
Di rumah,...
Rita sedang melakukan tele confrence dengan Erina dan timnya. Ia melakukannya sambil menggendong Razan.
"Jadi , toko yang baru buka itu hendak menjual asetnya?"
"Iya Bu, kami juga kaget hanya dalam beberapa bulan usahanya sudah bangkrut, padahal saat pembukaannya sangat ramai bahkan penjualan toko kita sempat menurun karena mereka menjual roti dengan harga lebih murah"
"Begitu ya?"
"Mereka bilang hasil penjualan tidak bisa menutupi biaya operasional" ujar salah satu peserta rapat
"Mereka juga sempat memecat beberapa pegawainya" sambung peserta yang lain
"Kalian tahu sekali tentang keadaan toko itu?" Tanya Erina
"Sebenarnya sejak toko itu buka kami sempat takut D'Ritz akan bangkrut jadi kami mendekati beberapa pekerja di sana mencari tahu kondisi toko mereka"
"Kalian gak bermaksud pindah dari sini ke sana kan?" Tanya Erina lagi dengan nada curiga
"Pindah? Tentu tidak! D'Ritz sudah punya nama, kami hanya ingin mengetahui kondisi lawan saja" jawab mereka.
"Tapi kalian tidak menyabotase tempat itu kan?" Canda temannya
Keduanya saling berpandangan
"Untuk apa? Mereka bukan level kita! Aku pernah masuk ke dapurnya, kotor dan sempit. Aku dengar juga manajer toko lebih senang menyuap inspektor kebersihan daripada membersihkan dapur mereka" jawab mereka lagi
"Oh iya mereka juga hendak memindah tangankan sewa tempatnya, apa kita tertarik Bu?"
"Erina, masa sewa kita masih lama kan?"
"Masih Bu, tahun lalu sudah memperpanjang kontrak juga ruku untuk cafe" jawab Erina
"Si tua pemilik ruko ini benar-benar serakah, dia hendak menaikkan biaya sewanya " ujar bagian finance
"Mungkin sudah saatnya kita punya tempat yang tetap Bu?" Tanya Erina
"Aku akan menghubungi lawyer ku, dan mendiskusikan apa bisa kita memiliki lahan di sini? Setahuku hanya hak guna usaha saja selama 10 tahun dan bisa diperpanjang"
"Kita akan menghadapi masalah jika pak tua itu menaikkan uang sewanya dua kali lipat!"
"Begitu ya? Bagaimana perkembangan cabang kita Er?" Tanya Rita
"Mereka ingin memperluas dapurnya Bu "
"Memperluas? Memangnya mereka mau memproduksi sendiri? Apa dapur kita tidak bisa mengirim ke mereka tepat waktu?"
"Mungkin mereka hendak berinovasi Bu!" Ujar staf yang lain
"Coba deh Er, cek perjanjian kita dengan mereka, setahuku kalau mereka menjual selain produk D'Ritz akan dikenakan biaya tambahan per produknya"
"Tapi mereka cabang kita Bu bukan afiliasi" jawab Erina
"Maksud ku begini, kalau tiap cabang berkreasi sendiri aku takut D'Ritz akan kehilangan citra rasa khasnya. Misalnya pembeli harus ke cabang ini untuk roti yang mereka sukai. Menurutku untuk sementara jika ada inisiatif membuat resep baru harus melalui kantor pusat! Melalui Aku dan Kamu Er! Ingat kualitas rasa paling penting di D'Ritz " ujar Rita tegas
"Baik Bu!"
"Oh iya Bu tentang toko sebelah itu, mereka menjual asetnya dengan harga miring"
"Miring? Pegel dong!" Celoteh Rita yang disambut tawa pegawainya
"Hahahaha.. maksud saya harganya murah Bu"
"Hmm...Jujur saja ya, Aku tidak tertarik dengan mereka. Yang kita punya sudah cukup kan?"
"Sudah Bu, tapi mungkin lumayan, karena pemakaian hanya beberapa bulan, kondisinya masih 80-90%" ujar staf tadi
Rita menggeleng
"Maaf ya, aku tidak mau menumpuk barang yang tidak perlu. Lagi pula aku tidak mau D'Ritz dicap mengambil keuntungan dari kebangkrutan orang lain kan?"
Semua peserta rapat terdiam, mereka baru memikirkan hal itu.
"Kita ini kan sedang jualan, yang kita jual bukan hanya roti tapi juga image. Karena itu semua yang akan terus melekat di kepala pelanggan kita!"
"Baik Bu!" Jawab seluruh peserta rapat
"Rapat hari ini cukup sekian, kalian boleh kembali ke tempat masing-masing, oh iya Er ada yang ingin aku bicarakan berdua saja!"
Semua peserta rapat pindah dari ruangan rapat. Rita menghubungi Erina secara pribadi melalui Vcallnya.
"Er, aku akan ke Singapura bulan depan untuk acara wisuda, bisa buatkan sample roti mini untuk dibagikan ke para undangan?"
"Berapa banyak Bu?"
"Nanti aku kirimkan jumlah dan uang untuk sample nya"
"Tidak perlu Bu! Ini kan masuk biaya promosi"
"Jangan deh Er, aku ingin membeli dari toko ku sendiri. Anggap saja ini pesanan pribadi."
"Begitu ya Bu? Baiklah, oh iya Razan tenang sekali ya?"
"Iya! Kakak-kakaknya sudah sekolah tinggal dia sendiri di rumah"
"Anak-anak cepat besar ya Bu, seingat saya Rayya baru kemarin lahir sekarang sudah sekolah"
"Iya! Dia sering mendengarkan kakaknya bercerita tentang sekolah jadi dia ingin ikut"
"Play group kan Bu?"
"Rayya ikut kelas toddler, kalau Ranna dan Raffa play group "
"Oh begitu, mungkin saya juga harus menyekolahkan Adrian"
"Sebenarnya tidak perlu terburu-buru, tapi aku kesal melihat mereka main tablet terus, jadi aku daftarkan sekolah saja"
Sementara di kantor Daniel
"pak Daniel, karena kebijakan Anda,nilai saham Lexicon kembali naik, bahkan nilainya lebih baik dari sebelumnya"
"Alhamdulillah, saya pikir untuk menaikkan kepercayaan masyarakat pada Lexicon dengan memperbaiki citranya di masyarakat " jawab Daniel melalui tele confrence dengan dewan pemilik saham mayoritas Lexi.Corp.
"Kami dari Lexi bukan orang yang tidak tahu terimakasih, ada yang ingin Anda dapatkan dari Lexi?" Tanya Mr Alec sebagai ketua dewan
"Hmm.... sebenarnya ada!"
"Apa itu? Apa mobil Lexus terbaru?"
"Tidak! Saya hanya ingin meluangkan waktu lebih banyak untuk beristirahat, seperti yang Anda tahu, mengembalikan image Lexicon menguras pikiran dan tenaga"
"Jadi Anda ingin liburan?"
"Bukan, saya ingin diperbolehkan bekerja dari mana saja lewat online!"
"Begitu? Tapi Anda tahu kan, seorang Dirut harus selalu stand by?"
"Saya akan menjadwalkan hari-hari tertentu berada di kantor. Lexicon perusahaan besar, bisa berjalan secara remote"
"Hahahaha... permintaan Anda itu terlalu remeh, kami pikir Anda akan minta banyak, ternyata hanya itu"
"Istri saya baru saja melahirkan anak keempat, sepertinya ia mengalami baby blues yang membutuhkan dukungan, dengan bekerja dari mana saja saya bisa mendampinginya melewati masa itu"
"Baby blues? Istriku tidak pernah mengalaminya " ujar salah satu dewan
"Anda yakin? Atau Anda tidak pernah memperhatikannya? Seingat saya dulu istri Anda pernah menghilang selama sebulan?" Ujar salah satu ibu yang juga Anggota dewan
"Oh ya? Apa baby blues bisa separah itu?" Tanya Mr.Alec
"Itu tergantung! Baby blues itu kondisi mental sang ibu. Anda tahu penyanyi Adele kan? Dia mengalami baby blues dan sempat membenci bayinya" ujar ibu tadi
"Permintaan Anda akan kami diskusikan pak Daniel, nanti kami akan menghubungi Anda lagi mengenainya" ujar Mr.Alec
"Baik pak!" Daniel mereka menyudahi tele confrence nya
"Allan!" Panggil Daniel
"Ya pak?"
"Apa ada meeting lagi hari ini?"
Allan membuka tabletnya dan memeriksa jadwal Daniel
"Tidak ada pak!"
"Kalau begitu aku keluar lebih dulu, hari Minggu besok ada acara akikah anakku Razan, aku harus memastikan ustadz datang ke rumah kami"
"Akikah? Apa itu?"
"Hmm...Kami memotong 2 kambing kemudian dimasak dan diberikan kepada orang-orang sebagai sedekah, juga memanjatkan doa untuk keselamatan anak kami"
"Oh begitu"
"Kalau kamu mau bisa datang, datang saja akan banyak makanan tersedia, biasanya istriku membuat makanan timur tengah "
Di rumah, Daniel melihat ruangan yang akan dipakai untuk acara Razan hari Minggu.
__ADS_1
"Hai sayang, kamu sudah pulang?" Rita menghampiri suaminya
"Sudah dari tadi,muach!" Ia mencium pipi istrinya
"Aku tadi mampir ke mesjid dan memastikan pak ustadz dan teman-teman pengajian datang untuk akikah Ican "
"Ah iya, kenapa aku bisa lupa"
Daniel merangkul istrinya
"Aku juga sudah meminta Emir untuk membuat kan hidangan Timur tengah, kambingnya sudah disembelih aku tadi sekalian mengambilnya sebelum ke mesjid"
"Terimakasih sayang, kamu melakukan semuanya "
"Kamu konsentrasi saja sama anak-anak, mereka ribut karena ustadz akan datang ke rumah ini"
"Oh iya, tadi kak Andi mengabarkan, besok Ia dan rombongan akan kemari untuk akikah Ican"
"Rombongan?"
"Iya, mama, kakek, O dan kak Dewa"
"Dewa? Mereka termasuk rombongan?"
"Kamu gak tahu, sekarang kak Dewa asistennya kakek Dar"
"Oh ya? Sejak kapan?"
"Entahlah, aku tidak begitu menyimak karena Ican rewel tadi"
Di bandara, Dewa mengantarkan Mario
"Lo yakin gak ikut?" Tanya Mario
"Yakin! Sudah lo berangkat saja!"
"Masa Lo masih gak enak sama Rita?" Tanya Mario lagi
"Bukan sama Rita, gak enak sama Daniel"
"Orangnya baik kok! Percaya deh, sama Ai saja dia baiikkk banget!"
"Tahuu..tapi sama gue kan punya history, sama Lo enggak!" Jawab Dewa
"History apaan? Orang gak pernah jadian kok!"
"Bukan begitu, gue gak enak sama Daniel, dari pada nanti suasananya gak enak mendingan gue gak ikut!"
"Kalau gitu Ai gak jadi pergi deh!" ujar Mario
"Lo jangan! Kan elo sudah dekat banget sama keluarganya Rita!" Ujar Dewa
"you bukannya harus ketemu kakek?"
"Gue sudah ijin ke pak Darmawan tidak dan beliau mengijinkan"
"Ya sudah deh! Ai berangkat ya?"
"Hati-hati!"
Mario meninggalkan London menuju Kanada, ia tiba keesokan harinya. Di bandara, Daniel mengirimkan mobil untuk menjemputnya.
Sementara Andi dan Ratna berangkat dari Auckland, di bandara mereka juga sudah di jemput utusan Daniel.
Satu jam kemudian mereka tiba di rumah Rita
"Mama!"Rita menghambur lalu memeluk mamanya yang baru saja keluar dari mobil
"Rita! Sayangku, sehat ya nak?"
"Sehat Ma!" Rita mencium tangan mamanya
"Haloo!" Sapa Andi
"Kak!" Rita juga memeluk kakaknya
"Kakek gak ikut?"
"Nanti menyusul bersama kakek Sugi" jawab Ratna
"Oh ya? Yuk masuk, Rita sudah menyiapkan kamar untuk kalian!"
Tak lama sebuah mobil tiba di hadapan mereka
"Halooo!" Mario keluar dari mobil dengan riang
"Plak!!" Rita menepuk punggung Mario
"Buset dah masih sangat aje Bu!"
"Tante!" Mario mencium tangan Ratna
"Mario! Sehat nak?"
"Alhamdulillah, Tante!"
"Lo sendirian?" Andi celingukan mencari Dewa
"Iye! Dewong lagi banyak tes di kampusnya" Mario beralasan
"Cuma tiga hari apa gak bisa ditinggal?" Tanya Ratna
Andi mengerti kode dari Mario, ia mengalihkan pembicaraan
"Anak-anak mana Rit?"
"Lagi dijemput papinya"
"Dijemput? Dari mana?"
"Les karate, sebentar lagi juga datang, yuk kita masuk saja!" Rita mengajak tamunya masuk ke rumah.
"Rumahnya megah juga ya?" Ratna mengagumi rumah itu
"Ini rumah bintang film Hollywood ma, Lexi menyewa 3 tahun untuk kami"
"Wow! Berapa kamar tong?" Tanya Mario
"Berapa ya? Jumlah lantai cuma 2 tapi panjang sampai ke belakang" jelasnya
"Mungkin tanahnya luas ya, jadi dibuat hanya 2 lantai" ujar Mario mengagumi lukisan yang terpajang di ruang tamu.
Mereka diajak ke ruang keluarga yang lebih lapang dan nyaman, disitu Razan sudah menunggu bersama susternya.
"Ma, ini sus Rini, masih ingat kan?"
"Bu?" SusRini menyalami ibu majikannya.
"Halo sus!" Sapa Mario
"Uncle!"
"Ini Razan?" Ratna mengambil Razan dari gendongan Rini
"MasyaAllah tampan sekalii!!"
"Alhamdulillah " jawab Rita
Setelah Ratna giliran Andi yang menggendong, memperhatikan wajah bayi mungil itu.
"Mukanya mirip Tomy Rit!"
"Ah masa?"
"Bener!"
"Coba lihat!" Mario penasaran,
"Foto Tommy mana?" Tanyanya
"Gak ada, tapi memang mirip!" Ujar Andi
"Tommy mantan Ritong?"
"Iya!"
"Enggak ah!" Elak Rita
"Ai gak tahu mukanya Tommy sih"
"Hei Andi, kamu jangan ngomong begitu depan Daniel ya?" Ratna memperingatkan
"Eh, iya ma!"
Tak lama kemudian suara anak-anak membahana di ruangan itu
"Uwaaa!!" Teriak Ranna ia langsung nomplok ke Andi
__ADS_1
"Nenek!" Raffa lebih tertib, dia mencium tangan Ratna
"Aih...ini bang Raffa! Makin ganteng!" Ratna menggendong Raffa dan memeluknya gemas
Rayya datang belakangan bersama Daniel.
"Assalamualaikum!" Sapa Daniel
"Wa'alaikummussalam!"
Jawab mereka bersamaan
Mereka saling berjabat tangan.
"Gak kerja Niel?" Tanya Andi
"Sudah pulang, sekalian jemput anak-anak
Ranna memonopoli Andi,
"Uwa sama aku! Adek sama nenek atau uncle!" Ujarnya
"Kakak gak kangen sama nenek nih?" Tanya Ratna
Ranna melepaskan pegangannya dari Andi dan menyalami Ratna dan Mario, kemudian kembali ke Andi.
Raffa duduk di samping Mario, sedangkan Rayya dipangku oleh Ratna.
"Disini gak bakalan kehabisan bocah!" Ujar Mario yang disambut tawa.
"Makan dulu yuk!" Ajak Rita
"Nanti saja Rit, mama masih jet lag nih"
"Kalau begitu istirahat saja ma" ujar Daniel.
Staf rumah mengantarkan mereka ke kamar masing-masing.
"Mewah sekali kamarnya!" Ratna mengagumi kamarnya dan langsung rebahan di ranjangnya, begitu pula Andi, tapi anak-anak terus mengikutinya.
"Kakak, Abang, Uwa Ndi kan baru datang, pasti capek. Biarkan istirahat dulu ya?" Bujuk Daniel
Semula mereka enggan, tapi Rita datang dengan tatapan mata galak, akhirnya mereka menuruti perintah papinya.
"Kakek gak datang?" Tanya Daniel
"Nanti menyusul sama kakek Sugi"
"Oh ya? Apa perlu kirim orang untuk jemput?"
"Nanti saja, kamu ganti baju dulu"
"Ah iya, Ican mana?"
"Di kamar, tadi popoknya penuh"
Malam harinya para kakek tiba,
"Aki eyang!" Ranna dan Raffa menyalami mereka dengan sopan
"Aihh...cicit-cicit ku" Darmawan memeluk cicitnya dengan penuh rasa haru
"Mana nih Rita sachet?" Sugiyono mencari Rayya yang bersembunyi dibalik tubuh papinya
"Eh dek Rayya kok ngumpet? Itu kakek uyut?" Daniel menarik Rayya dan mengajaknya mendekati kakek Sugiyono yang langsung memeluknya
"Ayo kek, masuk semua sudah menunggu di ruang makan" ajak Daniel
Rita menunggu kakeknya di ruang makan, ia menyambut para kakek
"Kakek!!" Ia memeluk satu per satu kakeknya
Mereka makan malam bersama dengan suasana kekeluargaan. Keesokannya acara akikah Razan berlangsung dengan lancar dan khidmat.
Daniel menggendong Razan mengelilingi teman-teman pengajian yang membacakan doa, rambutnya digunting dan ditimbang untuk ditukar dengan emas lalu emasnya dijual dan disedekahkan.
Daniel begitu terharu mendengar doa dari ustadz, ia mencium anaknya dengan sayang.
"Eh, bos Daniel nangis" bisik Mario ke Andi
"Dia memang gampang terharu"
"OOO ternyata melankolis toh" bisik Mario
"Sstttt lagi doa, jangan ngobrol!" Andi memperingatkan
Setelah acara para kakek yang pulang lebih dulu
"Kakek, sehat-sehat terus ya?" Rita memeluk kedua kakeknya dengan haru.
"Mami kok nangis?" Ranna bingung melihat air mata menetes di pipi maminya
"Sstt!" Daniel juga memeluk kedua kakek.
"Titip Rita dan anak-anak ya Niel!" Pesan kedua kakek
"Iya kek!" Satu persatu para cicit memeluk eyangnya, termasuk Ican yang berumur 3 minggu.
Mobil yang membawa kakek meninggalkan rumah Daniel.
"Anak-anaknya Daniel ganteng-ganteng ya?" Ujar Darmawan sambil menoleh ke belakang melihat ke arah cucunya yang masih menunggu hingga mobil keluar dari gerbang rumah.
"Yang perempuan juga cantik-cantik" ujar Sugiyono
"Iya sih, tapi yang lelaki lebih terlihat gantengnya"
"Aku senang melihat mereka sekarang, bangga karena Daniel berhasil membuat cucu kita bahagia"
"Ya, mudah-mudahan mereka selalu akur ya? Jujur saja aku agak deg-degan, dulu Reza dan Ratna juga seperti itu kan?" Ujar Darmawan
"Tiap orang kan punya cerita masing-masing, oh iya katanya temannya Andi , Arya jadi asisten mu?" Tanya Sugiyono mengalihkan percakapan
"Iya, aku sedang mempersiapkan pengganti Daniel di perusahaan ku"
"Bukannya ada Mario?"
"Mario lebih cocok dibidang desain, kalau mengelola bisnis dia masih harus dibimbing "
"Memang harus begitu, aku juga sedang membimbing Robby, sebenarnya aku juga menawarkan ke cucu ku yang lain, tapi sepertinya belum ada yang nyangkut "
"Tuh kan, cucu banyak juga belum tentu bermanfaat!" Gumam Darmawan.
Sementara di rumah Rita, mereka baru saja mengantar rombongan Andi, rumah yang tadinya ramai kini menjadi senyap.
"Rumah jadi sepi banget ya Yang"
"Iya beda banget sama tiga hari kemarin"
"Tidur yuk, aku capek sekali"
"Duluan saja, aku mau melihat anak-anak dulu"
Daniel langsung menuju ke kamarnya, ia langsung merebahkan diri di ranjangnya sedangkan Rita ke kamar anaknya
"Hei, kalian belum tidur?"
"Mami, kalau ultah Anna, undang Uwa, Nenek, Uncle, kakek Uyut sama aki kakek lagi ya?"
"Iya mi, ultah Abang juga"
"Adek juga!" Ujar Rayya gak mau kalah
"Iya..iya ..kalian tidur deh, besok sekolah kan?"
"Mami boleh gak sekolah dulu?" Tanya Ranna
"Kenapa kak?"
"Kakak bosan mi"
"Bosan?"
"Heeh!"
Rita terdiam, ia memikirkan permintaan anaknya.
"Kalau kakak di rumah, kakak mau ngapain?"
"Bobo mi, kakak capek sekali"
"Abang juga mi"
"Adek juga"
"Kalian ini seperti papinya, lihat besok pagi deh"
_bersambung_
__ADS_1