangat menempel pada ku, di mana pun aku berada salah satunya pasti ingin seperti ini” ujar Rita


“Bersyukurlah anak-anak mu ada pada mu!” ujar Beatrice


“Memang Anda tidak mengasuh sendiri anak Anda?” tanya Rita


“Ketika aku mendengar kabar mobil suami ku yang hampir mencapai finish terbakar, aku yang sedang hamil 7 bulan pingsan di tempat kerja, lalu di bawa ke rumah sakit. Hari itu juga aku melahirkan anak kedua dalam kondisi prematur. Keluarga suami ku sangat bersedih, terutama ibu mertua ku. Ia sangat terpukul dengan kejadian itu. Tetapi ketika ia melihat anak pertama ku, dan bayi ku. Mereka membujuk ku untuk menyerahkan anak-anak ku untuk di asuh mereka. Waktu itu usia ku baru 17 tahun, oh iya aku menikah di usia 15 tahun. Mereka bilang biar anak-anak mereka yang mengasuh, aku bisa melanjutkan hidup ku. Mereka juga memberikan sejumlah uang kepada ku untuk melanjutkan sekolah dan biaya hidup.”


“Anda menerimanya?”

__ADS_1


“Awalnya tidak, aku bertekad membesarkan sendiri anak-anak ku dengan tenaga ku sendiri. Aku mengambil 2 shift di restoran dan bekerja di pabrik di hari libur untuk menghidupi kehidupan kami. Tetapi tenaga ku terbatas, akhirnya kesehatan ku menurun, aku jatuh sakit. Dokter bilang, selain kelelahan juga kurang gizi. Aku sering melihat kondisi ku yang sekarang, tubuhku gemuk, berat ku 170 pon dengan tinggi 180 cm, dulu berat ku hanya 35 kg. Benar-benar tengkorak hidup” Beatrice mengenang


“Lalu?”


“Orang tua ku datang berkunjung ke rumah sakit, mereka minta maaf padaku karena baru kali ini sejak aku menikah mereka mengunjungi ku. Mereka membujukku untuk menyerahkan pengasuhan anak-anak ke keluarga mendiang suami ku dan mereka akan menerima ku kembali menjadi anak mereka”


“Pilihan yang sangat sulit pastinya?” ujar Rita prihatin


“Mami, i missed papi” ujar Raffa


“Nanti kita Vcall ya Nak? Sekarang papi lagi kerja kita jangan mengganggunya” bujuk Rita


“I want now!” rengek Raffa


“Baiklah!, sebentar ya Beatrice, aku harus menghubungi suami ku dulu!” Rita meninggalkan dapur sambil menggendong Raffa


Ia melakukan Vcall melalui tablet barunya


“Hai sayang! Lagi sibuk ya?” tanya Rita


“Hmm...iya, ada apa? maaf ya aku tadi tidak bertemu kamu karena ada pertemuan pagi ini dengan klien yang letaknya jauh jadi aku harus berangkat pagi”


“Kamu sudah makan sayang?”


“Beatrice membekali ku banyak makanan dan buah-buahan, kamu gak usah khawatir aku kelaparan”


“Maaf ya sayang, aku jadi tidak mengurusmu” ujar Rita menyesal


“Tenang saja, kamu bisa mengurus ku kapan saja!” ujar Daniel tersenyum


“Papi!!! Ia missed you!” ujar Raffa


“Raffa! Papi missed you too, on weekend kita main lagi ya?”


“Yes papi but! Mm....”


“Mana kak Ranna?”


“She plays with Rayya and Nannies,...papi i just want to say, be careful with a guy in red” ujar Raffa


“Hah? Maksudnya?”


“He puts something on your drink” ujar Raffa,


“Eh kenapa nak?” tanya Rita heran


“Papi will get hurt if he drinks from it...huaaa” Raffa menangis kencang


“Sayang...apa ini bisa dipercaya?” tanya Daniel bingung


“Sebaiknya kamu hati-hati saja, kadang Raffa bisa melihat masa depan. Aku merasakan ia ketakutan sejak tadi” ujar Rita


“Baiklah, aku akan mengingatnya dan waspada”


“iya, jangan terlalu forsir tenaga mu ya?”


“Iya, sudah dulu ya?”


“sampai nanti!” mereka mengakhiri percakapannya


“Abang melihat apa tadi?”


“Begitu ya? terima kasih ya bang, sudah sharing ke mami dan papi!” Rita memeluk Raffa dengan sayang. Ia pergi ke ruang bermain anak-anaknya dan ikut bermain di sana.


Jam makan siang tiba, Rita dan anak-anak menyantap makanan yang disediakan oleh Beatrice


“Yummy mami!” Raffa tertawa senang


“Enak mi!” Ranna menggerak-gerakan tubuhnya kegirangan


“Anda koki yang hebat Beatrice” puji Rita. Para Nanny yang ikut makan di situ juga mengangguk setuju


“Terima kasih, sejak aku ditugaskan untuk mengurus pak Daniel di sini, beliau sudah menekankan pada ku untuk memasak hanya dari bahan-bahan halal. Tadinya aku gak mengerti, lalu aku mempelajari tentang halal, wah aku sangat tidak berkeberatan, karena sehari-harinya aku selalu menggunakan bahan-bahan halal jadi Anda tidak perlu khawatir”


“Terima kasih Beatrice!” ujar Rita tersenyum


Setelah makan siang, Rita sholat dzuhur, sedangkan anak-anak tidur siang. Setelah sholat, Rita turun ke ruang tengah yang sudah rapi dan hangat, di situ Beatrice sedang menjahit sesuatu dengan tangannya.


“Apa yang sedang Anda kerjakan Beatrice?”


“Oh ini, aku senang menyulam. Aku menyulam taplak-taplak meja di rumah ini”


Rita menghampiri dan melihat hasil pekerjaan Beatrice


“Wow sangat rapi dan bagus”


“Terima kasih” jawab Beatrice tersenyum


“Wah...Anda sangat ahli membuat sulaman ini, waktu hamil Rayya anak bungsu ku, aku terus-terusan ingin menyulam setelah aku melahirkan keinginan menyulam ku menghilang begitu saja” cerita Rita


“Dulu aku mengambil kursus menjahit dan menyulam, aku berniat bekerja di pabrik pakaian.”


“Jadi Anda tidak meneruskan sekolah?”


Beatrice menggeleng


“Setelah mempunyai dua anak, aku sulit konsentrasi pada pelajaran. Aku mencobanya beberapa bulan, tetapi tidak berhasil. Akhirnya aku putuskan mengambil kursus saja”


“Jadi anak-anak tidak bersama Anda lagi?”


Beatrice menggeleng, ia tampak sedih


“Tapi Anda bisa mengunjungi mereka kan?”


“Awal-awal sih bisa, tapi setelah beberapa waktu agak dipersulit. Ibu mertuaku membawa mereka pindah ke kota lain. Aku tidak bisa mencegahnya karena terikat perjanjian tetapi aku tuliskan surat yang aku titipkan kepada ibu mertua ku, aku meminta beliau menyerahkan kepada anak-anakku kelak mereka menanyakan tentang aku” Beatrice menghapus air matanya


“Lalu Anda menikah lagi?”


“Aku menikah lagi dengan supervisor pabrik tempat aku bekerja, dia seorang duda tanpa anak. Dia ditinggalkan oleh istrinya begitu saja.”


“Apa suami kedua anda tahu tentang latar belakang Anda?”


“Tentu! Ternyata dia kakak kelas ku di SMP dulu.Dia tahu kisah ku dengan suami ku dulu. Dia gak keberatan dengan anak-anak ku, kalau dipikir-pikir tentu saja gak keberatan, anak-anak tidak bersama ku”


“Kenapa Anda memutuskan menikah dengannya?”

__ADS_1


“Dia sangat baik dan perhatian padaku, dia merawat ku ketika aku jatuh sakit selama beberapa bulan sehingga tidak bisa bekerja di pabrik. Enam bulan setelah itu aku sembuh, lalu aku menikahinya. Beberapa bulan kemudian aku hamil anak ketiga, lelaki yang diberi nama Aldrin. Setahun kemudian aku berusia 19 tahun jalan 20 tahun anak bungsu ku Amelia lahir.”


“Apa Anda dan suami sekarang masih bersama?”


Beatrice menggeleng


“Kami bercerai setelah 20 tahun bersama, aneh ya bagaimana orang bisa berubah setelah bertahun-tahun”


“Usia Anda saat itu?”


“37 tahun!, Aku bahkan belum 40 tahun tapi dia sudah menyebutku nenek.”


“tiga puluh tujuh tahun? Itu juga tergolong muda kalau sekarang kan? Tante ku menikah di usia segitu”


“Oh ya? apa dia memiliki anak?”


“Iya kembar!, apa Anda tidak berpikir untuk menikah lagi?” tanya Rita


“Aku? Kadang-kadang kata-kata menyakitkan itu lebih melekat di kepala dari pada pujian. Aku mempercayai ucapan mantan suami ku tentang aku yang sudah nenek-nenek pada usia 37 tahun. Aku tidak merawat diri, aku hanya sibuk mengumpulkan uang untuk bertahan hidup. Akhirnya aku tahu maksud suamiku, ternyata anak pertama ku dari suami ku yang dulu telah menikah dan memiliki seorang anak. Aku memang sudah menjadi nenek kan? Suami ku tidak memberitahukan kepadaku tentang pernikahan anakku. Aku sangat marah padanya, habis kesabaranku padanya. Akhirnya aku memutuskan bercerai darinya.”


“Apa dia gak keberatan?”


“Sepertinya tidak, dia langsung menikah lagi pada saat aku menandatangi surat cerai”


“Bagaimana anak-anak?”


“Anak-anak sudah besar, terserah mereka ingin tinggal bersama ku atau mantan suami ku, tetapi pada akhirnya mereka kembali tinggal bersama ku karena ibu sambungnya tidak menyukai anak-anak dari suaminya”


“Apa anda menyesal menikah muda Beatrice?” tanya Rita


“Hmm...tidak! sejak kecil aku sudah memimpikan ingin menikah oleh seorang pangeran. Anda tahu kan dongeng Christian Andersen tentang para putri yang tinggal di istana?”


“Oh Anda membaca itu juga?”


“Aku menemukan komik bekas, dan sering membacanya. Suami pertama ku sangat manis jika tersenyum, persis seperti gambar di komik”


Rita tersenyum membayangkan.


“Oh ya Bu Rita, apa Anda menyesal menikah muda?”


“Tidak!, karena aku sangat menyukai suami ku.”


“Hahaha...begitu ya? saran ku bu”


“Ya?”


“Jangan terlalu menunjukkan kecintaan berlebihan karena itu bisa membunuh mu”


“Wow dalam sekali sarannya juga menyeramkan!” sahut Rita bercanda


“Percayalah pada wanita tua ini, yang bagus cinta itu terus dipupuk agar tumbuh dengan baik, karena cobaan selanjutnya pada saat usia kita bertambah. Sekarang kita masih muda, semua anggota tubuh kita menggairahkan bagi suami tetapi ketika usia kita bertambah belum tentu suami kita tetap bergairah pada kita” Beatrice menasehati


Rita terdiam, ia pernah mendengar ucapan ini dari mamanya


“Jadi menurut Anda kita harus terus merawat diri begitu?”


“Tentu saja! Jangan mengulangi kesalahan ku. Setelah tua baru tersadar, saat itu semua kulit sudah keriput”


“Assalammu’alaikum,Selamat siang!” tiba-tiba Daniel muncul di rumah


“Wa’alaikummussalam, hai kamu sudah pulang?” Rita menghampiri dan memeluk suaminya seperti sudah lama tidak bertemu.


“Aku tinggalkan kalian ya?” ujar Beatrice


“Oh iya Beatrice bisa buatkan juice jeruk buat suami ku?” pinta Rita


“tentu saja!” jawab Beatrice tersenyum, ia segera ke dapur


Rita menarik Daniel untuk duduk di sofa


“Kemari, kamu lelah sekali ya?” Daniel tiduran di pangkuan Rita


“Iya, tadi setelah mendengar ucapan Raffa aku kepikiran, aku mencari orang berbaju merah, lucunya hampir semua klien ku di situ seragamnya merah. Aku jadi bingung, dari pada itu lebih baik aku tidak memakan atau meminum suguhan mereka. Dari tempat mereka aku langsung pulang” Daniel bercerita dengan suara lemah, lambat laun ia tertidur di pangkuan Rita.


Rita mengambil bantal, perlahan ia menaruh bantal di kepala suaminya. Lalu ia ke kamar mengambil baju ganti, serta mengambil handuk serta air hangat di baskom. Seperti biasa ia mengelap tubuh suaminya lalu menggantikan pakaiannya. Beatrice yang datang dari dapur meletakkan juice jeruk dalam gelas besar, ia tersenyum melihat yang dilakukan Rita lalu kembali ke dapur.


“Enaknya kalau masih muda” gumamnya


Malam harinya, mereka makan bersama


“Raffa, kalau ada mimpi lagi tentang papi kasih tahu papi ya?” ujar Daniel


“Yes papi!”


“Tapi Yang, kamu harus tahu, firasat seperti itu bukan berarti terjadi pada saat ini, bisa jadi di lain waktu, kamu tahu kan sebuah teori?”


“hah? Teori apa itu?”


“Aku pernah baca, biasanya kalau kita bisa mengubah suatu masa depan biasanya ada konsekuensinya, atau kejadian itu akan terjadi di masa depan”


“jadi maksudnya?”


“Maksudku kamu harus tetap waspada dan berhati-hati! Lagi pula Raffa tidak bilang siapa orangnya kan?”


“iya sih, tapi aku cukup terbantu kok. Mendapatkan Vcall dari kalian tadi menyadarkan ku, ngapain aku gila-gilaan kerja padahal kalian ada di sini”


“hahaha..baru sadar rupanya” Rita tertawa


“Iya, pekerjaan di sini memang hal yang baru, itu sebabnya aku terus berkutat dengan ini. Selain bayaran dan fasilitasnya bagus aku juga ingin membuktikan pada diri ku sendiri kalau aku mampu”


“tentu saja kamu mampu! Kamu CEO paling bersinar di Dar.Co!” puji Rita


Daniel tersenyum senang mendengar pujian istrinya


“Jadi kalian hari ini ngapain saja?” tanya Daniel pada Ranna


“mainn!!!” jawab Ranna lucu


“I play with adek, she’s funny!” ujar Raffa


Daniel tersenyum. Setelah makan malam, ia berkumpul istri dan anak-anaknya di ruang keluarga mereka bermain dengan gembira, hingga malam menjelang, ketiga anak tidak tahan menahan kantuk. Baby sitter membawa mereka ke kamarnya, sedangkan Rita menggendong Rayya yang masih belum tertidur.


“Adek kok gak tidur-tidur?” tegur Daniel


“hahahaha....” Rayya menjawabnya dengan tertawa

__ADS_1


“Sini deh aku yang gendong” pinta Daniel, ia membawa Rayya ke kamar mereka, Rita memastikan semua pintu rumah terkunci, juga semua listrik mati, lalu ia bergegas ke lantai 2.


-bersambung_


__ADS_2