
Mereka tiba dinihari di rumah.
Pagi hari suasana rumah masih sepi, semua penghuni masih beristirahat karena kelelahan.
"Pagi!" Sapa Emir pada Edna staf yang bertugas malam
"Pagi!"
"Hari ini keluarga pak Daniel sudah kembali?"
"Sudah, pukul 3 pagi"
"Mereka ambil penerbangan malam?".
"Iya! Kelakuan orang kaya ya, suka-suka mereka, pergi dan pulang "
"Hush! Kamu jangan sinis begitu! Ingat kamu cari nafkah di sini"
"Iya! Aku cuma bilang begitu saja"
"Tapi mereka jarang kan seperti itu?"
"Iya sih, aku selalu merasa mereka tidak menganggap rumah ini rumah mereka, mereka seperti berada dalam hotel"
"Memang rumah ini hanya sewaan"
"Benar! Tapi keluarga ini aneh ya?"
"Aneh?"
"Iya Aneh untuk keluarga orang kaya, tapi mereka sering tidur di satu kamar. Anak-anak memang masih balita tapi tetap saja aneh. Anakku umur segitu sudah tidur di kamarnya sendiri"
"Itu kan hanya kadang-kadang, aku lihat anak-anak juga sering tidur di kamarnya "
"Aku juga merasa agak aneh"
"Aneh?"
"Zaman sekarang masih ada yang jumlah anaknya lebih dari 2, apalagi untuk ukuran orang kaya"
"Edna, aku pikir kamu itu kurang bergaul, kalau kamu lihat medsos sekarang, banyak anak muda memiliki anak 10!"
"Sepuluh?" Edna kaget
"Sepertinya mereka menikah diusia belasan, sehingga anaknya banyak"
"Bu Rita baik dengan mu?"
"Sangat baik dan ramah. Kami sering bertukar resep masakan."
"Kamu kagum dengannya ya?"
"Tentu dong! Seperti yang Beatrice bilang, Bu Rita itu majikan paling asyik!"
Rita dan Daniel bangun pukul 10 pagi karena tangisan Razan.
"Biar aku saja!" Ujar Daniel bangkit dari ranjangnya. Rita kembali tidur.
"Kamu kerja hari ini?" Tanya Rita
"Belum! Besok saja" jawab Daniel sambil mengganti popok Razan.
"Gak apa-apa?"
"Apanya?"
"Kelamaan pergi?"
"Gak apa, jatah libur kelahiran anak 2 minggu, atau 14 hari, aku baru ambil 4, sebenarnya masih ada 10 hari lagi"
"Hmm..." Rita diam mendengar penjelasan suaminya
"Kamu kenapa sih dari kemarin? Salah ku apa?" Tanya Daniel bingung dengan sikap istrinya yang terlihat kesal padanya
"Kamu bikin resto di Sukabumi?"
"Oh itu!"
"Kok gak bilang-bilang?"
"Kamu kan lagi sibuk hamil dan menghadapi sidang skripsi, kalau aku cerita nanti kamu kepikiran!"
"Cuma cerita gitu saja masa susah?" Ujar Rita ketus
"Jangan marah begitu! Kamu kan punya proyek pribadi D'Ritz, nah di Sukabumi itu proyek pribadi aku!"
"Setidaknya bilang dong, jadi kalau ada apa-apa aku enggak kayak orang bego!"
"Memangnya akan ada apa?"
"Kamu kan yang bilang, kita harus saling jujur dan terbuka, tapi kamu sendiri gak terbuka sama aku!" Ujar Rita sebal, ia meninggalkan kamar mereka dan pergi ke dapur.
Daniel diam saja, mau membalas ucapan istrinya tapi ia bingung harus mengatakan apa. Ia sadar seharusnya cerita pada istrinya tentang investasi restoran tapi dia merasa belum waktunya bercerita"
Akhirnya ia juga keluar dari kamar mereka untuk menenangkan diri, ia pergi ke kamar anaknya di situ Raffa ditemani Erni menyusun puzzle
"Kakak sama adek mana bang?" Tanya Daniel
"Belenang Pi"
"Abang gak berenang?" Raffa menggeleng, Daniel menghampiri Raffa.
"Bang, belum selesai puzzle nya?"
"Sudah Pi!"
"Terus?"
"Abang lepas lagi"
"Yah! Sayang dong! Mau beli lagi?"
"Boleh?"
"Boleh dong! Yuk sekarang!"
"Sekalang Pi?"
"Iya! Abang sama papi saja, susErni gak usah ikut"
__ADS_1
"Ayo deh!"
Sus Erni mengganti pakaian Raffa dan mengantarkan ke mobil di mana Daniel sudah menunggu.
Daniel mengajak Raffa ke toko buku di dalam Mall.
"Pilih puzzle yang Abang suka!" Suruh Daniel
Raffa melihat -lihat tampilan Puzzle
"Aku mau ini Pi" ia memilih puzzle kota kecil di Venice
"Ini untuk remaja, untuk anak-anak yang sebelah sana!"ujar SPG
Daniel bergeser ke bagian puzzle anak-anak
"Nih bang gambarnya lucu-lucu " ujar Daniel menunjukkan
"Gak mau ah Pi, telalu gampang, Abang mau yang susah!"
"Iya ya bang, kalau ada yang susah kenapa harus mudah?" Gumam Daniel
"Ya sudah terserah Abang deh!"
"Boleh beli belapa Pi?"
"Tiga deh! Pilihin buat kak Anna sama dek Ayya"
"Kak Anna gak suka puzzle Pi, dia suka mewalnai"
"Oh begitu, kalau dek Ayya?"
"Hmm..." Raffa memilihkan 1 puzzle besar aneka warna.
"Untuk adek boleh sama buku gambal Pi?"
"Boleh! Kak Anna juga beliin 2 bukunya!"
"Iya!"
Setelah membayar mereka mampir ke supermarket terdekat untuk membeli es krim, setelah itu mereka pulang.
Di perjalanan
"Telimakasih Pi!" Raffa mencium pipi Daniel
"Sama-sama!" Jawab Daniel tersenyum
"Papi!"
"Huh?"
"Mami malah sama papi ya?"
"Enggak! "Jawab Daniel berbohong
Raffa melihat wajah papinya yang terlihat lelah.
"Papi"
"Huh? Kenapa Bang?"
"Nanti temani abang bobo ya?"
"Belani, tapi Abang mau ditemani papi"
"Iya deh!"
Sesampainya di rumah, Raffa berlari ke kamar untuk berganti pakaian, begitu pula dengan Daniel, setelah itu Raffa datang ke kamarnya.
Abang mau bobo di mana? Kamar papi?"
Raffa menggeleng
"Kamal Abang saja!"
Raffa menarik Daniel ke kamarnya, ia minta dibacakan buku cerita,
"Tolong bacain ini Pi, papi bobo di samping Abang!" Daniel menuruti permintaan anaknya.
Hanya butuh beberapa menit Daniel sudah terlelap, ia mendengkur cukup keras.
Raffa yang pura-pura tidur bangun lalu menyelimutinya. Diam-diam keluar dari kamar dan bergabung dengan kakak dan adeknya.
"Abang tadi dari mana?" Tanya Rita
"Toko buku mi"
"Oh ya? Beli apa?"
"Puzzle!, Papi beliin 3 katanya Abang gak usah lepas-lepas lagi"
"Kakak dibeliin gak?" Teriak Ranna
"Beliin buku mewalnai, buat adek juga!" Jawab Raffa
"Sekarang papinya mana?" Tanya Rita
"Bobo"
"Bobo?"
"Iya bobo di kasul Abang. Papi Bobo nya belisik ya mi?"
Rita tersenyum
"Papi kecapekan bang, makanya Bobonya berisik" jawab Rita
Raffa mengangguk lalu langsung nyebur ke kolam renang.
Rita yang semula asyik dengan ponselnya merasa bersalah pada suaminya.
"Aku ini benar-benar gak tahu diri!" Keluhnya menyesal.
Razan menangis,sus Rini memberikan Razan ke Rita.
"Adek...." Rita menenangkan dan menyusuinya. Rayya menghampiri Rita
"Mi, Adek Mimik?"
__ADS_1
"Iya! Kakak Ayya mau?"
"No! Mami!" Rayya menempel di lengan maminya
"Kenapa kak?"
Rayya ingin bermanja dengannya.
Dengan sabar Rayya menunggu Razan disusui, setelah selesai.
"Sudah dulu ya dek?"
Rita kembali menyerahkan Razan lalu mendekap Rayya dengan sayang.
"Terimakasih ya, sudah sabar menunggu!" Rita mencium kepala putrinya.
Rayya mendongakkan wajahnya dan tersenyum.
"Anak cantik dan Sholehah"gumam Rita sambil mendekap dan mengusap punggung Rayya.
Daniel terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara tawa Ranna dan teriakan Raffa lalu bangkit dari ranjang dan melihat ke luar jendela. Istri dan anaknya sedang bermain di kolam renang. Ia sholat ashar dulu lalu bergabung dengan anak-anak. Ia mengenakan pakaian renang lengkap, tertutup bagian dada dan celana sepanjang lutut.
Walaupun bentuk badannya bagus tapi istrinya keberatan ia menunjukkan bentuk badannya ke perempuan lain.
"Halooo!" Teriaknya
"Halooo!!!" Jawab anak-anak
"Are you ready kids?"
"Haik..haik!" Jawab kedua anaknya
"I can't hear you!" Teriak Daniel
"Yeahh!!" Jawab keduanya
"Awas, jendral datang!" Teriaknya lalu nyemplung ke kolam renang. Terjangan air menerpa, Ranna dan Raffa tertawa girang, hanya Rayya yang berusaha menghindari cipratan air.
"Hahahaha..adek lucu!" Ranna dan Raffa tertawa melihat ekspresi takut Rayya. Melihat kedua kakaknya tertawa Rayya ikut tertawa, tawanya sangat lucu dan menggemaskan. Semua orang yang melihat Rayya tertawa ikut tertawa.
"Gemoy sekali!" Batin Rita, ia merekam aktivitas mereka. Berkali-kali ia mengucap syukur dalam hatinya.
Setelah berenang beberapa putaran, Daniel naik ke atas dan duduk di samping istrinya
"Sudah gak capek?" Tanya Rita sambil memberikan handuk.
Melihat istrinya tersenyum, Daniel merasa lega.
"Sudah enggak, tadi tidur di ranjangnya Raffa, nyaman juga lho!"
Ujarnya
"Kalau mau tidur, agak lamaan saja, sejak Razan lahir kamu kan kurang tidur"
"Iya ya?"
"Iya, walaupun tidur kamu gelisah"
" Otak ku tak bisa berhenti berpikir, tapi tadi diajak tidur sama Raffa, padahal sebentar tapi rasanya nyaman"
"Yang sebentar itu tapi berkualitas, memangnya kamu mikirin apaan sih?"
"Anak ku sudah empat. Kontrak di Lexi tinggal 2 tahun lagi, aku jadi seperti diburu-buru."
"Oh iya maaf tadi aku marah tentang restoran itu" ujar Rita
Daniel melihat ke arahnya
"Seharusnya itu jadi kejutan, aku lupa Mario itu mata-mata mu!"
"Hahaha.. mata-mata..tapi bener kamu berhasil membuat kejutan!"
"Aku ingin punya usaha sendiri, gak mau hanya jadi kacung saja".
"Aku setuju, tapi kamu kan masih muda, mumpung masih laku bekerja ,ya bekerja saja. Cari uang sebanyak-banyaknya untuk modal, nanti kalau sudah banyak baru deh keluar kerja"
"Memang rencananya begitu" jawab Daniel tersenyum
"Aku suka sebal kalau kamu membalas kemarahan ku dengan senyuman, jadi merasa bersalah" ujar Rita
"Jangan dong, kalau aku senyum itu karena aku senang kamu jujur dengan perasaan mu. Aku gak mau punya istri yang pura-pura semuanya baik, menahan semuanya tahu-tahu meledak..bahaya itu."
"Meledak? Seperti balon?"
"Iya! Kesehatan mental ibu itu penting untuk suami dan anaknya!"
"Kesehatan mental papinya juga!"
"Iya, kesehatan mental kita berdua!"
"Jadi selain di Sukabumi ada cabang yang lain?"
"Malang!"
"Malang?"
"Iya! Tempat istrinya Anwar."
"Kamu investor di situ?"
"Iya!"
"Kamu percaya begitu saja?"
"Tenang! Aku menempatkan salah satu mantan staf ku disitu. Dia yang melaporkan perkembangan usaha"
"Oh begitu, tapi apa kamu sempat mengontrol semuanya?"
"InsyaAllah! Rencana ku saat libur akhir tahun nanti, kita pulang ke Sukabumi dan melihat cabang restoran ku di sana"
"Aamiin! Kamu jaga kesehatan ya?! Aku gak mau cepat-cepat jadi janda!"
"Hush! Kenapa bilang begitu? Ucapan itu doa tahu!"
"Iya, makanya aku bilang, kalau bekerja terlalu keras nanti kamu sakit. Percuma banyak uang tapi sakit"
"Iya sayang ku!" Jawab Daniel
Selesai berenang mereka kembali ke dalam rumah dan mandi.
__ADS_1
Hidangan makan malam telah tersedia, mereka menyantap hidangan dengan lahap.
_bersambung_